cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2020): April 2020" : 12 Documents clear
Tuhan Ada di Mana-mana: Mencari Makna bagi Korban Bencana di Indonesia Johannis Siahaya; Karel Martinus Siahaya; Nunuk Rinukti
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.147

Abstract

The phenomenon of natural disasters has been felt in recent years and has become a global concern. This concern occurs because, the intensity of natural disasters that are increasingly frequent in various parts of the world lately, taking many victims both human, property, and other lives. Religions (including the church), however, have an essential calling and responsibility in dealing with the problem of the victims of the disaster. However, today's reality shows that religions (as well as internal church) are still involved and struggling in classical debates about teachings (dogma) about who God is: about his name, which God or religion is true, or what God teaches in which religion or church which is considered correct. Abstrak Fenomena bencana alam sangat terasa dalam beberapa tahun terakhir sampai-sampai menjadi perhatian dunia. Hal ini terjadi karena, intensitas benca-na alam yang semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia akhir-akhir ini, bahkan mengakibatkan banyak korban yang berja-tuhan, selain kehilangan harta benda. Melihat fenomena ini gereja memiliki panggilan dan tanggung jawab yang hakiki dalam dalam menangani korban bencana tersebut. Namun, realitas yang terjadi adalah Agama-agama lain bahkan gereja masih saja terlibat dalam berbagai perdebatan mengenai siapa Tuhan itu, mengenai nama-Nya, Agama mana yang benar, ataupun ajaran Tuhan dari agama atau gereja mana yang dianggap benar.
Pendampingan Pastoral Keindonesiaan Jacob Daan Engel
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.153

Abstract

Indonesian pastoral assistance is affiliated with developing potential and improving the quality of life in cultural encounters in Indonesia. This was motivated by the fact of rejection of Western aid, which is only emphasized as an individual approach without regard to the plural of socio-cultural and religious values of Indonesian society. A descriptive-analytical approach is describing and analyzing cultural encounters in spiritual and religious perspectives becomes a mentoring effort that refers to the improvement, development, and transformation of society. Besides that, the cultural encounter is a pastoral assistance effort to empower, revive, and humanize Indonesian people with different characteristics. Meanwhile, the study found that the meaning of pastoral care in the Indonesian context is cooperation, share feelings and mutual acceptance, harmonious brotherhood, solidarity, and friendship that show respect to one another. Pastoral assistance is also carried out to develop their potential, to empower and improve their quality of life. The development of the potential and quality of life occurs in cultural encounters, which are related to the development of mindsets, feelings, and personal behavior patterns of each individual as well as the community and society. Abstrak Pendampingan pastoral keindonesiaan berafliasi pada pengembangan potensi dan peningkatan kualitas hidup dalam perjumpaan budaya di Indonesia. Hal tersebut dimotivasi oleh fakta penolakan terhadap pendampingan barat, yang hanya menekankan pada pendekatan individualis tanpa memperhatikan nilai-nilai sosial budaya dan agama masyarakat Indonesia yang plural. Pende-katan deskriptif analitis untuk mendeskripsikan dan menganalisis perjumpaan budaya dalam perspektif spiritual dan agama menjadi suatu upaya pendam-pingan yang mengacu pada peningkatan, pengembangan dan transformasi masyarakat. Perjumpaan budaya menjadi suatu upaya pendampingan pastoral dalam rangka memberdayakan, menghidupkan serta memanusiakan manusia Indonesia yang berbeda-beda karakteristiknya. Kajian tersebut menemukan pen-dampingan pastoral dalam konteks Indonesia mempunyai arti gotong ro-yong, berbagi rasa dan saling menerima, persaudaraan yang rukun dan solida-ritas serta pertemanan yang saling menghargai dan menghormati. Pendam-pingan pastoral dilakukan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, dalam rangka memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Pengembangan potensi dan kualitas hidup terjadi dalam perjumpaan budaya, yang berkaitan dengan pengembangan pola pikir, perasaan dan pola perilaku pribadi setiap individu maupun komunitas dan masyarakat.
Perempuan dan Kepemimpinan Gereja: Suatu Dialog Perspektif Hermeneutika Feminis Bobby Kurnia Putrawan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.130

Abstract

The feminist movement became a movement that moved and challenged the church from the comfort of male domination. The role of women is increasingly strengthened and developed in various aspects of life, including aspects of church leadership. This resulted in debates among male-dominated church leaders; whether women's leadership roles can be accepted or rejected. This article is presented to add to the theological study of women and their leadership in the church through the perspective of feminist hermeneutics while upholding respect and authority for the Bible. The method used is grammar-accommodative, which is a combination of grammatical understanding of the text and translatively translated. Finally, the involvement of women in the formation of Christian social ethics in the future will broaden the horizon of understanding the interaction of women and men in social structures and ecclesiastics. Abstrak Gerakan feminis menjadi sebuah gerakan yang menggugah dan meng-gugat gereja dari kenyamanannya dominasi laki-laki. Peranan perempuan semakin diperkuat dan dikembangkan di pelbagai aspek kehidupan, termasuk aspek kepemimpinan gereja. Hal ini ini berdampak perdebatan di kalangan pimpinan gereja yang didominasi laki-laki; apakah peranan kepemimpinan perempuan bisa diterima atau ditolak. Artikel ini disajikan untuk menambah kajian teologis mengenai perempuan dan kepemimpinannya di gereja melalui perspektif hermeneutika feminis, dengan tetap menjunjung tinggi penghargaan dan otoritas terhadap Alkitab. Metode yang digunakan adalah grammar-akomodatif, yang merupakan perpaduan pengertian teks secara gramatikal dan diterjemahkan secara akomo-datif. Akhirnya, keterlibatan perempuan ke dalam pembentukan etika sosial Kristen di masa depan akan memperluas cakrawala pemahaman tentang interaksi perempuan dan laki-laki dalam struktur sosial dan kegerejawian.
Kewirausahaan dan Panggilan Kristen: Sebuah Pendekatan Interpretatif-Dialogis, Sosio-Historis dan Teologis Suwarto Adi
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.123

Abstract

Is it possible to entrepreneurship as a Christian calling? This paper answers to this question by doing a combination of socio-historical and theological approaches. Historically, the ideas of entrepreneurship and its practices are undergoing a meaningful development. While from a theological perspective it delivered an ethical meaning if entrepreneurship located in the frame of a theology of creation and social action to build a common justice. This is all affiliates with mentality of God in the creation process of the world and Jesus’ criticism of a greedy attitude. Paul, furthermore, making entrepreneur-ship is as a constructive way of his service. Eventually, if locating entrepreneur-ship in Rahner’s framework in terms of intellectual, res, and opera, it could be a base of Christian calling to create community welfare and justice. Abstrak Apakah mungkin kewirausahaan menjadi panggilan Kristen? Tulisan ini menjawab pertanyaan tersebut dengan menggabungkan pendekatan sosio-historis dan teologis. Secara historis, gagasan dan praktik kewirausahaan mengalami perkembangan bermakna. Sedangkan, dari perspektif teologis, makna etis kewirausahaan akan lahir kalau diletakkan dalam kerangka penciptaan dan tindakan membangun keadilan Bersama. Hal itu bersesuaian dengan mentalitas Allah dalam proses penciptaan dan kritik Yesus terhadap ketamakan. Paulus, lebih jauh lagi menjadikan kewirausahaan sebagai jalan pelayanan yang konstruktif. Akhirnya, dengan meletakannya dalam kerangka intellectus, res dan opera-nya Karl Rahner, kewirausahaan bisa dijadikan dasar bagi panggilan Kristen untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat
Kecakapan Lulusan Pendidikan Tinggi Teologi Menghadapi Kebutuhan Pelayanan Gereja dan Dunia Pendidikan Kristen Gidion Gidion
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.144

Abstract

The stakeholder of college graduates oftenly complained about the low skills possessed by the graduates. The same thing is experienced in the world of church service and Christian education, that there are still many theological scholars who lack the skills or expertise in their fields.This study aimed to determine how well the graduates of theological college having skills which answer the needs in the Church and Christian educational institutions. The results of the study concluded that the skills of the graduates of theological college are still not optimal. There are five skills that have a fairly low assess-ment, namely skill of leadership, servants, service experience, theological knowledge, and English ability. Abstrak Para pengguna lulusan perguruan tinggi mengeluhkan masih rendahnya kecakapan yang dimiliki oleh para lulusan terebut. Hal serupa juga dialami dalam dunia pelayanan gereja dan pendidikan Kristen, bahwa masih banyak sarjana teologi yang kurang memiliki kecakapan atau keahlian dalam bidangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa baik kecakapan lulusan STT dalam menjawab kebutuhan pelayanan di gereja dan lembaga pendidikan Kristen. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kecakapan lulusan STT masih belum maksimal. Ada lima kecakapan yang memiliki penilaian yang cukup rendah yaitu kecakapan sebagai pemimpin, sebagai pelayan, pengalaman pelayanan, pengetahuan teologi, dan kemampuan berbahasa Inggris.
Menstimulasi Praktik Gereja Rumah di tengah Pandemi Covid-19 Fransiskus Irwan Widjaja; Candra Gunawan Marisi; T. Mangiring Tua Togatorop; Handreas Hartono
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.166

Abstract

This paper is an analysis of various collective resources to consider the current practice of churches in Indonesia in connection with the Covid-19 pandemic. Government regulations have restricted social gatherings, including worship in churches, to break the chain of the spread of this deadly plague. Finally, worship was held online by adopting internet-based technology to carry out worship in their respective homes. This paper is qualitative research litera-ture to analyze the Covid-19 phenomenon from the perspective of Christian theology. As a conclusion, the church must see the pandemic outbreak as an opportunity to stimulate the rise of house churches through the government's social restriction policy regarding religious worship. The house church is typical of the church carried out by the early church in the Acts. Abstrak Paper ini adalah analisis berbagai sumber daya kolektif untuk mem-pertimbangkan praktik gereja-gereja di Indonesia saat ini sehubungan dengan pandemi Covid-19. Peraturan pemerintah telah membatasi pertemuan sosial, termasuk ibadah di gereja demi memutus rantai penyebaran wabah yang mematikan ini. Akhirnya, ibadah pun diadakan secara online dengan mengadopsi teknologi berbasis internet untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing. Paper ini merupakan penelitian kualitatif literatur untuk menganalisis fenomena Covid-19 ini dari perspektif teologi Kristen. Sebagai kesimpulannya, gereja harus melihat peristiwa wabah pandemi ini sebagai kesempatan untuk menstimulasi bangkitnya gereja rumah melalui kebijakan pembatasan sosial dari pemerintah terkait ibadah keagamaan. Gereja rumah merupakan tipikal gereja yang dilakukan oleh gereja mula-mula di dalam Kisah Para Rasul.
Mengajarkan Pendidikan Karakter Melalui Matius 5:6-12 Noh Ibrahim Boiliu; Aeron Frior Sihombing; Christina M. Samosir; Fredy Simanjuntak
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.128

Abstract

The background of the problem in this study is the occurrence of changes in the current generation due to mass media that change the mindsets, behavior, and habits of today's youth, accompanied by education that tends to be based on knowledge or cognitive. All of this will result in humans not being human. Thus, character education offered by Jesus in a happy speech at the Sermon on the Mount is character-based education centered on the imitation of Christ, which is to follow in the footsteps or steps of Christ in the lives of Indonesian Christian students. This framework of thought or world view is what Christian Character education is. Thus, this research will use an asynchronous method that is to exegete what is said in the text of Matthew 5:6-12. Abstrak Latar belakang dari masalah dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan pada generasi saat ini karena media massa yang mengubah pola pikir, perilaku, dan kebiasaan pemuda saat ini, disertai dengan pendidikan yang cenderung didasarkan pada pengetahuan atau kognitif. Semua ini akan meng-akibatkan manusia tidak manusia. Dengan demikian, pendidikan karakter yang diajarkan Yesus melalui khotbah ucapan bahagia di bukit merupakan pengajaran berbasis karakter yang berpusat pada meniru Kristus, yang mengikuti jejak atau langkah Kristus dalam kehidupan siswa Kristen Indonesia. Kerangka pemikiran atau pandangan dunia ini adalah apa yang pendidikan karakter Kristen. Dengan demikian, penelitian ini akan menggunakan metode asynchronous yaitu untuk penafsir apa yang dikatakan dalam teks Matius 5:6-12.
Dialog Sebagai Cara Hidup Menggereja di Kultur Indonesia Yusuf Siswantara
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.105

Abstract

Dialogue is not a mere empty term or theory; it is evident in religious life and even becomes a necessity in the attitude of participation as a knot of kenosis thought (A. Pieris) and Asian theology (C.S. Song). The ideal dialogue model has been narrated in the story of Emmaus' journey which also became a model of the Lord's Supper. Thus, the ideal of dialogue is the story of the Eucharist. Indonesia as part of Asia has its own diversity context. The method in this article is qualitative, using the method of analyzing literature from various figures' thoughts about the dialogue that can be applied in the Indonesian context. As a result, there are four forms of dialogue that can be applied in the context of Indonesia's diversity, by specializing in a dialogue of work and dialogue of life. Abstrak: Dialog bukanlah istilah kosong atau teori belaka; kata ini nyata dalam kehidupan beragama dan, bahkan, menjadi keharusan dalam sikap partisipasi sebagai simpul pemikiran kenosis (A. Pieris) dan teologi Asia (C.S. Song). Model dialog ideal telah dinarasikan dalam kisah perjalanan Emaus yang juga menjadi model perjamuan kudus. Dengan demikian, idealitas dialog adalah kisah perjamuan kudus. Indonesia sebagai bagian dari Asia memiliki konteks keberagamannya sendiri. Metode dalam artikel ini adalah kualitatif, dengan menggunakan metode analisis literatur dari berbagai pemikiran tokoh tentang dialog yang dapat diterapkan dalam konteks Indonesia. Hasilnya, ada empat bentuk dialog yang bisa diterapkan dalam konteks keberagaman Indonesia, dengan mengkhususkan dialog karya dan dialog kehidupan.
Hubungan Spiritualitas terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Yudha Nata Saputra
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.127

Abstract

The purpose of this study was to analyze the effect of spirituality variables on student learning motivation. The method used in this research is a quantitative approach using descriptive statistics and simple linear regression statistical tests. Data collection techniques used a Likert attitude scale with four answer choices distributed to 76 students who were respondents in this study. The results showed that the Spirituality variable obtained an average score of 21.36 which was included in the high category while the Student Learning Motivation variable obtained an average score of 14.78 which was also included in the high category. The results of data processing showed that there was an influence of Spirituality variables on Student Learning Motivation by 9.9%, meaning that changes in the Learning Motivation variable by 9.9% could be explained by changes in Spirituality variables. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh variabel spiritualitas terhadap motivasi belajar mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kuantitatif dengan menggunakan regresi linear sederhana. Teknik pengumpulan data menggunakan skala sikap Likert dengan empat pilihan jawaban yang dibagikan kepada 76 orang mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Spiritualitas memperoleh skor rata-rata sebesar 21.36 yang termasuk dalam kategori tinggi sementara variabel motivasi belajar mahasiswa memperoleh skor rata-rata sebesar 14.78 yang juga termasuk dalam kategori tinggi. Hasil pengolahan data menunjukkan ada korelasi variabel spiritualitas terhadap moti-vasi belajar mahasiswa sebesar 9.9%, artinya perubahan dalam variabel motivasi belajar sebesar 9.9% dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variabel spiritualitas.
Bimbingan Orang tua terhadap Perkembangan Iman Anak Menurut Kitab Amsal Anneke R. Regar
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.137

Abstract

Pada dasarnya orang tua memiliki peran penting dalam hal membina anak, sebab orang tua merupakan pendidik/pembimbing yang paling utama dalam kehidupan anak khususnya dalam perkembangan iman anak. Akan tetapi banyak orang tua yang menyerahkan anak mereka untuk dididik/dibimbing oleh guru atau bahkan oleh pembantu rumah tangga tanpa menyadari bahwa dalam keluarga adalah tempat yang paling pertama di mana anak menerima pendidikan. Pembinaan iman dimulai dari dalam keluarga karena tidak ada orang yang tidak dilahirkan dalam keluarga. Dalam dan dari keluarga anak mempelajari banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana mengatur nilai-nilai tertentu. Menurut kajian teori peneliti, kehidupan seorang anak untuk memperkembangkan imannya sangat dipengaruhi oleh pola didikan/bimbingan dari orang tua. Bimbingan yang diperoleh anak di Jemaat GPdI “El-Shaddai” Imandoa, Serui – Papua sangat berbeda-beda, tergantung karakter dan kepribadian orang tua yang membimbing mereka. Pertumbuhan iman merupakan proses untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ini dapat dilakukan dengan membina anak-anak dengan hal-hal yang dapat menumbuhkan iman seorang anak seperti rajin berdoa, membaca Alkitab dan mendorong anak untuk ikut Sekolah Minggu atau ke Gereja. Dengan menerapkan firman Tuhan khususnya Kitab Amsal sebagai dasar bimbingan kepada anak terhadap pertumbuhan imannya, kelak ketika anak menjadi dewasa mereka tidak akan menyimpang dari jalan yang benar. Untuk memperoleh hasil penelitian, maka Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang memperoleh data-data penelitian secara langsung di lapangan, metode dan teknik mengumpulkan data wawancara. Analisis Data mengunakan metode Milles dan Huberman. Metode keabsahan data yaitu kepercayaan (Credibility), keteralihan (Transferability), kebergantungan (Dependability), kepastian (Confirmability), diskusi dengan teman, member check; Teknik pemeriksaan keabsahan (Validitas) data dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/keajegan pengamatan, triangulasi, Pengecekan sejawat, pengecekan dengan data rekaman, analisis kasus negatif, pengecekan anggota. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa responden telah memberikan perhatian yang cukup untuk mendukung perkembangan iman anak menurut Kitab Amsal dengan berbagai usaha yang telah dilaksanakan dan permasalahan yang dihadapi, namun masih ada orang tua yang kurang memperhatikan perkembangan iman anak.

Page 1 of 2 | Total Record : 12