cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
PEMANFAATAN FERMENTASI LINDI SAMPAH PERKOTAAN DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP BIOMASSA DAN KOMPOSISI KIMIA Chlorella sp. Hadi, Khairul; Rosyadi, Rosyadi
Media Akuakultur Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.2.2024.71-79

Abstract

Lindi merupakan cairan yang terbentuk dalam timbunan sampah dan berpotensi sebagai pencemar lingkungan. Namun apabila diolah lindi dapat menjadi sumber unsur hara untuk kultur Chlorella sp.. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lindi dalam media kultur dan mendapatkan konsentrasi lindi terbaik untuk meningkatkan biomassa serta komposisi kimia Chlorella sp.. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan, yaitu pemberian lindi 5, 10, 15, 20 dan 25% dan masingmasing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Sebelum digunakan, lindi disaring dan dicampur dengan 20 g gula merah yang dihancurkan, 1 L akuades, 15 mL Effective Microorganism4 (EM4 ), dan kemudian difermentasi selama 1 hari. Kultur dilakukan dalam galon berkapasitas 20 L yang diisi dengan 16 L air tawar, dengan penerangan menggunakan lampu dengan intensitas 2500 lux. Proses kultur berlangsung selama 20 hari, dengan parameter yang diukur meliputi kepadatan sel, biomassa, kandungan proksimat, asam amino, kadar nitrat, fosfat, dan kualitas air (suhu, pH, dan DO). Hasil penelitian menunjukkan pemberian lindi dalam media kultur berpengaruh nyata terhadap biomassa Chlorella sp. (p<0,05) dengan konsentrasi lindi terbaik pada perlakuan 25%, yaitu biomassa sebesar 0,44 ± 0,00 g L-1, mengandung protein 31,208%, lemak 7,125%, karbohidrat 31,217%, kadar air 26,975% dan kadar abu 3,475%. Temuan ini menunjukkan bahwa lindi dapat digunakan sebagai alternatif sumber nutrisi untuk meningkatkan produktivitas Chlorella sp., dengan konsentrasi 25% sebagai yang paling optimal.Leachate is a liquid that forms in landfills and can be an environmental pollutant. However, if the leachate is processed, it can become a source of nutrients for Chlorella sp. culture. This research was conducted to determine the effect of leachate in the culture medium and to obtain the best leachate concentration to increase the biomass and chemical composition of Chlorella sp.. The research used a completely randomized design with five treatments, namely the addition of 5%, 10%, 15%, 20%, and 25% leachate, with each treatment consisting of three replications. Before use, the leachate was filtered and mixed with 20 g of crushed brown sugar, 1 L of distilled water, 15 mL of Effective Microorganism 4 (EM4 ), and then fermented for 1 day. The culture was conducted in a 20 L gallon filled with 16 L of freshwater, illuminated with a light intensity of 2500 lux. The culturing process lasted for 20 days, with parameters measured including cell density, biomass, proximate content, amino acids, nitrate, phosphate, and water quality (temperature, pH, and DO). The results showed that the addition of leachate in the culture media had a significant effect on the biomass of Chlorella sp. (p<0.05), with the best leachate concentration being 25%, yielding a biomass of 0.44±0.00 g L-1 , containing 31.208 % protein, 7.125 % lipid, 31.217 % carbohydrates, 26.975 % moisture content, and 3.475% ash content. These findings indicate that leachate can be used as an alternative nutrient source to enhance the productivity of Chlorella sp., with a 25% concentration being the most optimal
PENGARUH BAKTERI Lactobacillus casei FREEZE DRY TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN MAS (Cyprinus carpio) Yudistira, Piero Eka; Karima, Silviyani Nurul; Rouf, Ahmad Beni; Rudi, Mad; Krishanti, Ni Putu Ratna Ayu
Media Akuakultur Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.2.2024.63-70

