cover
Contact Name
Jurnal Bedah Nasional
Contact Email
jurnalbedahnasional@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbedahnasional@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25485962     EISSN : 2548981X     DOI : -
Core Subject : Health,
JBN (Jurnal Bedah Nasional) is published twice a year in January and July. This journal encompasses original research articles, review articles, and case reports of all fields of surgery medicine, including General Surgery; Digestive Surgery; Oncology Surgery; Pediatric Surgery; Neurosurgery; Cardiothoracic and Vascular Surgery; Vascular and Endovascular Surgery; Orthopedic Surgery; Urology Surgery; Plastic and Reconstruction Surgery; Traumatology and Acute Care Surgery.
Arjuna Subject : -
Articles 84 Documents
Pelayanan Terapi Radiasi Pada Pandemi COVID-19 di Instalasi Radioterapi RSUP Sanglah Ngakan Putu Daksa Ganapati
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): Special Issue COVID-19 - JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.397 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.is01.p05

Abstract

Langkah-langkah yang telah diambil oleh Instalasi Radioterapi RSUP Sanglah saat ini mungkin masih jauh dari sempurna, namun hal tersebut masih dapat untuk diperbaiki sesuai dengan perkembangan kondisi peralatan dan sumber daya manusia serta dengan mempertimbangkan data-data dari pusat radioterapi di tempat lain.
Fournier Gangrene in A 65 Years Old Obese Female with Uncontrolled Type II Diabetes Mellitus - A Case Report Rochella Krismurning Coffee; Kelvin Setiawan; Bramastha Aires Rosadi; Terry Renata Lawanto
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.834 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i01.p01

Abstract

Background: Fournier gangrene is a disease with characteristic of rapidly progressive necrotizing fasciitis in the perianal and genitourinary area. Case: Usually it affects men, but we hereby present Fournier gangrene in an obese, diabetic, middle-aged woman. Her chief complaint was discomfort, swelling and foul odor coming from her genital area. Thus, she was diagnosed with Fournier gangrene and underwent emergency surgical debridement with local anaesthesia. After removing all necrotic tissues, overlying pus and debris, wounds were left open until granulation were seen and optimal condition of the tissue and planned for reconstructive surgery and additional debridement if needed. Local wound dressings were done with silver dressings and washed with 0.1% Polyaminopropyl biguanide solution. Patient received oral antibiotics daily for five days and visit surgery polyclinic twice a week for wound toilet and observation of wound condition. Conclusion: Early diagnosis, administration of broad-spectrum antibiotics and emergency debridement is important factors to successful outcome of Fournier gangrene.
Rekonstruksi Penis pada Entrapped Penis setelah Perbaikan Hipospadia: Laporan Dua Kasus Gede Wirya Diptanala Putra Duarsa; Pande Made Wisnu Tirtayasa; I. B. Putra Pramana; Gede Wirya Kusuma Duarsa
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 2 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.021 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i02.p03

Abstract

Latar belakang: Entrapped penis adalah bentuk concealed penis yang didapat, disebabkan oleh jaringan sikatrik tebal yang terdapat pada penis. Jaringan sikatrik tersebut dapat disebabkan oleh sirkumsisi, operasi hipospadia atau trauma. Kasus: Kami melaporkan dua kasus entrapped penis yang muncul setelah operasi rekonstruksi pada hipospadia. Kasus pertama adalah laki-laki 13 tahun dan kasus kedua adalah anak laki-laki berusia 8 tahun, kedua pasien datang dengan keluhan entrapped penis. Kedua pasien lahir dengan kelainan hipospadia dan sudah menjalani beberapa kali operasi rekonstruksi untuk keluhan hipospadia yang dialami. Setelah operasi, kedua pasien mengeluhkan kondisi entrapped penis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kondisi entrapped penis, dengan ukuran penis yang normal saat diretraksi. Tidak terdapat keluhan kesulitan miksi, nyeri saat miksi maupun nyeri suprapubik. Pada pasien dilakukan operasi rekonstruksi untuk membebaskan jaringan ikat pada penis dan skin flap. Pada pasien dilakukan pemasangan kateter foley 12 Fr dan pembebatan penis selama 5 hari. Pasien juga diberikan antibiotika dan analgesik. Kedua pasien dipulangkan tanpa komplikasi. Simpulan: Entrapped penis merupakan suatu komplikasi yang sering terjadi pada operasi rekonstruksi hipospadia maupun sirkumsisi. Penanganan rekonstruksi terdiri dari pembebasan jaringan ikat pada penis, skin flap dan operasi lain yang diperlukan sesuai kondisi pasien.
Hubungan Ekspresi Tumor Infiltrating Lymphocytes dengan Klinikopatologi pada Subtipe Luminal A dan Triple Negative Kanker Payudara di Bali I Gede Tuban Eling Tulus Widiana; Ida Bagus Made Suryawisesa; I Ketut Widiana
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 2 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.714 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i02.p02

Abstract

Tujuan: Untuk membuktikan adanya hubungan ekspresi TIL dengan klinikopatologi pada subtipe luminal A dan subtipe TNBC beserta ada tidaknya perbedaan antara kedua subjek tersebut. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dirancang secara potong-lintang di RSUP Sanglah Denpasar. Kriteria inklusi adalah penderita kanker payudara subtipe luminal A dan subtipe TNBC (triple negative breast cancer) sebagai subjek penelitian. Hasil: Pada penelitian ini terdapat 31 subjek dengan Luminal A dan 40 subyek dengan TNBC. Penelitian ini didapatkan hubungan signifikan antara stadium dengan kadar TIL pada kanker payudara subtipe TNBC (p=0,01). Pada kanker payudara subtipe TNBC stadium tinggi, kemungkinan TIL tinggi 3 kali dibandingkan dengan subjek dengan stadium I-II. Adanya hubungan yang bermakna pada penderita dengan TIL tinggi dengan stadium lanjut pada subtype TNBC dan luminal A (p=0,028; PR 1,8; 95%CI 0,54-5,9). Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan yang diperoleh antara TIL dengan ukuran tumor, stadium klinis, grade histopatologi pada kanker payudara subtipe luminal A maupun TNBC. Tidak terdapat pula hubungan ukuran tumor dan grading tumor antara kanker payudara dengan subtipe TNBC dan luminal A yang memiliki TIL yang tinggi, tetapi terdapat perbedaan pada stadium tumor.
Retroperitoneal Pleomorphic Rhabdomyosarcoma in Adult: A Rare Case Report Budi Martono; Sri Inggriani
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 2 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.326 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i02.p04

Abstract

Background: Rhabdomyosarcoma (RMS) is the most common type of soft tissue sarcoma in children, however, RMS is a rare malignancy in adults. Head and neck are the most common site for RMS, while intrabdominal RMS are rare in adults. Case: We present a rare case of a retroperitoneal abdominal mass, treated surgically with histopathology results of a retroperitoneal RMS. We discuss the clinical presentation, image findings, and treatment for this case. Conclusion: Intraabdominal tumours need to be identified quickly and precisely. CT scan or MRI can help clinicians to determine the staging, therefore plans the best treatment for the patient. In our case, surgery and radiotherapy showed promising outcome. The lack of literature and consensus on a standardized approach to systemic treatment and outcome in retroperitoneal pleomorphic RMS in adults makes our case a rare presentation of rhabdomyosarcoma and thus the need for reporting.
Ruptur Ganda Tendon akibat Tebasan Senjata Samurai dengan Teknik Jahitan Rangkaian Bunga Melati: Sebuah Laporan Kasus dan Temuan Teknik Jahitan Baru Sophan Yahya Warnasouda
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 2 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.866 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i02.p05

Abstract

Latar belakang: Ruptur tendon akibat kejahatan senjata tajam laras panjang (samurai) dapat mengakibatkan putusnya tendon berlapis-lapis, sehingga satu tendon dapat terbagi-bagi dan sulit untuk disatukan kembali. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu teknik bedah baru yang cepat dan akurat. Kasus: Seorang pria berusia 30 tahun datang ke rumah sakit dengan luka bacok di lengan bawah kiri akibat kejahatan begal sepeda motor. Pemeriksaan fisik ditemukan beberapa luka di lengan bawah kiri, dekat pergelangan tangan. range of movement sendi pergelangan tangan kiri tidak dapat ekstensi. Pemeriksan radiologi ditemukan fraktur pada distal Ulna sinistra. Pasien ini didiagnosa dengan opened ruptur tendon ekstensor carpi ulnaris sinistra dan opened fraktur distal ulna sinistra, kemudian dilakukan open reduction and internal fixation with wiring, sedangkan multiple ruptur tendonnya di repair dengan suatu teknik bedah baru. Teknik repair tendon baru ini disebut dengan teknik operasi rangkaian bunga melati (chain of jasmine method) pada tahap awalnya, yang dilanjutkan dengan tindakan repair tendon klasik biasa. Evaluasi satu bulan setelah operasi menunjukkan tidak ada infeksi setelah operasi dan gerakan pergelangan tangan cukup baik, serta pasien merasa puas. Simpulan: Operasi reparasi tendon dengan teknik operasi rangkaian bunga melati ini dapat mempersingkat waktu operasi dan risiko kehilangan potongan tendon yang kecil serta tidak berantakan. Hasil operasi cukup baik, tidak ada infeksi setelah operasi dan pasien merasa puas.
Peranan Membran Amnion Kering terhadap Jumlah Sel Fibroblas pada Proses Penyembuhan Luka Trakea Kelinci Erick Satria Corputty; Nico Lumintang; Sherly Tandililing; Fima L. F. G. Langi; Sri Adiani
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 2 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.869 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i02.p01

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui peranan membran amnion kering terhadap jumlah sel fibroblas pada proses penyembuhan luka trakea kelinci. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen dengan pengukuran berulang pada 24 kelinci lokal jantan Lepus nigricollis. Subjek dibagi dalam dua kelompok. Salah satunya diberikan membran amnion kering pada defek trakea sementara kelompok yang lain menjadi kontrol dan lukanya mengalami penyembuhan primer. Hasil: Pada pengukuran hari pertama dan hari ke-7 paska operasi, rata-rata jumlah sel fibroblas pada kelompok perlakuan lebih banyak daripada kelompok kontrol [(Hari 1 = 12,5 ± 3,3 ; 8,5 ± 1,3, p = 0,066) ; (Hari 7 = 28,5 ± 1,7 ; 20,2 ± 6,9, p = 0,059)]. Jumlah sel fibroblas kelompok perlakuan pada hari ke-14 lebih sedikit dibanding kelompok kontrol (25,5 ± 4,2 ; 34,2 ± 5,3, p = 0,041). Diskusi: Hasil ini menunjukan proses penyembuhan luka lebih cepat pada kelompok perlakuan. Adanya MAK pada kelompok perlakuan menghasilkan growth factor yang meningkatkan angiogenesis dan suplai nutrisi serta oksigen pada sel-sel yang terlibat dalam proses penyembuhan, sehingga mempercepat regenerasi dan remodeling. Simpulan: Penggunaan MAK pada defek trakea mempercepat peningkatan jumlah sel fibroblast yang mengindikasikan adanya percepatan proses penyembuhan luka trakea kelinci.
Mutasi Isocitrate Dehydrogenase 1 dan 2 pada Glioma Ni Putu Sriwidyani
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 5 No 1 (2021): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2021.v05.i01.p05

Abstract

Klasifikasi tumor sistem saraf pusat WHO terakhir didasarkan atas histogenesis tumor dan karakteristik molekuler genetik. Perubahan klasifikasi yang paling signifikan terjadi pada tumor glioma difus yang paling signifikan, yaitu katagori tumor secara garis besar berdasarkan status mutasi isocitrate dehydrogenase (IDH) 1 dan 2. Tulisan ini akan membahas tentang IDH1 dan IDH baik normal maupun mutan, hubungan mutasi IDH1 dan IDH2 dengan prognosis pasien, serta bagaimana penentuan status mutasi IDH1 dan IDH2 dalam diagnosis glioma.
Validity of Barium Enema as Hirschsprung’s Disease Diagnostic Tools for Infant in Sanglah Hospital Denpasar I Made Darmajaya; I Ketut Subhawa
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 5 No 1 (2021): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2021.v05.i01.p03

Abstract

Aim: To determine the validity (sensitivity, specificity, likelihood ratio) of barium enema as Hirschsprung's disease diagnostic tool in infants. Methods: This study was a diagnostic test of barium enema compared with postoperative histopathology examinations as the gold standard. The population were all patients with indigestion symptom be discovered at the pediatric surgical clinic of Sanglah Hospital Denpasar. The sampling method was consecutive sampling, satisfy inclusion criteria (< 12 months old, indicate classic symptoms of Hirschsprung’s disease). The total sample of the study was 52 patients. Sensitivity, specificity, positive and negative predictive value were analysed using cross-tabulation test of barium enema and postoperative histopathology. Results: A total of 52 patients were evaluated during the study period, mean of age was 3.31 months old, and boys:girls (75%:25%). Based on symptoms, 98.08% of patients were delayed release of meconium more than 24-48 hours and abdominal distention. Among all the patients reviewed, sensitivity, specificity, positive and negative predictive value of barium enema for diagnostic of Hirschsprung’s disease was 95.5%, 87.5%, 97.7%, and 77.8%. Conclusion: Barium enema can be used as an early diagnostic tool for infants suspected of Hirschsprung’s disease.
Korelasi Ankle Brachial Indeks dengan Pulse Wave Handheld Doppler Penderita Kaki Diabetik Johanes Berechmans Pranoto Rumaratu; Richard Sumangkut; Djony Tjandra; Billy Karundeng; Fima L. F. G. Langi
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 5 No 1 (2021): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBN.2021.v05.i01.p01

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara hasil pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) dengan gambaran spektral Doppler vaskular pada arteri poplitea, arteri tibialis posterior, dan arteri dorsalis pedis pada penderita kaki diabetik. Metode: 33 pasien kaki diabetes yang memenuhi kriteria inklusi dari RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Pengukuran ABI dilakukan dan spektral arteri poplitea, tibialis posterior, dan dorsalis pedis diuji menggunakan Pulse Wave Handheld Doppler (PWHD). Hasilnya akan diproses secara statistik menggunakan desain potong lintang untuk mengetahui hubungan keduanya. Hasil: Sebagian dari jumlah pasien memiliki gelombang bifasik di 3 arteri. Gelombang trifasik terlihat dominan di arteri poplitea (56%) dan juga umumnya pada dua arteri lainnya (30%). Gelombang arteri menunjukkan adanya hubungan dengan ABI. Dibanding dengan gelombang bifasik, pasien dengan gelombang trifasik rata-rata memiliki ABI yang meningkat (0,15; p<0,001 pada arteri poplitea, dan 0,06; p=0,006 pada arteri tibialis posterior). Secara nyata, gelombang monofasik cenderung menurunkan ABI pada sejumlah pasien dibandingkan gelombang bifasik (-0,18; p<0,001 pada arteri tibialis posterior dan -0,15; p<0,0041 pada arteri dorsalis pedis). Simpulan: Didapatkan hubungan yang signifikan antara ABI dengan hasil gelombang spektral Doppler pada semua segmen arteri bawah lutut.