cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1: April 2026" : 3 Documents clear
Narasi Kristiani dalam syair Bugi’: Kajian terhadap simbolisme dan makna religius Ismail Ringgi; Silprilimian Mariu
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1303

Abstract

This study aims to uncover Christian narratives embedded in bu-gi' poetry, focusing on the symbolism and religious meanings in its texts. Bugi’s poetry is a traditional oral literary form of the Toraja people, rich with gospel values within cultural expression, yet it has not been theologically interpreted in Christian terms despite its practice in Christian celebratory ceremonies. This qualitative study was conducted in Sarira Village, Tana Toraja Regency, involving three purposively selected informants. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using a hermeneutical approach to interpret the religious symbols within the poetry. Findings reveal that Christian values such as love, respect, hospitality, proclamation of God's goodness, joy, and blessing are expressed through metaphors and narrative structures in the poetry. Natural symbols, including celestial bodies, water, and wind, represent aspects of Christian teaching that have undergone inculturation within the local Torajan tradition. These findings affirm that Bugi’s poetry serves as a space of encounter between Christian faith and local wisdom, contributing to interdisciplinary studies that link regional literature, contextual theology, and cultural anthropology in Indonesia.   Abstrak Penelitian ini bertujuan mengungkap narasi Kristiani dalam syair Bugi’, dengan fokus pada simbolisme dan makna religius yang terkandung dalam teks syair. Syair Bugi’ merupakan sastra lisan tradisional masyara-kat Toraja yang sarat nilai-nilai Injil dalam budaya, namun selama ini be-lum dimaknai secara Kristiani meskipun telah dipraktikkan dalam upaca-ra sukacita orang Kristen. Penelitian kualitatif ini dilaksanakan di Kelurahan Sarira, Kabupaten Tana Toraja, melibatkan tiga informan yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan simbol-simbol religius dalam syair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Kristiani seperti kasih, penghormatan, hospitalitas, proklamasi kebaikan Tuhan, sukacita, dan berkat hadir melalui metafora dan struktur naratif syair. Simbol-simbol alam seperti benda langit, air, dan angin merepresentasikan aspek ajaran Kristiani yang telah mengalami inkulturasi dengan tradisi lokal Toraja. Temuan ini menegaskan bahwa syair Bugi’ berfungsi sebagai ruang perjumpaan antara iman Kristiani dan kearifan lokal, sekaligus memberikan kontribusi bagi studi interdisipliner antara sastra daerah, teologi kontekstual, dan antropologi budaya di Indonesia.
Pedagogi sentuhan batin: Rekonstruksi kompetensi guru Sekolah Minggu melalui pendekatan afektif-kontemplatif Rifky Serva Tuju; Asep Herry Hernawan; Rusman
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1327

Abstract

Sunday school teachers occupy a foundational role in the spiritual formation of children within Christian communities. However, prevailing pedagogical frameworks remain predominantly cognitive and content-transmissive, neglecting the affective and contemplative dimensions essential to holistic spiritual formation. This article proposes "inner touch pedagogy" as a constructive theological framework for reconstructing Sunday school teacher competency. Inner touch pedagogy is defined as a theo-logically grounded disposition of interior receptivity, cultivated through contemplative practice, that enables teachers to be genuinely present to God, to self, and to learners. This narrative literature review and constructive theological reflection engage theological anthropology, contemplative spirituality, and educational philosophy to develop a reconstructed competency framework comprising four integrated dimensions: theological grounding in the imago Dei and affective anthropology; contemplative formation; affective integration; and pedagogical creativity. This reconstruction offers a theologically rooted and pedagogically viable model for contemporary Christian education ministries seeking to move beyond doctrinal transmission toward authentic spiritual formation.   Abstrak Guru Sekolah Minggu memainkan peran fundamental dalam pembentukan spiritual anak di komunitas Kristiani. Namun, kerangka pedagogis yang dominan masih bersifat kognitif dan transmisif, mengabaikan dimensi afektif dan kontemplatif yang esensial bagi pembentukan spiritualitas holistik. Artikel ini mengusulkan "pedagogi sentuhan batin" sebagai kerangka teologis konstruktif untuk merekonstruksi kompetensi guru Sekolah Minggu. Pedagogi sentuhan batin didefinisikan sebagai disposisi re-septivitas interior yang berlandaskan teologis, dikultivasi melalui praktik kontemplatif, yang memampukan guru untuk sungguh-sungguh hadir bagi Allah, bagi diri sendiri, dan bagi peserta didik. Melalui penelitian teologis kualitatif dengan kajian literatur naratif dan refleksi teologis konstruktif, studi ini mengembangkan kerangka kompetensi rekonstruktif yang mencakup empat dimensi terintegrasi: pendasaran teologis dalam imago Dei dan antropologi afektif, formasi kontemplatif, integrasi afektif, serta kreativitas pedagogis. Rekonstruksi ini menawarkan model yang berlandaskan teologis dan layak secara pedagogis bagi pelayanan pendidikan Kristiani kontemporer.
Theologia resonantiae: Teologi perjanjian sebagai fondasi rekonsiliasi dan spiritualitas ketahanan mental lansia di era digital dalam perspektif Perjanjian Lama Martina Novalina; Rinto Francius Sirait
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1529

Abstract

Indonesia's growing elderly population reveals a crisis of relational disconnection with direct consequences for the mental and spiritual health of older adults. This article proposes Theologia Resonantiae as a theo-logical framework that positions reconciliation as a spirituality of mental resilience for the elderly in the digital era. Employing a qualitative-reflec-tive approach grounded in systematic theological library research, the ar-gument unfolds in two layers: first, a critical appropriation of Hartmut Rosa's resonance theory as a sociological diagnosis of elderly alienation as a crisis of covenantal resonance; and second, a constructive retrieval of Old Testament covenant theology, specifically berith, hesed, shema, zikaron, sha-lom, and teshuvah, as the canonical grammar of divine-human resonance that both precedes and theologically undergirds Rosa's insights, while pro-viding the deepest theological foundation for the pastoral care of the el-derly in the digital age. Theologia Resonantiae enriches pastoral theology by positioning covenantal reconciliation as a contextual spirituality of mental resilience for the elderly, and recommends pastoral models grounded in relational presence, meaningful participation, and inclusive digital spaces rooted in the hesed of the God of Israel.   Abstrak Peningkatan populasi lansia di Indonesia mengungkapkan krisis keterputusan relasional yang berdampak langsung pada kesehatan mental dan spiritual lansia. Artikel ini mengusulkan Theologia Resonantiae sebagai kerangka teologis yang menempatkan rekonsiliasi sebagai spiritualitas ketahanan mental lansia di era digital. Dengan pendekatan kualitatif-reflektif berbasis studi pustaka teologis sistematis, argumen dikembangkan dalam dua lapisan: pertama, apropriasi kritis teori resonansi Hartmut Rosa seba-gai diagnosis sosiologis atas alienasi lansia sebagai krisis resonansi perjan-jian; dan kedua, penggalian teologi perjanjian dalam Perjanjian Lama, khu-susnya berith, hesed, shema, zikaron, shalom, dan teshuvah, sebagai tata bahasa kanonik resonansi ilahi-manusiawi yang mendahului dan secara teologis menopang wawasan Rosa, sekaligus menyediakan fondasi teologis terda-lam bagi pastoral lansia di era digital. Theologia Resonantiae memperkaya teologi pastoral dengan menempatkan rekonsiliasi perjanjian sebagai spiritualitas ketahanan mental yang kontekstual bagi lansia dan merekomendasikan model pastoral berbasis kehadiran relasional, partisipasi bermakna, dan ruang digital inklusif yang berakar pada hesed Allah Israel.

Page 1 of 1 | Total Record : 3