cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020" : 25 Documents clear
Peringatan Dini Tanah Longsor Berdasarkan Kelembaban Tanah Secara Jarak Jauh Menggunakan Sensor FC-28 dan Node MCU Agus Setyawan; Jatmiko Endro Suseno; Ratna Dewi Winesthi; Sela Ade Otaviana
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.072 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.242-246

Abstract

Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia, terutama di daerah pegunungan, lembah dan perbukitan dengan kondisi lereng yang tidak stabil. Saat musim hujan tiba maka kadar air yang berlebihan mengakibatkan tanah longsor. Bencana tanah longsor dapat menyebabkan banyak kerugian antara lain: kematian, gangguan infrastruktur jalan dan rusaknya lahan pertanian. Hal tersebut dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu kemiringan lereng dan kelembaban. Penelitian ini bertujuan untuk meminimalkan korban jiwa dengan merancang alat pendeteksi peringatan dini bencana tanah longsor menggunakan sensor Soil Moisture FC-28 dan NodeMcu longsor yang terhubung ke android melalui telegram, sms dan buzzer. Sensor soil moisture FC-28 dipakai untuk mendeteksi parameter kelembaban tanah. Pengujian potensi terjadinya tanah longsor didesain dalam 5 variasi kemiringan untuk mendapatkan nilai kembebaban yang bervariasi. Alat dirancang dengan 2 kondisi yaitu status siaga dan bahaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kondisi siaga terjadi pada kelembaban antara 27% - 54% dengan kemiringan lereng antara 25o -35o dan kondisi bahaya terjadi saat kelembaban lebih dari 54%. Peringatan dini akan terkirim melalui pesan singkat ada aplikasi telegram messenger saat kondisi status siaga, sedangkan alarm akan berbunyi pada saat status bahaya. Alat ini akan sangat bermanfaat bagi warga yang tinggal didaerah rawan bencana longsor, karena dengan adanya tanda peringatan dini warga diharapkan masih mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri sehingga korban jiwa dapat diminimalkan.
Efektivitas Pengawasan Kelembagaan dan Masyarakat Terhadap Kebijakan Penataan Ruang (Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung) Indraya Kusyuniadi; Imam Buchori
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.193 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.209-217

Abstract

Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung (KCAGK) adalah kawasan yang mempunyai keunikan batuan dan fosil, sehingga mendapat julukan sebagai “Black Box” dari proses alam semesta. Berdasarkan kebijakan tata ruang (RTRW) menetapkan KCAGK sebagai kawasan strategis sebagai fungsi daya dukung lahan. Konsekuensinya adalah semua aktifitas yang dapat mengubah bentukan geologi dilarang. Akan tetapi kegiatan penambangan masih menjadi ancaman akan hilangnya keanekaragaman bebatuan yang dilindungi. Penelitian ini memfokuskan pada aspek pengawasan yang terindikasi masih lemah dalam penyelenggaraan pentaan ruang, melalui aspek kelembagaan dan masyarakat. Aspek kelembagaan terdiri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indinesia (LIPI) dan pemerintah daerah melalui Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD), sedangkan aspek mayarakat diwakili tokoh lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis studi statistik deskriptif. Proses penelitian diawali dengan menentukan jumlah populasi untuk lembaga LIPI dan BKPRD melalui purposive sampling diperoleh jumlah sampling sebesar 8 responden. Penentuan jumlah responden masyarakat yang diwakili tokoh masyarakat, menggunakan random sampling dengan teknik area probability diperoleh sampling sebesar 20 responden.Tahapan kedua adalah pengisian kuesioner melalui wawancara langsung ke responden. Tahapan ketiga adalah melakukan analisis efektivitas pengawasan kebijakan tata ruang melalui peran kelembagaan dan masyarakat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peran dari kelembagaan dan masyarakat belum efektiv dalam melakukan tahapan pengawasan Peraturan Daerah (Perda) RTRW di KCAGK. Indikator dari ketidak efektivan dilihat dari: 1) sosialisasi kebijakan, 2) perizinan penambangan, 3) penerapan insentif dan disinsentif, 4) pembiayaan dan 5) pemantauan dan kepedulian lingkungan. Perlu suatu perbaikan dalam meningkatkan peran kelembagaan dan masyarakat, diantaranya 1) Lembaga BKPRD perlu ditinjau ulang keberadaannya, 2) peran masyarakat perlu di berikan kewenagan lebih dalam pengawasan lingkungan di KCAGK.
Pemodelan Erosi dan Sedimentasi di DAS Bajulmati : Aplikasi Soil dan Water Assesment Tool (SWAT) Mohamad Wawan Sujarwo; indarto indarto; Marga Mandala
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.473 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.218-227

