cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
Analisis Pelaksanaan Program SPGDT Di Indonesia Yudhanto, Yoga; Suryoputro, Antono; Budiyanti, Rani Tiyas
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 1 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.1.31-40

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Program SPGDT belum menunjukkan hasil maksimal, sehingga banyak dikeluhkan oleh masyarakat ketika mereka membutuhkan pelayanan kesehatan. Meskipun hampir di setiap kota terdapat Instalasi Gawat Darurat dari semua tipe rumah sakit baik pemerintah atau swasta, pelayanan ambulans dan berbagai fasilitas kesehatan lainnya, namun keterpaduan dalam melayani penderita gawat darurat belum sistematis, kurangnya komunikasi baik antar fasilitas kesehatan dan antar tenaga kesehatan dengan masyarakat. Tujuan dari literatur review ini adalah untuk menjelaskan gambaran pelakasanaan SPGDT dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberjalanan SPGDT.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan literature review sederhana. Pencarian database yang digunakan termasuk ScienceDirect, Scopus, PubMed, Portal Garuda dan Google Cendikia dengan kata kunci serta kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan. Hasil: Faktor yang mempengaruhi program SPGDT adalah standar operasional prosedur (SOP) dan sumber daya. Hasil penelitian menemukan bahwa SOP diberbagai daerah masih kurang baik dalam pembahasan SOP dan sosialisasi terhadap masyarakat. Sumber daya di puskesmas sudah baik dalam hal anggaran akan tetapi masih kurang pada bagian sumber daya manusian karena petugas pelaksana unit puskesmas belum pernah dilatih dan belum mengantongi sertifikat pelatihan kegawatdaruratan.Simpulan: Dalam keberjalanan program SPGDT diberbagai daerah masih belum dapat memenuhi standar pemerintah pusat baik dalam waktu tanggap, SOP, dan sumber daya.Kata kunci: SPGDT; gawat darurat; implementasi; kesiapan ABSTRACTTitle: Analysis of the Implementation of the SPGDT Program in IndonesiaSPGDT; gawat darurat; implementasi; kesiapanBackground: The SPGDT program has not shown maximum results, so that many people complain about it when they need health services. Although in almost every city there are Emergency Departments of all types of hospitals, both government and private, ambulance services and various other health facilities, but integration in serving emergency patients has not been systematic, lack of good communication between health facilities and between health workers with the community. The purpose of this literature review is to explain the description of the SPGDT implementation and the factors that influence the running of the SPGDT.Method: This research is a research that uses a simple literature review. The database searches used included ScienceDirect, Scopus, PubMed, Portal Garuda and Google Scholar with predefined keywords and inclusion and exclusion criteria.Result: The factors that influence the SPGDT program are standard operating procedures (SOPs) and resources. The results of the study found that SOPs in various regions were still not good at discussing SOPs and socialization to the community. The resources at the puskesmas are good in terms of budget but are still lacking in the human resources section because the implementing officers of the puskesmas unit have never been trained and have not yet obtained an emergency training certificate.Conclusion: In the course of the SPGDT program in various regions, it has not been able to meet central government standards in terms of response time, SOP, and resources.Keywords: SPGDT; emergency; implementation; readiness
Hubungan Pengetahuan Dismenore terhadap Sikap Mengatasi Dismenore pada Mahasiswi Pendidikan Biologi Universitas Siliwangi Septiana, Erni; Suharsono, Suharsono; Putra, Rinaldi Rizal
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 6 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.6.419-424

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dismenore terhadap sikap mengatasi dismenore pada mahasiswi Pendidikan Biologi Universitas Siliwangi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 sampai dengan bulan Agustus 2020 di Universitas Siliwangi. Dismenore merupakan salah satu gangguan menstruasi yang sering terjadi pada wanita. Mahasiswi Pendidikan Biologi memiliki pengetahuan dasar mengenai materi reproduksi khususnya menstruasi dan gangguannya, sehingga memiliki bekal pengetahuan tentang dismenore. Pengetahuan mahasiswi tentang dismenore dapat berpengaruh terhadap sikap mengatasi dismenore.