cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
MANTRA DALAM NASKAH “DOA WIRID TOLAK BALA”: DESKRIPSI, ISI, DAN SUNTINGAN TEKS (Mantra in “Doa Wirid Tolak Bala Manuscript”: Codicology, Content, and Editing) Dede Hidayatullah
Kandai Vol 13, No 1 (2017): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v13i1.156

Abstract

Studies on mantra on manuscript in South Borneo are still rare. Until now, mantra studies generally focus on oral tradition. To date manuscript studies generally only emphasizes on religious texts and syair. The aim of this study is to explain codicology and content in manuscript of Doa Wirid Tolak Bala (a recitation for salvation from calamity) or DWTB. This is a philological research. The research uses a descriptive method. Based on codicology it is found out that the manuscript is written in the form of prose using Banjar language with Malay Arabic writing. Based on the content, DWTB manuscript is divided into three parts. The first section is about sunnah Hajat prayer and obedient. The second section is about buying and selling recitation. The third section is about recitation and Mantra for livelihood (pesugihan) which consist of twelve recitations, three isim, one  mantra and efficacy of basmalah. 
BENTUK DERIVASI BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS Wahyu Damayanti
Kandai Vol 12, No 2 (2016): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.586 KB) | DOI: 10.26499/jk.v12i2.84

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa proses pembentukan kata dalam suatu bahasa yang dilakukan dengan afiksasi dapat mengubah dan dapat mempertahankan identitas leksikal kata dan kategori kata. Fenomena ini banyak dijumpai dalam bahasa Melayu dialek Sambas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk derivasi bahasa Melayu dialek Sambas. Manfaat yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan pikiran dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa pada umumnya dan sebagai sumber informasi tertulis tentang bentuk derivasi bahasa Melayu dialek Sambas pada khususnya. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang memuat bahasa Melayu dialek Sambas di Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak libat cakap, dan teknik catat. Hasil analisis, menunjukkan bahwa afiks derivasi bahasa Melayu dialek Sambas meliputi afiks derivasi pembentuk verba, afiks derivasi pembentuk nomina, afiks derivasi pembentuk numeralia. Afiks pembentuk verba dalam bahasa Melayu Dialek Sambas ada tiga belas yaitu, prefiks be-, prefiks di-, prefiks me, prefiks ti-, sufiks-kan, sufiks –ek, simulfiks N-kan, simulfiks N-an, konfiks di-kan, konfiks di-ek, konfiks me-ek, konfiks be-kan, dan konfiks si-an.Afiks pembentuk nomina ada empat yaitu prefiks pe-, prefiks ke-, sufiks-an, dan konfiks ke-kan. Afiks pembentuk numeralia hanya ada satu yaitu prefiks se-.
FUNGSI KEPATUHAN MAKSIM PRINSIP KESANTUNAN PADA KOMENTAR BERITA DI FANSPAGE FACEBOOK MERDEKA.COM Qurratul - Aini; S. - Sumarlam; D. Djatmika
Kandai Vol 14, No 1 (2018): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.14 KB) | DOI: 10.26499/jk.v14i1.575

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang fungsi kepatuhan maksim prinsip kesantunan pada komentar berita online di fanspage Facebook merdeka.com. Data penelitian berupa tuturan yang didapatkan dari fanspage Facebook merdeka.com dengan rubrik berita politik tanggal 23 dan 24 September 2016. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif, data dianalisis dengan model Spradley, meliputi empat tahap, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komposional, dan analisis tema budaya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan yang mematuhi maksim disampaikan dalam bentuk asertif, direktif dan ekspresif. Fungsi pelanggaran asertif memiliki 2 sub fungsi yaitu “menyatakan” dan “memaklumi”. Fungsi direktif memiliki 4 sub fungsi yaitu “bertanya”, “menasehati”, “konfirmasi” dan “mengajak”. Fungsi ekspresif memiliki 6 sub fungsi yaitu “memberi selamat”, “memuji”, “menyayangkan”, “berharap”, “bersyukur” dan“senang”. Subfungsi yang paling dominan adalah “menyatakan”.  
ANALISIS SEMIOTIK PUISI CHAIRIL ANWAR Nurweni Saptawuryandari
Kandai Vol 9, No 1 (2013): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.061 KB) | DOI: 10.26499/jk.v9i1.286

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dari tulisan ini adalah mengetahui makna dari teks-teks puisi Chairil Anwar. Beberapa puisi Chairil Anwar sarat dengan bahasa kiasan yang berupa ungkapan khas milik Chairil yang selalu didengungdengungkan oleh generasi muda. Selain itu, puisi-puisi Chairil juga memiliki unsur-unsur kepuitisan yang menimbulkan bunyi yang indah apabila dibacakan. Puisi tersebut, antara lain, ”Derai-Derai Cemara”, ”Pada Sebuah Kamar”, dan ”Yang Terampas dan Yang Putus”. Ketiga puisi itu dianalisis secara semiotik untuk  dapat diungkapkan isi dan makna dari puisi tersebut.  Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif yang  memaparkan tulisan berdasarkan isi karya sastra, sedang teknik penulisannya adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar mempunyai makna yang dapat dijadikan bahan bacaan dan pesan-pesan untuk diketahui  oleh pembaca.
REPRESENTASI ANAK DALAM KARYA ARSWENDO ATMOWILOTO: STUDI CERITA ANAK TAHUN 1970-AN NFN Mu'jizah
Kandai Vol 10, No 2 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1094.331 KB) | DOI: 10.26499/jk.v10i2.326

Abstract

Sastra anak merupakan genre sastra yang menarik, terutama pada tahun 1970-an, saat  sastra anak tumbuh subur dalam berbagai majalah. Salah satu pengarang dewasa Indonesia yang menonjol pada masa itu Arswendo Atmowiloto. Masalah menarik yang dibahas dalam tulisan ini ialah bagaimana dunia anak direpresentasikan oleh Arswendo dalam cerpen-cerpennya? Artikel ini bertujuan menggambarkan dunia anak yang disajikan Arswendo. Dalam bahasan diketahui bahwa Arswendo menyajikan dunia anak yang khas, ceritacerita realistik anak yang mandiri. Kemandirian ini dianggap sebagai sifat unggul agar anak tidak hanya bermain dan bergantung pada orang lain. Dunia bermain menjadi selingan hidup, bukan sesuatu yang dominan. Bermain dilakukan sambil bekerja. Dengan begitu anak-anak yang disajikan Arswendo bukan anak yang mencari perhatian, melainkan anak-anak yang justru pemberi perhatian dan penopang keluarga.
DITARIK/RETRACTED: KAJIAN HISTORIS KOMPARATIF CERITA “BATANG GARING” Puji Santosa; NFN Djamari
Kandai Vol 11, No 2 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.877 KB) | DOI: 10.26499/jk.v11i2.230

Abstract

RETRACTEDFollowing a rigorous, carrefully concered review of the  article published in Kandai Journal Volume 11, Number 2, 2015, entitled  KAJIAN HISTORIS KOMPARATIF CERITA “BATANG GARING” (Study Historical Comparative of Story “Batang Garing),link: http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kandai/article/view/230.This article has been found to be in violation of the Kandai and has been retracted.The article is known to be the same as the article published in Sintesis Journal Volume 9, Number 2, 2015, with the titleKAJIAN HISTORIS KOMPARATIF CERITA “BATANG GARING”, link: https://e-journal.usd.ac.id/index.php/sintesis/article/view/913.The document and its content has been removed  from Kandai Journal, and reasonable effort should be made to remove all references to the article. DITARIK Telah dilakukan pembacaan yang teliti dan cermat terhadap artikel yang diterbitkan dalam Kandai Volume 11, Nomor 2, Tahun 2015, berjudul KAJIAN HISTORIS KOMPARATIF CERITA “BATANG GARING” (Study Historical Comparative of Story “Batang Garing), tautan: http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kandai/article/view/230.Artikel ini telah ditemukan melanggar ketentuan Jurnal Kandai dan telah ditarik dari penerbitan Jurnal Kandai.Artikel tersebut diketahui sama dengan artikel yang terbit pada Jurnal Sintesis Volume 9, Nomor 2, Tahun 2015, dengan judul KAJIAN HISTORIS KOMPARATIF CERITA “BATANG GARING”, tautan: https://e-journal.usd.ac.id/index.php/sintesis/article/view/913.Dokumen dan isinya telah ditarik dari Jurnal Kandai. Sebagai konsekuensi logis dari penarikan ini, segala referensi yang mengacu pada artikel tersebut dihapus. 
MEMBACA KEBERADAAN SASTRA DALAM KORAN LOKALPALANGKARAYA Titik Wijanarti
Kandai Vol 10, No 1 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.501 KB) | DOI: 10.26499/jk.v10i1.316