Abstract

DAS bajulmati merupakan DAS kecil (± 173.4 km2) yang berada di wilayah timur pulau Jawa. DAS bajulmati memiliki iklim yang spesifik yaitu relatif kering dengan musim kemarau yang panjang (8-9 bulan selama setahun). Meskipun kondisi iklim yang kurang mendukung, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani landang. Adanya perluasan lahan pertanian non irigasi/ladang mengakibatkan tutupan vegetasi semakin berkurang. Oleh karena itu, evaluasi DAS bajulmati diperlukan untuk mengetahui dampak perluasan lahan pertanian terhadap laju aliran dan sedimentasi dengan kondisi iklim yang cukup spesifik (kering). Salah satu model evaluasi pengelolaan DAS terhadap perubahan lahan adalah model SWAT (Soil and Water Assessment Tool). SWAT dapat menggambarkan proses hidrologi (erosi dan sedimentasi) unit lahan. data DEM resolusi (10x10 m) sebagai masukan utama untuk proses delinasi DAS. Data tanah, tutupan lahan, dan kontur digunakan untuk menentukan unit lahan/hydrolocal response unit (HRU) DAS. Data curah hujan dan iklim (suhu, kelembaban rata-rata, intensitas matahari, kecepatan angin) diperoleh dari stasiun yang tersebar di wilayah DAS. Semua data diintegrasikan ke dalam SWAT untuk menghitung proses hidrologi, erosi dan sedimentasi. Debit yang diamati digunakan untuk mengkalibrasi keluaran debit hasil SWAT di outlet DAS. Hasil kalibrasi debit menunjukkan nilai Nash-Sutcliffe Efficiency sebesar 0,53 dan validasi sebesar 0,5 serta koefisien determinasi sebesar 0,58 dan 0,78 (memuaskan) dan model dapat digunakan untuk ilustrasi proses hidrologi dalam DAS bajulmati. Analisis tingkat erosi SWAT menunjukkan bahwa 34,46; 39,19; dan 17,83 menunjukkan tingkat erosi sangat ringan sampai kategori sedang. Oleh karena itu, DAS Bajulmati masih dalam kategori aman karena rata-rata erosi berat dan sangat berat dibawah 10%. Nilai sedimentasi tertinggi pada HRU 512 dan SubDAS 23. Wilayah tersebut merupakan wilayah perkebunan dengan tingkat kemiringan diatas 40%.
Potensi Ekowisata di Bukit Cinta Danau Rawapening Kabupaten Semarang Nurul Lathifah; Jafron Wasiq Hidayat; Fuad Muhammad
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.624 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.228-235

Abstract

Indonesia mempunyai berbagai jenis sumberdaya hayati potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai objek daya tarik wisata unggul, salah satunya adalah Bukit Cinta Danau Rawapening. Objek wisata tersebut menyajikan landskap alami dan berlokasi di pertemuan Semarang-Solo-Yogyakarta. Potensi sumberdaya dan lokasi yang strategis membuat objek wisata tersebut menjadi salah satu dari 15 danau prioritas nasional, namun demikian masih banyak potensi sumberdaya hayati yang dapat diikembangkan untuk membangun ekowisata di Bukit Cinta Danau Rawapening. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi sumberdaya biotik terhadap ekowisata dan mengkaji potensi ekowisata di Bukit Cinta Danau Rawapening Kabupaten Semarang. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2018-Maret 2019 dengan mengumpulkan data primer yang meliputi keanekaragaman plankton, makrobenthos, nekton, vegetasi, fisika kimia perairan, potensi objek wisata, dan data sekunder meliputi keanekaragaman burung, jumlah pengunjung. Parameter biotik dianalisis strukturnya sedangkan kualitas air status fisik-kimia. Penilaian potensi daerah wisata menggunakan metode ADO-ODTWA Danau. Berdasarkan hasil penelitian di Bukit Cinta Danau Rawapening dalam aspek biotik memperlihatkan bahwa biota yang mendominasi adalah Melosira sp, Tarebia granifera, Oreochromis niloticus, Eichhornia crassipes, Bubulcus ibis, dan kualitas air masih layak digunakan sebagai tempat wisata. Berdasarkan hasil penilaian identifikasi potensi daerah wisata Bukit Cinta Danau Rawapening termasuk dalam klasifikasi tinggi dengan nilai 6310. Hal ini mengindikasikan bahwa objek wisata Bukit Cinta Danau Rawapening memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata
Kualitas Air dan Indeks Pencemaran Danau Galela Tri Retnaningsih Soeprobowati; Hendro Christi Suhry; Tyas Rini Saraswati; Jumari Jumari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.721 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.2.236-241

Abstract

Danau Galela adalah salah satu sumberdaya perairan tawar terbesar di Provinsi Maluku Utara. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, Danau Galela mengalami permasalahan seperti penurunan kualitas air akibat meningkatnya sistem budidaya ikan dengan menggunakan keramba, perikanan tangkap dan objek wisata. Aktifitas yang dilakukan di badan air maupun daratan perlahan berpengaruh terhadap ekosistem danau. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air dan status pencemaran danau galela, berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi (Kelimpahan fitoplankton). Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Sampel fitoplankton diambil dengan metode stratifikasi secara vertikal setiap 1m. selanjutnya data di analisis kelimpahan dan komposisi fitoplankton untuk menentukan indeks saprobic dan indeks pencemaran. Berdasaarkan hasil analisis kandungan Kadar fosfor, nitrit dan amonia pada beberapa stasiun melewati baku mutu perairan kelas I dan II. Komposisi fitoplankton di Danau Galela terdiri atas Chlorophyta 15 spesies, Bacillariophyta 10 spesies, Cyanophyta 4 spesies, Euglenophyta dan Pyrrhophyta 1 spesies. Berdasarkan kelimpahan fitoplankton diketahui bahwa perairan Danau Galela berkisar antara 10.089 ind/l hingga 32.108 ind/l, termasuk kategori mesoeutrofik hingga eutrofik. Indeks saprobik berkisar pada β Mesosaprobik hingga α Mesosaprobik, sementara indeks pencemaran menunjukan memenuhi baku mutu hingga cemar ringan.
Kajian Tipologi dan Pemanfaatan Sumber Daya Air di Provinsi Aceh Ahmad Nubli Gadeng; Ramli Ramli; Muhammad Okta Ridha Maulidian; Furqan Ishak Aksa; Dede Rohmat; Mirza Desfandi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.2.333-341

Abstract

Air merupakan material yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup yang ada di bumi, tanpa apa air kehidupan tidak dapat berlangsung dengan sempurna. Akan tetapi ketersediaan air di setiap daerah berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana tipologi dan pemanfaatan sumber daya air di Aceh. Metodologi yang digunakan yaitu library research (penelitian kepustakaan). Hasil yang didapatkan yaitu, Aceh memiliki berbagai tipologi sumber daya air, Pertama, memiliki 14 CAT (Cekungan Air Tanah), ada yang skala kabupaten/Kota, skala lintas kabupaten/kota bahkan skala lintas provinsi. Kedua, memiliki 10 Sungai, 11 WS (Wilayah Sungai), 15 DAS (Daerah Aliran Sungai) dan 7 Danau. Berbagai sumber daya air tersebut yang dimanfaatkan oleh penduduk Aceh berjumlah 5.189.466 jiwa, dengan jumlah kepala rumah tangga (kepala keluarga) 1.231.058 KK, dan tingkat kepadatan penduduk 91 Jiwa/Km², sehingga dapat dipastikan dengan sumber daya air yang sangat melimpah, pasokan air yang dibutuhkan oleh masyarakat akan selalu tercukupi. Terlebih lagi dalam hal pemanfaatan air untuk berbagai keperluan masyarakat, seperti MCK (mandi, cuci, kakus), keperluan ibadah, keperluan pertanian, perkebunan, peternakan, perindustrian, dan berbagai keperluan lainnya dalam rangka menunjang kebutuhan hidup masyarakat yang terdapat di Aceh.
Strategic Assumptions for The Success of Coal Mining Reclamation to be A Tourism Site; A Case Study in Rantau Pandan Village of Bungo Regency asnelly ridha daulay
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.2.253-260

Abstract

Bad practice of open coal mining in Bungo Regency leaves many abandoned ponds. One pond in Rantau Pandan Village has been neglected for 5 years. Its environmental and social impacts pushed people to sue the government to revoke the permit of XXX Company that manages the mining. The low price of coal as well as the deep and large area to be piled make more difficult to do reclamation. This study aims at exploring the prospect of doing reclamation for tourism purposes with the concept of Community Based Tourism (CBT) and analyzing some strategic assumptions for the success that of reclamation. Primary data were collected through observation, interview and focus group discussion. Data were analyzed descriptively and qualitatively using Strategic Assumption Surfacing and Testing (SAST) method. Research finding shows that the people are eager to welcome the idea of CBT however the compensation from the mining company should be paid first. Of 22 assumptions for the development of tourism village, 18 assumptions can be grouped into quadrant II or Certain Planning Region, while 4 assumptions are in quadrant IV or Problematic Planning Region. To support this plan, it’s suggested five things i.e. resolving the social conflict among parties, strengthening the local institution, giving a mandate to villagers to manage the pond as a tourism site, then followed by supervising and enhance infrastructure to ease access.
Emisi Karbondioksida (CO2) Lahan Gambut Pasca Kebakaran Tahun 2018 di Kota Pontianak Shandra Andina Rahsia; Evi Gusmayanti; Rossie Wiedya Nusantara
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.2.384-391

Abstract

Lahan gambut di Kota Pontianak sering mengalami kebakaran yang berulang hampir setiap tahun. Tutupan lahan gambut yang terbakar beragam, mulai dari semak belukar hingga kebun masyrakat seperti akasia, kelapa sawit dan kebun campuran. Selain melepaskan emisi CO2 pada saat kebakaran berlangsung, lahan gambut yang mengalami perubahan fisik dan kimia akibat kebaarakan dapat mempengaruhi jumlah emisi CO2 yang dilepaskan ke atmosfer pasca terjadinya kebakaran.  Penelitian ini bertujuan untuk mengukur jumlah emisi CO2 pada lahan gambut yang terbakar pada pertengahan tahun 2018 di Kota Pontianak serta menganalisis korelasinya dengan beberapa faktor lingkungan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei- Juli 2019 di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat pada lahan gambut pasca kebakaran dengan vegetasi awal berupa tanaman akasia dan vegetasi saat dilakukan penelitian berupa semak belukar. Pengukuran Emisi CO2 menggunakan metode sungkup tertutup dengan alat ukur portable EGM 4 (Infra Red Gas Analyzer). Selain itu dilakukan pula pengambilan sampel tanah untuk menganalisis beberapa karakteristik fisik (bobot isi, kadar air gravimetrik, muka air tanah) dan kimia gambut ( kandungan bahan organik, kadar abu, kadar C Organik, pH dan Eh tanah) serta pengukuran variabel lingkungan (suhu udara dan suhu tanah). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai fluks CO2 pada selama periode pengukuran berkisar dari 183 – 595 ton CO2 dengan rerata sebesar 416,07 t CO2 ± 92,99 . Emisi CO2 ini berkorelasi tidak nyata dengan variabel lingkungan. Selain mengindikasikan kompleksitas proses dekomposisi gambut sebagai penghasil emisi CO2 di lahan pasca kebakaran yang tidak dapat dikaitkan dengan variabel lingkungan tertentu, hal ini menunjukkan perlunya melakukan pengukuran dalam jangka waktu yang lebih panjang agar pola emisi dapat terlihat.
Pengujian Toksisitas Lindi Instalasi Pengolahan Lindi TPA Piyungan pada Daphnia sp. dengan Whole Effluent Toxicity Ika Bayu Kartikasari; M Widyastuti; Suwarno Hadisusanto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.2.297-304

Abstract

Lindi adalah rembesan yang melalui tumpukan sampah hasil endapan yang berada di bawah landfill yang terakumulasi yang terdiri dari bahan organik dan anorganik. Lindi hasil pengolahan IPL TPA Piyungan masih memiliki potensi pencemaran lindi menjadi permasalahan yang masih memiliki nilai toksisitas yang tinggi. Perlu adanya pengukuran toksisitas untuk mengetahui pengaruh pencemaran lindi terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) melakukan analisis efektivitas hasil pengolahan lindi di IPL TPA Piyungan, dan (2) melakukan pengujian toksisitas akut dengan WET (Whole Effluent Toxicity) menggunakan Daphnia sp. pada pengolahan lindi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni melakukan uji laboratorium pada parameter pengolahan lindi yang disesuaikan dengan permen LHK No. 59 tahun 2016 untuk pengukuran efektivitas pengolahan lindi, uji LC50 untuk mengetahui tingkat tokisitas akut pada influen dan efluen pengolahan lindi. proses pengolahan lindi TPA Piyungan terdiri dari Kolam Sedimentasi, Aerasi, dan Desinfeksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Efektivitas pengolahan lindi TPA Piyungan pada parameter berturut-turut TSS 56 %; BOD 82 %; COD 0 %; TN 41,67%; dan Hg 14 %. Hasil efektivitas pengolahan lindi tersebut tidak mempengaruhi peningkatan perbaikan kualitas lindi yang disesuaikan Peraturan Menteri LHK No 59/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016 masih melebihi baku mutu yang telah ditetapkan kecuali parameter BOD, (2) Toksisitas lindi TPA Piyungan dikategorikan Very High Acute Toxicity pada influen dan High Acute Toxicity efluen IPL Piyungan. Kematian 50% populasi daphnia untuk contoh uji influen IPL Piyungan sebesar 0,482% dengan Toxic Unit acute (TUa) sebesar 203,33. Contoh uji efluen IPL Piyungan sebesar 2,752% dengan Toxic Unit acute (TUa) sebesar 36,33.
Teknik Konservasi Mataair Berdasarkan Karakteristiknya : Studi Kasus Dusun Sumberwatu dan Dusun Dawangsari, Prambanan, di. Yogyakarta Akhmad Khahlil Gibran; Nur Idham Kholid
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.2.342-353

Abstract

Di Dusun sumberwatu dan Dusun Dawangsari terdapat tiga mataair yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air. Tiga mataair tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau. Kulaitas air yang dihasilkan juga belum diuji standar baku mutu air bersih, sehingga dipelukan upaya konservasi  untuk meningkatkan kuantitas dan kualiatas agar memenuhi standar baku mutu air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan Teknik konservasi yang tepat berdasarkan karakteristik mataair (tipe, kuantitas, dan kualitas) dan menentukan letak daerah imbuhan. Metode survei, wawancara, dan matematis digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Aspek-aspek yang diolah terdiri atas topografi, kemiringan lereng, kebutuhan air masyarakat, kondisi fisik, kimia, dan biologi air mataair. Dari data aspek-aspek tersebut dianalisis dan diinterpretasikan sehingga mendapatkan teknik konservasi yang tepat. Dari hasil penelitian, diperoleh mataair tersebut terbentuk oleh adanya tenaga gravitasi, dengan tipe mataair turbuler. Kuantitas (debit) 3 mataair tergolong kelas 7-8 dengan kualitas air pada seluruh sumber air bakteri coliform tinggi. Zona recharge berada pada bagian timur dan bagian barat di lokasi penelitian. Arahan teknik konservasi yang dilakukan secara agronomis pada daerah imbuhan dengan penanaman sistem wanatani, pembuatan saluran resapan dan rorak pada sistem teras gulud. Kemudian sistem mekanis di sempadan mataair yakni alat Chlorine Diffuser untuk mengatasi bakteri coliform, serta teknik bangunan penangkap air dari sumber air.

Page 1 of 3 | Total Record : 25


Filter by Year

2020 2020