cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Finding Common Ground in Collaborative Environmental Management: A Case Study in Cijedil Forest Landscape, Cianjur Agung Hasan Lukman; Budhi Gunawan; Parikesit Parikesit
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.399-408

Abstract

Forest landscape in Cijedil Village, Cianjur hosts numerous endemic wildlife to conserve. On the other hand, the needs of local people from forest utilization could not be also neglected. Hence, the environmental management issues in the forest landscape of Cijedil are not only attributed to the biodiversity and ecological protection but also social and economic empowerment that engages various stakeholders. To get a mutual understanding among the stakeholders within collaborative management, building dialogue, reaching consensus, and comprehending its process is necessary. Nevertheless, few studies, particularly in Indonesia, have thoroughly performed related to this topic. The objective of this study is to fill this gap by describing the consensus building in the collaborative process framework and its affecting factors for reaching an agreement in collaborative management in the forest landscape of Cijedil. We performed a qualitative study by using action-based research and a case-study approach. Semi-structured and in-depth interviews were undertaken with 18 key informants selected by the snowball sampling representing six stakeholders involved: KPH Cianjur, SPH II Cianjur, BLHD Cianjur, officials of Cijedil Village, LMDH Cijedil, and the local community of Cijedil. The findings show that this consensus building has adapted the collaborative framework indicated by problem- and direction-setting activities in the first two stages of the collaborative process. It also suggests that the main influencing of parties-related factors are human resource capacity, level of understanding, and commitment, whereas process-related barriers are time uncertainty and incentives offered. These factors are indicated not completely discrete but rather affecting each other. To conclude, while the consensus for broadly collaborative environmental management is still needed to promote, the driven inhibiting factors remain. It is, therefore, crucial to address and deal with those main challenging elements. AbstrakLanskap hutan di Desa Cijedil, Cianjur mempunyai banyak satwa endemik yang penting untuk dilestarikan. Namun di sisi lain, kebutuhan masyarakat lokal dari pemanfaatan hutan juga tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, masalah pengelolaan lingkungan di lanskap hutan Cijedil tidak hanya terkait dengan perlindungan keanekaragaman hayati tetapi juga pemberdayaan sosial dan ekonomi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Untuk mendapatkan pemahaman bersama di antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan kolaboratif, perlu membangun dialog, mencapai konsensus, dan memahami prosesnya. Namun demikian, baru sedikit penelitian, khususnya di Indonesia, yang telah dilakukan terkait topik ini. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengisi kesenjangan ini dengan menggambarkan pembangunan konsensus dalam kerangka proses kolaboratif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk mencapai konsensus dalam pengelolaan kolaboratif di lanskap hutan Cijedil. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis aksi dan pendekatan studi kasus. Wawancara semi terstruktur dan mendalam dilakukan dengan teknik snowball terhadap informan kunci yang mewakili enam pemangku kepentingan yang terlibat: KPH Cianjur, SPH II Cianjur, BLHD Cianjur, aparat Desa Cijedil, LMDH Cijedil, dan masyarakat Cijedil. Temuan menunjukkan bahwa pembangunan konsensus ini telah mengadaptasi kerangka kerja kolaboratif yang ditunjukkan oleh aktivitas penetapan masalah dan arah dalam dua tahap pertama proses kolaboratif. Temuan juga menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi terkait pihak adalah kapasitas sumber daya manusia, tingkat pemahaman, dan komitmen, sedangkan hambatan terkait proses adalah ketidakpastian waktu dan insentif yang ditawarkan. Faktor-faktor ini tidak sepenuhnya terpisah melainkan saling mempengaruhi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa walaupun konsensus untuk pengelolaan lingkungan kolaboratif secara luas masih diperlukan, faktor-faktor penghambatnya masih tetap ada. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi tantangan utama tersebut.
Jenis Tanah, Komposisi dan Keanekaragaman Jenis Tegakan Pada Pengusahaan Hutan Alam Secara Konvensional dan RIL I Wayan Susi Dharmawan; Muhammad Ridwan; Nana Suparna
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.555-564

Abstract

Dalam melakukan pengelolaan hutan alam produksi, penggunaan sistem pemanenan yang memberikan dampak kerusakan lingkungan minimal sangat diharapkan. Salah satu sistem pemanenan yang dapat meminimalisir dampak kerusakan lingkungan akibat pemanenan adalah Reduced Impact Logging (RIL). Namun demikian, data hasil kajian terkait dampak sistem pemanenan konvensional dan RIL terhadap komposisi, keanekaragaman jenis dan juga sebaran jenis tanahnya masih sangat sedikit. Padahal, data tersebut sangat penting sebagai bagian strategi untuk implementasi pengelolaan hutan alam lestari dapat lebih berhasil kedepan. Tulisan ini bertujuan menginformasikan sebaran jenis tanah, komposisi dan keanekaragaman jenis tegakan pada wilayah pengusahaan hutan alam yang telah menerapkan sistem pemanenan secara konvensional dan RIL dalam rangka mendukung strategi pengelolaan hutan alam lestari. Plot berbentuk lingkaran digunakan untuk melakukan survei analisis vegetasi di tiga (3) areal IUPHHK-HA yaitu PT. A, PT. B, dan PT. C di Provinsi Kalimantan Tengah serta data yang terkumpul selanjutnya dianalisis lebih lanjut yaitu INP (Indeks Nilai Penting), indeks keanekaragaman jenis (Shannon-Wiener), indeks kekayaaan jenis (Margalef) dan indeks kemerataan jenis. Hasil penelitian di seluruh lokasi studi menunjukkan sebaran jenis tanah yang didominasi oleh kompleks Kambisol-Podsol sebesar masing-masing 82,0% (PT. A),  45,38% (PT. B), 48,48% (PT. C) yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan ketersediaan hara yang rendah; tidak ditemukan banyak perubahan keberadaan famili-famili tumbuhan berdasarkan 5 spesies dengan INP tertinggi pada masing-masing tingkat pertumbuhan pancang, tiang dan pohon (selisih rata-rata nilai INP pada semua tingkatan pertumbuhan berada dibawah nilai 10%) dimana masih sangat didominasi oleh famili-famili Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Fabaceae dan Fagaceae; tidak ditemukan banyak perubahan terhadap nilai keanekaragaman (nilai 3,00-3,19), kekayaan (nilai 6,57-7,61) dan kemerataan jenis (nilai 0,82-0,88). Dengan demikian, sistem pemanenan pada hutan alam yang dilaksanakan dengan baik yang mempunyai dampak terhadap lingkungan minimal akan memberikan keberlanjutan komposisi tegakan dan keanekaragaman hayati untuk mendukung terjaminnya kelestarian hutan pada areal pengusahaan hutan alam produksi di Indonesia.ABSTRACTIn managing natural production forest, the use of a logging system that provides minimal damage is highly desirable. One of the logging systems that can minimize the impact of damage due to logging is Reduced Impact Logging (RIL). However, data from studies related to the impact of conventional and RIL logging systems on the composition, species diversity and distribution of soil types are still very few. In fact, the data is very important as part of a strategy for implementing sustainable natural forest management to be more successful in the future. This paper aims to inform the distribution of soil types, composition and species diversity of stands in forest concession areas that have applied conventional logging systems and RIL in order to support sustainable natural forest management strategies. The circular plot was used to conduct a vegetation analysis survey in three (3) IUPHHK-HA areas, namely PT. A, PT. B, and PT. C in Central Kalimantan Province and the data collected were then analyzed further, namely the INP (Importance Value Index), the species diversity index (Shannon-Wiener), the species richness index (Margalef) and the species evenness index. The results of the research in all study locations showed that the distribution of soil types was dominated by the Kambisol-Podsol complex as amounted 82,0% (PT. A),  45,38% (PT. B), 48,48% (PT. C)  which had low fertility and low nutrient availability; not found much change in the existence of plant families based on 5 species with the highest INP at each growth stage of saplings, poles and trees (difference in the average INP values at all growth stages below 10%) that still very much dominated by the Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Fabaceae and Fagaceae families; not found much change in the value of diversity (value 3,00-3,19), richness (value 6,57-7,61) and evenness of species (value 0,82-0,88).Thus, a logging system that is carried out properly in managing natural forest that has minimum environmental impact will provide sustainability of stand composition and biodiversity to support the assurance of forest sustainability in natural forest concession areas in Indonesia..
Review Hidrolisis Biomasa Lignoselulosa Untuk Xilitol Awan Purnawan; Ahmad Thontowi; Lutfi Nia Kholida; Urip Perwitasari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.485-496