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat noneksperimental dengan metode korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi Pendidikan Biologi dari angkatan 2016 hingga 2018 sebanyak 299 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswi Pendidikan Biologi angkatan 2016 yang sudah mengontrak mata kuliah Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia, sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data pengetahuan dismenore diperoleh melalui tes tertutup berupa tes pilihan majemuk 5 opsi sebanyak 16 soal, sedangkan data sikap mengatasi dismenore diperoleh melalui kuesioner. Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi linear sederhana.Hasil: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat hubungan antara pengetahuan dismenore terhadap sikap mengatasi dismenore pada mahasiswi Pendidikan Biologi Universitas Siliwangi dengan nilai R sebesar 0,365 dan nilai R Square sebesar 0,133 yang berarti bahwa kontribusi yang diberikan dari aspek pengetahuan dismenore terhadap sikap mengatasi dismenore sebesar 13,3%.Kata Kunci: Dismenore, pengetahuan, sikap ABSTRACTTitle: The Relationship between Knowledge of Dysmenorrhea and Attitudes to Overcome Dysmenorrhea in Biology Education Students at the University of SiliwangiBackgroud: This study aims to determine the relationship between knowledge of dysmenorrhea and attitudes to overcome dysmenorrhea in Biology Education students at the University of Siliwangi. This research was conducted from September 2018 to August 2020 at Siliwangi University. Dysmenorrhea is a menstrual disorder that often occurs in women. Biology Education students have basic knowledge of reproductive material, especially menstruation and its disorders, so they have knowledge of dysmenorrhea. Students' knowledge about dysmenorrhea can influence their attitude to overcome dysmenorrhea. Method: This research is a quantitative research which is non-experimental in nature with a correlational method. The population in this study were all Biology Education students from class 2016 to 2018 as many as 299 people. The sample in this study were students of Biology Education class 2016 who had contracted the Human Body Anatomy and Physiology course, the sample was taken using purposive sampling technique. Dysmenorrhea knowledge data obtained through a closed test in the form of a compound 5 option test as many as 16 questions, while the attitude to overcome dysmenorrhea data obtained through a questionnaire. Hypothesis testing uses simple linear regression analysis. Result: Based on the research that has been done, there is a relationship between knowledge of dysmenorrhea on attitudes to overcome dysmenorrhea in Biology Education students at the University of Siliwangi with an R value of 0.365 and an R Square value of 0.133 which means that the contribution given from the knowledge aspect of dysmenorrhea to attitudes to overcome dysmenorrhea is 13.3%.Keywords: Dysmenorrhea, knowledge, attitude
Hambatan Akses Pelayanan Infertilitas pada Pasien dari Kawasan Urban dan Rural yang Berobat di Klinik Bayi Tabung Halim Fertility Center RSIA Stella Maris Halim, Binarwan; Girsang, Ermi; Nasution, Sri Lestari Ramadhani; Manalu, Putranto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 4 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.4.272-278

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Masalah infertilitas dihadapi 15-20% pasangan usia subur yang membawa dampak masalah pada sosial dan psikologis kepada pasangan, keluarga maupun masyarakat. Secara garis besar, pasangan yang mengalami infertilitas akan menjalani proses panjang, dimana proses ini dapat menjadi beban fisik dan psikologis bagi pasangan infertilitas. Saat ini terdapat 12% pasangan infertilitas yang tersebar di seluruh Indonesia baik di desa maupun di kota. Mengingat pelayanan infertilitas yang masih belum merata dan hanya terpusat pada kota-kota yang besar. Pelayanan kesuburan belum merambah ke seluruh lapisan masyarakat.Metode: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan hambatan terhadap akses pelayanan infertilitas pada masyarakat urban dan rural yang berobat di Klinik Bayi Tabung Halim Fertility Center RSIA Stella Maris Medan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh dilakukan analisis deskriptif dan analitik. Sebanyak 130 responden terbagi dalam dua kelompok masing masing 65 responden kelompok rural dan 65 responden kelompok urban.Hasil: Pada penelitian ini ditemukan tiga variabel yang signifikan (p=0,014, p=0,023 dan p=0,005) dalam analisis multivariat yaitu tingkat ekonomi dengan nilai OR 2,606 (95% IK 1,210-5,611), letak geografi dengan nilai OR 3,905 (95% IK 1,203-12,677), dan sosial budaya dengan nilai OR 5,299 (95% IK 1,659- 16,929).Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna tingkat ekonomi, letak geografi dan sosial budaya pada pasien kawasan perkotaan dan perdesaan dalam akses pelayanan infertilitas di Klinik Bayi Tabung Halim Fertility Center RSIA Stella Maris Medan. Kata kunci: hambatan akses, infertilitas, urban, ruralABSTRACTTitle: Infertility Care Access Barriers in Patient of Urban and Rural Areas of the Treatment Clinic IVF Fertility Center RSIA Halim Stella Maris  Background: The problem of infertility is faced by 15-20% of couples of childbearing age that have an impact on social and psychological problems for couples, families and communities. Broadly speaking, infertile couples will undergo a long process, where this process can be physical and psychological burden for the couple infertility. Currently, there are 12% of couples infertility scattered throughout Indonesia, both in villages and cities. Given the infertility services that are still not evenly distributed and only focused on large cities. Fertility services have not penetrated to the whole society.Method: The research looked at how different barriers to access to infertility services in urban and rural communities who seek treatment at the Fertility Clinic Halim tube baby center RSIA Stella Maris Medan. This type of research used in this study is quantitative with interview techniques using a questionnaire. The data obtained were analyzed descriptively and analytically. A total of 130 respondents were divided into two groups each 65 rural respondents and 65 urban respondents.Result: This study found three significant variables (p = 0.014, p = 0.023 and p = 0.005) in multivariate analysis that economic level with OR 2.606 (95% CI 1.210 to 5.611), geography with OR 3.905 (95% CI 1.203 to 12.677), and socio-cultural with OR 5.299 (95% CI 1,659- 16.929).Conclusion: There are significant differences in economic levels, geographical and socio-cultural patient urban and rural areas in access to infertility services at the Clinic IVF Fertility Center RSIA Halim Stella Maris Medan. Keywords: barriers to access, infertility, urban, rural 
Pengelolaan Linen Rawat Inap Di Instalasi Laundry RSUD Ungaran, Kabupaten Semarang Astuti, Eka Kristia Ayu; Sriatmi, Ayun; Kusumastuti, Wulan
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 1 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.1.1-11

Abstract

Latar belakang: Pengelolaan linen turut berkontribusi pada pembentukan citra rumah sakit di masyarakat. Pemanfaatan pelayanan rawat inap di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang cukup tinggi, jika dilihat dari Bed Occupancy Rate (BOR) dan Average Length of Stay (AvLOS) rumah sakit. Namun, ketersediaan stok linen di rawat inap belum merata. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengelolaan linen rawat inap di Instalasi Laundry RSUD Ungaran Kabupaten Semarang.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif fenomenologis. Teknik pengumpulan data yaitu indepth interview dengan purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari 6 orang informan utama dan 5 orang informan triangulasi. Aspek yang diteliti adalah aspek masukan dan proses pengelolaan linen.Hasil:  Pada aspek masukan menunjukkan kekurangan tenaga pelaksana di laundry, sarana dan prasarana belum memenuhi standar, dan pelaksanaan SOP belum berjalan optimal. Pada aspek proses menunjukkan tidak terdapat standar batas penggunaan linen dalam perencanaan, masih ditemukan penyimpangan pada penanganan linen kotor, masih terdapat petugas yang tidak melakukan distribusi linen bersih pada jalur linen bersih, belum semua linen yang rusak dilakukan perawatan linen, dan pengisian dokumen pelaporan linen di rawat inap belum rutin.  Simpulan: Terdapat kendala pada aspek masukan dan proses pengelolaan linen rawat inap di Instalasi Laundry RSUD Ungaran sehingga perlu dilakukan perbaikan pada aspek masukan dan proses pengelolaan linen. Kata kunci: Pengelolaan Linen, Instalasi Laundry, Rumah Sakit ABSTRACT Title:  Management of Inpatient Linen in the Laundry Installation at RSUD Ungaran, Semarang Regency  Background: Linen management contributes to the establishment of the image of the hospital in the community. Public quite interest with inpatient services at Ungaran Hospital, Semarang Regency, when it viewed from the BOR and AVLOS of the hospital. However, the availability of linen stocks in inpatient rooms is not evenly distributed. The aim of this research was to analyze the management of inpatient linen at the Laundry Installation at RSUD Ungaran, Semarang Regency. Method: This research is a qualitative research with a phenomenological descriptive approach. The data collection technique was in-depth interview with purposive sampling. The research subjects consisting of 5 main informants and 5 triangulation informants. The aspects studied were the input and process aspects of linen management.Result: In the input aspect, it shows that there was a shortage of manpower laundry, the facilities and infrastructure have not met the standards, and the implementation of SOP has not been optimal. In the process aspect, it shows that there is no standard for the use of linen in planning, irregularities are still found in the implementation of handling dirty linen, there were officers who did not distribute clean linens on the clean linen route, not all damaged linens get treatment, and filling in linen reporting documents in inpatient was not routine yet. Conclusion: There are obstacles in the input and process aspects of the inpatient linen management at the RSUD Ungaran Laundry Installation, so it is necessary to improve the input and process aspects of the linen management. Keywords: Linen management, laundry installation, hospital
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Vasektomi di Desa Karanganyar Kabupaten Ngawi Jawa Timur Amanati, Nurma Mentari; Musthofa, Syamsulhuda Budi; Kusumawati, Aditya
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 2 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.2.91-98

Abstract

Latar belakang: Partisipasi pria dalam penggunaan vasektomi di Kabupaten Ngawi masih rendah dari tahun 2016 hingga 2018, dengan angka (0,2%), (0%), (0,3%). Dalam penggunaan kontrasepsi, tidak jarang wanita mengalami ketidakcocokkan pada jenis kontrasepsi tertentu. Pria dapat berbagi peranan dengan menggunakan kontrasepsi pria, salah satunya adalah vasektomi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengguna vasektomi dan mengetahui faktor yang berhubungan dengan penggunaan vasektomi di Desa Karanganyar Kabupaten Ngawi.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain ­cross sectional dan dilakukan wawancara mendalam pada pengguna vasektomi untuk memperoleh kelengkapan data. Populasi 241 pria Pasangan Usia Subur di Desa Karanganyar dengan sampel 78 responden yang diperoleh dengan simple random sampling menggunakan rumus analitik kategorik tidak berpasangan. Variabel bebas pada penelitian ini adalah tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah anak, pengetahuan, sikap, keyakinan, ketersediaan informasi, sikap dan perilaku istri, sikap dan perilaku kader KB, serta sikap dan perilaku Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Untuk variabel terikat yaitu penggunaan. Uji bivariat menggunakan Uji Chi Square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan ketersediaan informasi (p value = 0,000), sikap dan perilaku istri (p value = 0,002), Kader KB (p value = 0,001) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (p value = 0,003) dengan penggunaan vasektomi. Rendahnya penggunaan vasektomi disebabkan karena adanya nilai budaya setempat mengenai peran istri dalam pengambilan keputusan yang masih terbatas, pengetahuan istri yang kurang tentang penggunaan kontrasepsi pria, dan kepercayaan terhadap kontrasepsi pria. Padahal dukungan istri menjadi motivasi untuk membangkitkan minat pria memilih kontrasepsi yang lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga. Selain itu dukungan Petugas KB yang berperan dalam pemberian informasi dan proses pemilihan kontrasepsi pria yang masih rendah membuat partisipasi pria dalam penggunaan vasektomi juga rendah.  Simpulan: Untuk mendukung program pengarusutamaan gender dalam penggunaan kontrasepsi pada pria dapat ditingkatkan melalui dukungan dari istri sebagai partner kehidupan seksual, serta Kader dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana sebagai petugas yang dapat memberikan motivasi melalui kegiatan konseling kepada pria.Kata kunci: Keluarga berencana, kontrasepsi pria, vasektomi, pengarusutamaan gender ABSTRACT Title: Analysis of Factors Related to the Use of Vasectomy in Karanganyar Village Ngawi District East JavaBackground: The participation of men in using vasectomy in Ngawi District is still low from 2016 to 2018 with a rate of (0,2%), (0%), (0,3%). In the use of contraception, it is not uncommon for women to experience an incompatibility with the type of contraception used. Men can share roles by using male contraception, one of which is vasectomy. This study aims to identify vasectomy users and determine the factors associated with the use of vasectomy in Karanganyar Village, Ngawi District.Method: Research is a quantitative study with a cross sectional design and in depth interviews were conducted with vasectomy users to obtain complete data. The population 241 men of childbearing age with a sample of 78 respondents by simple random sampling using unpaired categorical analytic formulas. The independent variables in this study consisted of education level, income, number of children, knowledge, attitudes, and behavior of family planning cadres, attitudes and behavior of family planning field officers. And the dependent variables in this study is the use of vasectomy.  The test used in the Chi Square Test.Result: The result indicated that there is a relationship the availability of information (p value = 0,000), an attitude and behavior of the wife (p value = 0,002), Family Planning cadres (p value = 0,001), family planning field officers (p value = 0,003) related with the use of vasectomy. The low use of vasectomy is also due to local cultural values regarding the role of wives in making decisions are still limited, the wife’s insufficient knowledge and trust in male contraception. Wife’s support is the motivation to arouse men’s interest in choosing better contraceptives for themselves and their families. Support from family planning officers to give information and the process of selecting contraceptives is still low, making men’s participation in the use of vasectomy also low.Conclusion: To Support mission of gender mainstreaming in contraceptive use in men can be increased throught the support of their wives as sexual partners, as well as Family Planning Cadres and Family Planning Officers as officers who can motivate men to carry out counseling activities.Keywords: Family planning, male contraception, vasectomy, mainstreaming mission
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Penggilingan Padi: Kajian Sistematis Islamiyati, Nur; Nurjazuli, Nurjazuli; Suhartono, Suhartono
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 5 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.5.311-321

Abstract

Latar belakang:Gangguan fungsi paru dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, hal ini telah ditemukan dalam beberapa penelitian. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru dalam penelitian terdahulu masih belum memiliki kepastian mengenai faktor penyebab. Tujuan dilakukan kajian sistematik guna mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan fungsi paru pada pekerja penggilingan padi.Metode: Kajian ini menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews dan Meta-Analyses). Langkah awal dilakukan identifikasi untuk mengumpulkan artikel dari beberapa database jurnal dan grey literatur. Setelah itu penyeleksian artikel dengan melihat judul, kata kunci dan abstrak artikel. Penilaian kelayakan artikel dilakukan dengan melihat secara keseluruhan teks, tahap ini digunakan untuk menentukan kelayakan artikel yang digunakan.Hasil: Terdapat 7 artikel yang dianalisis dalam kajian ini, indikator gangguan fungsi paru dinilai dengan pengukuran kapasitas paru dalam 6 artikel dan gejala gangguan pernafasan dalam 1 artikel. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru pada pekerja penggilingan padi berdasarkan hasil analisis artikel meliputi umur, lama kerja, masa kerja, kebiasaan merokok, penggunaan alat pelindung diri (APD), paparan debu dan kadar debu.Simpulan: Faktor gangguan fungsi paru yang dominan dalam ketujuh artikel adalah masa kerja. Semakin lama masa kerja semakin besar risiko mengalami gangguan fungsi paru.ABSTRACTTitle : Factors Associated with Impaired Lung Function in Rice Mill Workers: A Systematic StudyBackground: Impaired lung function can be caused by various factors, this has been found in some research. Factors associated with impaired lung function in previous studies are still uncertain about the causative factors. The purpose of systematic review is to find out the factors that can cause lung function disorders in rice milling workers.Method: This review uses the PRISMA method (Preferred Item Reporting for Systematic Review and Meta Analysis). The initial step is to identify the articles to collected from several journal databases and gray literature. After that the article is selected by looking at the title, keywords and article abstract. The eligbility ofthe article by looking at the overall text, at this stage used to decide the appropriateness of the article used.Results: There were 7 articles analyzed in this study, indicators of impaired lung function were assessed by measuring lung capacity in 6 articles and symptoms of respiratory disorders in 1 article. Factors associated with impaired lung function in rice mill workers based on the results of the analysis of the article are age,length of work, work period, smoking habits, use of personal protective equipment (PPE), dust exposure and dust levels.Conclusion: The dominant factor impaired lung function from the seven articles is work period. The longer working period, the greater risk of experiencing lung function disorders.Keywords: Impaired lung function, rice dust, rice milling
Kadar Debu Terhirup pada Polisi Lalu Lintas di Kota Semarang Dewi Sekar Tanjung; Budiyono Budiyono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.226-231

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Polisi lalu lintas merupakan salah satu profesi dengan risiko gangguan fungsi paru. Polisi lalu lintas terpapar emisi dari kendaraan bermotor dengan lama kerja 6-12 jam/hari. Debu merupakan penyumbang emisi alat transportasi sebanyak 44%. Hasil pengukuran kadar debu total pada tahun 2015-2017 pada Dr. Jalan Sutomo yaitu 664; 345; 141 μgr/nm3, Jalan Pandanaran 373 μgr/nm3 dan Jalan Brigjen Soediarto 290 μgr/nm3. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar debu terhirup pada polisi lalu lintas yang bertugas pagi dan sore di kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain studi cross sectional. Populasi berjumlah 42 polisi lalu lintas yang bertugas di Polrestabes Semarang, Polsek Gayamsari dan Polsek Pedurungan yang memenuhi kriteria inklusi dengan sampel sebanyak 35 polisi lalu lintas. Kelompok pagi hari 17 orang dan kelompok siang hari 18 orang, pembagian didasarkan pada jadwal sift pengaturan lalu lintas pada Bulan Agustus 2019. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 31 responden (88,6%) memiliki kadar debu terhirup dibawah nilai ambang batas (< 3mg/m3) dengan rata-rata frekuensi paparan 6 kali/bulan dan 45,7% responden dengan status gizi obesitas. Rata-rata kadar debu terhirup pada polisi lalu lintas yang bertugas di sore hari memiliki konsentrasi lebih tinggi (1,99 mg/m3) dibandingkan dengan polisi lalu lintas yang bertugas pada pagi hari (1,32 mg/m3). Hasil dari uji beda pada statistik menunjukkan nilai sig. (p-value) = 0,014 Simpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kadar debu terhirup pada polisi lalu lintas yang bertugas pagi dan sore di Kota Semarang. Penentuan standar jenis masker dan ketentuan penggunaan APD (masker) pada sore hari sangat diperlukan untuk meminimalkan risiko. Kata kunci: kadar debu terhirup, polisi lalu lintas, pagi dan sore hari ABSTRACTTitle: Levels of Dust Inhaled among Traffic Police in Semarang City  Background: Traffic police is one of the professions with the risk of lung function disorders. Traffic police are exposed to emissions from moving vehicles with 6-12 hours / day working hours. Dust is a contributor to emissions of transportation by 44%. Results of measurements of total dust levels in 2015-2017 at Dr. Sutomo Street, 664; 345; 141 μgr / nm3, Pandanaran Road 373 μgr / nm3 and Brigjen Soediarto Road 290 μgr / nm3. This study discusses differences in dust levels in traffic police that connect morning and evening in the city of Semarang.Method: This study was an observational study with a cross sectional study design. The population of 42 traffic police who served in Semarang Police, Gayamsari Police and Pedurungan Police who met the inclusion criteria with a sample of 35 traffic police. Morning group of 17 people and afternoon group of 18 people, the division is based on the traffic control shift schedule in August 2019.Results: The results showed 31 respondents (88.6%) had inhaled dust levels below the threshold value (<3mg / m3) with an average frequency of 6 times / month and 45.7% of respondents with obesity nutritional status. The average level of dust inhaled in high traffic police today has a higher concentration (1,99 mg / m3) compared to traffic police who move in the morning (1,32 mg / m3). The results of different tests on statistics that show the value of sig. (p-value) = 0,014Conclusion: The conclusion in this study is the difference in the level of inhaled dust in the police traffic that benefits the morning and evening in the city of Semarang. Determination of standard types of masks and terms of use of PPE (masks) in the afternoon is needed to be approved. Keywords: levels of dust inhaled, traffic police, morning and afternoon
PENGARUH MEDIA SOSIAL DAN KETIDAKPUASAN TUBUH PADA PERILAKU DIET MAHASISWA DI KOTA SEMARANG Nohana, Olvinny Caroline; Kusumawati, Aditya; Widjanarko, Bagoes
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 5 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.5.363-367

Abstract

 Latar belakang: Informasi mengenai diet dapat dengam mudah ditemukan melalui media sosial, namun masih terdapat informasi yang kurang tepat yang dapat menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. Ditemukanya image pada media sosial seperti “cantik Ideal” atau “body goals” dapat meningkatkan ketidakpuasan tubuh. Ketidakpuasan tubuh dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan perilaku diet yang tidak sehat. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik, pendekatan kuantitatif, desain penelitian cross sectional dengan sampel 269 responden mahasiswa yang berkuliah di Universitas di kota Semarang dengan kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan berupa angket yan disebar secara online. Analisis data yang digunakan yaitu univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden perempuan (78,8%), laki – laki (21,2%). Kategori Indeks massa tubuh normal (62,1), gemuk berat (17,1), gemuk ringan (12,3%), kurus (6,7%), sangat kurus (1,9%). Perilaku diet sehat (50,9%), perilaku diet tidak sehat (49,1%). Responden yang memiliki kepuasan tubuh (50,2%), ketidakpuasan tubuh (49,8%). Kepercayaan pada informasi diet pada media sosial (81%). Keinginan melakukan diet setelah akses informasi diet pada media sosial (82%).  