cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
BEBERAPA PARAMETER YANG BERPENGARUH PADA STUDI INTERAKSI ION LOGAM – ASAM HUMUS Budi Setiawan
Jurnal Ecolab Vol 3, No 1 (2009): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.602 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2009.3.1.32-36

Abstract

Dissolved humic acids in groundwater are considered to interact with metal ions such as heavy metals or radionuclides.In their interaction with existing metal ions in groundwater are predicted to form metal ion-humic complexbinding such as humic acid-metal ion colloids. These complex colloid will migrate through groundwater flowwith similar velocity to disperse the contaminant into environment. For that reason the study of complex formationbetween humic acid and metal ions becomes important to be studied. Important parameters affecting metalion-humic acid interaction study are pH, ionic strength and metal ion concentrations. Objective of the study is tounderstand important parameters to affect the humic acid-metal ions interaction to form complex formation. Apparentcomplex formation of humic acid-metal ion is defined as ba = [ML]/[M][R], where [M] and [ML] are freeand bound of metal ion concentrations, and [R] = CRα (CR is total concentration of protonation exchange site anda degree of dissosiation of humic acid). Obtained results shown that logba of humic acid increased with loga anddecreased with ionic strength, and metal ion concentrations
DAMPAK PEMANFAATAN BRIKET BATUBARA TERHADAP KUALITAS UDARA AMBIEN Rina Aprishanty; Isa Ansyori; Puji Purwanti; Ricky Nelson
Jurnal Ecolab Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2012.6.2.99-104

Abstract

Penggunaan Briket Batubara sebagai bahan bakar alternatif , perlu dikaji dampaknya terhadap kualitas udara.Pemantauan dilakukan di tempat penggunaan briket batu bara sebagai bahan bakar seperti industri kecil menengah, rumah makan dan pondok pesantren. Parameter yang diukur yaitu Debu, gas seperti SO2, NO2, CO,dan Hidro karbon. Kualitas udara ambien di seluruh lokasi sampling berada di bawah baku mutu sesuai PP No. 41 tahun 1999.
PENENTUAN BATAS KUANTIFIKASI METODE PENGUJIAN LOGAM BERAT Cd, Cu, Mn, Zn DALAM AIR SECARA INDUCTIVE COUPLE PLASMA TIME OF FLIGHT MASS SPECTROPHOTOMETRY Ely Rahmi Tapriziah; Anwar Hadi
Jurnal Ecolab Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.262 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2017.11.2.53-61

Abstract

Logam berat Cd, Cu, Mn, dan Zn dalam air atau air limbah dapat dianalisis dengan berbagai metode pengujian tergantung pada kadar analit dan tujuan yang ditetapkan. Salah satu metode pengujian logam berat pada kadar rendah hingga ng/L adalah Inductive Couple Plasma Time of Flight Mass Spectrophotometry (ICP-ToF-MS). Untuk mengetahui seberapa kecil kadar analit yang mampu dideteksi oleh ICP-ToF-MS, maka perlu ditentukan batas deteksi instrumen dan batas kuantifikasi. Batas deteksi instrumen ditentukan melalui 3 kali simpangan baku hasil pengukuran air bebas analit yang telah ditambahkan asam nitrat. Berdasarkan batas deteksi instrumen yang diperoleh, maka batas kuantifikasi dapat ditentukan melalui pengulangan kadar logam yang setara dengan 10 kali kadar batas deteksi instrumen. Batas deteksi instrumen diperoleh berturut-turut untuk logam Cd, Cu, Mn, dan Zn adalah  0,0006 μg/L, 0,002 μg/L, 0,002 μg/L, dan 0,004 μg/L sedangkan batas kuantifikasi masing-masing 0,006 μg/L, 0,02 μg/L, 0,02 μg/L, dan 0,04 μg/L. Dengan menetapkan batas kuantifikasi, laboratorium dapat melaporkan hasil pengujian disertakan ketidakpastian pengukuran pada kadar lebih dari batas kuantifikasi atau dilaporkan kurang dari batas kuantifikasi pada kadar rendah, sehingga pelaporan jadi bermakna.
PENGARUH PERCAMPURAN AIR TERHADAP OKSIGEN TERLARUT DI SEKITAR KARAMBA JARING APUNG, WADUK CIRATA, PURWAKARTA, JAWA BARAT Hefni Effendi; Enan M Adiwilaga; Agustina Sinuhaji
Jurnal Ecolab Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2012.6.1.51-60

Abstract

Penelitian dilakukan di sekitar keramba apung Waduk Cirata (KJA), Purwakarta, Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui fluktuasi ketersediaan oksigen terlarut dalam perairan, melalui percampuran massa air yang diambil dari beberapa kedalaman. Konsentrasi DO di lokasi KJA di Waduk Cirata menurun seiring bertambahnya kedalaman dengan kisaran rata-rata adalah 0,3 - 0,5 mg/l (lapisan dasar) hingga 8,0 - 8,4 mg/l (permukaan). Distribusi vertikal oksigen terlarut menggambarkan tipe perairan clinograde. Kedalaman zona eufotik mencapai 3,81 m. Terdapat variasi ketersediaan oksigen terlarut dari pencampuran massa air meromictic dan holomictic. Pada perlakuan 1 (meromictic hingga 12 m) nilai rata-rata DO yaitu 7,00 - 7,41 mg/l. Perlakuan 2 (meromictic hingga 24 m) nilai rata-rata DO 5,28 - 5,48 mg/l. Perlakuan 3 (holomictic hingga 42 m) memiliki nilai rata-rata DO sebesar 2,44 - 2,84 mg/l. Jika terjadi percampuran meromictic hingga kedalaman 12 m dan 24 m maka kegiatan budidaya ikan masih dianggap layak, karena nilai DO >5 mg/l. Akan tetapi, pencampuran holomictic mengakibatkan DO melewati ambang batas, sehingga tidak dapat menopang budidaya perikanan
KEBERADAAN PENCEMAR ORGANIK PERSISTEN (POPs) DI LINGKUNGAN Dewi Ratnaningsih; Nety Widayati; Arum Prajanti; Heni Puspita; Yunesfy Sofyan
Jurnal Ecolab Vol 1, No 1 (2007): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.174 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2007.1.1.16-26

Abstract

Persistent Organic Pollutants (POPs) are organic compounds that have been banned or prohibited for all purposes. Prohibiting of those compounds did not guarantee that those chemicals will not found in the environment. It’s related to the persistency properties of POPs. In order to investigate the exixstent of POPs in the environment, PUSARPEDAL_KLH and The United Nation University (UNU) Japan has been cooperated to carry out environmental monitoring on POPs. River located in urban are with dense population has been selected as target location. Samples were collected for river water, river sediment and river bank soil. Besides river in urban area, agrigultural area and location has tendency used to be aplicated with high frequency of POPs were also investigated. Related to the POPs management, Indonesia has signed Stockholm Convension. Environmental monitoring on POPs was a kind of effort to support POPs management. All of POP compounds (Endrin, Dieldrin, Aldrin, HCB, Heptachlor, Chlordane, Mirex, DDT and its derivates including pp-DDT, op-DDT, ppDDD, ppDDE) except for toxaphene, PCB, Dioksin and Furan were analyzed as target compounds by using GCMS QP 2010. Monitoring result indicated that river located in urban area has more variative of POPs compared with agricultural area, with concentration range of 0.002 – 3.24 ppb in river water; 0.24-165 ppb in river sediment ; and 0.34 – 154 ppb in river bank soil. In Agricultural area, only DDT and its derivated were detected with higher concentration than in urban area ( 3.91 ppb in water, 713 ppb in sedimen and 1282 ppb in soil) Concentration of POPs detected in water was lower than in sediment or soil sample because of its lipophililicity property. Possibility illegal using of POPs can not be ignored, therefore monitoring of POPs in the environment and surveillance to the illegal using of POPs is neccessary to be executed. Increasing public awareness by education and campaign need to be done in order to minimize negative impact of POPs to the human being.
UTILIZING CROPPING CALENDAR IN COPING WITH CLIMATE CHANGE Eleonora Runtunuwu; Irsal Las; Istiqlal Amien; Haris Syahbuddin
Jurnal Ecolab Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2011.5.1.1-14

Abstract

Salah satu implikasi dari perubahan iklim adalah pergeseran waktu tanam yang tentunya mempengaruhi pola tanam dan produktifitas, terutama tanaman pangan. Untuk memandu petani menyesuaikan pola dan waktu tanam, maka analisis kalender tanam sangat diperlukan. Tujuan study ini adalah untuk mengembangka n peta kalender tanam tanaman padi di Jawa berdasarkan keragaman iklim (tahun basah, tahun normal dan tahun kering). Peta kalender tanam dikembangkan beberapa tahap, yaitu: (a) analisis waktu tanam eksisting, (b) analisis waktu tanam potensial, and (c) pembuatan peta kalender tanam. Analisis dilakukan dengan menggunakan data curah hujan harian dari tahun 1983 sampai dengan 2006, dan data realisasi tanam padi bulanan dari tahun 2003 sampai dengan 2005 untuk seluruh pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan waktu tanam pada kondisi basah, normal dan kering. Waktu tanam tertinggi untuk musim tanam pertama (MT I) pada tahun basah hampir sama dengan kondisi normal yaitu pada Okt 2/Okt 3, sedangkan pada tahun kering terjadi pada Des 2/Des 3. Intensitas tanam juga bervariasi antar provinsi. Kondisi ini mengakibatkan distribusi input pertanian seperti benih dan pupuk harus dijadwalkan sesuai kondisi setempat. Agar perencanaan waktu tanam dapat dilakukan dengan mudah, informasi peta kalender tanam telah dipetakan dalam skala 1:250.000 pada skala kecamatan. Peta kalender tanam selanjutnya dikompilasi menjadi satu atlas yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi penyuluh dan petani di dalam penentuan kalender tanam
PENGHEMATAN AIR DAN PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA PADA PERLAKUAN ALTERNATE WETTING AND DRYING DI LAHAN SAWAH Ali Pramono; Jumari jumari; Terry Ayu Adriany
Jurnal Ecolab Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.278 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2018.12.1.20-31

Abstract

Perubahan iklim dan kelangkaan sumberdaya air irigasi merupakan ancaman keberlanjutan sistem produksi pertanian. Salah satu penyebab perubahan iklim adalah peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Budidaya padi di lahan sawah merupakan salah satu sumber emisi GRK, terutama metana (CH4) yang pada saat ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan pada era pra industri. Untuk itu, diperlukan strategi mitigasi GRK tanpa mengorbankan hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan alternate wetting and drying (AWD) terhadap penghematan air, GRK dan hasil padi. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian di Pati, Jawa Tengah pada tahun 2014-2015. Perlakuan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuannya adalah sebagai berikut 1) Pengairan tergenang secara terus menerus (continuous flooding/ CF), 2) Safe-Alternate Wetting and Drying (AWD-15 cm), 3) Site Specific-Alternate Wetting and Drying (AWD-25 cm). Varietas padi yang digunakan adalah Cisadane dan plot percobaan berukuran 5 m x 7 m yang dilapisi dengan plastik sedalam 40 cm untuk mengurangi rembesan ke samping. Tanah di lokasi penelitian berjenis Aeric Endoaquepts dengan kandungan hara relatif yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan AWD dapat menghemat air irigasi dan menurunkan emisi gas rumah kaca tanpa mengurangi hasil padi di lahan sawah. AWD-15 cm dan AWD-25 cm masing-masing dapat menghemat air irigasi sebesar 23 % dan 27 % dibandingkan kondisi tergenang. Perlakuan AWD-15 cm dan AWD-25 cm secara signifikan menurunkan nilai global warming potential (GWP) dibandingkan dengan perlakuan tergenang. Perlakuan AWD-15 cm dan AWD-25 cm menurunkan emisi GRK masing-masing sebesar 33 % dan 41 % dibandingkan kondisi tergenang tanpa kehilangan hasil yang signifikan. Hasil gabah kering giling (GKG) tertinggi diperoleh dengan perlakuan AWD-15 cm yaitu sebesar 5,90 ton ha-1 dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan tergenang dan AWD-25 cm. Teknik AWD-15cm merupakan salah satu opsi penurunan emisi GRK dari lahan sawah untuk mendukung pertanian yang ramah lingkungan.
PERSISTENT ORGANIK POLLUTANTS (POPS) DI BEBERAPA LOKASI PERTANIAN DI INDONESIA (2010) Heny Puspita Rokhwani; Yunesfi Syofyan Ratnaningsih
Jurnal Ecolab Vol 4, No 2 (2010): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2010.4.2.55-62

Abstract

Senyawa Persistent Organic Pollutants ( POPs ) adalah senyawa organik yang mempunyai sifat toksik bagi mahluk hidup dan dapat bertahan lama di lingkungan (persistent). Senyawa POPs juga memiliki sifat bioakumulasi dan biokonsentrasi melalui rantai makanan, dimana semakin tinggi tingkat kedudukan dalam rantai makanan maka akan menjadi tempat akumulasi yang paling tinggi konsentrasinya, yang kemudian akan memberikan dampak negatif yang serius terhadap kesehatan manusia. Pemantauan kualitas lingkungan akibat pencemaran kelompok senyawa Persistent Organic Pollutants (POPs) dan pestisida organoklorin (OCs) telah dilakukan di bulan Maret - Agustus 2010. Pengambilan contoh uji dilakukan di sekitar area pertanian atau perkebunan di Medan dan Karo (Sumatera Utara), Cianjur dan Karawang (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah) dan Batu (Jawa Timur). Jenis contoh uji yang diambil adalah air, tanah dan sedimen. Senyawa POPs yang dipantau adalah Aldrin, Heptaklor, Heptaklor epoksid, trans-Klordan, p,p’-DDE, Dieldrin, Endrin, p,p’-DDD, o,p’-DDT, dan p,p’-DDT. Senyawaan pestisida jenis organoklorin yang dianalisisis :α-HCH, β-HCH, BHC, γ-HCH, δ-HCH, Metoksiklor dan mirex. Tujuan dari pemantauan ini adalah untuk inventarisasi POPs dan OCs di Indonesia, mengetahui jenis dan konsentrasi residu senyawa POPs dan OCs yang terdapat di lingkungan. Senyawa target pada contoh uji air, tanah dan sedimen diekstrak dengan menggunakan pelarut organik, kemudian di clean-up dan dianalisis dengan GCMS QP 2010 menggunakan kolom kapiler non polar. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa POPs yang terdeteksi adalah DDT dan turunannya seperti p,p’-DDT, o,p-DDT ,DDD dan DDE. Konsentrasi senyawa DDT dan turunannya yang terdeteksi di air berada pada kisaran 0,011 – 0.564 ppb, di sedimen terdeteksi dengan konsentrasi 0,50 ppb- 18,7 ppb dan tanah terdeteksi dengan konsentrasi 0,23 ppb- 54,9 ppb. Sedangkang konsentrasi senyawa target lainnya seperti mirex, endrin dan metoksiklor berada pada konsentrasi < 10 ppb.
KARAKTERISTIK BIOINDIKATOR CISADANE : KAJIAN PEMANFAATAN MAKROBENTIK UNTUK MENILAI KUALITAS SUNGAI CISADANE Sri Unon Purwati
Jurnal Ecolab Vol 9, No 2 (2015): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2015.9.2.47-59

Abstract

Biomonitoring dilakukan untuk mengevaluasi kondisi badan air dalam ekosistem akuatik dengan memanfaatkan bioindikator sebagai tolak ukurnya. Bioindikator yang sering digunakan adalah makroinvertebrata yang hidup menetap di dasar sungai yang dengan karakteristiknya dapat mengindikasikan kualitas lingkungan badan air tempat mereka hidup. Pemantauan kualitas Sungai Cisadane dengan memanfaatkan bioindikator makroinvertebrata dilakukan pada tahun 2003-2007,2010 dan 2013 di beberapa titik yang mewakili segmen hulu (C01-Muara Jaya),tengah (C05-Karya Bhakti; C06-Jasmin) dan hilir (C22-Kali Baru). Pendekatan menggunakan Indeks keanekaragaman (Diversity Indices) dan pendekatan indeks biologi (Biotic Indices). Status kualitas air sungai Cisadane dari hulu sampai hilir berdasarkan karakteristik Makroinvertebrata berada pada kondisi sedang sampai buruk. Status ini diperoleh melalui penggabungan hasil perhitungan H’, prosen (%) EPT dan ASPT. Serta data pendukung hasil analisis parameter kimia DO,BOD,COD,NO3 dan TSS. Daerah hulu Cisadane dicirikan oleh Ordo Ephemeroptera, Familia Lepthophlebidae, Genus Paraleptoplebia, Spesies P. submarginata dan P. cinca. Daerah tengah Cisadane dengan dominan limbah domestik dicirikan oleh Ordo Ephemeroptera, Familia Baetidae, Genus Baetis, Spesies B. Niger dan Ordo Trichoptera, Familia Hydropsychidae, Genus Hydropsyche, Spesies H. siltalai dan H. anguistipennis. Sedangkan daerah hilir Cisadane dicirikan oleh Class Oligochaeta, Familia Haplotaxidae dan Cacing Tubifisidae.
KUALITAS UDARA (PM10 DAN PM2.5) UNTUK MELENGKAPI KAJIAN INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP Rita Rita; Diah Dwiana Lestiani; Esrom Hamonangan Panjaitan; Muhayatun Santoso; Hernani Yulinawati
Jurnal Ecolab Vol 10, No 1 (2016): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.115 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2016.10.1.1-7

Abstract

Penentuan kualitas udara ambien dengan parameter PM10 dan PM2.5 menggunakan Gent Stacked Filter Unit Sampler dapat diterapkan dalam melengkapi parameter untuk perhitungan kualitas udara yang merupakan bagian dari perhitungan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH). IKLH merupakan gambaran atau indikasi awal yang memberikan kesimpulan cepat dari suatu kondisi lingkungan hidup pada lingkup dan periode tertentu. Pada rumusan IKLH yang dipublikasikan oleh KLH sejak tahun 2009-2014, parameter yang digunakan untuk kualitas udara hanya SO2 dan NO2. Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi parameter kualitas udara yang digunakan untuk perhitungan IKLH dengan menambahkan parameter PM10 dan PM2.5. Idealnya ada 5 parameter yaitu SO2, NO2, PM10, PM2.5, dan O3 yang mewakili perhitungan kualitas udara untuk IKLH. PM10 dan PM2.5 merupakan pencemar utama yang memberi dampak besar terhadap kesehatan manusia. WHO menetapkan nilai baku mutu tahunan 20μg/m3 untuk PM10 dan 10μg/m3 untuk PM2.5. Dengan data PM10 dan PM2.5 dari penelitian ini diharapkan dapat melengkapi parameter Indeks Kualitas Udara (IKU) dalam kajian IKLH mendatang. Penelitian ini menunjukkan hasil simulasi perhitungan menggunakan AQI calculator di Provinsi Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali diperoleh kriteria “baik” bila hanya dengan parameter SO2 dan NO2. Namun bila ditambahkan parameter PM10 dan PM2.5 di keempat lokasi tersebut kriterianya menjadi “sedang”, kecuali Bali kriterianya tetap “baik”. Hal ini menunjukkan bahwa PM10 dan PM2.5 merupakan parameter sensitif yang berperan dalam menentukan kriteria kualitas udara. Diharapkan dengan memasukkan parameter PM10 dan PM2.5 dapat diperoleh hasil IKU yang mendekati kondisi sebenarnya.

Page 11 of 18 | Total Record : 178