Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK), diterbitkan oleh Program Studi Perekam Medis & Informasi Kesehatan UNIVET. Terbit 2 kali dalam 1 tahun, yaitu pada bulan Juni dan November. Berisi naskah ilmiah berupa hasil penelitian, studi literatur/ artikel review, editorial dan makalah ilmiah/ paperdi bidang Ilmu Rekam Medis, Manajemen Informasi Kesehatan dan Administrasi/ Kebijakan di Bidang Kesehatan.
Articles
274 Documents
GAMBARAN PENYEBAB TIDAK DITEMUKAN REKAM MEDIS RAWAT JALAN DIBAGIAN PENYIMPANAN RSUD BUDHI ASIH
Azidah, Mega Puspita;
Muniroh, Muniroh;
Putra, Daniel Happy;
Widjaja, Lily
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v4i2.1853
Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen mengenai identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Rekam medis harus disimpan karena berguna untuk perawatan pasien selanjutnya dan berpengaruh dalam kelancaran dan kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penyebab tidak ditemukannya rekam medis untuk mengetahui penyebab tidak ditemukannya rekam medis rawat jalan di bagian penyimpanan RSUD Budhi Asih dengan 5 unsur manajemen yaitu man, money, method, material, machine. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Kejadian misfiled yang terjadi sebanyak 0,34%. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rekam medis salah tempat dan tidak ditemukan (misfiled). Dari hasil penelitian penyebab tidak ditemukannya rekam medis dari faktor manusia, terdapat petugas bukan dari D3 RMIK dan tidak mengikuti pelatihan. Faktor uang, anggaran pelatihan yang belum tentu waktunya. Faktor metode sudah memiliki SOP. Faktor bahan, penggunaan map yang tebal namun jika sedikit sobek hanya diperbaiki. kurangnya rak karena keterbatasan ruang, petugas ada yang tidak mengisi buku ekspedisi, Faktor mesin/alat tracer/outguides petugas terkadang lupa/salah penempatannya, masih terdapat map rekam medis lama tidak menggunakan kode warna.
TINJAUAN KEBUTUHAN KODER BERDASARKAN BEBAN KERJA UNIT REKAM MEDIS DI RS IMANUEL BANDAR LAMPUNG
Bangun, Gabriella Eviana;
Muniroh, Muniroh;
Putra, Daniel Happy;
Widjaja, Lily
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v4i2.1854
RS Imanuel merupakan salah satu rumah sakit tipe B di kota Bandar Lampung. Rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap di RS Imanuel setiap harinya adalah 217 dan 28 pasien. Dalam penyelenggaraan kegiatan koding di RS Imanuel diketahui jumlah koder yang ada adalah 1 (satu) orang. Seiring bertambahnya jumlah pasien setiap tahunnya maka beban kerja pada setiap bagian juga akan terus meningkat yang menyebabkan perlunya penyesuaian antara jumlah tenaga dengan beban kerja yang ada khususnya pada bagian koding di RS Imanuel supaya pelayanan lainnya tidak terhambat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jumlah kebutuhan tenaga bagian koding berdasarkan beban kerja di RS Imanuel. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan metode perhitungan Analisis Beban Kerja Kesehatan(ABK-Kes). Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara kepada Kepala Instalasi Rekam Medis dan tenaga rekam medis yang melakukan kegiatan koding. Dari hasil penelitian diketahui waktu kerja tersedia (WKT) koder adalah 1.400 jam/tahun atau 84.000 menit/tahun. Rata-rata lama waktu kegiatan koding rawat jalan dan rawat inap adalah 0,84 menit dan 4,69 menit. Standar beban kerja (SBK) koder untuk rawat jalan dan rawat inap adalah 100.000 dan 17.910 rekam medis/tahun. Jumlah kebutuhan koder sebesar 2 (dua) orang sedangkan jumlah yang ada saat ini adalah 1 (satu) orang, maka perlu ditambah 1 (satu) orang.
Analisis Spasial Tuberkulosis 2018 – 2020 : Kabupaten Magelang, Indonesia
Amalia, Ana Ichlasul
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v4i2.1915
Tuberkulosis sebagai penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Menurut WHO Indonesia merupakan negara dengan kasus tuberkulosis tertinggi kedua setelah India. Kasus Tuberkulosis di Kabupaten Magelang masih merupakan kasus yang cenderung fluktuatif. Analisis spasial merupakan suatu analisis geografis mengenai data penyakit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan penyakit menular tuberkulosis secara spasial di Kabupaten Magelang Jawa Tengah Tahun 2018-2020. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan desain penelitian deskriptif. Instrumen berupa aplikasi Quantum GIS 3.14.0 dalam proses pembuatan peta. Subjek pada penelitian ini menemukan 1.608 penderita kasus tuberkulosis dari tahun 2018 – 2020. Data yang digunakan yaitu data sekunder kasus tuberkulosis Kabupaten Magelang tahun 2018 – 2020 berdasarkan kecamatan yang terdiri dari 21 kecamatan. Hasil penelitian menunujukkan bahwa tahun 2018 – 2020 jumlah kasus tertinggi di Kecamatan Secang dan Kecamatan Grabag. Pada tahun 2020 terjadi penurunan kasus di kecamatan Secang. Berbeda dengan Kecamatan Grabag yang selalu mengalami peningkatan kasus. Gambaran spasial TBC berdasarkan wilayah kecamatan saling berdekatan dan berdasarkan kontak erat penderita yang dekat. Dapat memastikan bahwa populasi penduduk, wilayah yang berdekatan dan kontak erat dengan jumlah kasus tubberkulosis di Kabupaten Magelang.
KETIDAKTEPATAN KODE DIAGNOSA KASUS NEOPLASMA MENGGUNAKAN ICD-10 DI RS SANTA ELISABETH MEDAN
Simbolon, Pomarida
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v4i2.1918
Medical record is a file that contains notes and documents about patient identity, examination, treatment, actions and other services that have been provided to patients and documented in the disease classification coding system. One of the disease codifications is neoplasm, which is a grouping of diseases into a group of similar disease code numbers according to ICD-10. Neoplasm cases are one of the most common diagnoses at Santa Elisabeth Hospital, Medan. The aim of the study was to determine the diagnosis coding for neoplasms at Santa Elisabeth Hospital, Medan. Descriptive research design. Data collection is done by observation. The number of samples used were 34 documents with simple random sampling technique. The research was carried out in July 2021. Data analysis was carried out descriptively. The results obtained that the completeness of the morphological code for the diagnosis of neoplasms in the inpatient medical record documents carried out at the Santa Elisabeth Hospital, namely 28 documents (82.4%) were complete, and 4 documents (17.6%) were incomplete. The accuracy of the topographic code for the diagnosis of neoplasms was complete with 31 documents (73.5%) and 3 documents incomplete (14.7%). The factor that causes the inaccuracy of coding is that it is difficult for the coding officer to read the doctor's writing, so it is necessary to train coding officers.
ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN REKAM MEDIS GAWAT DARURAT BERDASARKAN ELEMEN PENILAIAN MIRM 13.1.1 SNARS EDISI 1 DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH SELOGIRI TAHUN 2020
Zakiyah, Erna -
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v4i2.1998
Berdasarkan survei masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian rekam medis gawat darurat di RS Muhammadiyah Selogiri yang tidak sesuai dengan ketentuan akreditasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis kelengkapan pengisian rekam medis gawat darurat berdasarkan elemen penilaian MIRM 13.1.1 SNARS Edisi 1 di Rumah Sakit Muhammadiyah Selogiri tahun 2020. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan sampel 99 dan total populasi 6723 rekam medis gawat darurat tahun 2020. Metode penelitian wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan kelengkapan review identifikasi 100%, Kelengkapan review autentifikasi 81,8% , Kelengkapan review pencatatan 67,7% dan pemenuhan elemen 1, 2 dan 4 terpenuhi sebagian dan elemen 3 terpenuhi lengkap berdasarkan standar MIRM 13.1.1. Pengisian formulir gawat darurat berdasarkan MIRM 13.1.1 SNARS di Rumah Sakit Muhammadiyah Selogiri masih belum lengkap.
AKURASI KODE ICD-10 KASUS PEMERIKSAAN KEHAMILAN PADA REKAM MEDIS ELEKTRONIK
Andriani, Rika
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v4i2.2015
Akurasi kode klinis penting untuk evaluasi kualitas layanan kesehatan, penagihan klaim biaya, penelitian, dan pelaporan. Kode yang akurat akan menghasilkan data dan informasi yang berkualitas. Pemeriksaan kehamilan merupakan kondisi terbanyak yang ditangani di Klinik Obstetri dan Ginekologi dan ditemukan 60% ketidakakuratan kode. Penelitian bertujuan untuk menganalisis akurasi kode pemeriksaan kehamilan berdasarkan ICD-10. Penelitian ini merupakan mixed method sequential explanatory (kuantitatif-kualitatif) dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berupa objek terdiri dari 138 data pasien yang terpilih menggunakan teknik total sampling. Subyek penelitian 1 orang coder dan 1 orang dokter yang terpilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan wawancara. Instrumen penelitian menggunakan lembar studi dokumentasi dan pedoman wawancara. Analisis data kuantitatif menggunakan analisis univariat dan analisis data kualitatif menggunakan content analysis. Akurasi kode pemeriksaan kehamilan pada kategori akurat sampai 3 digit sebesar 22,4% dan tidak akurat sebesar 77,6%. Ketidakakuratan kode pemeriksaan kehamilan disebabkan oleh ketidaksesuaian kualifikasi SDM, pemilihan diagnosis dan kode hanya berdasarkan kondisi saat pasien melakukan pemeriksaan, dan kode diagnosis pada database rekam medis elektronik belum lengkap. Untuk meningkatkan akurasi kode perlu dilakukan pelatihan ICD-10 untuk dokter, dokter atau bidan melakukan review kondisi dan riwayat lain pasien, audit kode secara berkala, dan melengkapi database pada rekam medis elektronik sesuai ICD-10.
GAMBARAN KELENGKAPAN PENULISAN NAMA PASIEN DALAM REKAM MEDIS DI INSTITUSI PELAYANAN KESEHATAN (LITERATURE REVIEW)
Pirwandini, Vira
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v4i2.2038
Rekam medis ialah kumpulan berkas atau kesan dari sesuatu yang diucapkan atau dituliskan mengenai keadaan pasien dari masa ke masa, yang sifatnya rahasia. Rekam medis harus menampung data medis yang menggambarkan dengan rinci semua aspek dari asuhan pasien yang terjadi. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Kelengkapan pengisian rekam medis 24 jam setelah selesai pelayanan yaitu 100%. Ketidaklengkapan pengisian rekam medis menggambarkan pelayanan kesehatan yang diberikan dan mutu pelayanan rekam medis. Dokumen rekam medis yang tidak lengkap akan menyebabkan petugas kesehatan kesulitan dalam mengenali riwayat penyakit pasien dan klaim kepada pihak asuransi. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui persentase, faktor ketidaklengkapan penulisan nama pasien pada rekam medis pasien dan mengetahui strategi untuk mencapai kelengkapannya. Penelitian ini menggunakan desain literature review. Berdasarkan gambaran literature review yang telah dilakukan terhadap 21 jurnal didapatkan ketidaklengkapan pengisian nama pasien pada rekam medis pasien. Berdasarkan persentase ketidaklengkapan penulisan nama pasien pada rekam medis pasien dari 20 jurnal yang dimasukan dalam literature review terdapat 17 jurnal dengan kategori sangat baik. Faktor ketidaklengkapan yang terbanyak disebabkan karena faktor man yaitu keterbatasan waktu, sedangkan pasien yang begitu banyak sehingga pengisian pada item nama tidak terlengkapi. Adanya SPO, sebagai satu diantara strategi yang diberlakukan untuk kelengkapan pengisian formulir rekam medis.Kata kunci: Penamaan, Faktor Ketidaklengkapan, Strategi Kelengkapan
Tinjauan Pelaksanaan Retensi Rekam Medis Rawat Jalan di Puskesmas Kecamatan Kembangan
Syafitri, Umi;
-, Muniroh;
Dewi, Deasy Rosmala;
Rumana, Nanda Aula
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v5i1.2067
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama. Dalam melaksanakan tugasnya, puskesmas berwenang untuk melaksanakan pencatatan dan pelaporan kesehatan pasien dan untuk mengevaluasi kualitas dan ruang lingkup kesehatan jasa. Pencatatan dan pelaporan pasien dapat dilihat dari berkas rekam medis pasien. Rekam medis di fasilitas kesehatan non-rumah sakit harus disimpan sekurang-kurang selama dua tahun dari terakhir tanggal kunjungan berobat. Setelah batas waktu penyimpanan terlampaui, rekam medis dapat dimusnahkan. Puskesmas Kecamatan Kembangan, merupakan salah satu puskesmas yang berada di wilayah kembangan utara. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala rekam medis, sehingga saat ini Puskesmas Kecamatan Kembangan terjadi penumpukan rekam medis inaktif pada rak penyimpanan aktif. Hal ini kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Puskesmas Kecamatan Kembangan dan tidak memiliki jadwal retensi
Tinjauan Ketepatan Pengkodean Penyakit pada Rekam Medis Pasien Rawat Inap Peserta BPJS di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021
Simorangkir, Lasmaria;
Fannya, Puteri;
Indawati, Laela;
Putra, Daniel Happy
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v5i1.2098
ABSTRACTThe accuracy of disease coding is very important for hospitals because it facilitates the presentation of information data and as a determinant of treatment costs. Disease coding was performed by a coder with the ICD-10 and ICD-9-CM manuals. The purpose of this study was to determine the percentage accuracy of coding for inpatients BPJS participants at the Air Force Hospital dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021. This study used a descriptive method with a quantitative analysis approach, with 90 samples taken using a simple random sampling technique. From the 90 samples, it was found that the accuracy of coding for the disease of inpatients BPJS participants at the Air Force Hospital dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021 as many as 65 (72.2%) and 25 (27.8%) are incorrect. In identifying obstacles in the implementation of coding, the researchers used the 5M element. The inaccuracy of coding disease based on the Man element is due to the lack of officer resources and the coder officers who are less thorough. From the Material element, the doctor's writing was not legible and the medical record file was late in returning from the treatment room. And from the Method element because the SPO regarding the use of the 5th character does not yet exist and the coding officer tends to use rote. Keyword : the accuracy of disease coding, BPJS, element 5MABSTRAKKetepatan pengkodean penyakit sangat penting bagi rumah sakit karena memudahkan dalam penyajian data informasi dan sebagai penentu biaya perawatan. Pengkodean penyakit dilakukan oleh koder dengan buku pedoman ICD-10 dan ICD-9-CM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase ketepatan pengkodean penyakit pasien rawat inap peserta BPJS di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan analisa kuantitatif, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 90 sampel. Dari 90 sampel tersebut didapatkan hasil bahwa ketepatan pengkodean penyakit pasien rawat inap peserta BPJS di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021 sebanyak 65 (72,2%) dan 25 (27,8%) tidak tepat. Dalam mengidentifikasi hambatan dalam pelaksanaan pengkodean, peneliti menggunakan unsur 5M. Ketidaktepatan pengkodean penyakit berdasarkan unsur Man karena kurangnya SDM PMIK dan petugas koder yang kurang teliti. Dari unsur Material karena tulisan dokter yang tidak terbaca dan terlambatnya pengembalian berkas rekam medis dari ruang perawatan. Dan dari unsur Method karena SPO tentang penggunaan karakter ke-5 belum ada dan petugas koding yang cenderung menggunakan hafalan. Kata Kunci : Ketepatan pengkodean penyakit, BPJS, unsur 5M
TINJAUAN KEBUTUHAN RAK PENYIMPANAN REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. HASSAN TOTO BOGOR UNTUK 5 TAHUN KEDEPAN
Angelina, Noviana Dian;
Yulia, Noor;
Viatiningsih, Wiwik;
Dewi, Deasy Rosmala
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32585/jmiak.v5i1.2111
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Manajemen pelayanan rekam medis dan informasi kesehatan adalah kegiatan menjaga, memelihara dan melayani rekam medis baik secara manual maupun elektronik sampai menyajikan informasi kesehatan di rumah sakit, praktik dokter klinik, asuransi kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan dan lainnya yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan menjaga rekaman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan rak penyimpanan rekam medis menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan menghitung rak penyimpanan dengan rekam medis yang ada, menghitung luas ruangan untuk memperkirakan kebutuhan 5 tahun kedepan. Yang bertujuan untuk mengidentifikasi Standar Prosedur Operasional (SPO) penyimpanan berkas rekam medis di rumah sakit, menghitung kebutuhan rak penyimpanan rekam medis 5 tahun yang akan datang, menghitung kebutuhan luas ruang penyimpanan rekam medis 5 tahun kedepan, dan mengidentifikasi faktor – faktor masalah yang ada pada ruang penyimpanan rekam medis. Faktor masalah yang ada di ruang penyimpanan yaitu kurangnya rak penyimpanan rekam medis, tinggi rak yang tidak terjangkau oleh petugas rekam medis, tidak adanya tracer, retensi yang tidak rutin dilakukan, perlu penambahan petugas rekam medis dengan lulusan D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan dan rak penyimpanan dapat diganti dengan rak roll o’ pack.