cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2019): Ecolab" : 7 Documents clear
PEMANTAUAN DAMPAK DEPOSISI ASAM TERHADAP KUALITAS PARAMETER KIMIA DI SITU PATENGAN Retno Puji Lestari; Ricky Nelson; Resi Gifrianto; Emalya Rachmawati; Yayu Sofia
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.437 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.96-105

Abstract

Kajian mengenai perairan darat yang berhubungan dengan isu deposisi asam telah dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PSDA) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) sejak tahun 1999. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui dampak deposisi asam terhadap ekosistem, terutama pada permukaan darat. Pemantauan berkelanjutan dibutuhkan untuk mengumpulkan data dasar dan untuk mengevaluasi kondisi terkini. Situ Patengan yang berlokasi di Rancabali – Ciwidey, Kabupaten Bandung merupakan salah satu dari dua lokasi pemantauan permukaan darat di Indonesia. Prosedur sampling, analisis, dan jaminan sistem mutu pengujian mengacu pada Panduan Teknis untuk Permukaan Darat dari The Acid Deposition Monitoring in East Asia (EANET). Parameter kualitas air seperti pH, temperatur, konduktivitas, transparansi, alkalinitas, oksigen terlarut, kation NH4+, Na+, Ca2+, Mg2+, K+, dan anion SO42-, NO3-, Cl- diujikan di dalamnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa selama 2001-2017, pH rerata Situ Patengan adalah 7,5 dengan variasi dari 6,7 sampai 8,5, nilai konduktivitas dan alkalinitas rerata masing-masing adalah 6,73 mS/m dan 0,43 meq/L. Konsentrasi ion-ion dominan dalam perairan Situ Patengan adalah SO42- sebesar 6,7 mg/L, Ca2+ sebesar 5,7 mg/L, Na+ sebesar 3,6 mg/L dan Cl- sebesar 3,3 mg/L. Dampak deposisi asam di perairan Situ Patengan belum ditemukan secara nyata
STRATEGI MANAJEMEN KONFLIK DI KAWASAN KARST CITATAH Melania Hanny Aryantie; Suhirman Suhirman
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.619 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.69-83

Abstract

Konflik terkait pemanfaatan sumberdaya alam seperti di kawasan karst sudah menjadi isu nasional. Studi ini bertujuan untuk memetakan persepsi pihak-pihak yang berkonflik di kawasan karst Citatah, Provinsi Jawa Barat serta mencari solusi untuk mengatasi konflik sumberdaya alam. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode snowball sampling. Analisis dilakukan secara bertahap meliputi analisis isi, analisis pihak, dan analisis jejaring aktor (dynamic actor network analysis). Studi ini menemukan bahwa sumber konflik adalah kebijakan pemerintah terkait zonasi kawasan karst Citatah. Kebijakan ini memperuncing konflik antara penambang dengan kelompok konservasi. Lebih jauh kepentingan kelompok konservasi semakin berkembang terkait dengan kepentingan perlindungan hidrologi, geologi, dan arkeologi. Studi ini menyarankan pentingnya penataan kembali zonasi yang dilakukan secara inklusif dengan mediasi pihak yang netral.
DISTRIBUSI PENCEMARAN MERKURI DI DAS BATANGHARI SUMATERA Dewi Ratnaningsih; Ridwan Fauzi; Muhamad Yusup Hidayat; Alfrida Suoth; Niniek Triana; Yunesfi Sofyan; Alfonsus H Harianja
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.872 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.115-123

Abstract

Pencemaran merkuri menimbulkan dampak berbahaya terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya.  Sungai Batanghari yang melintasi Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, mempunyai potensi deposit emas, khususnya di wilayah hulu sungai yang berada di Provinsi Sumatera Barat. Hal tersebut telah mendorong timbulnya penambangan emas secara tradisional dengan menggunakan merkuri yang dilakukan oleh masyarakat. Aktivitas masyarakat tersebut mengakibatkan pencemaran merkuri di Sungai Batanghari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi pencemaran merkuri di Sungai Batanghari.  Pengambilan sampel dilakukan di 10 lokasi di DAS Batanghari yang berada di Provinsi Sumatera Barat dan 5 lokasi di Provinsi Jambi pada tahun 2007-2008. Data juga diambil 6 titik pantau yang berbeda yang berada di wilayah hulu Sumatera Barat dengan frekuensi pengambilan sampel dilakukan 5 kali dalam setahun dari tahun 2008-2014 yang dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup, Provinsi Sumatera Barat dalam kerja sama pemantauan sungai dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hasil identifikasi tersebut mengindikasikan adanya distribusi merkuri baik di air sungai maupun sedimen sungai. Merkuri di air sungai berfluktuasi pada kisaran <0,0005 mg/L – 0,32 mg/L, sedangkan pada sedimen sungai terdeteksi dengan kisaran 0,01 – 0,42 mg/kg. Keberadaan merkuri di air sungai dan sedimen sungai perlu mendapatkan perhatian agar sumber pencemar yang berasal dari pertambangan emas tradisional dapat dicegah lebih lanjut sehingga dampak negatif pencemaran merkuri dapat diminimalisasi.
MICROALGAE POTENTIAL TO DECREASING DISSOLVED AMONIA CONCENTRATION (NH3) ON LIQUID WASTE OF UREA FERTILIZER FACTORY Fadjar Sidiq Hidayahtullah
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.015 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.61-68

Abstract

The purpose of this research to analyzing the abilities of microalgae from various water treatment processes to improving chemical properties (pH, dissolved NH3, BOD, NO3-) the liquid waste of urea fertilizer factory. The sampling method has used the grab sampling method for a certain period. Microalgae sources are obtained from various water treatment processes and mixed with waste of water at a dose of 300 mg L-1. The results showed the source of microalgae clarifier was significantly different in reducing dissolved ammonia concentration, pH, and nitrate. Based on the results of regression analysis and correlation showed that the microalgae population was partially correlated with pH, BOD, nitrate, and dissolved ammonia of 1.61%, 87.70%, 55.38%, and 9.63%. While the concentration of dissolved ammonia significantly affected pH, BOD, nitrate, and microalgae biomass growth of 84.40%.
KANDUNGAN LOGAM BERAT MERKURI (Hg) DI GUNUNG BOTAK KABUPATEN KEPULAUAN BURU PROVINSI MALUKU Bambang Hindratmo; Siti Masitoh; Rita Mukhtar; Edy Junaidi
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.199 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.124-129

Abstract

Merkuri (Hg) adalah salah satu jenis logam berat yang sangat berbahaya, beracun dan bersifat bioakumulatif.  Sebagai salah satu zat pencemar, merkuri masuk ke dalam ekosistem akuatik melalui dekomposisi atmosferik maupun bersumber dari ekternalisasi limbah industri dan secara biologis maupun kimiawi terkonversi dalam bentuk metil merkuri. Melalui rantai makanan yang pada akhirnya merkuri membahayakan kehidupan manusia.  Salah satu kegiatan yang menghadirkan merkuri ke lingkungan adalah melalui kegiatan penambangan emas yang menggunakan merkuri. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil emas di dunia. Pengelolaan hasil tambang emas termasuk transportasi atau pengangkutan emas dari dalam ke luar wilayah Indonesia perlu diperhatikan agar tidak menyebabkan kerugian baik materi, sosial maupun lingkungan. Pemantauan ini bertujuan untuk melihat kualitas air sungai dan tanah  di wilayah Gunung Botak di Pulau Seram Provinsi Maluku. Metode yang digunakan dalam pemantauan ini adalah metode survei dan pengambilan sampel secara langsung. Lokasi dan titik pemantauan berdasarkan dugaan pencemaran merkuri yang menyebar sesuai  pola sirkulasi air, yaitu di lokasi tambang, beberapa meter dari sumber tambang dan titik kontrol. Sampel dianalisis di laboratorium P3KLL dengan parameter total merkuri (Hg). Hasil pemantauan air sungai dibandingkan dengan nilai baku mutu yang terdapat pada Lampiran Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa pada semua lokasi pemantauan nilai parameter merkuri  untuk area A sampai C berada diatas baku mutu yang dipersyaratkakan untuk kelas I yaitu > 0,001 mg/L. Kadar Hg pada tanah berdasarkan Canadian Soil Quality Guidelines untuk lokasi area 1 berada diatas baku mutu yaitu 63 mg/kg, sedangkan area 2 sampai 5 menunjukkan nilai dibawah baku mutu, yaitu < 6,6 mg/kg. Kadar merkuri pada tanah berkisar 1,5 – 63 mg/kg, dan kadar merkuri di air saluran di tiga lokasi yang relative dekat dengan lokasi contoh uji tanah  berkisar 0,002 – 1,5 mg/L. Diharapkan hasil pengujian ini dapat dijadikan rona awal bagi pengambil kebijakan di lingkungan KLHK untuk melakukan  tindak lanjutnya secara nyata terhadap pengelolaan lingkungan hidup khususnya di daerah  yang terkena dampak tersebut.
KARAKTERISTIK DAN STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH CAIR USAHA TAPIOKA DI BOGOR UTARA Novi Andareswari; Sigid Hariyadi; Gatot Yulianto
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.84-95

Abstract

Kota Bogor merupakan salah satu wilayah dengan jumlah USK (Usaha Skala Kecil) Tapioka tertinggi. USK Tapioka banyak tersebar di antara pemukiman penduduk dan sebagian besar tidak berizin. Limbah padat yang dihasilkan dari proses produksi tapioka dalam bentuk onggok sudah banyak digunakan sebagai bahan baku industri, lain  halnya dengan limbah cair yang dibuang langsung ke lingkungan tanpa proses pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan merumuskan strategi pengelolaan limbah cair USK tapioka di Kota Bogor Kecamatan Bogor Utara yang terpusat di Kelurahan Ciluar. Data diperoleh melalui observasi lapangan, pengukuran di laboratorium, dan wawancara dengan responden yang terdiri dari beberapa key person. Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari-Maret 2019. Pengambilan sampel air limbah dilakukan dengan cara sampling sesaat (grab sampling) pada saluran pembuangan sedangkan analisis strategi pengelolaan dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik limbah cair USK Tapioka meliputi beberapa parameter yaitu warna, TSS, BOD, COD, pH, sianida, dan debit dengan kondisi seluruh parameter sudah melebihi baku mutu kecuali parameter sianida. Pengembangan pengelolaan limbah cair tapioka memiliki potensi yang kuat dan berpeluang. Analisis alternatif strategi menghasilkan 9 strategi. Strategi yang menjadi prioritas utama ialah (1) pengolahan limbah cair diarahkan pada pengolahan yang menghasilkan produk sehingga bernilai ekonomi, (2) bersifat mandiri bukan kawasan, dan (3) pihak kelurahan dan DLH Kota bekerja sama dalam melakukan pendataan USK serta membantu pembentukan kelembagaan antar USK.
Monitoring of particulate matter 10 µm (PM10) in ambient air by means of Gent Sampler as an alternative to Beta Ray Automatic Analyzer for Air Pollution Mitigation Rina Aprishanty; Rita Mukhtar; Ridwan Fauzi; Dwiana Lestiani; Muhayatun Santoso
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.634 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.106-114

Abstract

The monitoring of Particulate Matter 10 Mikron (PM10), as one of the critical parameters of air quality in Indonesia, requires equipment that can monitor the actual concentration for 24-hours continuously. Based on that, the anticipation of mitigation against conditions before an episode of pollution occurred can be carried out especially for areas with a history of forest and land fires. This study aimed to find out the correlation between PM10 using Gent sampler and PM10 using Beta Ray Analyzer. It is important to anticipate the current condition of local capacity in fulfilling monitoring data in one area lacking of sophisticated automatic monitoring instrument like Beta Ray Analyzer. The study was conducted at Pekanbaru station which belongs to the regional environmental office in Riau Province, during January 2013 to March 2014 covering 52 available data from manual sampling 24-hour weekly period using Gent Sampler. It was found that the PM10 concentration ranges from 12.7µg/NM3-148.6µg/NM3. The statistical analysis of this preliminary study pertaining the correlation coefficient of the two instruments reading is as high as 0.803. Pearson correlation analysis was employed in drawing the statistical inference. It is of interest to conclude that the gravimetric method of Gent Sampler can be used as an alternative method in monitoring particulate in ambient air.

Page 1 of 1 | Total Record : 7