cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
UJI COBA METODA ALTERNATIVE PENGUJIAN H2S dan CS2 DALAM EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK INDUSTRI RAYON Retno Puji Lestari; Ricky Nelson Nelson; Resi Gifrianto Gifrianto
Jurnal Ecolab Vol 13, No 1 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.152 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.1.19-28

Abstract

Hidrogen sulfida (H2S) dan Karbon disulfida (CS2) merupakan salah satu pencemar yang diemisikan dari kegiatan industri rayon. H2S dan CS2 merupakan senyawa yang menimbulkan bau tidak menyenangkan dan berdampak pada sistem syaraf. Pengukuran H2S dan CS2 mengacu pada metode Indian Standard (IS) 11255 (part 4) (2006, Reaffirmed 2006): Methods for Measurement of Emission From Stationary Sources, Part 4: Hydrogen Sulfide and Carbon Disulfide (First Revision) dengan melakukan modifikasi larutan penyerap yang terdapat dalam metode Deutsche Industrie Norm (DIN) 51855-4:1995-06. Hasil pengujian menunjukkan diperoleh bahwa konsentrasi H2S dan CS2 masing-masing adalah 2414 dan 2239 ppmv. Hasil perhitungan beban emisi H2S dan CS2 masing-masing sebesar 5,74 dan 10,25 kg/Ton fiber. Nilai tersebut masih berada di bawah baku mutu berdasarkan PerMenLH No 7 Tahun 2012, dimana baku mutu H2S adalah 38  kg/Ton fiber dan CS2 adalah 115  kg/Ton fiber. Dalam kajian ini, metode pengambilan contoh uji H2S dimodifikasi menggunakan seng asetat (Zn(O2CCH3)2) yang lebih ramah lingkungan dibanding kadmium klorida alkalin (CdCl2). Pada pengujian CS2 dilakukan modifikasi dengan penambahan CaCO3 untuk mempermudah penentuan titik akhir titrasi. Laboratorium P3KLL mampu menunjukkan kompetensinya dalam menerapkan metode pengujian H2S dan CS2.
ASSESSMENT OF ENVIRONMENTAL SAFETY RELATED RADIOACTIVITY EXPOSURE IN ZIRCON SAND Diah Dwiana Lestiani; Syukria Kurniawati; Indah Kusmartini; Natalia Adventini; Woro Yatu Niken; Muhayatun Santoso
Jurnal Ecolab Vol 13, No 1 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.529 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.1.11-18

Abstract

Zircon sand is one of major sources that are responsible for naturally occurring radionuclides in the earth’s crust such as 238U and 232Th. The mining and processing of zircon sand are found in several places in Indonesia such as in Bangka Belitung, Borneo and Riau. These activities are potential to produce some radioactivity exposure to the occupational area and surrounding environment. Therefore, the assessment of the environmental safety related radioactivity exposure in zircon sands is needed to ensure the safety of the worker and public. In this study, the concentration of uranium and thorium in zircon sands collected from several sites in Borneo were determined and evaluated using instrumental neutron activation analysis (INAA). Samples were irradiated in rabbit system facility of G.A Siwabessy, Serpong reactor with neutron flux ~ 1013 n.cm-2.s-1 for 15 minutes and 2 hours, and then counted with HPGe detector of gamma spectrometry. In order to assess the accuracy of the analysis, soil reference materials (RMs) were analyzed together with the samples. The results of reference material analysis showed a good agreement with the certificate value. The measurement results showed that the concentration of uranium and thorium varied widely depending on the sample origin. Uranium and thorium concentrations were 214.8 ± 101.7 and 209.9 ± 169.0 mg/kg, respectively. These values were equivalent to 2654 ± 1258 Bq/kg for 238U and 848 ± 683 Bq/kg for 232Th, respectively. The results showed the annual equivalent dose average of 2.1 ± 1.04 mSv/year and varies between 0.4 and 5.3 mSv/year.  The characterization of zircon sands using INAA showed reliable results and could be utilized to assess the level of radioactive materials content in the zircon sands related to government regulation on zircon sand radioactive exposure, as well as the precaution to reduce needless exposure of the workers and public.
TRADITIONAL-CONTEMPORARY’ COMMUNITY ENGAGEMENT APPROACHES FOR EFFECTIVE LOCAL CLIMATE CHANGE ADAPTATION IN INDONESIA Meuthia Naim; Richard Hindmarsh
Jurnal Ecolab Vol 13, No 1 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2404.189 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.1.39-59

Abstract

The current problem of inadequate (or ineffective) community engagement in Indonesia poses a major policy gap for the Indonesian endeavour to develop effective climate change adaptation. This gap needs addressing for robust adaptation to occur in a country highly vulnerable to extreme weather events and changing weather patterns. Currently, 65% of the Indonesian population (of some 265 million) reside on the coast with many dependent upon natural resources for their livelihoods. As climate change strengthens, effective participatory climate change adaptation – here with the focus on inclusive and active local community engagement – needs development as a priority to reduce the high vulnerability of communities and to achieve resilient communities. To close this policy gap – as informed by historical analysis, archival materials, and interview data – we posit that local community engagement approaches that integrate traditional and contemporary (or “old” and “new”) engagement practices and approaches offer much promise for local community adaptation effectiveness in the case of Indonesia. Such approaches we also posit should have relevance for other traditional-contemporary informed societies, as most evident in developing countries.  
BEBAN CEMAR FOSFOR DARI KEGIATAN BUDIDAYA DAN DAMPAKNYA TERHADAP STATUS KESUBURAN DANAU MANINJAU, SUMATERA BARAT Andri Warsa; Joni Haryadi
Jurnal Ecolab Vol 13, No 1 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.84 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.1.1-10

Abstract

Danau Maninjau yang terletak di Kabupaten Agam, Sumatera Barat merupakan badan air dengan keanekaragaman ikan yang tinggi. Kegiatan perikanan budidaya dalam Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan kegiatan sekunder di Danau Maninjau dan telah melebihi daya dukung ekologi. Sisa pakan dan hasil metabolime dari ikan yang dipelihara merupakan sumber masukkan fosfor total (P) yang masuk ke perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban masukkan P dari kegiatan budidaya dan dampaknya terhadap status kesuburan perairan di Danau Maninjua, Sumatera Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Februari dan September 2016. Pengambilan contoh air dilakukan pada enam stasiun pengamatan. Untuk parameter kegiatan budidaya diperoleh dari wawancara dan penelusuran pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban masukkan P dari kegiatan budidaya sebesar 693,4 tonP/tahun sedangkan dari daerah tangkapan air sebanyak 20 tonP/tahun. Dampak beban masukkan P dari kegiatan budidaya menyebabkan perairan Danau Maninjau menjadi sangat subur (Hipertrofik). 
PEMANTAUAN DAMPAK DEPOSISI ASAM TERHADAP KUALITAS PARAMETER KIMIA DI SITU PATENGAN Retno Puji Lestari; Ricky Nelson; Resi Gifrianto; Emalya Rachmawati; Yayu Sofia
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.437 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.96-105

Abstract

Kajian mengenai perairan darat yang berhubungan dengan isu deposisi asam telah dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PSDA) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) sejak tahun 1999. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui dampak deposisi asam terhadap ekosistem, terutama pada permukaan darat. Pemantauan berkelanjutan dibutuhkan untuk mengumpulkan data dasar dan untuk mengevaluasi kondisi terkini. Situ Patengan yang berlokasi di Rancabali – Ciwidey, Kabupaten Bandung merupakan salah satu dari dua lokasi pemantauan permukaan darat di Indonesia. Prosedur sampling, analisis, dan jaminan sistem mutu pengujian mengacu pada Panduan Teknis untuk Permukaan Darat dari The Acid Deposition Monitoring in East Asia (EANET). Parameter kualitas air seperti pH, temperatur, konduktivitas, transparansi, alkalinitas, oksigen terlarut, kation NH4+, Na+, Ca2+, Mg2+, K+, dan anion SO42-, NO3-, Cl- diujikan di dalamnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa selama 2001-2017, pH rerata Situ Patengan adalah 7,5 dengan variasi dari 6,7 sampai 8,5, nilai konduktivitas dan alkalinitas rerata masing-masing adalah 6,73 mS/m dan 0,43 meq/L. Konsentrasi ion-ion dominan dalam perairan Situ Patengan adalah SO42- sebesar 6,7 mg/L, Ca2+ sebesar 5,7 mg/L, Na+ sebesar 3,6 mg/L dan Cl- sebesar 3,3 mg/L. Dampak deposisi asam di perairan Situ Patengan belum ditemukan secara nyata
STRATEGI MANAJEMEN KONFLIK DI KAWASAN KARST CITATAH Melania Hanny Aryantie; Suhirman Suhirman
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.619 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.69-83

Abstract

Konflik terkait pemanfaatan sumberdaya alam seperti di kawasan karst sudah menjadi isu nasional. Studi ini bertujuan untuk memetakan persepsi pihak-pihak yang berkonflik di kawasan karst Citatah, Provinsi Jawa Barat serta mencari solusi untuk mengatasi konflik sumberdaya alam. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode snowball sampling. Analisis dilakukan secara bertahap meliputi analisis isi, analisis pihak, dan analisis jejaring aktor (dynamic actor network analysis). Studi ini menemukan bahwa sumber konflik adalah kebijakan pemerintah terkait zonasi kawasan karst Citatah. Kebijakan ini memperuncing konflik antara penambang dengan kelompok konservasi. Lebih jauh kepentingan kelompok konservasi semakin berkembang terkait dengan kepentingan perlindungan hidrologi, geologi, dan arkeologi. Studi ini menyarankan pentingnya penataan kembali zonasi yang dilakukan secara inklusif dengan mediasi pihak yang netral.
KONSENTRASI KADMIUM (CD) DALAM GABAH PADI DAN TANAH SAWAH TADAH HUJAN AKIBAT PEMBERIAN PUPUK SECARA RUTIN Andreas Wihardjaka; ES. Harsanti
Jurnal Ecolab Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.358 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2018.12.1.12-19

Abstract

Kadmium (Cd) merupakan salah satu logam berat yang berbahaya bagi manusia sehingga keberadaannya dalam tanah pertanian baik jumlah dan sifat-sifatnya perlu diketahui untuk upaya pengendaliannya. Pupuk merupakan salah satu sumber kontaminan cadmium (Cd) dari sektor pertanian. Kegiatan pertanian seperti pemberian pupuk anorganik dan organik secara terus menerus meningkatkan kandungan kontaminan dalam tanah, antara lain logam berat Cd. Percobaan lapangan dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan di Kabupaten Pati selama musim tanam 2013-2014 pada pertanaman padi walik jerami (MK 2013) dan padi gogorancah (MH 2013/2014). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemupukan terus menerus terhadap logam berat Cd dalam tanah dan gabah tanaman padi. Percobaan disusun dengan rancangan acak kelompok dengan enam ulangan dan enam perlakuan. Data yang dikumpulkan meliputi hasil gabah, kandungan Cd dalam tanah, konsentrasi Cd dalam gabah, dan serapan Cd dalam gabah. Hasil gabah tertinggi diperoleh pada perlakuan pupuk kandang+NP (padi gogorancah) dan jerami padi+NPK (padi walik jerami). Kandungan Cd dalam tanah di lapisan tanah 20-40 cm lebih tinggi daripada di lapisan tanah 0-20 cm. Konsentrasi Cd dalam gabah padi terendah ditemukan pada perlakuan pupuk kandang+NPK (musim pertama)  jerami padi+NP (musim berikutnya).
DISTRIBUSI PENCEMARAN MERKURI DI DAS BATANGHARI SUMATERA Dewi Ratnaningsih; Ridwan Fauzi; Muhamad Yusup Hidayat; Alfrida Suoth; Niniek Triana; Yunesfi Sofyan; Alfonsus H Harianja
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.872 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.115-123

Abstract

Pencemaran merkuri menimbulkan dampak berbahaya terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya.  Sungai Batanghari yang melintasi Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, mempunyai potensi deposit emas, khususnya di wilayah hulu sungai yang berada di Provinsi Sumatera Barat. Hal tersebut telah mendorong timbulnya penambangan emas secara tradisional dengan menggunakan merkuri yang dilakukan oleh masyarakat. Aktivitas masyarakat tersebut mengakibatkan pencemaran merkuri di Sungai Batanghari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi pencemaran merkuri di Sungai Batanghari.  Pengambilan sampel dilakukan di 10 lokasi di DAS Batanghari yang berada di Provinsi Sumatera Barat dan 5 lokasi di Provinsi Jambi pada tahun 2007-2008. Data juga diambil 6 titik pantau yang berbeda yang berada di wilayah hulu Sumatera Barat dengan frekuensi pengambilan sampel dilakukan 5 kali dalam setahun dari tahun 2008-2014 yang dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup, Provinsi Sumatera Barat dalam kerja sama pemantauan sungai dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hasil identifikasi tersebut mengindikasikan adanya distribusi merkuri baik di air sungai maupun sedimen sungai. Merkuri di air sungai berfluktuasi pada kisaran <0,0005 mg/L – 0,32 mg/L, sedangkan pada sedimen sungai terdeteksi dengan kisaran 0,01 – 0,42 mg/kg. Keberadaan merkuri di air sungai dan sedimen sungai perlu mendapatkan perhatian agar sumber pencemar yang berasal dari pertambangan emas tradisional dapat dicegah lebih lanjut sehingga dampak negatif pencemaran merkuri dapat diminimalisasi.
MICROALGAE POTENTIAL TO DECREASING DISSOLVED AMONIA CONCENTRATION (NH3) ON LIQUID WASTE OF UREA FERTILIZER FACTORY Fadjar Sidiq Hidayahtullah
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.015 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.61-68

Abstract

The purpose of this research to analyzing the abilities of microalgae from various water treatment processes to improving chemical properties (pH, dissolved NH3, BOD, NO3-) the liquid waste of urea fertilizer factory. The sampling method has used the grab sampling method for a certain period. Microalgae sources are obtained from various water treatment processes and mixed with waste of water at a dose of 300 mg L-1. The results showed the source of microalgae clarifier was significantly different in reducing dissolved ammonia concentration, pH, and nitrate. Based on the results of regression analysis and correlation showed that the microalgae population was partially correlated with pH, BOD, nitrate, and dissolved ammonia of 1.61%, 87.70%, 55.38%, and 9.63%. While the concentration of dissolved ammonia significantly affected pH, BOD, nitrate, and microalgae biomass growth of 84.40%.
KANDUNGAN LOGAM BERAT MERKURI (Hg) DI GUNUNG BOTAK KABUPATEN KEPULAUAN BURU PROVINSI MALUKU Bambang Hindratmo; Siti Masitoh; Rita Mukhtar; Edy Junaidi
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.199 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.124-129

Abstract

Merkuri (Hg) adalah salah satu jenis logam berat yang sangat berbahaya, beracun dan bersifat bioakumulatif.  Sebagai salah satu zat pencemar, merkuri masuk ke dalam ekosistem akuatik melalui dekomposisi atmosferik maupun bersumber dari ekternalisasi limbah industri dan secara biologis maupun kimiawi terkonversi dalam bentuk metil merkuri. Melalui rantai makanan yang pada akhirnya merkuri membahayakan kehidupan manusia.  Salah satu kegiatan yang menghadirkan merkuri ke lingkungan adalah melalui kegiatan penambangan emas yang menggunakan merkuri. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil emas di dunia. Pengelolaan hasil tambang emas termasuk transportasi atau pengangkutan emas dari dalam ke luar wilayah Indonesia perlu diperhatikan agar tidak menyebabkan kerugian baik materi, sosial maupun lingkungan. Pemantauan ini bertujuan untuk melihat kualitas air sungai dan tanah  di wilayah Gunung Botak di Pulau Seram Provinsi Maluku. Metode yang digunakan dalam pemantauan ini adalah metode survei dan pengambilan sampel secara langsung. Lokasi dan titik pemantauan berdasarkan dugaan pencemaran merkuri yang menyebar sesuai  pola sirkulasi air, yaitu di lokasi tambang, beberapa meter dari sumber tambang dan titik kontrol. Sampel dianalisis di laboratorium P3KLL dengan parameter total merkuri (Hg). Hasil pemantauan air sungai dibandingkan dengan nilai baku mutu yang terdapat pada Lampiran Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa pada semua lokasi pemantauan nilai parameter merkuri  untuk area A sampai C berada diatas baku mutu yang dipersyaratkakan untuk kelas I yaitu > 0,001 mg/L. Kadar Hg pada tanah berdasarkan Canadian Soil Quality Guidelines untuk lokasi area 1 berada diatas baku mutu yaitu 63 mg/kg, sedangkan area 2 sampai 5 menunjukkan nilai dibawah baku mutu, yaitu < 6,6 mg/kg. Kadar merkuri pada tanah berkisar 1,5 – 63 mg/kg, dan kadar merkuri di air saluran di tiga lokasi yang relative dekat dengan lokasi contoh uji tanah  berkisar 0,002 – 1,5 mg/L. Diharapkan hasil pengujian ini dapat dijadikan rona awal bagi pengambil kebijakan di lingkungan KLHK untuk melakukan  tindak lanjutnya secara nyata terhadap pengelolaan lingkungan hidup khususnya di daerah  yang terkena dampak tersebut.