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu komoditas penting dalam budidaya perikanan air tawar. Kualitas pakan yang kurang optimal sering kali mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan mas. Peningkatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan ini dapat didukung oleh penggunaan Lactobacillus casei probiotik freeze dry dalam pakan. Teknologi freeze dry memperpanjang penyimpanan probiotik tanpa mengurangi efektivitas dan menjaga viabilitasnya dalam pakan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Lactobacillus casei probiotik freeze dry terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan mas. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan: PK1 (105 CFU/g), PK2 (106 CFU/g), PK3 (107 CFU/g), dan K (tanpa probiotik). Ikan mas yang digunakan berukuran 7-8 cm dengan padat tebar 10 ekor/20L air. Waktu pemeliharaan dilakukan selama 14 hari pada pemberian pakan dengan perlakuan dosis probiotik berbeda. Penambahan dosis probiotik L. casei pada pakan ikan mas menunjukkan peningkatan signifikan pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup, dengan dosis optimal 0,1 gr/100 gr pakan (105 CFU/g), yang menghasilkan bobot mutlak (2,8 ± 0,12g), panjang mutlak (1,1 ± 0,21cm), specific growth rate (SGR) (1,7 ± 0,06%/hari), feed conversion ratio (FCR) (1,5 ± 0,06), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) (65,3 ± 2,27%), dan survival rate (SR) (100 ± 0%).The common carp (Cyprinus carpio) is an important commodity in freshwater aquaculture. Suboptimal feed quality often affects the growth and survival of common carp. Growth and survival of this species can be enhanced by incorporating freeze-dried probiotic bacteria into their feed. Freeze-drying technology extends the storage of probiotics without reducing their effectiveness, while maintaining viability in fish feed. This study aims to evaluate the effectiveness of freeze-dried probiotic bacteria on the growth and survival of common carp. The experimental method used was a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates: PK1 (0.1 g probiotics/100 g feed, 10u CFU/g), PK2 (1 g probiotics/100 g feed, 10v CFU/g), PK3 (10 g probiotics/100 g feed, 10w CFU/g), and K (no probiotics). The common carp used were 7-8 cm in size with a stocking density of 10 fish/20 L of water. The feeding period lasted 14 days with probiotic doses applied. Adding Lactobacillus casei probiotic to the feed of carp significantly improved growth and survival, with the optimal dosage of 0.1 g/100 g of feed (105 CFU/g), resulting in absolute weight (2.8 ± 0.12g), absolute length (1.1 ± 0.21cm), specific growth rate (SGR) (1.7 ± 0.06%/day), feed conversion ratio (FCR) (1.5 ± 0.06), feed utilization efficiency (EPP) (65.3 ± 2.27%), and survival rate (SR) (100 ± 0%)
SUPLEMENTASI PIGMEN KAROTENOID DAN ANTOSIANIN MELALUI COATING PAKAN TERHADAP INTENSITAS WARNA DAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN PLATY PEDANG (Xiphophorus helleri) Muhazzir, Said; Thaib, Azwar; Sabil, Shahrul Rajab; Sriwanti, Riska; Handayani, Lia
Media Akuakultur Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.2.2024.81-90

Abstract

Ikan platy pedang (Xiphophorus helleri) merupakan salah satu jenis ikan hias yang berasal dari Sungai Amazon dan kini menjadi sangat populer di kalangan penggemar akuarium. Warna tubuh ikan hias dipengaruhi oleh keberadaan sel pigmen atau kromatofor yang terletak pada lapisan dermis sisik, baik di bagian luar maupun bawah sisik. Peningkatan kualitas warna ikan hias dapat dilakukan melalui pemberian pakan yang diperkaya dengan sumber pigmen alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian berbagai jenis ekstrak pigmen alami terhadap intensitas warna dan kinerja pertumbuhan ikan platy pedang. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, yang terdiri atas lima perlakuan: P1 (pakan dengan 15% ekstrak bunga telang), P2 (15% ekstrak kulit sawit), P3 (15% ekstrak ubi jalar kuning), P4 (15% ekstrak cangkang udang), dan P5 (kontrol tanpa ekstrak), masing-masing dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 menghasilkan peningkatan intensitas warna tertinggi sebesar 26,32%, diikuti oleh P1 (21,05%), P2 dan P4 (masing-masing 20%), serta P5 (15,79%). Pertumbuhan terbaik juga diperoleh pada perlakuan P3, sementara tingkat kelangsungan hidup tertinggi (89%) dicapai pada P2, dibandingkan dengan kelompok kontrol (72%). Meskipun ekstrak ubi jalar kuning memberikan hasil terbaik dalam peningkatan warna, analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perbedaan jenis pigmen yang diberikan tidak berpengaruh signifikan terhadap pertambahan berat maupun panjang tubuh ikan platy pedang.
POTENSI ANTIPARASITIK HERBAL EKSTRAK HERBAL TERHADAP LINTAH LAUT (ZEYLANICOBDELLA ARUGAMENSIS) PADA JUVENIL IKAN KERAPU HIBRIDA CANTANG (Epinephelus fuscoguttatus X E. lanceolatus) Mastuti, Indah; Sadewa, Ketut M. Arya; Ansari, Mohamad; Haryanto, Slamet; Zailani, Ahmad; Suwitra, I Nyoman; Ariani, Ni Kadek; Kurdi, Kurdi; Miniartini, Made; Mustaqim, Mustaqim; Sedana, I Made; Sunarto, Mujiono; Astuti, Ni Wayan Widya; Mahardika, Ketut
Media Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.20.1.2025.1-13

Abstract

Lintah laut adalahektoparasit yang sangat merugikan bagbudidaya ikan kerapu di Bali Utara. Penelitian ini bertujuan menggali potensi antiparasitik jenis 76 tanaman dalam mengendalikan infeksi lintah laut (Zeylanicobdella arugamensis) pada juvenil ikan kerapu hibrida cantang (Epinephelus fuscoguttatus x E. lanceolatus). Sebanyak 76 jenis tanaman diekstrak menggunakan pelarut air laut steril untuk uji in vitro tahap 1 sebagai skrining awal, dilanjutkan dengan uji in vitro tahap 2 dan uji in vivo tahap 1 dan tahap 2. Uji in vivo dilakukan dengan merendam lintah laut dalam ektrak herbal 1000 ppm selama dua jam. Hasil uji in vitro tahap 1 mendapakan 11 tanaman berpotensi antiparasitik, yaitu lada putih, lada hitam, bunga cengkeh, lengkuas, cabai Jawa, jahe hitam, kulit buah manggis, daun sawo Manila, daun delima, daun brotowali dan batang brotowali. Berdasarkan uji tersebut dilakukan uji in vitro tahap 2 untuk mengetahui konsentrasi minimal yang melemahkan lintah laut. Uji in vitro tahap 2 menunjukkan bahwa konsentrasi minimum (500 ppm) hanya diperoleh dari tanaman lada putih. Uji in vivo dilakukan dengan menggunakan ikan kerapu cantang yang yang terinfeksi lintah laut. Uji in vivo tahap 1 menunjukkan bahwa sembilan (lada putih, lada hitam, bunga cengkeh, lengkuas, cabai Jawa, kulit buah manggis, daun sawo Manila, daun delima, daun brotowali) dari sebelas herbal tersebut belum mampu melepaskan lintah laut namun mematikan bagi ikan. Sedangkan uji in vivo tahap 2 menunjukkan sekaligus menyimpulkan bahwa ekstrak herbal, yaitu jahe hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) dan daun brotowali efektif (Tinospora cordifolia) dalam air laut konsentrasi 1000 ppm.Sea leeches are the major ectoparasites that infect grouper fish. This study explores the antiparasitic potential of 76 plants in controlling sea leech. The plants were extracted using sterile seawater and used in the in vitro test 1 (initial screening), followed by in vitro test 2 and in vivo test 1 and 2. The in vivo test was carried out by soaking sea leeches in 1000 ppm herbal extractsfor two hours. The results of the in vitro test 1 found that 11 plants had antiparasitic potential (white pepper, black pepper, clove flowers, galangal, Javanese chili, black ginger, mangosteen peel, Manila sapodilla leaves, pomegranate leaves, brotowali leaves and brotowali stems). Based on initial test, the in vitro test 2 was conducted to determine the minimum concentration. The in vitro test 2 showed that the minimum concentration (500 ppm) was obtained from white pepper . The in vivo test was conducted using infected fish. The in vivo test 2 showed that nine (white pepper, black pepper, clove flowers, galangal, Javanese chili, mangosteen peel, Manila sapodilla leaves, pomegranate leaves, brotowali leaves) herbals were not able to release leeches but deadly to the fish. Meanwhile, the in vivo test 2 concluded that black ginger (Curcuma aeruginosa Roxb.) and brotowali leaves (Tinospora cordifolia) in sea water at a concentration of 1000 ppm were effective in releasing leeches within 10 minutes and non toxic to fish.
PENGARUH PEMBERIAN WARNA CAHAYA BERBEDA PADA PERBAIKAN KUALITAS WARNA DAN PEMIJAHAN IKAN GUPPY (Poecilia reticulata) Maulidya, Rulita; Thaib, Azwar; Uliyana, Uliyana; Sari, Fitra Maulida; Handayani, Lia
Media Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.20.1.2025.25-34

Abstract

Ikan guppy merupakan salah satu ikan hias yang populer di kalangan pencinta ikan hias karena variasi corak warnanya yang menarik. Intensitas warna pada ikan hias dapat dipengaruhi oleh faktor pakan dan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh warna cahaya lampu light emitting diode (LED) terhadap tingkat kecerahan warna ikan guppy yang diberi pakan dengan tambahan pigmen antosianin dari ubi jalar ungu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, serta menggunakan lampu LED sebagai variabel perlakuan. Perlakuan meliputi: A (kontrol/tanpa lampu), B (LED ungu), C (LED hijau), dan D (LED merah), di mana semua perlakuan dipelihara dengan pemberian pakan yang mengandung antosianin selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor peningkatan warna ikan guppy tertinggi terdapat pada perlakuan D dengan skor 26,66±1,06, diikuti oleh perlakuan C dengan skor 23,77±0,97 dan perlakuan B dengan skor 23,00±0,98, sementara perlakuan A (kontrol) memiliki skor terendah, yaitu 20,11±1,21. Berdasarkan analisis nonparametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis, perbedaan warna cahaya lampu memberikan pengaruh signifikan (P<0,05) terhadap skor peningkatan warna ikan guppy. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi tercatat pada perlakuan D (96,3%) dan terendah pada perlakuan A (kontrol) dengan 77,8%. Dengan demikian, penggunaan pakan yang diperkaya antosianin yang dipadukan dengan pencahayaan LED merah terbukti mampu memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan kecerahan warna sekaligus mempertahankan tingkat kelangsungan hidup ikan guppy. Strategi ini dapat diterapkan secara praktis dalam kegiatan budidaya untuk meningkatkan produktivitas serta memperkuat nilai estetika ikan hias.Guppy fish are widely favored in the ornamental fish community due to their diverse and vibrant color patterns. Factors such as diet and environmental conditions can influence the intensity of these colors. This study aimed to assess how different LED (Light Emitting Diode) light colors affect the brightness of guppy fish that were fed anthocyanin pigment supplements from purple sweet potatoes. The experiment followed a Completely Randomized Design (CRD) with four treatment groups and three replicates, using LED light colors as the primary variable. The treatments included A (control/no light), B (purple LED), C (green LED), and D (red LED), with all fish receiving anthocyanin-enriched feed for 60 days. Results indicated that treatment D (red LED) led to the highest color enhancement score (26.66±1.065), followed by C (green LED) with 23.77±0.97, and B (purple LED) with 23±0.98. Treatment A (control) recorded the lowest score of 20.11±1.21. Non-parametric analysis using the Kruskal-Wallis test revealed that different LED light colors significantly (P<0.05) influenced the color enhancement scores. Additionally, the highest survival rate was observed in the red LED group (D) at 96.3%, while the control group (A) had the lowest at 77.8%. Thus, the combination of anthocyanin-enriched feed with red LED lighting proved to be the most effective in enhancing color brightness while maintaining guppy survival rates. This strategy can be practically applied in ornamental fish farming to improve productivity and enhance aesthetic value.
PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN GABUS (Channa striata) DENGAN PEMBERIAN Tubifex sp. MENGANDUNG Curcuma longa L. Alba, Nabila; Rahardjo, Sinung; Nurhidayat, Nurhidayat
Media Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.20.1.2025.15-23

Abstract

Potensi ikan gabus (Channa striata) di Indonesia memiliki nilai ekonomis dan manfaat kesehatan yang tinggi, namun budidayanya di Indonesia terkendala oleh mortalitas tinggi dan pertumbuhan lambat terutama pada ukuran benih. Salah satu penyebab kematian selama proses pendederan benih adalah adanya serangan penyakit dari bakteri dan virus. Curcuma longa L. (kunyit) merupakan bahan aktif yang mampu menekan pertumbuhan bakteri atau virus, menambahkan Curcuma longa L. untuk meningkatkan kualitas Tubifex sp. dapat meningkatkan performa budidaya ikan secara terkontrol. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya alternatif penggunaan pakan alami untuk meningkatkan performa pertumbuhan, sintasan dan kualitas benih ikan gabus. Perlakuan yang diberikan adalah (A) Tubifex sp. tanpa penambahan Curcuma longa L., (B) Tubifex sp. yang dipanen setelah 3 hari penambahan Curcuma longa L., (C) Tubifex sp. yang dipanen setelah 5 hari penambahan Curcuma longa L. dan (D) Tubifex sp. yang dipanen setelah 7 hari penambahan Curcuma longa L. Sebelum dijadikan bahan percobaan, persiapan media pemeliharaan Tubifex sp. menggunakan komposisi, seperti silase ikan, ampas tahu, dedak padi, dan limbah sawi, ditambah probiotik Curcuma longa L. Penelitian dilakukan selama 28 hari menggunakan benih ikan Channa striata berukuran panjang 3-4 cm dengan berat awal 0,5-1,0 g. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pertumbuhan dan sintasan, mencapai 86,7%, pada perlakuan CSK 3 menunjukkan pertumbuhan panjang mutlak tertinggi 18,80±0,54 mm, diikuti CSK 2 dengan 16,20±0,79 mm, CSK 1 dengan 13,80±0,55 mm, dan kontrol (CS) 11,50±0,61 mm. Masing-masing perlakuan menghasilkan kelangsungan hidup CSK3 sebesar 86,70 2,31 %, kemudian CSK 2 dengan nilai 85,31,16 %, perlakuan CSK 1 sebesar 80,703,01%, sedangkan kontrol CS 77,301,16%.The potential of Indonesian snakehead fish (Channa striata) has high economic value and health benefits, but its cultivation in Indonesia is constrained by high mortality and slow growth, especially in seed size. One of the causes of death during the seed nursery process is the attack of diseases from bacteria and viruses. Curcuma longa L is an active ingredient that can suppress the growth of bacteria or viruses. Research on the addition of Curcuma longa lin to improve quality explores the use of Tubifex silk worms (Tubifex sp can improve the performance of fish farming in a controlled manner. This research was conducted for) enriched with curcumin as natural feed to improve growth performance, and survival and quality of snakehead fish seeds. The treatments given were A. Tubifex sp without the addition of Curcuma Lin, B. Tubifex sp harvested after 3 days of adding Curcuma long Lin, C. B. Tubifex sp harvested after 5 days of adding Curcuma long Lin and D. B. Tubifex sp harvested after 7 days of adding Curcuma long Lin. Before being used as an experimental material, the preparation of Tubifex sp maintenance media using Feed given with the composition using materials; fermentation such as fish silage, tofu dregs, rice bran, and mustard greens waste, plus probiotics and curcumin Curcuma longa Linn, . The study was conducted for 28 days using Channa striata fish seeds measuring 3-4 cm long with an initial weight of 0.5- 1.0 g. The results showed a significant increase in growth and survival, reaching 86.7%, the time of the study, the CSK3 treatment showed the highest absolute length growth of 18.80 ± 0.54 mm, followed by CSK2 with 16.20 ± 0.79 mm, CSK1 with 13.80 ± 0.55 mm, and control (CS) 11.50 ± 0.61 mm). Each treatment resulted in CSK3 survival of 86.70±2.31%, then CSK2 with a value of 85.3±1.16%, CSK1 treatment of 80.70±3.01%, while the CS control was 77.30±1.16%. making it a potential alternative for sustainable cultivation.
KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN POLA PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIBERI PAKAN MIKROKAPSUL INKLUSI BERBEDA Fintarji, Rian; Pangkey, Henneke; Mokolensang, Jeffrie Fredrik; Sambali, Hariyani; Kalesaran, Ockstan Jurike; Pangemanan, Novie Pankie Lukas; Sumilat, Deiske Adeliene
Media Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.20.1.2025.35-44

Abstract

Produksi perikanan budidaya dapat ditingkatkan melalui penyediaan pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan, mencakup aspek jenis, ukuran, maupun jumlahnya. Pakan mikrokapsul adalah jenis pakan buatan berukuran sangat kecil (mikron) yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan pada tahap larva dan benih.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik morfometrik dan pola pertumbuhan ikan yang diberi pakan mikrokapsul inklusi berbeda. Penelitian ini menggunakan 1.080 ekor benih ikan nila merah berukuran 1-3 cm pada wadah akuarium. Akuarium yang digunakan berukuran 60x40x40 cm yang kemudian diisi air sebanyak 72 L dan ditebar sebanyak 1 ekor L-1. Penelitian ini didesain dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan. Perlakuan satu yaitu pemberian pakan komersil (kontrol), perlakuan dua yaitu pemberian pakan mikrokapsul tepung Tubifex sp., perlakuan tiga yaitu pemberian pakan mikrokapsul tepung Maggot, perlakuan empat yaitu pemberian pakan mikrokapsul tepung Spirulina sp., dan perlakuan lima yaitu pemberian pakan mikrokapsul tepung Chlorella sp.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik morfometrik ikan nila berbeda pada setiap perlakuan. Hasil uji regresi linear sederhana terhadap parameter pola pertumbuhan ikan nila pada semua perlakuan bersifat alometrik negatif, yakni pertumbuhan panjang lebih cepat daripada pertumbuhan beratnya. Hasil pengukuran kualitas air pada semua perlakuan menunjukkan hasil yang sesuai dengan baku mutu untuk pemeliharaan ikan nila dengan kisaran nilai suhu berkisar 25,1-29,6 o C, oksigen terlarut berkisar 5,1-6,8 mg L-1, pH berkisar 7,42-8,14, dan amonia berkisar 0,01-0,17 mg L-1.Aquaculture production can be increased by providing feed that is appropriate to the need of fish, both in terms of type, size, and quantity. Microcapsule feed is a type of artificial feed with very small sizes (microns) specifically designed to fulfil the nutritional need at the larval and fry fish stages. This study aimed to analyze the morphometric characteristics and growth patterns of fed microcapsules with different inclusions. The study was conducted using 1.080 tilapia with size of 1-3 cm in aquariums. The aquarium used was 60x40x40 cm and was then filled with 72 L of water with a stocking density of 1 fish L-1. This study used a completely randomized design with five treatments and three replications each. Treatment one is the provision of commercial feed (control), treatment two is the provision of microcapsule feed with Tubifex sp flour, treatment three is the provision of microcapsule feed with Maggot flour, treatment four the provision of microcapsule feed with Spirulina sp flour, and treatment five is the provision of microcapsule feed with Chlorella sp flour. The results of the study showed that the morphometric characteristics of tilapia were different in each treatment. The results of the simple linear regression test on the parameters of tilapia growth patterns in all treatments were negative allometric, namely the growth in length was faster than the growth in weight. The results of water quality measurements in all treatments showed results that were in accordance with quality standards for tilapia with a temperature range of 25,1-29,6 oC, dissolved oxygen range of 5,1-6,8 mg L-1, pH range of 7,42-8,14, and ammonia range of 0,01-0,17 mg L-1.
PENGARUH DOSIS BOSTER GROTOP TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN GURAMI DALAM SISTEM RESIRKULASI Ayuwandra, Septira Dwi; Tang, Usman M; Pamukas, Niken Ayu
Media Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.20.1.2025.45-49

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan guna mengidentifikasi dosis boster Grotop yang paling efektif dalam merangsang pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus goramy) yang dibudidayakan menggunakan sistem resirkulasi. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan November 2024 hingga Januari 2025, bertempat di Laboratorium Teknologi Budidaya, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau. Desain eksperimen yang diterapkan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari lima perlakuan dengan masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan yang dimaksud mencakup penambahan boster Grotop dalam pakan dengan dosis 0 g kg-1, 40 g kg-1, 45 g kg-1, 50 g kg-1, dan 55 g kg-1. Sebanyak 300 ekor benih gurami berukuran 5–7 cm digunakan dalam penelitian ini, dengan kepadatan 20 ekor per akuarium berukuran 60 × 40 × 40 cm. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan dosis boster Grotop berpengaruh nyata (P<0,05) dibandingkan kontrol tanpa grotop terhadap pertambahan bobot dan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi penggunaan pakan, rasio konversi pakan, serta tingkat kecernaan pakan. Sementara itu, pengaruh terhadap kelulushidupan benih gurami tidak signifikan (P>0,05). Perlakuan dengan dosis 50 g kg-1 pakan memberikan hasil terbaik, dengan bobot mutlak sebesar 9,35±0,04 g, panjang mutlak 3,87±0,14 cm, laju pertumbuhan spesifik 3,73±0,02%, efisiensi pakan 66,94±12,58%, rasio konversi pakan 1,52±0,26, tingkat kelulushidupan 83,33±2,88%, serta kecernaan pakan sebesar 64%.This study aimed to determine the most effective dosage of Grotop booster in stimulating the growth of giant gourami (Osphronemus goramy) reared in a recirculating aquaculture system. The experiment was conducted from November 2024 to January 2025 at the Aquaculture Technology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Riau. A Completely Randomized Design (CRD) was employed, consisting of five treatments with three replications each. The treatments involved the supplementation of Grotop booster in feed at dosages of 0 g kg-1, 40 g kg-1, 45 g kg-1, 50 g kg-1, and 55 g kg-1. A total of 300 juvenile gourami, measuring 5–7 cm in length, were used with a stocking density of 20 fish per aquarium (60 × 40 × 40 cm). Statistical analysis revealed that variations in Grotop booster dosage had a significant effect (P<0.05) on absolute weight and length gain, specific growth rate, feed efficiency, feed conversion ratio, and feed digestibility. However, no significant effect (P>0.05) was observed on the survival rate of the gourami juveniles in the recirculating system. The optimal performance was observed at the 50 g/kg feed dosage, yielding an absolute weight gain of 9.35±0.04 g, absolute length gain of 3.87±0.14 cm, specific growth rate of 3.73±0.02%, feed efficiency of 66.94±12.58%, feed conversion ratio of 1.52±0.26, survival rate of 83.33±2.88%, and a feed digestibility rate of 64%.