Articles
289 Documents
SASADU ON THE SEA WACANA SENI BUDAYA DALAM FESTIVAL TELUK JAILOLO 2013
Eko Wahyudi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 16, No 1 (2014): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (851.832 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v16i1.59
Sasadu On The Sea merupakan pergelaran karya tari yang diharapkan dapat memberikan pemahaman dan wacana baru dalam mengenal lebih dekat tentang seni budaya yang dimiliki masyarakat setempat, khususnya masyarakat Jailolo Halmahera Barat. Selain itu pergelaran karya tari ini dapat berbagi dalam memberikan inspirasi atau motivasi kepada para kreator seni (khususnya seniman tari) terhadap pentingnya sebuah festival yang berpijak pada seni dan budaya lokal, serta dapat memberi alternatif bagi masyarakat dalam mengapresiasi karya-karya seni tari tradisional kerakyatan. Peranan rumah adat Sasadu sebagai tempat dimana masyarakat Jailolo dapat menyatukan rasa persaudaraan dan kebersamaan diangkat menjadi sebuah tema dan ikon dalam karya Sasadu On The Sea. Sasadu On The Sea merupakan satu rangkaian dalam acara Festival Teluk Jailolo yang selalu diselenggarakan setiap tahun di Jailolo, Halmahera Barat.
MEREFLEKSIKAN KABA ANGGUN NAN TONGGA MELALUI KOREOGRAFI “PILIHAN ANDAMI”
Evadila Evadila
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 16, No 2 (2014): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (917.134 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v16i2.75
Anggun Nan Tongga Magek Jabang sebagai seni tradisi sangat lekat dengan budaya matriarki. Namun demikian oleh Evadila dijadikan media untuk menyampaikan gagasan pemahaman terhadap dunia keperempuanan. Melalui kaba tersebut,pengkarya memandang bahwa sifat keperkasaan tidak hanya milik laki-laki.Perempuan dengan keperkasaan yang dimilikinya ternyata mampu menjadipemimpin dan pahlawan yang disegani oleh kawan maupun lawan. Selain itu, jugamenyikapi kekerasan terhadap perempuan pada saat bersamaan berperan sebagaiistri, yang mewarisi tradisi dan budaya Minangkabau. Metode yang digunakan studipustaka,. Artikel ini diharapkan dapat berguna menyampaikan pesan terhadapkepedulian dan pandangannya tentang perempuan. Artikel ini mampu menghapusstreotip dimana perempuan selalu menjadi pihak yang dirugikan, bahkan mampumenjadi pimpinan yang disegani.. Koreografi “Pilihan Andami” merupakankoreografi yang menggali nilai-nilai kehidupan yang ada dalam kaba Anggun NanTungga Magek Jabang. Cerita cinta segi tiga Andami Sutan, Anggun Nan Tunggadan Gondan Gondoriah dalam episode Ka Taluak Koto Tanau diinterpretasikansebagai keikhlasan sekaligus perlawanan.
METODE JUAL OBAT TRADISIONAL SEBAGAI KONSEP PENCIPTAAN TEATER MODERN “KOMPLIKASI”
Kurniasih Zaitun
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 18, No 1 (2016): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1444.434 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v18i1.86
Banyak juga orang-orang umum mengatakan bahwa Penjual Obat sama dengan aktor. Ia menjual obat dengan menggunakan peralatan yang lengkap dan juga menggunakan kostum yang menarik dan sengaja dipersiapkan. Dalam penceritaannyapun Penjual Obat berangkat dari peristiwa-peristiwa yang ada di sekitarnya. Cerita yang disajikan Penjual Obat menggunakan bahasa keseharian dan mudah dimengerti masyarakat penontonnya. Cerita ini tidak terikat alur yang sistematik. Lebih banyak merespon pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Baik pada saat berjualan maupun dalam kehidupannya sehari-hari. Kemudian pada akhirnya ditarik pada persoalan obat yang akan dijualnya. Mempertunjukan merupakan tindakan dari berbagai ungkapan. Begitupun halnya dengan atraksi jual obat, namun demikian kiranya belum dianggap sebagai seni pertunjukan. Padahal di dalam jual obat ada cerita tentang bagaimana keampuhan obatnya, ada tokoh penyampai cerita, memiliki atraksi-atraksi yang mampu menahan penonton. Hal tersebut, bisa dijadikan bentuk pertunjukan teater.
EKSISTENSI TARI PAYUNG SEBAGAI TARI MELAYU MINANGKAU DI SUMATERA BARAT
Diah Rosari Syafrayuda
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 17, No 2 (2015): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (863.958 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v17i2.102
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan fenomena yang berkaitan dengan Eksistensi Tari Payung sebagai Tari Melayu Minangkabau. Sebagai suatu kajian budaya yang kritis dan emansipatoris dirumuskan masalah penelitian yaitu bagaimanakah eksistensi tari Payung sebagai tari Melayu Minangkabau, bagaimana bentuk tari Payung Syofiany sebagai tari Melayu Minangkabau di Sumatera Barat, serta faktor-faktor apa saja yang menyebabkan tari Payung sebagai tari Melayu Minangkabau. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan metode pengumpulan data di lapangan seperti observasi, wawancara dan dokumentasi serta dianalisis secara interaktif dan berlangsung secara terus pada tahap penelitian sehingga sampai tuntas. Aktivitas dalam analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dari penarikan kesimpulan.Berdasarkan analisis data dapat di formulasikan hasil penelitian yakni pertama eksistensi tari Payung sebagai tari Melayu Minangkabau hadir wadah di tengah lingkungan masyarakat terpelajar baik di lingkungan masyarakat kota dan masyarakat nagari
BELU: SEBUAH EKSPLORASI MUSIK NUSA TENGGARA TIMUR DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Leo Pradana Putra
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 2 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1705.823 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v19i2.145
Belu merupakan sebuah komposisi musik etnis sasando yang di dalamnya terdapat penggabungan instrumen-instrumen musik dari budaya lain. Pembuatan musik tersebut dengan cara meniru bentuk asli yang masih terkesan tradisi, bervariasi, dan singkat tidak menggunakan durasi yang lama. Sehingga, masuknya instrumen-instrumen tersebut dalam komposisi ini menjadi sebuah inovasi baru mengikuti selera penonton dalam penyajiannya. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan komposisi Belu ialahadaptasi terhadap lingkungan sekitar, perubahan cara pandang, dan kontak dengan orang-orang sekitar, sehingga memunculkan ide-ide baru dalam sebuah penggarapan musik tradisi menjadi kemasan masa kini. Dengan demikian, perubahan dan perkembangan budaya akan sangat tergantung pada kreator seni serta apresiasi masyarakat pendukungnya untuk menyajikan musik dengan inovasi baru yang tetap mempertahankan nuansa tradisional budaya Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menelaah tentang proses pengolahan komponen musikal yang berasal dari unsur-unsur musik Jawa dan Timur dalam komposisi musik Belu.
“MENYAMA BERAYA” (Spirit Pluralitas Nusantara)
I Dewa Nyoman Supenida
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 13, No 1 (2011): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1163.84 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v13i1.191
Menguatnya kesadaran terhadap pluralitas bangsa dewasa ini ditandai oleh berbagai perbedaan yang bersifat vertikal maupun horizontal. Pada satu sisi perbedaan ini dapat menjadi penghalang untuk mewujudkan integrasi masyarakat, dan di sisi lain berpotensi menjadi aset budaya bangsa yang dapat mempermudah tercapainya kemajuan bangsa. Karakter bangsa Indonesia yang dibangun atas spirit multietnis, multikultur dan multiagama membutuhkan suatu strategi yang jitu untuk menghidupkan jiwa kebangsaannya agar konflik sosial menjauh dari kehidupan bersama. Konflik horizontal antarkelompok tertentu yang pernah ada di Indonesia seharusnya menggugah bangsa ini untuk kembali merenungi; apa yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menumbuh-kembangkan kesadaran bernegara dan berbangsa. Bersumber dari fenomena sosial ini penggarap mengaktualisasikan salah satu konsep dan nilai kehidupan yang bersumber dari kearifan lokal orang Bali dengan istilah Menyama Beraya menjadi sebuah karya komposisi musik inovatif. Konsep nilai ini bermakna universal, karena Menyama Beraya merupakan sebuah cara pandang bahwa antar sesama manusia adalah bersaudara, tanpa mempersoalkan perbedaan-perbedaan etnis, ras, budaya, agama, dan seterusnya.
Pertunjukan Kompang Bengkalis: dari Arak-Arakan ke Seni Pertunjukan
Yosi Ramadona;
Nursyirwan Nursyirwan
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 16, No 1 (2014): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (749.248 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v16i1.5
This writing is the result of research with the purpose to describe thedevelopment of kompang music in Meskom community in Bengkalis, fromthe music of parade to Attractive Performance. The tradition of kompangparade in Bengkalis community was formerly part of Islamic religiuosteaching, an integral part of Islam-related ceremonies or parties. But nowkompang music has developed from music of parade to music ofentertainment known as Kompang Attraction Performance. In order to seethe development of kompang from the music of parade to music ofperformance, this research used a qualitative method with descriptive analysis using theories of function and performance. The development ofkompang from music of parade to Kompang Performance Attraction wasbased on the needs of community for a more attractive art performanceand entertainment. The development was done by adding some attractivemovements into the performance combined with kompang game attractionwithout reducing the essence of the performance itself, the Islamic teaching
KARYA HERMIN INSTIARININGSIH (MBAH NING) DALAM KERANGKA KRITIK HOLISTIK
Siti Nurhikmah
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 20, No 2 (2018): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1248.198 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v20i2.393
Artikel ini memiliki tujuan menjawab permasalahan tentang, karakeristik, latar belakang terciptanya Wayang Beber sebagai konsep, dan proses kreatif lukisan Wayang Beber karya Hermin Istiariningsih. Data dan sumber data dihimpun dari informan, tempat, peristiwa melalui survey langsung, dan juga data pustaka. Permasalahan berdasarkan pada salah satu seni tradisi yaitu lukisan Wayang Beber yang semakinlangka dan sedikit yang melestarikan. Salah satu seniman Hermin Istiariningsih yang hidup sederhana tidak menyurutkan semangat dalam menekuni seni lukis Wayang Beber. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yaitu, dengan wawancara terstruktur, observasi, mengkaji dokumen dan arsip. Ciri khas karya Mbah Ning adalah lukisan Wayang Beber bukan teknik Sungging dengan menggunakan campuran warna cat lukis,warna dari daun dan kulit kayu secara konsisten, beliau juga merupakan elukis Wayang Beber perempuan satu-satunya yang ada di Indonesia
BENTUK PENYAJIAN TARI PIRING DI DAERAH GUGUAK PARIANGAN KABUPATEN TANAH DATAR
MISSELIA NOFITRI
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 17, No 1 (2015): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (915.069 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v17i1.70
Tari Piring di daerah Guguak Pariangan, memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan tari Piring di daerah lain di Minangkabau.terutama dari segi konsep dan bentuk penyajiannya. Dari segi konsep, tari Piring adalah sebuah paket pertunjukan yang di dalamnya terdapat properti piring, saputangan dan pisau. Tradisi tari Piring ditarikan oleh empat orang penari laki-laki dengan ketentuan dua orang menggunakan properti piring, satu orang menggunakan properti sapu tangan dan satu orang menggunakan pisau. Keempat penari ini menari bersama- sama mengikuti bunyi musik pengiringnya. Alat musik pengiringnya adalah gandang katindiak, talempong pacik, pupuik gadang (terbuat dari daun kelapa), dan kostum yang digunakan adalah baju milik (baju randai) , endong, sesamping sarung bugis dan destar. Pertunjukan tari Piring ini biasanya ditampilkan pada acara pacu jawi, dan upacara perkawinan. Namun dalam perkembangan zaman tari ini bisa ditampilkan kapan saja sesuai dengan permintaan.
ANALISISESTETIKA KARYA GRAFISAT. SITOMPUL YANG BERJUDUL“MAU KARENA BISA”DAN“TOLERANSI”
Heri Iswandi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 18, No 2 (2016): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1056.048 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v18i2.97
Karya seni tidak semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan nilai-nilai estetik. Karya seni mestinya juga dapat memenuhi fungsinya yang lain, yaitu berupa pesan atau makna. Pesan moral, spiritual atau penyadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dapat disampaikan melalui media seni. Sehingga karya seni dapat menjadi media tontonan sekaligus tuntunan.Karya yang berjudul“Mau Karena Bisa”dan “Toleransi” yang dibuat AT. Sitompulmerupakansuatukaryasenigrafis yang merekonstruksikan fikiran orang lain melalui fikiran si seniman dengan memvisualkannya ke dalam karya seni grafis. Pada visual yang tergambar, secara bentuk tentunya sangat sulit untuk dipahami. Untuk itu perlu pisau pembedah yang tepat untuk bisa menganalisis karya tersebut, baik dari segi nilai keindahannya ataupun pesan yang ingin disampaikan oleh si senimannya. Salah satunya dengancara menggunakanpendekatan estetika. Dengan pendekatan estetika kita dapat mengetahui unsur-unsur dan nilai keindahan apa saja yang terkandung pada karya tersebut.