cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Analisis Kerusakan Pohon pada Areal Tegakan Pinus menggunakan Metode Forest Health Monitoring di Kawasan Hutan BKPH Bandar KPH Pekalongan Timur Zaki, Imam; Pertiwi, Yus Andhini Bhekti; Nufus, Malihatun
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.%p

Abstract

BKPH Bandar is a forest management unit under KPH Pekalongan Timur. The primary stand in BKPH Bandar was Pinus merkusii, thus the pine resin was its main commodity. Pine trees must be tapped to obtain pine resin. Tapping causes wounds and has the potential to cause a decline in the health of the tree. Therefore, this study aimed to analyze the health condition of pine stands using the Forest Health Monitoring (FHM) and provide recommendations for handling damage to the stands that occurred in the BKPH Bandar, KPH Pekalongan Timur. The health assessment involved parameters types of tree damage. In the present study, three cluster-plots were created, each located in RPH Kembang Langit, RPH Tombo, and RPH Sodong. The pine stands in each RPH were planted in 1997 (27 years old). The results showed the stands was dominated by Pinus merkusii, but there were other species such as Gnetum gnemon, Artocarpus heterophyllus, Maesopsis eminii, Pithecellobium jiringa, Alstonia scholaris, Falcataria falcata, and Hibiscus sp.  The most frequent damage occurred in the lower stem section (47,22%). The dominant type of damage observed was open wounds (40,95%), followed by broken or dead branches (22,84%) and termite infestations (18,27%). Based on plot level damage index, most stands were in the state of light to moderate damage. The recommendations provided through the results of this study are in the form of mitigation, such as managing more environmental friendly resin tapping and regular monitoring to reduce the impact of damage caused by biotic and abiotic factors on forest health.
Optimasi pH, Massa Adsorben, Konsentrasi, Waktu Kontak, dan Pelarut Desorpsi pada Dispersive Solid Phase Extraction Berbasis Karbon Aktif dari Kayu Bakau untuk Penentuan Residu Ciprofloxacin Trina, Innamaa; Rinawati, Rinawati; Kiswandono, Agung Abadi; Suharso, Suharso; Herasari, Dian; Setiawan, Andi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1509-1517

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan metode Dispersive Solid Phase Extraction (DSPE) berbasis karbon aktif dari kayu bakau untuk penentuan residu ciprofloxacin sebagai upaya mengurangi potensi pencemaran perairan oleh antibiotik. Karbon aktif yang digunakan memenuhi standar SNI 06-3730-1995. Karakterisasi SEM-EDX menunjukkan pori-pori lebih terbuka setelah aktivasi, dengan peningkatan kadar karbon dari 86,72% menjadi 87,71% serta penurunan oksigen dari 13,28% menjadi 12,29%. Analisis FTIR mengonfirmasi adanya gugus OH, C=O, C=C, dan C–O yang berperan dalam adsorpsi. Optimasi DSPE menunjukkan kondisi optimum pada konsentrasi 2 ppm, pH 4, massa adsorben 20 mg, dan waktu kontak 50 menit, dengan efisiensi adsorpsi 79,85%. Kondisi desorpsi terbaik diperoleh menggunakan pelarut asam asetat:metanol (2:8) dengan efisiensi 80,51%. Analisis isoterm menunjukkan bahwa model Langmuir maupun Freundlich hanya memberikan kecocokan moderat, sehingga diperlukan pendekatan isoterm lain untuk memahami mekanisme adsorpsi secara lebih komprehensif. Validasi metode menggunakan UV-Vis menunjukkan linearitas sangat baik dengan nilai R sebesar 0,9975, serta sensitivitas memadai dengan LoD 0,0461 ppm dan LoQ 0,1536 ppm. Nilai RSD 4,3518% dan recovery 80,89% memenuhi kriteria validasi analitik. Hasil ini menunjukkan bahwa karbon aktif kayu bakau berpotensi digunakan sebagai adsorben dalam penentuan dan pengolahan residu ciprofloxacin pada lingkungan perairan.
Optimasi Penggunaan Nutrisi Brown Sugar, Urea, dan Gliserol pada Produksi Enzim Pektinase dari Limbah Padat Kelapa Sawit Melalui Proses Fermentasi Hermawan, Andri Febryanto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1464-1473

Abstract

Enzim pektinase merupakan enzim yang bekerja untuk memecah polimer pektin menjadi fragmen sederhana melalui beberapa tahapan proses yang berlangsung yaitu proses hidrolisis. Limbah padat kelapa sawit seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan serabut kelapa sawit (SKS) diketahui mampu memproduksi enzim pektinase dengan bantuan konsorsium mikroba atau mikroorganisme yang terkandung di dalamnya seperti Bacillus spp, Pseudomonas spp, Aspergillus spp, Penicillium spp, Saccharomyces spp, dan Lactobacillus spp dengan adanya penambahan nutrisi yang berfungsi sebagai sumber energi, sumber karbon, dan sumber nitrogen. Kandungan pektin yang diketahui dalam limbah padat kelapa sawit cukup tinggi, sehingga berpotensi untuk dapat digunakan sebagai substrat dalam produksi enzim pektinase. Produksi enzim pektinase pada penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu fermentasi untuk mendegradasi atau menghidrolisis pektin menjadi pektinase, purifikasi atau pemurnian parsial dengan fraksinasi amonium sulfat ((NH 4 ) 2 SO 4 ) pada tingkat kejenuhan 100%, proses dialisis, pengukuran aktivitas enzim dan aktivitas spesifik enzim. Pektinase akan terpresipitasi oleh amonium sulfat ((NH 4 ) 2 SO 4 )dan kemudian dilakukan pemurnian lebih lanjut dengan proses dialisis untuk menghilangkan garam amonium sulfat. Aktivitas enzim tertinggi diperoleh pada sampel tandan kosong kelapa sawit (TKKS) nutrisi urea sebesar 0,213 U/ml sedangkan pada serabut kelapa sawit (SKS) nutrisi urea sebesar 0,369 U/ml. Aktivitas spesifik enzim pektinase tertinggi berada pada sampel tandan kosong kelapa sawit (TKKS) nutrisi gula merah sebesar 1,343 U/mg sedangkan pada serabut kelapa sawit (SKS) berada pada nutrisi gula merah sebesar 1,983 U/mg. Oleh karena itu, nutrisi gula merah pada sampel tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan serabut kelapa sawit (SKS) menghasilkan enzim pektinase yang lebih murni daripada dua nutrisi lainnya yang digunakan.
Analisis Status Keberlanjutan Waduk Cengklik, Boyolali Safitri, Rosi Nur
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1518-1526

Abstract

Waduk Cengklik mengalami berbagai masalah yang berkaitan dengan dimensi ekologi, ekonomi, sosial, hukum, dan infrastruktur, sehingga dibutuhkan strategi peningkatan keberlanjutan agar fungsi utama Waduk Cengklik dapat terus berjalan. Penelitian ini memiliki 2 tujuan, yaitu mengetahui status keberlanjutan Waduk Cengklik ditinjau dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, hukum dan kelembagaan, infrastruktur dan teknologi; serta menentukan strategi peningkatan keberlanjutan. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara. Kuesioner digunakan untuk penilaian keberlanjutan. Penelitian ini dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan status keberlanjutan Waduk Cengklik secara multidimensi termasuk cukup berkelanjutan, dengan indeks keberlanjutan 67,75%. Strategi yang dirumuskan untuk memperbaiki tingkat keberlanjutan dibatasi pada variabel-variabel yang berkategori kurang berkelanjutan, yaitu penyuluhan hukum, penegakan hukum, alternatif pekerjaan, besarnya subsidi, keberadaan eceng gondok, pengelolaan limbah, infrastruktur pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, strategi diprioritaskan pada dimensi yang indeks keberlanjutannya paling rendah, yaitu dimensi hukum dan kelembagaan. Prioritas paling akhir adalah dimensi sosial dan budaya karena indeks keberlanjutannya paling tinggi.
Efektifitas Tanaman Kayu Apu (Pistia stratiotes) dan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) untuk Fitoremediasi Limbah Rumah Tangga di Kelurahan Tungkal II, Kecamatan Tungkal Ilir, Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi Warnas, Eldera Noflyza
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1474-1478

Abstract

Air limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga yang dibuang ke sungai akan mengakibatkan kerusakan serius pada badan air seperti mengendapnya polutan, kurang optimalnya penetrasi cahaya matahari dan bahan organiknya mempengaruhi jumlah oksigen, sehingga menyebabkan terganggunya ekosistem perairan. Pengolahan limbah dapat dilakukan secara biologis dengan memanfaatkan tanaman yang dinamakan fitoremediasi. Pistia stratiotes dan Eichhornia crassipes dapat digunakan sebagai tanaman fitoremediator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penyerapan limbah rumah tangga dengan menggunakan tanaman kayu apu dan eceng gondok. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perbedaan spesies (Ti1=Kayu apu dan T2 = Eceng gondok) dan kerapatan tanaman (K1= 3 individu, K2 = 6 individu, K3 = 9 individu/?). Parameter kualitas air yang diamati adalah pH, salinitas, BOD, COD, DO, TSS dan ammonia. Penelitian dilakukan selama 21 hari dimana parameter pH dan salinitas diukur pada hari ke 0, hari ke 7, hari ke 14 dan hari ke 21. Sementara parameter BOD, COD, DO, TSS dan ammonia diuji pada hari ke 0 dan hari ke 21. Parameter-parameter tersebut akan diuji efisiensinya menggunakan rumus efiesiensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pistia stratiotes mampu menurunkan nilai BOD, COD pada kerapatan tertinggi yaitu 9 individu (K3). Efisiensi penurunan DO tertinggi dihasilkan oleh perlakuan Pistia pada kerapatan 3 individu (K1). Nilai efisiensi penurunan DO tertinggi pada Eichhornia crassipes ditemukan pada perlakuan kerapatan 6 individu (K2). Nilai efisiensi penurunan ammonia tertinggi ditemukan pada perlakuan kerapatan 3 individu (K1) baik pada Pistia stratiotes maupun Eichhornia crassipes.
Analisis Kinerja Mesin Hidrolik Pengepres Sampah Mobile dalam Mendukung Efisiensi Pengelolaan Sampah Terpilah di Bank Sampah, Yogyakarta Widyianto, Agus; Arrozi, Wahyu; Sampurno, Yoga Guntur; -, Paryanto; Widowati, Asri; Aminatun, Tien; -, Sunarta
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1527-1537

Abstract

Masalah pengelolaan sampah menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya dalam pengelolaan sampah plastik yang terus meningkat. Sampah plastik seperti botol, galon, dan label plastik membutuhkan ruang penyimpanan besar serta sulit ditangani tanpa teknologi yang efisien. Salah satu solusi inovatif adalah penggunaan mesin hidrolik pengepres sampah mobile, yang dirancang untuk memadatkan sampah terpilah secara signifikan, sehingga mengurangi volume dan beratnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja mesin hidrolik pengepres sampah mobile dalam memadatkan tiga jenis sampah plastik, yaitu botol plastik, galon plastik, dan label plastik, dengan parameter yang diukur meliputi pengurangan volume dan berat sampah. Metode penelitian melibatkan uji coba mesin terhadap ketiga jenis sampah tersebut dalam tiga siklus pengepresan untuk mendapatkan data rata-rata. Parameter yang diukur mencakup volume awal dan akhir, berat awal dan akhir, serta tingkat pengurangan volume dan berat. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengevaluasi efisiensi pengepresan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galon plastik memiliki tingkat pengurangan volume tertinggi, yaitu 84%, diikuti oleh botol plastik sebesar 79%, dan label plastik sebesar 66%. Dari segi pengurangan berat, galon plastik juga mencatat hasil tertinggi sebesar 3,2%, sementara botol plastik dan label plastik masing-masing mencatat pengurangan sebesar 0,5% dan 0,8%. Perbedaan hasil ini mencerminkan karakteristik material, di mana sampah berukuran besar dan berongga lebih mudah dipadatkan dibandingkan sampah yang ringan dan fleksibel. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah dengan menghemat ruang penyimpanan dan biaya transportasi, tetapi juga mendukung proses daur ulang dengan menghasilkan sampah padat berkualitas tinggi. Mesin ini memiliki potensi besar untuk diterapkan di bank sampah dan fasilitas pengelolaan limbah lainnya guna mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Analisis Keberlanjutan Diversifikasi Aren dan Kelapa Sawit di Kabupaten Pelalawan Ansori, Muhammad Arif
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1479-1488

Abstract

Diversifkasi aren dan kelapa sawit merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan pekebun. Penerapan diversifikasi masih mengalami beberapa kendala seperti, keterbatasan pengetahuan mengenai pola tanam, teknik pemanenan dan teknik pengawetan nira aren, minimnya sumber daya manusia penyadap, penerapan diversifikasi aren dan kelapa sawit yang masih rendah dan kurangnya intensitas penyuluhan dan pendampingan yang dapat mempengaruhi membunuh usaha petani nanas . Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik pekebun, menganalisis dan mendeskripsikan status keinginan, menganalisis atribut sensitif yang mempengaruhi diversifikasi aren dengan kelapa sawit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan jumlah sampel sebanyak 16 responden yang diambil dengan metode snowball sampling. Analisis data dilakukan dengan metode MDS dengan software RAP-Arenga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi aren dan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan memiliki status yaitu cukup berkelanjutan dengan dimensi ekonomi, dimensi ekologi dan dimensi sosial memiliki status yaitu cukup berkelanjutan. Atribut sensitif pada dimensi ekonomi adalah tingkat produktivitas diversifikasi tanaman, status kepemilikan lahan, lembaga permodalan atau kredit dan luas lahan. Atribut sensitif pada dimensi ekologi intensitas penggunaan pupuk, tingkat serangan hama dan penyakit, pengendalian gulma hama dan penyakit, jumlah pokok tanaman tanaman aren dan intensitas penggunaan pestisida. Atribut sensitif pada dimensi sosial adalah pandangan pekebun terhadap diversifikasi, partisipasi keluarga, intensitas kegiatan penyuluhan, keikutsertaan dalam kegiatan penyuluhan. 
Tren Temporal Karakteristik Sampah Laut Makro dan Meso (2019–2022) di Kepesisiran Bantul - Yogyakarta: Dasar Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Kepesisiran Mutaqin, Bachtiar W.
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1538-1548

Abstract

Sampah laut merupakan ancaman ekologis dan sosio-ekonomi yang mendesak secara global, tidak terkecuali di wilayah pesisir Indonesia, seperti di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk memahami karakteristik dan tren temporal sampah laut di wilayah ini sebagai basis kebijakan mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dan menganalisis tren kepadatan sampah laut berukuran makro (2,5 cm - 1 m) dan meso (0,5 - 2,5 cm) di Pantai Baru dan Pantai Depok, Bantul. Kontribusi ilmiah utama dari studi ini adalah penyediaan data pemantauan berkala jangka panjang, dari tahun 2019 hingga 2022, yang spesifik berdasarkan ukuran dan musim, yaitu musim barat hingga awal peralihan I dan musim timur hingga awal peralihan II, yang masih jarang dilakukan di pesisir selatan Jawa. Metode pelaksanaan pemantauan sampah laut di Kabupaten Bantul dilaksanakan menggunakan metode transek. Hasil analisis menunjukkan berbagai jenis sampah, termasuk plastik, kaca dan keramik, kayu, busa plastik, karet, kardus dan kertas, logam, dan bahan lainnya. Kepadatan sampah bervariasi signifikan dari 0 hingga 18 buah per meter persegi tiap tahunnya. Hanya sampah jenis plastik, busa plastik, dan bahan lainnya yang teridentifikasi memiliki kepadatan lebih dari satu buah per meter persegi, baik ukuran makro maupun meso. Secara umum, jenis sampah lain memiliki kepadatan kurang dari satu buah per meter persegi. Temuan paling signifikan adalah adanya peningkatan jumlah sampah plastik yang substansial, baik dari kepadatan berat maupun jumlah sampah. Temuan ini menegaskan bahwa plastik adalah kontributor dominan dan memerlukan perhatian khusus. Oleh karena itu, studi ini memberikan data dasar yang kuat untuk merumuskan kebijakan atau intervensi manajerial yang terfokus dan berkelanjutan guna mengurangi dampak negatif sampah plastik di wilayah kepesisiran Bantul.
Keanekaragaman, Pola Sebaran dan Kemelimpahan Capung (Odonata) di Pulau Lombok serta Peranannya untuk Menentukan Kondisi Lingkungan Arwana, Lalu Edwin; Sukirno, Sukirno; Nugroho, Andhika Puspito; Purwanto, Hari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1489-1499

Abstract

Pulau Lombok sebagai salah satu zona pelestarian di Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah serta peran penting dalam kelestarian lingkungan, baik dari segi flora dan fauna. Adanya aktivitas penggundulan hutan, pertambangan, pariwisata, pembangunan, dan aktivitas manusia lainnya memberikan ancaman terhadap keberagaman dan kemelimpahan ekosistem. Capung sendiri merupakan serangga yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dan dapat ditemui diberbagai tempat, seperti misalnya Pulau Lombok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman capung di Pulau Lombok, pola sebaran, kemelimpahan, dan keinginan untuk menentukan kondisi lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek garis di sepanjang jalur pengamatan dan metode visual day Flying . Hasil analisis faktor fisik-kimia sungai menunjukkan bahwa sungai di Pulau Lombok memenuhi standar kualitas baku air. Penelitian ini berhasil mendapatkan indeks keanekaragaman capung di Pulau Lombok, yaitu 2.67 termasuk ke dalam kategori sedang. Pola sebaran capung 1.03 termasuk kategori mengelompok. Kelimpahan capung tertinggi di Pulau Lombok dimiliki oleh capung Euphaea lara Lombockensis dengan persentase 16.79% kategori dominan, sedangkan pemahaman terendahnya dimiliki oleh capung Tramea eurybia, Tholymis Tillarga, dan Orthetrum testaceum soembanum dengan persentase 0.25% kategori tidak dominan. Penelitian ini membuktikan bahwa kondisi sungai di Pulau Lombok masih mendukung keberlangsungan kehidupan organisme udara dibuktikan dengan ditemukannya capung di lingkungan perairan. Namun perbedaan kondisi lingkungan mempunyai pengaruh terhadap keanekaragaman, pola sebaran, dan kemelimpahan capung.
The Assessment of Paddy Soil Fertility Status Based Soil Fertility Index (SOFIX) in Tuban Indonesia Amin, Abd Aziz
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1448-1453

Abstract

Rice is one of the primary commodities cultivated by Indonesian farmers such as in the Tuban Regency. To increase rice productivity is critically important to evaluate the condition of soil fertility. Soil fertility assessment is needed to determine balanced fertilization. Balanced fertilization is critically essential in the production process. This research analysis method used the SOFIX database. The soil samples were carried out in rice fields based in one of the agriculture-integrated areas in the Tuban Regency. The results show that the soil had a deficient bacteria number and low nitrogen and phosphate circulation activities. On the other hand, all parameters such as total carbon, total potassium, total nitrogen, and total phosphorous also tend to be low. Therefore, applying balanced fertilization to recover soil fertility. Organic materials used to improve bacterial activities. The results suggest that paddy soil fertility status in Tuban Regency leads to recovery by adding organic materials.

Filter by Year

2011 2025