Articles
229 Documents
Fungsi Batu Toguan Pada Masyarakat Desa Tipang Kecamatan Baktiraja Kabupaten Humbang Hasundutan
Grace Meylin Hutauruk
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.1-15
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang keberadaan Batu Toguan bagi masyarakat Desa Tipang serta makna dan fungsi yang dimiliki oleh Batu Toguan pada Masyarakat Desa Tipang, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa Batu Toguan merupakan pemberian dari Raja Lontung kepada puteri dan menantunya Raja Sumba. Batu Toguan terdiri dari Batu Siboru Sinur, Batu Siboru Gabe, Batu Siboru Horas, dan Batu Siungkap-ungkapon. Keempat Batu Toguan ini memiliki makna yang berbeda tergantung dari doa dan harapan yang diberikan. Adapun fungsi dari Batu Toguan yang berhasil ditemukan pada masyarakat Desa Tipang adalah sebagai tempat untuk memohon kepada Tuhan di masa dahulu.
Film Horor Agama di Indonesia, Kesalehan, dan Kesakralan Yang Terpinggirkan?
Muh. Nur Rahmat Yasim;
Muh. Yahya
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.111-126
Film horor di Indonesia berfungsi sebagai cermin yang memantulkan ketakutan dan harapan masyarakat, sekaligus mengungkapkan kompleksitas hubungan antara kesalehan dan kesakralan yang di cap terpinggirkan. Tulisan ini berawal dari berbagai keresahan terhadap film horor di Indonesia bertemakan agama yang sering menampilkan simbol-simbol agama yang dianggap begitu sakral bagi masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan etnografi media dan digital, tulisan ini menganalisis representasi film horor melalui platform media sosial X/Twitter, yang memungkinkan peneliti untuk memahami respons penonton dan dinamika sosial yang terjadi akibat menonton film horor bertemakan agama. Mengacu pada pandangan Talal Asad terkait kesalehan yang dianggap embodied, tulisan ini menyoroti bagaimana film horor sering kali mereduksi makna ritual keagamaan menjadi sekadar alat hiburan yang sejatinya bisa mempengaruhi kesalehan penikmat film horor. Selain itu, pandangan David MacDougall tentang makna dalam representasi visual membantu memahami bagaimana penonton merespons adegan sakral, seperti sholat dan doa, dalam konteks menakutkan. Penelitian ini membahas ketegangan antara tradisi dan modernitas, di mana simbol-simbol agama dapat menarik perhatian tetapi juga menimbulkan kontroversi dengan melihat bagaimana film horor memvisualisasikan simbol-simbol agama dan praktik keagamaan, serta dampaknya terhadap persepsi masyarakat terhadap nilai-nilai sakral.
Tradisi Pindah Marga (Puru) Sebagai Representasi Kesetaraan Gender Dalam Masyarakat Sabu
Ricard Edwin Thomas;
Irene Ludji;
Tony Robert Tampake
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.29-46
Artikel ini berfokus pada pelaksanaan tradisi pindah marga (puru) yang menjadi representasi kesetaraan gender dalam suku Sabu di Kota Waingapu, Sumba Timur yang ditinjau dari perspektif etika sosial feminis Beverly W. Harrison. Ketidakadilan gender membuat perempuan sering menjadi korban subordinasi, yang salah satunya disebabkan karena sistem budaya patriarki. Namun tidak semua budaya dalam masyarakat menjunjung tinggi martabat seorang perempuan, ada juga tradisi yang menjunjung tinggi martabat seorang perempuan dan masih dipertahankan hingga saat ini yaitu tradisi pindah marga (adat puru). Adat ini masih dipertahankan dan wajib dilakukan oleh suku Sabu karena mengandung nilai-nilai luhur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami bagaimana sudut pandang suku Sabu tentang tradisi pindah marga (puru) yang berhubungan dengan upaya dalam menjaga kesetaraan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap perempuan Sabu dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi yang dapat dialaminya. Kesimpulan penelitian ini ialah tradisi Puru menjadi representasi dari keadilan dan kesetaraan gender, serta menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan perempuan Sabu dalam pembentukan diri yang bertanggung jawab sehingga memperoleh kesejahteraan sosial.
Transwomen in The Transition of Body Change: “Will We Be Accepted as Women?”
Vania Pramudita Hanjani;
Carolina Retmawati Putri
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.127-142
Indonesian society is faced with a gender construction that always directs that men should be masculine while women are required to be feminine. But in reality, we are faced with a condition. where there are men who are feminine, which ultimately makes them get stigmatized and discriminated against by society. This condition causes some men to decide to become women (transwomen). This article explores the journey of transwomen in embracing their gender identity through their physical changes. We conducted participant observation along with semi-formal in-depth interviews with 5 transwomen in in the KTS organization (Kebersamaan Transpuan Semarang), to obtain data through the experiences of these transwomen. Through the results of the analysis, we see that the informants experienced emotional and social challenges faced during the transition process, as well as the hope to be accepted as a woman. Until now, they are still trying to be accepted by society despite the long process they have to go through.
Analisis Kajian Folklore dalam Upacara Tradisional Massorong Lopi di Desa Tapango, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat
Arravi Rizal Firmansyah
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.47-63
Kajian penelitian ini di latar belakangi oleh permasalahan fenomena bahwa pelaksanaan upacara tradisional di Indonesia pada umumnya tidak diwariskan secara tertulis atau tidak di dokumentasikan melainkan dilakukan secara lisan dan dicontohkan dalam bentuk perbuatan. Fenomena ini juga terjadi di daerah Desa Tapango, Sulawesi Barat pada upacara tradisional Massorong Lopi. Hal ini tentu dapat menimbulkan kekhawatiran apabila tidak ada orang yang bersedia melakukannya pada suatu hari nanti. Analisis kajian folklore digunakan untuk meninjau sikap dibalik perbuatan kebudayaan masyarakat Indonesia dalam kasus Upacara Massorong Lopi yang pelaksanaan ritualnya diwariskan secara lisan dan dicontohkan dalam bentuk perbuatan. Kajian penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jawaban motif dibalik perbuatan masyarakat tersebut. Melalui metode penelitian studi pustaka yang merujuk kepada pemikiran hasil riset para ahli folklore, kebudayaan, dan ritus dari berbagai negara dan menggunakan metodologi ilmu budaya, hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa motif utama masyarakat di Desa Tapango tetap mempertahankan tradisi lisan pada pewarisan upacara tradisional Massorong Lopi adalah karena tradisi ini sudah dilakukan sejak turun temurun dan menjadi bagian dari kehidupan mereka yang memandang bahwa pewarisan secara lisan dinilai dipercaya keaslian informasi yang diberikan dibandingkan secara tertulis. Hal ini yang kemudian menjadi pembeda sekaligus ciri khas antara budaya pelaksanaan upacara tradisional orang-orang Timur dan orang-orang Barat.
Perilaku dan Pengelolaan Pangan Terbuang Pada Lansia (Studi Kasus di Komplek Lipi, Bogor, Jawa Barat)
Himma Ellisa Dianita
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.143-156
Penduduk lanjut usia (lansia) adalah bonus demografi kedua yang dimiliki Indonesia pada masa mendatang. Tingginya jumlah lansia berpotensi menjadi salah satu penyumbang limbah pangan rumah tangga yang dihasilkan. Timbunan limbah pangan (kehilangan pangan dan pangan terbuang) di Indonesia telah mencapai 115-184 kg/kapita pada tahun 2020. Dari angka tersebut, setidaknya ada tiga dampak dominan yang dihasilkan, yakni kerugian ekonomi, lingkungan, dan sosial. Meskipun bukan populasi produktif, tingginya angka lansia juga berimplikasi membentuk pengetahuan, kultur, hingga penerapan nilai-nilai lain untuk generasi selanjutnya. Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi lebih jauh mengenai pandangan dan kontribusi lansia pada pangan terbuang serta perilaku yang mendukungnya. Penelitian ini dilakukan di Komplek LIPI dengan lima keluarga (tiga pasangan suami istri dan dua janda). Pengambilan data diambil secara periodik menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam yang dilakukan berulang, observasi partisipatif, dan studi literatur. Lansia di Komplek LIPI Bogor dengan segala keterbatasan fisiknya cenderung lebih sedikit dalam memproduksi pangan terbuang, bahkan memiliki praktik pengelolaan pangan terbuang mandiri dalam skala rumah tangga. Namun, dalam kesempatan tertentu, lansia juga memiliki perilaku pangan terbuang lebih besar dari biasanya terutama terjadi karena intervensi keluarga dekat.
Jaringan Sosial Antar Pedagang Bakso Pada Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan
Dimas Erlangga
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.64-78
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang dibentuknya Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan serta bentuk jaringan sosial dan upaya yang dilakukan dalam mempertahankan jaringan sosial antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan. Jaringan sosial sangat diperlukan bagi perantauan meski hanya sebagai seorang pedagang bakso, agar dapat mengetahui pasar penjualan bakso di Kota Medan dan meningkatkan daya saing. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi partisipasi dengan terlibat secara langsung dan mengamati aktivitas bentuk jaringan antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan, wawancara mendalam, serta dokumentasi berupa pengambilan gambar dalam segala aktivitas yang dikerjakan oleh informan, rekaman suara dalam proses wawancara mendalam, hingga pengambilan video yang mengalisis kegiatan para pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan. Hasil penelitian menemukan latar belakang dibentuknya Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan yaitu; (a) karena banyak perantau yang berasal dari Jawa Tengah memilih Kota Medan (b) menjaga tali persaudaraan dan kekeluargaan (c) mempertahankan identitas diri (d) agar mendapatkan suasana kebersamaan seperti di kampung halaman. Bentuk jaringan sosial antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara yaitu; (1) jaringan mikro (2) jaringan meso (3) jaringan makro dan (a) segi sosial (b) segi ekonomi. Terdapat beberapa upaya yang dilakukan dalam mempertahankan jaringan sosial antar pedagang bakso yang tergabung dalam Paguyuban Semar Nusantara di Kota Medan yaitu; (a) mengadakan pertemuan rutin (b) saling menjaga solidaritas dan kekompakan (c) membuat grup WhatsApp (d) menjaga kestabilan harga jual.
Kultus Jokowi: Langkah Politik Jokowi Pada Pemilu 2024
Jonathan Alfrendi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.157-171
Artikel ini merupakan kajian literatur dengan analisis menggunakan pendekatan antropologi politik untuk menyelidiki secara kultural gaya kepemimpinan Jawa yang sering terlihat dalam kepribadian, citra diri, gaya komunikasi, dan gaya kepemimpinan Jokowi sebagai orang Jawa. Referensi teori yang relevan digunakan dalam kajian ini yaitu oleh Hans Antlov (2002), yang melihat perintah halus adalah suatu model rakyat, melibatkan norma-norma moral, baik bagi penguasa maupun rakyat, dan pemimpin harus dekat dengan rakyat. Teori tersebut dapat menjelaskan alasan masyarakat terutama para pendukung mengultuskan Jokowi
Dari Dewa Jadi Hama: Perubahan Pandangan Dan Pola Hubungan Religi-Ekologis Komunitas Orang Rimba Terhadap Gajah Sumatera
Verdi Wahyu Cahyadi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.79-92
Tulisan ini secara umum membahas tentang perubahan pandangan dan pola hubungan komunitas Orang Rimba terhadap gajah. Pembahasan difokuskan pada uraian mengenai kehidupan Komunitas Orang Rimba yang berkaitan dengan gajah, mulai dari wacana konservasi dan ruang hidup, mitos-mitos yang berhubungan dengannya, hingga narasi seputar bentuk-bentuk perubahan pandangan dan perlakuan yang dialami oleh komunitas Orang Rimba dalam melihat gajah pada konteks kehidupan di masa sekarang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis studi etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipasi, dokumentasi dan studi kepustakaan. Teknik analisis data dilakukan secara emik dan etik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya intensitas konflik pada akhirnya turut merubah pandangan dan pola hubungan Orang Rimba dalam memperlakukan gajah. Beberapa tahun belakangan ini, kawanan gajah mulai menyerang dan melakukan pengrusakan terhadap berbagai harta benda dan aset milik Orang seperti tempat tinggal pondok/sesudungon, kendaraan dan perkakas rumah tangga hingga kebun karet ataupun sawit yang menjadi basis ekonomi penting bagi Orang Rimba di masa sekarang. Bagi Orang Rimba, gajah tidak lagi menjadi sosok binatang suci ataupun dewa yang harus dihormati dan disembah, akan tetapi ia merupakan ‘hama’ pembawa bencana yang merugikan dan membahayakan.
The Reconstruction of Javanese Tradition: A Literary Anthropological Study of Serat Prabangkara
Mochamad Syahrul Iqbal;
Suwardi Endraswara;
Sri Harti Widyastuti
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 9, No 1 (2025): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.9.1.54-70
The Prabangkara Manuscript or Serat Prabangkara by Ki Padmasusastra is one of the notable Javanese literary works that captures the social and cultural transformations during Indonesia’s colonial transition. Serat Prabangkara is one of the Javanese literatures works steeped in local representations of tradition. This paper explores how text portrays royal court life, marriage arrangement, and the use of occult practices, as well as reconstructing traditions of harmony trough thematized of love, social hierarchy, gender relations, and nature symbolism. A literary anthropological approach is utilized to examine the text within the Javanese cultural context. Within the framework of literary anthropology, the study of Serat Prabangkara serves as a medium to comprehend how Javanese tradition is reconstructed and preserved through literary narrative. This theory frames literary works as a cultural representation, which enables in-depth analysis of the traditional aspects embodied in it. The study result revealed that Serat Prabangkara serves as a medium for tradition preservation as well as cultural value adaptation in a modern context. The symbolism in text reflects universal values of balance, love, and harmony that remain relevant across different periods.