cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
Uji Banding Laboratorium Kalibrasi : Kalibrasi Sound Level Meter dengan Artefak Rion NL-10A Pramana Budi Purwaka; Muhammad Taufik; Susy Lahtiani; Jamaludin Jamaludin
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.13-22

Abstract

Uji Banding Laboratorium Kalibrasi: Kalibrasi Sound Level Meter dengan Artefak Rion NL-10A. Seluruh instrumen yang berkaitan dengan mutu pengujian harus tertelusur pada standar nasional, sehingga dibutuhkan kegiatan kalibrasi. Istilah uji profisiensi dalam lingkup laboratorium kalibrasi dikenal dengan Uji Banding Laboratorium Kalibrasi (UBLK). Kegiatan yang dilakukan adalah membandingkan hasil pengukuran suatu laboratorium terhadap alat ukur kalibrasi standar yang telah ditentukan (artefak) dengan hasil pengukuran laboratorium peserta lainnya. Artefak diukur bergantian oleh tiap laboratorium sesuai dengan jadwal yang disepakati. Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kewajiban laboratorium untuk mengikuti uji banding kalibrasi dalam lingkup akreditasinya. Pengambilan data UBLK dilakukan oleh 6 (enam) laboratorium peserta untuk artefak Sound Level Meter (SLM) berlangsung pada tanggal 2 Mei - 10 Agustus 2018. Satu alat SLM terintegrasi dan presisi merek Rion NL-10A tipe 1 digunakan sebagai artefak. Parameter yang diukur dan dilaporkan dalam UBLK ini adalah pembobotan frekuensi A dan C pada tekanan bunyi normal 94 dB dalam rentang frekuensi 63 Hz – 8000 Hz  dengan pita pemfilteran 1/1 oktaf, ditambah frekuensi 12500 Hz response time “F”. Hasil dari laboratorium peserta dibandingkan dengan nilai acuan sehingga didapatkan En-score, dan kriteria penilaian kinerja laboratorium acuan sesuai SNI ISO 13528:2016 dan ISO GUM, Hasil perhitungan En-score menunjukkan kategori memuaskan di hampir semua titik ukur. Ada 3 (tiga) laboratorium mendapatkan kategori tidak memuaskan yaitu pada bobot frekuensi A dengan titik ukur 12500 Hz yang dilakukan oleh Lab D, pada bobot frekuensi C dengan titik ukur 4000 Hz yang dilakukan oleh Lab E, serta titik ukur 12500 Hz yang dilakukan oleh Lab B dan Lab D. Diperlukan investigasi dan tindakan perbaikan oleh laboratorium yang memperoleh kategori tidak memuaskan. 
Efektifitas Berbagai Jenis Bahan Peredam Terhadap Penurunan Tingkat Kebisingan Desti Natalia
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.23-30

Abstract

Efektifitas Berbagai Jenis Bahan Peredam Terhadap Penurunan Tingkat Kebisingan. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Kebisingan dapat dikendalikan atau direduksi, salah satunya dengan penggunaan bahan peredam seperti kain perca, serabut kelapa, busa, dan lain-lainnya Di samping dapat mereduksi kebisingan, penggunaan bahan limbah tersebut sebagai bahan peredam, dapat menaikkan nilai tambah.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis bahan peredam (busa, kain perca, dan serabut kelapa) terhadap kebisingan. Penelitian dilakukan dengan pemasangan media peredam kebisingan pada kotak berukuran 70 cm x 70 cm x 40 cm yang terbuat dari bahan plywood jenis sengon meranti.  Alat yang digunakan untuk mengukur kebisingan adalah  Sound Level Meter (SLM). Pengambilan data tingkat kebisingan dilakukan 2 (dua) kali ulangan dengan interval pengambilan 5 (lima) detik selama +10 menit. Pengukuran dilakukan secara  langsung dari sumber suara berupa speaker.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanpa penggunaan bahan peredam, tingkat kebisingan sebesar 89,7 dB(A) Penggunaan kain perca dapat menurunkan tingkat kebisingan menjadi 84,5 dB(A) dengan efisiensi penurunan sebesar 5,79%, sementara serabut kelapa dan busa dapat menurunkan tingkat kebisingan masing-masing menjadi 87,4 dan 87,6 dB(A) dengan efisiensi penurunan 2,56% dan 2,34 %. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ketiga jenis bahan yang digunakan dapat mereduksi tingkat kebisingan. Kain perca memberikan hasil paling baik sebagai bahan peredam dibandingkan dengan dua bahan lainnya yang digunakan.
Pengukuran Getaran Mekanik Berdasarkan Jenis Bangunan Budi Purwanto; Zulfachmi Zulfachmi; Pramana Budi Purwaka
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.31-38

Abstract

Pengukuran Getaran Mekanik Berdasarkan Jenis Bangunan. Dampak getaran diketahui menjadi salah satu isu yang diangkat masyarakat yang mengklaim terdampak suatu kegiatan selain pencemaran udara, air maupun tanah. Getaran dianggap mengganggu kenyamanan dan kesehatan, serta pada tahap yang lebih tinggi dapat merusak struktur bangunan yang telah dihuni masyarakat sekitar kegiatan. KEPMENLH 49/1996 telah mengatur tentang baku tingkat getaran dan metode pengukurannya, namun seiring waktu maka perlu dimutakhirkan mengingat ada perbedaan rentang frekuensi dominan bagi beberapa jenis pengukuran tingkat getaran. Metode pengukuran yang terdapat pada Lampiran V KEPMENLH 49/1996 juga perlu ditinjau ulang karena masih menggunakan metode pengukuran yang sama walaupun pada beberapa jenis pengukuran tingkat getaran yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode pengukuran tingkat getaran pada Lampiran V KEPMENLH No 49/1996 terhadap metoda pengukuran lain yang tersedia dan diakui serta dapat diterapkan menggunakan peralatan yang tersedia saat ini. Pengambilan data dilakukan pada beberapa titik di Provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah pada bulan April – Juli 2016 oleh tim PSIKLH menggunakan alat Instantel Minimate Pro 6. Setiap sesi pengukuran dilakukan pengambilan data pada dua titik ukur secara simultan dengan masing-masing titik ukur diperoleh nilai tingkat getaran pada tiga sumbu ortogonal (sumbu X, Y dan Z). Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa pengukuran getaran di beberapa kota di Indonesia masih memiliki nilai tingkat getaran yang belum melampaui baku tingkat getaran yang dipersyaratkan pada Lampiran III KEPMENLH 49/1996, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode pengukuran International Organization for Standardization ISO 4866 Mechanical vibration and shock - Vibration of fixed structures - Guidelines for the measurement of vibrations and evaluation of their effects on structures dapat menjadi rujukan untuk mengevaluasi dampak getaran terhadap bangunan.
Studi Awal Sumber Deposisi Basah di Serpong, Jakarta, dan Kotatabang Menggunakan Model PMF Rita Mukhtar,S.Si,M.Si; Retno Puji Lestari; Ricky Nelson; Bambang Hindratmo; Muharam Syam Nugraha; Amallia Dainah
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.39-50

Abstract

Studi Awal Sumber Deposisi Basah di Serpong, Jakarta, dan Kotatabang Menggunakan Model PMF. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah memicu kegiatan industri dan transportasi yang berpotensi menimbulkan pencemaran udara. Reaksi kimia senyawa asam dari polusi udara dengan air dan oksigen menghasilkan polutan yang lebih asam di atmosfer. Deposisi asam merupakan masalah lingkungan lintas batas karena polutan dapat tetap berada di atmosfer untuk waktu yang lama dan dapat menyebar hingga ribuan kilometer melintasi batas negara dan jauh dari sumber asal emisi. Pemantauan dilakukan di 3 (tiga) daerah yaitu mewakili daerah pedesaan (Serpong), daerah perkotaan (Jakarta), dan daerah terpencil (Kotatabang). Pengolahan data menggunakan konsep matematika untuk mengkorelasikan ion atau elemen dalam sebuah matriks, model Positive Matric Factorization (PMF). Analisis dataset dilakukan terhadap data pemantauan komponen air hujan pada tahun 2015 hingga 2019. Contoh uji dikumpulkan melalui sampling deposisi basah dan dianalisis menggunakan metode kromatografi ion. Deskripsi potensi sumber diperoleh berdasarkan tipikal sumber pencemar. Hasil analisis menggunakan PMF diperoleh sumber pencemar di Serpong berasal dari tanah dan debu, kontribusi air laut,   pertanian, pembakaran biomassa, dan proses pembakaran. Jakarta menunjukkan lima sumber pencemar yang dominan yaitu tanah dan debu,  kontribusi laut, sumber pertanian, proses pembakaran serta pembakaran biomassa. Kotatabang juga menunjukkan lima sumber pencemar yang dominan yaitu kontribusi laut, pembakaran biomassa, proses pembakaran, sumber pertanian, tanah dan debu.  Oleh karena itu, disimpulkan bahwa sebagian besar sumber pencemar dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik. Dengan mengetahui karakteristik sumber pencemar diharapkan penanganan sumber pencemar lebih objektif.
Karakteristik Logam-logam dalam Partikel Tak Terlarut Debu Jatuh di Serpong Retno Puji Lestari, S.Si,M.Sc; Bambang Hindratmo; Ricky Nelson
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.1-12

Abstract

Karakteristik Logam-logam dalam Partikel Tak Terlarut Debu Jatuh di Serpong. Partikulat merupakan bentuk polutan yang paling terlihat dalam pencemaran udara. Selain TSP, PM10, dan PM2,5, ada pula debu jatuh yang terdiri dari partikel-partikel yang dapat melewati saringan 1 mm, namun cukup berat untuk dapat jatuh dari udara ambien ke permukaan tanah. Kajian pemantauan debu jatuh di Pusat Standardisasi Instrumen dan Kualitas Lingkungan Hidup (PSIKLH) Serpong dilakukan dalam periode 2018-2020 untuk mengetahui konsentrasi debu jatuh dan logam-logam yang terkandung di dalam partikel tak terlarut. Pengujian debu jatuh mengacu pada ASTM  D 1739-1998 (2004): Standard Methods for Collection and Measurement of Dustfall. Alat sampling debu jatuh merupakan sebuah kontainer gelas dengan ukuran tertentu yang ditempatkan di tempat terbuka dan dibiarkan selama 30 hari sebelum dianalisis di laboratorium. Air hasil tampungan selama sampling tersebut dikumpulkan dalam wadah sampel. Partikulat tak terlarut dan terlarut dalam debu jatuh ditentukan secara terpisah menggunakan metode gravimetri, sementara logam-logam dianalisis menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom Hitachi ZA-3300 dengan metode modifikasi SNI 7119-4-2017. Konsentrasi rata-rata tahunan debu jatuh di Serpong pada Juni - Desember 2018, Maret - Desember 2019, dan Maret - Desember 2020 masing-masing adalah 4,5±2,9; 5,5±2,3; dan 5,9±4,1 t/km2/bulan. Nilai tersebut masih berada di bawah baku mutu debu jatuh berdasarkan PP No 41/1999 yaitu 10 t/km2/bulan. Berdasarkan PP No 22/2021 Lampiran VII tentang Baku Mutu Udara Ambien, parameter ini tidak lagi dimasukkan. Lima logam yang dominan ditemukan dalam partikel tak terlarut debu jatuh adalah Fe>K>Zn>Mg>Ca dengan konsentrasi rata-rata 10,3>2,4>1,9>1,5>0,3 mg/kg. Potensi sumber pencemaran diduga berasal dari sumber alami seperti mineral kerak bumi dan kegiatan antropogenik seperti material konstruksi bangunan, sektor industri, dan transportasi.
Kajian Sifat Mekanik Serat Alam Limbah Tumbuhan sebagai Bahan Baku Bio-Komposit Vandri Ahmad Isnaini; Rahmi Putri Wirman; Indrawata Wardhana; Try Susanti; Shabri Putra Wirman
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.117-127

Abstract

Serat alam adalah bahan baku yang banyak terdapat di alam dan merupakan bahan yang ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah perkebunan atau hutan sebagai sumber serat alam juga ikut berkontribusi sebagai solusi masalah lingkungan. Penelitian ini dirancang untuk melakukan eksplorasi dan pengukuran sifat mekanik beberapa jenis serat alam yang terdapat di wilayah Provinsi Jambi. Sifat mekanik dari sampel serat alam diuji dengan alat universal testing machine yaitu penentuan nilai kuat tarik bahan (tensile test). Pengujian kuat tarik dilakukan dengan metode serat tunggal dengan panjang pengukuran 3 cm. Sebelum diuji, diameter sampel diukur sebagai variabel penentu luas sampel dengan menggunakan analisis gambar digital dari mikroskop dengan aplikasi ImageJ. Sedangkan tensile test digunakan untuk mencari nilai kekuatan maksimum dari serat alam. Dari hasil eksperimen, ukuran dari serat alam berkisar dari 0.0131 cm dengan ukuran terkecil dan nilai 0.0896 cm ukuran yang terbesar. Serat alam yang memiliki kekuatan tertinggi adalah serat dari daun nipah (Nypa fruticans), yaitu sebesar 13.54 Kg/cm2. Pola pengukuran nilai kuat tarik terhadap perubahan waktu menunjukkan bahwa serat alam merupakan serat berjenis elastis. 
Uji Kestabilan Kadar Merkuri pada Beberapa Larutan Pengawet Ely Rahmi Tapriziah; Ernawita Nazir; Muhammad Iqbal Suryatama
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.109-116

Abstract

Merkuri merupakan satu dari lima unsur yang mudah menguap dan berbentuk cair pada temperatur kamar. Konsentrasi merkuri di lingkungan pada umumnya cukup rendah terutama di dalam air, sehingga diperlukan suatu perlakuan pengawetan pada saat pengambilan sampel untuk menjaga kestabilan konsentrasi merkuri. Tujuan uji stabilitas ini adalah untuk mengetahui pengawet mana yang paling baik dalam menjaga kestabilan konsentrasi merkuri terutama pada konsentrasi rendah antara larutan Kalium dikromat (K2Cr2O7), larutan L-Cystiene dan larutan Bromin klorida (BrCl). Kegiatan ini dilakukan di Laboratorium Merkuri Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup (PSIKLH) pada tanggal 4 Juli sampai dengan 25 Juli 2022. Dalam kajian ini dilakukan pemantauan kestabilan larutan standar Hg 1000 μg/L dan 4 μg/L selama 4 (empat) pekan. Larutan standar tersebut ditambahkan dengan 3 (tiga) larutan pengawet pada masing-masing labu ukur yaitu larutan L-Cysteine+ HNO3 0,2%, larutan K2Cr2O  0,05%+ HNO3 5%, dan larutan BrCl 0,5%. Setiap larutan standar kemudian diukur menggunakan alat mercury analyzer dengan metode Cold Vapour Atomic Absorption Spektrofotometer (CVAAS).  Kosentrasi larutan standar Hg 1000 μg/L di ketiga larutan pengawet setelah percobaan selama 4 minggu masih memenuhi batas keberterimaan yaitu memiliki nilai %RSD dibawah batas upper warning limit (UWL) yang dipersyaratkan dalam bagan kendali (control chart) laboratorium, sedangkan kondisi larutan standar Hg dengan konsentrasi 4 μg/L yang ditambahkan larutan pengawet  L-Cysteine+HNO3 0,2% memiliki %RSD yang tidak memenuhi batas keberterimaan laboratorium. %RSD terkecil diperoleh oleh larutan standar Hg yang ditambahkan pengawet BrCl 0,5%.  
Uji Banding Kinerja Alat High Volume Air Sampler untuk Pengukuran Total Suspended Particulate (TSP) di Udara Ambien Pramana Budi Purwaka; Siswanto Adi Wijanarko
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.87-98

Abstract

Uji Banding Kinerja Alat High Volume Air Sampler untuk Pengukuran Total Suspended Particulate (TSP) di Udara Ambien.  Partikulat merupakan bentuk polutan yang paling terlihat dalam pencemaran udara. Jenis partikulat terdiri dari total suspended particulate (TSP), PM10, PM2,5, ataupun partikulat dengan ukuran yang lebih kecil lagi. Peralatan yang digunakan untuk mengukur partikulat di udara ambien adalah High Volume Air Sampler (HVAS). Penggunaan berbagai jenis HVAS baik pabrikan dari perusahaan terkenal maupun rakitan lokal banyak ditemukan di laboratorium pengujian kualitas udara di Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan pengecekan stabilitas dan performa alat HVAS rakitan lokal saat melakukan sampling bersamaan dengan HVAS lainnya. Pengujian sebanyak 5 (lima) kali terhadap 4 (empat) jenis HVAS berbeda, yaitu 2 (dua) HVAS SIBATA dengan tipe dan seri berbeda, 1 (satu) HVAS pabrikan yang dimodifikasi, dan  1 (satu) HVAS lokal, dilakukan pada tanggal 14-28 Juli 2022. Peralatan  ditempatkan di Lantai 3 Gedung Metrologi dan Merkuri Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup (PSIKLH) Serpong. Kalibrasi masing-masing peralatan dilakukan sebelum dan setelah sampling TSP selama 24 jam. Desain alat HVAS yang tepat dan baik menentukan performa peralatan saat sampling. Dari hasil uji stabilitas, diketahui bahwa seluruh alat HVAS relatif stabil selama periode sampling. Selama pengujian, diketahui bahwa HVAS lokal yang digunakan saat kajian ini memiliki kekurangan di bagian filter holder, yang ditunjukkan dengan konsentrasi TSP paling rendah  yang dihasilkan dari alat ini berikut penampakan filternya. Konsentrasi TSP di udara ambien selama pengamatan menggunakan 4 (empat) alat HVAS berbeda untuk masing-masing alatnya. HVAS A, B, dan C cenderung sama dengan perbedaan berkisar antara 4-20%, sedangkan untuk HVAS D memiliki perbedaan hasil konsentrasi TSP paling besar mencapai 49%.  Rata-rata hasil pengujian TSP pada periode sampling tersebut berada di bawah baku mutu Peraturan Pemerintah No 22/2021 Lampiran VII, namun konsentrasi TSP menggunakan alat HVAS SIBATA HV-1000R pada tanggal 27-28 Juli 2022 adalah melebihi baku mutu yaitu 234 mg/m3. 
Pengujian Polychlorinated Biphenyls (PCBs) Aroclor 1242 dan Aroclor 1254 dalam Sampel Air Sungai dan Ikan Yunesfi Syofyan; Riyan Ardhiansyah; Sherly Artanti Savaningsih; Retno Puji Lestari
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.75-86

Abstract

Polychlorinated biphenyls (PCBs) merupakan senyawa organoklorin yang berbahaya bagi manusia dan mahluk hidup, karena dapat terbioakumulasi pada tubuh makhluk hidup. Laboratorium PSIKLH telah melakukan validasi metode pengujian terhadap campuran PCBs komersil, dikenal dengan nama Aroclor dalam air sungai dan ikan. Pengukuran PCBs jenis Aroclor 1242 dan 1254 mengacu pada USEPA metode 8082A dimodifikasi dengan USEPA method 3541, yaitu pada proses soxletasi otomatis menggunakan alat ekstraksi SOXTHERM® dan DEXTech ver 1.3 automatic clean-up system, dianalisis menggunakan Gas Chromatography–Electron Capture Detector Agilent 7890B dengan kolom RTx5 non polar (panjang 30 m, id 0,25 mm, ketebalan 0.25 µm) untuk sampel air dan kolom HP 5 Agilent non polar (panjang 30 m, id 0,32 mm, ketebalan 0.25 µm) untuk sampel ikan. Pengaturan program suhu pada detektor 300oC, suhu kolom 70oC, suhu injektor 250oC, dan mode injeksi splitless. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi PCBs jenis Aroclor di lingkungan dan memvalidasi metode pengujian PCBs jenis Aroclor 1242 dan 1254 pada air sungai dan ikan. Parameter validasi yang dilakukan adalah method detection limit (MDL), limit of quantification (LoQ), presisi (repitabilitas dan reprodusibilitas), serta akurasi. Hasil validasi pengujian Aroclor 1242 dalam sampel air sungai menunjukkan nilai MDL 5,6 dan LoQ 18 μg/L, sementara nilai MDL dan LoQ Aroclor 1254 adalah 7,6 dan 24 μg/L. Konsentrasi Aroclor 1242 dan 1254 dalam air Sungai Muara Angke diketahui sebesar 12,197-12,413 μg/L, melebihi baku mutu PCBs dalam air berdasarkan PP No.22/2021 (10 μg/L). Hasil validasi pengujian Aroclor 1242 pada sampel ikan menunjukkan nilai MDL dan LoQ sebesar 4,15 dan 13 ng/g, sementara nilai MDL dan LoQ Aroclor 1254 sebesar 2,47 dan LoQ 7,8 ng/g. Konsentrasi Aroclor 1242 dan Aroclor 1254 yang diperoleh pada sampel ikan yaitu antara 0,07–0,14 ppm, berada di bawah nilai ambang batas maksimum yang diperbolehkan sesuai Food and Drugs Administration (FDA) yaitu sebesar 2 ppm.
Studi Awal: Kesiapan Pemerintah Daerah Menghapus Merkuri di Pertambangan Emas Skala Kecil Muhammad Yusup Hidayat; Melania Hanny Aryantie
Jurnal Ecolab Vol 16, No 2 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.2.51-66

Abstract

Konvensi Minamata wajib dilaksanakan oleh negara-negara peratifikasi, termasuk Indonesia. Salah satu sektor prioritas target penghapusan penggunaan merkuri dan penambangan ilegal adalah Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). Studi-studi yang telah dilakukan didominasi oleh pemantauan kualitas lingkungan di lokasi tambang. Riset kebijakan untuk penilaian keberhasilan pemerintah daerah masih jarang, padahal pihak ini adalah penentu keberhasilan pencapaian target penghapusan merkuri di PESK tahun 2025. Penelitian deskriptif dilaksanakan tahun 2019-2020 di enam daerah terpilih. Tujuan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui persepsi (pengetahuan) stakeholders terkait merkuri dan korelasinya terhadap kesiapan pemerintah daerah dalam penghapusan penggunaan merkuri di wilayahnya. Teknik pengumpulan data adalah survei secara purposive sampling, metode pemilihan respondennya adalah accidental sampling, berdasarkan kesediaan menjadi responden, dan arahan responden satu ke responden berikutnya. Hasil riset menunjukkan bahwa persepsi stakeholder terkait pengelolaan merkuri hanya lima variabel (B1, B2, B3, B4 dan B7) yang terkategorikan tahu hingga sangat tahu untuk seluruh kabupaten yang diujikan (LI - L6), serta satu variabel (B9) terkategorikan tahu di dua kabupaten (L2 dan L3), sisanya masih terkategorikan tidak tahu hingga ragu-ragu. Tingkat pengetahuan responden kurang berkorelasi dengan tingkat kesiapan pemerintah daerah yang masih rendah. Dari 19 variabel, hanya sembilan variabel yang mempengaruhi persepsi stakeholder terkait merkuri. Riset ini menyimpulkan bahwa stakeholder memiliki pengetahuan umum yang baik tentang merkuri, akan tetapi responden ragu-ragu akan kewajiban pemerintah daerah (Pemda) dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengurangan dan Penghapusan Merkuri sesuai amanat Perpes No. 21/2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri. Responden kurang memperoleh informasi tentang keberadaan Komite Penelitian dan Pemantauan Merkuri dan keterlibatan Pemda didalamnya.