cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2021): April 2021" : 22 Documents clear
Wetland Fires and Its Environmental Conditions Mona Lestari; Desheila Andarini; Anita Camelia; Novrikasari Novrikasari; Rizka Faliria Nandini; Poppy Fujianti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.21-28

Abstract

Today, many wetlands have been converted into agricultural, industrial, and residential areas. This conversion of land functions creates new problems for the environment and human, one of which is land fires. The results of land fires can also cause other problems that results in losses in various fields, such as human health, the economy, and other fields. The emergence of smog as a result of land fires can cause respiratory problems, disruption of the transportation system, conflicts between neighboring countries, and the others. South Sumatra Province is one of the largest contributors to the haze as a result of land fires, especially its wetlands. Ogan Ilir Regency is one of the areas in South Sumatra Province which has extensive wetlands and fires frequently occur. Fires are caused by triggering factors, one of which is natural factors such as a prolonged dry season, availability of water supply, and intensity of rainfall. This study is an analytic descriptive study that aimed to provide an overview of environmental conditions on land, the majority of which are wetlands which experienced fires in Ogan Ilir Regency in 2019. The environmental conditions studied included soil and vegetation types. The data obtained will be displayed through tables and graphs, then interpreted and analyzed descriptively. The type of data used is secondary data in the form of a report by the Regional Disaster Management Agency Ogan Ilir Regency related to land fires in OI Regency and processed using the Geographic Information System (GIS) application. The results of the analysis show that the area of land fires that mostly occurred in North Indralaya District was 382,7 hectares with a total of 144 hotspots. The burnt area was dominated by peat soil (53%) and scrub vegetation (43%).
Evaluasi Potensi Keragaman Hijauan Penutup Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Kabupaten Aceh Timur Provinsi Aceh Fachrul Akbar; Nur Rochmah Kumalasari; Luki Abdullah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.163-169

Abstract

Kabupaten Aceh Timur memiliki area perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai 25,997 ha. Namun, analisis terhadap keragaman dan potensi produksi hijauan yang di area perkebunan kelapa sawit belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi keragaman hijauan yang tumbuh di area perkebunan kelapa sawit rakyat Kabupaten Aceh Timur. Penentuan titik plot pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, berdasarkan kriteria umur tanaman sawit yaitu TBM (0-3 Tahun), Muda (4-8 tahun), Remaja (9-14 tahun), Dewasa (15-20 tahun) dan Tua (20-25 tahun). Parameter yang diamati meliputi keragaman, produksi hijauan segar, produksi bahan kering dan kandungan nutrisi hijauan. Spesies yang mendominasi pada area TBM yaitu Asystasia gangetica L, Imperata cylindrica, Oplismenus compositus, Panicum repens dan Paspalum conjugatum dengan INP 14,29. Spesies yang mendominasi pada area tanaman muda yaitu Axonopus compressus, Clidemia hirta dan Drymaria cordata dengan INP 19,64. Spesies yang mendominasi pada area tanaman remaja yaitu Panicum repens, Paspalum conjugatum dan Urochloa reptans L dengan INP 20,41. Spesies yang mendominasi pada area tanaman dewasa yaitu Adiantum hispidulum Sw dan Nephrolepis biserrata dengan INP 20,00. Spesies yang mendominasi pada area tanaman tua yaitu Imperata cylindrica dan Clidemia hirta L dengan INP 33,33. Potensi produksi hijauan mencapai mencapai 13,37 ton ha-1 hijauan segar dan 3,19 ton ha-1 bahan kering. Kandungan protein kasar yang berasal dari hijauan di bawah naungan kelapa sawit berkisar antara 8,55% - 12,84%, sedangkan kandungan serat kasar berkisar antara 17,65% - 24,70%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa keragaman hijauan di bawah naungan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Timur dikategorikan sedang.
Analisis Faktor Pendorong Perubahan Tutupan Lahan selama Satu Dekade di Kabupaten Labuhanbatu Utara Regan Leonardus Kaswanto; Ruth Mevianna Aurora; Doni Yusri; Sofyan Sjaf
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.107-116

Abstract

Mengacu pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2008, sejak tanggal 24 Juni 2008 Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) mulai berdiri sendiri sebagai kabupaten dan terpisah dari Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Pada dasarnya wilayah pemekaran memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data BPS tahun 2019, sektor unggulan dan mata pencaharian di Kabupaten Labura adalah pertanian. Akan tetapi seiring berjalannya waktu usaha pertanian semakin menurun. Hal ini terjadi diduga karena perubahan tutupan lahan. Secara geografis pemekaran wilayah akan mempengaruhi perubahan tutupan penggunaan lahan. Oleh karena itu untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi perlu dilakukan analisis tutupan lahan tahun 2010-2019, kurang lebih 10 tahun setelah masa pemekaran terjadi. Analisis tutupan lahan satu dekade ini dilakukan menggunakan Citra Landsat yang diolah melalui metode klasifikasi penggunaan dan perubahan lahan. Hasilnya Kabupaten Labura mengalami perubahan yang relatif lambat. Perkebunan karet dan sawit mengalami perluasan lahan yang besar sedangkan hutan mangrove berubah fungsi dominan menjadi perkebunan. Sementara lahan terbuka mengalami perubahan terkecil yang juga mengarah ke perkebunan. Setelah dilakukan analisis tutupan lahan, dilakukan Seleksi Bivariat dengan menggunakan metode Logistic Regression Analysis (LRA) untuk mendapatkan faktor pendorong perubahan. Ada 7 variabel yang diduga mempengaruhi perubahan yaitu 1) jenis tanah, 2) kemiringan lereng, 3) curah hujan, 4) jumlah penduduk, 5) kepadatan penduduk, 6) jarak dari pusat kecamatan, dan 7) jarak dengan jalan utama. Hasil analisis menunjukan 6 variabel mempengaruhi dan hanya 1 variabel yakni curah hujan yang tidak mempengaruhi. Nilai positif pengaruh terbesar adalah jenis tanah. Semakin subur tanah maka perubahan semakin cepat terjadi. Nilai negatif pengaruh terbesar adalah jarak dari pusat kota yaitu kecamatan. Semakin jauh jarak dengan pusat kota, perubahan semakin cepat terjadi. Hal ini terjadi karena perkebunan dan pertanian yang lebih banyak mengalami perubahan berada jauh dari pusat pemukiman kecamatanan. Rekomendasi berupa perlunya zonasi tata ruang dan pengawasan alih fungsi lahan.
The Effect of Environmental Disclosure and Performance on Profitability in the Companies Listed on the Stock Exchange of Thailand (SET) Indah Fajarini Sri Wahyuningrum; Muhammad Ihlashul Amal; Suci Sularsih
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.66-72

Abstract

The main objective of this study is to determine the empirical evidence of the effect of environmental disclosure, environmental performance, company age, and company size on profitability. The purposive sampling method was used to determine the sample of companies and obtained 85 companies from a total population of 100 large companies listed on the Thailand Stock Exchange (SET) in 2018. The data analysis technique used was multiple linear regression analysis using analysis tool IBM SPSS Statistics version 26. The results of this study prove that environmental disclosure has a significant positive effect on profitability. Environmental performance and company size have a significant negative effect on profitability. On the other hand, company age is not proven to have a significant effect on profitability. Based on the research results, it can be concluded that more extensive environmental disclosure is able to increase the achievement of profitability. However, company age is not a factor affecting profitability. Meanwhile, company size and environmental performance as measured by total assets and the existence of ISO 14001 certifications are proven to reduce the level of company profitability. This study also has several limitations, including the time period which is limited to only one time period, namely 2018. It is expected that further studies can expand the time period by more than one year. This is since using a time period of more than one year can illustrate the effect of environmental disclosure and environmental performance, company age and company size on the profitability achieved by the companies.  In addition, it is expected that the results of this study can provide input to companies to be more concerned regarding company performance activities, especially on the environment because there are still many companies that have low levels of environmental disclosure even though environmental disclosure in Thailand is still voluntary.
River Water Quality Based on Macrozoobentic Bioindicators in the Wonocolo Traditional Oil Mining Area Laily Agustina Rahmawati; Norma Afiati; Thomas Triadi Putranto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.29-35

