cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 926 Documents
Analisis Kerusakan Pohon pada Areal Tegakan Pinus menggunakan Metode Forest Health Monitoring di Kawasan Hutan BKPH Bandar KPH Pekalongan Timur Imam Zaki; Yus Andhini Bhekti Pertiwi; Malihatun Nufus
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.%p

Abstract

BKPH Bandar merupakan bagian kesatuan pemangkuan hutan dari KPH Pekalongan Timur. Tegakan utama pada BKPH Bandar yaitu tegakan Pinus merkusii sehingga komoditas utamanya yaitu getah pinus. Untuk memperoleh getah pinus, maka pohon pinus harus disadap. Penyadapan mengakibatkan luka dan berpotensi menyebabkan penurunan kesehatan pohon. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kesehatan tegakan pinus menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM), serta memberikan rekomendasi penanganan terkait kerusakan tegakan yang terjadi di Kawasan Hutan BKPH Bandar, KPH Pekalongan Timur. Penilaian kesehatan tegakan dengan melihat jenis kerusakan pohon. Pada penelitian ini, dibuat tiga klaster-plot yang masing-masing berada di RPH Kembang Langit, RPH Tombo, dan RPH Sodong. Tegakan pinus pada masing-masing RPH ditanam pada tahun 1997 (27 tahun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini didominasi oleh Pinus merkusii, namun terdapat jenis lainnya seperti Gnetum gnemon, Artocarpus heterophyllus, Maesopsis eminii, Pithecellobium jiringa, Alstonia scholaris, Falcataria falcata, dan Hibiscus sp. Lokasi kerusakan paling banyak terjadi pada batang bagian bawah (47,22%). Tipe kerusakan dominan yang ditemukan adalah luka terbuka (40,95%), diikuti oleh kerusakan cabang patah atau mati (22,84%), dan sarang rayap (18,27%). Berdasarkan indeks kerusakan tingkat plot, sebagian besar tegakan berada pada kondisi kerusakan ringan hingga sedang. Penelitian ini memberikan model indeks kerusakan pada metode FHM untuk mengevaluasi dampak praktik penyadapan terhadap kesehatan tegakan pinus produksi. Rekomendasi yang diberikan melalui hasil penelitian ini yaitu berupa langkah mitigasi dan penanggulangan, seperti pengelolaan aktivitas penyadapan yang sesuai dengan SOP dan pemantauan berkala untuk mengurangi dampak kerusakan akibat faktor biotik dan abiotik terhadap kesehatan hutan
Optimasi pH, Massa Adsorben, Konsentrasi, Waktu Kontak, dan Pelarut Desorpsi pada Dispersive Solid Phase Extraction Berbasis Karbon Aktif dari Kayu Bakau untuk Penentuan Residu Ciprofloxacin Innamaa Trina; Rinawati Rinawati; Agung Abadi Kiswandono; Suharso Suharso; Dian Herasari; Andi Setiawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1509-1517

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan metode Dispersive Solid Phase Extraction (DSPE) berbasis karbon aktif dari kayu bakau untuk penentuan residu ciprofloxacin sebagai upaya mengurangi potensi pencemaran perairan oleh antibiotik. Karbon aktif yang digunakan memenuhi standar SNI 06-3730-1995. Karakterisasi SEM-EDX menunjukkan pori-pori lebih terbuka setelah aktivasi, dengan peningkatan kadar karbon dari 86,72% menjadi 87,71% serta penurunan oksigen dari 13,28% menjadi 12,29%. Analisis FTIR mengonfirmasi adanya gugus OH, C=O, C=C, dan C–O yang berperan dalam adsorpsi. Optimasi DSPE menunjukkan kondisi optimum pada konsentrasi 2 ppm, pH 4, massa adsorben 20 mg, dan waktu kontak 50 menit, dengan efisiensi adsorpsi 79,85%. Kondisi desorpsi terbaik diperoleh menggunakan pelarut asam asetat:metanol (2:8) dengan efisiensi 80,51%. Analisis isoterm menunjukkan bahwa model Langmuir maupun Freundlich hanya memberikan kecocokan moderat, sehingga diperlukan pendekatan isoterm lain untuk memahami mekanisme adsorpsi secara lebih komprehensif. Validasi metode menggunakan UV-Vis menunjukkan linearitas sangat baik dengan nilai R sebesar 0,9975, serta sensitivitas memadai dengan LoD 0,0461 ppm dan LoQ 0,1536 ppm. Nilai RSD 4,3518% dan recovery 80,89% memenuhi kriteria validasi analitik. Hasil ini menunjukkan bahwa karbon aktif kayu bakau berpotensi digunakan sebagai adsorben dalam penentuan dan pengolahan residu ciprofloxacin pada lingkungan perairan.
Optimasi Penggunaan Nutrisi Brown Sugar, Urea, dan Gliserol pada Produksi Enzim Pektinase dari Limbah Padat Kelapa Sawit Melalui Proses Fermentasi Andri Febryanto Hermawan; Eli Hendrik Sanjaya
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1464-1473

Abstract

Limbah kelapa sawit merupakan sumber bioproduk yang kurang dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi limbah kelapa sawit sebagai substrat untuk produksi enzim pektinase menggunakan submerged fermentation (SmF). Substrat diuji dengan berbagai variasi nutrisi, yaitu brown sugar, urea, dan gliserol, untuk mengukur pengaruhnya terhadap kadar protein dan aktivitas enzim pektinase. Purifikasi ekstrak kasar enzim dilakukan dengan ammonium sulfat dan dialysis, serta pengukuran aktivitas enzim menggunakan metode DNS (3,5-dinitrosalisilat). metode low Hasil menunjukkan bahwa serabut kelapa sawit (SKS) menghasilkan kadar protein lebih tinggi dan aktivitas enzim pektinase lebih tinggi dibandingkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS), dengan aktivitas enzim tertinggi tercatat pada SKS-urea (1,641 U/mL), sedangkan pada TKKS-urea tercatat 1,494 U/mL. Penambahan brown sugar menghasilkan aktivitas spesifik enzim tertinggi pada SKS (1,983 U/mg) yang menunjukkan bahwa jenis sumber karbon mempengaruhi efektivitas produksi enzim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SKS lebih efisien dalam menghasilkan pektinase dibandingkan TKKS, dengan pengaruh penting dari keseimbangan antara sumber karbon dan nitrogen dalam proses fermentasi. Temuan ini memberikan kontribusi baru dalam pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk produksi enzim secara efisien dan berkelanjutan, serta membuka arah untuk penelitian lanjutan mengenai mikroba indigen dan optimasi kondisi fermentasi dalam skala industri.
Analisis Status Keberlanjutan Waduk Cengklik, Boyolali Rosi Nur Safitri; Lia Kusumaningrum; Muhammad Indrawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1518-1526

Abstract

Waduk Cengklik mengalami berbagai masalah yang berkaitan dengan dimensi ekologi, ekonomi, sosial, hukum, dan infrastruktur, sehingga dibutuhkan strategi peningkatan keberlanjutan agar fungsi utama Waduk Cengklik dapat terus berjalan. Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu mengetahui status keberlanjutan Waduk Cengklik ditinjau dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, hukum dan kelembagaan, serta infrastruktur dan teknologi; serta menentukan strategi peningkatan keberlanjutan. Data primer diperoleh melalui kuesioner kepada 171 responden (98 petani KJA dan 73 pedagang) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam pemanfaatan waduk. Kuesioner memuat parameter kunci pada lima dimensi keberlanjutan. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif melalui perhitungan skor total setiap variabel berbasis Skala Likert, yang kemudian dikonversi menjadi indeks keberlanjutan untuk menentukan kategori setiap dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan Waduk Cengklik secara multidimensi termasuk cukup berkelanjutan dengan indeks 67,75%. Strategi perbaikan difokuskan pada variabel yang termasuk kategori kurang berkelanjutan dan dimensi dengan indeks keberlanjutan terendah, yaitu dimensi hukum dan kelembagaan.
Efektifitas Tanaman Kayu Apu (Pistia stratiotes) dan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) untuk Fitoremediasi Limbah Rumah Tangga di Kelurahan Tungkal II, Kecamatan Tungkal Ilir, Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi Eldera Noflyza Warnas; Fuad Muhammad; Endah Dwi Hastuti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1474-1478

Abstract

Air limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga yang dibuang ke sungai akan mengakibatkan kerusakan serius pada badan air seperti mengendapnya polutan, kurang optimalnya penetrasi cahaya matahari dan bahan organiknya mempengaruhi jumlah oksigen, sehingga menyebabkan terganggunya ekosistem perairan. Pengolahan limbah dapat dilakukan secara biologis dengan memanfaatkan tanaman yang dinamakan fitoremediasi. Pistia stratiotes dan Eichhornia crassipes dapat digunakan sebagai tanaman fitoremediator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penyerapan limbah rumah tangga dengan menggunakan tanaman kayu apu dan eceng gondok. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perbedaan spesies (Ti1=Kayu apu dan T2 = Eceng gondok) dan kerapatan tanaman (K1= 3 individu, K2 = 6 individu, K3 = 9 individu/?). Parameter kualitas air yang diamati adalah pH, salinitas, BOD, COD, DO, TSS dan ammonia. Penelitian dilakukan selama 21 hari dimana parameter pH dan salinitas diukur pada hari ke 0, hari ke 7, hari ke 14 dan hari ke 21. Sementara parameter BOD, COD, DO, TSS dan ammonia diuji pada hari ke 0 dan hari ke 21. Parameter-parameter tersebut akan diuji efisiensinya menggunakan rumus efiesiensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pistia stratiotes mampu menurunkan nilai BOD, COD pada kerapatan tertinggi yaitu 9 individu (K3). Efisiensi penurunan DO tertinggi dihasilkan oleh perlakuan Pistia pada kerapatan 3 individu (K1). Nilai efisiensi penurunan DO tertinggi pada Eichhornia crassipes ditemukan pada perlakuan kerapatan 6 individu (K2). Nilai efisiensi penurunan ammonia tertinggi ditemukan pada perlakuan kerapatan 3 individu (K1) baik pada Pistia stratiotes maupun Eichhornia crassipes.
Analisis Kinerja Mesin Hidrolik Pengepres Sampah Mobile dalam Mendukung Efisiensi Pengelolaan Sampah Terpilah di Bank Sampah, Yogyakarta Agus Widyianto; Wahyu Arrozi; Yoga Guntur Sampurno; Paryanto Paryanto; Asri Widowati; Tien Aminatun; Sunarta Sunarta
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1527-1537

Abstract

Pengelolaan sampah plastik di Indonesia terus meningkat dan menjadi tantangan, khususnya untuk botol, galon, dan label plastik yang memerlukan ruang penyimpanan besar serta sulit ditangani tanpa teknologi pemadatan yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja mesin hidrolik pengepres sampah mobile dalam memadatkan tiga jenis sampah plastik, yaitu botol plastik, galon plastik, dan label plastik, dengan parameter yang diukur meliputi pengurangan volume dan berat sampah, waktu operasional, kapasitas produksi, serta estimasi efisiensi biaya transportasi. Metode penelitian melibatkan uji coba mesin terhadap ketiga jenis sampah tersebut dalam tiga siklus pengepresan untuk mendapatkan data rata-rata. Parameter kinerja yang dievaluasi meliputi persentase pengurangan volume dan berat, waktu operasional, kapasitas produksi, serta estimasi efisiensi biaya transportasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengevaluasi efisiensi pengepresan. Hasil menunjukkan pengurangan volume tertinggi terjadi pada galon plastik (83,5 ± 0,6%), diikuti botol plastik (78,6 ± 1,4%) dan label plastik (66,2 ± 2,4%). Pengurangan berat relatif kecil, dengan galon tetap tertinggi (3,19 ± 0,3%), sedangkan botol dan label masing-masing 0,54 ± 0,3% dan 0,8 ± 0,5%. Perbedaan kinerja mencerminkan karakteristik material: plastik berukuran besar dan berongga lebih mudah dipadatkan dibanding plastik ringan dan fleksibel. Secara keseluruhan, mesin pengepres mobile berpotensi meningkatkan efisiensi ruang penyimpanan dan transportasi, serta mendukung proses daur ulang melalui hasil pemadatan yang lebih stabil untuk penerapan di bank sampah dan fasilitas pengelolaan limbah.
Analisis Keberlanjutan Diversifikasi Aren dan Kelapa Sawit di Kabupaten Pelalawan Yeni Kusmawaty; Sispa Pebrian; Muhammad Arif Ansori; Novia Dewi; Susy Edwina; Evy Maharani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1479-1488

Abstract

Diversifkasi aren dan kelapa sawit merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan pekebun. Penerapan diversifikasi masih mengalami beberapa kendala seperti, keterbatasan pengetahuan mengenai pola tanam, teknik pemanenan dan teknik pengawetan nira aren, minimnya sumber daya manusia penyadap, penerapan diversifikasi aren dan kelapa sawit yang masih rendah dan kurangnya intensitas penyuluhan dan pendampingan yang dapat mempengaruhi keberlanjutan usaha tani nanas. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik pekebun, menganalisis dan mendeskripsikan status keberlanjutan, menganalisis atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan diversifikasi aren dengan kelapa sawit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan jumlah sampel sebanyak 16 responden, yang menerapkan sistem perkebunan diversifikasi aren dan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan yang diambil dengan metode snowball sampling. Analisis data dilakukan dengan metode multidimensional scaling (MDS) dengan software RAP-Arenga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi aren dan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan memiliki status yaitu cukup berkelanjutan dengan dimensi ekonomi, dimensi ekologi dan dimensi sosial memiliki status yaitu cukup berkelanjutan. Atribut sensitif pada dimensi ekonomi adalah tingkat produktivitas tanaman diversifikasi, status kepemilikan lahan, lembaga permodalan atau kredit dan luas lahan. Atribut sensitif pada dimensi ekologi intensitas penggunaan pupuk, tingkat serangan hama dan penyakit, pengendalian gulma hama dan penyakit, jumlah pokok tanaman aren dan intensitas penggunaan pestisida. Atribut sensitif pada dimensi sosial adalah pandangan pekebun terhadap diversifikasi, partisipasi keluarga, intensitas kegiatan penyuluhan, keikutsertaan dalam kegiatan penyuluhan.
Tren Temporal Karakteristik Sampah Laut Makro dan Meso (2019–2022) di Kepesisiran Bantul - Yogyakarta: Dasar Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Kepesisiran Bachtiar W. Mutaqin
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1538-1548

Abstract

Sampah laut merupakan ancaman ekologis dan sosio-ekonomi yang mendesak secara global, tidak terkecuali di wilayah pesisir Indonesia, seperti di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk memahami karakteristik dan tren temporal sampah laut di wilayah ini sebagai basis kebijakan mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dan menganalisis tren kepadatan sampah laut berukuran makro (2,5 cm - 1 m) dan meso (0,5 - 2,5 cm) di Pantai Baru dan Pantai Depok, Bantul. Kontribusi ilmiah utama dari studi ini adalah penyediaan data pemantauan berkala jangka panjang, dari tahun 2019 hingga 2022, yang spesifik berdasarkan ukuran dan musim, yaitu musim barat hingga awal peralihan I dan musim timur hingga awal peralihan II, yang masih jarang dilakukan di pesisir selatan Jawa. Metode pelaksanaan pemantauan sampah laut di Kabupaten Bantul dilaksanakan menggunakan metode transek. Hasil analisis menunjukkan berbagai jenis sampah, termasuk plastik, kaca dan keramik, kayu, busa plastik, karet, kardus dan kertas, logam, dan bahan lainnya. Kepadatan sampah bervariasi signifikan dari 0 hingga 18 buah per meter persegi tiap tahunnya. Hanya sampah jenis plastik, busa plastik, dan bahan lainnya yang teridentifikasi memiliki kepadatan lebih dari satu buah per meter persegi, baik ukuran makro maupun meso. Secara umum, jenis sampah lain memiliki kepadatan kurang dari satu buah per meter persegi. Temuan paling signifikan adalah adanya peningkatan jumlah sampah plastik yang substansial, baik dari kepadatan berat maupun jumlah sampah. Temuan ini menegaskan bahwa plastik adalah kontributor dominan dan memerlukan perhatian khusus. Oleh karena itu, studi ini memberikan data dasar yang kuat untuk merumuskan kebijakan atau intervensi manajerial yang terfokus dan berkelanjutan guna mengurangi dampak negatif sampah plastik di wilayah kepesisiran Bantul.
Studi Keanekaragaman, Pola Sebaran dan Kemelimpahan Capung (Odonata) di Pulau Lombok serta Peranannya sebagai Bioindikator Lingkungan Lalu Edwin Arwana; Sukirno Sukirno; Andhika Puspito Nugroho; Hari Purwanto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1489-1499

Abstract

Pulau Lombok sebagai salah satu zona peralihan di Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah serta peran penting dalam kelestarian lingkungan, baik dari segi flora dan fauna. Adanya aktivitas penggundulan hutan, pertambangan, pariwisata, pembangunan, dan aktivitas manusia lainnya memberikan ancaman terhadap keberagaman dan kemelimpahan ekosistem. Capung sendiri merupakan serangga yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dan dapat ditemui diberbagai tempat, seperti misalnya Pulau Lombok. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh tingkat keanekaragaman capung di Pulau Lombok, pola sebaran, kemelimpahan, dan perannya untuk menentukan kondisi lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek garis di sepanjang jalur pengamatan dan metode visual day flying. Hasil analisis faktor fisik kimia sungai menunjukkan bahwa sungai di Pulau Lombok memenuhi standar baku mutu air. Penelitian ini berhasil mendapatkan indeks keanekaragaman capung di Pulau Lombok, yaitu 2,67 termasuk ke dalam kategori sedang. Pola sebaran capung 1,03 termasuk kategori mengelompok. Kelimpahan tertinggi capung di Pulau Lombok dimiliki oleh capung Euphaea lara lombockensis dengan persentase 16,79% kategori dominan, sedangkan kelimpahan terendahnya dimiliki oleh capung Tramea eurybia, Tholymis tillarga, dan Orthetrum testaceum soembanum dengan persentase 0,25% kategori tidak dominan. Penelitian ini membuktikan bahwa kondisi sungai di Pulau Lombok masih mendukung keberlangsungan hidup organisme air dibuktikan dengan ditemukannya capung pada lingkungan perairan. Namun, perbedaan kondisi lingkungan memiliki pengaruh terhadap keanekaragaman, pola sebaran, dan kemelimpahan capung.
The Assessment of Paddy Soil Fertility Status Based Soil Fertility Index (SOFIX) in Tuban Indonesia Abd Aziz Amin; Lutfi Nimatus Salamah; Attabik M Amrillah; Hideki Okuda; Andi Kurniawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1448-1453

Abstract

Rice is one of the main agricultural commodities cultivated by farmers in Tuban Regency, Indonesia. To improve rice productivity, evaluating soil fertility is essential for determining appropriate and balanced fertilization. This study aimed to assess the fertility status of paddy soils in Tuban Regency using the Soil Fertility Index (SOFIX) method to identify nutrient constraints and recommend suitable management practices. Soil samples were collected from agricultural areas integrated with organic farming systems. The results showed low bacterial number and weak nitrogen and phosphorus circulation activities. Chemical parameters, including total carbon, total potassium, total nitrogen, and total phosphorus, were also below optimal levels. These findings indicate that the paddy soils in Tuban Regency are in a low-fertility condition. Therefore, the application of organic materials is recommended to enhance microbial activity, improve nutrient cycling, and restore soil fertility for sustainable rice production.

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2026): May 2026 Vol 24, No 2 (2026): March 2026 Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026 Vol 23, No 6 (2025): November 2025 Vol 23, No 5 (2025): September 2025 Vol 23, No 4 (2025): July 2025 Vol 23, No 3 (2025): May 2025 Vol 23, No 2 (2025): March 2025 Vol 23, No 1 (2025): January 2025 Vol 22, No 6 (2024): November 2024 Vol 22, No 5 (2024): September 2024 Vol 22, No 4 (2024): July 2024 Vol 22, No 3 (2024): May 2024 Vol 22, No 2 (2024): March 2024 Vol 22, No 1 (2024): January 2024 Vol 21, No 4 (2023): October 2023 Vol 21, No 3 (2023): July 2023 Vol 21, No 2 (2023): April 2023 Vol 21, No 1 (2023): January 2023 Vol 20, No 4 (2022): October 2022 Vol 20, No 3 (2022): July 2022 Vol 20, No 2 (2022): April 2022 Vol 20, No 1 (2022): January 2022 Vol 19, No 3 (2021): November 2021 Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 3 (2020): November 2020 Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 3 (2019): November 2019 Vol 17, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 More Issue