cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
MENGGALI SUMBERDAYA GENETIK UDANG JERBUNG (Fenneropenaeus merguiensis de Man) SEBAGAI KANDIDAT UDANG BUDIDAYA DI INDONESIA Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.826 KB) | DOI: 10.15578/ma.6.1.2011.49-53

Abstract

Udang jerbung (Fenneropenaeus merguiensis de Man) merupakan salah satu jenis udang penaeid yang  mempunyai nilai ekonomis tinggi. Habitat asli udang jerbung tersebar di seluruh perairan Indonesia mulai dari Aceh sampai Irian dan merupakan udang yang tertangkap dalam kumpulan yang cukup besar. Udang ini bersifat bentik; hidup  pada permukaan dasar laut. Semua perairan Indonesia mempunyai potensi untuk pengembangan budidayanya. Pengembangan budidaya udang jerbung membutuhkan stok induk dan benih yang berkualitas baik. Induk dan benih tersebut dapat diperoleh melalui program pemuliaan selain dari  seleksi tangkapan dari alam atau laut. Untuk mendukung program pemuliaan tersebut di-perlukan informasi mengenai kondisi populasi udang jerbung di alam
PERANAN FUNGI DALAM AKUAKULTUR PENDAHULUAN Di dalam dunia mikrobia, jamur termasuk divisio Mycota. Mycota Wahyu Pamungkas; Ikhsan Khasani
Media Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.657 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.1.2010.32-37

Abstract

Fungi (jamur) merupakan jasad eukariot, yang berbentuk benang atau sel tunggal, multiseluler atau uniseluler. Sel-sel jamur tidak berklorofil, dinding sel tersusun dari kitin, dan belum ada diferensiasi jaringan, bersifat khemoorganoheterotrof karena memperoleh energi dari oksidasi senyawa organik dan memerlukan oksigen untuk hidupnya (aerobik). Habitat jamur terdapat pada air dan tanah. Cara hidupnya bebas atau bersimbiosis, tumbuh sebagai saprofit atau parasit pada tanaman, hewan, dan manusia. Jamur mempunyai peranan yang penting dalam akuakultur. Selain dapat menimbulkan kerugian yaitu sebagai penyebab penyakit pada ikan, jamur juga mempunyai peranan yang menguntungkan dalam akuakultur, misalnya berperan dalam mengatasi masalah penyakit karena mampu menghasilkan antibiotik dan meningkatkan ketahanan tubuh ikan terhadap penyakit (imunostimulan). Dalam bidang pakan berperan dalam fermentasi pakan untuk meningkatkan nilai nutrisi pakan ikan, berperan dalam proses bioremediasi untuk mengatasi masalah lingkungan perairan.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN AKTIVITAS ENZIM AMILASE BENIH IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal) YANG DIBERI PAKAN DENGAN KANDUNGAN KARBOHIDRAT YANG BERBEDA Muhammad marzuqi; I Wayan Kasa; Nyoman Adiasmara Giri
Media Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.065 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.1.2019.31-39

