cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Evaluasi Daya Tampung Beban Pencemaran Air Sungai Menggunakan Pendekatan Metode Neraca Massa Muhammad Asyroful Mujib; Fahrudi Ahwan Ikhsan; Bejo Apriyanto; Sri Astutik; Anik Nur Khasanah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.152-161

Abstract

Latar belakang: Sungai Bedadung merupakan sungai utama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung yang mengalir di tengah wilayah perkotaan dan berpotensi mengalami pencemaran akibat aktifitas manusia melalui pembuangan limbah domestik, industri, dan pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kualitas air sungai dan daya tampung beban pencemaran air di Sungai Bedadung Hulu.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis korelasional dan metode neraca massa. Teknik pengambilan sampel kualitas air dengan cara grab sampling pada delapan segmen yang terdiri dari 8 sampel sumber nirtitik (non-point source) dan 1 sampel titik (point source) pada kondisi debit rendah di musim kemarau. Parameter yang diuji adalah kualitas fisika air yaitu suhu, pH, Daya Hantar Listrik (DHL) dan Total Dissolved Solids (TDS), serta kualitas kimiawi air yaitu Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Dissolved Oxygen (DO).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh parameter kualitas air Sungai bedadung hulu berdasarkan analisis metode neraca massa memiliki nilai yang tidak melebihi standar baku mutu kualitas air kelas II Peraturan Pemerintah RI Nomor 22 Tahun 2021. Beban Pencemaran Aktual (BPA) untuk kualitas kimiawi air yaitu BOD, COD, dan DO masing-masing sebesar 651,10 kg/hari; 80009,47 kg/hari; dan 3091,70 kg/hari.Simpulan: Nilai Beban Pencemaran Aktual (BPA) ketiga parameter berada di bawah batas Beban Pencemaran Maksimum (BPM) sehingga masih memiliki selisih daya tampung untuk dapat menerima beban pencemaran. Upaya pengelolaan air limbah dan menjaga kelestarian lingkungan masih diperlukan untuk meningkatkan kualitas air di Sungai Bedadung hulu. ABSTRACT Title: Evaluation of River Water Pollution Load Capacity Using Mass Balance Method ApproachBackground: The Bedadung River is the main river in the Bedadung watershed that flows in the middle of urban areas and can experience pollution due to human activities through domestic, industrial, and agricultural waste disposal. This study aimed to determine the characteristics of river water quality and load capacity of water pollution in the Upper Bedadung River.Method: This study uses a qualitative descriptive approach with correlational analysis and mass balance methods. The water quality sampling technique was taken through grab sampling on eight segments consisting of 8 non-point source samples and 1 point source sample at low discharge conditions in the dry season. The parameters tested were the physical quality of water, namely temperature, pH, Electrical Conductivity (DHL) and Total Dissolved Solids (TDS), as well as the chemical quality of water, namely Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), and Dissolved Oxygen (DO).Result: The results showed that all the water quality parameters of the upstream Bedadung River based on the mass balance method analysis had a value that did not exceed the class II water quality standards of the Republic of Indonesia Government Regulation Number 22 of 2021. Actual Pollution Load (BPA) for the chemical quality of water, namely BOD, COD, and DO each of 651.10 kg/day; 80009.47 kg/day; and 3091.70 kg/day.Conclusion: The BPA value of the three parameters is below the Maximum Pollution Load (BPM) limit so that it still has a difference in the capacity to accept the pollution load. Efforts to manage wastewater and preserve the environment are still needed to improve water quality in the upstream Bedadung River.
Pengelolaan Bank Sampah Melalui Rumah Pilah Alam Lestari di Dusun Ceme Kabupaten Bantul Yogyakarta Betty Epy Andani; Tri Wahyuni Sukesi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.200-209

