cover
Contact Name
Jurnal Bedah Nasional
Contact Email
jurnalbedahnasional@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbedahnasional@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25485962     EISSN : 2548981X     DOI : -
Core Subject : Health,
JBN (Jurnal Bedah Nasional) is published twice a year in January and July. This journal encompasses original research articles, review articles, and case reports of all fields of surgery medicine, including General Surgery; Digestive Surgery; Oncology Surgery; Pediatric Surgery; Neurosurgery; Cardiothoracic and Vascular Surgery; Vascular and Endovascular Surgery; Orthopedic Surgery; Urology Surgery; Plastic and Reconstruction Surgery; Traumatology and Acute Care Surgery.
Arjuna Subject : -
Articles 84 Documents
Comparison of Mortality and Glasgow Outcome Scale Extended (GOSE) between Craniotomy and Decompressive Craniectomy in Patients with Traumatic Acute Subdural Hematoma at Sanglah General Hospital, Bali Ni Luh Putu Julita Yanti; I Wayan Niryana; Sri Maliawan; I Nyoman Semadi; Tjokorda G. B. Mahadewa; I G. A. B. Krisna Wibawa
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 6 No 1 (2022): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2022.v06.i01.p03

Abstract

Background: Craniotomy and decompressive craniectomy and are surgical modalities for the evacuation of acute subdural hematoma (SDH). These two techniques show different outcomes in various existing studies. The superiority between either techniques remains controversial. Objective: To determine the outcome comparison of mortality and Glasgow Outcome Scale Extended (GOSE) craniotomy with decompressive craniectomy in patients with traumatic acute SDH. Methods: This is a historical cohort study. Samples of the study were collected from January 2018 to March 2020 at Sanglah General Hospital. All patients with acute traumatic SDH who underwent SDH evacuation with craniotomy and decompressive craniectomy were assessed for mortality status at discharge and GOSE 3 months after surgery. Independent T-test will be carried out if the numerical variable were all normally distributed, while Mann-Whitney U test will be performed if otherwise. A Chi-square test will be performed on all unpaired categorical variables. Statistical analysis was performed with SPSS 25 with 95% confidence intervals. Results: As many as 40 subjects with traumatic acute SDH who underwent craniotomy and 40 subjects with traumatic acute SDH who underwent decompressive craniectomy were included in this study. There was no significant difference in mortality (RR: 1; 95% CI 0.67-1.87; p=0.651) and GOSE score (p=0.718) in traumatic acute SDH who underwent craniotomy or decompressive craniectomy. Conclusion: There was no difference in mortality and GOSE outcomes between a craniotomy and decompressive craniectomy for management of traumatic acute SDH.
Increase of Carotid Intima-Media Thickness and Reduction of Carotid Artery Lumen Diameter in Breast Cancer Patient Before and After Chemotherapy Inez Kartika; Made Widhi Asih; Elysanti Dwi Martadiani; Pande Putu Yuli Anandasari; Putu Patriawan; I Gde Raka Widiana
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 6 No 1 (2022): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2022.v06.i01.p02

Abstract

Background: Increasing number of cancer survivor motivates clinical practitioner to focus on chronic effect of chemotherapy agent, especially those with vascular toxicity effect, which may attenuate the incidence of thrombosis and atherogenesis. Ultrasonography examination on carotid intima media thickness (C-IMT) provides acurate result in evaluating atherosclerotic. The purposes of this research are to find out any structural changes of carotid artery, especially atheroclerosis changes in breast cancer patient after chemoteraphy. Methods: Analytic cross sectional study using a pre post test group design in breast cancer patients. Eligible subjects undergo carotid ultrasonography examination prior to chemoteraphy and after they had completed the 3 cycles of chemoteraphy for the second exam. The examination was perfomed with the same USG machine, high frequency linier transducer (>7mHz) in B-mode under the auspecies of two reputable radiologist consultant. Results: Total patients are 26, mean of age (year) is 47.15 ± 8.11. Most dominant histopathology finding is invasive carcinoma nonspecific type, in 24 patients (92.4%) and the disease stage is in stadium III in 14 patients (53.9%). Mean C-IMT (mm) prior chemotherapy is 0.51 ± 0.06 and after chemotherapy is 0.58 ± 0.05, there is an increase of 0.07 ± 0.06 (p<0.0001). Carotid artery lumen diameter (mm) before chemotherapy is 4.05 ± 0.66 and after chemotherapy is 3.90 ± 0.73, so there is a decrease of 0.16 ± 0.40 (p =0.057). Conclusion: There is a statistically significant increase in intima media thickness of carotid wall of breast cancer patients after chemotherapy, consisted with chemoteraphy induced atherosclerosis.
Review Terapi Bisfosfonat pada Pasien Kanker Payudara, Berapa Lamakah Diberikan? NGAA Manik Yuniawaty Wetan; Hendry Irawan
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 1 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i01.p05

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas, efek samping serta durasi yang optimal dalam pemberian bisfosfonat pada pasien kanker payudara. Metode: Pencarian komprehensif dilakukan pada database PubMed, Science Direct, dan CENTRAL dari tahun 2012 hingga 2022 yang dilakukan selama 10 tahun. Hasil: Tinjauan saat ini, yang termasuk tiga studi randomized controlled trials, yang melibatkan 7.162 kasus kanker payudara, menilai efek bisfosfonat pada risiko kanker payudara serta durasi penggunaan bisfosfonat. Ditemukan adanya pengurangan risiko kanker payudara dengan paparan bisfosfonat. Penggunaan bisfosfonat jangka pendek (<1 tahun) tidak menyebabkan perubahan yang signifikan, sementara penurunan risiko kanker payudara yang signifikan sebesar 26% tercatat dengan penggunaan jangka panjang (>1 tahun). Efek perlindungan bisfosfonat ditunjukkan pada kanker payudara kontralateral. Simpulan: Tinjauan ini menunjukkan bahwa penggunaan bisfosfonat dikaitkan dengan penurunan risiko payudara kanker, termasuk kanker payudara kontralateral. Dibandingkan dengan jenis bisfosfonat lainnya, hanya etidronat yang menunjukkan signifikansi hubungan terbalik. Selain itu, penggunaan bisfosfonat jangka panjang (>1 tahun) lebih signifikan dalam mengecilkan risiko kanker payudara.
Analisis Biaya dan Manfaat Pemeriksaan CA 15-3 dalam Diagnostik dan Pemantauan Kanker Payudara di Era BPJS I Gede Budhi Setiawan; Putu Anda Tusta Adiputra
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 1 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i01.p04

Abstract

Tujuan: Untuk menganalisa penggunaan sistem pembiayaan berdasarkan tarif INA-CBGs dalam penentuan rencana diagnosis, terapi dan monitoring agar pasien mendapat pelayanan terbaik dengan biaya seminimal mungkin. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah peran pemeriksaan penanda tumor CA 15-3. Metode: Dilakukan telaah artikel untuk mengetahui peran dan manfaat penanda tumor CA 15-3, dibandingkan dengan biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan pasien berdasarkan penelitian terbaru saat ini, guideine, pedoman nasional pelayanan kedokteran dan aturan tarif INA-CBGs. Hasil: Studi mengenai CA 15-3 memiliki hasil yang bervariasi sebagai pemeriksaan untuk menunjang diagnosis, penentuan staging, monitoring respon terapi, dan prognosis pasien. Berdasarkan guideline saat ini, CA 15-3 bukan merupakan penanda tumor yang utama pada kanker payudara dan hasil pemeriksaan CA 15-3 saja tidak dapat digunakan sebagai pedoman diagnosis, monitoring terapi, dan penentu pilihan terapi pada pasien. Biaya pemeriksaan CA 15-3 sebesar 285.000 rupiah cukup terjangkau untuk dilakukan, namun tetap merugikan bila hasil pemeriksaan tidak mempengaruhi diagnosis, monitoring, prognosis, dan pilihan terapi pasien. Simpulan: Bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa tidak diperlukan pemeriksaan CA 15-3 pada kanker payudara mengingat diagnosis, monitoring, prognosis dan terapi tidak dipengaruhi oleh hasil CA 15-3 yang diperoleh.
Analisa Hubungan Antara Kadar Sel Monosit Darah Tepi pada Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Sebelum dan Sesudah Terapi Priscilia Kalitouw; Victor Pontoh; Marselus Merung; Christian Manginstar; Fima Langi
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 1 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i01.p01

Abstract

Tujuan: Untuk menganalisa hubungan kadar monosit sel darah tepi pada sebelum dan sesudah terapi pada penderita kanker payudara. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan kohort prospektif, untuk menganalisa kadar monosit darah tepi sebelum dan sesudah terapi pada penderita kanker payudara. Kriteria inklusi penelitian ini, yaitu: pasien wanita dengan diagnosa kanker payudara stadium lanjut, umur 35-75 tahun dan pasien menyetujui untuk diikutsertakan dalam penelitian. Adapun kriteria eksklusinya adalah pasien wanita dengan diagnosa kanker payudara stadium dini, adanya keganasan atau kelainan hematologi sebelumnya, dan pasien yang meninggal selama waktu penelitian. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan sebelum terapi median monosit adalah 5% (IQR 3-10%) dan sesudah pasien mendapatkan pengobatan mediannya turun menjadi 3% (IQR 1,0-7,7 menjadi lebih nyata dan bermakna (p<0,001). Analisis regresi linear dilakukan dalam analisis data orisinil dan data hasil resampling. Hasil estimasi perubahan kadar monosit menggunakan kedua data ini tidak berbeda jauh (-3,47 vs -3,63% masing-masing pada model dengan data orisinil dan resampling), yang menandakan penurunan monosit darah tepi setelah terapi. Perbedaanya adalah hasil analisis menggunakan data resampling menghasilkan interval estimasi yang lebih sempit (95% CI -4,23 hingga -3,03%) dengan nilai p<0,001 yang menandakan perhitungan yang bermakna secara statistik. Simpulan: Terdapat penurunan kadar monosit sel darah tepi pada pasien kanker payudara setelah dilakukan terapi.
Perbaikan Klinis Sindroma Pasca Komosio dengan Terapi Oksigen Hiperbarik Mardoni Setiawan; Maxmillian Ch. Oley; Eko Prasetyo; Mendy Hatibie Oley
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 1 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i01.p02

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa terapi oksigen hiperbarik (TOHB) mempercepat proses penyembuhan kumpulan gejala pasien cedera kepala ringan (CKR). Metode: Penelitian ini didapatkan sebanyak 20 pasien CKR dan diikutsertakan dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan rancangan controlled trial yang membandingkan kondisi outcome 2 kelompok perlakuan, yakni pasien CKR dengan TOHB vs. kontrol. Kelompok kontrol akan menerima terapi standar CKR menurut protokol Advanced Trauma Life Support (ATLS). Setelah penanganan sesuai protokol ATLS, kelompok TOHB akan mendapatkan juga sesi TOHB, yaitu oksigen bertekanan 2-3 atmosphere absolute (ATA) dengan 100% oksigen dalam ruang udara bertekanan tinggi, selama 60 menit. Hasil: Skor Rivermead Post-Concussion Symptoms Questionnaire (RPQ), baik ketiga item awal (RPQ-3) yang berhubungan dengan gejala awal cedera kepala maupun ketiga belas item berikutnya (RPQ-13) yang memuat gejala lanjut cedera kepala, tidak berbeda pada kedua kelompok penelitian sebelum pengobatan dilakukan. Namun diakhir minggu kelima pasca terapi pasien-pasien dengan TOHB memperlihatkan skor RPQ jauh lebih baik (rerata 3,1 vs. 6,5 pada RPQ-3, dan 14,2 vs. 29,6 pada RPQ-13. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa TOHB terhadap pasien CKR terjadi penurunan skor RPQ, baik RPQ-3 dan RPQ-13 yang bermakna (p<0,001). Simpulan: Penelitian ini telah membuktikan pengaruh TOHB mempercepat proses penyembuhan kumpulan gejala pasien CKR (sindroma pasca komosio).
Hubungan Antara Kadar Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) Serum Dengan Visibilitas Vasa Nervorum Nervus Laringeus Rekuren Pada Pasien Yang Menjalani Operasi Tiroid Edwin Christian Tjiomas; Nico Lumintang; Sherly Tandililing; Fima L. F. G. Langi
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 1 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i01.p03

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kadar VEGF dan visibilitas vasa nervorum nervus laringeus rekuren. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional study) untuk menilai hubungan antara VEGF dengan visibilitas vasa nervorum dari nervus laringeus rekuren pada pasien yang menjalani operasi tiroid. Aktivitas pengumpulan dan pengolahan data berpusat pada Bagian Bedah dari Badan Layanan Umum Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil: Wanita mendominasi para pasien ini dengan perbandingan sekitar 8:2 terhadap pria. Rata-rata umur hampir 50 tahun (SD 13,6 tahun). Mayoritas tindakan pembedahan bersifat total tiroidektomi (71%). Lima orang (36%) pasien terbukti secara histopatologis memiliki kanker. Adapun kadar VEGF pada keempat belas pasien rata-rata 403,1 pg/mL dengan deviasi cukup besar 136,8 pg/mLKadar VEGF serum tampak lebih tinggi pada visibilitas yang lebih baik (mean 326,1 pg/mL pada visibilitas skala 0; 346,8 pg/mL di skala 1; dan 429,8 pg/mL pada skala 2, p=0,546). Simpulan: Kadar VEGF serum dan visibilitas vasa nervorum nervus laringeus rekuren tidak memiliki hubungan bermakna pada penelitian ini. Kadar VEGF serum tampak lebih tinggi pada visibilitas yang lebih baik, namun secara statistik hal ini tidak signifikan.
Surgical Drainage Cystogastrostomy in Patient with Pancreatic Pseudocyst Agung Ary Wibowo; Tjahyo Kelono Utomo; Henderi Saputra; Yohelio Priawan Sibu; Kenanga Marwan Sikumbang
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 2 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i02.p05

Abstract

Background: Pancreatic pseudocysts are often managed through surgical drainage, which is common in rural areas for several reasons, including limited facilities. Case: Therefore, this study presents a successful treatment of three pancreatic pseudocyst cases using surgical drainage cystogastrostomy. Furthermore, this treatment method was selected due to the ease of performance in rural hospitals and was successfully performed without any complications. Conclusion: The diagnoses of pancreatic pseudocysts were confirmed by anamnesis, physical examination, and CT-scan imaging. The operations were also performed successfully without any complications. However, the patients will also undergo follow-up for two years to enable the doctors to observe for any possible long-term complications.
Gambaran Klinis Hasil Pemeriksaan Esofagogastroduodenoskopi pada Pasien Dispepsia di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Tahun 2020-2021 Fulgensius Atin; Alyssa Claudia Valerie Gunawan; Widhitomo Widhitomo; Alders Allen Kusa Nitbani
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 2 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i02.p01

Abstract

Tujuan: Untuk mendeskripsikan hasil EGD pada pasien dispepsia di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif cross-sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medis. Populasi sampel penelitian ini adalah semua pasien dispepsia yang menjalani prosedur EGD di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang tahun 2020-2021 dengan metode total sampling yang menghasilkan 215 sampel. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 21 for Windows. Hasil: Pada penelitian ini tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada jenis kelamin. Persentase pada laki-laki (49,8%) dan perempuan (51,2%). Dispepsia ditemukan paling banyak pada kelompok usia 41-60 tahun (50%). Diagnosis terbanyak pada hasil pemeriksaan EGD merupakan gastritis (40,9%) diikuti tumor pada saluran cerna atas (20%) dengan hasil PA keganasan pada perempuan lebih banyak di banding laki-laki. Total 89,3% pasien dalam penelitian ini merupakan pasien dengan sindroma dispepsia organik. Simpulan: Sindroma dispepsia dapat terjadi merata pada pasien laki-laki maupun perempuan dan sering pada usia orang dewasa, berkaitan erat dengan gangguan organik dan hasil gambaran EGD didominasi oleh hasil gastritis dan keganasan pada saluran cerna atas.
Efektivitas Triamcinolone Acetonide dan Virgin Coconut Oil untuk Mencegah Terjadinya Adhesi Intraperitoneal Pasca Laparotomi Pada Tikus Alva H. Senjaya; Ishak Lahunduitan; Toar Mambu; Fima L.F.G. Langi
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 7 No 2 (2023): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2023.v07.i02.p02

Abstract

Tujuan: Penggunaan triamcinolone acetonide (TCA) dan virgin coconut oil (VCO) dianggap dapat meghambat inflamasi sehingga akan diuji efektivitasnya dalam mencegah adhesi peritoneum. Metode: Penelitian ini merupakan analisis data sekunder atas dua studi eksperimental sebelumnya yang menggunakan tikus sebagai hewan percobaan dengan membandingkan efektivitas VCO dibandingkan TCA dalam mencegah adhesi peritoneal. Hasil: Terdapat empat judul penelitian yang dianalisa. Saharui, dkk. tidak menemukan hubungan adhesi intraperitoneal dengan pemberian TCA. Erwin, dkk. menemukan penurunan adhesi dari 80% menjadi 40% pada kelompok VCO 1 ml, sedangkan pemberian 2-4 ml meningkatkan adhesi. Panelewen, dkk. menujukan potensi VCO mengurangi adhesi dengan menurunkan ekspresi gen TIMP-1, meningkatkan ekspresi gen MMP-8. Ayawaila, dkk. mendapatkan penurunan fibrosis dari 100% menjadi 20% pada penerima VCO (p = 0,001) dan 40% pada penerima TCA (p = 0,001). Diskusi: VCO 1 ml mengurangi insiden adhesi peritoneal dengan menghambat fibrogenesis, antiinflamasi dan pembentukan matriks ekstraseluler, sedangkan peningkatan dosis menyebabkan perlambatan absorbsi, mengaktivasi makrofag dan meningkatkan adhesi peritoneal. VCO juga berkaitan dengans penurunan ekspresi TIMP-1, dan peningkatan ekspresi gen MMP-8. Simpulan: Tampak potensi pemberian VCO dalam menurunkan adhesi, namun terdapat sensitivitas dosis pemberian dimana pemberian VCO 2-4 ml menigkatkan abses intraperitoneal (makroskopis) dan adhesi peritoneal (mikroskopik). Sedangkan TCA masih menunjukan hasil yang inkonklusif.