Abstract

Karbohidrat dalam pakan memiliki peranan penting untuk menunjang pertumbuhan ikan bandeng sehingga perlu diketahui kandungan yang optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kandungan dektrin sebagai sumber karbohidrat dalam pakan terhadap laju pertumbuhan, efisiensi pakan, dan aktivitas enzim amilase ikan bandeng. Pakan percobaan mempunyai kandungan karbohidrat berbeda yaitu 3,4%; 12,4%; 21,4%; 30,4%; 39,4%; dan pakan dibuat dalam bentuk pelet kering dengan diameter 2,1-3,1 mm. Ikan uji yang digunakan yaitu benih ikan bandeng berbobot 1,5 ± 0,5 g dengan panjang total 8,0 ± 0,5 cm, ditebar dengan kepadatan 20 ekor/bak. Wadah yang digunakan berupa 15 bak polikarbonat bervolume 400 liter dan dilengkapi aerasi dengan sistem air mengalir. Percobaan dirancang dengan rancangan acak lengkap, lima perlakuan dan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan, efisiensi pakan, dan aktivitas enzim amilase. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan analisis keragaman (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan kandungan karbohidrat dalam pakan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan, efisiensi pakan, dan aktivitas enzim amilase benih ikan bandeng (P<0,05). Pakan dengan karbohidrat 30,4% optimal untuk mendukung laju pertumbuhan (0,364 g/hari), efisiensi pakan (110,69%), dan aktivitas enzim amilase diperoleh sebesar 2,614 unit/menit.mL pada lambung dan 2,605 unit/menit.mL pada usus benih ikan bandeng.Carbohydrates in commercial diets for milkfish fry have an important role in supporting the growth of the fish. The purpose of this experiment was to determine the effects of different dectrine contents in feed as a source of carbohydrate on the growth response, feed efficiency, and amylase enzyme activity of milkfish fry. The experimental feed was formulated in form of 2.1 – 3.1 mm diameter of dry pellets containing different carbohydrate contents, namely 3.4%, 12.4%, 21.4%, 30.4%, 39.4%. The fish used was milkfish fry with an average weight of 1.5 ± 0.5 g and length of 8.0 ± 0.5 cm and stocked with a density of 20 fish/tank. The experiment used 15 polycarbonate tanks filled with 400 liters of seawater and aerated with a flowing water system. The experiment was arranged in a completely randomized design with five treatments and three replications. The parameters observed were growth rate, feed efficiency, and amylase enzyme activity. The results showed that carbohydrate differences in the diets affected the growth rate, feed efficiency, and amylase enzyme activity of milkfish fry. The diet with 30.4% carbohydrate content produced the optimum finfish fry growth rate (0.364 g/day), and feed efficiency (110.69%). The measured amylase enzyme activity was 2.614 units/minute mL in the stomach and 2,605 units/minute.mL in the intestine milkfish fry. 
DETEKSI POLYMORPHISME DENGAN SUBSTITUSI NUKLEOTIDA TUNGGAL PADA Streptococcus agalactiae ISOLAT LOKAL INDONESIA Angela Mariana Lusiastuti; Helga Seeger; Desy Sugiani; Tatik Mufidah; Hessy Novita
Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.148 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.2.2015.91-95

Abstract

Kasus penyakit pada budidaya ikan nila di wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara dan Papua Barat, disebabkan Streptococcus yang menyebabkan penyakit Streptococcosis di mana 80% disebabkan oleh grup B S. agalactiae. Tujuan penelitian ini adalah melakukan deteksi pada nukleotida isolat S. agalactiae untuk mengetahui sampai sejauh mana terjadinya nukleotida polimorfisme tunggal (SNP) pada isolat tersebut. Identifikasi menggunakan PCR dilakukan terhadap 16S rDNA dan primer spesifik spesies terhadap S. agalactiae yaitu agal I 5’-ATAAGAGTAATTAACACATGTTAG-3’ (forward) dan agal II 5’-ACTTCGGGTGTTACAAAC-3’(reverse) dengan target 1250 bp. Produk PCR diamplifikasi terlebih dahulu menggunakan tujuh pasangan primer oligonukleotida yang berbeda yang didesain dari sekuens genom NEM316 GBS. Sekuens yang diperoleh dibandingkan dengan sekuens di Gene Bank database menggunakan National Center for Biotechnology Information Blast search tool. Hasil yang diperoleh ternyata ada dua basa yang berubah yaitu pada basa 24 dan basa 167. Pada basa 24 jelas terjadi subtitusi basa baru yaitu G, yang seharusnya tidak ada basa tersebut pada gen adhP-54 dan adhP-49 standar. Sedangkan pada basa 167 terjadi perbedaan basa dari seharusnya A pada standar menjadi G pada isolat 2.
PENGENDALIAN LIMBAH BUDIDAYA PERIKANAN MELALUI PEMANFAATAN TUMBUHAN AIR DENGAN SISTEM CONSTRUCTED WETLAND Erlania Erlania
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1374.729 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.129-137

Abstract

Berkembangnya kegiatan usaha budidaya menyebabkan semakin besarnya masukan limbah organik ke perairan. Pengolahan limbah organik pada dasarnya tidak membutuhkan biaya yang tinggi. Konsep pengolahan air limbah menggunakan media tumbuhan air atau yang lebih populer dengan istilah fitoremediasi sangat efektif digunakan. Proses fitoremediasi ini diterapkan dalam bentuk sistem constructed wetland. Dalam sistem ini, tumbuhan air menyerap bahan organik dari limbah budidaya yang dimanfaatkan untuk proses pertumbuhannya. Selain itu, tumbuhan air juga dapat menyerap kandungan logam berat yang terdapat dalam air. Pemanfaatan tumbuhan air untuk pengolahan limbah tidak membutuhkan biaya yang besar dan teknik khusus dalam pemeliharaannya, serta dapat memberikan nilai tambah lainnya. Selain tidak memerlukan bahan kimia yang dapat membahayakan lingkungan, juga dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai pupuk, pakan ternak, kerajinan tangan, dan memberikan nilai estetika pada area pengolahan limbah.
PENGEMBANGBIAKAN ASEKSUAL TERIPANG KELING (Holothuria atra) DI KAMPUNG MANYAIFUN, RAJA AMPAT, PAPUA BARAT Afandi Saputra; Endang Gunaisah; Fabian Ardianta; Septyan Andriyanto
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.264 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.71-75

Abstract

Potensi perikanan teripang di Indonesia mempunyai prospek yang besar. Namun dengan maraknya penangkapan menjadikan spesies teripang ini menjadi langka. Usaha-usaha restocking terus dilakukan untuk mengatasi kelangkaan sumberdaya teripang yang terjadi di Indonesia, salah satu bentuk usaha pengembalian populasi teripang adalah reproduksi secara aseksual (fission atau pembelahan). Teknik pengembangbiakan secara aseksual meliputi pemutusan badan teripang yang merupakan proses penyembuhan dan regenerasi menjadi individu yang baru. Hasil pengembangbiakan aseksual pada berbagai ukuran waring di laut tidak berpengaruh terhadap pola pertumbuhan teripang keling, Holothuria atra. Individu teripang baru hasil pembelahan mampu beradaptasi dengan lingkungannya dengan tingkat sintasan yang tinggi. Namun, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut guna memperoleh teknik pengembangbiakan secara aseksual yang lebih optimal.
PENGGUNAAN BERBAGAI WADAH UNTUK PEMBUDIDAYAAN IKAN HIAS AIR TAWAR Darti Satyani; Bambang Priono
Media Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (Juni 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.515 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.1.2012.14-19

Abstract

Bisnis ikan hias memiliki prospek yang sangat menggiurkan, tidak perlu modal besar dan dalam membudidayakannya tidak memerlukan keterampilan khusus serta pasarnya pun terbilang cukup mudah, terutama di kota-kota besar. Untuk mendapatkan hasil budidaya ikan hias yang baik dapat dilakukan dengan selalu menjaga kualitas dan kuantitasnya. Dalam menjaga kualitas dan kuantitas tidak terlepas dari cara budidaya ikan hias yang dilakukan. Budidaya ikan hias dapat menggunakan wadah dari berbagai jenis selama tidak bocor. Wadah budidaya yang sering digunakan untuk ikan hias adalah akuarium, kolam tanah, bak semen, kolam terpal/plastik, bak fiber glass dengan ukuran yang beragam. Agar wadah berfungsi dengan baik antara lain adalah wadah harus dapat menampung air dengan baik, mudah dikelola dan tidak atau bukan berasal dari bahan yang dapat memengaruhi kehidupan ikan.
TINGKAT KETERPAPARAN DAN PERKEMBANGAN PENYAKIT SABUK HITAM (BLACK BAND DISEASE) PADA KARANG Montipora sp. DI PULAU SEBARU BESAR KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Ofri Johan
Media Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1453.99 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.2.2014.119-123

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat di file PDF
EVALUASI STANDAR KUALITAS VAKSIN HYDROVAC UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT MOTILE AEOMONADS SEPTICEMIA (MAS) PADA IKAN LELE AFRIKA (Clarias sp.) Tuti Sumiati; Taukhid Taukhid; Angela Mariana Lusiastuti
Media Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.065 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.1.2019.41-47

Abstract

Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan spesifik suatu individu terhadap suatu penyakit. HydroVac merupakan sediaan vaksin dari bakteri Aeromonas hydrophila AHL0905-2 yang diinaktivasi dengan penambahan formalin 0,3% (formalin killed) merupakan produk yang diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi standar kualitas vaksin, serta efikasinya pada ikan. Sebanyak 20 botol vaksin disimpan dalam refrigerator selama18 bulan, kemudian setiap periode pengujian tertentu diambil satu botol untuk dilakukan pengujian terhadap viabilitas, sterilitas, keamanan, dan efikasinya terhadap ikan lele. Vaksin yang disimpan pada suhu dingin (2°C-8°C) selama 0, 1, 2, 3, 6, 9, 12, dan 15 bulan masih stabil, tidak ada kontaminasi mikroorganisme dan tidak terjadi pertumbuhan kembali bakteri setelah dilakukan uji in vitro. Selama penyimpanan tersebut, vaksin masih efektif diaplikasikan dengan tingkat kelangsungan hidup ikan di atas 60% untuk setiap perlakuan dibandingkan kontrol 31% setelah diuji tantang.Vaccination is given to individual fish as one of the effort to enhance its specific immunity against a disease. HydroVac is an inactive bacterial vaccine of Aeromonas hydrophila which has been deactivated by the addition of 0.3% formalin. This vaccine is expected to be one of the alternatives to prevent the occurrence of the disease in freshwater fish. This study aimed to evaluate the standard quality of the vaccine and its efficacy to fish after storage. A total of 20 bottles of the vaccines were stored in a refrigerator set between 2°C-8°C. Vaccine samples from each bottle were then tested for viability, sterility, safety, and efficacy in catfish at predetermined storage times (0, 1, 2, 3, 6,9, 12, and 15 months). The result shows that all vaccine samples were in stable condition with no microbial contamination and no bacterial regrowth after tests using in vitro assays. All stored vaccines using different storage periods were still effective when applied to treated fish showed by a higher survival rate of 60% for each treatment compared to 31% control after the challenge test. 
PRIMITIVISME IKAN POLYPTERUS SEBAGAI WARISAN MANUSIA MODERN Media Fitri Isma Nugraha
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.674 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.138-143

Abstract

Tinjauan ini mensintesa historis dan diversitas ikan purba Polypterus yang berasal dari Afrika sebagai komoditi budidaya ikan hias. Sejarah evolusinya sangat unik, muncul sejak pertengahan Miocen (10 juta tahun), hubungan parentalnya berada pada posisi transisional sister-takson antara Teleostei dan Tetrapoda. Primitivismenya menyisakan divergensi momental sains hampir satu abad dalam determinasi dimorfisme seksualnya. Bersifat nokturnal, tahan terhadap kondisi habitat ekstrim tetapi mudah dibudidayakan. Polypterus jantan memiliki sirip anal tebal dan condong ke hipural konjungsi sirip ekor. Seekor betina mampu bertelur 100–300 butir dan menetas kurang dari 3 hari. Benih Polypterus sudah dapat beradaptasi dengan pakan tambahan sekitar 10 hari pasca menetas, dan dalam perkembangan gonad jantan dan betina akan terbentuk sempurna setelah berumur 10 bulan. Fosil hidup Polypterus telah menjadi warisan dunia, adopsi dan asuhan penggemarnya tersebar ke-5 benua, dapat dilaporkan bahwa harga per ekor dipatok variatif antara US$40–US$70. Kegemaran kita membudidayakannya, berarti telah menyelamatkan populasi ikan ini agar terhindar dari kepunahan. Atas dasar konsesi dan semangat terhadap warisan spesies dunia itu, BRBIH Depok telah mengoleksi dan sukses memproduksi satu sub spesies, satu varian intergenetik-albino dari populasi Polypterus senegalus senegalus dan 3 spesies intragenerik lainnya.