cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SELAR BENTONG (Selar crumenophthalmus Bloch, 1793) DI PERAIRAN NATUNA, LAUT CINA SELATAN Moh Fauzi; Isdradjad Setyobudiandi; Ali Suman
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.949 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.2.2018.105-117

Abstract

Ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang cukup dominan tertangkap di perairan Natuna, Laut Cina Selatan. Pemanfaatan yang semakin intensif oleh perikanan pukat cincin dikhawatirkan akan mengakibatkan penurunan populasinya. Pengetahuan tentang biologi ikan selar bentong penting sebagai dasar pertimbangan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakter biologi reproduksi ikan selar bentong di perairan Natuna, meliputi nisbah kelamin, ukuran rata-rata pertama kali matang gonad, ukuran rata-rata tertangkap (L50%), tingkat kematangan gonad dan dugaaan musim pemijahan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan ikan contoh hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan di PPN Pemangkat Kalimantan Barat selama 5 tahun (2012-2016). Hasil penelitian menunjukkan Nisbah kelamin ikan jantan dan betina adalah 1:1.05. Sebagian besar ikan dalam stadium pematangan (ripening, TKG 3). Ikan bentong mengalami dua musim pemijahan yakni pada awalmusim timur (Juni-Juli) dan awal musim barat (Desember-Januari). Ukuran rata-rata tertangkap (L50%) sebesar 18 cm FL lebih kecil dari nilai pertama kali matang gonad (Lm) yakni 20,2 cm FL. Nilai Lc yang lebih kecil daripada nilai Lm mengindikasikan terjadinya growth overfishing.Bigeye scad (Selar crumenophthalmus) dominantly caught by fishers in the Natuna watersof South China Sea. The intensive exploitation rate of this species by purse seiner led to population decrease. The understanding on biological aspect of bigeye scad is important as a consideration on arranging a proper management. This study aims to analyze biological reproduction of bigeye scad in the Natuna waters, such as sex ratio, length at first maturity, length at first capture, gonad maturity stage and the estimation of spawning season. This research is conducted by sampling the fishes that caught by purse seine fleets which is landed in AFP Pemangkat, West Borneo for 5 years (2012 to 2016). The result showed that sex ratio of males and females were balance by 1:1,05. It dominated by fish that are ripening stage. Spawning season happens twice per year which are in the beginning of east season on June to July and at the beginning of west season on December to January. Length at first capture (L50%) is 18 cmFL lower than length at first maturity (Lm = 20,2 cmFL) this condition indicated growth overfishing occurred in this fishery.
PARAMETER POPULASI UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis De Haan, 1984) DI SELAT BANGKA, SUMATERA SELATAN Pratiwi Lestari; Tirtadanu Tirtadanu; Duranta D Kembaren; Wedjatmiko Wedjatmiko
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.334 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.2.2018.119-127

Abstract

Parameter populasi udang dogol (Metapenaeus ensis) di Selat Bangka merupakan informasi penting sebagai bahan masukan dalam opsi kebijakan pengelolaan perikanan udang yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji parameter populasi dan tingkat pemanfaatan udang dogol di perairan Selat Bangka berdasarkan pada data biologi (struktur ukuran, jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad). Pengumpulan data biologi dilakukan selama bulan Februari – November 2014 di Pusat Pendaratan Ikan Banyuasin. Pendugaan parameter populasi dilakukan dengan bantuan program FiSAT II, hasil penelitian menunjukkan rata-rata udang dogol yang tertangkap belum melakukan pemijahan (Lc<Lm). Puncak pemijahan udang diduga terjadi pada bulan Juli. Panjang karapas asimtotik (CL∞) udang dogol jantan sebesar 45,0 mm dan betina sebesar 49,5 mm. Laju pertumbuhan (K) udang dogol jantan sebesar 1,40 per tahun dan betina sebesar 1,45 per tahun. Laju mortalitas total (Z) udang dogol jantan sebesar 4,56 per tahun, laju kematian alamiahnya (M) sebesar 2,02 per tahun dan laju kematian karena penangkapan (F) sebesar 2,54 per tahun. Laju mortalitas total (Z) udang dogol betina sebesar 3,98 per tahun, laju kematian alamiahnya (M) sebesar 2,01 per tahun dan laju kematian karena penangkapan (F) sebesar 1,97 per tahun. Laju eksploitasi udang dogol (E) di Selat Bangka yaitu 0,56 pada jantan dan 0,49 pada betina. Hal tersebut menunjukkan udang dogol jantan di Selat Bangka telah dimanfaatkan secara penuh (fully exploited) dan perlu kewaspadaan dalam pemanfaatannya. Pengaturan mata jaring, jumlah armada dan pengaturan musim penangkapan perlu dilakukan agar pemanfaatan perikanan udang dapat berkelanjutan.The estimation of the parameter population of greasyback shrimp (Metapenaeus ensis) in Bangka Strait was an important information as a fisheries management policy for sustainable shrimp fisheries. The aims of this research was to assess population parameters and exploitation rate of greasyback shrimp in Bangka Strait based on biological data (size distribution, sex ratio and gonad maturity). Biological data collected from February – November 2014 at landing base in Banyuasin. The Method to estimate population dynamic was analyzed by using FiSAT II, the results showed that the average of greasyback shrimp that was captured had not spawned yet (Lc<Lm). The spawning season occurred in July. Carapace asymptotic length (CL∞) of male shrimp was 45,0 mm and the female was 49,5 mm. The growth parameter of greasyback shrimp was 1,40/year for male and 1,45/year for female. Total mortality rate (Z), natural mortality rate (M) and fishing mortality rate (F) for male shrimp were 4,82/year, 2,06/year and 2,76/year. Total mortality rate (Z), natural mortality rate (M) and fishing mortality rate (F) for female shrimp were 3,98/year, 2,01/year and 1,97/year. Exploitation rate of greasyback shrimp in Bangka Strait were 0,57 for male and 0,49 for female. The exploitation of male greasyback shrimp was fully exploited so that it needed careful regulation. Therefore, the regulation about mesh size, amount of fishing fleet, periodicity of fishing were needed for sustainable shrimp fisheries.
ANALISIS DEGRADASI LINGKUNGAN PERAIRAN DAN KETERKAITANNYA DENGAN KEMATIAN MASSAL IKAN BUDIDAYA DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT Adriani Sri Nastiti; Sri Turni Hartati; Budi Nugraha
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.093 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.2.2018.83-93

Abstract

Waduk Cirata dimanfaatkan untuk budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung, dimana jumlah keramba saat ini sudah melebihi daya dukung yang menyebabkan kelebihan hara (eutrofikasi). Di Waduk Cirata setiap tahun terjadi kematian ikan hasil budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah kematian masal ikan di Waduk Cirata. Pengumpulan data dilakukan pada saat terjadi kematian massal ikan akhir September 2017, di Zona I (Sangkalin, Cipicung-Bandung Barat), Zona II (Cimanggu-Purwakarta), dan Zona III (Jatinengang, Patokbeusi-Cianjur) menggunakan metode observasi cepat in situ, wawancara dan studi pustaka. Parameter yang diamati meliputi: Suhu air / udara, Kedalaman perairan, Warna air, Kecerahan, Kekeruhan, TDS (0,046-0,172 mg/l), TSS (total suspended solid), DHL (0,1-0,3 mS/cm), Oksigen terlarut, ORP (-49 sampai 244 mv), bebas CO2, Alkalinitas, pH, Nitrat, Nitrit, Amonium, Fosfat, Sulfat, BOT (5,06-17,06 mg/l), dan Kronologi kematian massal ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kadar Oksigen terlarut dibawah 4 mg/l dan ORP nilainya negatif sehingga perairan tidak mampu menguraikan akumulasi limbah sebesar 390.848 ton/tahun. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa perairan mengalami degradasi, Degradasi lingkungan perairan dipicu oleh fenomena umbalan menyebabkan kematian massal budidaya ikan sekitar 65 ton (Zona III), 25 ton (Zona II), dan 20 ton (Zona I).The Cirata reservoir is used for fish culture by floating net cage system that currently has been exceeded to its carrying capacity that caused an over nutrient (eutrophication). Every year, mass mortality event occurred in Cirata Reservoir. This research aims to identify the causal of mass mortality event in the Cirata reservoir. This research conducted at the end of September 2017 in several locations: Zone II (Cimanggu-Purwakarta), Zone I (Sangkalin, Cipicung-West Bandung), and Zone III (Jatinengang, Patokbeusi-Cianjur). A rapid in situ observation, interview and literature review. Parameters that measured include Water/air temperature, Depth, Watercolour, Brightness, Turbidity, TDS (0,046-0,172 mg/l), TSS (total suspended solid), DHL (0,1-0,3 mS/cm), Dissolved Oxygen, ORP ((-49 to 244 mv), CO2, Alkalinity, pH, Nitrate, Nitrite, Ammonium, Phosphate, Sulphate, BOT (5,06-17,06 mg/l), and the chronology of mass mortality. The results showed that the dissolved oxygen was less than 4 mg/l and negative ORP value that indicated incapability of environment to decompose the feed accumulation waste (about 390.848 tons/year). The degradation of waters environment triggered by upwelling phenomenon could cause mass mortality event on fish culture in three zones about 65 tons (Zone III), 25 tons (Zone II) and 20 tons (Zone I), respectively.
ASPEK REPRODUKSI IKAN LOUHAN HIBRID SEBAGAI IKAN ASING INVASIF DI DANAU MATANO, SULAWESI SELATAN Dimas Angga Hedianto; Agus Arifin Sentosa; Hendra Satria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.755 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.2.2018.69-82

Abstract

Penelitian mengenai aspek reproduksi ikan asing invasif di Danau Matano dibutuhkan dalam upaya pengendalian dan pemberantasan populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi ikan louhan yang diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk pengendalian ikan asing invasif di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Sampel ikan diperoleh dengan menggunakan jaring insang percobaan dengan berbagai ukuran mata jaring pada Mei dan Oktober 2015 serta pada Februari, Juli, dan September 2016 di 14 stasiun penelitian. Penentuan jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad (TKG) berdasarkan ciri reproduksi primernya. Fekunditas total dihitung menggunakan metode gravimetrik. Ikan louhan yang tertangkap sebanyak 1.118 ekor terdiri atas 552 ekor ikan jantan, 512 ekor ikan betina, dan 54 ekor tidak dapat ditentukan jenis kelaminnya. Nisbah kelamin secara temporal berada pada kondisi seimbang dengan perbandingan total sebesar 1,1:1. Ikan louhan jantan dan betina mencapai rata-rata ukuran pertama kali matang gonad (Lm50) masing-masing pada panjang total 12,6 cm dan 10,2 cm. Ikan jantan berukuran lebih besar daripada betina pada TKG yang sama. Diameter telur berkisar antara 0,25-2,35 mm (rerata 1,31±0,37 mm) dengan fekunditas berkisar antara 104-3.375 butir. Ikan louhan termasuk tipe pemijah bertahap dan mampu memijah sepanjang tahun di berbagai tipe karakteristik habitat. Puncak pemijahan terjadi pada musim penghujan dan kemarau. Substrat dasar berupa pasir berbatu di kedalaman 15 meter merupakan daerah utama pemijahan ikan louhan di Danau Matano. Rekomendasi pengendalian ikan louhan di Danau Matano melalui penangkapan perlu dilakukan sebelum mencapai ukuran Lm50, di seluruh daerah litoral danau (<10 meter) pada musim kemarau (April-Juni) dan penghujan (September-November).The information on fish reproduction aspects of invasive alien species in Matano Lake is required to setup measure for controlling and eradicating their population. This research aims to determine the reproductive aspects of flowerhorn cichlid that could used as a reference for controlling the invasive alien species in the Matano Lake, South Sulawesi. Sample was collected by using experimental gill-net with various mesh sizes in 14 research stations in several periods (May 2015, October 2015, February 2016, July 2016, and September 2016). Sex determination and gonadal stages identified based on the characteristics of primary reproduction. Total fecundity is calculated using gravimetric method. The total individual flowerhorn cichlid was 1,118 fishes that consists of 552 males, 512 females, and 54 unidentified. The temporary sex ratio indicated balance conditions by ratio 1.1:1. Length at first maturity (Lm50) of male and female of flowerhorn cichlid reached at 12.6 cmTL and 10.2 cmTL, respectively. Males are larger than females at the same gonad maturity stage. The eggs diameter ranged from 0.25 to 2.35 mm (average of 1.31 ± 0.37 mm) with fecundity ranged from 104-3,375 egg which indicated that flowerhorn cichlid was a partial spawner. Flowerhorn cichlid spawned throughout the year (multi spawning) in various types of habitat characteristics with spawning peaks in the rainy and dry seasons. Sandy rock in the depth of 15 meters is the main of spawning area of flowerhorn cichlid in the Matano Lake. The recommendation for controlling flowerhorn cichlid in Matano Lake by fishing, need to be done before its size reaching the Lm50, across the littoral area of the lake (<10 meters) in the dry (April-June) and rainy seasons (September-November).
DAMPAK INDIAN OCEAN DIPOLENEGATIF(IOD-)TERHADAP ASPEK REPRODUKSI IKANDI SUNGAI KAMPAR Eko Prianto; Rudi Masuswo Purwoko; Husnah Husnah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.76 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.2.2018.%p

Abstract

Indian Ocean Dipole negatif (IOD-) terjadi pada bulan Mei-November 2016 yang menyebabkan curah hujan diwilayah pulau Sumatera dan Jawa Barat tetap tinggi. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya banjir yang dapat mempengaruhi aktifitas pemijahan ikan-ikan di Sungai Kampar.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dariIndian Ocean Dipole negatif (IOD-) terhadap aspek reproduksiikandi Sungai Kampar.Penelitian ini dilakukan di Sungai Kampar dari bulan April-Oktober 2016 dengan lokasi pengambilan sampel di Kecamatan Langgam dan Teratak Buluh.Sampel ikan diambil melalui pedagang pengumpul setiap bulan. Jenis ikan yang diamati yaitu ikan tambakan (Helostoma teminckii), ikan baung (Hemibagrus nemurus) dan selais (Ompok sp). Ikan dari pedagang pengumpul dipisahkan berdasarkan jenis dan dihitung jumlah individu serta dilakukan pengukuran panjang-bobot.Ikan-ikan tersebut selanjutnya dilakukan pembedahan untuk diamati gonadnya (jantan dan betina) sehingga diketahui tingkat kematangan gonad.Data yang diamatiyaitudipole mode index, curah hujan, pola pertumbuhan, tingkat kematangan gonad dan faktor kondisi. Hasil analisa data diperoleh nilai IOD- pada bulan Mei hingga Oktober 2016 berada pada kategori kuat negative (> 0.5), sementara bulan November 2016 nilai IOD sudah turun menjadi kategori normal. Curah hujan tahun 2016 sebesar 2.752 mm lebih tinggi dibanding dengan tahun 2014 (1.979 mm) dan 2015 (2.557 mm).Pola pertumbuhan ikan-ikan selama IOD- berlangsung cenderung alometrik positif.Ikan-ikan yang matang gonad baik jantan dan betina ditemukan hampir setiap waktu pengamatan dengan proporsi yang berbeda-beda.Nilai rata-rata faktor kondisi ketiga jenis ikan berdasarkan waktu pengamatan tidak sama, ini menunjukkan ketiga jenis ikan memijah pada saat terjadinya IOD-.
REPRODUKSI DAN MUSIM PEMIJAHAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis) BERDASARKAN MONSUN DAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA-NUSA TENGGARA Khairul Amri; Fajar Alfina Nora; Dwi Ernaningsih; Thomas Hidayat
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.084 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.2.2018.155-167

Abstract

Samudera Hindia di sebelah Selatan Jawa merupakan salah satu habitat penting bagi ikan pelagis jenis tongkol komo (Euthynnus affinis). Keberadaan stok ikan di perairan ini sangat dipengaruhi oleh proses oseanografi yang berlangsung di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek reproduksi dan dugaan musim pemijahan tongkol komo di selatan Jawa berdasarkan monsun dan suhu permukaan laut (SPL). Sebanyak 152 ekor contoh ikan dan gonad diperoleh dari 3 lokasi pendaratan ikan yaitu Palabuhanratu, Sendang Biru dan Tanjung Luar pada tahun 2013. Analisa sampel gonad dilakukan tahun 2014 di Laboratorium Biologi, Balai Riset Perikanan Laut. Data Suhu Permukaan Laut (SPL) diunduh dari Citra Satelit Aqua MODIS level-3, situs resmi NASA tahun 2012-2013. Hubungan antar parameter dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan musim pemijahan berlangsung antara Mei-Oktober bersamaan dengan musim timur sampai dengan musim peralihan II, dimana durasi di perairan selatan Jawa lebih panjang dibandingkan dengan perairan lainnya. Fase matang gonad (Tingkat Kematangan Gonad IV) betina sebanyak 55% dan gonad jantan sebanyak 40% diperoleh pada bulan Juli. Berikutnya, pada bulan Oktober sekitar 11% sampel gonad ikan betina sudah memijah (spent). Fekunditas tertinggi dan diameter telur terbesar sebagai indikator pemijahan, ditemukan pada Musim Timur dan Musim Peralihan II, bersamaan dengan terjadinya upwelling di perairan selatan Jawa yang ditandai dengan nilai sebaran suhu permukaan laut (SPL) rendah. Terdapat kesamaan waktu antara puncak musim pemijahan dengan puncak musim penangkapan ikan tongkol komo di perairan selatan Jawa.Indian Ocean South off Java-Nusa Tenggara as an important habitat of pelagic fish, kawa-kawa (Euthynnus affinis). The fish stocks in those areas affected by oceanographical prosessed. This study aimed to analyze the reproduction aspects and spawning prediction of kawakawa and its relation with monsoon and sea surface temperature (SST) conditions. Gonad samples were obtained from 3 fish landing sites at Palabuhanratu, Sendang Biru and Tanjung Luar in 2013. Analysis of 152 fishes and gonad samples were conducted in 2014 at Biology Laboratory of Research Institute for Marine Fisheries. SST data was taken from Aqua MODIS satellite imagery level 3 (2012-2013), downloaded from the NASA website. The analysis is done descriptively. The results showed that spawning season of kawakawa occurs in May-October (east monsoon to transitional monsoon II), its duration was longer than in other waters. Based on the gonad maturity stages, gonad mature (stage IV) found to be dominant in July (east monsoon), which is 55% female and 40% of male gonad samples. Based on the GSI value, spawning peak season occurred in September (transitional monsoon II) and a month later (October) about 11% of female fish gonad samples showed an indication of spawning (spent). The highest fecundity with the largest egg dimater range as spawning indicator was found in east monsoon to transitional monsoon II. Spawning season of kawakawa occurs along with upwelling events in these waters, with lowest SST. The peak of the spawning season and the fishing season was happened in the same time
ESTIMASI STATUS STOK SUMBER DAYA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI ESTUARI MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR Aisyah Aisyah; Kamaluddin Kasim; Setiya Triharyuni; Husnah Husnah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.624 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.217-225

Abstract

Produksi nasional kepiting bakau yang terus menurun serta semakin sulitnya nelayan menangkap kepiting bakau di habitat aslinya, menjadi indikator terjadinya ancaman keberlanjutan sumberdaya di alam. Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan penting propinsi Kalimantan Timur, yang sebagian besar berasal dari hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Delta Mahakam. Informasi status stok kepiting bakau di Estuari Mahakam belum tersedia sehingga menjadi kendala dalam menyusun kebijakan pengelolaan sumberdaya kepiting bakau pada skala daerah dan nasional. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui status stok kepiting bakau di Estuari Mahakam dengan menggunakan metode rasio potensi pemijahan induk berbasis data panjang (Length-Based Spawning Potential ratio/SPR), dalam kurun waktu 5 bulan, yaitu November 2016-Maret 2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai SPR saat ini (actual estimate) diperoleh sebesar 0,43 atau sebesar 43% sehingga dikategorikan sebagai fully-moderate exploited karena masih berada di atas ambang batas yang telah ditetapkan sebesar 30%. Nilai SPR 43% mengindikasikan bahwa masih terdapat biomassa kepiting bakau dewasa sebesar 43% di alam, untuk menunjang keberlanjutan rekruitmen. Di samping itu, laju penangkapan (F) terhadap mortalitas alami (M) yang mencapai 0,86 menunjukan bahwa kematian alami lebih mendominasi dibandingkan tekanan penangkapan.The decreasing in national production of mangrove crab and the difficulties for fishermen to catch mangrove crab in its natural habitat, become an indicator of the threatened of those resources in nature. Mangrove Crab (Scylla serrata) is one of the important fishery commodities of East Kalimantan province, mostly caught around the waters of Mahakam Estuary. Meanwhile, information concerning the stock status of mangrove crab in Mahakam Estuary is not yet available so it becomes an obstacle in formulating policies related to the management of mangrove crab resources at the regional and national scale. This research is intended to know the stock status of mangrove crab (Scylla serrata) in Mahakam Estuary by using Length-Based Spawning Potential ratio (SPR). The result of analysis show that the value of the current SPR (actual estimate) is 0,43 or 43%, it is categorized as fully-moderate exploited because it is still above the predefined threshold of 30%. The SPR value indicates about 43% of mature crabs biomass are still available to support the sustainability of recruitment. Nevertheless, the rate of capture (F) on natural mortality (M) has reached 0,86 which is mean that fishing exploitation has contributed 86% to the mortality of mangrove crab in its habitat.
PENDUGAAN DAYA DUKUNG PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI WADUK PONDOK, NGAWI JAWA TIMUR Siti Nurul Aida; Agus Djoko Utomo
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.576 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.197-208

Abstract

Waduk Pondok seluas 407 Ha berada di Ngawi Jawa Timur, beroperasi sejak 1995 dan merupakan waduk serbaguna. Kegiatan budidaya ikan dengan keramba jaring apung (KJA) di Waduk tersebut sudah berkembang, hingga mencapai 126 petak pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesuburan perairan, total fosfor yang terlepas dari KJA ke peraian dan mengestimasi daya dukung perairan untuk KJA. Tingkat kesuburan perairan dianalisa dengan nilai index status trofik (TSI). Estimasi daya dukung perairan untuk KJA menggunakan pendekatan model keseimbangan total fosfor (P) yang terlepas ke parairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan waduk Pondok sudah termasuk dalam katagori perairan eutrofik dengan nilai TSI 62,1.Total P yang terlepas ke perairan sebesar 15,04 kg ton ikan. Daya dukung perairan untuk KJA adalah 195,2 ton /tahun (130 petak KJA). Jumlah KJA di Waduk Pondok ada 126 petak (189 ton) atau sudah mendekati daya dukung perairan, sehingga jumlahnya tidak dapat ditambah lagi.Pondok Reservoir as large as 407 hectares is located in Ngawi, East Java. The Reservoir was functionally started in 1995, is a multipurpose reservoir. Fish culture in Pondok Reservoir in 2016 reached 126 cages. The aim of this research is to evaluate the trophic status, the total of phosphorus released into the waters from floating net cage, and carrying capacity of the reservoir for fish culture. Trophic status of reservoir was analyzed trough calculating the TSI (Trophic Status Index). A phosphorus mass balance model was used in assessing the carrying capacity of the reservoir. Research hypotesis in this research is Pondok reservoir has reached eutrophic status, and cages number in Pondok reservoir has alreday exceeds carriying capacity. Pondok reservoir have been categorized as eutrophic status, with the value of TSI 62.1. Total P released to the waters is 15.04 kg P / ton of fish. The carrying capacity of Pondok Reservoir for fish culture is 195,2 ton / year (130 cages). The number fish culture in Pondok Reservoir is 126 cages (189 ton), has already approaching maximum number can not be added anymore.
BIOLOGI REPRODUKSI SELAR BENTONG (Selar crumenophthalmus Bloch, 1793) DI PERAIRAN KWANDANG, GORONTALO UTARA Umi Chodrijah; Ria Faizah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.98 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.169-177

Abstract

Ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus Bloch, 1793) merupakan salah satu ikan ekonomis penting yang tertangkap di perairan Kwandang, Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biologi reproduksi ikan selar bentong. Pengumpulan data panjang berat, jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad dilakukan dari periode Februari hingga November 2017. Jumlah contoh ikan yang diamati sebanyak 3.820 ekor. Hasil penelitian ini diperoleh persamaan hubungan panjang-berat ikan selar bentong yang diukur yaitu W = 0,0092 L3,1857. Nilai b dari persamaan ini adalah 3,18 yang mengindikasikan bahwa pola pertumbuhannya bersifat isometrik. Ukuran pertama kali matang gonad (Lm) adalah 17,69 cmFL. Rasio kelamin antara betina terhadap jantan yaitu 1 : 1,2. Musim pemijahan atau bersifat multiple spawner diduga terjadi antara Bulan November – Februari.Bigeye scad (Selar crumenophthalmus Bloch, 1793) was one of the important economic species in the artisanal fishery in Kwandang waters North, Sulawesi. The aim of this study was to determine the biological reproduction of big eye scad in the Kwandang waters, Sulawesi Sea. Data collection of lengths and weights, sex, and the gonad maturity stage were done between January-November 2016. A total of 3820 specimens was collected al together and examined in the study. The result showed that length-weight relationship for big eye scad were W = 0,0092 L3,1857. The exponent values (b slope) of length-weight relationship of big eye scad was 3,185 indicating isometric growth pattern. The length at first maturity (Lm) for bigeye scad was 17,69 cmFL. The sex-ratio between female and male was 1 : 1.2. The spawning season was estimated between November and February (multiple spawner).
PENGARUH LAMA WAKTU TEBAR PANCING DAN PERENDAMAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN ALBAKORA (Thunnus alalunga Bonnaterre, 1788) DI SAMUDRA HINDIA BAGIAN TIMUR Irwan Jatmiko; Fathur Rochman; Zulkarnaen Fahmi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.487 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.209-216

Abstract

Albakora (Thunnus alalunga) merupakan salah satu hasil tangkapan ikan ekonomis penting bagi nelayan rawai tuna di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu tebar pancing dan perendaman rawai tuna terhadap hasil tangkapan albakora. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan oleh observer pada armada rawai tuna yang berfungsi di Samudra Hindia, dilakukan dari bulan Agustus 2005 hingga Agustus 2016. Lama waktu tebar pancing rawai tuna berkisar antara 2-9 jam dengan lama waktu perendaman 1-14 jam atau rata-rata 5 jam. Analisis sidik ragam satu arah menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata pada lama waktu tebar pancing dan perendaman terhadap hasil tangkapan albakora (F9,1020=5,72; p<0,05). Uji Tukey menunjukkan bahwa lama waktu tebar pancing dan perendaman terbaik untuk menangkap albakora adalah masing-masing selama 4 & 5 jam dengan rata-rata laju tangkap sebesar 0,37/100 mata pancing. Nelayan armada rawai tuna disarankan untuk mengurangi lama waktu tebar pancing menjadi 4 jam dan tetap mempertahankan lama waktu perendaman 5 jam untuk memperoleh hasil tangkapan albokora secara maksimal.Albacore tuna (Thunnus alalunga) is one of the important economic catches for tuna longline fishermen in Indonesia. The objective of this research is to investigate the effect of length of set and soak time of tuna longline vessels to the catch of albacore tuna. The research data was collected by scientific observer on the Indonesian tuna longline vessels and conducted from August 2005 to August 2016. In general, the length of set time on tuna longline vessels ranges from 2-9 hours with the length of soak time from 1-14 hours with average of 5 hours. One way Anova analysis showed that there was a significant difference on the length of set and soak time to the catch of albacore tuna (F9,1020=5,72; p<0,05). Tukey test showed that the best length of set and soak time to catch albacore tuna was 4 & 5 hours, respectively, with hook rates of 0.37/100 hooks. Fishermen of longline tuna vessels are suggested to reduce the length of set time into 4 hours and to maintain 5 hours of soak time to obtain maximum catch of albacore tuna.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue