cover
Contact Name
Izmy Khumairoh
Contact Email
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Editorial Address
Jl. dr. Antonius Suroyo Kampus Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang, Jawa tengah, Kode Pos 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ENDOGAMI Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi
Published by Universitas Diponegoro
Core Subject : Humanities, Social,
Fokus bidang ilmu antropologi. Bentuk-bentuk karya ilmiah yang dapat dimuat adalah original article berupa artikel hasil penelitian review article atau makalah kajian pustaka berupa uraian singkat tentang temuan penelitian yang dianggap penting untuk segera dipublikasikan.
Articles 229 Documents
Speak Up dalam Kontestasi Norma dan Upaya Resistensi Gen Z: Studi Kasus Remaja Wonosari Khairani Fitri Kananda
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.172-187

Abstract

Remaja di generasi Z dilihat rentan dalam mengadopsi pengaruh buruk dari perkembangan zaman, termasuk dalam gaya berkomunikasi. Speak up yang populer dilakukan oleh remaja saat ini dilihat sebagai wujud ketidaksantunan dalam berkomunikasi. Dengan menyoroti remaja di Wonosari, Gunungkidul, penelitian ini berusaha untuk melihat aspek apa yang memengaruhi pola komunikasi remaja yang dianggap berbeda dengan generasi sebelumnya. Lewat metode etnografi, tulisan ini fokus pada 6 subjek kunci dan memberi ruang pada aspek subjektivitas remaja untuk menjelaskan kontestasi apa yang bekerja dalam situasi sosial mereka. Dari penelitian ini terlihat bahwa meskipun kemajuan teknologi disebut sebagai dalang utama berubahan perilaku ini, namun aspek lain seperti sistem pendidikan dan pola asuh juga berkontribusi besar terhadap cara pandang dan akhirnya mendorong mereka berani untuk mengekspresikan diri. Akan tetapi, jarak antar generasi yang tinggi membuat guru dan orangtua tidak mampu memahami kondisi ini sementara remaja punya ekspektasi tertentu terhadap diri dan lingkungan yang ideal. Remaja yang dianggap belum matang secara emosional, dianggap sedang memberontak pada norma dan melawan struktur. Padahal jika ketimpangan cara pandang ini dapat dimediasi, speak up tidak perlu dilihat sebagai ancaman melainkan potensi.
Reproduksi Budaya Pada Seni Pertunjukan Cingcowong Nur Indah; Gunawan Gunawan
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.350-369

Abstract

Seni pertunjukan memiliki berbagai fungsi di masyarakat. Namun, fungsi seni pertunjukan dapat berganti seiring dengan perubahan pemaknaan terhadap konsep sakral dan profan.  Hilangnya sakralitas ritual dan tidak ada penerus ritual setelah meninggalnya punduh terakhir menjadi ancaman terhadap eksistensi ritual Cingcowong. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses reproduksi budaya pada seni pertunjukan Cingcowong di Luragung, Kuningan Jawa Barat sebagai upaya pelestarian untuk mempertahakan eksistensi Cingcowong. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengeksplorasi makna dan mendeskripsikan pengalaman hidup partisipan dalam proses reproduksi seni pertunjukan Cingcowong. Data diperoleh dengan cara observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Cingcowong telah mengalami perubahan makna sakral sehingga diadaptasi menjadi seni pertunjukan profan oleh Perhimpunan Sri Buana Rahayu melalui proses reproduksi budaya. Perhimpunan Sri Buana Rahayu adalah agen yang memiliki modal ekonomi, modal sosial, dan modal kultural sehingga dapat melakukan praktik penanaman habitus kesenian Cingcowong di Kampung Babakan. Terdapat tantangan dalam upaya regenerasi pemain sehingga pertunjukan Cingcowong memasuki arena baru dalam praktik penanaman habitus yaitu di sekolah. Keterlibatan SMP Negeri 1 Luragung didukung oleh modal sosial dan modal simbolik yang dimiliki oleh guru Seni Budaya. Fasilitas sekolah dan budaya sekolah menjadi modal dalam keberhasilan SMP Negeri 1 Luragung sebagai arena praktik penanaman habitus kesenian Cingcowong.
Peran Sosial Media dalam Mobilisasi Aksi Protes Reformasi Dikorupsi Andika Nur Perkasa
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.271-286