Abstract

Xilitol adalah gula alkohol dengan lima atom karbon. Gula ini digunakan sebagai pemanis industri pangan dan makanan, karena memiliki karakter yang menguntungkan. Meskipun xilitol diproduksi secara industri oleh reduksi kimia D-xilosa yang berasal dari hidrolisat hemiselulosa, metode produksi ini tidak ekonomis karena persyaratan untuk D-xilosa murni, suhu tinggi, dan tekanan tinggi. Oleh karena itu, produksi xilitol melalui pendekatan bioteknologi dengan bantuan mikroorganisme menjadi fokus sebagai metode yang ekonomis dan ramah lingkungan. Selain itu, untuk meningkatkan produksi bio-xilitol, strain mikroorganisme telah mengalami strategi modifikasi genetik. Review ini menjelaskan upaya produksi xilitol dari biomasa lignoselulasa, proses perlakuan biomasa, dan mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi xilitolAbstractXylitol is a sugar alcohol with five atoms of C. This sugar is used as a sweetener in the food industry and confectionary, because it has a favorable character. Although xylitol is produced industrially by the chemical reduction of D-xylose derived from hemicellulose hydrolyzate, this production method is not economical because of the requirements for pure D-xylose, high temperature, and high pressure. Therefore, the production of xylitol with a biotechnological approach with the help of microorganisms becomes the focus as an economical and environmentally friendly method. In addition, to increase bio-xylitol production, strains of microorganisms have undergone genetic modification strategies. This review article describes the latest advances made in the production of xylitol from lignocellulase biomass, biomass treatment processes, and microorganisms that play a role in xylitol fermentation. 
Pengaruh Perubahan Curah Hujan terhadap Produktivitas Padi Sawah di Kalimantan Barat Fanni Aditya; Evi Gusmayanti; Jajat Sudrajat
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.237-246

Abstract

Variabilitas curah hujan sangat erat kaitannya dengan perubahan iklim di suatu wilayah dan analisisnya sangat berguna dalam mengukur ketersediaan air untuk pertanian khususnya padi sawah. Penelitian ini bertujuan menganalisis variabilitas curah hujan dan hubungan curah hujan tahunan terhadap produktivitas padi di Kalimantan Barat.  Lokasi penelitian difokuskan di wilayah Kabupaten Mempawah dan Kubu Raya dengan menggunakan data yang tersedia pada tahun 2000-2019. Analisis datanya menggunakan persamaan variabilitas dan dilanjutkan dengan analisis korelasi dan komposit. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabilitas curah hujan tahunan di Mempawah dan Kubu Raya termasuk dalam kategori rendah. Nilai variabilitas bulanan menunjukkan rentang yang bervariasi dari rendah hingga ekstrem di setiap lokasi. El Nino memiliki dampak negatif yang kuat terhadap curah hujan pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON), sedangkanLa Nina memiliki dampak positif yang kuat terhadap curah hujan pada periode Juni-Juli-Agustus. Pada periode Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret-April-Mei (MAM), El Nino (La Nina) memiliki efek terhadap peningkatan (pengurangan) curah hujan. Dipole Mode Positif memberikan dampak pengurangan curah hujan pada periode SON dan MAM. Dipole Mode Negatif memberikan dampak bervariasi pada curah hujan pada periode JJA, SON dan DJF. Hubungan signifikan antara curah hujan tahunan dan produktivitas padi hanya ditunjukkan di Sungai Kunyit dan Sungai Kakap. Hal ini mengindikasikan bahwa curah hujan tahunan secara umum tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas padi di sebagian besar wilayah penelitian. ABSTRACTRainfall variability is closely related to climate change in a particular region and it is useful in estimating the water availability for agriculture, especially lowland rice. This study examines the rainfall variability and correlation between annual rainfall and rice productivity in West Kalimantan. The research location is focused on the Mempawah and Kubu Raya districts in 2000-2019. The variability equation accompanied by correlation and composite analysis was used in the analysis. The result shows that the variability of annual rainfall in Mempawah and Kubu Raya falls in the low category. Monthly rainfall variability values mark a range that varies from low to extreme at each location. El Nino had a substantial negative impact on rainfall in the June-July-August (JJA) and September-October-November SON period. While, La Nina had a positive impact on rainfall only in the JJA period. In the December-January-February (DJF) and March-April-May (MAM) period, El Nino (La Nina) has an anomalous effect on increasing (reducing) rainfall. Positive Dipole Mode gives the negative impact in the SON dan MAM period. Negative Dipole Mode has a varied impact on rainfall in the JJA, SON and DJF periods. The significant corellation between annual rainfall and rice productivity was shown only at Sungai Kunyit and Sungai Kakap. This indicates that the annual rainfall generally has no significant effect on rice productivity in most areas.
A Review on Sustainable Construction Regulations in Asian Countries: Savvy Insights for Indonesia Maria Agnes; Raldi Hendro Koestoer
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.459-464

Abstract

Infrastructure projects, more specifically the construction, operation and deconstruction phase, are claimed to have the potential to cause profound impacts on the environment. The construction industry worldwide attains to generate the consumption for 40% of total energy production and 16% of the entire sum of water volume available, as well as the production for 25% of greenhouse gas emissions and 30-40% of all solid wastes. This circumstance has led to the rising of global awareness with regards to the importance of sustainability concept implementation in the construction industry which subsequently resulted in the formulation of corresponding laws and regulations in recent years. Indonesia is no exception. Decree of the Minister of Public Works and Public Housing of the Republic of Indonesia No: 05/PRT/M/2015 concerning General Guidelines for the Implementation of Sustainable Construction in Infrastructure Projects Execution has been enacted to provide a direction for sustainable construction implementation that creates sustainable infrastructure, which will eventually contribute to a sustainable development. Based upon the decree, this study conducts a literature review on the implementation process of laws and regulations related to sustainable construction in Asian countries. The review contains exploratory case studies and comparative analysis on general overview of the regulations format and the challenges encountered, as well as strategies taken, during the implementation process. This paper provides a useful reference for policy makers in Indonesia, while simultaneously benefits the construction industry practitioners and other related stakeholders.  ABSTRAKPenyelenggaraan infrastruktur, khususnya pada tahapan pelaksanaan konstruksi, pemanfaatan dan pembongkaran, memberikan dampak negatif yang cukup signifikan terhadap lingkungan. Sektor industri konstruksi tercatat berkontribusi atas penggunaan 40% total produksi energi di dunia, 16% total jumlah konsumsi air, 25% emisi gas Rumah Kaca (GRK), serta 30–40% dari volume limbah padat dunia. Kondisi ini telah disadari oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, sehingga ditindaklanjuti dengan diterbitkannya regulasi-regulasi sehubungan dengan konstruksi berkelanjutan. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (Permen PUPR) Nomor: 05/PRT/M/2015 tentang Pedoman Umum Implementasi Konstruksi Berkelanjutan Pada Penyelenggaraan Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum dan Permukiman telah diterbitkan untuk dapat dijadikan acuan bagi para penyelenggara infrastruktur dalam mengimplementasikan pendekatan konstruksi berkelanjutan di Indonesia. Mengacu kepada Permen tersebut, penelitian ini melakukan studi komparasi berdasarkan kajian literatur terhadap proses implementasi regulasi konstruksi berkelanjutan di beberapa negara Asia lainnya dengan tujuan tidak hanya untuk mengetahui format regulasinya namun juga tantangan-tantangan yang dihadapi dan strategi-strategi yang diambil dalam proses implementasinya. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan penentuan kebijakan lanjutan sehubungan penyelenggaraan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
Pengaruh mikroplastik polietilen dan oxo-degradable (Oxium) pada pertumbuhan mikroalga Tetraselmis chuii Adian Khoironi; Khoirul Huda; Imron Hambyah; Inggar Dianratri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.211-218

Abstract

Salah satu cara yang digunakan di Indonesia dalam menanggulangi berlimpahnya jumlah sampah plastik di lingkungan perairan adalah dengan menggantikan kantong plastik berbahan polimer polietilen (PE) dengan plastik oxodegradable yang disebut oxium. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengaruh mikroplastik polietilen jenis HDPE (High Density Polyethylene) dengan plastic oxodegradable oxium. Penelitian dilakukan dengan menggunakan mikroalga Tetraselmis chuii sebagai mikroorganisme yang akan mendapat perlakuan mikroplastik dengan konsentrasi yang berbeda. Dari Hasil pengukuran optical density untuk menentukan laju pertumbuhan mikroalga Tetraselmis Chuii menunjukkan bahwa laju pertumbuhan Tetraselmis  dengan perlakuan mikroplastik polietilen mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan mikroplastik oxium. Konsentrasi mikroplastik ikut berperan dalam menentukan laju pertumbuhan Tetraselmis chuii di mana pada perlakuan mikroplastik oxium terjadi penurunan hingga 37,66% pada konsentrasi mikroplastik 300mg/500mL dan 81,70% pada perlakuan mikroplastik polietilen dengan konsentrasi 200mg/500mL. Mikroplastik polietilen dan oxium memberikan dampak negatif pada organisme tingkat rendah disebabkan oleh kemampuannya dalam melepas bahan aditif yang bersifat toksik sehingga diperlukan solusi yang lebih baik untuk menggantikan fungsi plastik dengan bahan yang lebih ramah bagi lingkungan hidup.  ABSTRACTOne of the methods used in Indonesia in tackling the abundance of plastic waste in the aquatic environment is to replace plastic bags made of polyethylene (PE) polymer with oxodegradable plastic called oxium. This research was conducted with the aim of examining the effect of HDPE (High Density Polyethylene) microplastic polyethylene with oxodegradable oxium plastic. The research was conducted using the microalgae Tetraselmis chuii as microorganisms that will receive microplastic treatment with different concentrations. From the results of optical density measurements to determine the growth rate of Tetraselmis chuii microalgae, it was shown that the growth rate of Tetraselmis with polyethylene microplastics treatment decreased significantly compared to oxium microplastics. The concentration of microplastics played a role in determining the growth rate of Tetraselmis chuii where in the oxium microplastic treatment there was a decrease of up to 37.66% at the microplastic concentration of 300mg/500mL and 81.70% at the polyethylene microplastic treatment with a concentration of 200mg/500mL. Polyethylene and oxyum microplastics have a negative impact on low-level organisms due to their ability to release toxic additives so that better solutions are needed to replace the function of plastics with materials that are more environmentally friendly.
Pengaruh Keragaman Penggunaan Lahan di Ekosistem Gambut sub DAS Kapuas Kabupaten Kubu Raya Rima Wahyu Utami; Kartini Kartini; Aji Ali Akbar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.409-421

Abstract

Lahan gambut merupakan komponen ketahanan lingkungan yang diupayakan untuk menjamin keamanan publik dan munculnya bahaya lingkungan yang disebabkan secara alami oleh alam maupun disengaja oleh perbuatan manusia. Lahan gambut di Desa Teluk Empening telah mengalami konversi menjadi lahan usahatani seperti lahan sawit, karet dan jahe, sedangkan lahan sekunder yang ada pada daerah penelitian sebelumnya pernah mengalami kebakaran pada tahun 2017. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi keanekaragaman jenis pada lahan gambut dengan melakukan pengukuran biodiversitas lahan dengan analisis vegetasi. Kemudian menganalisis pengaruh konversi lahan gambut dengan pengukuran sifat fisik tanah, pengukuran Tinggi Muka Air tanah, pengukuran dimensi saluran dan pengujian kualitas air. Perubahan dinamika tutupan lahan yang dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat, data diperoleh dengan menggunakan observasi, wawancara dan kuesioner sebanyak 30 sampel. Hasil analisis menunjukkan lahan jahe, karet dan sawit memiliki nilai indeks keanekaragaman (H’) ±0 dikategorikan biodiversitas rendah. Lahan sekunder memiliki nilai indeks keanekaragaman (H’) 2,001 masuk kategori biodiversitas sedang. Konversi lahan gambut mempengaruhi sifat fisik tanah gambut seperti parameter porositas, permeabilitas, kadar serat dan kadar air. Konversi lahan gambut menjadi lahan karet memengaruhi penurunan muka air tanah yaitu setinggi 68 cm. Pengaruh konversi terhadap kualitas air pada lahan, ditandai dengan parameter pH berkisar 3,3 - 4,6, TSS berkisar 6-440 mg/l dan DO berkisar 0,89-3,4 mg/l yang tidak sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan yaitu Kelas 2 PP No.82 Tahun 2001. Konversi lahan gambut semakin meningkat tiap tahun dan mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan fungsi sosial penyerapan tenaga kerja serta fungsi ekonomi pendapatan dari hasil produksi usahatani. Lahan gambut memberikan keunggulan dan kapasitas bagi kawasan lokal untuk kekuatan alam seperti lingkungan, ekonomi dan sosial yang dapat dilakukan sambil tetap menjaga daya tahan lingkungan. AbstractPeatlands are a component of environmental resilience that strives to ensure the safety and security of environmental hazards caused naturally or intentionally by human actions. Peatland in Teluk Empening Village has undergone conversion to agricultural land such as oil palm, rubber and ginger, while the secondary land in the previous study area experienced fires in 2017. This research was conducted by identifying the diversity of species on peatland by measuring biodiversity land with vegetation analysis. Then analyze the effect of peat land conversion with physical measurements of soil, measurement of groundwater level, measurement of channel dimensions and testing of water quality. Changes in land cover dynamics obtained from socio-economic conditions, data obtained using observations, interviews and questionnaires as many as 30 samples. The analysis showed that ginger, rubber and oil palm land had a diversity index value (H ') ± 0 which was categorized as low biodiversity. Secondary land has a diversity index value (H ') of 2,001 in the medium biodiversity category. Peat land conversion affects the physical properties of peat soil such as parameters of porosity, permeability, fiber content and air content. The conversion of peatlands to rubber lands has an effect on the decrease in the water table, which is 68 cm long. The effect of conversion on water quality in land, fear with pH parameters ranging from 3.3 to 4.6, TSS ranging from 6-440 mg / l and DO ranging from 0.89-3.4 mg / l which are not in accordance with the specified quality standards namely Class 2 PP No. 82 Year 2001. Conversion of peatlands is increasing every year and affects the socio-economic conditions of the community with the social function of absorption of labor and the economic function of income from agricultural production. Peatlands provide advantages and capacities for local areas for natural forces such as environment, economy and social that can be done while maintaining environmental resilience.
Mengurangi keterbukaan hutan melalui teknik pemananenan kayu yang tepat di hutan alam Yuniawati Yuniawati; Rossi Margareth Tampubolon
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.373-382

Abstract

Kegiatan pemanenan kayu memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap produksi kayu. Pohon produksi yang berada di dalam hutan tidak dapat dimanfaatkan jika tidak ditebang dan tidak dikeluarkan dari dalam hutan. Metode penelitian ini adalah membuat 6 plot contoh pengamatan (PCP) masing-masing 3 PCP untuk teknik perbaikan (TP) dan 3 PCP untuk teknik konvensional (TK) pada satu petak tebang, melakukan penebangan pohon dan penyaradan dengan  TP dan TK, melakukan pengamatan  dan pengukuran produktivitas pemanenan kayu dan luas areal hutan yang terbuka akibat penebangan dan penyaradan serta menganalisis pengaruh kedua teknik terhadap produktivitas  areal hutan terbuka dengan uji t. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh dua teknik pemanenan kayu terhadap produktivitas dan areal hutan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Rata-rata produktivitas penebangan dengan TK dan TP masing-masing adalah 10,60 m3/jam dan 13,95 m3/jam 2) Rata-rata produktivitas penyaradan dengan TK dan TP masing-masing adalah 7,25 m3/jam dan 9,60 m3/jam;  3) Rata-rata areal hutan terbuka akibat penebangan dengan TK dan TP masing-masing adalah 15,67% dan 7,43% ; 4) Rata-rata areal hutan terbuka akibat penyaradan dengan  TK dan TP masing-masing adalah 10,50% dan 6,68%. Menerapkan teknik perbaikan dapat mengurangi terjadinya keterbukaan hutan pada penebangan dan penyaradan masing-masing sebesar 8,24% dan 3,82%.ABSTRACTTimber harvesting provides a very large contribution to timber production. Tree production that is in the forest can't be used if they are not felling and removed from the forest. This research method is to make 6 sample observation plot (SOP) each 3 SOP for improving technique (IT) and 3 SOP for conventional technique (CT) on one logging compartment, do felling and skidding by IT and CT, make observations, and measuring the productivity of timber harvesting and the area of open forest due to felling and skidding and analyzing the effect of the two techniques on the productivity of the open forest area with t-test. The research objective was to determine the effect of two timber harvesting techniques on productivity and open forest areas. The results showed that the average productivity of felling by CT and IT was 10.60 m3/hour and 13.95 m3/hour respectively. The average productivity of skidding by CT and IT was 7.25 m3/hour and 9.60 m3/hour respectively. The average open forest area due to felling by CT and IT was 15.6% and 7.43% respectively. The average open forest area due to skidding by CT and IT was 10.50% and 6.68% respectively. Applying improve technique reduced the open forest area through felling and skidding by 8.24% and 3.82% respectively.
Potensi Rumput Laut di Perairan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur , Maluku Marsya Jaqualine Rugebregt; Ferdinand Pattipeilohy; Caleb Matuanakotta; Ahmad Ainarwowan; Malik Sudin Abdul; Ferdimon Kainama
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.497-510

Abstract

Makroalgae termasuk bagian dari flora yang terdiri atas banyak jenis dan memiliki peranan penting pada lingkungan laut salah satunya adalah Perairan Pulau Keffing di Kecamatan Seram bagian Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur. Penelitian dilaksanakan pada November 2017. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksplorasi dengan pengambilan sampel secara line transek kuadrat. Lokasi pengambilan sampel dibedakan menjadi tiga stasiun. Jumlah jenis algae yang dijumpai dalam penelitian ini sebanyak 16 jenis yang terdiri atas 9 jenis dari kelas algae Chlorophyta, satu jenis dari kelas Phaeophyta dan enam jenis dari kelas Rhodophyta. Jenis-jenis yang ditemukan memiliki potensi ekonomi, baik kepada lingkungan periaran maupun kepada manusia, namun pemanfaatannya belum dioptimalkan oleh masyarakat karena sebagian hanya dimanfaatkan untuk makanan. Dari hasil pengukuran parameter lingkungan menunjukan masih sesuai bagi pertumbuhan rumput laut. Perairan pulau Keffing dan sekitarnya memiliki kemungkinan untuk dikembangkannya kegiatan usaha budidaya rumput laut serta pengembangan pengolahan potensinya. AbstractMacroalgae is part of the flora consists of many types and has an important role in the marine environment, one of which is the waters of Keffing Island in the East Seram District, East Seram District. The research was carried out in November 2017. The method used in this study is an exploratory method by taking a sample using a quadratic transect line. The sampling locations were divided into three stations. The number of algae species found in this study was 16 species consisting of 9 species from the Chlorophyta class, one from the Phaeophyta class, and six species from the Rhodophyta class. The species found have economic potential, both for the aquatic environment and for humans, but their utilization has not been optimized by the community because some of them are only used for food. The results of the measurement of environmental parameters show that it is still suitable for seaweed growth. The waters of Keffing Island and its surroundings have the possibility for the development of seaweed cultivation activities and the development of processing potential.
Studi Benchmarking Unit Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) Program SANIMAS IDB di Kota Pontianak Remalda Liberda; Isna Apriani; Kiki Prio Utomo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.465-478

Abstract

Program Sanitasi Masyarakat Islamic Development Bank (SANIMAS IDB) berupa Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) mengolah air limbah domestik di lingkungan pemukiman padat penduduk dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kota Pontianak. Lokasi Program SANIMAS IDB di Gg. Tri Dharma, di Gg. Harapan Sari, dan di Gg. Kusuma Wijaya perlu dikaji dengan membandingkan ketiga SPALDT untuk diketahui keberhasilan ataupun ketidakberhasilannya. Metode Benchmarking merupakan cara untuk meningkatkan kinerja melalui perbandingan untuk memperoleh gambaran dalam sehingga dapat mengadopsi praktik terbaik. Tahapan yang dilakukan adalah mengukur kinerja berupa nilai dari Lembar Penilaian Kerangka Acuan Kerja (LPKAK) yang terdiri dari indikator teknis kemudian dibandingkan untuk dilihat nilai indikator tertinggi, sedangkan lokasi dengan nilai indikator rendah akan diberikan rekomendasi. Hasil Benchmarking menunjukkan lokasi di Gg. Harapan Sari memiliki nilai indikator tertinggi sebesar 100%. Rekomendasi yang diberikan bagi lokasi di Gg. Tri Dharma adalah melakukan pengurasan secara berkala pada Bak Pengendap serta menyediakan biaya operasional dan pemeliharaan berupa sumbangan/dana bantuan dari pemerintah, sedangkan pada lokasi di Gg. Kusuma Wijaya adalah persiapan pembangunan yang matang, memperpanjang waktu tinggal pada IPAL, menerapkan pemeliharaan sesuai dengan SOP yang berlaku, pengembangan kapasitas masyarakat dan pengelola pasca konstruksi, dan peningkatan koordinasi serta pembagian peran pada Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi.AbsractThe Islamic Development Bank’s Community Sanitation Program (SANIMAS IDB) in the form of a Centralized Domestic Wastewater Management System (SPALDT) treats domestic wastewater in densely populated residential areas and low-income communities (MBR) in Pontianak city. The location of the SANIMAS IDB Program on Gg. Tri Dharma, on Gg. Harapan Sari, and on Gg. Kusuma Wijaya needs to be study by comparing the three SPALDT to determine their success or failure. Benchmarking is a way to improve performance through comparisons to get an insight so the best practices can be adapted. The steps taken are measuring performance by score from the Reference Framework Assessment Sheet (LPKAK) that consist of technical indicator, then comparing the three LPKAKs to see the highest indicator score hence the location with low indicator score will be giving recommendation. The result of Benchmarking shows the location on Gg. Harapan Sari has the highest indicator score, which is equal to 100%. Recommendations are given for location on Gg. Tri Dharma are to conduct regular draining of the sedimentation basin (Settler) and to provide operational and maintenance costs in the form of donations/grants from the government, while at the location on Gg. Kusuma Wijaya through preparation for development, extending the Hydraulic Retention Time at the Wastewater Treatment Plant, implemented maintenance following the applicable Standard Operationg Procedures, building community capacity and post-construction managers, and improving coordination and division of roles in the Sanitation Working Group (POKJA).

Filter by Year

2011 2025