cover
Contact Name
Saaduddin
Contact Email
red.ekspresiseni@gmail.com
Phone
+6281371972228
Journal Mail Official
red.ekspresiseni@gmail.com
Editorial Address
https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Ekspresi/about/editorialTeam
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
ISSN : 14121662     EISSN : 25802208     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/ekspresi
Core Subject : Humanities, Art,
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni welcomes full research articles in the area of Visual Art and Performing Art. Scope areas are: related to Art and Culture, Creative Process and conceptual research in visual art and Performing Art.
Articles 289 Documents
BENTUK ORNAMEN MASJID KERAMAT LEMPUR KERINCI Alipuddin Alipuddin; Yulimarni Yulimarni
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 2 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1569.519 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v19i2.144

Abstract

Bentuk ornamen yang diterapkan di Masjid Keramat Lempur sebagai penggubahan bentuk-bentuk figuratif sehingga menjadi tersamarkan ini dipandang sebagai upaya jalan keluar untuk menghindari larangan menggambarkan makhluk hidup dan dianggap pula sebagai strategi adaptasi penyebarluasan agama Islam pada waktu itu. Ornamen yang diterapkan pada umumnya berbentuk tumbuh-tumbuhan, geometris. Ornamen diterapkan pada bagian  luar maupun bagian dalam masjid, meliputi  hiasan pada tiang, dinding, alang, papan pengunci sudut, mimbar, dan tempat azan. Di samping itu, ornamen tersebut terlihat adanya pengaruh ornamen yang terdapat pada benda prasejarah. Ornamen tersebut ditata atau disusun berdasarkan prinsip komposisi, meliputi: pertimbangan keseimbangan, keserasian, irama, kesatuan, proporsi, dan disusun secara vertikal maupun horizontal. Menggunakan data kualitatif, penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Ornamen tidak hanya semata-mata sebagai penghias melainkan juga mengandung maksud-maksud simbolis.
TINJAUAN SEJARAH DAN BUDAYA YANG MEMPENGARUHI TEATER TUTUR TUPAI JANJANG MASYARAKAT KERINCI JAMBI Leni Efendi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 15, No 1 (2013): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1672.258 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v15i1.173

Abstract

Tupai Janjang adalah salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat Kerinci Provinsi Jambi, tergolong gen (genre) teater tutur karena penyampaian cerita melalui dendang—narasi pencerita [aktor/pemeran tokoh-tokoh] teater ini. Ceritanya mengandung nilai-nilai agama, moral, dan jadi panutan masyarakat secara turun temurun. Sekarang, volume pementasan Tupai Janjang turun drastis dan diambang kepunahan, bahkan masyarakatpun jarang menonton. Ini merupakan fakta dan indikator penyebabnya. Karena itu perlu diteliti dan didokumentasikan. 
KREATIVITAS DAN IMAJINASI SUTRADARA MEMBANGUN PERISTIWA TEATER MENUJU RUANG PUBLIK Yusril Yusril
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.233 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.190

Abstract

Peristiwa teater di ruang publik dibangun oleh daya kreativitas dan imajinasi sutradara yang tinggi. Teater harus akrab dengan masyarakatnya sehingga tidak ada jarak antara tontonandengan apa yang ditonton. Teater Orang-Orang Bawah Tanah sebagai pengisi ruang kreatif menawarkan definisi baru terhadap konsep teater modern Indonesia. Memanfaatkan ruang publik yang lebih luas menjadikan bentuk teater ini disebut juga sebagai teater “akrab”. Teater ini akrab dengan ruang, pemain, dan penonton sehingga pertunjukan menjadi milik publik yang berada dalam ruang yang sama. Pertunjukan teater di ruang publik memiliki idiom-idiom tertentu yang sekaligus menjadi kekhasan yang tidak dimiliki pertunjukan yang dipentaskan di gedung prosenium maupun arena. Ruang publik juga memiliki tantangan dalam penggarapan sebuah teater. Ruang tanpa batas memungkinkan untuk dieksplorasi agar tontonan menjadi akrab dengan masyarakatnya. Teater akrab ini tidak hanya mengakrabkan dirinya dengan masyarakat penonton namun juga mengakrabkan seluruh hal seperti naskah dengan sutradara, sutradara dengan aktor, pemusik dan pendukung lainnya. Keakraban ini memunculkan sesuatu yang memiliki nilai yang sangat demokratis dalam penggarapan sebuah pertunjukan.
PERLAWANAN PEREMPUAN DALAM KARYA DUA KOREOGRAFER: HARTATI DAN SUSASRITA LORAVIANTI Roza Muliati
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 13, No 1 (2011): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.407 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v13i1.213

Abstract

Hartati and Susasrita Loravianti are both Minangkabau female leading choreographers nowadays, who have been known for their consistency, quality, and their sensibility toward the issue of gender.  This article aims to reveal the ideology presented in the works of both choreographers and to show the critical dimension of both choreographers toward the factual problem of women today which is remain opposing traditional rules. This article is a textual study of women opponent which is reflected in the works of both choreographers, namely: Hari Ini and Ritus Diri  by Hartati; and Perempuan dalam Kaba, and Meja, Kursi, dan Segelas Jus yang Tumpah by Susasrita Loravianti.
Ritual Sebagai Sumber Penciptaan Film Basafa Di Ulakan Ediantes Ediantes
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 18, No 1 (2016): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1710.287 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v18i1.16