Abstract

Latar belakang: Sampah merupakan masalah lingkungan yang masih terjadi di DIY. Kabupaten Bantul pada tahun 2020 menyumbang sampah sebanyak 526.08 ton/hari, sedangkan daya tampung TPS Piyungan hanya dapat menampung sekitar 500 ton/hari. Usaha yang diterapkan pemerintah daerah salah satunya dengan menerapkan peraturan pengelolaan sampah pada bank sampah. Bank sampah menjadi salah satu poin yang penting dalam upaya mengurangi permasalahan sampah di DIY. Proses bisnis yang dilakukan bank sampah diarahkan dalam upaya mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui dan mengkaji pengelolaan bank sampah melalui Rumah Pilah Alam Lestari di Dusun Ceme.Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu panduan observasi serta wawancara. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Subyek penelitian adalah pengurus dan nasabah bank sampah. Teknik pengambilan data digunakan metode observasi dan wawancara.Hasil: Bank Sampah Alam Lestari melibatkan masyarakat sekitar dalam melakukan praktik pengelolaan sampah. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemilahan sampah, penyetoran sampah, pembuatan pupuk kompos, pembuatan ecoenzim dan pembuatan kerajinan dari sampah. Proses pelibatan masyarakat dalam mengelola sampah dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan dari pengurus bank sampah kepada masyarakat. Selain itu pengelola bank sampah melakukan koordinasi dan kerja sama dengan dinas lingkungan hidup agar proses pelibatan masyarakat dalam mengelola sampah dapat lebih optimal khususnya dalam menghadapi berbagai kendala yang muncul. Adanya bank sampah ini juga memberikan dampak yang baik dari sisi kesehatan, sosial ekonomi, pendidikan dan kemitraan.Simpulan: Kegitan Bank Sampah difokuskan pada pengelolaan sampah dengan melibatkan masyarakat. Kendala operasional yang dialami Bank Sampah Alam Lestari berasal dari internal dan eksternal. Dampak positif  dari kegiatan bank sampah adalah dampak kesehatan, sosial ekonomi, pendidikan dan mitra/stacholder.  Dampak negatif dari kegiatan bank sampah yaitu sarana prasarana yang minim dan adanya timbunan sampah di bank sampah. ABSTRACT Title: Waste Bank Management Through Rumah Pilah Alam Lestari in Ceme Hamlet, Bantul Regency, YogyakartaBackground: Garbage is an environmental problem that still occurs in DIY. Bantul Regency in 2020 contributed 526.08 tons of waste/day, while the capacity of Piyungan TPS can only accommodate about 500 tons/day. One of the efforts implemented by the local government is to apply waste management regulations at waste banks. The waste bank is one of the important points in an effort to reduce the waste problem in DIY. The business processes carried out by the waste bank are directed at reducing, reusing and recycling waste. This research is aimed at knowing and assessing the management of the Pilah Alam Lestari waste bank in Ceme Hamlet..Method: The research method used is descriptive qualitative. The research instrument used is an observation guide and interviews. The sampling technique used was purposive sampling. The research subjects were the management and customers of the waste bank. Data collection techniques used observation and interview methods.Result : The Alam Lestari Waste Bank involves the surrounding community in carrying out waste management practices. Activities carried out include sorting waste, depositing waste, making compost, making ecoenzymes and making handicrafts from waste. The process of involving the community in managing waste is carried out through socialization and training from waste bank administrators to the community. In addition, the waste bank manager coordinates and cooperates with the environmental service so that the process of community involvement in managing waste can be more optimal, especially in dealing with various obstacles that arise. The existence of this waste bank also has a good impact in terms of health, socio-economics, education and partnerships.Conclusion: Waste Bank activities are focused on waste management by involving the community. Operational constraints experienced by the Alam Lestari Waste Bank come from internal and external sources. The positive impact of waste bank activities was the impact on health, socio-economics, education and partners/stacholders. The negative impact of waste bank activities was minimal infrastructure and the presence of piles of garbage in the waste bank..  
Analisis Risiko Mikrobiologi Udara Dalam Ruang di Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang Pada Masa Pandemi Covid 19 Windy Cintya Dewi; Mursid Raharjo; Nur Endah Wahyuningsih
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.162-169

Abstract

Latar belakang: Perkembangan Covid-19 dengan persebarannya dari manusia ke manusia yang semakin meluas baik di dunia maupun Indonesia membuat Kementerian Kesehatan melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang (KKP Semarang) turut serta berupaya mendukung pencegahan makin meluasnya persebaran Covid 19. Upaya menimalisir penyebaran virus Covid 19 ini telah dilakukan, salah satu adalah dengan program vaksinasi. KKP Semarang merupakan salah satu pos pelayanan percepatan vaksinasi di Kementerian Kesehatan yang tentunya memiliki potensi bagi pegawainya untuk terpapar kuman udara karena bekerja dalam waktu yang cukup lama dalam ruangan yang menjadi tempat berkumpulnya para pengguna jasa yang melakukan pelayanan sehingga perlu dilakukan pengukuran besar risiko paparan kuman udara pada pegawai KKP Semarang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian obseravional, dengan melakukan pengamatan, wawancara kepada responden dan pengambilan sampel udara di KKP Semarang untuk menghitung angka kuman udara. Penentuan  responden dengan menggunakan metode simple random sampling yaitu berjumlah 96 orang dan jumlah sampel udara yang diambil sebanyak 58 sampel yang diambil di seluruh wilayah KKP Semarang, pengambilan sampel ini dilakukan pada ruangan yang berpotensi sebagai tempat aktifitas pegawai dan ruangan tempat pelayanan, baik yang berlokasi di Induk maupun Wilker yang berjumlah 8 wilker. Dilaksanakan di bulan September-Oktober 2021. Pengolahan dan analisa data menggunakan metode MRA (Microbial Risk Assessment) untuk menentukan besarnya risiko paparan yang diterima oleh pegawai KKP Semarang.Hasil: Tahapan dalam MRA meliputi tahapan identifikasi bahaya, analisis pajanan, analisis dosis respon dan karakterisasi risiko. Hasil dari pengukuran angka kuman yang telah dilakukan pada 58 sampel, dengan hasil sebagian besar sampel udara memiliki angka kuman udara di atas nilai standar sebesar 500 CFU/m3 per hari seperti yang telah ditetapkan American Conference of Govermental Industrial Hygienist (ACGIH) dan Permenkes No 1077 tahun 2011 yaitu < 700 CFU/m3. Rata-rata angka kuman udara tertinggi ada di Wilker Pelabuhan Tegal yaitu 1.831 CFU/m3 dengan dosis pajanan tertinggi di Wilker Bandara Adisoemarmo 52,08 CFU/kg/hari. Dan nilai HQ tertinggi di Wilker Pelabuhan Tegal yaitu sebesar 7,78 (HQ > 1).Simpulan: Hasil dari analisis MRA (Microbial Risk Assessment) dapat disimpulkan bahwa tingkat risiko paparan kuman udara di KKP Semarang tidak aman bagi pegawai sehingga perlu dilakukan pengendalian dari risiko paparan kuman udara ini terhadap pegawai melalui penerapan alur pelayanan yang sesuai serta pemakaian Alat Pelindung Diri bagi semua pegawai. ABSTRACT Title: Microbiological Risk Analysis of Indoor Air at the Port Health Office of Semarang during the Covid 19 PandemicBackground: The development of Covid-19 with its spread from human to human, which is increasingly widespread both in the world and in Indonesia, has made the Ministry of Health through the Semarang Port Health Office (KKP Semarang) take part in efforts to support the prevention of the wider spread of Covid 19. Efforts to minimize the spread of the Covid 19 virus have been carried out , one of which is the vaccination program. KKP Semarang is one of the vaccination acceleration service posts at the Ministry of Health which certainly has the potential for its employees to be exposed to airborne germs because they work for a long time in a room where service users gather for services, so it is necessary to measure the risk of exposure to airborne germs. to Semarang KKP employees.Method: This research is an observational study, by conducting observations, interviews with respondents and taking air samples at the KKP Semarang to calculate the number of airborne germs. Determination of respondents using the simple random sampling method, which is 96 people and the number of air samples taken is 58 samples taken throughout the KKP Semarang area, this sampling is carried out in a room that has the potential as a place for employee activities and rooms where services are located, both located in Parent and Wilker, totaling 8 wilker. Held in September-October 2021. Processing and analyzing data using the MRA (Microbial Risk Assessment) method to determine the amount of exposure risk received by Semarang KKP employees.Result: The stages in the MRA include the stages of hazard identification, exposure analysis, dose response analysis and risk characterization. The results of the measurement of germ numbers that have been carried out on 58 samples, with the result that most of the air samples have airborne germ numbers above the standard value of 500 CFU/m3per day as determined by the American Conference of Governmental Industrial Hygienist (ACGIH) and Minister of Health Regulation No. 1077 in 2011 which is < 700 CFU/m3.CFUThe highest average number of airborne germs is at Wilker Port of Tegal, which is 1,831 /m3 with the highest exposure dose at Wilker at Adisoemarmo Airport 52.08 CFU/kg/day. And the highest HQ value at Wilker Port of Tegal is 7.78 (HQ > 1).Conclusion: The results of the MRA (Microbial Risk Assessment) analysis can be concluded that the level of risk of exposure to airborne germs at the KKP Semarang is not safe for employees so it is necessary to control the risk of exposure to these airborne germs to employees through the application of appropriate service flows and the use of Personal Protective Equipment for all employees.
Hidden Environmental Impact of COVID-19 Vaccination: Waste Management, Treatment, and Global Warming Potential Iva Yenis Septiariva; Ariyanti Sarwono; I Wayan Koko Suryawan
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.137-143

Abstract

Latar belakang: Indonesia, negara terpadat keempat di dunia, muncul sebagai episentrum Covid-19 di Asia pada pertengahan tahun 2021. Lonjakan kasus COVID19 mendorong negara untuk menargetkan 1 juta vaksinasi Covid-19 per hari.Metode: Penelitian ini menggunakan data kualitatif dari tinjauan pustaka sebelumnya kemudian diolah menggunakan perhitungan yang sesuai dengan metode pengelolaan limbah vaksin.Hasil: Meskipun peluncuran vaksinasi besar-besaran, dampaknya terhadap lingkungan masih dipertanyakan. Tidak hanya pembuangan limbah medis yang tidak tepat tetap menjadi tantangan sejak wabah pandemi pada tahun 2020, tetapi vaksinasi memperburuk keadaan. Selain limbah padat, konsumsi listrik dan emisi polutan dari zat pendingin mungkin berkontribusi terhadap jejak karbon yang tinggi.Simpulan: Makalah ini menyoroti pentingnya pengelolaan limbah selama Covid-19 dan konsekuensi tak terduga pada penyimpanan dan penanganan vaksin untuk pengambilan keputusan peluncuran vaksinasi lebih lanjut. ABSTRACT Background: Indonesia, the world’s fourth most populous country, emerged as Asia's Covid-19 epicenters in the mid of 2021. The surge in COVID19 cases drives the nation to aim for 1 million Covid-19 vaccinations per day. Method: This study uses qualitatively and quantitatively data from previous literature reviews and then processed using calculations that are in accordance with the vaccine waste management method.Result: Despite massive vaccination rollout, the impact on the environment is still in question. Not only has improper medical waste disposal remained a challenge since the pandemic breakout in 2020, but the vaccination worsened the circumstances. In addition to solid waste, the electricity consumption and pollutant emissions of the refrigerants might contribute to a high carbon footprint. Conclusion: This paper highlights the importance of waste management during Covid-19 and unforeseen consequences on vaccine storage and handling for decision making of further vaccination rollouts.
Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Dalam Rumah dan Perilaku Kesehatan dengan Kejadian TB Paru di Purwokerto Selatan Banyumas Nuraini Nuraini; Suhartono Suhartono; Mursid Raharjo
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.210-218

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis adalah penyakit yang ditularkan oleh bakteri Mycrobacterium tuberculosis. Berdasarkan laporan, penyakit tuberkulosis masuk dalam sepuluh penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia yaitu sebesar 1,3 juta. Berdasarkan data, kasus tuberkulosis di Indonesia kecenderungan mengalami penurunan pada tahun 2020. Meskipun demikian tuberkulosis masih menjadi permasalahan kesehatan di beberapa daerah termasuk di Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa hubungan faktor lingkungan fisik dalam rumah dan perilaku kesehatan dengan kejadian tuberkulosis paru di Purwokerto Selatan Banyumas.Metode: Penelitian ini adalah observasi analitik dengan desain Case Control study yaitu menganalisa dan melakukan perbandingan adanya pengaruh antara kasus dan kontrol yang dilihat dari faktor risikonya  Penelitian dilakukan di Purwokerto Selatan pada bulan Nopember – Desember tahun 2021. Populasi penelitian ini adalah semua penderita tuberkulosis tahun 2020. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling  yaitu  penderita TB paru dengan usia ≥ 15 sebagai sampel dengan  perbandingan kasus dan kontrol yang sama yaitu 1/1 dan total sebanyak 74 sampel. Pengumpulan data melalui pengukuran, wawancara dan pengamatan. Analisa data dilakukan secara bivariate (chi-square)  dan multivariat  (regresi logistic).Hasil: Analisis penelitian menghasilkan bahwa suhu, kelembaban, pencahayaan, luas ventilasi, kepadatan hunian, pengetahuan, sikap, dan tindakan mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian tuberkulosis paru karena  nilai p value < 0.05. Adapun variabel paling dominan adalah ventilasi, suhu dan tindakan.Simpulan: Variabel yang mempunyai pengaruh besar terhadap kejadian tuberkulosis paru di Purwokerto Selatan adalah ventilasi. ABSTRACT Title: Relationship of Physical Environmental Factors in the Home and Health Behaviot With The Incidence of Pulmonary TB South Purwokerto Banyumas Background: tuberculosis is a disease transmitted by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Based on repots, tuberculosis is included in the ten highest causes of death in the world, namely 1.3 million. Based on the data, tuberculosis cases in Indonesia tend to decrease in 2020. However, tuberculosis is still a helath problem in several areas, including in Banyumas Regency. The purpose of this study was to analyze the relationship between physical environmental factors in the home and healt behavior with the incidence of pulmonary tuberculosis in Purwokerto Selatan Banyumas.Method: This research is an analytic observation with a Case Control Study  design, which analyzes and compares the influence between cases and controls in terms of risk factors. The study was conducted in Purwokero Selatan in November – Desember 2021. The population of this study were all tuberculosis patients in 2020. Sampling was carried out using purposive sampling technique, namely pulmonary TB patients aged 15 as samples with the sama ratio of cases and controls, namely 1/1 and a total of 74 samples. Collecting data through measurements, interview and observations. Data analysis was performed by bivariate (chi-square) and multivariate (logistical regression).Result: The research analysis showed that temperature, humidity, lighting, ventilation area, occupancy density, knowledge, attitudes, and actions had a significant relationship with the incidence of pulmonary tuberculosis because the p value <0.05. The most dominant variables are ventilation, temperature and action.Conclusion: The variable that has a major influence on the incidence of pulmonary tuberculosis in Purwokerto Selatan is ventilation. 
Pengaruh Variasi Warna Fly Trap Sebagai Kontrol Kepadatan Lalat di Puron, Bantul Jihan Nur Rahayuningsih; Surahma Asti Mulasari
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.188-193

Abstract

Latar belakang: Tempat Pembuatan Sampah (TPS) merupakan sumber penularan penyakit berbasis lingkungan. Vektor penyakit yang banyak ditemukan di TPS adalah lalat. Lalat perlu dikendalian agar mengurangi resiko penularan penyakit. Fly trap merupakan alat pengendalian populasi lalat yang ramah lingkungan karena tidak mempergunakan bahan-bahan berbahaya yang dapat merusak lingkungan. Warna pada fly trap dapat menarik lalat untuk mendekat dan pada akhirnya terperangkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi warna pada fly trap terhadap jumlah lalat yang terperangkap di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Puron, Bantul.Metode: Variasi warna fly trap yang digunakan adalah warna ungu, warna kuning, dan warna hijau. Titik sampling diambil pada 3 titik dengan radius ± 1 meter dari tumpukan sampah di TPS Puron Bantul. Analisis data mengunakan One Way Anova, dilanjutkan dengan analisis Least Significant Different (LSD) untuk mengetahui warna paling efektif untuk memerangkap lalat.Hasil: Rata-rata lalat yang terperangkap pada fly trap ungu sebanyak 33.7 ekor, fly trap kuning 82 ekor, dan fly trap  hijau 59,7 ekor. Hasil uji one way anova menunjukan 0.001 (0.001 < 0.05) menunjukkan ada perbedaan signifikan lalat yang terperangkap pada fly trap warna ungu, kuning dan hijau. Hasil LSD dengan nilai p=0.003 (0.003 < 0.05) menunjukkan ada perbedaan signifikan antara rata-rata jumlah lalat yang terperangkap pada fly trap kuning dan fly trap ungu,.  Simpulan: Variasi warna fly trap memiliki peran dalam meningkatkan efektivitas fly trap sebagai perangkap lalat. Warna ungu merupakan warna yang tidak disenangi oleh lalat. Sedangkan warna kuning merupakan warna paling disenangi oleh lalat. ABSTRACTTitle: Effect of Color Variation on Fly Trap as Control of Flies Density at Puron, Bantul.Background : The Waste Disposal Site (TPS) is a source of environmental-based disease transmission. The most common disease vectors found in TPS are flies. Flies need to be controlled in order to reduce the risk of disease transmission. Fly trap is a fly population control tool that is environmentally friendly because it does not use hazardous materials that can damage the environment. The color on the fly trap can attract flies to come closer and eventually get trapped. The purpose of this study was to determine the effect of color variations on the fly trap on the number of flies trapped in the Puron Disposal Site (TPS), Bantul.Method: The fly trap color variations used are purple, yellow, and green. Sampling points were taken at 3 points with a radius of ± 1 meter from the pile of garbage at TPS Puron Bantul. Data analysis using One Way Anova, followed by Least Significant Different (LSD) analysis to determine the most effective color for trapping flies.Results: The average number of flies trapped in the purple fly trap was 33.7, the yellow fly trap was 82, and the green fly trap was 59.7. The results of the one way ANOVA test showed p value = 0.001 (0.001 < 0.05) indicating there was a significant difference in flies trapped in purple, yellow and green fly traps. The LSD results with p value = 0.003 (0.003 < 0.05) showed that there was a significant difference between the average number of flies trapped in the yellow fly trap and the purple fly trap.Conclusion: The color variation of the fly trap has a role in increasing the effectiveness of the fly trap. Purple is a color that flies don't like. While yellow is the color most favored by flies. 
Knowledge, Attitudes and Practices of Hygiene and Sanitation Implementation on Food Handlers Fea Firdani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.131-136

Abstract

Latar belakang: Makanan yang dikonsumsi selain sehat, bersih dan bergizi juga harus aman. Penjamah makanan memiliki peran penting dalam memastikan keamanan makanan untuk mencegah terjadinya keracunan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) tentang higiene dan sanitasi makanan pada penjamah makanan yang bekerja di kantin Universitas Andalas, Padang, Indonesia.Metode: Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan cross sectional study. Pengumpulan data pada tahun 2020 melibatkan 52 penjamah makanan. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square CI 95%(α=0,05).Hasil: Hasil penelitian menunjukan 65,4% penjamah memiliki pengetahuan baik, 53,8% memiliki sikap baik dan 52% memiliki praktik baik tentang higiene dan sanitasi makanan. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (p= 0,003), pelatihan higiene dan sanitasi makanan (p=0,05), pengetahuan (p=0,005), dan sikap (p=0,006) dengan praktik higiene sanitasi makanan.Simpulan: Penjamah makanan lebih banyak yang memiliki pengetahuan, sikap dan praktik yang baik, namun beberapa aspek tindakan personal hygiene seperti penggunaan masker, sarung tangan dan celemek pada saat pengolahan dan penyajian makanan perlu ditingkatkan. ABSTRACT Background: The food consumed in addition to being healthy, clean and nutritious must also be safeFood handlers are crucial in guaranteeing food safety and preventing food illness. The purpose of this study was to compare food handlers' knowledge, attitude, and behaviors (KAP) on food hygiene and sanitation at Andalas University in Padang, Indonesia. Method: This study's design was quantitative, with a cross-sectional approach. Data were collected in 2020 involving 52 food handlers was assessed using a questionnaire. . The data were examined in univariate and bivariate mode using the chi square test with a 95 percent confidence interval (=0,05).Result: 65,4 percent of food handlers have adequate knowledge, 53,8 percent have a positive attitude, and 52 percent adopt appropriate food hygiene and sanitation methods. There is a significant relationship between education level (p=0,003), food hygiene and sanitation training (p=0,05), knowledge (p=0.005), and attitude (p=0,006) and food hygiene and sanitation behaviors.Conclusion: Even though the results show that there are more food handlers who have good KAP levels, some aspects on personal hygiene measures like use of masks, gloves and aprons during food processing and serving need to be improved.
Hubungan Antara Kesehatan Lingkungan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Puskesmas Kalasan Kabupaten Sleman Dewi Mustika Khoirun Nisa; Tri Wahyuni Sukesi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.219-224

Abstract

Latar Belakang: Kekurangan nutrisi selama seribu hari pertama kelahiran dapat menyebabkan terjadinya stunting. Kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan fisik terganggu, penurunan kognitif, motorik dan performa kerja anak menurun. Sanitasi lingkungan yang buruk merupakan faktor tidak langsung yang dapat meningkatkan kemungkinan stunting. Kondisi lingkungan yang tidak sehat sebagai pemicu penyakit yang akhirnya dapat menurunkan status gizi balita. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara kesehatan lingkungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Kalasan.Metode: Jenis rancangan penelitian desain observasional analitik dengan desain case control. Perbandingan yang digunakan adalah 1:1. Populasi penelitian adalah ibu dengan balita usia 12-59 bulan di Puskesmas Kalasan. Total sampling digunakan untuk mengambil sampel kasus. Sampel kontrol diambil dengan menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner dan data dianilisis menggunakan uji chi square.Hasil: Hasil menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara sumber air bersih (p value=1,000; OR=1,000 (CI 0,56-17,41), kualitas fisik air bersih (p value=1,000; OR=0,47 (CI 0,04-5,72), kepemilikan jamban (p value=1,000; OR=1,31 (CI 0,31-5,53), dan kebiasaan cuci tangan (p value=1,000; OR=1,000 (CI 0,20-4,88) dengan kejadian stunting.Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara kesehatan lingkungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Kalasan. ABSTRACT Title: Relationship Between Environmental Health And Stunting in The Kalasan Health Center, Sleman Regency.Background: Lack of nutrition during the first thousand days of birth can cause stunting. This condition can affect impaired physical development, decreased cognitive, motor and work performance of children. Poor environmental sanitation is one of the indirect factors that causes stunting. Unhealthy environmental conditions as a trigger for diseases that can ultimately reduce the nutritional status of toddlers. Aimed of this study was to determine the relationship between environmental health and the incidence of stunting at the Kalasan Health Center.Method: Case control design is used in this study. The comparison used is 1:1. The study population was mothers with toddlers aged 12-59 months at the Kalasan Health Center. Total sampling is used to take case samples. Control samples were taken using simple random sampling. The research instrument was a questionnaire and the data were analyzed using the chi square test..Result: The results showed that there was no significant relationship between clean water sources (p value=1,000; OR=1,000 (95% CI 0,56-17,41), physical quality of clean water (p value=1,000; OR=0,47 (95% CI 0,04-5,72), latrine ownership (p value=1,000; OR=1,31 (95% CI 0,31-5,53), and hand washing habits (p value=1,000; OR=1,000 (95% CI 0,20-4,88) with the incidence of stunting.Conclusion: There is no  direct relationship between environmental health and stunting in the Kalasan Public Health Center Sleman Regency.
Hubungan Pengetahuan Keamanan Pangan dengan Higiene Penjual dan Kontaminasi Salmonella spp Pada Lalapan Mentah di Kecamatan Patrang Adilah Julinar Irianti; Diana Chusna Mufida; Muhammad Ali Shodikin; Yudha Nurdian; Bagus Hermansyah; Angga Mardro Raharjo
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.180-187

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan data Wilayah Kerja Puskesmas Patrang didapatkan sebanyak 2964 kasus diare pada tahun 2020 di Kabupaten Jember. Diare dapat terjadi akibat infeksi bakteri Salmonella spp. yang menular secara oral fecal. Bakteri Salmonella spp seringkali mencemari bahan pangan terutama sayuran. Sementara itu, masyarakat Indonesia sering mengonsumsi sayuran mentah yang disebut dengan lalapan mentah. Kontaminasi bakteri pada lalapan mentah dapat disebabkan oleh kondisi higiene penjual yang kurang baik yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengetahuan keamanan pangan penjual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan keamanan pangan dengan higiene penjual dan kontaminan Salmonella spp pada lalapan mentah di Kecamatan Patrang.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional, dan data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Sampel ditentukan dengan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 30 penjual.Hasil: Hasil penelitian menemukan bahwa 83,3% penjual memiliki pengetahuan keamanan pangan yang baik, 46,7% penjual memiliki higiene personal yang cukup, dan 80% lalapan mentah terkontaminasi Salmonella spp. Pada uji analisis Spearman Rank tidak didapatkan hasil yang signifikan antara pengetahuan keamanan pangan dengan higiene penjual (0,721>0,05) dan tidak ada hasil yang signifikan antara pengetahuan keamanan pangan dengan Salmonella spp (0,235>0,05).Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan keamanan pangan dengan higiene penjual dan Salmonella spp pada lalapan mentah di Kecamatan Patrang. ABSTRACT Title: Relation of Food Safety Knowledge, Seller Hygiene, and Salmonella spp on Raw Lalapan in Patrang DistrictBackground: Based on data from the Patrang Health Center Work Area, there were 2964 cases of diarrhea in 2020 in Jember Regency. Diarrhea can occur due to infection with Salmonella spp. which is transmitted oral fecal. Salmonella spp can contaminate food especially vegetables. Meanwhile, Indonesian people often consume vegetables salad called raw lalapan. Raw lalapan contamination can caused by seller poor hygiene that influenced by several factors, such as their food safety knowledge. This study aims to determine the relation of food safety knowledge with seller hygiene and Salmonella spp contaminants on raw lalapan in Patrang District.Method: This study used an analytical observational method with a cross sectional study design, and the data were analyzed using Spearman Rank test. The sample was determined by a simple random sampling technique with a sample of 30 sellers.Result:  The study found that 83.3% seller had good food safety knowledge, 46.7% seller had sufficient personal hygiene, and 80% of raw lalapan  were contaminated with Salmonella spp. In the Spearman Rank analysis test, there were no significant results between food safety knowledge and seller hygiene (0.721>0.05) and no significant results between food safety knowledge and Salmonella spp contaminants (0.235>0 ,05).Conclusion: So, it can be concluded that there was no relation of food safety knowledge with seller hygiene and Salmonella spp contaminants in raw vegetables in Patrang District.
Hubungan Perilaku dan Keluhan Penyakit Kulit pada Pengguna Pemandian Umum Bektiharjo, Tuban, Jawa Timur Diva Alishya Shafwah; Retno Adriyani; Eva Rosdiana Dewi; Corie Indria Prasasti; Shaharuddin Mohd Sham
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.3.245-252

Abstract

Latar belakang: Sarana rekreasi air yang menggunakan air alami atau disebut pemandian umum berpotensi menyebabkan penyakit bagi penggunanya, diantaranya adalah keluhan penyakit kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku pengguna pemandian umum dengan keluhan penyakit kulit setelah berenang di pemandian umum.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan desain cross sectional. Variabel dependen adalah keluhan penyakit kulit, sedangkan variabel independen adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan pengunjung terhadap pencegahan penyakit yang dapat terjadi setelah berenang di pemandian umum. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuisioner secara online dengan kriteria inklusi yang ditetapkan. Penelitian dilakukan terhadap pengguna Pemandian Bektiharjo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Diperoleh 100 responden yang bersedia berpartisipasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pengguna Pemandian Bektiharjo yaitu berjenis kelamin laki-laki (48%), berumur ³17 tahun (82%), dan tingkat pendidikan terakhir tinggi (69%). Keluhan penyakit kulit dialami oleh 86% pengguna, berupa keluhan dengan tingkat ringan. Aspek perilaku yang berhubungan signifikan dengan keluhan penyakit kulit adalah pengetahuan (p=0,002). Pengguna pemandian umum kurang memiliki kebiasaan atau tindakan pencegahan terjadinya penyakit kulit (69%).Simpulan: Pengetahuan mengenai pencegahan terjadinya penyakit kulit di pemandian umum berhubungan dengan keluhan penyakit kulit setelah berenang di Pemandian Bektiharjo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Disarankan agar pengelola pemandian umum memberikan edukasi pada pengunjung dan memonitor kualitas air pemandian secara periodik. ABSTRACT Title: Relationship of Knowledge, Attitudes, and Practices of Swimmers with Skin-related Illnesses in Bektiharjo Recreational Water, Tuban, East Java, IndonesiaBackground: Recreational water illnesses (RWIs) can be caused by chemicals and germs found in the freshwater public bath we swim or play in, such as skin diseases. This study aims to analyze the relationship between the behavior of users and complaints of skin diseases after swimming or playing in freshwater. Method: This research was an observational study with a cross-sectional design. The dependent variables were complaints of skin diseases, while the independent knowledge, attitudes, and visitors' habit are to prevent recreational water illness. Data collection was carried out by online questionnaires with specific inclusion criteria. The subjects were users of the Bektiharjo pools, Tuban Regency, East Java. There were 100 respondents were participated and the data were analyzed by chi-square test.Result: The study found that the users of the Bektiharjo pools were male (48%), aged ³17 years (82%), and had high education (69%). Skin disease complaints are found by 86% of users, mostly at a mild level. The knowledge of skin disease prevention was significantly related to complaints of skin disease (p=0.002). Most users have bad habits in skin disease prevention (69%).Conclusion: Knowledge about the prevention of skin diseases is related to complaints of skin diseases following exposure to Bektiharjo Public Baths, Tuban Regency, East Java. It is recommended that public bath managers provide education to visitors and freshwater quality should be monitored periodically.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue