cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Keanekaragaman Jenis, Tutupan Lamun, dan Kualitas Air di Perairan Teluk Ambon Marsya Jaqualine Rugebregt; Caleb Matuanakotta; Mr. Syafrizal
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.589-594

Abstract

Ekosistem lamun memiliki fungsi ekologi sebagai habitat, tempat pemijahan, pengasuhan, pembesaran, dan mencari makanan dari berbagai biota. Berkembangnya kegiatan manusia di wilayah pesisir khususnya di perairan Teluk Ambon seperti pariwisata, pemukiman, dan aktivitas lainnya berpengaruh terhadap ekosistem lamun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan persentase tutupan, serta kualitas air di ekosistem lamun Teluk Ambon. Penelitian dilakukan pada bulan September 2019 di Teluk Ambon pada tujuh stasiun yaitu Tanjung Tiram, Halong, Galala, Lateri, Passo, Waiheru, dan Tawiri. Data diperoleh menggunakan teknik transek dengan mengadopsi protocol dari UNESCO pada ekositem lamun yang kontinu atau koleksi bebas pada vegetasi lamun. Parameter kualitas air yang diukur meliputi parameter fisika (suhu dan salinitas) dan parameter kimia (pH, DO, nitrat, silikat dan fosfat. Suhu, salinitas, pH, dan Do diukur secara in situ dengan menggunakan Water Quality Checker WTW 3430 Set F. Sampel air dianalisa pada laboratorium Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon menggunakan metode spektrofotometri. Hasil yang diperoleh terdapat enam jenis lamun yang ditemukan di Teluk Ambon yaitu Enhalus acroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halophila minor, Cymonocea rotundata, dan Halodule pinifolia. Persentase tutupan lamun stasiun Galala : E. acroides (34,41%), T. hemprichii (28,37%), H. ovalis (1,40 %) dan H. pinifolia (35.81%); Halong : E. acroides (29,42%), T. hemprichii (7,95%), H. ovalis (1,77 %), C. rotundata (10.58%) dan H. pinifolia (35.81%); Tj. Tiram : E. acroides (41.51%), T. hemprichii (52,72%), H. ovalis (0,61 %) dan H. pinifolia (5.16%); Lateri : E. acroides (76.25%) dan T. hemprichii (52,72%); Passo : H. minor (100%); Waiheru : E. acroides (100%); Tawiri  H. ovalis (46,45%) dan H. pinifolia (53.55%). Suhu perairan lebih rendah dari suhu optimum. Salinitas perairan dan DO masih dalam bakumutu yang diperolehkan. Berdasarkan nilai pH maka perairan Teluk Ambon tergolong perairan tidak produktif. Kadar fosfat dan nitrat lebih tinggi dari baku mutu berdasarkan KMNLH 2004.ABSTRACTThe seagrass ecosystem has ecological function as a habitat, spawning, nurturing, growing, and foraging for food from various biota. Developing activities in the coastal area in the Ambon Bay waters, such as activities, settlements, and other activities that affect the seagrass ecosystem. The research objective was to determine the diversity of types and proportions of cover, and water quality in the Ambon Bay seagrass ecosystem. The research was conducted in September 2019 in Ambon Bay at seven stations namely Tanjung Tiram, Halong, Galala, Lateri, Passo, Waiheru, and Tawiri. Data were obtained using the transect technique with UNESCO protocol on continuous seagrass ecosystem or free collection of seagrass vegetation. Water quality parameters measured include physical parameters (temperature and salinity) and chemical parameters (pH, DO, nitrates, silicates, and phosphates. Temperature, salinity, pH, and measured in situ using Water Quality Checker WTW 3430 Set F. Air analysis The results obtained were six types of seagrass found in Ambon Bay, namely Enhalus acroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halophila minor, Cymonocea rotundata, and Halodule pinifolia. Percentage of seagrass station coverage of Galala : E. acroides (34,41%), T. hemprichii (28,37%), H. ovalis (1,40%) and H. pinifolia (35,81%); Halong: E. acroides (29,42 %)), T. hemprichii (7,95%), H. ovalis (1,77%), C. rotundata (10,58%), and H. pinifolia (35,81%); Tj. Oysters: E. acroides (41,51%), T. hemprichii (52,72%), H. ovalis (0,61%) and H. pinifolia (5,16%); Lateri: E. acroides (76,25%) and T. hemprichii (52,72%); Passo: H. minor (100%); Waiheru: E. acroides (100%); Tawiri; H. ovalis (46,45%) and H. pinifolia (53,55%). The water temperature is lower than the optimal temperature. The salinity of the waters and DO are still in the quality obtained. Based on the pH value, the waters of Ambon Bay are classified as non-productive waters. Phosphate and nitrate levels were higher than the quality standard based on KMNLH 2004.
Analisis Deep Ecology Arne Naess terhadap Aktivitas Penambangan Pasir (Studi Kasus: Penambangan Pasir Merapi di Sekitar Sungai Gendol Cangkringan Sleman Yogyakarta) Dela Khoirul Ainia; Jirzanah Jirzanah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.98-106

Abstract

Gunung Merapi merupakan gunung teraktif di Indonesia, sehingga setiap erupsi mengeluarkan material vulkanik berupa pasir dan batuan. Pada tahun 2010 Gunung Merapi mengalami erupsi dengan mengeluarkan material vulkanik sebanyak 140 juta m3 akibatnya sekitar 23 % material yang dikeluarkan memenuhi aliran Sungai Gendol. Pemerintah Kabupaten Sleman melalui kebijakannya mengeluarkan aturan untuk dilakukan normalilsasi aliran Sungai Gendol, selain bertujuan untuk menormalisasi aliran sungai potensi tersebut juga dimanfaatkan sebagai lahan mata pencaharian yaitu dengan mengambil pasir dan batu. Akibat dari adanya penambangan pasir dan batu lingkungan sekitar mengalami kerusakan, diantaranya vegetasi tumbuhan tidak dapat tumbuh, kerusakan jalan, debu yang beterbangan akibat truk pengangkut pasir dan batu.  Dalam hal ini terkait dengan permasalahan yang terjadi disekitar penambangan pasir akan dikaji menggunakan platform deep ecology Arne Naess. Tujuan dari penelitian ini yakni menganalisis secara kritis mengenai aktivitas penambangan pasir Merapi yang ada di sekitar Sungai Gendol selain itu juga merumuskan solusi terkait permasalahan yang terjadi. Data dikumpulkan dengan cara studi pustaka, wawancara mendalam dengan pejabat kecamatan, dinas lingkungan hidup, penambang pasir, maupun dengan pengamatan lapangan. Teori  Deep  Ecology  memiliki kelebihan di antaranya bertitik tolak dari ideologi keberlanjutan sistem ekologi membawa perubahan fundamental pada tatanan  kehidupan  sosial,  ekonomi  dan politik. Deep Ecology memandang bahwa makhluk hidup biotik maupun abiotik saling  terkait  sehingga harus  dihormati  dan  dihargai. Kurangnya kesadaran masyarakat penambang pasir menyebabkan terjadinya kerusakan  lingkungan. Sumberdaya pasir atau batu bukan  untuk dikuasai  dan direduksi  secara  berlebih,  namun  dapat  digunakan   sebagai sarana  memenuhi   kebutuhan kehidupan vital manusia. Perubahan  pandangan  dan  sikap  yang  arif  dalam  memperlakukan alam harus selalu dimiliki oleh seluruh masyarakat maupun pemerintah terkait.
Pengaruh Kinerja Keuangan dan Karakteristik Perusahaan terhadap Pengungkapan Lingkungan di Perusahaan yang terdaftar di Singapore Exchange Indah Fajarini Sri Wahyuningrum; Nilam Putri; Retnoningrum Hidayah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.2.417-423

Abstract

Pengungkapan lingkungan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan di sekitarnya. Pengungkapan lingkungan diharapkan juga dapat menarik para stakeholder untuk berinvestasi dan memberikan keuntungan pada perusahaan. Meskipun otoritas di beberapa negara masih tidak mewajibkan perusahaan untuk mengeluarkan pengungkapan lingkungan, pengungkapan lingkungan menjadi sesuatu yang penting karena mencakup seluruh aktivitas perusahaan dan dampaknya terhadap lingkungan. Namun, banyak perusahaan yang lebih berfokus pada kinerja perusahaan dan belum menyajikan pengungkapan lingkungan dalam laporan tahunannya. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengaruh antara kinerja keuangan dan karakteristik perusahaan terhadap pengungkapan lingkungan perusahaan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengungkapan lingkungan yang diukur dengan checklist items sesuai dengan Global Reporting Initiatives (GRI) Standard 2016. Terdapat empat variabel independen dalam penelitian ini yaitu: profitabilitas (Return on Equity - ROE), leverage, ukuran perusahaan dan tipe industri. Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari laporan tahunan (annual report), laporan berkelanjutan (sustainability report) milik perusahaan yang terdaftar di Singapore Exchange (SGX) tahun 2018. Terdapat 61 perusahaan sebagai sampel dan diambil sesuai dengan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teknik analisis linear berganda sebagai metode analisis untuk menguji pengaruh dari variable-variabel independen terhadap pengungkapan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan lingkungan. Hal ini memperkuat bukti bahwa semakin besar ukuran perusahaan, kesadaran perusahaan lebih tinggi untuk melakukan pengungkapan lingkungan. Sebaliknya tiga variabel lain yaitu profitabilitas, leverage, dan tipe industri terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan lingkungan perusahaan yang terdaftar di SGX.
Komposisi Kimia Pencemar Partikulat Kasar dan Halus di DKI Jakarta Pada Musim Hujan dan Musim Kemarau Driejana Driejana; Andi Iin Nindy Karlinda Kadir; Muhayatun Santoso
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.522-530

Abstract

Partikulat yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dikategorikan berdasarkan ukurannya yaitu PM10 berukuran <10 μm dan PM2.5 berukuran <2,5 μm.  Dampak terhadap kesehatan akan semakin besar pada ukuran partikulat yang semakin kecil, serta tergantung pada komposisi kimia yang dikandungnya. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui perbedaan komposisi kimia partikulat halus (PM2.5) dan partikulat kasar (PM10-2,5) pada musim hujan dan musim kemarau, serta sumber-sumber pengemisinya. Sampling dilakukan di DKI Jakarta menggunakan alat Gent stacked filter sampler unit pada musim hujan. Hasil pengukuran total massa partikulat dan komposisinya dibandingkan dengan pengukuran pada studi sebelumnya yang dilakukan pada musim kemarau. Massa partikulat ditentukan menggunakan alat neraca semi Mikro Mettler Toledo. Untuk mengetahui unsur-unsur yang terkandung di dalam filter kasar maupun halus digunakan Epsilon 5 EDXRF spectrometer. Analisis korelasi pada komposisi kimia digunakan untuk memprediksi sumber-sumber pengemisi. Hasil perhitungan konsentrasi rata-rata PM2,5 dan PM10-2,5 lebih rendah pada musim hujan dibandingkan dengan pada musim kemarau. Konsentrasi rata-rata partikulat halus di musim hujan adalah sebesar 15,31±0,41 µg/m3 dan partikulat kasar sebesar 28,69±0,56 µg/m3 sedangkan di musim kemarau sebesar 26,76±0,22 µg/m3 dan 35,05±0,28 µg/m3.  Hasil uji t menunjukan bahwa pada musim hujan dan musim kemarau terdapat perbedaan yang signifikan pada komponen kimia penyusun partikulat halus, yaitu BC, Al, Si, S, K, Ca, Ti, Ni, Zn, As.  Untuk partikulat kasar unsur yang menunjukkan perbedaan signifikan adalah Al, Si, S, K, Ca, V, Ni, Cu, As, Cl. Perbedaan konsentrasi rata-rata ini kemungkinan disebabkan oleh terjadinya deposisi basah. Berdasarkan analisis sumber pencemar,  PM2,5 ¬diprediksi berasal dari debu tanah/soil, emisi kendaraan dan pembakaran biomassa serta industri, sedangkan PM(10-PM2,5) bersumber dari garam-garam lautan (sea salt), debu tanah, dan industri.ABSTRACTParticulate matters (PM) have negative impacts on the environment and human health. PM were categorized based on their size, namely PM10 with size <10 μm (coarse) and PM2,5 with size <2.5 μm (fine). The impact on health will be greater at the smaller particulate size, and depending on their chemical composition. This study is focused on the chemical composition of fine and coarse particulate matter in the rainy and dry seasons as well as their potential sources. Sampling was carried out in DKI Jakarta using a Gent stacked filter sampler unit during the rainy season. The measurement results of total particulate mass and its composition were compared with measurements of a previous study conducted during the dry season. The particulate mass was determined using a Mettler Toledo semi-balance instrument. Furthermore, to determine the elements contained in the coarse and fine filters, an Epsilon 5 EDXRF spectrometer was used. Correlation analysis of the chemical composition were used to predict the emission sources. The results demonstrated that the average concentration of PM2,5 and PM(10-2,5) were lower in the rainy season than in the dry season. The average concentration of fine particulates in the rainy season was 15,31 ± 0,41 µg/m3 and coarse particulates was 28,69 ± 0,56 µg/m3. In the dry season it was 26,76 ± 0,22 µg/m3 and 35,05 ± 0,28 µg/m3. The t-test result showed that there was a significant difference between fine particles composition in the rainy season, particularly for BC, Al, Si, S, K, Ca, Ti, Ni, Zn, As. For coarse particulates, the elements that show significant differences were Al, Si, S, K, Ca, V, Ni, Cu, As, Cl. The concentration difference was likely due to wet deposition. Based on the analysis of pollutant sources, PM2,5 was predicted to come from soil dust, vehicle emissions and combustion of biomass and fuel industry, while PM (10-PM2,5) (coarse particles) came from sea salt, ground dust, and industry.
The Effectiveness of Urban Forest in Absorbing CO2 Emission at Rajekwesi Type A Terminal Oktavianus Cahya Anggara; Laily Agustina Rahmawati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.60-65

Abstract

The terminal in Bojonegoro District is Rajekwesi Type A Terminal. It is located close to the CBD that has resulted in a decrease in environmental quality, due to gas emissions released by motor vehicles. The decrease in environmental quality can be overcome with an ecological approach, for example by creating or expanding green open spaces (urban forest). This study aimed to provide information about the capability of urban forest of the terminal to absorb CO2 emissions. This study began with a survey counting the number of motor vehicles at the gateway of the terminal on Sunday, Monday, Wednesday, Friday and Saturday for 24 hours. Then, the measurement of tree biomass was carried out using the nondestructive method. After the data was collected, the amount of CO2 emissions from motor vehicles was calculated by adding up CO2 emissionsin a stationary (idle) position when it was moving. The total CO2 emissions of motor vehicles at Rajekwesi Type A Terminal was 292.058,087 kgCO2/year. The amount of carbon sink (Wtc) of a tree was calculated by multiplying the total biomass (Wt) by the carbon concentration. The amount of Wtc at the urban forest of Rajekwesi Type A Terminal was 4.366,059 kg/year. After the amount of Wtc was found out, the amount of CO2 absorbed by the tree could be found out by multiplying Wtc by the conversion constant of the carbon (C) element to CO2 (3,67). The amount of CO2 absorbed by the trees at the urban forest of Rajekwesi Type A Terminal was 16.023,44 kgCO2/year. If they were compared, the absorption of CO2 was still much smaller than the emission rate. Thus, the function of the urban forest of terminal as an absorber of CO2 emissions was still not optimal.
Evaluasi Kebutuhan Air Persemaian di Kawasan Karst Nggorang Manggarai Barat, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur Erik Febriarta; Aditya Pandu Wicaksono; Dobrak Tirani Tegak Nurani; Ajeng Larasati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.572-581

Abstract

Rehabilitasi lahan dan reklamasi hutan merupakan dua contoh upaya pemenuhan kebutuhan akan kayu nasional. Program ini melibatkan proses regenerasi tanaman yang diawali dengan pembibitan tanaman hutan, misalnya dengan metode persemaian modern yang dapat mempercepat waktu kesiapan bibit. Persemaian modern merupakan pengembangan dari program kebun bibit yang telah dilaksanakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Sejalan dengan penetapan tujuan wisata super prioritas di Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Likupang di Sulawesi Utara, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, perencanaan persemaian modern difokuskan di Satar Kodi, Kelurahan Nggorang, Komodo, Manggarai Barat. Dalam hal ini, ketersediaan air menjadi faktor yang penting karena diperlukan sepanjang tahun, terlebih saat puncak musim kemarau. Keterdapatan air tanah sebagai sumber air kegiatan rangkaian persemaian dapat diketahui dengan pendekatan geofisika dan analisis data resistivitas. Metode pendugaan air tanah Vertical Electrical Sounding (VES), yakni injeksi arus listrik ke dalam bumi melalui dua elektroda potensial, digunakan untuk menghasilkan resistivitas. Melalui analisis matching curve, nilai log resistivitas dikorelasikan dengan nilai log batuan dan menghasilkan root mean square (RMS) sebesar 8,4%. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyusun batuan terdiri atas batugamping dari Formasi Batugamping Berlapis (Tml) dan batulempung dengan sisipan tufan. Air tanah ditemukan di akuifer batugamping tufan yang, berdasarkan susunan batuannya, memiliki dua lapisan akuifer, yakni lapisan atas (kedalaman 7,5-24,04 m, potensi debit air tanah 5,68 liter/debit) dan lapisan bawah (kedalaman 46,24-106,68 m, debit 74,63 liter/detik). Lapisan bawah memiliki akuifer tebal (60,24 m) dan kedalaman potensial untuk sumur bor. Potensi ketersediaan air lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan air persemaian modern. ABSTRACTLand rehabilitation and forest reclamation are among the strategies adopted to meet national demand for timber, and, for this purpose, forest plant nurseries should be prepared to regenerate new plants. Modern nursery, believed to shorten the time needed to produce transplants, is part of the nursery program introduced by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) of the Republic of Indonesia. In line with the determination of Lake Toba in Sumatera Utara Province, Borobudur in Jawa Tengah, Mandalika in Nusa Tenggara Barat, Likupang in Sulawesi Utara, and Labuan Bajo in Nusa Tenggara Timur as super-priority tourist destinations, the modern nursery is currently prepared solely for Satar Kodi, Nggorang Subdistrict, Komodo, Manggarai Barat. Because it requires continuous supplies of water throughout the year, notably at the peak of the dry season, this research set out to determine groundwater availability using a geophysical approach and resistivity data analysis. Vertical Electrical Sounding (VES), which injects an electric current into the ground through two potential electrodes, yielded resistivity values. In the matching curve analysis, the log values of both resistivity and rock constituents were correlated, resulting in a root mean square (RMS) of 8.4%. The analysis revealed that the rock constituents were the limestone of the Bedded Limestone Formation (Tml) and claystone with intercalations of tuff. Groundwater was detected in tuffaceous limestone aquifer that, based on the rock arrangement, had two aquifer layers: the upper layer (depth= 7.5-24.04 m, discharge potential= 5.68 l/s) and the lower layer (depth= 46.24-106.68 m, discharge potential= 74.63 l/s). The lower layer had a thick aquifer (60,24 m) and potential depth for boreholes. Overall, groundwater availability is more than sufficient to meet the water needs of the modern nursery.
The Production of Compost from Organic Wastes using Bioactivators and Its Application to Celery (Apium graveolens L.) Plant Sri Indrayani; Nuriyanah Nuriyanah; Lisyeu Nurjanah; Heru Wibowo; Dody Priadi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.479-484

Abstract

Dilakukan pembuatan pupuk kompos dari limbah Jerami padi sawah percobaan dan seresah daun tanaman buah-buahan kebun plasma nutfah Cibinong Science Center-Botanic Garden (CSC-BG) LIPI menggunakan bioaktivator StarTmik@OK dan Tricho Plus (LIPI) dan Promi (produk komersial). Kompos yang dihasilkan diaplikasikan kepada tanaman seledri (Apium graveolens L.) di rumah kasa (screenhouse) Puslit Bioteknologi-LIPI Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah petiol daun, dan biomassa. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Data hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan SPSS ver. 24 dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Hasil menunjukkan bahwa secara umum kompos yang berasal dari jerami padi dengan menggunakan berbagai bioaktivator menghasilkan nilai rataan pertumbuhan tertinggi yaitu tinggi tanaman (35,7 cm), jumlah petiol (23,7), dan biomassa (42,3 g) dibandingkan dengan kompos yang menggunakan bahan lainnya. Penggunaan pupuk kimia masih diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman seledri.Abstract                                                                        The organic waste of rice straw from the experimental paddy field and broadleaf litter from the fruit germplasm garden of Cibinong Science Center-Botanic Garden (CSC-BG) was processed into compost with the addition of bioactivators. The bioactivator of StarTmik@OK and Tricho Plus (LIPI) and Promi (commercial product) was added to the composting raw materials. Produced compost was then applied to celery (Apium graveolens L.) plants in the screenhouse of RD Center for Biotechnology-LIPI. The growth parameters observed were plant height, leaf petiole, and biomass. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with three replications. Obtained data were statistically analyzed using SPSS ver.24, followed by Duncan’s multiple range tests (DMRT). The result showed that the highest growth rates, i.e., plant height (35.7 cm), number of petiol (23.7), dan biomass (42.3 g), were obtained by using rice straw compost using various bioactivators. Meanwhile, chemical fertilizer is still needed to increase the growth of celery plants.
Analisis Beban Pencemar Total Nitrogen dan Total Fosfat akibat Aktivitas Antropogenik di Danau Maninjau Roselyn Indah Kurniati; Puti Sri Komala; Z Zulkarnaini
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.355-364

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban pencemar dan daya tampung total nitrogen (TN) dan total fosfat (TP) akibat dari aktivitas antropogenik di Danau Maninjau. Perhitungan beban pencemar untuk aktivitas penduduk, pertanian, peternakan dan jumlah tamu hotel menggunakan Rapid Assesment. Penetapan  beban pencemar KJA dan daya tampung yang mengacu kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 28 Tahun 2009. Lokasi penelitian yang ditetapkan berdasarkan SNI 6989.57:2008 terdiri dari 10 lokasi yaitu tengah danau, PLTA, KJA, inlet dan outlet danau. Uji ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% digunakan dalam melihat perbedaan data konsentrasi TN dan TP secara waktu pengambilan sampel dan lokasi sampling. Rasio TN:TP dievaluasi untuk mengetahui pembatas kesuburan perairan dan korelasinya terhadap klorofil.Konsentrasi TN berada pada rentang 0,42 – 0,95 mg/L, TP berkisar 0,18-0,66 mg/L dan klorofil-a 5,49-8,69 mg/m3. Hasil uji ANOVA, konsentrasi TN dan TP  secara waktu pengambilan sampel tidak berbeda secara signifikan yaitu 0,64 dan 0,88 sedangkan secara lokasi sampling berbeda secara signifikan dengan nilai signifikansi 0,01 dan 4,03x10-6. TN dan TP memiliki hubungan yang kuat terhadap klorofil dan diperoleh rasio TN:TP<10 yang mengindikasikan nitrogen sebagai pembatas kesuburan. Beban pencemar TN dan TP terbesar berasal dari KJA yang menyumbang hampir 84,20 % dan 91,83% dari total beban pencemar. Ditinjau dari daya tampung mesotrofik beban pencemar TN belum melebihi sedangkan TP telah melebihi daya tampung sehingga perlu pengurangan hingga 71,34% untuk mesotrofik dan 90,44% untuk oligotrofik. Secara keseluruhan status trofik Danau Maninjau berada pada kondisi eutrofik dengan index 63,39. ABSTRACTThis study aims to analyze the pollutant load and the capacity of total nitrogen (TN) and total phosphate (TP) resulting from anthropogenic activities in Lake Maninjau. Calculation of the pollutant load for the activities of the population, agriculture, livestock and the number of hotel guests using Rapid Assessment. Determination of KJA pollutant load and carrying capacity refers to the Regulation of the Minister of Environment No. 28 of 2009. The research locations determined based on SNI 6989.57: 2008 consist of 10 locations, namely the middle of the lake, hydropower plant, marine cage, inlet and outlet. ANOVA test with a 95% confidence level was used to see the differences in TN and TP concentration data in terms of sampling time and sampling location. The TN: TP ratio was evaluated to determine the limitation of water fertility and its correlation to chlorophyll. TN concentrations were in the range 0.42 - 0.95 mg / L, TP ranged from 0.18 to 0.66 mg / L and chlorophyll-a was 5.49. -8.69 mg / m3. ANOVA test results, TN and TP concentrations at sampling time did not differ significantly, namely 0.64 and 0.88, while the sampling location was significantly different with a significance value of 0.01 and 4.03x10-6. TN and TP had a strong relationship to chlorophyll and the TN: TP ratio was obtained <10, which indicates nitrogen as a fertility limiter. The largest TN and TP pollutant load comes from KJA which accounts for almost 84.20% and 91.83% of the total pollutant load. Judging from the mesotrophic capacity of the TN pollutant load has not exceeded while the TP has exceeded the capacity so that it needs a reduction of up to 71.34% for mesotrophic and 90.44% for oligotrophic. Overall, the trophic status of Lake Maninjau is in a eutrophic condition with an index of 63.39.
Penggunaan Cocopeat Sebagai Pengganti Topsoil Dalam Upaya Perbaikan Kualitas Lingkungan di Lahan Pascatambang di Desa Toba, Kabupaten Sanggau Wafa Shafira; Aji Ali Akbar; Ochih Saziati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.432-443

Abstract

PT. Dinamika Sejahtera Mandiri (PT. DSM) merupakan perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertambangan bauksit dengan sistem penambangan terbuka, sehingga menghasilkan hamparan tanah dengan kandungan bahan organik  dan unsur hara sangat rendah serta toksik tinggi sehingga lahan menjadi kritis. Upaya perbaikan lingkungan dilakukan dengan rehabilitasi lahan agar tidak menimbulkan kerusakan berkelanjutan. PT. DSM menggunakan penambahan biostimulan dalam rehabilitasi lahan, namun karena biaya yang mahal maka dilakukan alternatif menggunakan cocopeat sebagai pengganti topsoil dengan biaya terjangkau. Lokasi penelitian terletak di lahan pascatambang bauksit milik PT. DSM yang berada di Desa Teraju, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Total sampel tanah yang diuji sebanyak 23 sampel, terdiri dari 5 perlakuan dengan masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali, yaitu perlakuan A tanpa perlakuan di lahan dengan topsoil, perlakuan B tanpa perlakuan di lahan tanpa topsoil, perlakuan C 100% cocopeat, perlakuan D 50% cocopeat + 25% arang sekam + 25% kotoran ayam dan perlakuan E 60% cocopeat + 25% arang sekam + 15% kotoran ayam. Hasil penelitian menunjukan kandungan parameter pH, % C- organik, KTK, dan N total dalam media tanam cocopeat memiliki kandungan yang lebih baik daripada topsoil dan tanah pascatambang, namun parameter P2O5, kadar debu, liat, dan pasir, topsoil memiliki kandungan yang lebih baik daripada cocopeat dan tanah pascatambang. Kandungan parameter fisik dan kimia terendah terdapat pada tanah pascatambang. Komposisi media tanam kombinasi cocopeat, arang sekam, dan kotoran ayam memiliki pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan tanaman sengon karena memiliki unsur hara yang lebih baik dibandingkan dengan topsoil, tanpa topsoil atau hanya cocopeat saja. Dosis variasi paling optimal dalam pertumbuhan sengon dari segi pertumbuhan fisik tanaman yaitu pada variasi perlakuan kode tanam D, yaitu memiliki pertambahan tinggi tanaman rata-rata 13,7cm dan cabang daun sebanyak 6 helai yang lebih signifikan dibandingkan perlakuan media tanam lainnya. AbstractPT. Dinamika Sejahtera Mandiri (PT. DSM) is a private company engaged in bauxite mining with an open mining system, resulting in a stretch of land with very low organic and nutrient content and high toxicity so that the land becomes critical. Efforts to improve the environment are carried out by rehabilitating land so as not to cause sustainable damage. PT. DSM uses biostimulants in land rehabilitation, but an alternative is to use cocopeat as a substitute for topsoil at an affordable price because of the high cost. The research location is located on the bauxite post-mining land owned by PT. DSM is located in Teraju Village, Toba District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province. Total soil samples tested were 23 samples, consisting of 5 treatments with each treatment being repeated three times, namely treatment A without treatment on land with topsoil, treatment B without treatment on the ground without topsoil, treatment C 100% cocopeat, treatment D 50% cocopeat + 25% husk charcoal + 25% chicken manure and treatment E 60% cocopeat + 25% husk charcoal + 15% chicken manure. The results showed that the pH,% C- organic, CEC, and total N content in the cocopeat growing medium had a better range than topsoil and post-mining soil. Still, the P2O5 parameters, the content of dust, clay, and sand, topsoil had better content. Then cocopeat and post-mining land. The lowest range of physical and chemical parameters is found in post-mining soil. The composition of the planting medium combination of cocopeat, husk charcoal, and chicken manure has a good effect on the growth of Sengon plants because it has better nutrients than topsoil, without topsoil, or just cocopeat. The most optimal dose of variation in the evolution of Sengon in terms of physical plant growth is the variation in the treatment of planting code D, which has an average plant height increase of 13.7 cm and six-leaf branches, which is more significant than the treatment of other growing media.
Usulan strategi pengelolaan sampah padat di TPA Burangkeng Bekasi dengan pendekatan SWOT dan AHP Dino Rimantho; Marlina Tamba
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.383-391

Abstract

Penetepan strategi pengelolaan sampah dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi laju timbulan sampah di TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi TPA Burangkeng, kemudian merumuskan alternatif strategi pengembangannya. Metode penelitian menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threath) dan AHP (Analitical Hierarchy Process). Berdasarkan hasil analisis SWOT terhadap faktor internal dan eksternal TPA Burangkeng, diperoleh alternatif strategi bagi pengembangan kebijakan operasional, yakni strategi perencanaan SDM, strategi perbaikan metode dan teknologi, serta strategi pengadaan sarana dan alat. Hasil perumusan strategi dari analisis SWOT tersebut kemudian ditentukan prioritasnya dengan menggunakan AHP. Berdasarkan hasil penelitian dengan metode AHP diketahui kriteria utama yang perlu diperhatikan dalam pengembangan adalah kriteria teknologi dengan bobot prioritas sebesar 0,371, dan sub-kriteria untuk pencapaian teknologi adalah melalui inovasi pengelolaan dengan bobot sebesar 0,325. Sehingga strategi pengembangan yang didapat adalah melalui strategi perbaikan metode dan teknologi pengelolaan, dengan bobot prioritas sebesar 0,540.ABSTRACTThe determination of a waste management strategy is carried out as an effort to reduce the rate of waste generation in the TPA Burangkeng, Bekasi Regency. The purpose of this research is to identify internal and external factors which are the strengths, weaknesses, opportunities and threats of TPA Burangkeng, then formulate alternative development strategies. The research method uses SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunity, Threath) and AHP (Analytical Hierarchy Process). Based on the results of the SWOT analysis on the internal and external factors of the Burangkeng TPA, an alternative strategy was obtained for the development of operational policies, namely the HR planning strategy, the strategy for improving methods and technology, and the strategy for the procurement of facilities and tools. The results of the strategy formulation from the SWOT analysis are then prioritized using AHP. Based on the results of research with the AHP method, it is known that the main criteria that need to be considered in development are technology criteria with a priority weight of 0.371, and the sub-criteria for technological achievement is through management innovation with a weight of 0.325. Thus, that the development strategy obtained is through a strategy to improve management methods and technology, with a priority weight of 0.540.

Filter by Year

2011 2025