cover
Contact Name
Rahmad Fauzi
Contact Email
udauzi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
udauzi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tapanuli selatan,
Sumatera utara
INDONESIA
JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT
ISSN : 25274295     EISSN : 26146061     DOI : -
Jurnal Education and Development merupakan publikasi karya ilmiah dari hasil penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, baik sosial, budaya dan lingkungan. Sebagai upaya untuk mewujudkan visi dan misi di Perguruan Tinggi. Jurnal Education and development mewadahi hasil pemikiran dan penelitian dalam peningkatan dan pengembangan secara berkesinambungan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Selain itu, dapat meningkatkan pengetahuan dan keilmuan. Jurnal Education And Development Terakreditasi Sesuai Dengan Keputusan Direktur Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia SK. Nomor 21/E/KPT/2018 Tentang Peringkat Akreditasi Jurnal Ilmiah Periode I Tahun 2018, Jurnal Education and Development Berada Pada Peringkat 6 (Enam) Dengan Nomor Urut 15 (Lima Belas), Masa Berlaku Akreditasi selama 5 (lima) Tahun dan Akan Berakhir pada Tanggal 9 Juli 2023.
Arjuna Subject : -
Articles 2,820 Documents
THE ANALYSIS OF METAPHOR IN WESTLIFE’S SONG LYRICS LIES DIAN MARSA NDRAHA
Jurnal Education and Development Vol 3 No 1 (2018): Vol.3.No.1.2018
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1299.112 KB) | DOI: 10.37081/ed.v3i1.143

Abstract

Metaphors are usually used by Westlife in their lyrics to express what they mean in order to transfer the message they want to send to the listeners in expressing their feeling. But most of people who is interested to listen and sing the Westlife’s song lyrics do not understand the metaphor that exist in Westlife’s song lyrics. Therefore, the focus of the research is how is the metaphor used in Westlife’s song lyrics? This research was designed in qualitative research. The technique of descriptive analysis was applied to analyze data by reading the data and identify the types of metaphor used in the lyric of songs based on Goatly’s book. Based on research finding, the researcher found 19 of metaphor used in the Westlife’s song lyrics. And each metaphors were found in the lyric of Westlife’s songs try to tell us about human social life which contained about love, sadness, happiness, spirit and others. In line with conclusion, the researcher suggests that readers could develops their knowledge of metaphors. This result hopefully would help English teacher to use metaphor in teaching process, and use the metaphor in the classroom can be an effective way of expanding students’ vocabulary.
ANALISIS ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM NOVEL MENYINGKAP RAHASIA TATANAN DUNIA BARU KARYA ZAYNUR RIDWAN AGUSTINUS DUHA
Jurnal Education and Development Vol 7 No 5 (2017): Vol.7. No. 5. Nopember 2017
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.522 KB) | DOI: 10.37081/ed.v7i5.145

Abstract

Bahasa merupakan alat komunikasi, bahasa terdapat variasi-variasi seperti alih kode dan campur kode, tersebut terdapat dalam novel. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan alih kode dan campur kode dalam novel. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan terjadinya alih kode dan campur kode dalam novel. Hasil penelitian bahwa alih kode yang terjadi alih kode eksternal antara bahasa asli dengan bahasa asing. Sedangkan campur kode yang terjadi campur kode keluar yaitu campur kode yang berasal dari bahasa asing bercampur dengan bahasa asing. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat simpulkan bahwa, ditemukan adanya peristiwa alih kode sebanyak tiga kali dan peristiwa terjadinya campur kode sebanyak Sembilan kali. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan adalah (1) Hendaknya dalam berbicara harus mampu menggunakan bahasa dengan baik, supaya yang dimaksudkan kepada lawan tutur dapat dipahami (2) Hendaknya dalam berbicara harus mampu melihat dan mengerti lawan bicara, sehingga terciptanya komunikasi yang baik antara penutur dan lawan tutur.
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PERKARA KORUPSI DI KEPOLISIAN POLRESTA NIAS ARIANUS HAREFA
Jurnal Education and Development Vol 7 No 5 (2017): Vol.7. No. 5. Nopember 2017
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.387 KB) | DOI: 10.37081/ed.v7i5.146