Abstract

Many studies declared traditional oil mining in Wonocolo caused pollution, including river pollution.  During Covid-19 Pandemic, traditional oil mining in Wonocolo has been interrupted because world oil prices decreased. This made selling price of crude oil in Wonocolo declined. This made traditional oil mining decreased because oil wells were temporarily closed. The decrease in traditional oil mining might affect river water quality in Wonocolo. In a prior  study, the researcher had investigated water quality of Bungsu and Kragsaan River in Wonocolo, based on physicochemical parameters. The river had improved quality during Covid-19 Pandemic, seen from the decrease in the content of several chemical pollutants. Through this study, the researcher examined macrozoobentos community structure as a bio indicator of water quality, like assessing water quality of Bungsu and Kragsaan River based on biological indicators. This study used observation method by determining sample points purposively. Sample of macrozoobentos was analyzed using biodiversity index of Shannon-Wiener, species evennes index, and dominance index. Results of study showed Bungsu River had low biodiversity (H’ index 0.000 – 1.040), distressed community at B-1 and B-3 but stable at B-2, like high dominance at B-1 and B-3 but low at B-2. Kragsaan River also had low biodiversity (H’ index 0.000 – 1.010), unstable community at K-1 and K-3 like distressed at K-2, and low dominance at K-2 and K-3 but medium at K-1. Based on H’ index, Bungsu River was in the heavily polluted category at B-1 and B-3 and the medium polluted category at B-2. Meanwhile, Kragsaan River was in the heavily polluted category at K-1 and K-2 and the medium polluted category at K-3. This means although decreased levels of chemical pollutants at the sampling locations meant an increase in quality of water body, river ecosystem had not been able to rejuvenate condition during Covid-19 Pandemic.
Kualitas Air dan Udara dari Kota Tepian Air : Analisis Morfologi pada Kota Pontianak Dian Rahayu Jati; Bontor Jumaylinda Br Gultom; Affrilyno Affrilyno; Andi Andi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.170-180

Abstract

Penelitian ini mengangkat permasalahan rawannya penurunan kualitas air dan udara pada kota tepian di seluruh dunia. Tanda penurunan kualitas air dan udara terlihat di Pontianak di mana kualitas air sangat buruk dan tercatat memiliki kualitas udara terburuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan morfologi kota dan tingkat pencemaran lingkungan yang terjadi di Kota Pontianak melalui analisis korelasi. Metode yang digunakan adalah metode space syntax kombinasi analisis korelasi. Space syntax menganalisis morfologi kota dari segi faktor jaringan perkotaan dengan analisis integration dan analisis choice. Dalam penelitian ini, faktor tata fungsi lahan juga dipertimbangkan. Data pencemaran lingkungan di Kota Pontianak menggunakan data penelitian terdahulu berupa data hasil pengukuran tingkat polutan air dan udara pada beberapa titik lokasi yang tersebar di Kota Pontianak. Analisis korelasi menganalisis hubungan nilai dari variabel morfologi kota dengan variabel pencemaran lingkungan. Penelitian ini menemukan nilai korelasi yang bervariasi antara pencemaran lingkungan dengan morfologi kota. Secara umum, tingkat pencemaran air berkorelasi rendah dengan morfologi Nilai korelasi pencemaran air secara fisik dan kimia dengan analisis integration adalah sebesar 0,23 (rendah) dan -0,20 (rendah), secara berurutan. Sedangkan dengan analisis choice, nilai korelasinya sebesar 0,08 (tidak berkorelasi) dan 0,49 (sedang), secara berurutan. Di lain sisi, nilai korelasi antara tingkat pencemaran udara dengan morfologi kota memiliki nilai yang bervariasi tergantung pada jenis polutannya. CO (Karbon monoksida) berkorelasi tinggi dengan analisis integration dan choice dengan koefisien korelasi masing-masing 0,73(tinggi) dan 0,64 (tinggi). Sedangkan NO3 tidak memiliki korelasi dengan analisis integration (0,02 sampai dengan 0,16) tetapi berkorelasi rendah dengan analisis choice (0,30 sampai dengan 0,32). 
Analisis Dampak Sosial Ekonomi Budaya Kegiatan Eksplorasi Panasbumi di WKP Baturraden (Studi Kasus di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas) Muhammad Fadil Ramadhan; Muslihudin Muslihudin; Mukhtar Effendi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.117-126

Abstract

Hadirnya energi panasbumi sebagai Energi Baru Terbarukan (EBT) rupanya bukan berarti hadir tanpa suatu dampak bagi lingkungan disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak sosial-ekonomi-budaya yang terjadi dan merumuskan strategi pengelolaan lingkungan komponen sosial ekonomi budaya guna meminimasi dampak negatif dan mengoptimasi dampak positif dari kegiatan eksplorasi panasbumi WKP Baturraden di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian metode campuran dengan pendekatan eksplanatoris sekuensial, yaitu dengan menggabungkan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif yang digunakan berupa analisis besar dampak serta analisis sifat dampak. Berdasarkan hasil pengolahan data secara kuantitatif tersebut, selanjutnya dianalisis secara kualitatif menggunakan matrik SWOT untuk perumusan strategi pengelolaan lingkungan komponen sosial ekonomi budaya. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner dan observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur yang memiliki ketkaitan dengan topik penelitian. Berdasarkan hasil analis yang dilakukan dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa dampak yang terjadi atas kegiatan eksplorasi panasbumi di WKP Baturraden bervariasi, dari yang tidak menimbulkan dampak hingga berdampak sangat besar. Sedangkan berdasarkan sifat dampaknya terdapat dampak yang cukup penting hingga sangat penting. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 dampak dengan bobot besar dampak dan sifat dampak tertinggi, yaitu penurunan kenyamanan masyarakat dan perubahan persepsi masyarakat. Dengan kondisi tersebut, meninjau tingkat urgensi kegiatan eksplorasi panasbumi dalam rangka pengupayaan energi baru terbarukan maka strategi pengelolaan lingkungan yang paling tepat pada komponen sosial ekonomi budaya berdasar analisis SWOT adalah menggunakan strategi devensif yang memadukan antara kekuatan internal dengan peluang eksternal dan strategi diversifikasi yang memadukan antara kekuatan internal dengan ancaman eksternal.
Pemantauan Kualitas Udara Kota Tegal (Studi Kasus : Kecamatan Tegal Selatan, Kecamatan Tegal Barat, Kecamatan Tegal Timur) Andika Pradifan; Widayat Widayat; Agus Suprihanto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.73-82

Abstract

Pengelolaan kualitas udara dan pengendalian pencemaran udara harus dilakukan untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan kehidupan. Pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara dapat dilaksanakan dengan melakukan pemantauan kualitas udara. Hasil dari pemantauan kualitas udara ambien selanjutnya digunakan untuk perhitungan IKU.  Indeks Kualitas Udara/IKU merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian kualitas udara secara sederhana dengan menggunakan beberapa parameter terpilih.  Indeks Standar Pencemar Udara/ISPU, Parameter yang digunakan untuk menentukan ISPU yaitu Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2),  Oksidan (O3), Total Partikel (TSP), Karbon Monoksida (CO), Amoniak (NH3), Hidrogen Sulfida (H2S), Weather Station (Suhu Udara, Tekanan Udara, Kelembaban Udara), Arah dan Kecepatan Angin, GPS (Koordinat Lokasi), Tingkat Kebisingan, dan PM10. Sedangkan untuk perhitungan Indeks Kualitas Udara menggunakan 2 parameter utama yaitu Nitrogen Oksida (NOx) dan Sulfur Oksida (SOx). Pengambilan sampel udara di Kota Tegal menggunakan alat High Volume Air Sampler (HVAS) dengan lama pengambilan selama 24 jam. Lokasi yang digunakan untuk pengambilan contoh kualitas udara ambien terletak di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo untuk pemantauan transportasi. Sedangkan untuk pemantauan kualitas udara dengan metode passive sampler memerlukan waktu selama 14 hari. Lokasi yang dipilih mewakili transportasi, kawasan permukiman, kawasan industri, kawasan perkantoran dan kawasan perdagangan. Pengambilan sampel kualitas udara ambien selama 24 jam digunakan untuk menghitung Nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Nilai ISPU pada lokasi pemantauan di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo (Terminal Kota Tegal) masing masing yaitu : SO2 sebesar 21,25, CO sebesar 10, NO2 sebesar 48, O3 sebesar 22,92 dan PM10 sebesar 40. Seluruh parameter termasuk dalam rentang 0 – 50 dengan kategori baik.
Analysis of Development Patterns of Built Land and Spatial Structure in Bandung City Using Landsat 8 Image Data Mukhoriyah Mukhoriyah; Samsul Arifin; Esthi Kurnia Dewi; Silvia Silvia
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.36-42

Abstract

The development of an urban area and the increasing totally of population growth greatly affect the need for land. To satisfy these needs, the land changes into built land which causes the density of an area. This study aims to analyze the development pattern of built land and the spatial structure of Bandung City. The data used are the 2015-2020 Landsat 8 time series imagery, the 2019 SPOT-6 imagery, and the administrative boundary map. The analytical methods used to identify and differentiate between built and non-built land classes are NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and the OTSU method with a threshold of 0.1. Based on the analysis, the results obtained are that the changes in the area of built and non-built land in 2015 amounted to 7,115.9 Ha and in 2017 it was 5,977.3 Ha and for 2 years the area decreased by 4%. Meanwhile, in 2017-2019 there was an increase of 2%, and in 2020 it decreased by 2% again. Based on the results of the analysis, the development pattern of land developed in the city of Bandung generally spreads from the city center to the suburbs, which are used as service / government centers, trade and service areas, and infrastructure. With this spreading pattern, the spatial structure is in the form of multiple nuclei or evenly distributed throughout the city of Bandung, where the City Center or CBD is used as a landmark for the surrounding areas. The high development pattern of built land has an impact on the surrounding environment, especially residential areas that have high building density causing the settlement area to become slum and reduce water catchment areas. The conclusion of this study is that the changes in the built-in land from 2015-2020 decreased by 3%, with the development pattern of the constructed land spreading out following the form of the road network, both arterial, collector and local roads.
Analisis Keberlanjutan Biogas Skala Mikro di Pedesaaan (Studi Kasus di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat) Ramdhan Aziz Al Batistuta; Arya Hadi Dharmawan; Bayu Eka Yulian
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.181-190

Abstract

Penggunaan bioenergi sebagai energi terbarukan sudah mulai menggantikan penggunaan energi fosil secara bertahap. Upaya pemerintah dalam mendukung penggunaan bioenergi dengan membuat program Desa Mandiri Energi di berbagai tempat yang memiliki potensi sumber energi terbarukan. Keberlanjutan bioenergi sangat penting untuk dinilai agar kebutuhan energi saat ini dan kebutuhan energi dimasa yang akan datang dapat terpenuhi. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis status keberlanjutan biogas, mengidentifikasi atribut sensitif multidimensi keberlanjutan, serta merumuskan strategi pengembangan tata kelola sistem biogas secara berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Analisis data dilakukan dengan metode Multi Dimensional Scalling (MDS), menggunakan modifikasi program Rapfish dengan tinjauan pada lima dimensi yaitu dimensi sosial, ekonomi, lingkungan, teknologi dan kelembagaan. Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Ciaul dan Kampung Babakan, Desa Cisondari, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat yang dipilih secara sengaja (purposive). Penentuan sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data primer dalam penelitian ini adalah kuisioner dan pertanyaan terstruktur sebagai pedoman dalam melakukan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan status keberlanjutan biogas secara dimensi sosial, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan tergolong cukup berkelanjutan. Keberlanjutan biogas secara dimensi ekonomi tergolong kurang berkelanjutan. Setiap dimensi keberlanjutan terdapat dua atribut sensitif yang mempengaruhi secara signifikan. Atribut sensitif ditentukan berdasarkan nilai Root Mean Square (RMS) dari setiap atributnya. Rumusan strategi yang telah disusun berdasarkan atribut sensitif yang sudah ditentukan. Hal ini untuk memprioritaskan strategi-strategi dalam upaya meningkatkan status keberlanjutan biogas.

Page 1 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2021 2021