cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Mijen Kota Semarang Tahun 2011 dan 2021 Diyah Arfidianingrum; Sigit Rustanto; Cahyadi Setiwasan; Muhammad Zid; Teguh Atuyanuar Zaelani
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.67-74

Abstract

Dinamika perubahan penggunaan lahan di tengah pesatnya perkembangan sebuah kota sulit dihindari. Kota Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah terus mengalami perkembangan cukup pesat dari masa ke masa. Salah satu wilayah yang mengalami imbas perkembangan Kota Semarang adalah Kecamatan Mijen. Kecamatan Mijen merupakan wilayah dengan luasan terbesar dan laju pertumbuhan penduduk tertinggi, yakni sebesar 3,68%. Secara topografi, memiliki peran dan fungsi sangat penting karena berada pada kawasan Semarang bagian atas berfungsi sebagai kawasan penyangga. Perkembangan di wilayah tersebut menyebabkan terjadinya berbagai perubahan penggunaan lahan yang ada. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi akan sangat berpengaruh terhadap kestabilan ekosistem pada daerah sekitarnya. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan tersebut pada tahun 2011 dan 2021. Analisis data dilakukan menggunakan pengindraan jarak jauh dan SIG citra landsat 8 dengan teknik overlay (tumpang susun) pada peta tutupan lahan pada tahun 2011 dan 2021. Hasil analisis menggambarkan terjadi perubahan penggunaan lahan yang cukup dinamis. Perubahan penggunaan lahan terbesar pada hutan terjadi penurunan area sebesar 55,84%. Perubahan lahan terbesar kedua pada perkebunan, terjadi peningkatan sebesar 47,58%. Selanjutnya jalan/area terbuka yang tumbuh sebesar 3,8% dan pemukiman yang meningkat sebesar 3,68%. Ladang/ sawah mengalami kenaikan sebesar 0,78%. Luasan area hutan yang hanya tersisa sebesar 0,83% di wilayah tersebut harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berperan penting pada seluruh aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, budaya maupun lingkungan. Sesuai Perda Kota Semarang Nomor 5/2021 tentang rencana tata ruang wilayah, Kecamatan Mijen memiliki fungsi pengembangan utama sebagai paru-paru kota. Hilangnya area hutan sebesar 55,84% patut menjadi perhatian. Perubahan penggunaan lahan, khususnya yang terjadi pada area hutan harus dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan perencanan, agar lahan dapat berfungsi secara optimal, efisien dan berkelanjutan.
Penyimpangan Penentuan Posisi Perangkat Global Positioning System (GPS) Budi Purwanto
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.99-107

Abstract

Perangkat GPS digunakan sebagai salah satu alat penunjuk titik kooordinat spasial yang sering digunakan sebagai data pendukung identifikasi titik ukur pengukuran kualitas lingkungan. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketahui nilai perbedaan penunjukkan beberapa perangkat GPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil penunjukan titik koordinat oleh perangkat GPS pada titik ukur yang telah ditentukan. Penelitian menggunakan sembilan buah perangkat GPS buatan Garmin dengan lima tipe berbeda, dengan penunjukan degree minute second (DD MM SS) pada datum World Geodetic System 1984 (WGS 84). Pengambilan data dilakukan sebanyak tiga kali per hari selama dua hari, hari pertama cuaca cerah sedangkan hari kedua mendung. Dalam pelaksanaan pengambilan data, perangkat GPS diletakkan dengan jarak antar perangkat sedekat mungkin. Lokasi pengambilan data di Pusat Standardisasi Instrumen dan Kualitas Lingkungan Hidup, tanggal 5 dan 6 Juli 2022 pada tempat terbuka dan berada di objek yang sudah ditandai agar dapat digunakan sebagai lokasi verifikasi perangkat GPS selanjutnya. Seluruh penunjukkan perangkat GPS dicatat sesuai identitas alat untuk kemudian dihitung nilai rata-rata penunjukkan dan variasi penunjukkan titik koordinat lintang dan bujur. Nilai koordinat lintang yang ditunjukkan oleh seluruh perangkat GPS berada pada rentang 6o 21’ 2.1”S hingga 6o21’2.5”S sedangkan nilai koordinat bujur yang ditunjukkan berada pada rentang  106o 40'4.9"E hingga 106o40'5.3"E. Penelitian menemukan bahwa variasi penunjukkan koordinat posisi dari sembilan buah perangkat GPS adalah 12,4 meter, ditemukan juga bahwa perbedaan penunjukkan terbesar perangkat GPS dibanding nilai rata-rata penunjukkan dari perangkat GPS yang diuji adalah sebesar 9,3 meter dimana telah menyediakan informasi geospasial yang cukup bagi sebuah pengukuran kualitas lingkungan. 
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Organik Melalui Biokonversi Larva BSF (Black Soldier Fly) Diyah Arfidianingrum; I Made Astra; Ananto Kusuma Seta; Sigit Rustanto
Jurnal Ecolab Vol 17, No 1 (2023): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59495/jklh.2023.17.1.1-11

Abstract

Sampah merupakan salah satu permasalahan krusial. Pengelolaan sampah yang kurang komperehensif dapat memicu terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Berdasarkan jenisnya sampah organik memiliki persentase terbesar di Indonesia, sebesar 54,1% pada tahun 2022. Berdasarkan sumbernya, timbulan sampah terbesar berasal dari rumah tangga. Masyarakat sebagai sumber utama penghasil sampah diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan sampahnya. Salah satu metode yang dapat diterapkan melalui biokonversi larva BSF. Dibandingkan metode lain, biokonversi larva BSF memiliki potensi dan manfaat yang besar dari aspek lingkungan, sosial maupun ekonomi. Berbagai kegiatan pengelolaan sampah organik melalui biokonversi larva BSF berbasis partisipasi masyarakat terus dikembangkan. Akan tetapi, dalam pelaksanannya seringkali ditemukan kendala yang dapat menghambat keberlanjutan dan partipasi masyarakat. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik melalui biokonversi larva BSF. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara, observasi dan dokumentasi kepada kelompok masyarakat pembudidaya larva BSF. Uji keabsahan data dilakukan melalui teknik triangulasi. Teknik analisis data dilakukan dengan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam faktor yang berpengaruh. Pertama, personal (sumber daya manusia) seperti motivasi, komitmen, inovasi dan keterampilan. Kedua, material (bahan baku) seperti ketersediaan dan kualitas sampah organik. Ketiga, lingkungan berupa lokasi/lahan tempat budidaya, suhu dan kelembaban udara. Keempat, dukungan eksternal berupa pendampingan dan dukungan sosial dari pihak terkait. Kelima, faktor manajemen berupa teknik budidaya, pemasaran dan kelayakan usaha. Serta keenam, faktor sarana seperti mesin pencacah dan pelumat sampah organik, kendaraan pengangkut dan biopond. Beberapa faktor tersebut sangat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik melalui biokonversi larva BSF. Dibutuhkan sinergitas dan dukungan dari semua pihak terkait agar kegiatan dapat berjalan secara berkelanjutan dan mendapatkan manfaat yang optimal 
Pola Konsentrasi Merkuri (Hg) Udara Ambien di Serpong Rina Aprishanty; Ricky Nelson; Nurmalia Safitri
Jurnal Ecolab Vol 17, No 1 (2023): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59495/jklh.2023.17.1.65-74

Abstract

Merkuri (Hg) adalah logam alami yang dapat menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya. Kajian ini merupakan bagian dari kegiatan pengembangan yang dilakukan oleh Laboratorium Merkuri dan Metrologi Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup (PSIKLH). Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai konsentrasi Hg di udara ambien di Serpong sebagai bahan pendukung dalam penyusunan metode standar atau baku mutu Hg di udara ambien. Sampling dilakukan pada tanggal 4 Mei 2021 sampai 28 September 2022, setiap 1 (satu) minggu sekali secara kontinu dengan 3 (tiga) rangkaian alat sampling pada waktu yang bersamaan. Lokasi penempatan alat sampling berada di Lantai 2 Gedung 210 PSIKLH Serpong-Tangerang Selatan sesuai standar SNI 19-7119.6-2005. Metode sampling menggunakan pompa vakum dengan laju alir 0,5 L/menit selama 24 jam ke media adsorben Hg yang terbuat dari emas (Au) sehingga terjadi amalgamasi. Analisis Hg dilakukan menggunakan teknik thermal desorption yang dipanaskan pada suhu 800◦C dimana Hg dilepaskan dari kolom emas menjadi uap Hg, kemudian dideteksi menggunakan mercury analyzer Nippon Instruments Corporation (NIC) tipe MA-3000. Hasil kajian menunjukkan rata-rata konsentrasi Hg di udara ambien tahun 2021 relatif kecil (11,7 ng/m3), dan tahun 2022 sebesar 25 ng/m3, berada di bawah  nilai acuan yang ditetapkan oleh WHO (2017) untuk udara ambien yang ditetapkan oleh WHO (300 ng/m3). Hal ini cukup menarik karena konsentrasi Hg di Serpong lebih tinggi dibandingkan dengan kajian-kajian di wilayah urban Da Nang, Vietnam (3,86 ng/m3), Nanjing, China (7,9 ng/m3), Guiyang, China (9,72 ng/m3), Taoyuan, Taiwan (2,6 ng/m3), dan di wilayah background Welgegund, Afrika Selatan (1,68 ng/m3)
Upaya Vanuatu Dalam Mengangkat Isu Perubahan Iklim Melalui Draft Resolusi Berbasis Hak Asasi Manusia Annimatul Hutaway Ahmad; M. Syaprin Zahidi
Jurnal Ecolab Vol 17, No 1 (2023): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59495/jklh.2023.17.1.13-24

Abstract

Perubahan iklim yang faktanya telah mengakibatkan begitu banyak persoalan kehidupan manusia dan organisme lain yang saling berkaitan satu sama lain di muka bumi. Isu perubahan iklim ini telah menjadi salah satu fokus pembahasan para pemimpin baik di tingkat nasional maupun di tingkat global dalam beberapa dekade terakhir. Topik perubahan iklim global ini bahkan telah melampaui topik pembahasan penggunaan senjata nuklir yang berkembang sejak tahun 1960-an. Para pemimpin negara telah melakukan pertemuan ke-26 kalinya untuk terus-menerus membahas penyebab dan dampak perubahan iklim melalui Konferensi Tingkat Tinggi Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia. Kawasan Pasifik Selatan menjadi wilayah rawan yang berurusan dengan keamanan lingkungan akibat perubahan iklim yang berdampak pada banyak sektor seperti ekonomi dan bencana alam. Vanuatu menjadi salah satu negara yang terus menyuarakan tentang fenomena krisis iklim dengan melakukan upaya yakni mengajukan draft resolusi (ICJ Initiative) di hadapan majelis umum PBB untuk mendapatkan usulan dan nasihat dari Mahkamah Internasional mengenai konsekuensi dari dampak perubahan iklim. Penelitian ini menggunakan pendekatan berbasis Hak Asasi Manusia dengan alasan bahwa tidak akan ada keadilan iklim jika tidak menggunakan rasa kemanusiaan ataupun pendekatan berbasis hak asasi manusia. Hal ini menjadi penting bagi negara Vanuatu sebagai anggota negara di kawasan pasifik yang berani menyuarakan hak-hak negara-negara berkembang pulau kecil (SIDS) Pasifik Selatan yang terancam untuk tenggelam apabila negara di seluruh dunia tidak ikut berpartisipasi dalam penanganan krisis iklim global akibat emisi karbon dan efek rumah kaca yang menjadi faktor penyebab perubahan iklim global.
Studi Kandungan Asam Pada Air Hujan di Kota Pontianak Millen Fadillah; Robby Irsan; Dian Rahayu Jati
Jurnal Ecolab Vol 17, No 1 (2023): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59495/jklh.2023.17.1.25-32

Abstract

Hujan secara alami bersifat agak asam, semakin bertambahnya konsentrasi polutan di udara dapat meningkatkan nilai keasaman. Kegiatan transportasi berperan besar terhadap penurunan kualitas udara. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2021), luas wilayah kota Pontianak sebesar 118,31 km2 dengan jumlah penduduk 658.685 jiwa. Laju petumbuhan penduduk pada tahun 2020 sebesar 1,81%. Jumlah kendaraan yang berada di kota Pontianak pada tahun 2020 mencapai 31.853 unit. Banyaknya penduduk di kota Pontianak menyebabkan kebutuhan sarana transportasi meningkat sehingga dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar yang dapat menimbulkan pencemaran udara. Emisi gas SO2  dan NO2 yang berasal dari kegiatan industri dan transportasi, merupakan penyebab terjadinya peristiwa hujan asam apabila emisi gas tersebut bereaksi dengan air hujan. Secara alami derajat keasaman (pH) air hujan normal yaitu 5,6. Air hujan merupakan salah satu sumber air bersih di Pontianak sehingga kualitasnya perlu diperhatikan dengan seksama. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran pH, nitrat (NO3-), dan sulfat (SO42-) pada air hujan di kota Pontianak dengan 24 sampel pada bulan April dan Mei 2022. Hubungan tingkat keasaman pH terhadap nitrat dan sulfat dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda. Hasil pengukuran menunjukan bahwa rata–rata parameter pH bernilai 6 dengan 15 sampel tidak memenuhi standar baku mutu dan 9 sampel memenuhi standar baku mutu, sedangkan hasil dari semua sampel nitrat dan sulfat memenuhi baku mutu PerMenKes RI No.492/Menkes/Kes/Per/2010 dengan nilai rata-rata nitrat 3,78 mg/l dan sulfat 18,24 mg/l. Perhitungan menggunakan model regresi linear berganda menunjukkan bahwa penurunan pH air hujan lebih dipengaruhi oleh nitrat dari pada sulfat.
Validasi Metode Pengujian Merkuri (Hg) Pada Ikan Tuna (Thunnus Sp) Menggunakan Mercury (Hg) Analyzer Type MA-3 Solo Dan DMA-80 La Ode Sumarlin; Rita Mukhtar; Ericka Putri Wijaya; Andriantoro Andriantoro; Yunesfi Syofyan; M. Iqbal Suryatama
Jurnal Ecolab Vol 17, No 1 (2023): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59495/jklh.2023.17.1.33-49

Abstract

Perkembangan industri dapat membantu manusia dalam melaksanakan kegiatannya, namun memberikan dampak yang tidak baik pula bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Salah satu dampaknya ialah pembuangan limbah industri yang mengandung logam merkuri yang bersifat toksik. Merkuri dalam air dengan konsentrasi yang tidak terkendali akan mempengaruhi makhluk hidup di dalam air, termasuk ikan. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi pengukuran merkuri pada ikan tuna dengan menggunakan Hg Analyzer type MA-3 Solo dan type DMA-80, dengan metode acuan menggunakan US EPA (United States Environmental Protection Agency) Method 7473 tahun 2017, Manual book Hg Analyzer type MA-3 Solo dan type DMA-80. Prinsip metode USEPA ini adalah proses detruksi, dekomposisi dan kondensasi otomatis, kemudian diukur absorbansinya dengan menggunakan panjang gelombang 253,7 nm. Validasi metode meliputi parameter MDL (Method Detection Limit), LoQ (Limit of Quantification), akurasi, dan presisi sesuai ISO/IEC17025. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa alat Hg Analyzer type MA-3 Solo mampu mengukur konsentrasi merkuri pada ikan tuna sebesar 0,0210 µg/g dan memenuhi syarat parameter validasi meliputi MDL 0,002 µg/g, LoQ 0,008 µg/g, akurasi 105,1%, presisi 3,95 µg/g ≤19,58 µg/g, dan pada type DMA-80 mampu mengukur konsentrasi merkuri pada ikan sebesar 0,0160 µg/g dan memenuhi syarat parameter validasi meliputi MDL 0,004 µg/g, LoQ 0,011 µg/g, akurasi 93,8%, presisi 6,56 µg/g ≤ 19,76 µg/g. Secara keseluruhan, alat Hg Analyzer type MA-3 Solo dan type DMA-80 dapat diusulkan untuk menjadi alat yang valid dan sangat praktis untuk analisis merkuri di laboratorium secara rutin.
Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Lebah Tetragonula Biroi di Kabupaten Konawe Selatan Sarwinda Intan Putri; Dwiko Budi Permadi; Wahyu Andayani
Jurnal Ecolab Vol 17, No 1 (2023): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59495/jklh.2023.17.1.51-64

Abstract

Penurunan produksi madu menyebabkan ketidakpastian pendapatan pada peternak lebah Tetragonula biroi di Kabupaten Konawe Selatan, dan keuntungan serta kelayakan usaha lebah belum diketahui oleh peternak. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluaasi kelayakan finansial usaha lebah Tetragonula biroi di Kabupaten Konawe Selatan. Purposive sampling digunakan sebagai metode pengambilan sampel. Peternak kemudian dibagi ke dalam strata berdasarkan kepemilikan kotak lebah, yaitu strata I, II, dan III. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan parameter kelayakan finansial usaha yaitu Net Present Value (NPV), B/C Ratio, Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), analisis titik impas serta analisis sensitivitas. Usaha lebah peternak pada strata I diketahui belum layak untuk diusahakan karena memiliki nilai lebih kecil dari parameter kelayakan finansial yang ditentukan. Strata II dan strata III dinyatakan layak diusahakan berdasarkan parameter kelayakan finansial. Seluruh peternak pada strata I, II dan III diketahui sudah mencapai titik impas untuk produksi madu. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha pada strata II dan III masih layak diusahakan meskipun mengalami resiko penurunan produksi. Sementara pada strata I, diketahui belum layak untuk diusahakan bila terjadi penurunan produksi, namun bila terjadi kenaikan harga jual, strata I, II dan III layak untuk diusahakan