cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
DINAMIKA POPULASI DAN TINGKAT PEMANFAATAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI PERAIRAN TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR Duranta Diandria Kembaren; Erfind Nurdin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.195 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.4.2013.221-226

Abstract

Penelitian dinamika populasi dan tingkat pemanfaatan udang windu (Penaeus monodon) di perairan Tarakan, Kalimantan Timur dilakukan berdasarkan data frekuensi panjang karapas yang dikumpulkan sejak bulan Januari sampai Nopember 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika populasi udang windu. Pendugaan dinamika populasi udang windu dilakukan dengan menggunakan alat bantu program FiSAT II. Hasil analisa menunjukkan bahwa panjang karapas infinitif (CL∞) udang windu sebesar 84,8 mm dengan laju pertumbuhan (K) sebesar 1,6/tahun, laju kematian total (Z) 4,17/tahun, laju kematian alami (M) 1,85/tahun, dan laju kematian penangkapan 2,32/tahun. Laju ekploitasi (E) sebesar 0,56 menunjukkan bahwa tingkat pengusahaan sudah berada dalam keadaan jenuh (fully exploited) dan cenderung mengarah pada kondisi lebih tangkap (overexploited) sehingga diperlukan pengelolaan perikanan udang yang hati-hati dan bertanggungjawab. Study on population dynamic of tiger shrimp (Penaeusmonodon) in Tarakan waters, East Borneo based on carapace length frequencies data was carried out from January to November 2012. The aim of this research was to identify the population dynamic of tiger shrimp. For estimating dynamic population, data were analysed by using FiSAT II. The growth parameter of tiger shrimp was 1,6/year with carapace asymptotic length (CL∞) of  84,8 mm, total mortality rate (Z), natural mortality rate (M), fishing mortality rate (F) were 4,17/year and 1,85/year, 2,32/year, respectively, while and exploitation rate (E) estimated 0,56. The exploitation rate of tiger shrimp in Tarakan waters was fully exploited and tend to overexploited so that it needed to manage wisely and carefully
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN DAERAH PENANGKAPAN HIU APENDIKS II CITES YANG DIDARATKAN DI NAMOSAIN – NUSA TENGGARA TIMUR Sri Pratiwi Saraswati Dewi; Rodo Lasniroha; Yuniarti K Pumpun; Zainal Abidin; Suko Wardono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2549.144 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.2.2018.149-156

Abstract

Namosain, Kupang – Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu sentra produksi perikanan hiu di Indonesia. Namun informasi terkait komposisi jenis hasil tangkapannya masih terbatas, terutama karena pendataan hasil tangkapan yang masih bersifat umum dan masuk dalam satu kategori yaitu cucut. Selain itu, kondisi hiu saat didaratkan sudah tidak utuh, terpisah bagian sirip, daging, ekor, tulang dan kulitnya sehingga menyulitkan dalam melakukan pengelompokkan dan identifikasinya. Sedangkan aturan konvensi (CITES) mengharuskan melakukan identifikasi ikan hingga tingkat genus atau spesies, oleh karena itu pendataan ikan hiu hingga tingkat spesies sangat diperlukan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis hiu yang tertangkap oleh pancing rawai dan mengetahui daerah penangkapannya, terutama untuk jenis hiu apendiks II CITES. Data diperoleh dari pendataan langsung hasil pendaratan hiu di pantai Namosain periode Juli – September 2017. Hasil kajian menunjukkan bahwa 100% hiu yang didaratkan dalam kondisi tidak utuh, sehingga identifikasi jenis dilakukan berdasarkan bentuk siripnya. Dari total 4.183 individu yang terdata, 21,32% adalah jenis hiu apendiks II CITES yang terdiri dari Carcharhinus falciformis sebanyak 5,90%, Sphyrna mokarran sebanyak 3,04%, S. lewini dan S. zygaena sebanyak 13,49%. Jika dibandingkan dengan data monitoring pendaratan hiu pada tahun 2016, terjadi kenaikan sebesar 12%. Jumlah individu terbanyak adalah Sphyrna lewini dan S. zygaena dengan ukuran sirip yang mendominasi adalah 20up (20-24 cm). Hasil tangkapan hiu apendiks II CITES tertinggi terjadi pada bulan Agustus. Sedangkan daerah penangkapan potensial hiu apendiks II CITES berada pada koordinat 90 – 110 LS dan 1230 – 1280 BT.Namosain, Kupang – East Nusa Tenggara is one of Indonesia’s shark fishing center. However there is only little information regarding shark species, because data of catch composition recorded in one category that is “cucut”. Besides that, condition of sharks that landed has been cut off to some pieces such as fins, meat, caudal, skin, and cartilage, so it’s difficult to identify or classify the species. However, the regulation set up to species level, it is important to have report of catch composition up to the speciel level. This paper aims to describe landed shark species composition, especially those included in appendix II CITES caught by longline in East Nusa Tenggara. Data were obtained by enumerator catch of shark landed on Namosain in July - September 2017. The results show that all of landed shark were not being whole and intact, but in parts. Identification of landed shark was done by observing their fins. From total of 4,183 individu, 21.32% of them are included appendix II CITES consisting of Silky Shark (Carcharhinus falciformis) about 5.90%, Great Hammerhead (Sphyrna mokarran) about 3.04%, and Scalopped Hammerhead (S. lewini) and Smooth Hammerhead (Sphyrna zygaena) about 12.38% with dominan fin size 20up. There is a 13.49% incline from 2016. The highest catch of shark appendix II CITES was occurred in August with the high potential location of fishing is in 90 – 110 South latitude (S) and 1230 – 1280 East latitude (E).
POTENSI KONFLIK DARI INTERAKSI PERIKANAN PUKAT HELA DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DI PERAIRAN ARAFURA Andhika Prima Prasetyo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.559 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.101-108

Abstract

Armada penangkapan dominan yang berkembang di Laut Arafura ialah pukat udang dan pukat ikan. Kedua armada tersebut memiliki kesamaan dalam hal lokasi penangkapan, musim penangkapan dan hasil tangkapan, namun spesifikasi alat tangkap tersebut berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi perikanan pukat hela dan potensi konflik dalam pemanfaatan sumberdaya ikan di Laut Arafura. Metode yang digunakan ialah analisis kualitatif (conflict wheel dan conflict tree) statistik deskriptif menggunakan data perikanan PPN Ambon tahun 2007-2010. Hasil analisis potensi konflik menunjukkan interaksi kedua perikanan tersebut berpeluang menjadi konflik, karena faktor dinamis sulit dikonsolidasikan pada kondisi kebijakan pengelolaan saat ini. Peringkat peluang penerapan penyelesaian masalah dari penelitian sebelumnya berturut-turut, yakni: (1) pemanfaatan hasil tangkapan sampingan; (2) penerbitan izin yang selektif dan ketat; (3) pengelolaan berbasis kelompok (kluster); (4) pemasangan TED dengan disain yang optimal; serta (5) moratorium penangkapan.Dominant fishing fleet that is growing in Arafuru sea is shrimp trawl and midwater trawl. Both fleets have the same fishing ground, fishing seasons and catch, but different in specifications of the gears. This study aims to assess the trawl fishery interactions and potential conflicts in the utilization of fish resources in Arafura Sea. The method used was qualitative analysis (wheel conflict and conflict tree) descriptive statistics using data from Ambon Archipelagic Fishing Port in 2007-2010. The results showed that interaction between both trawl fisheries have opportunity to become conflict, because dynamic factors difficult to be compromise in are current management policy. Furthermore, opportunity level of solution from previous studies: (1) utilization of the catch side, (2) selective and strict licensing, (3) management based groups (clusters), (4) installation TED with an optimal design; and (5) moratorium of fishing licensing respectively.
STATUS PERIKANAN JARING TRAMEL DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN PANTAI SELATAN KEBUMEN Martin L. Linting; Agustinus Anung Widodo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2976.452 KB) | DOI: 10.15578/jppi.8.1.2002.69-73

Abstract

Sejak dilarangnya pengoperasian pukat harimau, salah satu alat tangkap udang yang banyak digunakan nelayan adalah jaring tramel. Dalam rangka mengetahui status perikanan jaring tramel pasca pelarangan trawl dan kontribusinya terhadap perikanan tangkap, telah dilakukan perrelitian di Kebumen-Jawa Tengah pada Nopember 2000 melalui observasi di Pusat Pendaratan lkan (PPl) Argopeni; Ayah; Kebumen dan penangkapan di laut.
OBSERVASI BIOTA PENGHASIL BIOTOKSIN DAN KUALITAS AIR DI PERAIRAN BANJARMASIN Jovita Tri Murtini; Nugroho Aji
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4854.153 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.8.2005.9-17

Abstract

Telah dilakukan observasi biota penghasil biotoksin dan kualitas air di perairan Banjarmasin, pada bulan Juni, Agustus dan Oktober 2003. Contoh diambil dari 9 stasiun, 3 stasiun berjarak 1 mil, 3 stasiun berjarak 2 mil dan 3 stasiun yang lainnya berjarak 3 mil dari pantai, sedangkan jarak antar stasiun adalah 1 mil. Parameter yang diamati meliputi unsur hara dan kualitas air laut, jenis dan kelimpahan plankton serta kandungan saksitoksin pada kerang yang ditangkap nelayan di lokasi.
STUDI BIOLOGI IKAN BELIDA (NOTOP[TERUS CHITALA) DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANGHARI, PROPINSI JAMBI Susilo Adjie; Husnah Husnah; Abdul Karirn Gaffar
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4876.766 KB) | DOI: 10.15578/jppi.5.1.1999.38-43

Abstract

Penelitian biologi ikan belida cii daei'nh alii'an Sungai Batrrnghari, Propinsi Jambi relal-r dilakr.rkan pada bulan Xler sampai dengan bulan November 1996 bertujuan r,rntuk menclapathal infbi'masi tet'Ltaug sifat pelttrnbr-rhan. r'eprodr-rksi, habirat dan kebiasaan makan.
STRUKTUR KOMUNITAS DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON KAITANNYA DENGAN UNSUR HARA (NTTROGEN DAN FOSFOR) DI LOKASI BUDI DAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG, Dl WADUK lr. H. JUANDA, JAWA BARAT Chairulwan Umar; Enan M. Adiwilaga; Endi Setiadi Kartamihardja
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9324.805 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.6.2004.41-54

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2002 di sekitar dan di luar lokasi budi daya ikan dalam keramba jaring apung (KJA) di Waduk lr. H. Juanda Jatiluhur. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton serta mempelajari keterkaitan antara struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton dengan kandungan unsur hara di lokasi KJA dan di luar lokasi KJA.
KARAKTERISTIK TEKNIS ALAT TANGKAP PUKAT CINCIN DI PERAIRAN TELUK APAR, KABUPATEN PASER - KALIMANTAN TIMUR Mahiswara Mahiswara; Tri Wahyu Budiarti; Baihaqi Baihaqi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.01 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.1.2013.1-7

Abstract

Pukat cincin merupakan salah satu alat tangkap yang dioperasikan nelayan di Perairan Teluk Apar, Kalimantan Timur. Pukat cincin Teluk Apar tergolong pukat cincin jaring lingkar dan menggunakan material sederhana dalam konstruksinya. Penelitian pukat cincin bertujuan untuk mengetahui karakteristik secara teknis. Metode deskriptif-observatif digunakan untuk menghimpun data. Analisis data digunakan untuk menentukan nilai rasio antara daya tenggelam dan daya apung. Hasil analisis menunjukkan bahwa, nilai rasio antara daya tenggelam dan daya apung pukat cincin Teluk Apar adalah 1,68. Penggunaan material polyvynil chloride (PVC) dan batu kali, mengurangi efektivitas pukat cincin. Penggunaan material yang tepat (kuningan untuk cincin, timah hitam untuk pemberat), penambahan waktu rendam rumpon dan meningkatkan kemampuan jangkauan daerah penangkapan dapat mengoptimalkan kinerja pukat cincin Teluk Apar. Purse seine is one of the fishing gear that operated in Teluk Apar water, East Kalimantan. Teluk apar purse seine is categorized a ring net and constructed by using simple materials. The aims of study is to determine the technical characteristics of teluk apar purse seine. Descriptive and observation methods are used to gather data. Analysis of the data used to determine the value of the ratio between the sinking force and buoyancy. The result showed that the ratio between the sinking force and buoyancy of teluk apar purse seine is 1,68. The use of polyvynil chloride (PVC) and the stone, reducing the effectiveness of purse seine. The use of appropriate materials (bronze for ring and plumbum for sinker), the addition of FADs soak time and improve the fishing ground coverage can optimize the performance of Teluk Apar purse seine.
PERTUMBUHAN, MORTALITAS, DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) INTRODUKSI DI WADUK WONOGIRI Kunto Purnomo; Endi Setiadi Kartamihardja; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5664.57 KB) | DOI: 10.15578/jppi.9.3.2003.13-20

Abstract

Ikan patin siam (Pangasrus hypophthalmus) merupakan jenis ikan introduksi ekonomis penting yang disukai oleh masyarakat Kota Wonogiri dan sekitarnya. Pada tahun 2002, kontribusi hasil tangkapan ikan patin dam di Waduk Wonogiri berkisar antara 3-9% dari total hasil tangkapan.
UJICOBA MINI LINE HAULER PADA KAPAL PANCING ULUR TUNA YANG DIOPERASIKAN DI SEKITAR RUMPON DI SAMUDERA HINDIA Agustinus Anung Widodo; Wudianto Wudianto; Agus Setiyawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2300.238 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.1.2019.45-54

Abstract

Pancing ulur tuna (dHL) umumnya dioperasikan di sekitar rumpon dengan tali pancing dHL ditarik secara manual saat menangkap ikan tuna. Praktik tersebut berpotensi mengakibatkan kecelakaan kerja bagi nelayan. Penarikan tali pancing dHL secara manual saat pancing dimakan tuna hingga tuna sampai ke dek kapal juga memakan waktu lama. Dalam rangka mengurangi potensi kecelakaan kerja nelayan dHL dan meningkatkan kecepatan tarik tali dHL saat mendapat tuna, maka telah dilakukan ujicoba mini line hauler pada armada dHL. Ujicoba dilakukan pada armada dHL yang berbasis di PPN Prigi tahun 2016. Ujicoba dilakukan selama 5 trip  penangkapan dHL dengan jumlah ulangan percobaan 112 kali penarikan tali dHL secara manual dan 114 kali penarikan tali dHL dengan mini line hauler. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa penarikan tali dHL secara manual telah mengakibatkan isu kecelakaan kerja berupa luka kulit tangan ABK sebanyak 4 kasus dan isu kesehatan kerja berupa sakit pinggang ABK sebanyak 2 kasus. Sedangkan penggunaan mini line hauler telah terbukti tidak mengurangi isu kesehatan dan keselamatan kerja ABK ketika menari tali dHL. Penggunaan mini line hauler juga meningkatkan kecepatan penarikan tali dHL sebesar 1,5 kali dibanding penarikan tali dHL secara manual. Hasil uji coba juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan jumlah hasil tangkapan tuna antara dHL yang tidak menggunakan mini line hauler dan dHL yang menggunakan mini line hauler.Tuna hand line is widely used by fishers for catching yellowfin tuna (Thunnus albacares) and bigeye tuna (T.obesus) around fish aggregating devices (FADs). The tuna hand line with targeting large-size of tuna is called deep hand line (dHL). The existing dHL fleets are generally not equipped with auxiliary mechine such as line hauler for hauling line of dHL,  the line of dHL is hauled manually when striked / fished tuna. Hauling the line of dHL manually potential leads to work accident and health issues of fishers due to over load of work. Hauling of dHL's line manually also cause  takes a long time from moment of tuna hooked until the tuna reach on deck of boat. To reducing potential work accident and increasing hauling speed of the line, a research  has carried out throught a trial of using mini line hauler in dHL boat in 2016. The trial conducted in dHL boat based at Prigi Fishing Port-East Jawa. From total of 5 dHL fishing trips, amonut of 112 replication of line hauling of dHL manually and 144 replication of line hauling of dHL using mini line hauler have carried out. The result show that there has been a work accident of fishers such as hands skin injury of 4 fishers and health issues such as low back pain of 2 fishers. In other hand, using mini line hauler in the trial has obviated the fishers work accidents and health issues. Using mini line hauler has also been proven to increase speed of line hauling of dHL. Average of  line speed dHL uses mini line hauler 12,16 m/minute and average of line speed dHL is hauled manually 7,91 m/minute. Using mini line hauler has not affected to the amount of  tuna catch of  dHL.

Page 58 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue