cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
ASPEK BIOLOGI DAN KEBIASAAN MAKANAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI LAUT FLORES DAN SEKITARNYA Yoke Hany Restiangsih; Khairul Amri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.736 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.187-196

Abstract

Cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis penting dan banyak tertangkap dengan huhate di perairan Laut Flores dan sekitarnya. Tujuan Penelitian adalah mengkaji beberapa aspek biologi ikan cakalang yang didaratkan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Amagarapati dan unit pengolahan ikan (UPI) di Larantuka pada bulan Februari sampai Oktober 2015. Hasil penelitian menunjukkan ukuran panjang cagak berkisar antara 25 – 74 cm dengan modus pada nilai tengah 42 cm. Pola pertumbuhan bersifat alometrik positif dan nisbah kelamin jantan terhadap betina sebagai 1:1,14. Awal musim pemijahan berlangsung pada Februari-Maret dan Juli-Agustus. Ukuran pertama kali ikan tertangkap (Lc) pada panjang 48,8 cmFL lebih besar dengan panjang pertama kali matang gonad (Lm ) 41,1 cmFL, diduga perikanan cakalang di Larantuka mengarah pada recruitment overfishing. Kebiasaan makan ikan cakalang bersifat karnivora dengan komposisi 55,7% ikan tembang (Sardinella spp); 34,7% ikan teri (Stelophorus spp); 7,9% ikan layang (Decapterus spp); 0,9% cumi-cumi (loligo sp); 0,7% berupa hancuran ikan yang sudah tidak dapat diidentifikasi jenisnya dan sebesar 0,1%, berupa krustasea.Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) is one of caught by pole and line in Flores Sea and adjacent waters. Research was conducted to study biological aspects of skipjack tuna based on monthly catches landed at Amagarapati fishing port in Larantuka during February to October 2015. The results showed that fork length ranged from 25 to 74 cm with modus of 42 cm midlength. The growth pattern are alometric positive. The sex ratio of males to females was 1:1,14. The results showed that spawning seasons occured in February-March and July-October. Length at first capture (Lc) by pole and line was 48.8 cmFL and length at first maturity (Lm) was 41.1 cmFL, this condition indicated recruitment overfishing in its fisheries. Food habits of skipjack tuna are carnivorous with composition 55,7% Sardinella spp; 34,7% Stelophorus spp; 7,9% Decapterus spp; 0,9% Loligo sp; 0,7% flesh fish fragments that can’t be identified; and 0,1%, crustasea.
POLA PERTUMBUHAN DAN FAKTOR KONDISI TONGKOL KOMO, Euthynnus affinis (Cantor, 1849) DI PERAIRAN TANJUNG LUAR NUSA TENGGARA BARAT Maya Agustina; Irwan Jatmiko; Ririk Kartika Sulistyaningsih
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.76 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.179-185

Abstract

Tongkol komo (Euthynnus affinis Cantor, 1849) merupakan salah satu hasil tangkapan yang cukup penting bagi perikanan skala kecil di Tanjung Luar, Nusa Tenggara Barat. Spesies ini masuk ke dalam kelompok tuna neritik yang sebagian besar diusahakan dengan menggunakan alat tangkap purse seine dan gillnet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi tongkol komo. Pengumpulan data dilakukan selama 12 bulan dari Januari – Desember 2016 di PPI Tanjung Luar, Nusa Tenggara Barat. Pengambilan data bulanan secara berkesinambungan dilakukan dengan bantuan tenaga enumerator. Data sebanyak 1.297 spesimen komo telah diukur panjang cagak (cmFL) dan ditimbang beratnya (kg). Hasil pengukuran menunjukkan sebaran panjang berkisar antara 24 – 71 cmFL, dengan rata-rata 51,66 cmFL dan berat 0,21 – 7,05 kg, dengan rata-rata 2,72 kg. Analisis hubungan panjang berat diperoleh hasil W= 0,00001 FL3,114 dengan koefisien determinasi (R2) 0,978. Pola pertumbuhan bersifat alometrik positif (b>3) menunjukkan bahwa pertambahan berat lebih cepat daripada pertambahan panjangnya. Faktor kondisi relatif (Kn) tertinggi terjadi pada batas atas kelas panjang 45 cm sebesar 1,187 dan terendah terjadi pada batas atas kelas panjang 30 cm sebesar 0,940. Faktor kondisi relatif bulanan cenderung stabil dengan nilai tertinggi terjadi pada bulan November sebesar 1,140 dan terendah pada bulan Maret sebesar 1,033 dan cenderung berfluktuasi pada ikan-ikan berukuran kecil, sedangkan pada ikan berukuran dewasa menunjukkan tren yang menurun seiring dengan bertambahnya ukuran panjang.Kawakawa (Euthynnus affinis Cantor, 1849) one of the important catch for small-scale fisheries in Tanjung Luar, West Nusa Tenggara. This species is included in neritic tuna group that mostly utilized by using purse seine and gillnet. The objectives of this research are to investigate the growth pattern and condition factor of this particular species. Data collection was conducted for 12 months from January to December 2016 in Tanjung Luar Port, West Nusa Tenggara. Data were collected in twelve consecutive months by enumerators. Total of 1,297 specimens were collected, measured (cmFL) and weighted (kg). The measurements showed that the length of ranged from 24-71 cmFL with average of 51.66 cmFL. The weight ranged from 0.21-7.05 kg with average of 2.72 kg. Analysis of length-weight relationships was W=0.00001 FL3.114 with determination coefficient (R2) 0.978. Growth pattern of positive allometric (b>3) where the additional of weight proceeded faster than the of length increments. The highest relative condition factor (Kn) occurred at upper limit of length class 45 cm with 1.187 and the lowest at 30 cmFL with 0.940. Monthly relative condition factor tends to stable with the highest value occurred on November with 1.140 and the lowest on March with 1.033 and tend to fluctuated for small size group. While for adult fish tend to decrease along with the length increase.
SEBARANPLANKTONDAN LARVAIKAN DI PERAIRANKEPULAUANRAJA AMPAT:KAJIANMETODEHIDROAKUSTIKDANSURVEIKONVENSIONAL Asep Priatna; Bambang Sadhotomo
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.026 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.5.2011.345-350

Abstract

Penelitian bertujuan untukmempelajari keberadaan plankton dan larva ikan berdasarkan atasmetode hidroakustik serta kaitannya dengan hasil pengambilan contoh. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2008 di perairan Raja Ampat. Estimasi kepadatan dan migrasi diurnal plankton dan larva ikan menggunakan perangkat akustik split beam echosounder Simrad EY60 dengan frekuensi 120 kHz. Data dianalisis secara deskriptif, disajikan dalam bentuk grafik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada musim timur, estimasi kepadatan plankton dan larva ikan di Teluk Kabui relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan plankton dan larva di perairan sebelah barat Pulau Waigeo dan Pulau Batanta. Pengamatan dengan metode hidroakustik dapat memperlihatkan pola migrasi vertikal harian plankton dan larva ikan. Pengetahuan mengenai karakteristik plankton dan larva ikan dapat menentukan teknik pengambilan contoh yang tepat terhadap organisme tersebut. Knowledge about plankton and larvae characteristics is very importance to determine sampling technique for sea organism. The aim of the research was to study the existence of plankton and fish larvae based on acoustic method. The survey conducted on June 2008 in the Raja Ampat waters. Simrad EY60 split beam echosounder with frequency of 120 kHz was used for acquisitioning the acoustic data. Those data analyzed descriptively, and the results presented in histogram. During southeast monsoon, the estimation of plankton and fish larvae densities in Kabui Bay was relatively higher than in the west part of Waigeo waters and around Batanta Island. The daily vertical migration of plankton and fish larvae was showed by acoustic detection.
EKSPLOITASI SUMBER DAYA IKAN TERBANG (Hirundichthys oxycephalus, FAMILI EXOCOETIDAE) DI PERAIRAN PAPUA BARAT: PENDEKATAN RISET DAN PENGELOLAAN Suwarso Suwarso; Achmad Zamroni; Wijopriyono Wijopriyono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.219 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.2.2008.83-91