Abstract

Basafa merupakan sebuah ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh para pengikut tarekat Syatariyah bersifat Sufisme, sehingga ritual keagamaan yang dilaksanakan, mempunyai alasan-alasan tertentu yang sulit dipahami.Alasan-alasan pembenaran tersebut terkadang tidak dapat dipahami secara rasional, diperlukan kepekaan inderawi dalam membahasnya. Ritual ini mengingatkan pada tata cara dalam memahami keberadaan-Nya walaupun jalan yang ditempuh berbeda tetapi tetap pada satu tujuan dan mengagungkan-Nya. Interpretasi yang hadir dalam film dokumenter “Basafa Di Ulakan” bukanlah pembelaan terhadap apa yang dilakukan oleh tarekat Syatariyah melainkan mencari pembenaran yang terkandung dalam nilai- nilai religius Basafa. Metode penciptaan dalam film dokumenter melalui metode film dokumenter observational, dengan merekam seluruh aktifitas Basafa dan melakukan wawancara terhadap pihak- pihak terkait dengan acara Basafa ini. Visual yang ditampilkan merupakan bukti otentik tentang arti Basafa, fenomena yang terjadi, merupakan rekaman latar belakang yang nyata, sehingga apa yang terkandung dalam film adalah ungkapan dari realitas kehidupan yang ada dengan pemberian sentuhan estetika dalam penggarapannya.
BUDAYA LOKAL DI ERA GLOBAL Naomi Diah Budi Setyaningrum
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 20, No 2 (2018): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.191 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v20i2.392

Abstract

Budaya lokal akan lebih bermakna karena mampu mendorong semangat kecintaan pada kehidupan manusia dan alam semesta. Sementara teknologi sebagai hasil kebudayaan yang bersifat fisik tanpa spritualitas nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat, agama, kesenian akan kehilangan fungsi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Nilai-nilai, norma, etika yang terkandung dalam aturan adat tercermin dalam budaya lokal semestinya merupakan referensi –referensi yang bermanfaat di era globalisasi. Menggunakan  data kualitatif penelitian ini dianalisis secara deskkriptif. Merujuk pada pemikiran   Alvin Boskoff menunjukan bahwa faktor-faktor yang menjadi tantangan bagi Budaya Lokal adalah perubahan tata nilai-nilai budaya dalam masyarakat, serta matinya bentuk-bentuk seni tradisi dibeberapa wilayah Nusantara, yang disebabkan oleh teknologi di era global. Budaya lokal adalah salah satu komponen yang memberikan jati diri kita sebagai sebuah komunitas yang spesial, yang eksis di antara bangsa-bangsa di dunia ini. Maka dipandang perlu menumbuhkan kesadaran bagi generasi muda untuk lebih memahami budaya yang dimilikinya. Dengan cara memberdayakan kearifan lokal yang tumbuh di kantong-kantong budaya di seluruh persada Nusantara.
MUSIK MELAYU GHAZAL RIAU DALAM KAJIAN ESTETIKA ASRI ASRI
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 17, No 1 (2015): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.857 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v17i1.69

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap musik Melayu Ghazal yang ada di Riau dan Desa Pulau Penyengat.  Penelitian  mengungkap  konsep tentang Estetika,  latar belakang keberadaan, fungsi musik Melayu Ghazal dalam masyarakat dan bagaimana ketertarikan masyarakat  terhadap  musik  tersebut,  ditinjau  dari  estetika.  Penelitian  ini  mengunakan metode kualitatif  yang didukung oleh data kuantitatif  dengan metode deskriftif analisis. Musik Melayu Ghazal didominasi oleh instrumen seperti: Harmonium, Tabla, Marakas, Gitar, dan Biola, musik Melayu Ghazal yang mempunyai unsur Melodi, harmoni, Ritme dan nada. Kemudian dari pada itu estetika adalah ilmu yang mempelajari  segala sesuatu yang  berkaitan  dengan  keindahan,  yang  mempelajari  semua  aspek  dari  apa  yang  kita sebut  “ke-indahan”.  Hasil  penelitian  dan  pembahasannya,   menunjukan  bahwa  musik Melayu Ghazal jika dihayati  dengan sungguh-sungguh  akan dapat dirasakan  keindahan irama seninya yang lembut dan mendayu-dayu,  serta dengan tersusunnya  harmoni yang apik atau melodi yang menyentuh perasaan atau jiwa dalam diri seseorang 
MOTIF KEAKTORAN DALAM RITUAL TURUK LAGGAI MASYARAKAT SIBERUT MENTAWAI- SUMATERA BARAT Dian Permata Sari
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 18, No 2 (2016): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.266 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v18i2.96

Abstract

binatang yang dimiliki masyarakat Siberut, Mentawai. Tarian ini merupakan tari upacarapengobatan yang melibatkan Sikerei (dukun) dengan arwah Sikerei. Pemanggilan arwah ini berfungsi untuk membantu pengobatan pada masyarakat Sikerei yang sakit dengan jalan trance (kesurupan). Proses trance oleh Sikerei ini dekat dengan teori liminalitas Victor Turner dimana ada “jembatan” antara Sikerei sebagai penari, Sikerei yang trance dan kembali ke Sikerei sebagai penari.Turuk Laggai dibawakan oleh Sikerei (dukun) dengan menampilkan unsur vokal, mimik, dan gestur. Tiga unsur tersebut dekat dengan dramatisasi pada teater. Gerakan diam tanpa dialog atau dikenal dengan istilah pantomimterdapat pada ritual Turuk Laggai ini. Meski ada pembacaan mantra sebelum ritual dimulai, tapi yang menjadi perhatian adalah gerakan tiruan binatang. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan bagaimana asal-usul dan motif keaktoran dalam ritual Turuk Laggai pada masyarakat Kepulauan Mentawai Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian dengan pendekatan etnografi.
MUSIK SAKO SENG DAN AKULTURASI: FENOMENA KEBUDAYAAN DITINJAU DARI SEGI DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT WATUBLAPI FLORES NTT Katharina Kojaing
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 1 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1895.585 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v19i1.127

Abstract

Sako Seng adalah kegiatan mencangkul ladang pertanian secara gotong-royong dengan sistim Gilis (bergilir), yang dilakukan dengan cara mengangkat cangkul dan memaculkan ke tanah secara serentak dalam satu irama, diirngi musik tradisional Korak (Tempurung Kelapa) dan Reng (Giring-giring). Instrumen musik tersebut berfungsi sebagai pengiring sekaligus memotivasi semangat dalam aktivitas mencangkul. Budaya Sako Seng terdapat di kampung Watublapi Kabupaten Sikka pulau Flores Propinsi NTT, dan merupakan rutinitas tahunan yang berlangsung dari bulan Juli hingga akhir November (musim kemarau hingga musim hujan), yang melibatkan para orang tua dan muda-mudi kampung. Untuk mengetahui dampak munculnya akulturasi terhadap atraksi musik Sako Seng dan perkembangannya hingga saat ini, maka penelitian ini dikaji dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif-antropologi dan etnomusikologi dengan mengacu pada teori Perubahan Budaya, dengan metode etnografi.
STUDI ANALISIS: NILAI-NILAI ESTETIKA LOKAL DALAM MUSIK GAMAT Hendrizal Hendrizal
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 15, No 1 (2013): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1565.096 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v15i1.169

Abstract

Musik Gamat di Minangkabau” [Sumatera Barat), termasuk gendre seni rumpun Melayu yang telah berbaur dengan “seni budaya asing”, sehingga kaya estetika lokal sebagai bahan kajian fenomena musikal, sosial, dan psikologis. Kekhasannya pada melodi, nada-nada hias (ornaments), ditandai dengan garinyiak,cengkok yang dimainkan pemain Biola/Viol. Musik vokal dibawakan berbentuk triol, kwintol, sektol, dan septimol. Pantun- pantun sebagai sarat lagu tempo cepat bertema parasaian (penderitaan). Struktur konvensi lagunya baku; jika dilanggar merusak nilai-nilai pertunjukan. Karena itu, nilai-nilai estetika lokal, aspek musikal, dan nilai-nilai ekstrinsik dalam konteks pertunjukannya penting dianalisis. 

Page 2 of 29 | Total Record : 289


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 1 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 26, No 2 (2024): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 26, No 1 (2024): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 25, No 2 (2023): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 25, No 1 (2023): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 24, No 2 (2022): Edisi Juli- Desember 2022 Vol 24, No 1 (2022): Edisi Januari-Juni 2022 Vol 24, No 2 (2022): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 2 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 1 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 22, No 2 (2020): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 22, No 1 (2020): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 21, No 2 (2019): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 21, No 1 (2019): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 21, No 1 (2019): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 20, No 2 (2018): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 20, No 2 (2018): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 20, No 1 (2018): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 20, No 1 (2018): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 2 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 2 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 1 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 1 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 18, No 2 (2016): Ekspresi Seni Vol 18, No 2 (2016): Ekspresi Seni Vol 18, No 1 (2016): Ekspresi Seni Vol 17, No 2 (2015): Ekspresi Seni Vol 17, No 1 (2015): Ekspresi Seni Vol 17, No 1 (2015): Ekspresi Seni Vol 16, No 2 (2014): Ekspresi Seni Vol 16, No 2 (2014): Ekspresi Seni Vol 16, No 1 (2014): Ekspresi Seni Vol 16, No 1 (2014): Ekspresi Seni Vol 15, No 1 (2013): Ekspresi Seni Vol 14, No 2 (2012): Ekspresi Seni Vol 14, No 2 (2012): Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni Vol 13, No 2 (2011): Ekspresi Seni Vol 13, No 2 (2011): Ekspresi Seni Vol 13, No 1 (2011): Ekspresi Seni Vol 13, No 1 (2011): Ekspresi Seni More Issue