Simpulan: Dari ketiga faktor (media sosial, sikap, dan ketidakpuasan tubuh) faktor yang mempengaruhi perilaku diet adalah sikap dan ketidakpuasan tubuh. Sedangkan media sosial digunakan sebagai alat mencari informasi mengenai diet dan mendukung niat untuk melaksanakan diet.Kata kunci: Media sosial, diet, ketidakpuasan tubuhABSTRACT Title: The Effect Of Social Media And Body Dissatisfaction On Diet Behaviour In University Students In Semarang Background: Information about diet can be easily found through social media, but there is still inaccurate information that can cause various health problems. Finding images on social media such as “Beauty Ideal” or “body goals” can increase body dissatisfaction. Body dissatisfaction can be one of the factors that increase unhealthy diet behavior.Methods:  This type of research is descriptive analytic, quantitative approach, cross sectional research design with a sample of 269 student respondents studying at universities in the city of Semarang with inclusion criteria. The instrument used was a questionnaire which was distributed online. The data analysis used was univariate and bivariate with the chi-square test.Results: The results showed that the respondents were female (78.8%), male (21.2%). Categories: Normal body mass index (62.1), heavy fat (17,1%), light fat (12,3%), thin (6,7%), very thin (1,9%). Healthy diet behavior (50.9%), unhealthy diet behavior (49.1%). Respondents who have body satisfaction (50.2%), body dissatisfaction (49.8%). Trust in diet information on social media (81%). The desire to go on a diet after accessing diet information on social media (82%).  Conclusion: Of the three factors (social media, attitude, and body dissatisfaction) the factors that influence dietary behavior are attitude and body dissatisfaction. Meanwhile, social media is used as a tool to find information about diet and support the intention to carry out the diet. Keyword: Social media, diet, body dissatisfaction
Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan pada Indikator Kebencanaan di Balkesmas Wilayah Magelang Provinsi Jawa Tengah Cahyaningsari, Brillian Ayu; Jati, Sutopo Patria; Sriatmi, Ayun
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 2 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.2.99-105

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Oleh karena itu, untuk menjamin ketersediaan kebutuhan dasar warganya, perlu diatur dalam Standar Pelayanan Minimal. Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi dengan jumlah kejadian bencana terbanyak di Indonesia pada tahun 2019. Sebagai Unit Pelaksana Teknis pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Balkesmas Magelang juga harus membantu melaksanakan SPM kesehatan provinsi pada indikator kebencanaan untuk mencapai target 100%.Metode: Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dan subjek penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek input yaitu belum tersedianya tenaga surveilans, epidemiologi, dan kesehatan reproduksi, belum adanya alokasi anggaran dan pengadaan sarana dan prasarana, serta belum tersedianya juknis/SOP pelaksanaan SPM di lingkup Balkesmas, aspek proses yaitu belum melaksanakan langkah kegiatan penentuan sasaran, kegiatan perencanaan, penyiapan sarana, prasarana, dan SDM, serta kegiatan pelaksanaan pemenuhan pelayanan, dan pada aspek lingkungan diketahui bahwa kondisi geografis dan potensi kejadian bencana di wilayah kerja Balkesmas Magelang berbeda-beda serta adanya keterlibatan dari lintas sektor.Simpulan: Kesiapan pelaksanaan SPM kebencanaan di Balkesmas Wilayah Magelang belum berjalan optimal dikarenakan belum melaksanakan seluruh mekanisme kegiatan sesuai dengan peraturan yang tersedia. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain aspek input, proses, dan lingkungan.Kata kunci: Standar Pelayanan Minimal, kebencanaan, Balkesmas Magelang ABSTRACTTitle: Implementation of Minimum Service Standards in the Health Sector on Disaster Indicators in Balkesmas Magelang Region, Central Java Province Background: Indonesia is a disaster-prone country. Therefore, to ensure the availability of the basic needs of its citizens, it is necessary to set the Minimum Service Standards. Central Java Province is the province with the highest number of disasters in Indonesia in 2019. As the Technical Implementation Unit for the Central Java Province government, Balkesmas Magelang must also help implement provincial health MSS on disaster indicators to achieve the 100% target.Method: The study was conducted using qualitative methods with a descriptive-analytic approach. Data collection was carried out by using in-depth interviews and the research subjects were determined by purposive sampling technique.Result: The results showed that in the input aspect, surveillance, epidemiology, and reproductive health personnel were not available, there was no budget allocation and provision of facilities and infrastructure, and there were no technical guidelines / SOPs for the implementation of MSS in the scope of Balkesmas, the process aspect was that they had not carried out the activity steps. determination of targets, planning activities, preparation of facilities, infrastructure, and human resources, as well as activities for the implementation of service fulfillment, and in environmental aspects it is known that the geographical conditions and potential for disasters in the working area of Balkesmas Magelang are different and there is involvement from across sectors.Conclusion: The readiness of implementing disaster MSS in Balkesmas Magelang Region has not been optimal because it has not implemented all activity mechanisms in accordance with the available regulations. This is influenced by several factors, including aspects of the input, process, and environment.Keywords: minimum service standards, disaster, Balkesmas Magelang
Paparan Debu Terhirup dan Gangguan Fungsi Paru pada Pedagang Tetap di Terminal Kota Tegal Ranindyta Elda Cintya; Budiyono Budiyono; Tri Joko
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.189-194

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Sektor transportasi memiliki kontribusi terbesar dalam menyebabkan pencemaran udara di lingkungan. Terminal bus merupakan salah satu kawasan yang menyumbang pencemaran udara dalam bentuk partikulat debu. Partikel debu respirabel bersifat mudah masuk ke dalam saluran pernapasan manusia sehingga paparannya berbahaya bagi kesehatan. Pedagang tetap di terminal merupakan populasi yang berisiko mengalami gangguan fungsi paru akibat paparan debu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara paparan debu terhirup dengan gangguan fungsi paru pada pedagang tetap di Terminal Kota Tegal.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 35 sampel pedagang tetap yang masih aktif berjualan di Terminal Kota Tegal merupakan subjek penelitian ini. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengukuran paparan debu terhirup menggunakan Personal Dust Sampler selama 1 jam, sedangkan gangguan fungsi paru menggunakan spirometer. Analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan uji Chi square dengan tingkat signifikansi 95%.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 12 responden (34,3%) memiliki paparan debu terhirup diatas NAB (≥3 mg/m3) dengan rata-rata paparan debu terhirup 2 mg/m3. Hasil pemeriksaan fungsi paru ditemukan sebanyak 22 responden (62,8%) memiliki gangguan fungsi paru restriksi dengan jenis gangguan terbanyak restriksi ringan. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan antara paparan debu terhirup dengan gangguan fungsi paru (p=0,027).Simpulan: Paparan debu terhirup merupakan faktor risiko terjadinya gangguan fungsi paru pada pedagang tetap di Terminal Kota Tegal. Kata kunci: paparan debu terhirup, lama paparan, masa kerja, gangguan fungsi paru, terminal kota tegal ABSTRACTTitle: Exposure to Inhaled Dust and Pulmonary Function Disorder in Permanent Traders at Tegal City Bus Station  Background: The transportation sector has the biggest contribution in causing air pollution in the environment. The bus station is one of the areas that contributes air pollution in the form of dust particulates. Respirable dust particles are easily entered into the human respiratory tract so that the exposure is harmful for health. Permanent traders in the bus station are populations who are risk of pulmonary  function disorder due to dust exposure. The purpose of this study to analyze the relationship between exposure of inhaled dust and pulmonary function disorder in permanent traders in Tegal bus station.Method: The type of research is observational analytic with cross sectional design. A total of 35 samples of permanent traders who are still active selling at Tegal bus station are the subjects in this study. The sampling tecnique using purposive sampling. Measurement of inhaled dust exposure using Personal Dust Sampler for an hour, while pulmonary function disorder using spirometer. Statistical analysis in this research using Chi square test with a significance level of 95%.Result: The result of research showed that 12 respondents (34,3%) had inhaled dust exposure above NAB (≥3 mg/m3) with an average of inhaled dust exposure was 2 mg/m3. The result of the examination of lung function were found as many as 22 respondents (62.8%) had restriction pulmonary disorder with the most types of disorder is mild restriction. The analysis showed that there was a relationship between exposure of inhaled dust and pulmonary function disorder (p = 0.027).Conclusion:. Exposure of inhaled dust is a risk factor for pulmonary function disorder in permanent traders in Tegal bus station. Keywords: exposure of inhaled dust, duration of exposure, work period, pulmonary function disorder, tegal bus station