Abstract

Aktivitas kesastraan di sebuah daerah salah satunya dapat dilihat melalui rubrik kesastraan yang tersedia di media massa setempat. Penelitian ini meneliti keberadaan sastra pada empat koran lokal yang beredar di wilayah Kalimantan Tengah, khususnya kota Palangkaraya.  Keempat koran lokal tersebut adalah koran Kalteng Pos, Tabengan, Megapos dan Palangka Post.  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh simpulan bahwa sastra dalam keempat koran lokal di  Palangkaraya didominasi oleh bentuk cerita pendek. Genre lain yang ditemukan adalah cerita rakyat Kalimantan Tengah berupa legenda yang dimuat dalam Kalteng Pos dan Palangka Post. Secara tematik, karya sastra yang dimuat dalam empat koran lokal di kota Palangkaraya semuanya mengangkat kehidupan sehari-hari remaja. Kondisi ini diasumsikan sebagai pengaruh kehidupan pengarang yang berasal dari kalangan remaja
BAHASA INDONESIA RAGAM TULIS DI KALANGAN SISWA REMAJADI DKI JAKARTA Wati Kurniawati
Kandai Vol 13, No 2 (2017): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.143 KB) | DOI: 10.26499/jk.v13i2.427

Abstract

This study aimed to describe the quality of Indonesian variety of writing used by high school students in Central Jakarta and East Jakarta. The focus of this research is the spelling rules. The method used is descriptive method. Fourty high school students writing in Central Jakarta and East Jakarta were selected as the sample, they are consisting of twenty men and twenty women with regard to social factors. The findings indicate that female teenage student, female students in Central Jakarta more careful in the use of the letters, punctuation, and spelling than male teenage student in East Jakarta. Students whose parents are having different ethnic tend to be more careful in the use of letters and writing words than students whose parents is coming from same ethnic. As for the use of punctuation on students whose parents is coming from same ethnic tend to be more careful than teenage student whose parents are having different ethnic. 
WARNA LOKAL DAN REPRESENTASI BUDAYA BUGIS-MAKASSAR DALAM CERPEN “PEMBUNUH PARAKANG”: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA NFN Uniawati
Kandai Vol 12, No 1 (2016): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.088 KB) | DOI: 10.26499/jk.v12i1.75

Abstract

Tulisan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap cerpen Pembunuh Parakang (PP) sekaligus upaya untuk mengkaji dan menjawab permasalahan tentang bagaimana fungsi dan peran warna lokal di dalamnya serta relevansinya dengan penguatan identitas masyarakat Bugis-Makassar. Data yang digunakan adalah teks cerpen PP karya Khrisna Pabichara yang bersumber dari antologi cerpen Kolecer dan Hari Raya Hantu. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pembacaan secara cermat dan pencatatan bagian-bagian yang menunjukkan warna lokal. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan berlandaskan pada teori sosiologi sastra. Hasil analisis menunjukkan bahwa cerpen PP hadir dalam balutan warna lokal yang sangat kental. Cerpen ini merupakan internalisasi tradisi dan mitos dalam budaya masyarakat BugisMakassar. Parakang sebagai produk budaya masa lampa, di satu sisi dipandang sebagai mitos belaka, tetapi di sisi lain masih tetap mengemuka pada era modernitas saat ini dan dipercaya oleh masyarakat pendukungnya.
BALADA “HANG TUAH”: IMAJINASI AMIR HAMZAH TENTANG SOSOK PAHLAWAN MELAYU Saksono Prijanto
Kandai Vol 11, No 1 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.113 KB) | DOI: 10.26499/jk.v11i1.221

Abstract

Dalam pemikiran budaya dan politik Melayu, Hang Tuah lebih daripada sekadar nama seorang pendekar. Hang Tuah adalah satu “ikon”, satu simbol kebangsaan dan kebanggaan bangsa Melayu-Indonesia. Sebagai tokoh yang hidup dalam masa keemasan Kesultanan Melaka, Hang Tuah merupakan representasi cita-cita dan kebesaran bangsa MelayuIndonesia. Beberapa sastrawan Indonesia terinspirasi untuk mengabadikan potret Hang Tuah dalam karya kreatif mereka, antara lain, Raja Penyair Pujangga Baru, Amir Hamzah. Artikel ini mencoba merekonstruksi imajinasi penyair Amir Hamzah melalui pengungkapan makna balada “Hang Tuah” dengan mengidentifikasi pemanfaatan simbolisme bunyi (atau metafora), serta lukisan bunyi (reproduksi bunyi-bunyian alam) yang terkandung dalam balada itu. Dari hasil telaah dapat disimpulkan bahwa Amir Hamzah memahami pola pemikiran Melayu-Indonesia. Kepiawaian Amir Hamzah menyusun keterpautan kata yang satu dengan kata yang lain dalam eufoni yang indah telah mampu membentuk imaji visual sebagai sarana pengonkretan makna. Amir Hamzah mampu memanfaatkan daya sinergi itu dalam keindahan baladanya.

Page 6 of 26 | Total Record : 255