cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 3: Desember 2025" : 26 Documents clear
Literasi dan numerasi sebagai aktualisasi imago Dei: Refleksi teopedagogis guru pendidikan agama Kristen di sekolah dasar kota Ambon Tarumasely, Yowelna
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1470

Abstract

This article examines literacy and numeracy as means of actualizing the imago Dei among Christian Religious Education (CRE) teachers in Ambon City Elementary Schools. Employing a qualitative-phenomenological approach and theological-pedagogical (theopedagogical) analysis, this study explores how language capacity (literacy) and mathematical reasoning (numeracy) manifest God's image in humanity and require development through education. The reflective findings indicate that literacy represents the logos dimension of the imago Dei, enabling humans to communicate and interpret reality, whereas numeracy reflects the ordo dimension, empowering humans to comprehend the order of creation. CRE teachers in Ambon bear theological responsibility to integrate literacy and numeracy development into their teaching to facilitate the actualization of the imago Dei in students. This research contributes to the development of a theological-pedagogical framework that repositions CRE teachers' literacy-numeracy competence not merely as a matter of educational policy, but as a divine calling to educate the whole person.   Abstrak Artikel ini mengkaji literasi dan numerasi sebagai bentuk aktualisasi imago Dei dalam konteks kompetensi guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Sekolah Dasar Kota Ambon. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis dan analisis teologis-pedagogis (teopedagogis), penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kapasitas berbahasa (literasi) dan bernalar matematis (numerasi) merupakan manifestasi gambar Allah dalam diri manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Hasil refleksi menunjukkan bahwa literasi merepresentasikan dimensi logos dari imago Dei yang memungkinkan manusia berkomunikasi dan memaknai realitas, sementara numerasi mencerminkan dimensi ordo yang memampukan manusia memahami keteraturan ciptaan. Guru PAK memiliki tanggung jawab teologis untuk mengintegrasikan pengembangan literasi-numerasi dalam pembelajaran sebagai bagian dari tugas memfasilitasi aktualisasi imago Dei pada peserta didik. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka teologis-pedagogis yang mereposisi kompetensi literasi-numerasi guru PAK bukan sekadar tuntutan kebijakan pendidikan, melainkan sebagai panggilan ilahi dalam mendidik manusia seutuhnya.  
Pernikahan sebagai ruang liminal: Rekonstruksi teologis sakramen dalam perspektif studi ritual Suwito, Gregorius; Jon
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1487

Abstract

Artikel ini mengajukan rekonstruksi teologis terhadap sakramen pernikahan Kristen melalui perspektif ritual studies, khususnya konsep liminalitas Victor Turner. Teologi pernikahan konvensional cenderung beroperasi dalam logika biner statis yang mereduksi pernikahan menjadi status ontologis yang diperoleh sekali dan permanen. Melalui analisis konseptual terhadap struktur ritus peralihan (rites of passage), artikel ini berargumen bahwa pernikahan lebih tepat dipahami sebagai permanent liminality, yakni kondisi ambang berkelanjutan yang tidak pernah sepenuhnya terselesaikan ke dalam stabilitas struktural. Implikasi teologis dari paradigma ini mencakup reinterpretasi komunitas Turner sebagai analog dengan koinonia Perjanjian Baru, serta pengembangan konsep ritual maintenance sebagai praktik liturgis domestik yang memelihara dimensi sakramental pernikahan sepanjang kehidupan pasangan.  
Bersama bersaudara dalam kesatuan: Kerukunan sebagai kebajikan publik melalui pemaknaan paradigmatis-teologis Mazmur 133 Mandacan, Yehuda; Randa, Federans; Sinaga, Donna Crosnoy; Tuju, Rifky Serva
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1499

Abstract

This article constructs a Christian public theology of harmony (kerukunan) by employing Psalm 133 as a theological paradigm for understanding Indonesian cultural values within a biblical framework. While Indonesian rukun has been critiqued as promoting conflict avoidance that perpetuates structural injustices, this study argues for a theological reconstruction that retrieves its generative potential as a public virtue. Through historical-critical exegesis of Psalm 133, anthropological-theological analysis of the rukun concept, and comparative theological methodology placing both in critical correlation, this article demonstrates how the psalmist's vision of unity (yachad) provides a biblical-theological foundation for kerukunan that transcends passive tolerance. The analysis reveals that authentic rukun, informed by the covenantal and eschatological dimensions of Psalm 133, functions as active peacebuilding that honors both unity and justice. This research contributes to contextual theology by demonstrating how indigenous cultural values, when critically appropriated through biblical hermeneutics, can enrich both local Christian witness and international theological discourse.   Abstrak Artikel ini mengkonstruksi teologi publik Kristen tentang kerukunan dengan menggunakan Mazmur 133 sebagai paradigma teologis untuk memahami nilai budaya Indonesia dalam kerangka alkitabiah. Meskipun rukun Indonesia telah dikritik sebagai sikap menghindari konflik yang melanggengkan ketidakadilan struktural, penelitian ini berargumen untuk rekonstruksi teologis yang mengambil kembali potensi generatifnya sebagai kebajikan publik. Melalui eksegesis historis-kritis terhadap Mazmur 133, analisis antropologis-teologis terhadap konsep rukun, dan metodologi teologi komparatif yang menempatkan keduanya dalam korelasi kritis, artikel ini menunjukkan bagaimana visi kesatuan (yachad) sang pemazmur menyediakan fondasi biblis-teologis untuk kerukunan yang melampaui toleransi pasif. Analisis mengungkapkan bahwa rukun autentik, yang diinformasikan oleh dimensi perjanjian dan eskatologis Mazmur 133, berfungsi sebagai pembangunan perdamaian aktif yang menghormati kesatuan dan keadilan sekaligus. Artikel ini berkontribusi pada teologi kontekstual dengan mendemonstrasikan bagaimana nilai-nilai budaya indigenous, ketika diapropriasi secara kritis melalui hermeneutika biblika, dapat memperkaya kesaksian Kristen lokal dan diskursus teologis internasional.
Dekolonialisasi servant leadership: Karakter, kritik, dan rekonstruksi tata kelola eklesial dalam konteks indonesia Leobisa, Jonathan
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1500

Abstract

The "servant leadership" discourse has achieved quasi-dogmatic status in contemporary Christian leadership, yet rarely undergoes critical interrogation of its epistemological assumptions and political implications. This article argues that the uncritical adoption of servant leadership in Indonesian church governance perpetuates colonial patterns through the depoliticization of biblical servanthood, the domestication of service rhetoric that conceals untransformed hierarchical power relations, and the reproduction of Western governance models as universal templates while marginalizing indigenous communal wisdom. Through critical analysis, this study identifies four constitutive characteristics of servant leadership discourse: individualization, moralization, leader-centrism, and ahistoricity. The reconstructive section develops an alternative paradigm of "Participatory-Communal Governance" that integrates early church practices (Acts 2:42-47; 1 Corinthians 12:12-27) with Indonesian indigenous wisdom—gotong royong, tepo seliro, and musyawarah-mufakat—proposing a distributed authority based on charismata, facilitative rotation, and communal deliberation.   Abstrak Diskursus "servant leadership" telah mencapai status quasi-dogmatis dalam kepemimpinan Kristiani kontemporer, namun jarang mengalami interogasi kritis atas asumsi epistemologis dan implikasi politisnya. Artikel ini mengargumentasikan bahwa adopsi tanpa kritik terhadap servant leadership dalam tata kelola gereja Indonesia melanggengkan pola-pola kolonial melalui depolitisasi servanthood biblika, domestikasi retorika pelayanan yang menyembunyikan relasi kekuasaan hierarkis yang tidak tertransformasi, dan reproduksi model governansi Barat sebagai template universal dengan memarjinalkan kearifan komunal indigenous. Melalui analisis kritis, studi ini mengidentifikasi empat karakter konstitutif diskursus servant leadership: individualisasi, moralisasi, leader-sentrisme, dan ahistorisitas. Bagian rekonstruktif mengembangkan alternatif paradigma "Governansi Partisipatif-Komunal" yang mengintegrasikan praktik gereja mula-mula (Kis 2:42-47; 1 Kor 12:12-27) dengan kearifan indigenous Indonesia—gotong royong, tepo seliro, dan musyawarah-mufakat—mengusulkan distribusi otoritas berbasis charismata, rotasi fasilitatif, dan deliberasi komunal.
Kepemimpinan naratif-memori: Paradigma pembangunan jemaat melalui praktik anamnesis komunal Pairikas, Fenetson
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1501

Abstract

Artikel ini mengkonstruksi paradigma kepemimpinan naratif-memori sebagai alternatif terhadap model kepemimpinan gereja yang dominan bersifat visioner-futuristik dan manajerial-korporat. Melalui pendekatan kualitatif-konstruktif dengan metode korelasi kritis, penelitian ini mengintegrasikan teologi memori (Metz, Volf, Ricoeur), teori kepemimpinan naratif (Gardner, Hauerwas), dan liturgi formatif (Smith, Schmemann) untuk mengembangkan kerangka kepemimpinan yang berakar pada praktik anamnesis. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan naratif-memori menawarkan lima dimensi transformatif: pemimpin sebagai kurator memori komunal, liturgi sebagai teknologi pembentukan identitas, narasi sebagai medium integrasi pengalaman fragmentaris, memori sebagai sumber rekonsiliasi pasca-trauma, dan anamnesis sebagai kritik profetik. Dalam konteks Indonesia yang ditandai pluralitas dan berbagai luka sejarah, model ini menyediakan kerangka teologis dan praktis untuk pembangunan jemaat yang mengintegrasikan pengakuan atas penderitaan masa lalu dengan harapan eskatologis.
Tamu yang menjamu: Pembacaan subversif atas hospitalitas profetik dalam Lukas 11:37–45 Simamora, Ridwan
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1503

Abstract

This research offers a subversive reading of Luke 11:37–45 by in-terpreting the meal scene through the framework of prophetic hospitality. Hospitality is not treated merely as a social convention but as a theological space in which Jesus, invited as a guest, assumes a prophetic role that redefines purity, justice, and authentic faith. Employing a qualitative, library-based method with historical, narrative, and theological analyses, this study situates the pericope within the socio-religious context of first-century Judaism, in which table fellowship functioned as a marker of ritual purity and social boundaries. The analysis shows that Jesus’ refusal to perform ritual handwashing constitutes a deliberate act that disrupts perfor-mative piety and exposes the tension between external observance and ethical responsibility. By transforming the host’s table into a site of prophetic critique, the narrative unmasks institutional hypocrisy embedded in religious practice. This study contributes to Lukan scholarship by framing hospitality as a prophetic practice that calls for justice, integrity, and embodied faith, and offers critical implications for contemporary ecclesial life amid the challenges posed by performative religiosity in the digital era.   Abstrak Penelitian ini menawarkan pembacaan subversif terhadap Lukas 11:37-45 dengan menempatkan perikop jamuan makan dalam kerangka hospitalitas profetik. Hospitalitas dipahami bukan sekadar praktik sosial, melainkan ruang teologis di mana Yesus, meskipun hadir sebagai tamu, bertindak sebagai penjamu yang menafsir ulang makna kesucian, keadilan, dan iman yang otentik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis historis, naratif, dan teologis, dengan mempertimbangkan konteks sosio-religius Yudaisme abad pertama yang menjadikan meja makan sebagai penanda kemurnian ritual dan batas sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa penolakan Yesus terhadap ritual pencucian tangan merupakan tindakan hospitalitas yang bersifat subversif dan profetik, yang menyingkap ketegangan antara kesalehan lahiriah dan tanggung jawab etis. Narasi ini membongkar formalisme religius yang menutupi ketidakadilan struktural. Secara teologis, Injil Lukas menampilkan hospitalitas sebagai praksis profetik yang menuntut keadilan, belas kasih, dan integritas moral. Implikasinya, gereja masa kini dipanggil untuk menata ulang ibadah dan persekutuan sebagai ruang perjumpaan iman yang autentik dan bertanggung jawab secara etis di tengah budaya religius yang semakin performatif di era digital.
Geografi perjanjian: Tanah sebagai topos relasional dalam teologi naratif Alkitab Magdalena, Dewi
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1504

Abstract

This research examines the theology of the Promised Land by framing it as a relational theological concern rather than merely a geographical, historical, or symbolic theme. Departing from the predominance of descriptive and inductive approaches in biblical land studies, this research raises a theological question: for what purpose is the Promised Land theologized within the narrative of redemption? Employing a narrative-theological approach, the article traces the function of land within the redemptive structure of Scripture, from the call of Abraham, through its realization and disciplinary role in Israel’s history, to its transformation in light of New Testament eschatological fulfillment. The analysis indicates that land functions as a relational topos, a theological space in which the relationship between God, the covenant community, and creation is formed and held accountable. Accordingly, the Promised Land is not interpreted as a legitimation of exclusive possession, but as a medium of covenantal participation that entails obedience, ethical responsibility, and ecological awareness within the redemptive narrative.   Abstrak Penelitian ini mengkaji teologi Tanah Perjanjian dengan menempatkannya sebagai persoalan teologis relasional, bukan semata tema geografis, historis, atau simbolik. Bertolak dari kritik terhadap kecenderungan studi biblika yang bersifat deskriptif-induktif dalam membaca tema tanah, penelitian ini mengajukan pertanyaan teologis: untuk apa Tanah Perjanjian diteologikan dalam narasi penebusan. Dengan pendekatan naratif-teologis, artikel ini menelusuri fungsi tanah dalam struktur penebusan Alkitab, mulai dari panggilan Abraham, realisasi dan disiplin dalam sejarah Israel, hingga transformasi maknanya dalam terang penggenapan eskatologis Perjanjian Baru. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanah berfungsi sebagai topos relasional, yakni ruang teologis tempat relasi antara Allah, umat perjanjian, dan ciptaan dibentuk serta dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, Tanah Perjanjian tidak dipahami sebagai legitimasi kepemilikan eksklusif, melainkan sebagai sarana partisipasi perjanjian yang menuntut ketaatan, tanggung jawab etis, dan kesadaran ekologis dalam narasi penebusan.
Transformasi kepemimpinan Kristiani melalui dialog antarbudaya: Strategi membangun ketahanan komunitas di era posmodern Kasse, Simon
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1505

Abstract

The postmodern era presents complex challenges for Christian leadership in building resilient communities amid social fragmentation and cultural plurality. This research analyzes the transformation of Christian leadership through intercultural dialogue as a strategy for building community resilience. Using literature analysis methods with hermeneutic-phenomenological approaches, data were collected through comprehensive studies of theological, leadership, and cultural anthropology sources. The research produces a culturally responsive leadership model that integrates Christian values with intercultural sensitivity. Findings reveal that intercultural dialogue transforms leadership paradigms from monocultural approaches toward authentic inclusivity. Community resilience strategies are developed through seven dimensions: adaptive capacity, social cohesion, member empowerment, economic resilience, cultural preservation, network formation, and crisis preparedness. The research contribution is a theoretical framework that synergizes contextual theology with transformative leadership to address the realities of multicultural societies. Abstrak Era posmodern menghadirkan tantangan kompleks bagi kepemimpinan Kristiani dalam membangun komunitas yang resilien di tengah fragmentasi sosial dan pluralitas budaya. Penelitian ini menganalisis transformasi kepemimpinan Kristiani melalui dialog antarbudaya sebagai strategi membangun ketahanan komunitas. Menggunakan metode analisis literatur dengan pendekatan hermeneutik-fenomenologis, data dikumpulkan melalui studi komprehensif terhadap sumber-sumber teologi, kepemimpinan, dan antropologi budaya. Penelitian menghasilkan model kepemimpinan responsif budaya yang mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani dengan sensitivitas antarbudaya. Temuan menunjukkan bahwa dialog antarbudaya mentransformasi paradigma kepemimpinan dari pendekatan monokultur menuju inklusivitas yang autentik. Strategi ketahanan komunitas dikembangkan melalui tujuh dimensi: kapasitas adaptif, kohesi sosial, pemberdayaan anggota, resiliensi ekonomi, preservasi budaya, pembentukan jaringan, dan kesiapsiagaan krisis. Kontribusi penelitian adalah kerangka teoretis yang mensinergikan teologi kontekstual dengan kepemimpinan transformatif untuk menghadapi realitas masyarakat multikultural.
Theologia morae: Slow leadership sebagai spiritualitas kepemimpinan Kristiani transformatif di era akselerasi disruptif Ditakristi, Agiana Her Vinshu; Tafonao, Talizaro
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1536

Abstract

This article proposes Theologia Morae (Theology of Slowness) as a theological-spiritual framework for transformative Christian leadership in the era of disruptive acceleration. Drawing from Hartmut Rosa's social acceleration theory and Byung-Chul Han's critique of the burnout society, this study diagnoses acceleration as a spiritual pathology that negates the Sabbath principle inherent in creation. The theological construction of slow leadership is built upon four foundations: theologia crucis, kenosis, pneumatology, and already-not yet eschatology. Praxis dimensions include contemplation, Sabbath as prophetic resistance, temporal hospitality, and commitment to long-term formation. Contextualized within Indonesia, this framework resonates with local wisdom traditions such as alon-alon waton kelakon, tirakat, and musyawarah. Theologia Morae argues that slowness is not weakness but an essential theological virtue for sustainable and transformative leadership.   Abstrak Artikel ini mengusulkan Theologia Morae (Teologi Kelambatan) sebagai kerangka teologis-spiritual bagi kepemimpinan Kristiani transformatif di era akselerasi disruptif. Studi ini mendiagnosis akselerasi sebagai patologi spiritual yang menegasi prinsip Sabbath dalam tatanan ciptaan, dengan berpijak pada teori akselerasi sosial Hartmut Rosa dan kritik Byung-Chul Han terhadap masyarakat burnout. Konstruksi teologis slow leadership dibangun di atas empat fondasi: theologia crucis, kenosis, pneumatologi, dan eskatologi already-not yet. Dimensi praksis mencakup kontemplasi, Sabbath sebagai resistensi profetis, hospitalitas temporal, dan komitmen pada formasi jangka panjang. Dikontekstualisasikan dalam horizon Indonesia, kerangka ini beresonansi dengan tradisi kearifan lokal seperti alon-alon waton kelakon, tirakat, dan musyawarah. Theologia Morae berargumen bahwa kelambatan bukanlah kelemahan melainkan virtus teologis yang esensial bagi kepemimpinan yang berkelanjutan dan transformatif.  
Upah yang layak sebagai praktik eklesiologis: Sebuah konstruksi teologi kerja untuk gereja Indonesia kontemporer Santoso, Sugeng
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1550

Abstract

This article constructs a theology of fair wages as an Ecclesiologi-cal practice for contemporary Indonesian churches. Many church workers in Indonesia experience exploitation legitimized through distorted theologies of service, kenosis, and servant leadership. Using practical theology methodology with Richard Osmer's four-task framework, this research identifies theological, historical, and socio-cultural factors contributing to wage injustice within ecclesiastical institutions. The normative construction draws upon biblical foundations, including the prophetic tradition's critique of labor exploitation (Jer. 22:13; Mal. 3:5), Jesus' affirmation that workers deserve their wages (Luk. 10:7), and Paul instructions regarding compensation for church workers (1Tim. 5:17-18). Dogmatic foundations encompass imago Dei anthropology, symmetrical kenosis christology, and koinonia ecclesiology. This article argues that fair wages constitute an authentic ecclesiological practice that reflects the church's identity as the body of Christ and proposes transformative strategies at the theological, structural, and cultural levels.   Abstrak Artikel ini mengonstruksi teologi upah yang layak sebagai praktik eklesiologis bagi gereja Indonesia kontemporer. Banyak pekerja gereja di Indonesia mengalami eksploitasi yang dilegitimasi melalui distorsi teologi pelayanan, kenosis, dan kepemimpinan hamba. Dengan menggunakan metodologi teologi praktis dan kerangka empat tugas Richard Osmer, riset ini mengidentifikasi faktor teologis, historis, dan sosio-kultural yang berkontribusi pada ketidakadilan upah dalam institusi gerejawi. Konstruksi normatif bersumber dari fondasi biblikal meliputi kritik tradisi profetik terhadap eksploitasi pekerja (Yer. 22:13; Mal. 3:5), afirmasi Yesus bahwa pekerja layak mendapat upahnya (Luk. 10:7), dan instruksi Paulus tentang kompensasi pekerja gereja (1Tim. 5:17-18). Fondasi dogmatis mencakup antropologi imago Dei, kristologi kenosis simetris, dan eklesiologi koinonia. Artikel ini berargumen bahwa upah yang layak merupakan praktik eklesiologis autentik yang merefleksikan identitas gereja sebagai tubuh Kristus, serta mengusulkan strategi transformatif pada level teologis, struktural, dan kultural.

Page 2 of 3 | Total Record : 26