Abstract

Studi tentang perikanan ikan terbang atau torani didasarkan pada data operasional, hasil tangkapan telur, registrasi kapal penangkap dan produk terkirim, serta hasil observasi lapangan di Kabupaten Fak-Fak dan sekitarnya. Jenis utama yang dieksploitasi adalah ikan terbang (bony flyingfish) (Hirundichthys oxycephalus, famili Exocoetidae), salah satu jenis utama yang juga dieksploitasi di Selat Makassar sampai Laut Flores. Perikanan tangkap kapal-kapal pakaja asal Selat Makassar yang mengupayakan telur ikan terbang ini mulai berkembang intensif sejak tahun 2002. Daerah penangkapan di perairan laut dalam (oseanik) di perairan barat Papua Barat, berbatasan dengan Laut Seram. Setiap tahun musim penangkapan telur ikan terbang berlangsung selama 5 bulan (bulan Mei-September) dengan puncaknya antara bulan Juli-Agustus, di mana waktu-waktu tersebut merupakan musim pemijahan. Sejalan dengan peningkatan produksi telur selama tahun 2001-2007, semakin banyak juga jumlah upayanya (jumlah kapal aktif). Hasil tangkapan per kapal bervariasi, tetapi fluktuasi hasil tangkapan telur rata-rata diduga sesuai dengan puncak musimpemijahan. Meski produksi telur selama tahun 2001-2007 menunjukkan peningkatan, tetapi hal ini belum menjamin pola eksploitasi yang bertanggungjawab sekaligus menjamin kelestarian sumber dayanya. Identifkasi beberapa permasalahan yang diisyaratkan terkait dengan pengelolaan perikanan juga diuraikan.
STUKTUR UKURAN IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares) YANG TERTANGKAP PANCING ULUR DI SEKITAR RUMPON SAMUDERA HINDIA SELATAN BALI DAN LOMBOK Noor Muhammad; Abram Barata
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.444 KB) | DOI: 10.15578/bawal.4.3.2012.161-167

Abstract

Ikan madidihang (Thunnus albacares) merupakan hasil tangkapan utama yang banyak tertangkap di perairan sekitar rumpon laut dalam. Ikan madidihang termasuk kelompok ikan yang senang berasosiasi dengan rumpon. Rumpon merupakan tempat berkumpulnya plankton dan ikan-ikan kecil lainnya, sehingga mengundang ikan-ikan yang lebih besar untuk tujuan makan. Adanya variasi penyebaran ikan tuna berdasarkan jenis dan ukuran sangat menentukan penggunaan spesifikasi alat tangkap yang dioperasikan. Penelitian yang dilakukan di Pangkalan Pendaratan Ikan Kedonganan-Bali mulai bulan April sampai Nopember 2009, bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran panjang, hubungan panjang dan bobot dan ukuran pertama kali tertangkap tuna madidihang di perairan sekitar rumpon Samudera Hindia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan madidihang yang tertangkap di perairan sekitar rumpon memiliki kisaran ukuran panjang antara 81-170 cmFL, dengan pola pertumbuhannya bersifat allometrik positif dan ukuran panjang pertama kali ikan madidihang tertangkap dengan pancing ulur adalah 126,7 cmFL. Ikan madidihang yang tertangkap di perairan sekitar rumpon Samudera Hindia didominasi oleh ikan yang pernah mengalami matang gonad atau diduga pernah melakukan pemijahan. Yellowfin tuna (Thunnus albacares) are the main catches of hand line which fished in around of rumpon (FAD). Yellowfin tuna is one of fish that associated with rumpon. Rumpon is a device to generate plankton and other small fish, to attract the higher tropic level as part of it’s prey. The variation of distribution of tuna could determine the use of fishing gear will be operated.  A research conducted at the fish landing base  conducted at  Kedonganan-Bali during April to November 2009, to obtain data and information about the size stucsture, length and weight relationships, size of first capture of yellowfin tuna that caught in around fish aggregation devices. The results showed that yellowfin tuna caught in around of rumpon waters in the Indian Ocean have a range of lengths between 81-170 cmFL, the pattern of growth is positive allometric and length at first capture of yellowfin tuna caught by handline was 126,7 cmFL. Yellowfin tuna were caught in around of rumpon waters of the Indian Ocean are dominated by mature fish or fish had spawned.
KUALITAS AIR, STATUS TROFIK DAN POTENSI PRODUKSI IKAN DANAU PANIAI, PAPUA Samuel Samuel; Yoga Candra Ditya
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.434 KB) | DOI: 10.15578/bawal.11.1.2019.19-31

Abstract

Danau Paniai termasuk tipe danau tektonik, berukuran besar dan telah dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata, transfortasi, irigasi persawahan, sumber air minum dan perikanan tangkap. Aktivitas manusia disekitar danau juga berpengaruh terhadap kualitas, kesuburan dan produksi ikan perairan danau. Penelitian kualitas air, status trofik dan potensi produksi ikan bertujuan untuk mengevaluasi parameter kualitas air, tingkat kesuburan serta potensi produksi ikan perairan danau. Parameter diukur terdiri dari suhu, kedalaman, kecerahan, daya hantar listrik, pH, oksigen, alkalinitas, amonia, nitrat, fosfat, total fosfor dan klorofil-a. Pengukuran dan pengambilan sampel air dilaksanakan pada bulan April, Juli dan Oktober 2016 di tujuh stasiun pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan Danau Paniai mempunyai kualitas air yang baik untuk kehidupan ikan dan udang. Nilai indeks status trofik berdasarkan metode Carlson sebesar 49, mengklasifikasikan perairan pada tingkat kesuburan sedang. Angka potensi produksi ikan Danau Paniai ada sebesar 491 ton/tahun dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dan udang oleh nelayan ada sebesar 20,3 ton/tahun atau 4,13% dari angka potensi produksi ikannya. Lake Paniai is a tectonic lake, large in size and has been used as sites for tourism, transportation, rice irrigation, drinking water sources and capture fisheries. Human activities around the lake also affect the quality, trophics and fish production of lake waters. Research on water quality, trophic status and potential for fish production aimed to evaluate the parameters of water quality, trophic levels and fish production potential of lake waters. The measured parameters consisted of temperature, depth, transfarancy, conductivity, pH, oxygen, alkalinity, ammonia, nitrate, phosphate, total phosphorus and chlorophyll-a. Measurement and sampling of water were carried out in April, July and October 2016 at seven observation stations. The results showed that Lake Paniai had good water quality for fish and shrimp life. Trophic status index value of 49, classified waters at mesotrophic level. The number of fish production potential was 491 tons/year and the utilization levels of fish and shrimp resources by fishermen was 20.3 tons/year or 4.13% of the potential number of fish production.
SUMBER DAYA PERIKANAN TANGKAP DI WADUK KOTO PANJANG, RIAU Andri Warsa; Adriani Sri Nastiti Krismono; Amula Nurfiarini
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.984 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.3.2008.93-97

Abstract

Waduk Koto Panjang dengan luas 12.400 ha sebagian besar terletak di Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar Propinsi Riau, dan sebagian kecil termasuk di Propinsi Sumatera Barat. Waduk ini merupakan waduk multi fungsi antara lain sebagai pembangkit listrik tenaga air, irigasi, wisata, dan perikanan. Di bidang perikanan, Waduk Koto Panjang merupakan sumber pendapatan bagi sekitar 400 nelayan. Hasil tangkapan didominasi oleh ikan paweh (Osteochilus haseltii) (35,2%), motan (Thynnichthy polylepis) (28,2%), dan siban (Cyclocheilicthys apogon) (14,8%). Beberapa jenis ikan ekonomis penting antara lain ikan baung (Hemibragus nemurus), tapah (Wallago sp.), belida (Chitala lopis), tabingalan (Puntioplites bulu), toman (Channa micropeltes), gurame (Osphronemus goramy) dengan potensi produksi 170.4 ton. Tingkat pendapatan nelayan berkisar Rp.116.966 sampaiRp.126.700 per trip di mana tingkat pendapatan ini dipengaruhi oleh jumlah alat tangkap yang dimiliki oleh nelayan.
PARAMETER POPULASI KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PERAIRAN PASAMAN BARAT Thomas Hidayat; Helman Nur Yusuf; Nurulludin Nurulludin; Andina Ramadhani Putri Pane
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.021 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.3.2017.207-213

Abstract

Pemanfaatan sumber daya kepiting bakau (Scylla serrata) di perairan Pasaman Barat sudah lama dilakukan oleh nelayan kecil dengan menggunakan bubu (tangkul) yang bersifat tidak selektif. Sebagai komoditi perikanan yang mempunyai nilai ekonomis penting di Indonesia, perlu dilakukan pengelolaan yang tepat agar ketersediaannya tetap berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan bulan Januari - November 2016, dengan tujuan mengkaji beberapa parameter populasi sebagai bahan kebijakan pengelolaan kepiting bakau di perairan Pasaman Barat agar tetap lestari. Pengumpulan sampel dilakukan secara acak dari hasil tangkapan nelayan oleh enumerator. Metode analisis parameter populasi menggunakan distribusi frekwensi lebar karapas dengan bantuan program FiSAT (FAO-ICLARM Stock Assessement Tools)-II. Hasil analisis diperoleh laju pertumbuhan (K) sebesar 0,63 pertahun, (CW)= 178,5 mm, kematian alami (M) 1,06 pertahun, kematian karena penangkapan (F)= 1,03 per tahun, dan kematian total (Z)=2,09 pertahun. Tingkat eksploitasi (E) =0,49. Tingkat pemanfaatan kepiting bakau di perairan Pasaman Barat sudah pada tahapan yang jenuh (fully exploited). Pembatasan alat tangkap merupakan opsi yang paling memungkinkan.Mud crab (Scylla serrata) is one of fisheries commodity that has an important economic value in Indonesia. Utilization of mud crabs in West Pasaman had been exploited for years long time with traps fishing gear. The research was conducted in January - November 2016 in the waters of West Pasaman. Sampling were conducted randomly. This paper aims to determine some population parameters of mud crab to used as a guidance guidance in the management of mud crab. in the waters of West Pasaman. Population parameter data analysis using software FiSAT (FAO-ICLARM Stock assessement Tools) II. The results of population dynamic parameters of mud crab showed that growth rate (K) was 0.63 per year, Length infinity (L) was 178.5 mm, natural mortality (M) was 1.06 per year, fishing mortality (F) was 1.03 per year, and total mortality (Z) 2.09 per year. Exploitation rate (E) was 0.49. The exploitation rate of mud crabs in the waters of West Pasaman were (fully exploited), the fishing need to be managed carefully, limitation of fishing gear is the most likely option to be enforced.
ASPEK BIOLOGI IKAN LAYUR (Lepturacanthus savala Cuvier, 1829) DI PERAIRAN PANGANDARAN, JAWA BARAT Puput Fitri Rachmawati; Sri Turni Hartati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.046 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.2.2017.133-143

Abstract

Sumberdaya ikan demersal di perairan Pangandaran mendominasi hasil tangkapan sebesar 32,90 % dari total produksi ikan secara keseluruhan, pada tahun 2015 jenis ikan layur (Lepturacanthus savala) berkontribusi sebanyak 47,31 % dari total produksi ikan demersal, merupakan salah satu jenis ikan demersal yang bernilai ekonomis tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi dan parameter populasi L. savala di perairan Pangandaran. Penelitian dilakukan pada bulan Juni – Desember 2015, data yang terkumpul meliputi panjang dan berat ikan, jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, berat gonad, serta data statistik perikanan. Analisis parameter populasi didasarkan pada data length-frequency panjang dan dilakukan dengan bantuan program FiSAT II (FAO-ICLARM Stock Assesment Tools II). Hasil menunjukkan hubungan panjang-berat bersifat alometrik negatif dengan nilai b = 2,92; nisbah kelamin jantan terhadap betina 1,0:3,2. Panjang rata-rata ikan tertangkap lebih besar dari panjang pertama kali matang gonad (L50% = 57,19 cmTL > Lm = 47,23 cmTL). Panjang asimtotik (L) sebesar 111,00 cmTL, laju pertumbuhan (K) sebesar 0,56/tahun. Selanjutnya laju kematian total (Z) sebesar 3,46/tahun, laju kematian alami (M) sebesar 0,85/tahun, dan laju kematian akibat penangkapan (F) sebesar 2,61/tahun; sehingga laju eksploitasi (E) sebesar 0,75, terindikasi kondisi fully exploited. Jika dibiarkan kondisi tersebut dapat mengarah pada recruitment overfishing. Untuk menjaga keberlangsungan kelestarian sumberdaya L. savala, pengelolaan dapat dilakukan dengan cara membatasi intensitas penangkapan, memperbesar ukuran mata jaring, dan penetapan kawasan reservat terhadap sejumlah stok induk yang memadai. The fish production in the Pangandaran waters dominated demersal fish resources by 32.90% of total landed in 2015. Savalai hairtail contributes 47,31% to total demersal fish production. This study aims to determine the biological aspects and population parameters of Lepturacanthus savala in Pangandaran waters. Data collection conducted in June - December 2015, with data collected including length and weight, sex, the maturity level of gonads, gonad weight, and fishery statistics data. Population parameter analysis based on length-frequency data was done by using FAO-ICLARM Stock Assessment Tools II (FiSAT II) program. The result shows a negative allometric growth pattern (b = 2,92) and sex ratio of male to female has a ratio of 1,0: 3,2. The average length of the fish is caught is greater than the length of the first mature gonad (L50% = 57,19 cmTL> Lm = 47,23 cmTL). Analysis of fish population parameter obtained asymptotic length (L) = 111,00cmTL, growth rate (K) = 0,56/year, total mortality rate (Z) = 3,46/year, natural mortality rate (M) = 0,85/year, catch mortality rate (F) = 2,61/year, so that the rate of exploitation (E) = 0,75, indicated fully exploited condition. If left unchecked, the condition may lead to recruitment overfishing. To maintain the sustainability of L. savala resources, management can be done by limiting the intensity of catching, maximazing the mesh size, and determining the reserved area against a sufficient number of parent stocks.
OPTIMALISASI PCR IKAN TONGKOL KRAI (Auxis thazard) DAN LISONG (Auxis rochei) PADA ANALISIS KERAGAMAN GENETIK Raymon Rahmanov Zedta; Bram Setyadji
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1177.743 KB) | DOI: 10.15578/bawal.11.2.2019.95-102

Abstract

Ikan tongkol lisong dan krai merupakan salah satu jenis tuna yang berperan nyata untuk usaha perikanan tangkap di Indonesia. Pengelolaan sumberdaya ikan tersebut harus selalu dapat dilakukan untuk menjaga tingkat pemanfaatannya supaya tidak lebih tangkap. Kajian keragaman genetik merupakan salah satu teknik dalam pengelolaan pemanfaatan sumberdaya perikanan dengan cara mengetahui tingkat keragaman genetik pada suatu struktur populasi. Kajian keragaman genetik ini diharapkan dapat menjadi basis kajian stok dan opsi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tongkol agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Awal mula analisis keragaman genetik dilakukan dengan memperbanyak DNA secara in vitro menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Keberhasilan proses PCR dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu dan waktu penempelan oligonukleotida primer. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan waktu optimal pada primer Aro2-38. Sampel penelitian diperoleh dari hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan di PPN Palabuhanratu, Jawa Barat. Optimasi PCR menggunakan 12 suhu dan 2 waktu penempelan yang berbeda yaitu : 520C; 52,80C; 540C; 55,50C; 57,20C; 59,10C; 60,90C; 62,80C; 64,50C; 65,90C; 67,20C dan 680C, dan suhu penempelan 30 dan 15 detik. Hasil analisis menunjukkan bahwa produk PCR optimum (menghasilkan pita alel DNA) pada ikan tongkol krai berhasil waktu penempelan 30 detik dengan rentang suhu 52-540C. Sedangkan pada sampel ikan tongkol lisong, produk PCR yang optimum muncul pada waktu penempelan 15 dan 30 detik, dengan rentang suhu 52-60,90C.Frigate and bullet tuna constitute one of tuna species that plays a significant role in Indonesian fishing business. Management of fisheries resources must always be done to maintain the level of utilization so that it is not excessive. Genetic study is one of techniques in managing fisheries resource utilization by knowing the level of genetic diversity in a population structure. This genetic diversity study is expected to be the basis and option in the management of tuna fishing resources so that their utilization can be carried out sustainably. Genetic diversity analysis is start by multiplying fish DNA using PCR (Polymerase Chain Reaction) technique. The success of the PCR process is influenced by several factors such as temperature and time of primary oligonucleotide attachment. Based on this, this study aims to determine the optimal temperature and time in primers Aro2-38. The research sample was obtained from the catch of purse seine landed in PPN Palabuhanratu, West Java. PCR optimization uses 12 temperatures and 2 different annealing times: 520C; 52.80C; 54ÚC; 55,50C; 57.20C; 59.10C; 60.90C; 62.80C; 64,50C; 65,90C; 67.20C and 680C, and the annealing times are 30 and 15 seconds. The results of the analysis showed that the optimum PCR product (producing DNA allele bands) on the cretaceous tuna was successfully pasted for 30 seconds with a temperature range of 52-540C. Whereas in the sample of tuna lisong, the optimum PCR product appeared at the time of attachment of 15 and 30 seconds, with a temperature range of 52-60.90C.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue