Articles
289 Documents
KRIYA SENI, KELAHIRAN DAN EKSISTENSINYA
ahmad Bahrudin
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 13, No 1 (2011): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1450.649 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v13i1.186
Kriya atau sering disebut dengan kerajinan dan dalam bahasa inggrisnya disebut dengan nama craft, pada mulanya diciptakan sesuai dengan kebutuhan pada zamannya, yaitu sebegai pemenuhan kebutuhan religi/beribadah pada lampau, dan kriya berkembang tidak lagi sebagai pemenuhan kebutuhan religi tetapi sebagai pemenuhan kebutuhan pokok manusia, pada umunya memiliki fungsi praktis/applied art pada masyarakat, maka kriya sekarang ini sudah mencerminkan perubahan-perubahan dari masa lalu. Perubahan itu tidak lepas dari pengaruh berbagai aspek dari waktu ke waktu seiring dengan kemajuan zaman yang sangat cepat. Sehingga muncul dua istilah dalam kriya yaitu istilah seni kriya dan istilah kriya seni, seni kriya bersifat pada pemenuhan kehidupan sehari-hari dan memiliki fungsi praktis, sedangkan kriya seni muncul karena adanya keinginan kriyawan untuk menambahkan ekspresi dalam karya kriyanya, sehingga lahir karya-karya kriya yang lebih menekankan pada nilai seni atau estetisnya dan cenderung mengabaikan nilai fungsinya.
BONGGOL KAYU SEBAGAI MEDIA EKSPRESI KRIYA LOGAM
Khairunas Khairunas
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 13, No 2 (2011): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (782.02 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v13i2.202
jungle is heritage for offspring as well as God blessing that we always take care, because it existence is very important for life in the world. Jungle must be kept and be continuous. Indeed, we realize that jungle or trees is water reservoir and air neutralizer, but actually most of jungle is cut without good planning. In today contexts, disaster such as flood, landslide and poor air are back grounded by jungle destruction and its ecosystem. The making of this work through three steps namely exploration such as idea resource exploration, design, and realization thruogh looking for creative and innovative new form based opn modrn sclupture rule. Work realization use wood lump media, copper alloy using mosaic technique, cast and welding. In its realization, it emphasize on expression without leaving meaning and implicit message in creation idea resource. Work creation is not only related to visual beauty, but also related to meaning and work content. Work with three dimension form is visualization from illegal logging and its by product such as wood lump. The meaning from real form in art that created is expression of feeling and observation process on phenmena that happen in Indonesian jungle. This creation is hope to be able to one of effort to attract people symphathy and make mistake in value of jungle and plant existence so that they cannot continuous further namely jungle exploitation out of normality
ESTETIKA GERAK EKOR ORCAELLA BREVIROSTRIS DALAM TEKNIK BAKAR RAKU
Indro Dwi Susanto
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 20, No 1 (2018): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (923.126 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v20i1.385
Pesut dengan nama latinOrcaella brevirostris adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar. Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut hidup di sungai-sungai daerah tropis.Mamalia air tawar ini mempunyai kepala berbentuk setengah lingkaran dengan kedua matanya yang kecil. Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai biru hitam. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar setengah lingkaran, tidak ada paruh. Pesut bergerak dalam kawanan. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan hewan yang ahli dalam mendeteksi dan menghindari rintangan yang ada di depan. Mereka menggunakan ultrasonik untuk melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut. Pesut sangat gemar memunculkan diri ke atas permukaan air dan melompat menunjukan keindahan tubuhnya. Gerak ekor yang gemulai akan terlihat ketika muncul diatas permukaan air. Keindahan ini akan diwujudkan dalam karya keramik artistik dengan teknik bakar raku.
KEHIDUPAN MUSIK TAHURI MASYARAKAT NEGERI HUTUMURI, KECAMATAN LEITIMUR SELATAN, KOTAMADYA AMBON DALAM KONTEKS BUDAYA
Fridolin L Muskitta
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 17, No 1 (2015): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (906.342 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v17i1.64
Musik Tahuri adalah jenis musik tiup (aerophone) tradisi Maluku yang tumbuh, hidup dan berkembang di masyarakat Negeri Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kotamadya Ambon, sejak tahun 1960-an secara turun-temurun dari generasi ke generasi.. Menggunakan data-data kualitatif berdasarkan observasi dan wawancara, maka tulisan ini menjelaskan tentang kehidupan musik Tahuri dan konteks budaya yang melingkupi musik Tahuri tersebut. Menggunakan konsep analisis musik tradisi Nusantara, temuan penelitian mengungkapkan bahwa Musik Tahuri berada dalam tanggung jawab soa Puasel, yang terdapat beberapa marga atau mataruma. Namun yang lebih bertanggung jawab pada garis keturunan (mataruma) marga Horhoruw yang merupakan bentuk representasi kolektif masyarakatnya.
PERTUNJUKAN BIANGGUNG DITINJAU DI KUALA TOLAM PELALAWAN: TINJAUAN MUSIKAL DAN RITUAL
Nurmalinda Nurmalinda
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 16, No 2 (2014): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1283.568 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v16i2.80
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pertunjukkan bianggungditinjau dari aspek musikal dan ritual di Desa Kuala Tolam KecamatanPelalawan Kabupaten Pelalawan. Ditinjau dari aspek musikalpertunjukkan bianggung memiliki beberapa unsur musik di antaranyaadalah irama/ritme, tempo, birama, melodi, dan dinamik. Unsur-unsurmusik tersebut memiliki fungsi yang berbeda satu sama lainnya dalampertunjukkannya. Ditinjau dari aspek ritualnya pertunjukan bianggung iniadalah sebagai media penghubung atau komunikasi pebayu dan si pelakubianggung dengan dunia gaib, Ditinjau dari aspek ritual bianggungadalah suatu pertunjukkan yang sifatnya pemanggilan-pemanggilanmambang-mambang (sejenis mahluk halus/roh-roh) agar masuk kedalamtubuh si pelaku permainan
BENTUK DAN PENEMPATAN ORNAMENPADA MESJID AGUNG PALEMBANG
Muhsin Ilhaq
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 18, No 2 (2016): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1248.704 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v18i2.91
Tulisan ini berangkat dari kenyataan tentang perpaduan gaya Eropa dan Cina pada arsitektur mesjid Agung Palembang. Secara kultural gaya Eropa banyak dipengaruhi oleh ajaran Nasrani, sementara Cina banyak dipengaruhi ajaran Budha, keduanya tidak mempermasalahkan tentang penggambaran makhluk hidup. Hal demikian menimbulkan pertanyaan dan menjadi pusat perhatian tulisan ini mengenai “bentuk dan penempatanornamentasi pada mesjid Agung Palembang”. Berdasarkan analisis data yang didapatkan langsung di lapangan, tidak terdapat indikasi yang menunjukkan ornamen binatang maupun pengayaan binatang pada mesjid Agung Palembang, sehingga ornamentasi pada mesjid Agung Palembang bisa diterima oleh umat muslim terutama di Palembang.
KERAJINAN RENDO BANGKU KOTO GADANG SUMATERA BARAT
Ranelis Ranelis;
Rahmad Washinton
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 17, No 2 (2015): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1070.249 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v17i2.107
Rendo bangku merupakan kerajinan tradisional masyarakat Koto Gadang. Bentuk produk kerajinan rendo bangku Koto Gadang tidak hanya berfungsi untuk perlengkapan adat tetapi telah digunakan untuk perlengkapan rumah tangga. Produk untuk perlengkapan adat seperti selendang pengantin wanita, tarawai yang dipakai oleh pengantin laki-laki Koto Gadang. Produk rendo untuk perlengkapan rumah tangga seperti alas gelas, piring, alas keramik dan lain sebagainya. Bentuk motif yang ada pada kerajinan rendo bangku adalah bentuk motif flora yaitu, bunga tulip, bunga mawar, bunga melati, dan motif geometris seperti segi tiga, lingkaran, dan segi empat. Teknik yang digunakan dalam rendo bangku adalah teknik persilangan benang yang satu dengan benang yang lain. Warna pada produk rendo bangku untuk perlengkapan adat digunakan warna merah, pink, orange, sedangkan warna untuk perlengkapan rumah tangga tidak ada ketentuan warnanya tetapi disesuaikan dengan permintaan konsumen atau selera pasar.
DEDENG: NYANYIAN UPACARA TURUN KE LADANG ETNIK MELAYU LANGKAT, PESISIR TIMUR SUMATERA UTARA
Muhammad Zulfahmi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (516.925 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v14i1.180
Musik vokal dedeng merupakan salah satu genre kebudayaan musikal etnik Melayu Langkat Pesisir Timur Sumatera Utara. Musik vokal dedeng dinyanyikan pada saat kegiatan adat dalam tiga aktifitas agricultural yaitu pada saat upacara penebangan hutan untuk lahan pertanian disebut dedeng padang reba, menanam benih di lahan disebut dedeng mulaka nukal dan pada saat aktifitas musim panen tiba. Ditinjau dari sudut konteks penyajiannya, musik vokal dedeng dapat dikategorikan kepada nyanyian yang bersifat sakral dan religi animisme. Teks-teks dedeng berisi tentang himbauan, permohonan, dan harapan yang ditujukan kepada dua hal yakni kepada manusia dan kepada alam. Kepada manusia ditujukan sebagai himbauan untuk bekerja sama mengerjakan lahan pertanian, sedangkan kepada alam ditujukan untuk meminta izin kepada penunggu hutan yang terdiri roh-roh gaib, binatang buas, dan hama-hama tanaman, agar tidak mengganggu aktifitas atau menghalangi keinginan mereka untuk merintis dan mendapatkan hasil pertanian yang melimpah.
SALUANG SIROMPAK: ALAT MUSIK TIUP TRADISIONAL DI MINANGKABAU TERISOLASI
Ibnu Sina
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 14, No 2 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (468.891 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v14i2.196
Saluang Sirompak adalah salah satu alat musik tiup tradisional “Minangkabau”. Alat musik tersebut dulu digunakan untuk menundukkan hati wanita. Kekhasan melodinya dilatar-belakangi unsur magis melalui estetika bunyi yang dipandang tabu dikembangkan. Karena memiliki kekhasan yang tidak terdapat pada alat musik tiup sejenis itu, dan berguna menghilangkan imeg (imag) negatif, pengkarya mengangkat kembali ke dalam bentuk seni pertunjukan berjudul “Ba-Sirompak”.
DIMENSI ESTETIKA PERTUNJUKAN SALUANG DENDANG DI MINANGKABAU DALAM BAGURAU
Sriyanto Sriyanto
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 14, No 2 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (957.361 KB)
|
DOI: 10.26887/ekse.v14i2.229
Dimensi estetika dalam pertunjukan Saluang-Dendang di Minangkabau amat kompleks. Setiap unsur saling terkait ketika “proses” pertunjukan sedang berlansung. Keterlibatan pemain dan penonton “bersama-sama”sangat menentukan berjalannya pertunjukan. Secara konvensional kualitas estetika bergantung pada tiga unsur penggarapan yaitu: pemahaman, sikap (etika), dan kemampuan (skill). Ketiganya harus sinergisitas, karena merupakan modal utama pemain Saluang Dendang dan penonton dalam “Bagurau”. Dimensi itulah yang dapat meningkatkan kualitas pertunjukan Saluang Dendang dalam Bagurau.