cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Clustering Residents’ Intention to Engage in Water Conservation Initiative: Evidence from the Upstream of West Java, Indonesia Prasetyo Nugroho; Apriliyanti Dwi Rahayu; Rany Juliani; Indarto Indarto; Alfian Dwi Cahyo; Nida Ankhoviyya; Edwin Gumilar; Denni Susanto; Adi Nugroho
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.347-353

Abstract

Kawasan hulu daerah aliran sungai telah lama dianggap memainkan peran strategis dalam konservasi air pada lanskap yang kompleks dan dinamis. Sementara banyak studi telah meneliti pentingnya upaya konservasi air, studi yang berfokus pada pengelompokan niat penduduk untuk terlibat dalam inisiatif konservasi air di hulu daerah aliran sungai masih belum banyak dipelajari. Untuk memahami bagaimana warga mengelompok, kami mengklasifikasikan warga di dua desa (Cibeusi dan Sanca) berdasarkan pendapat mereka yang khas terhadap variabel Theory of Planned Behavior (TPB), yaitu sikap, norma subjektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan, niat perilaku, dan perilaku terhadap inisiatif konservasi air. Secara total, 200 kuesioner yang dapat digunakan dalam analisis telah diambil. Hasil penelitian menemukan bahwa warga dapat dikelompokkan menjadi dua kluster yaitu “pendukung konservasi air” dan “pendukung pasif”. Pendukung konservasi air dicirikan dengan kesepakatan yang tinggi pada semua variabel TPB, sedangkan pendukung pasif adalah sebaliknya. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi masyarakat tidak homogen, tetapi merupakan kelompok individu yang memiliki pemikiran berbeda. Lebih lanjut, studi saat ini berimplikasi bahwa pengelola sumber daya air harus menyadari fakta bahwa masyarakat dapat dikelompokkan ke dalam kelompok yang berbeda berdasar pendapat dan kepentingannya masing-masing. Rancangan kebijakan, strategi, dan intervensi yang efektif harus dirancang sesuai dengan kelompok yang berbeda tersebut. ABSTRACTUpstream areas have long been considered to play strategic roles in the water conservation of complex and dynamic landscapes. While earlier studies have examined the importance of water conservation efforts, studies that focused on clustering residents’ intention to engage in water conservation initiatives in the upstream areas remain understudied. To understand how residents are clustered, we classify residents in two villages (Cibeusi and Sanca) based on their distinctive opinions of the Theory of Planned Behavior (TPB) variables, i.e., attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, behavioral intention, and behavior toward water conservation initiatives. In total, 200 usable questionnaires were retrieved. The study finds that residents are clustered into two clusters named water conservation supporters and passive supporters. Water conservation supporters are characterized by high agreement on all the TPB variables, while passive supporters are the opposite. These findings confirm that communities are not homogenous but constitute a distinctive group of like-minded individuals. Furthermore, the current study implies that water resource managers should be aware of the fact that residents are clustered into distinct groups with their own opinions and interests. The design of effective policies, strategies, and interventions must be arranged according to those different groups.
Methane Concentration on Three Mangrove Zones in Ngurah Rai Forest Park, Bali I Putu Sugiana; Elok Faiqoh; Gede Surya Indrawan; I Wayan Eka Dharmawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.422-431

Abstract

Mangrove menjadi salah satu ekosistem lahan basah yang berperan penting dalam menyerap karbon. Namun, secara alami ekosistem mangrove juga mampu mengemisikan gas rumah kaca kedalam atmosfer. Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berdampak signifikan terhadap perubahan iklim. Penelitian tentang siklus metana telah dilakukan di ekosistem mangrove TAHURA Ngurah Rai Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur konsentrasi gas metana pada tiga zona ekosistem mangrove. Metode chamber tertutup digunakan dalam pengambilan sampel gas yang kemudian dianalisis dalam gas kromatografi dengan sensor flame ionization detector (FID). Karakter ekologi mangrove yang terdiri dari parameter struktur komunitas mangrove dan lingkungan diukur dari setiap plot kuadrat pengambilan sampel gas. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi gas metana tertinggi ditemukan pada zona darat dengan rata-rata 3,698 ± 0,986 mg. L-1. Walaupun demikian, konsentrasi gas metana pada dua zona lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan zona darat. Variabilitas konsentrasi gas metana tidak berbeda signifikan dengan kondisi struktur komunitas mangrove yang berbeda antar zona. Penelitian ini hanya menemukan variasi nilai potensial redoks (ORP) yang berhubungan signifikan dengan konsentrasi gas metana. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa karakter ekologi mangrove yang cukup seragam di kawasan sehingga, tidak menimbulkan perbedaan yang signifikan pada konsentrasi gas metana antar zona. Namun, parameter kondisi substrat lainnya perlu dilibatkan dalam penelitian berikutnya.AbstractMangrove is one of the wetland ecosystems that play an important role in carbon sequestration and storage. However, the ecosystem also emits greenhouse gas into the atmosphere naturally. Methane has been considered as a significant effect on global warming. A preliminary study in a part of the carbon cycle was conducted on the mangrove ecosystem in Ngurah Rai Forest Park Bali. This study was aimed to determine methane gas concentration in three different mangrove zones. Gas samples were collected by closed chamber method and they were analyzed using gas chromatography embedded with the flame ionization detector (FID) sensor. Mangrove ecological parameters i.e. community structure and environmental condition were determined on each quadratic plot where gas samples were collected. The result showed that the highest methane concentration was found in the landward zone at 3,698 ± 0,986 mg. L-1. Even though, the methane concentration of the other zones had not significantly different from the landward zone. In addition, the mangrove community structure among the three zones was not different significantly. The oxidation-reduction potential was the only factor that had a significant correlation with methane concentration. Those results indicated that mangrove ecological conditions among zones were similar to each other,  hence the variation of methane concentration was not significant. Nevertheless, substrate abiotic characters need to be involved in greenhouse gas studies in the future.
Recycling Temple Waste into Organic Incense as Temple Environment Preservation in Bali Island I Made Wahyu Wijaya; K. B. Indunil Sandaruwan Ranwella; Edgar Morales Revollo; Luh Ketut Sri Widhiasih; Putu Eka Dharma Putra; Putu Pande Junanta
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.365-371

Abstract

Kegiatan upacara di tempat suci pura di Pulau Bali rata-rata menghasilkan sampah sekitar 2000 L/hari. Sebagai bagian yang sangat penting dari budaya Bali, sesajen yang terdiri dari bunga, daun, buah-buahan dan bambu disajikan di setiap upacara keagamaan. Pembuangan sampah pura yang tidak tepat berpotensi menimbulkan gangguan pada kehidupan manusia dan lingkungan, seperti air dan sanitasi, penumpukan sampah, peningkatan tingkat pencemaran, dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendaur ulang sampah pura, khususnya sisa bunga menjadi dupa organik serta mengkaji alternatif lain dalam daur ulang sampah pura. Daur ulang sisa bunga menjadi dupa organik dilakukan dengan menggunakan tiga bahan campuran. Kajian literatur digunakan untuk menambah informasi alternatif daur ulang sampah pura dari penelitian sebelumnya. Hasil eksperimen menunjukan bahwa sampah sisa bunga dapat didaur ulang menjadi dupa organik. Rasio campuran 1:2 untuk sisa bunga dan bubuk esensial memberikan hasil terbaik. Dupa organik yang terbentuk sangat kuat dan padat. Selain itu, aroma campuran yang dihasilkan lebih baik di antara yang lain. Sampah pura juga dapat didaur ulang menjadi beberapa produk berharga, seperti kompos, ekstrak warna minyak atsiri, bubuk warna, atau biogas. Diestimasikan sebuah pura menghasilkan sekitar 200 kilogram sampah pura dalam satu hari upacara. Sekitar 40% dari sampah pura merupakan sisa bunga (berat basah) dengan kadar air sekitar 80%. Setelah melalui proses pengeringan, sisa bunga mencapai 16 kilogram. Diperkirakan sekitar 45 ton sampah pura dari 230 pura publik di Pulau Bali dapat didaur ulang setiap tahun melalui upaya daur ulang. Beberapa dampak yang ditimbulkan dari upaya daur ulang ini, seperti mengurangi sampah pura, menciptakan produk daur ulang yang dapat dipasarkan, dan meningkatkan keharmonisan antara budaya, lingkungan, dan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. ABSTRACTCeremonial’s activities in Bali’s Temple have produced about 2000 L/day of waste in average. As an integral part of Balinese culture, devotion offerings which consists of flowers, leaves, fruits and bamboo are presented at every ceremony. The improper disposal of temple waste potentially causes a stress on the basic services in human life, such as water and sanitation, waste accumulation, raising the level of pollution, and human health. The present study aims to leverage of temple waste, especially discarded flower into organic incense through recycling and find out the foreseen impact of this initiative to the environment. Processing discarded flower into organic incense was conducted in this research with three material mixtures ratio. A literature review was added to enhance the alternatives of discarded flowers recycling on previous research. It is found that discarded flower was successfully recycled into organic incense. The preliminary experiments showed that the ratio of 1:2 for discarded flowers and essential powder gave the best results. The incenses were very strong formed and solid. Additionally, the smell of best mixture was the best among others. Besides, temple waste can be recycled to some valuable products, such as vermicompost, dyes extraction, essential oil, color powder, or biogas. It assumed that a temple has produced around 200 kilograms of temple waste during a ceremonial day. About 40% of those was discarded flowers (wet weight) that 80% contains water. After the drying process, it has left 16 kilograms of dried discarded flowers. It estimated around 45 tons of discarded flowers from 230 public temples around Bali could be recycled every year through this recycling effort. Some impacts come up with following this initiative, such as reducing the temple waste, creating a marketable recycling product, and build up a harmony between the cultural, environment, and society through community empowerment.
Kajian Kualitas Tanah pada Lahan Gambut Terbakar di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat Rinto Manurung; Rossie Wiedya Nusantara; Ismahan Umran; W. Warganda
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.517-524

Abstract

Kebakaran lahan gambut menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisika, kimia dan biologi tanah gambut sehingga secara otomatis mempengaruhi kualitas tanah yang dinyatakan dengan Indeks Kualitas Tanah (IKT). Tujuan penelitian ini adalah menentukan indeks kualitas tanah dan faktor penentunya pada lahan gambut terbakar (GT) dan tidak terbakar (GTT). Penelitian dilakukan di Kelurahan Bansir Darat Kecamatan Pontianak Tenggara Kota Pontianak pada GTT  dan GT. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel tanah pada masing-masing lahan, pengamatan dan pengukuran kedalaman gambut, ketebalan lapisan gambut dan kematangan gambut serta perhitungan jumlah cacing. Analisis sifat fisika tanah meliputi bobot isi, kadar air kapasitas lapang, porositas total; sifat kimia tanah terdiri dari reaksi tanah (pH), karbon organik (C-organik), Nitrogen total (N-total), rasio CN, posfor tersedia (P-tersedia), natrium, kalium, kalsium dan magnesium dapat dipertukarkan (Na-dd, K-dd, Ca-dd dan Mg-dd), kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), kadar abu; dan jumlah cacing tanah untuk sifat biologi tanah. Hasil penelitian menunjukkan GT dengan kematangan saprik memiliki kedalaman gambut lebih dangkal dibandingkan GTT dengan kematangan hemik. Kadar air dan porositas pada GT juga lebih rendah dibandingkan GTT. Kation basa GT lebih tinggi dibandingkan GTT meskipun kriteria keduanya sangat rendah. Parameter penentu kualitas tanah yaitu C-organik, CN rasio, N-total, P-tersedia, kalsium, natrium, kalium, kejenuhan basa, bobot isi, kadar air dan porositas. Kedua lahan memiliki kriteria IKT rendah namun GT memiliki nilai yang lebih tinggi (0,34) daripada GTT (0,27). Meskipun nilai IKT pada GT lebih tinggi, banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari pembakaran lahan gambut. Karena itu pemerintah melarang pembakaran lahan dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan tentang pelarangan pembakaran hutan dan lahan gambut.AbstractPeatland fires cause changes in the physical, chemical and biological characteristics of the peat soil. It automatically affects the quality of the soil as stated by the Soil Quality Index (IKT). The purpose of this study was to determine the soil quality index and its determinants in burnt (GT) and unburnt (GTT) peatlands. The research was conducted in Bansir Darat Village, Southeast Pontianak District, Pontianak City on GT and GTT. The research stages included taking soil samples from each land, observing and measuring the depth of the peat, the thickness of the peat layer, the maturity of the peat and counting the number of worms as well. Analysis of soil physical characteristics including bulk density, moisture content of field capacity, total porosity; soil chemistry consists of C-organic, total nitrogen (N-total), CN ratio, available phosphorus (P-available), exchangeable sodium (Na-dd), potassium (K-dd), calcium-dd (Ca-dd)dan magnesium (Mg-dd), cation exchange capacity (CEC), base saturation (KB), content of ash; and the number of earth worms for soil biology property. The results showed that the physical characteristics of peat on GT had a shallower peat depth with sapric compared to GTT with hemic. The water content and porosity on GT are lower than GTT as well. The base cation of GT is higher than GTT even though the criteria for both are very low. The determinants of soil quality were C-organic, CN ratio, N-total, P-available, calcium, sodium, potassium, base saturation, content weight, moisture content and porosity. The Soil Quality Index of both lands have low criteria but GT has a higher value (0.34) than GTT (0.27). Even though the IKT value in GT is higher, there are many negative impacts caused by burning peatlands. Therefore, the government forbids burning of land by issuing policies to prohibit the burning of forests and peatlands.
Evaluasi Efektivitas Metode dan Media Filtrasi pada Pengolahan Air Limbah Tahu Anisa Nur Sitasari; Adian Khoironi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.565-575

Abstract

Peningkatan jumlah industri tahu di Indonesia diiringi dengan meningkatnya jumlah limbah industri tahu yang perlu mendapat perhatian khusus. Limbah tahu dengan kandungan bahan organik tinggi memberikan dampak negatif bagi sistem perairan jika dibuang tanpa adanya pengolahan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari metode yang efektif dalam mengolah limbah tahu dengan variasi media filtrasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 2 metode yang diperlakukan pada 2 kolom filtrasi dengan media filtrasi yang berbeda. Susunan media utama pada kolom filtrasi 1 berupa bioball dan kolom filtrasi 2 berupa bioring. Metode  batch dan kontinyu diperlakukan pada dua jenis kolom filtrasi tersebut. Ketinggian total media filtrasi untuk setiap kolom adalah 20 cm dengan volume air limbah 5 liter. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kualitas air limbah tahu pada sampel hari ke 1 dengan terjadinya penurunan konsentrasi COD pada kolom 1 dengan perlakuan metode batch sebanyak 18,12%. Peningkatan konsentrasi DO paling optimal pada kolom 1 dengan perlakuan metode kontinyu sebanyak 18,03%. Selanjutnya konsentrasi pH terjadi peningkatan secara signifikan pada kolom 2 dengan perlakuan metode batch sebanyak 41,27%. Sedangkan penurunan konsentrasi kekeruhan diperoleh pada kolom 1 dengan perlakuan metode batch sebanyak 57,22%. Perlakuan limbah tahu dengan metode batch pada waktu tinggal 1 hari memberikan peningkatan kualitas air limbah tahu yang lebih baik meskipun pada waktu tinggal yang lebih lama terjadi penurunan kualitas akibat terjadinya proses dekomposisi yang tidak terkontrol. Lebih lanjut, perlu dilakukan penelitian dengan melibatkan mikroorganisme selektif pada penyaring lambat dengan metode batch agar dihasilkan penurunan konsentrasi COD yang lebih signifikan. ABSTRACTThe increase in the number of tofu industries in Indonesia is accompanied by an increase in the amount of tofu industrial waste that needs special attention. Tofu waste with high organic matter content has a negative impact on aquatic systems if it is disposed of without treatment. The aim of this research was to study the effective method of treating tofu waste with a variety of filtration media. This research was conducted using 2 methods which were treated on 2 filtration columns with different filtration media. The composition of the main media in first filtration column is bioball and second filtration column is bioring. Batch and continuous methods are applied to the two types of filtration columns. The total height of the filtration media for each column is 20 cm with a volume of 5 liters of wastewater. The results showed an increase in the quality of tofu wastewater on the first day of the sample with a decrease in COD concentration in first column with the batch method treatment of 18.12%. The most optimal increase in DO concentration in first column with continuous method treatment was 18.03%. Furthermore, the pH concentration increased significantly in second column with the batch method treatment as much as 41.27%. While the decrease in turbidity concentration was obtained in column 1 with batch method treatment as much as 57.22%. The treatment of tofu waste using the batch method at a residence time of 1 day provides a better-quality improvement of tofu wastewater although at a longer residence time there is a decrease in quality due to an uncontrolled decomposition process. Furthermore, it is necessary to conduct research involving selective microorganisms in a slow filter with a batch method in order to produce a more significant reduction in COD concentration.
Penggunaan Makrozoobentos Dalam Penilaian Kualitas Perairan Sungai Inlet Danau Maninjau, Sumatera Barat Aiman Ibrahim; Jojok Sudarso; I. Imroatushshoolikhah; Reliana Lumban Toruan; Lalea Sari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.649-660

Abstract

Danau Maninjau yang terletak di Provinsi Sumatera Barat telah ditetapkan sebagai salah satu danau prioritas nasional diantara 15 danau lainnya. Kondisi kualitas air Danau Maninjau salah satunya dipengaruhi oleh kondisi kualitas air dari sungai-sungai yang bermuara di danau tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas air sungai inlet Danau Maninjau dengan menggunakan bioindikator makrozoobentos. Penelitian dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2019 di empat sungai inlet Danau Maninjau yang meliputi Sungai Koto Kaciak, Kurambik, Kularian, dan Ranggeh Bayur. Pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan di segmen hulu, tengah, dan hilir dengan menggunakan kick net pada substrat berbatu dan berpasir, serta pengeruk Ekman pada substrat berlumpur. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan makrozoobentos di keempat sungai inlet dengan kisaran 5-25 famili dan 4-10 ordo yang tergolong ke dalam delapan kelas meliputi Insekta, Clitellata, Malacostraca, Bivalvia, Gastropoda, Polychaeta, Hirudinea, dan Turbellaria. Hasil analisis korelasi Spearman antara metrik biologi dengan Water Quality Index (WQI)  menunjukkan bahwa metrik SIGNAL, EPT, dan LQI memiliki korelasi yang sangat kuat dengan nilai r > 0,7 (p<0,01). Metrik SIGNAL dengan korelasi tertinggi (r = 0,752) menunjukkan kondisi perairan sungai inlet Danau Maninjau  yang tercemar ringan hingga berat. Metrik SIGNAL, EPT, dan LQI dapat diaplikasikan untuk melengkapi penilaian parameter fisik kimiawi perairan sungai inlet Danau Maninjau. ABSTRACTLake Maninjau which is located in West Sumatra Province has been designated as one of the national priority lakes among 15 other lakes. Water quality conditions of Lake Maninjau is influenced by the condition of the water quality of the streams that flow into the lake. The present study aimed to determine the condition of the water quality of the inlet stream of Lake Maninjau by using macrozoobenthos as bioindicators. This study was conducted in June and August 2019 in four inlet streams of Lake Maninjau including the Koto Kaciak, Kurambik, Kularian, and Ranggeh Bayur streams. A sampling of macrozoobenthos was carried out in the upstream, middle, and downstream using Surber nets on rocky and sandy substrates, and Ekman Grab on muddy substrates. Based on the results of this study, macrozoobenthos were found in the four inlet streams with a range of 5-25 families and 4-10 orders and classified into eight classes including Insects, Clitellata, Malacostraca, Bivalvia, Gastropods, Polychaeta, Hirudinea, and Turbellaria. The results of the Spearman correlation analysis between biological metrics and the Water Quality Index (WQI) show that the SIGNAL, EPT, and LQI metrics have a very strong correlation with r values > 0.7 (p < 0.01). The SIGNAL metric has the highest correlation (r = 0.752) indicates the inlet streams of Lake Maninjau which are lightly to heavily polluted. Metrics of macrozoobenthos communities such as SIGNAL, EPT, and LQI can be applied to complete the assessment of the physicochemical parameters of inlet streams of Lake Maninjau 
Strategi Prospektif Pengembangan Dalam Ekowisata Waduk Cirata Yang Berkelanjutan Purna Hindayani; Armandha Redo Pratama; Zuzzy Anna
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.620-629

Abstract

Pengembangan ekowisata waduk Cirata memiliki potensi besar dalam penggerak perekomian dan membangun kesejahteraan masyarakat tanpa harus mengorbankan sumber daya alam dan merusak lingkungan bahkan berkelanjutan.Pada studi ini, ini bertujuan untuk menentukan  variabel-variabel yang mempengaruhi pengembangan ekowisata di waduk Cirata serta mengetahui hubungan interdepensi antara variabel-variabel sehingga dapat dijadikan penentuan kebijakan dalam pengembangan ekowisata di waduk Cirata yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah analisis struktural Matrix of Cross Impact Multiplication Applied to a Classification (MICMAC). Hasil penelitian menunjukan bahwa satu variabel penggerak yaitu konflik pemanfaatan waduk sedangkan variabel kunci terdapat 21 variabel dari 5 dimensi pembangunan keberlanjutan. Urutan prioritas variabel kunci pada dimensi lingkungan  yaitu kualitas perairan; dimensi ekonomi terdapat tiga variabel yaitu peluang industri wisata, pengembangan ekonomi warga lokal (UMKM) dan  alokasi pendanaan pariwisata; dimensi sosial terdapat dua variabel yaitu keterlibatan masyarakat lokal, peluang lapangan kerja bidang pariwisata; dimensi kelembangaan terdapat kesiapan regulasi dalam pengembangan ekowisata, dukungan pemerintah lokal, kesepakatan komunitas dan aturan lokal, koordinasi dan kolaborasi  antar lembaga, dan dukungan pemerintah pusat; dimensi kepariwisataan tersapat 10 variabel yaitu aktivitas wisata, tata kelola dan manajemen pengelolaan wisata, keunikan dan keindahan di tempat wisata,  sarana dan prasarana pariwisata,  daya tarik wisata budaya dan alam, strategi promosi dan pemasaran, akomodasi wisata, aksebilitas wisata, potensi wisatawan lokal, dan potensi wisatawan asing. variabel-variabel tersebut menjadi pondasi awal dalam menentukan kebijakan oleh para pemangku kewenangan dalam pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan di waduk cirata. AbstractThe development ecotourism  of Cirata reservoir has great potential in driving the economy building community welfare without having to sacrifice natural resources and damage the environment and even be sustainable. This study aims to determine the variables that influence the development of Cirata ecotourism and to determine the interdependence relationship between the variables so that it can be used as a policy for  the sustainable development of Cirata ecotourism. The method used  was Matrix Cross Impact Multiplication Applied to a Classification (MICMAC) structure analysis. The results showed that one driving variable is the conflict over the use of reservoirs, while the key variables are 21 of the 5 dimensions of sustainable development. A key variable in the environmental dimension, namely water quality; three key variables in the the economic dimension, namely tourism industry opportunities, economic development of local communities (MSMEs) and tourism funding allocations; two variables in the social dimension, namely the involvement of local communities, job opportunities in the tourism sector; the institutional dimension includes regulatory readiness in ecotourism development, local government support, community agreements and local rules, coordination and collaboration between institutions, and central government support; The dimensions of tourism included 10 variables, namely tourism activities, tourism management, uniqueness and beauty in tourist attractions, tourism facilities and infrastructure, cultural and natural tourist attractions, promotion and marketing strategies, tourism accommodation, tourism accessibility, potential local tourists, and potential foreign tourists. These variables become the initial foundation in determining policies and decisions by authorities in sustainable ecotourism management in the Cirata Reservoir
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan dan Cadangan Karbon sebagai Indikator Degradasi Lingkungan di Kecamatan Sandai Kabupaten Ketapang Debi Sumarlin; Evi Gusmayanti; Gusti Zakaria Anshari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.576-581

Abstract

Sumberdaya hutan dan lahan merupakan sumberdaya yang menjadi andalan dalam aktivitas sosial ekonomi masyarakat terutama di negara berkembang. Sumber daya hutan dan lahan memiliki permasalahan seperti kegiatan konversi area hutan ke penggunaan lahan non hutan.  Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Sandai pada periode 2000 sampai 2019. Selanjutnya hasil analisis digunakan untuk mengestimasi cadangan karbon. Data perubahan penggunaan lahan diperoleh dari analisis visual citra landsat, sedangkan cadangan karbon dihitung berdasarkan total luas penggunaaan lahan dengan standar cadangan karbon di setiap penggunaan lahan. Hasil analisis citra pada tahun 2019 dicocokkan dengan kondisi di lapangan. Hasil pengecekan pada 30 titik dengan kondisi terakhir penggunaan lahan tahun 2019 diperoleh kecocokan sebanyak 26 titik (87%), Ketidakcocokan terjadi karena perubahan penggunan lahan hutan sekunder menjadi kebun (1 titik), semak belukar menjadi tambang (1 titik), pertanian lahan kering menjadi lahan terbuka (1 titik) dan penggunaan lahan transmigrasi berubah menjadi semak belukar (1 titik). Penggunaan lahan yang paling dominan mengalami perubahan adalah hutan lahan kering sekunder dan perkebunan. Hutan lahan kering sekunder tahun 2000 yaitu seluas 39.931,11 ha, pada tahun 2011 menjadi 32.833,22 ha dan tahun 2019 menjadi 17.180,02 ha. Hutan lahan kering sekunder mengalami penurunan luas 22.751,09 ha dari luas 39.931,11 ha pada tahun 2000. Penggunaan lahan perkebunan tahun 2000 adalah 2.303,01 ha, mengalami penambahan luas tahun 2011 menjadi 3.996,79 dan tahun 2019 menjadi 13.937,42 ha. Penggunaan lahan perkebunan mengalami penambahan luas sebesar 13.937,42 ha dari luas 2.003,01 ha pada tahun 2000. Cadangan karbon tahun 2000 adalah 5.873,585 ton/ha, tahun 2011 menjadi 5.391,709 ton/ha dan tahun 2019 4.605,672 ton/ha. Cadangan karbon mengalami penurunan dari tahun 2000 sampai 2019 sebesar 1.267,91 ton/ha.    AbstractForest and land resources are the leading sector in the socio-economic activities of the community, especially in developing countries. Forest and land resources have problems such as the conversion of forest areas to non-forest land uses. The purpose of this study is to identify land use changes in Sandai District in the period 2000 to 2019. An analysis for above ground carbon stock also carried out in this study. Land use change data was obtained from visual analysis of Landsat imagery, while carbon stock was calculated based on the total land use area with carbon stock standards in each land use. Ground checking was carried out to validate the image in 2019 with field conditions. The results of ground checking at 30 points with the latest conditions of land use in 2019 obtained 26 points (87%), mismatches occurred due to changes in secondary forest land use to plantations (1 point), shrubs to mining (1 point), dryland agriculture to bareland (1 point) and transmigration changed to shrubs (1 point). The most dominant land use changes are secondary dryland forest and plantations. The secondary dryland forest in 2000 was 39.931,11 ha, it became 32,833.22 ha in 2011, and 17.180,02 ha in 2019. Secondary dryland forest decreased by 22.751,09 ha in 2019 from 39.931,11 ha in 2000. Plantations in 2000 was 2.303,01 ha increase to 3.996,79 in 2011 and 13,937.42 ha in 2019. Plantations increased by 13.937,42 ha in 2019 from 2.003,01 ha in 2000. Carbon stocks in 2000 were 5.873.585 tons/ha, it became 5,391,709 tons/ha in 2011 and 4,605.672 tons/ha in 2019. Carbon stocks decreased from 2000 to 2019 by 1.267,91 tons/ha.
Rancang Bangun Green Belt Untuk Pengendalian Pencemaran Debu di Kawasan Industri Terboyo (Jalan Kaligawe) Nurandani Hardyanti; Matthew Darmawan; Haryono Setiyo Huboyo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.681-689

Abstract

Pencemaran udara adalah masuknya atau bercampurnya unsur-unsur berbahaya ke atmosfer yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan manusia pada umumnya, dan penurunan kualitas lingkungan. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah pencemaran udara adalah dengan merencanakan Green Belt. Green Belt atau Sabuk hijau adalah kawasan bebas bangunan atau ruang terbuka hijau di sekitar kawasan sumber pencemar yang berguna sebagai penyaring fisik pencemar udara serta aspek lain seperti estetika, fungsi peneduh dan penunjang keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, perencanaan Green Belt menjadi penting sebagai aspek yang dapat mengendalikan tingkat pencemaran udara, khususnya pencemaran debu, pada lokasi perencanaan yang ditargetkan, khususnya Kawasan Industri Terboyo. Berdasarkan sampling yang dilakukan, angka konsentrasi debu menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu 801,6 mg/m3. Dengan desain Green Belt jenis pohon Acacia mampu menurunkan konsentrasi debu mulai dari efisiensi 15,84% pada tahun tanam dan meningkat pesat setiap tahunnya. Efisiensi optimal Green Belt akan tercapai pada tahun ke-2 dengan laju 71,40% dan akan mampu mencapai efisiensi maksimum pada tahun ke-5 dengan laju 87,92%. ABSTRACTAir pollution is the entry or mixing of hazardous elements into the atmosphere which can cause environmental damage, disturbances to human health in general and reduce environmental quality. One of the solutions to tackle air pollution problems is to plan a Green Belt. Green belt is a building-free zone or green open space around the pollutant source area which is useful as a physical filter for air pollutants as well as other aspects such as aesthetics, shading functions, and biodiversity support. Therefore, planning a Green Belt is important as an aspect that can control the level of air pollution, especially dust pollution, at the targeted planning location, especially Terboyo Industrial Area. Based on the sampling carried out, the dust concentration figure shows a high number, namely 801.6 mg / m3. With the Acacia tree species Green Belt design, it can reduce dust concentrations starting from an efficiency of 15.84% in the planting year and increasing rapidly each year. The optimum efficiency of the Green Belt will be achieved in the 2nd year with the rate of 71.40% and it will be able to reach the maximum efficiency in the 5th year with the rate of 87.92%.
Analysis of Greenhouse Gas Emissions from Mobile Sources in Jombang Urban Area during the Covid-19 Pandemic Achmad Chusnun Niam; Rachmanu Eko Handriyono; Indah Puji Hastuti; Maritha Nila Kusuma
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 3 (2021): November 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.3.582-587

Abstract

Pada Desember 2019, wabah penyakit pneumonia yang disebabkan oleh coronaviruse ditemukan Wuhan, China. Penyakit ini telah menyebar ke seluruh dunia hingga saat ini. Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan agar masyarakat tidak berkegiatan di tempat umum. Beberapa kawasan perkotaan mengalami penurunan jumlah kendaraan secara signifikan. Penelitian ini menganalisis emisi gas rumah kaca (GRK) dari sumber bergerak di Kabupaten Jombang ketika penerapan kebijakan PSBB di masa pandemi COVID-19. Metode analisis emisi gas rumah kaca menggunakan metode Tier 2 (Vehicle Kilometer Traveled) yang menggunakan pendekatan berdasarkan panjang perjalanan. Data primer diambil dengan traffic counting pada wilayah adminsitrasi kawasan perkotaan Jombang. Hasil penelitian menujukkan terdapat pengurangan kendaraan terutama angkutan umum seperti bus baik bus antar kota maupun antar provinsi. Berdasarkan wilayah administratif, Kecamatan Jombang memiliki emisi gas rumah kaca CO2eq tertinggi sebesar 119372,29 ton/tahun, diikuti oleh Kecamatan Perak sebesar 46.679,04 ton/tahun  dan Kecamatan Diwek 52799,15 ton/tahun. Ruas jalan nasional di kawasan perkotaan jombang menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca CO2eq tertinggi yaitu 113877,99 ton/tahun. ABSTRACTIn December 2019, an outbreak of pneumonia caused by the coronavirus was found in Wuhan, China. This disease has spread throughout the world until this time. The Indonesian government issued a policy so that people do not carry out activities in public places. Several urban areas have experienced a significant decrease in the number of vehicles. This study analyzes greenhouse gas emissions (GHGs) from mobile sources in Jombang urban area during the implementation of the PSBB policy in COVID-19 pandemic. Analyzing greenhouse gas emissions method uses the Tier 2 (Vehicle Kilometer Traveled) method that uses an approach based on the length of the trip. Primary data was taken by traffic counting on the administration area of Jombang urban area. The results depicted that there was a reduction in vehicles, especially public transportation such as buses, both inter-city, and inter-provincial buses. Jombang District has the highest CO2eq greenhouse gas emissions of 119372.29 tons/year, followed by Perak District at 46679.04 tons/year and Diwek District 52799.15 tons/year. National roads in the Jombang urban area are the highest contributor to CO2eq greenhouse gas emissions, namely 113877.99 tons/year.

Filter by Year

2011 2025