Abstract

Pemberantasan tindak pidana korupsi di Indoensia sering menuai jalan buntu dari pihak penegak hukum, hal itu terjadi karena kurangnya alat bukti yang menjadi dasar untuk mengukap suatu tindak pidana korupsi. Salah satu alat bukti yang paling menentukan atau kuat adalah keterangan saksi. Dalam pembuktian tindak pidana korupsi ketarangan saksi sangat sulit didapatkan karena seseorang yang menjadi saksi tidak bersedia memberikan kesaksiannya, disebabkan karena takut dizolimi, diancam, dan diteror secara terus-menerus. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang bentuk-bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh Kepolisian Polresata Nias terhadap saksi dalam tindak pidana korupsi, agar seseorang yang manjadi saksi tetap dilindungi hak-haknya oleh hukum. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif dengan mengumpulkan dan menginventarivasi data hukum Sekender, kemudian analisis secara kualitatif. Berdasarkan hasil pembahasan menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Kepolisian Polresta Nias dalam memberikan perlindungan hukum kepada saksi dalam tindak pidana korupsi adalah memberikan perlindungan sementara dengan menempatkan saksi disuatu tempat yang aman, memberikan perlindungan berdasarkan surat penetapan/perintah dari pengadilan dan menjaga kerahasiaan identitas para saksi, apabila saksi atau keluarganya benar-benar mendapatkan tekanan/ancaman ataupun teror adalah mengembalikan psikologis saksi dan keluarga kembali pada keadan normal. Kendala yang dihadapi dalam memberikan perlindungan hukum bagi saksi yaitu; belum tersosialisasinya secara penuh Undang-undang Perlidungan saksi dan korban, masih belum memadainya biaya operasional, keengganan seorang saksi untuk melaporkan kejadian atau ancaman yang dialaminya.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MATERI KEBERAGAMAN BUDAYA PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS XI SMK NEGERI 1 TELUKDALAM TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Walsyukurniat Zendrato
Jurnal Education and Development Vol 7 No 5 (2017): Vol.7. No. 5. Nopember 2017
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.807 KB) | DOI: 10.37081/ed.v7i5.147

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Telukdalam dengan judulPenerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Materi Keberagaman Budaya Pada Mata Pelajaran IPS di Kelas XI SMK Negeri 1 Telukdalam Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI yang terdiri atas 40 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan lembar pengamatan, wawancara dan tes penilaian hasil belajar siswa. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah model pembelajaran Quantum Teaching diterapkan dapat meningkat. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching siswa lebih terlibat aktif dalam pembelajaran, dapat memahami konsep materi dengan baik, daya analisis siswa terhadap IPS meningkat, lebih kritis dalam menyelesaikan masalah. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar karena siswa lebih terlibat aktif dalam pembelajaran, dapat memahami konsep materi dengan baik, daya analisis siswa terhadap IPS meningkat, lebih kritis dalam menyelesaikan masalah. Saran ditawarkan kepada guru hendakanya menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching dalam pembelajaran IPS. Demikian pula bagi peneliti selanjutnya agar menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi, saat mengadakan penelitian dimasa yang akan datang.
INCREASING THE STUDENTS’ ABILITY IN WRITING RECOUNT TEXT THROUGH LANGUAGE EXPERIENCE APPROACH AT THE EIGHTH GRADE OF SMP NEGERI 5 DHARMA CARAKA TELUKDALAM SENADAMAN WAU
Jurnal Education and Development Vol 7 No 5 (2017): Vol.7. No. 5. Nopember 2017
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1199.061 KB) | DOI: 10.37081/ed.v7i5.151

Abstract

The objective of the research is to increase the students’ ability in writing recount text through Language Experience Approach (LEA) at the eighth grade of SMP Negeri 5 Dharma Caraka Telukdalam. The research design is classroom action research (Kemmis et al 2014). This action research is conducted into two cycles, and each cycle consists of two meetings. The instruments of data collection are observation papers and written test. The qualitative data are analyzed by using Miles, Huberman, & Saldana’s theory (2014), and quantitative data are analyzed by using Gay et al (2000). The finding is Language Experience Approach increases the students’ ability in writing recount text at the eighth grade of SMP Negeri 5 Dharma Caraka Telukdalam. The increasing is supported by the students’ average score that in cycle I is 56.75, and in cycle II is 85.45. It is suggested to English teachers to use LEA as the approach of teaching and learning of writing.
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS WEB Muhammad Syahril Harahap; Rahmad Fauzi
Jurnal Education and Development Vol 4 No 5 (2017): Vol.4. No. 5. Januari 2017
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.666 KB) | DOI: 10.37081/ed.v4i5.153

Abstract

Learning to use the module has several characteristics, which are self instruction, recognition of individual differences, includes learning objectives / competence, their associations, structures and uurutan knowledge, the use of a variety of multi-media, the active participation of students, their reinforcement directly to the response of the students, their evaluation of the student mastery over the learning results. In developing the modules need to pay attention to the techniques and components required, such as: components of a review of subjects, introduction, learning activities, exercises, summaries, formative tests and answer keys formative tests and follow-up. While the technique of developing modules include strarting from scratch, repackaging information, and compilation. Utilization of the module in the learning process sector in the class can be done on individual learning systems and classical. paper entitled Development of Web-Based Learning Module aims: 1) to produce web-based learning modules, 2) determine students' attitude towards web-based learning modules, 3) Knowing student results after participating in learning to use the web-based learning modules. It can be concluded that learning to use the learning module further web-based social statistics have been classified in either category even very good. Competency develop teaching materials especially modules need to be owned by teachers, considering the teaching materials will further streamline and mengefiensiensikan learning process. Besides, it also has an important role of teaching materials for teachers and students, the learning is done individually, and classical groups.
PENDIDIKAN INKLUSIF: IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN (LPTK) DAN PROFESIONALISME GURU Dr. ZULFADLI M.Pd
Jurnal Education and Development Vol 3 No 2 (2018): Vol.3.No.2.2018
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.506 KB) | DOI: 10.37081/ed.v3i2.164

Abstract

Pendidikan inklusif yang menjadi suatu isu atau pertimbangan adalah penyatuan pendidikan khusus dan pendidikan regular menjadi suatu system pendidikan yang beragam dan mempertegas pernyataan bahawa pendidikan khusus adalah bagian integral dari system pendidikan. Pendidikan inklusif sebagai sebuah program pendidikan yang diusung guna mencapai tujuan Pendidikan untuk Semua (Eduacation for All), pada dasarnya mengajak kita untuk kembali menggali dan merenungkan apakah proses pembelajaran yang kita laksanakan selama ini telah berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Tuntutan-tuntutan terhadap sikap, metode dan teknik mengajar yang diterapkan oleh seorang guru bukanlah merupakan hal-hal baru yang memang seharusnya dikuasai oleh guru .
PENINGKATAN PROFESIONAL INSTRUKTUR/TUTOR PAUD MELALUI MODEL PEMBELAJARAN REFLEKTIF Dr. ZULFADLI M.Pd
Jurnal Education and Development Vol 7 No 1 (2017): Vol.7 No.1 Nopember 2017
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1484.234 KB) | DOI: 10.37081/ed.v7i1.165

Abstract

Kemampuan profesional instruktur/tutor PAUD bersifat kompleks sehingga diperlukan program pembelajaran yang sitematis dan relatif panjang bagi penguasaannya. Pada dasarnya kemampuan profesional instruktur/tutor yang berbentuk pendidikan prajabatan dan dalam jabatan itu memiliki dua sisi yang saling menunjang yaitu kemampuan untuk melaksanakan tugas dan mengenal batas-batas kemampuan serta kesiapan dan menemukan sumber yang dapat membantu mengatasi keterbatasan kemampuan melaksanakan tugas tersebut. Model pengajaran refletif merupakan salah satu cara untuk penerapan dalam mencapai tujuan tersebut. Model pengajaran reflektif merupakan pendekatan alternatif dalam upaya untuk meningkatkan keterampilan dasar mengajar sebagai wujud dari upaya-upaya menumbuhkan profesionalisme instruktur/tutor atau pendidik pada umumnya. Mengajar merupakan pekerjaan yang memerlukan aktifitas berpikir, kreatif dan seni bukan hanya pekerjaan secara teknik mekanis yang menjalakan tugas mengajar sebagi aktivitas rutin saja tetapi yang memerlukan yang memerlukan kompetensi secara utuh meliputi aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai landasan membetuk sosok profesionalisme.
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI SMA NEGERI 1 KOTANOPAN Nenni Faridah Lubis
Jurnal Education and Development Vol 3 No 2 (2018): Vol.3.No.2.2018
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.936 KB) | DOI: 10.37081/ed.v3i2.174

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedan yang signifikan hasil belajar kimia siswa menggunakan model kooperatif tipe TGT dengan kooperatif tipe STAD pada materi Persamaan Reaksi di SMA Negeri 1 Kotanopan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri I Kotanopan tahun pelajaran 2009/2010. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dengan jumlah sampel dua kelas, yaitu kelas eksperimen I (TGT) sebanyak 30 siswa dan kelas eksperimen II (STAD) sebanyak 33 siswa. Instrumen dalam penelitian ini adalah tes pilihan berganda yang sebelumnya telah diuji cobakan. Hasil uji coba 40 soal diperoleh 20 soal yang valid dan reliabilitas tes sebesar 0,765. Dan dari hasil analisa data diperoleh bahwa data berdistribusi normal dan kedua sampel berasal dari populasi yang homogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor aktifitas siswa pada kelas TGT dan STAD masing-masing adalah 69,44% 63,88%. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa pada kelas TGT dan STAD sebesar 70,67 63,49, dengan peningkatan hasil belajar pada kelas TGT sebesar 60,8% dan pada kelas STAD sebesar 50,3%. Untuk menguji hipotesis digunakan uji t dua pihak dengan kriteria terima H0 jika –t ½ α < thitung < t ½ α . dan berdasarkan rata-rata gain pada kelas TGT 0,608 dan STAD 0,503 diperoleh thitung = 3,158 dan ttabel = 1,999 dengan taraf signifikan 0,05. Karena thitung berada di luar daerah penerimaan H0 maka Ha diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa menggunakan model kooperatif tipe TGT dengan kooperatif tipe STAD pada materi Persamaan Reaksi.
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Suhu Dan Kalor Kelas X T.A 2011/2012 Febriani Hastini Nasution
Jurnal Education and Development Vol 1 No 4 (2016): Vol.1. No. 4. Mei 2016
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2816.729 KB) | DOI: 10.37081/ed.v1i4.175

Abstract

The purpose of this research was to find out the effectiveness of jigsaw cooperative learning model in heat and temperature on student’s learning outcomes grade X in Academic Year 2011/2012. The research method was quasi experimental. The population were seventy (70) students grade X semester II SMA Swasta Muhammadiyah 1 Medan and all of the population became sample of this research. The sample were divided into two classes, experimental and control class. Based on the data tabulation obtained:(1) The post-test mean value of the experimental class was 69.47 and 56.56 was the mean value for control class. (2) The mean value of instrument’s sensitivity index in experimental class was 0.276 that was in sensitivecategory while in control class was 0.187 which meant the requirement of good sensitivity index of instrument was not fulfillment. (3) The percentage result of class learning mastery in experimental class was 86.1 % that was categorized passed meanwhile in control class was 58.8 % that was categorized not passed. (4) The mean value of activities observation result in experimental class was 74.38 while in control class was 70.63 that were included in good category. Based on the obtained results can be concluded that jigsaw cooperative learning model is more effective than direct instruction learning model on student’s learning outcomes.

Page 32 of 282 | Total Record : 2820


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 14 No 1 (2026): Vol 14 No 1 Januari 2026 Vol 13 No 3 (2025): Vol 13 No 3 September 2025 Vol 13 No 1 (2025): Vol 13 No 2 Mei 2025 Vol 13 No 1 (2025): Vol 13 No 1 Januari 2025 Vol 12 No 3 (2024): Vol 12 No 3 September 2024 Vol 12 No 2 (2024): Vol 12 No 2 Mei 2024 Vol 12 No 1 (2024): Vol 12 No 1 Januari 2024 Vol 11 No 3 (2023): Vol. 11 No.3.2023 Vol 11 No 2 (2023): Vol.11 No.2.2023 Vol 11 No 1 (2023): Vol.11 No.1. 2023 Vol 10 No 3 (2022): Vol.10. No.3 2022 Vol 10 No 2 (2022): Vol. 10 No. 2. 2022 Vol 10 No 1 (2022): Vol.10. No.1 2022 Vol 9 No 4 (2021): Vol.9 No.4 2021 Vol 9 No 3 (2021): Vol.9.No.3.2021 Vol 9 No 2 (2021): Vol.9.No.2.2021 Vol 9 No 1 (2021): Vol.9.No.1.2021 Vol 8 No 4 (2020): Vol.8.No.4.2020 Vol 8 No 3 (2020): Vol.8.No.3.2020 Vol 8 No 2 (2020): Vol.8.No.2.2020 Vol 8 No 1 (2020): Vol.8.No.1.2020 Vol 7 No 4 (2019): Vol.7.No.4.2019 Vol 7 No 3 (2019): Vol.7.No.3.2019 Vol 7 No 2 (2019): Vol.7.No.2.2019 Vol 7 No 1 (2019): Vol.7.No.1.2019 Vol 6 No 3 (2018): Vol.6.No.3.2018 Vol 6 No 2 (2018): Vol. 6. No.2 Oktober 2018 Vol 6 No 2 (2018): Vol.6.No.2.2018 Vol 6 No 1 (2018): Vol.6.No.1.2018 Vol 6 No 1 (2018): Vol. 6. No.1 Oktober 2018 Vol 5 No 2 (2018): Vol.5.No.2.2018 Vol 5 No 2 (2018): Vol.5. No. 2 Juli 2018 Vol 5 No 1 (2018): Vol.5. No.1 Juli 2018 Vol 5 No 1 (2018): Vol.5.No.1.2018 Vol 4 No 2 (2018): Vol.4.No.2.2018 Vol 4 No 2 (2018): Vol. 4 No. 2 April 2018 Vol 4 No 1 (2018): Vol.4.No.1.2018 Vol 4 No 1 (2018): Vol.4. No.1. April 2018 Vol 3 No 2 (2018): Vol.3 No.2 Januari 2018 Vol 3 No 2 (2018): Vol.3.No.2.2018 Vol 3 No 1 (2018): Vol.3.No.1.2018 Vol 3 No 1 (2018): Vol.3. No. 1. Januari 2018 Vol 7 No 5 (2017): Vol.7. No. 5. Nopember 2017 Vol 7 No 5 (2017): Vol.7. No. 5. Nopember 2017 Vol 7 No 1 (2017): Vol.7 No.1 Nopember 2017 Vol 7 No 1 (2017): Vol.7 No.1 Nopember 2017 Vol 6 No 5 (2017): Vol.6. No. 5. Agustus 2017 Vol 6 No 5 (2017): Vol.6. No. 5. Agustus 2017 Vol 6 No 4 (2017): Vol.6. No. 4. Mei 2017 Vol 6 No 4 (2017): Vol.6. No. 4. Mei 2017 Vol 6 No 3 (2017): Vol.6. No. 3. Agustus 2017 Vol 6 No 3 (2017): Vol.6. No. 3. Agustus 2017 Vol 6 No 2 (2017): Vol. 6 No. 2 Agustus 2017 Vol 6 No 2 (2017): Vol. 6 No. 2 Agustus 2017 Vol 6 No 1 (2017): Vol.6. No. 1. Agustus 2017 Vol 6 No 1 (2017): Vol.6. No. 1. Agustus 2017 Vol 5 No 3 (2017): Vol.5 No.3 April 2017 Vol 5 No 3 (2017): Vol.5 No.3 April 2017 Vol 5 No 2 (2017): Vol. 5 No. 2 April 2017 Vol 5 No 2 (2017): Vol. 5 No. 2 April 2017 Vol 4 No 5 (2017): Vol.4. No. 5. Januari 2017 Vol 4 No 5 (2017): Vol.4. No. 5. Januari 2017 Vol 4 No 4 (2017): Vol. 4 No. 4 Januari 2017 Vol 4 No 3 (2017): Vol.4 No.3. Januari 2017 Vol 4 No 3 (2017): Vol.4 No.3. Januari 2017 Vol 3 No 5 (2016): Vol.3. No.5. Nopember 2016 Vol 3 No 5 (2016): Vol.3. No.5. Nopember 2016 Vol 3 No 4 (2016): Vol. 3 No. 4 Nopember 2016 Vol 3 No 3 (2016): Vol.3. No. 3. Nopember 2016 Vol 3 No 3 (2016): Vol.3. No. 3. Nopember 2016 Vol 3 No 1 (2016): Vol.3 No. 1 Nopember 2016 Vol 3 No 1 (2016): Vol.3 No. 1 Nopember 2016 Vol 2 No 7 (2016): Vol. 2 No. 7 Agustus 2016 Vol 2 No 6 (2016): Vol.2. No. 6. Mei 2016 Vol 2 No 6 (2016): Vol.2. No. 6. Mei 2016 Vol 2 No 5 (2016): Vol.2. No. 5. Agustus 2016 Vol 2 No 5 (2016): Vol.2. No. 5. Agustus 2016 Vol 2 No 2 (2016): Vol.2. No. 2. Agustus 2016 Vol 2 No 2 (2016): Vol.2. No. 2. Agustus 2016 Vol 2 No 1 (2016): Vol. 2. No. 1 Agustus 2016 Vol 2 No 1 (2016): Vol. 2. No. 1 Agustus 2016 Vol 1 No 6 (2016): Vol.1 No.6. Mei 2016 Vol 1 No 6 (2016): Vol.1 No.6. Mei 2016 Vol 1 No 4 (2016): Vol.1. No. 4. Mei 2016 Vol 1 No 4 (2016): Vol.1. No. 4. Mei 2016 Vol 1 No 2 (2016): Vol.1. No. 2. Mei 2016 Vol 1 No 2 (2016): Vol.1. No. 2. Mei 2016 Vol 1 No 1 (2016): Volume 1 No.1 Mei 2016 Vol 1 No 1 (2016): Volume 1 No.1 Mei 2016 More Issue