Abstract

AbstrakPeran sosial media dalam rangkaian aksi protes bertajuk #ReformasiDikorupsi telah menarik perhatian banyak peneliti gerakan sosial. Peran sosial media menjadi semakin krusial dimana pada saat yang sama pandemic Covid-19 mulai melanda Indonesia sehingga Pemerintah Indonesia memberlakukan peraturan untuk membatasi kegiatan massa secara langsung. Beberapa studi yang focus pada aksi protes ini melihat adanya peran sosial media yang cukup besar untuk dapat menyebarkan narasi, wacana, dan kaitannya dengan demokrasi secara umum. Tidak banyak yang kemudian menaruh perhatian pada jenis-jenis konten yang secara khusus menjadi factor penting dalam mempengaruhi public untuk terlibat dalam aksi protes. Dengan menggunakan pendekatan life history pada orang-orang yang sebelumnya tidak pernah terlibat dalam aksi protes, tulisan ini menunjukkan bahwa jenis konten yang ada di sosial media dapat mempengaruhi keputusan untuk berpartisipasi dalam aksi protes. Argumen utama dalam artikel ini adalah sosial media dapat menjadi katalisator untuk mobilisasi gerakan massa pada aksi protes #reformasidikroupsi dengan adanya panduan jelas pada unggahan yang dibagikan ke publik. Meski demikian, catatan perlu diberikan dalam argument ini bahwa keterlibatan individu dalam aksi protes publik juga dipengaruhi dari perasaan keterhubungan dengan wacana yang sedang berkembang pada jejaring informasi tersebut.
“See You Goodbye!" Respons Fans Muslim Terhadap Idola K-Pop Yang Mempromosikan Produk Berafiliasi Israel Rahmah Zakia
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.188-202

Abstract

Konflik Israel-Palestina turut mempengaruhi dunia K-Pop, terutama bagi fans Muslim. Ketegangan ini bermula dari dugaan keterlibatan beberapa idol K-Pop dalam promosi produk yang terafiliasi dengan Israel. Situasi ini menjadi dilema bagi fans Muslim karena mereka berbagi identitas dengan mayoritas rakyat Palestina yang terdampak konflik, namun idol yang mereka sukai justru mempromosikan produk yang dianjurkan untuk diboikot. Studi ini bertujuan menganalisis tanggapan fans K-Pop muslim dalam memaknai dukungan dan identitas mereka ketika dihadapkan pada realitas bahwa idola mereka diasosiasikan dengan pihak Israel dalam konfilk yang terjadi. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur, penelitian melibatkan tiga fans K-Pop Muslim dari dua fandom berbeda. Hasil dari studi ini menemukan bahwa fans K-Pop muslim menunjukkan dua sikap utama dalam menanggapi keterlibatan idolnya dalam promosi produk yang berafiliasi dengan Israel. Pertama, perlawanan terhadap tindakan idol. Kedua, negosiasi dukungan kepada idol mereka. Studi juga menunjukkan bahwa sikap fans K-Pop dilatari oleh dua identitas yang tidak bisa lepas dari diri mereka, yaitu identitas sebagai muslim dan fans. Penelitian ini juga menemukan bahwa dalam proses menegosiasikan dukungannya, fans K-Pop muslim justru berada dalam identitas yang kompleks
Dari Ritual Menjadi Festival: Profanisasi Ritual Adat Kematian Babukung (Studi Kasus Desa Riam Tinggi, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah) Safrial Fachry Pratama; Setiadi Setiadi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.370-387

Abstract

Ritual adat kematian Babukung saat ini memasuki babak baru dengan diadakannya festival Babukung di Kabupaten Lamandau yang menjadi agenda tahunan. Di satu sisi adanya festival tersebut dirasa menguntungkan karena dapat menaikkan citra daerah melalui sejumlah Rekor MURI yang didapat, namun pada sisi lain ada kelompok masyarakat yang merasa termarjinalisasi dengan diadakannya festival tersebut yang berlatar belakang dari ritual adat kematian Babukung yang telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Dayak Tomun di Kabupaten Lamandau. Saat ini Babukung menjadi sebuah tontonan yang bisa dilihat setiap tahunnya sehingga hal tersebut dianggap telah melewati batas-batas kesakralan yang ada karena Babukung diadakan hanya saat ada orang kaharingan yang meninggal namun tidak pada kondisi saat ini. Penelitian ini membahas mengenai dinamika proses profanisasi, serta melihat dengan rinci bagaimana pandangan warga di Desa Riam Tinggi, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah terhadap praktik-praktik yang sudah terjadi. Pembahasan difokuskan analisis bentuk-bentuk perubahan nilai sakral menjadi profan yang terjadi pada ritual adat kematian Babukung. Metode penelitian pada tulisan ini menggunakan pendeketan kualitatif dengan jenis studi etnografi. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan pertama fenomena profanisasi terjadi karena festival Babukung yang saat ini diadakan sudah tidak lagi menggunakan ritual-ritual yang biasa digunakan untuk pemain bukung, untuk jenazah, hingga ritual pasca ritual adat tersebut dilaksanakan. Hal ini diperparah kembali dengan diadakannya festival Babukung yang tidak lagi ketika ada orang meninggal, namun dijadikan sebagai ajang kompetisi yang sifatnya komersil. Kedua, adanya profanisasi juga dikarenakan kekuasaan institusi adat saat yang dengan mudah mengubah hal-hal yang sifatnya sakral menjadi profan serta tidak lagi mengedepankan unsur-unsur adat dan lebih banyak bekerjasama dengan pemerintah desa yang sifatnya transaksional. Serta yang ketiga, selain dijadikan komodifikasi, pelemahan terjadi juga pada umat-umat kaharingan yang saat ini jumlahnya makin sedikit yang berjumlah 12 orang pemeluk saja menurut data dari Prodeskel Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri Tahun 2025 sehingga dengan mudah bisa dijadikan sebagai sarana dan media untuk melegitimasi kekuasaan-kekuasaan tertentu. Dengan beragamnya pelemahan dan pergeseran nilai yang sudah terjadi menunjukkan bahwa saat ini sebagian besar orang menganggap adat sebagai hal yang biasa tanpa ada kesakralan yang hakiki di dalamnya. Sehingga pengaburan pemahaman saat ini juga dikuatkan dengan alasan-alasan pelestarian tradisi menjadi modal utama untuk menggeser nilai-nilai sakral menjadi profan pada ritual adat.Kata kunci : Profanisasi, Ritual adat Babukung, Festival, Umat Kaharingan, Institusi Adat
Ragam Warna di Bawah Langit Tarakan: Paguyuban, Kerukunan Etnis dan Memori Konflik Millah Ananda Yunita; Pawennari Hijjang; Muh. Nur Rahmat Yasim
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.287-304

Abstract

Artikel ini mengkaji peran strategis paguyuban lokal dalam memelihara harmoni sosial dan menangani dampak konflik antaretnis tahun 2010 di Tarakan, Indonesia, yang melibatkan etnis Bugis Letta dan Tidung. Konflik ini meninggalkan dampak mendalam dalam memori kolektif masyarakat dan terus memengaruhi hubungan sosial hingga saat ini. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Oktober 2022 hingga Januari 2023 menggunakan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Informan penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling, dengan total sebanyak 10 orang. Fokus penelitian adalah pada kontribusi paguyuban seperti Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Lembaga Adat Tidung Ulun Pagun (LATUP), Paguyuban Keluarga Warga Jawa (PAKUWAJA), dan Persatuan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dalam mendukung rekonsiliasi dan integrasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paguyuban berfungsi sebagai mediator yang efektif, memfasilitasi kegiatan budaya dan inisiatif sosial yang memperkuat inklusivitas, toleransi, dan kepercayaan antaretnis. Dengan mendorong interaksi lintas budaya dan memperkuat komitmen bersama terhadap perdamaian, paguyuban berhasil meredakan ketegangan dan memperkuat kohesi sosial. Artikel ini menyoroti pentingnya peran mekanisme sosial lokal dalam resolusi konflik, membangun ketahanan komunitas, dan memelihara harmoni dalam masyarakat multikultural.
Eksistensi Pelatih Tari dalam Membentuk Bakat dan Minat Penari di Sanggar Simpor Kota Singkawang Nurmizan Nurmizan; Dahniar Tahir Musa; Syarmiati Syarmiati
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.203-223

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan eksistensi pelatih tari dalam membentuk bakat dan minat penari di Sanggar Seni Simpor Kota Singkawang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan secara etnografi. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori enviromentalisme yang dicetuskan oleh tokoh asal Inggris bernama John Locke. Teori enviromentalisme menjelaskan bahwa bakat dan minat seseorang berasal dari lingkungan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin terkenal suatu sanggar tari pasti memiliki seorang pelatih tari yang memang ahli dan memiliki kemampuan lebih di bidangnya. Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pelatih tari diantaranya memiliki keterampilan, pengetahuan, pengalaman, dan sikap yang khas dalam melatih tari. Dari kemampuan ini pelatih tari bisa membuat penari cepat memahami apa yang telah  disampaikan dan memperagakannya. Dengan demikian seorang penari semakin bersemangat untuk dilatih oleh  pelatih tari yang profesional dan memiliki kemampuan pada bidangnya, sehingga eksistensinya akan tetap ada. Faktor yang mempengaruhi menjadi pelatih tari karena ingin membuktikan bahwa hobi yang digeluti secara serius bisa mengantarkan seseorang menjadi terkenal dan diakui.
Kesenjangan Pengetahuan Toponimi berbasis Gender pada Masyarakat Adat Baar di Pulau Flores Ayu Wijayanti; Muhammad Azmi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.388-402

Abstract

Toponimi sebagai bentuk pengetahuan lokal merupakan salah satu nilai yang sering disebarluaskan dalam masyarakat. Namun, sering kali bias gender menjadi bayang-bayang dalam proses penyebarannya dan menimbulkan perbedaan pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pengetahuan toponimi antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat adat Baar. Selain itu, studi ini juga berupaya untuk mengungkapkan faktor penyebab terjadinya kondisi tersebut melalui penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan ada dua jenis, yaitu studi etnografi dan pemetaan partisipatif. Pengumpulan datanya dilakukan melalui metode observasi-partisipasi, wawancara mendalam, dan pemetaan toponimi di wilayah Semenanjung Torong Padang dengan memanfaatkan peta dua dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan pengetahuan lokal mengenai toponimi Semenanjung Torong Padang berbasis gender pada masyarakat adat Baar. Pengetahuan toponimi di wilayah yang menjadi fokus kajian ini lebih banyak diketahui oleh laki-laki daripada perempuan. Hal ini disimpulkan dari adanya perbedaan pola pergerakan harian dari laki-laki dan perempuan. Faktor yang kemudian berkontribusi pada pembentukan pola tersebut adalah perbedaan peran gender di ranah rumah tangga dan adat, sehingga akses perempuan terhadap ruang hidup menjadi lebih sempit dan pengetahuan mereka tentang toponimi Semenanjung Torong Padang menjadi terbatas.
Peran Modal Sosial dalam Kehidupan Keseharian Warga di Emplasemen Perkebunan Teh Gambung, Jawa Barat Valerina Nassasra; Erna Herawati; Kralawi Sita
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 2 (2025): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.2.305-321

Abstract

Penelitian ini mengulas peran modal sosial dalam kehidupan keseharian para warga di emplasemen perkebunan teh di Jawa Barat yang seringkali diwarnai oleh kekurangan dan keterbatasan finansial. Penelitian ini menggunakan metode etnografi untuk mendalami kehidupan para warga yang tinggal di empat emplasemen perkebunan teh di Jawa Barat. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam pada warga penghuni emplasemen dan pengamatan terlibat pada kehidupan keseharian mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warga di emplasemen perkebunan teh memiliki modal sosial yang kuat. Hal itu ditunjukkan dengan jejaring sosial yang kuat karena terhubung dalam ikatan kekerabatan, sehingga relasi sosial dan rasa saling percaya (trust) di antara mereka pun sangat kuat. Modal sosial ini menjadi sarana bagi mereka untuk merespons segala persoalan kehidupan keseharian yang mereka hadapi. Mulai dari urusan utang piutang finansial, urusan pekerjaan di kebun, hingga penyelesaian konflik pertetanggaan di emplasemen diselesaikan dengan mengerahkan modal sosial tersebut.