cover
Contact Name
Julia Pertiwi
Contact Email
jmiakrecmed@gmail.com
Phone
+6282310902010
Journal Mail Official
jmiakrecmed@gmail.com
Editorial Address
“Program Studi Rekam Medis & Informasi Kesehatan” Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Veteran Bangun Nusantara Jl. Letjend. Sujono Humardani No. 01, Jombor, Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Surakarta - Jawa Tengah 57521. Telp (0271) 593156, Fax (0271) 591065,
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan
ISSN : 26216612     EISSN : 26226944     DOI : https://doi.org/10.32585/jmiak.v1i1.119
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK), diterbitkan oleh Program Studi Perekam Medis & Informasi Kesehatan UNIVET. Terbit 2 kali dalam 1 tahun, yaitu pada bulan Juni dan November. Berisi naskah ilmiah berupa hasil penelitian, studi literatur/ artikel review, editorial dan makalah ilmiah/ paperdi bidang Ilmu Rekam Medis, Manajemen Informasi Kesehatan dan Administrasi/ Kebijakan di Bidang Kesehatan.
Articles 274 Documents
ANALISIS KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS RAWAT JALAN DAN IGD (INSTALASI GAWAT DARURAT) DI RSUD KOTA YOGYAKARTA Fajarwati, Rafika; Ariningtyas, Ristiana Eka; Prahesti, Ratna
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i1.2507

Abstract

Background: If the diagnosis is not coded accurately automatically, the resulting data will have a low level of correctness of information. Yogyakarta City Hospital in outpatient and ER services uses RME but in its application until now there has not been a SOP related to coding with RME, the implementation of classification and diagnosis coding using SIMRS based on the ICD-10 desktop version 2010, but there are some officers who use the ICD-10 online version 2010 and some are using ICD-10 desktop version 2015.Objective: To determine the accuracy of outpatient and emergency diagnosis codes based on the 2010 desktop version of the ICD-10 at the Yogyakarta City Hospital.Method: This study used a quantitative descriptive method using a cross sectional approach. The sample taken was part of the outpatient RME and the emergency room at the Yogyakarta City Hospital in the fourth quarter, namely in October -December 2021 which was taken randomly (random sampling) with the Slovin formula.Result: Implementation of disease coding and indexing based on SOP using ICD-10. The coding of outpatient and ER diagnoses at the Yogyakarta City Hospital was in accordance with the observation guidelines. Writing symbols and abbreviations was guided by the SKD of the Yogyakarta City Hospital. A total of 82% (BRME) of diagnosis codes were filled in by coding officers and 18% (BRME) were not filled in. As many as 51% were coded accurately and 49% were not accurate.Conclusion: Implementation of disease coding and indexing is guided by SOPs. The coding was carried out in accordance with the observation guidelines. The writing of symbols and abbreviations was guided by the SKD of the Yogyakarta City Hospital. From the analysis results, more than 50%  BRME  is complete and accurate.Keyword: RME, Coding, ICD-10, Completeness, Accuracy.
TINJAUAN PROSEDUR PEMBERIAN NOMOR REKAM MEDIS PASIEN DI PUSKESMAS X KOTA KEDIRI Susilowati, Indah
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i1.2509

Abstract

The recording of medical record documents at Puskesmas X Kediri City begins with giving a number at the Outpatient Registration Place (TPPRJ) for new patients who register for the first time. Appropriate numbering of medical records helps the process of searching, storing and retrieving medical record documents. The impact of the numbering is not in accordance with the procedure, there will be repetition of the patient's medical record number so that it can eliminate the continuity of the health history and endanger patient safety. The purpose of this study was to determine the procedure for numbering medical records at Puskesmas X, Kediri City. The research method is a qualitative and descriptive approach, using a population and sample of officers at the TPPRJ and standard operating procedures (SOP). The sampling technique was purposive non-random sampling, with officer interviews and observations of the SOP implementation using a checklist sheet. As a result, the medical record numbering system uses the Unit Numbering System. There is a family code, area code, and medical record number in the document for each patient. Providing a new patient's medical record number must match the identity of the name, address and who is the head of the family, and view the Main Patient Index Data on the Computer. The order of medical record numbers is adjusted according to the New Number Control Book. In conclusion, the numbering of medical records at Puskesmas X Kediri has been running well, effectively and in accordance with applicable regulations. The recommended improvement is the creation of a special SOP related to the medical record numbering system, for orderly administration of information accuracy
ANALISIS PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PUSKESMAS DI PUSKESMAS PANGGANG II GUNUNG KIDUL Sevtiyani, Imaniar; Putriningrum, Eva
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i2.2511

Abstract

Perkembangan teknologi dan Informasi telah merambah kesemua bidang termasuk bidang kesehatan. Puskesmas sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan primer ikut memanfaatkan perkembangan teknolgi dan informasi melalui implementasi SIMPUS. Pemanfaatan SIMPUS bertujuan untuk memudahkan tugas dan pekerjaan pengguna khususnya dalam pelayanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem informasi puskesmas (SIMPUS) di Puskesmas Panggang II Gunung Kidul untuk mengetahui optimalisasi dan efektivitas pemanfaatan SIMPUS serta mengetahui hambatan dan kendala implementasi SIMPUS agar sesuai dengan tugas dan pekerjaan pengguna SIMPUS di Puskesmas Panggang II Gunung Kidul.Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif observasional dengan pendekatan fenomenologi. Instrumen penelitian adalah pedoman wawancara dan lembar observasi, teknik pengambilan data dilakukan dengan wawancara kepada informan penelitian yang berjumlah 3 orang ditentukan secara purposive dan dengan melakukan observasi pada SIMPUS yang ada di Puskesmas Panggang II Gunung Kidul. Data hasil penelitian kemudian dianalisis dan ditarik kesimpulan.Hasil penelitian ini adalah SIMPUS Puskesmas Panggang II mudah digunakan dan dipahami oleh pengguna, SIMPUS Puskesmas Panggang II bermanfaat dalam membantu tugas dan pekerjaan pengguna, SIMPUS telah termanfaatkan secara optimal oleh pengguna. Secara keseluruhan SIMPUS Puskesmas Panggang II sudah sesuai dengan tugas dan kinerja pengguna hanya saja penggunaan SIMPUS di Puskesmas Panggang II belum menyeluruh karena hanya tim pengolah data saja yang masih menggunakan dan memanfaatkan SIMPUS tersebut untuk membantu tugas dan pekerjaan mereka.
ANALISIS PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PUSKESMAS DI PUSKESMAS PANGGANG II GUNUNG KIDUL Sevtiyani, Imaniar; Putriningrum, Eva
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i1.2512

Abstract

Perkembangan teknologi dan Informasi telah merambah kesemua bidang termasuk bidang kesehatan. Puskesmas sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan primer ikut memanfaatkan perkembangan teknolgi dan informasi melalui implementasi SIMPUS. Pemanfaatan SIMPUS bertujuan untuk memudahkan tugas dan pekerjaan pengguna khususnya dalam pelayanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem informasi puskesmas (SIMPUS) di Puskesmas Panggang II Gunung Kidul untuk mengetahui optimalisasi dan efektivitas pemanfaatan SIMPUS serta mengetahui hambatan dan kendala implementasi SIMPUS agar sesuai dengan tugas dan pekerjaan pengguna SIMPUS di Puskesmas Panggang II Gunung Kidul.Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif observasional dengan pendekatan fenomenologi. Instrumen penelitian adalah pedoman wawancara dan lembar observasi, teknik pengambilan data dilakukan dengan wawancara kepada informan penelitian yang berjumlah 3 orang ditentukan secara purposive dan dengan melakukan observasi pada SIMPUS yang ada di Puskesmas Panggang II Gunung Kidul. Data hasil penelitian kemudian dianalisis dan ditarik kesimpulan.Hasil penelitian ini adalah SIMPUS Puskesmas Panggang II mudah digunakan dan dipahami oleh pengguna, SIMPUS Puskesmas Panggang II bermanfaat dalam membantu tugas dan pekerjaan pengguna, SIMPUS telah termanfaatkan secara optimal oleh pengguna. Secara keseluruhan SIMPUS Puskesmas Panggang II sudah sesuai dengan tugas dan kinerja pengguna hanya saja penggunaan SIMPUS di Puskesmas Panggang II belum menyeluruh karena hanya tim pengolah data saja yang masih menggunakan dan memanfaatkan SIMPUS tersebut untuk membantu tugas dan pekerjaan mereka.
Faktor Faktor yang Mempengaruhi keakuratan data sensus harian rawat inap pada SIMRS di rumah sakit rafflesia bengkulu tahun 2022 Lisnani, Tirta Rahayu
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i2.2710

Abstract

ABSTRACTSIMRS is a strategy to achieve the goals of hospital administration. Based on the initial survey in the Medical Record Room of the Rafflesia Hospital Bengkulu, there were 231 manual patient data, while electronically (SIMRS) there were 441 patients, the data gap could be caused by several factors, including the officer inputting patient data more than once with the same patient, resulting in the occurrence of duplication in inputting patient data. The purpose of this study was to determine the factors that affect the accuracy of the daily census data inpatients at SIMRS. The method used is observational with a descriptive design. The subjects in this study were 6 SIMRS officers, the object in this study was 4 computer equipment. The results showed that half (50%) of officers (Knowledge) of using SIMRS were lacking, almost half (33%) were sufficient, and a small portion (17%) good. While the SIMRS mechanism (Method) is mostly (67%) not suitable, almost half (33%) are suitable. And completeness (Machine) mostly (75%) complete, almost half (25%) incomplete. Suggestion It is recommended that medical record officers attend training on the use and procedures for calculating inpatient daily census data correctly.Keyword: SIMRS, Rafflesia, Officers, Medical Records, Inpatient Daily Census. ABSTRAKSIMRS merupakan strategi untuk mencapai tujuan penyelenggaraan rumah sakit. Berdasarkan survey awal di ruang Rekam Medis Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu terdapat data pasien manual sebanyak 231 pasien sedangkan secara Elektronik (SIMRS) terdapat 441 pasien kesenjangan data tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya petugas menginput data pasien lebih dari satu kali dengan pasien yang sama sehingga terjadinya duplikasi dalam penginputan data pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keakuratan data sensus harian rawat inap pada SIMRS. Metode yang dilakukan adalah observasional dengan rancangan deskriftif. Subjek dalam penelitian ini adalah petugas SIMRS berjumlah 6 orang, Objek dalam penelitian ini adalah perangkat komputer berjumlah 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (Pengetahuan) petugas dalam menggunakan SIMRS setengahnya (50 %) kurang, hampir setengahnya (33%) cukup, dan sebagian kecil (17%) baik. Sedangkan mekanisme (Methode) SIMRS sebagian besar (67%) tidak sesuai, hampir setengahnya (33%) sesuai. Dan kelengkapan (Machine) sebagian besar (75%) lengkap, hampir  setengah (25%) tidak lengkap. Saran Sebaiknya petugas rekam medis mengikuti pelatihan penggunaan dan tata cara perhitungan data sensus harian rawat inap dengan benar.Kata kunci: SIMRS, Rekam Medis, Sensus, Rawat Inap.
Analisis Kelengkapan Pengisian Berkas Rekam Medis Halid, Musparlin
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2023): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v6i1.2712

Abstract

Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan tentang jenis dan bentuk pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak di peroleh setiap warga negara secara minimal, dan salah satu jenis yang di atur adalah pelayanan di bagian rekam medis. Terdapat 4 indikator penilaian yang dinilai dalam pelayanan di bagian rekam medis yaitu kelengkapan pengisian rekam medis 24 jam setelah selesai pelayanan, kelengkapan informed consent setelah mendapatkan informasi yang jelas, waktu penyediaan dokumen rekam medis rawat jalan, dan waktu penyediaan dokumen rekam medis rawat inap. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran SMP rekam medis di RSUD Provinsi NTB. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 87 berkas rekam medis dari masing-masing indikator rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan di bagian rekam medis RSUD Provinsi NTB belum sesuai dengan SPM. Dengan rincian kelengkapan pengisian rekam medis 24 jam setelah selesai pelayanan yang tidak terisi lengkap yaitu identitas pasien 0%, tindakan dan hasil pemeriksaan 0%, paraf dokter/perawat 62%. Kelengkapan informed consent setelah mendapatkan informasi yang jelas yang tidak terisi lengkap yaitu identitas pasien 0%, pemberian informasi 76%, jenis informasi 76%, tanda tangan dokter 76%, serta tanda tangan saksi 1 dan 2 76%. Perlu adanya sosialisasi kepada dokter dan tenaga medis lainnya untuk melengkapi dokumen rekam medis secara lengkap dan benar sehingga dapat memenuhi SPM yang ada.
Gambaran Sistem Perawatan Kesehatan Untuk Lansia Berbasis Informasi Teknologi (Literature Review) Komalasari, Rita
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i2.2724

Abstract

Assisting technology for the elderly is the focus of a literature review that will help support elderly health care. This paper discusses the potential of aid technology in general to offer a cost-effective way to aid health care for the elderly; no systematic research on the cost of this technology for this population has been conducted. Throughout the evaluation process, evidence of significance was considered. This paper describes the methods and conclusions of the literature review. In conclusion of this paper, the elderly will have better access to the health care system.
ANALISIS KESESUAIAN DESKRIPSI KERJA PETUGAS UNIT KERJA REKAM MEDIS DI PUSKESMAS KASIHAN I Insani, Tria Harsiwi Nurul
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i2.2743

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Deskripsi Kerja adalah pedoman bagi seseorang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan jabatannya. Beban kerja tinggi akan mengakibatkan produktivitas kerja semakin rendah dan mempengaruhi mutu pelayanan. Tujuan :Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian deskripsi kerja pada petugas unit kerja rekam medis di Puskesmas Kasihan I. Metode : Jenis penelitian pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Hasil Penelitian : Petugas rekam medis di Puskesmas Kasihan I sudah melakukan pekerjaan sesuai dengan deskripsi kerja dan sesuai dengan kualifikasi serta standar kompetensinya, sehingga proses pelaksanaan pelayanan rekam medis sudah berjalan dengan baik dan terstruktur, meskipun masih ditemukan uraian tugas gandadi unit kerja rekam medis yang menyebabkan permasalahan seperti human error terjadinya missfile, hal ini dikarenakan masih terdapat petugas non medis yang membantu pelayanan di unit kerja rekam medis. Kesimpulan : Kesesuaian Deskripsi kerja di unit kerja rekam medis sudahs seuai dengan uraian tugas dan berjalan dengan bai, sudah mempunyai rincian uraian tugas pada masing-masing SDM serta memiliki struktur organisasi khusus di unit rekam medis dan pendaftaran sehingga tidak ada tumpang tindih pekerjaan satu dengan lainnya.Kata Kunci: Deskripsi Kerja, Kesesuaian, Rekam Medis
Perbandingan Beban Kerja Tenaga Rekam Medis Elektronik Dan Manual Menggunakan Metode ABK Kesehatan Budi, Agustyarum Pradiska
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i2.2831

Abstract

Beban kerja  merupakan volume atau kuantitas pekerjaan selama satu tahun untuk tiap jenis sumber daya manusia (SDM). Jika jumlah SDM sedikit sedangkan beban kerja yang semakin tinggi tentunya dapat menyebabkan terjadinya kelelahan kerja. Begitu pula sebaliknya jika jumlah SDM lebih banyak dari beban kerja, maka banyak pula waktu yang tersisa sehingga perkerjaan kurang efektif dan efisien. Sejalan dengan perkembangan teknologi penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME), rumah sakit perlu mengevaluasi analisis beban kerja (ABK) pada unit kerja rekam medis. Penelitian ini membandingkan ABK antara RME dan Manual bertujuan untuk memberikan gambaran rumah sakit dalam pengelolaan tenaga kerja yang lebih efektif dan efisien di masa mendatang dengan adanya RME. Perbandingan ini juga memberikan masukan bagi rumah sakit dalam mempercepat investasi penyediaan RME. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes)  dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan RME dan Manual lebih efisien dalam kegiatan pokok, sehingga dengan SDM yang sama mampu mengerjakan beban yang lebih tinggi. RS dengan RME mampu mengerjakan beban kerja 5 kali lipat dibanding yang manual baik rawat inap maupun rawat jalan. Berdasarkan perhitungan ABK Kes RS dapat mengevaluasi kebutuhan SDM untuk dapat merotasi, menambah atau mengurangi sesuai dengan beban kerja yang telah dihitung.
KELELAHAN PADA TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL: SUATU TINJAUAN PUSTAKA Laksono, Sidhi
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2022): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i2.2833

Abstract

Bertambahnya populasi dan pasien usia tua akan meningkatkan permintaan layanan kesehatan, sementara membutuhkan petugas kesehatan. Kekurangan petugas kesehatan profesional menyebabkan beban kerja dan mengakibatkan kelelahan. Kelelahan ini berefek tidak hanya terhadap layanan kesehatan tetapi juga ke kehidupan petugas kesehatan profesional. Kelelahan ini bisa diakibatkan karena kurangnya pemahaman di kalangan petugas kesehatan itu sendiri, keragaman dan faktor pribadi petugas serta tidak adanya dukungan dari organisasi kesehatan. Diperlukan keseimbangan kehidupan kerja, manajemen beban kerja, edukasi dini dan intervensi organisasi. Artikel ini akan membahas secara singkat mengenai kelelahan pada tenaga kesehatan. Diharapkan para tenaga kesehatan dapat mengatasi masalah kesehatan ini ke depannya.