cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
Perbandingan Kualitas Udara Berdasarkan Parameter Deposisi Kering di Jakarta, Bandung, dan Serpong Retno Puji Lestari, S.Si,M.Sc; Dyah Aries Tanti; Miya Riski Utari; Yuni Kartika
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.1-11

Abstract

Peningkatan emisi gas buang dari kegiatan industri dan transportasi berkontribusi pada terjadinya pencemaran udara dan menyebabkan deposisi asam. Pemantauan deposisi kering di tiga lokasi berbeda (Serpong, Jakarta, dan Bandung) dilakukan selama tahun 2019.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi polutan parameter deposisi kering, serta melihat perbandingan konsentrasi saat musim hujan dan kemarau. Pengukuran deposisi kering dengan metode filter pack  meliputi dua parameter yaitu partikulat Na+, K+, Ca2+, Mg2+, NH4+, Cl-, NO3-, dan SO42- dalam aerosol serta gas-gas SO2, HNO3, NH3, dan HCl. Udara dilewatkan pada four stage filter pack yang memiliki spesifikasi untuk tiap komponen kimia di setiap rangkaian filter, selama dua minggu secara kontinyu menggunakan pompa dengan laju alir 1 L/menit.  Filter hasil sampling dipreparasi dan dianalisis menggunakan Ion Chromatography DIONEX ICS5000 menggunakan eluen campuran NaHCO3 2,7 mM dan Na2CO3 0,3 mM untuk anion dan eluen MSA 20 mM  untuk kation dengan laju alir pengukuran 1 L/menit.  Hasil pengujian memperlihatkan bahwa gas NH3 dan partikulat SO42- di setiap lokasi merupakan polutan dominan dalam deposisi kering. Konsentrasi NH3 tertinggi di Jakarta terjadi pada bulan Desember (4,4 ppb), di Bandung pada bulan November (17 ppb), sementara di Serpong pada bulan Juli (13 ppb). Konsentrasi SO42- paling tinggi di Jakarta terjadi pada bulan Juli (10,3 mg/m3), di Bandung pada bulan Februari (11,7 mg/m3), dan di Serpong pada bulan September (8,6 mg/m3). Persentase senyawa NH3 di Jakarta, Bandung, dan Serpong masing-masing sebesar 41%, 70%, dan 64%, sementara SO42- masing-masing sebesar 42%, 49%, dan 58%. Tidak terlihat adanya perbedaan nyata antara konsentrasi pencemar pada musim hujan dan kemarau di Bandung, Jakarta, dan Serpong untuk beberapa parameter, kecuali di Jakarta untuk Na+ (p < 0,05), di Serpong untuk SO2, HCl,dan K+ berbeda nyata (p < 0,05), serta parameter HNO3 dan NO3- berbeda nyata (p < 0,001).
Validasi Metode Pengujian Biochemical Oxygen Demand (BOD) Dalam Air Laut Secara Titrimetri Berdasarkan SNI 6989.72:2009 Oktaria Diah Pitalokasari; Shohibul Fiqri; Dini Ayudia
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.63-75

Abstract

Validasi Metode Pengujian Biochemical Oxygen Demand (BOD) Dalam Air Laut Secara Titrimetri Berdasarkan SNI 6989.72:2009. Metode Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Pengujian BOD di air laut selama ini belum ada. Cara Uji Kebutuhan Oksigen Biokimia atau Biochemical Oxygen Demand (BOD) (SNI 6989.72:2009) hanya berlaku untuk air dan air limbah.  Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi  metode SNI 6989.72:2009 untuk matrik air laut. Validasi metode pengujian BOD pada air laut ini dilakukan secara titrimetri, berdasarkan penentuan oksigen terlarut sebelum dan sesudah  inkubasi pada temperatur 20oC selama 5 hari (BOD5). Hasil validasi memperlihatkan bahwa jumlah populasi bakteri optimum dalam analisis BOD air laut 19,64 x 106 CFU/mL atau 4 mL Polyseed dalam 1 botol winkler 100 mL, dengan konsentrasi BOD5 standar GGA 174,73 mg/L, dan %O2 54,06, hasil ini sesuai dengan standar APHA No. 5210-2012. Nilai akurasi validasi berada dalam rentang 88–96%, presisi %RSD yang diterima, serta hasil pengujian yang linear. Hasil pengujian atau pengukuran menunjukan bahwa BOD5 dengan bakteri isolasi dan Polyseed menunjukkan bahwa terdapat perbedaan berdasarkan uji t, Nilai BOD5 sampel air laut  yang digunakan sebesar 12,38 mg/L, melebihi baku mutu BOD5 sesuai KEPMENLH No 51 Th. 2004 untuk air laut wisata bahari (<10 mg/L) namun belum melebihi baku mutu kawasan biota laut (<20 mg/L).
Model Pengelolaan Air Bersih di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Alfonsus H Harianja,SP,M.Sc
Jurnal Ecolab Vol 14, No 2 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.2.111-124

Abstract

Kelangkaan sumberdaya air untuk memenuhi kebutuhan penduduk memerlukan sistem pengelolaan yang baik, dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.  Penelitian ini dilakukan untuk membuat model pengelolaan sumberdaya air bersih di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan dengan menggunakan metode pemodelan system dinamics.  Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari dokumen berupa laporan, hasil penelitian dan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) yang terkait dengan kependudukan dan potensi sumberdaya air bersih pada kecamatan tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa penyediaan air bersih yang hanya mengandalkan sumber air tanah tidak mencukupi kebutuhan penduduk pada tahun 2019.  Rencana pemenuhan kebutuhan dengan penyediaan air oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan memanfaatkan air permukaan mulai tahun 2018 cukup membantu ketersediaan air bersih, namun kemudian mengalami defisit kembali pada tahun 2021.  Skenario penggunaan kembali grey water merupakan alternatif pengelolaan air bersih yang lestari yang dibuktikan oleh surplus air bersih sampai tahun 2023.
Emisi CO2 Kendaraan Bermotor Periode Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Studi Kasus: Ruas Jalan Di Jakarta Pusat) Farah Dewi Permatasari; Suwarno Hadisusanto; Eko Haryono
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.31-44

Abstract

Emisi CO2 Kendaraan Bermotor Periode Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Studi Kasus: Ruas Jalan Di Jakarta Pusat). Jakarta Pusat sebagai jantung kota DKI Jakarta memiliki arus pergerakan orang dan barang yang tinggi terutama dalam penggunaan kendaraan bermotor. Pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor menyebabkan semakin meningkatnya akumulasi CO2 di atmosfer. Pada awal tahun 2020 berbagai negara di dunia termasuk Indonesia dan Jakarta mengalami pandemi Covid19 yang mendorong pemerintah menerapkan pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan kasus penyebaran Covid19. Adanya PSBB mengakibatkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk keterbatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan bermotor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besaran emisi CO2 saat periode kebijakan PSBB di tiga ruas jalan Jakarta Pusat. Metode penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif meliputi besaran konsumsi BBM masyarakat menggunakan kuesioner, data lalu lintas harian rata-rata (LHR) kendaraan bermotor bersumber dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan besaran emisi CO2 menggunakan perangkat lunak Mobilev 3.0. Hasil penelitian ini didapatkan besaran rata-rata konsumsi BBM tiap kendaraan saat PSBB yaitu untuk sepeda motor sebesar 4,01 liter/unit kendaraan dan mobil sebesar 20,6 liter/unit kendaraan. Total LHR kendaraan bermotor keseluruhan pada tiga ruas jalan sebesar 159.621 kendaraan (PSBB Transisi) dan sebanyak 132.623 kendaraan (PSBB Total). Total besaran emisi CO2 keseluruhan dari tiga ruas jalan saat PSBB transisi sebesar 68.863 ton/tahun dan saat PSBB total emisi CO2 sebesar 52.287 ton/tahun. Urutan emisi CO2 tertinggi berada di Jalan MH. Thamrin, kemudian Jalan Abdul Muis dan emisi terendah berada di Jalan Prajurit KKO Usman Harun. Berdasarkan penelitian ini, secara keseluruhan terjadi penurunan emisi CO2 pada tiga ruas jalan sebesar 24% antara kondisi PSBB Transisi dan PSBB Total. Penurunan emisi CO2 terjadi karena adanya keterbatasan mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan bermotor dan perubahan konsumsi BBM selama periode kebijakan PSBB.
Pengujian Sulfur Oksida (SOx) dari Emisi Sumber Tidak Bergerak Menggunakan Metode Ion Kromatografi Retno Puji Lestari, S.Si,M.Sc; Ricky Nelson; Resi Gifrianto; Bambang Hindratmo
Jurnal Ecolab Vol 14, No 2 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.2.101-110

Abstract

Emisi gas buang oksida-oksida sulfur yang terdiri dari SO2 dan SO3 merupakan salah satu polutan yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Sumber SOx umumnya berasal dari kegiatan emisi sumber tidak bergerak seperti pembangkit listrik, cerobong industri, pembakaran sumber domestik, maupun insinerator. Pengujian konsentrasi gas oksida-oksida sulfur (SOx) dari emisi sumber tidak bergerak dilakukan sebagai salah satu kegiatan pengkajian metode di Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) yang berlangsung pada September – Oktober 2018. Laboratorium P3KLL melakukan verifikasi dengan menentukan limit deteksi terhadap metode uji yang diadopsi dari JIS K 0103:2011 Methods for determination of sulfur oxides in flue gas - Annex JC (normative). Instrumen kromatografi ion (IC) DIONEX ICS5000 tersebut dilengkapi dengan detektor konduktivitas, memiliki ukuran loop sampel 50μL, kolom separator IonPac AS18, kolom penjaga IonPAc AG18 dan suppressor ASRS-II yang dioperasikan pada suhu 35°C. Larutan yang digunakan sebagai eluen adalah campuran 2,7 mM Na2CO3 dan 0,3 mM NaHCO3 pada laju alir 1 L/menit. Tahapan kegiatan terdiri dari pengambilan contoh uji dari fasilitas cerobong genset dan proses verifikasi metode melalui analisis menggunakan IC. Hasil verifikasi metode pengujian SOx dalam emisi gas buang sumber tidak bergerak fasilitas genset menggunakan kromatografi ion menunjukkan bahwa limit deteksi, LoD(G) dan limit kuantifikasi, LoQ(G) yang diperoleh masing-masing sebesar 4 mg/Nm3 dan 13 mg/Nm3, sedangkan limit linearitas, LoL sebesar 834 mg/Nm3. Metode ini telah terverifikasi sesuai persyaratan teknis, dan laboratorium mampu menerapkan metode pengujian tersebut.
Penggunaan IKA-INA dalam Penilaian Kualitas Air dengan Dua Skenario Kurva Sub-Indeks Dewi Ratnaningsih; Retno Puji Lestari; Ernawita Nazir; Ridwan Fauzi; Budi Kurniawan
Jurnal Ecolab Vol 14, No 2 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.2.125-135

Abstract

Indeks kualitas air merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk penilaian kualitas air. Berbagai indeks kualitas air telah dikembangkan sesuai dengan peruntukannya. National Sanitation Foundation – Water Quality Index (NSF-WQI) merupakan salah satu formulasi indeks kualitas air yang banyak digunakan sebagai acuan pengembangan indeks baru. Tujuan kajian ini adalah untuk membandingkan penggunaan formulasi IKA-INA dengan skenario I menggunakan kurva sub indeks IKA-INA dan skenario II menggunakan kurva sub indeks kombinasi IKA-INA dan NSF-WQI. Kurva sub-indeks skenario II disusun dengan melakukan kombinasi kurva sub indeks NSF-WQI yang mempunyai parameter sesuai dengan kurva sub indeks IKA-INA. Uji Pearson Correlation dilakukan pada hasil indeks kualitas air skenario I dan II untuk mengetahui kedekatan dengan nilai indeks kualitas air berdasarkan penilaian pakar di lapangan. Formulasi IKA-INA dengan kurva sub indeks skenario I dan II diaplikasikan di 22 titik lokasi DAS Ciliwung dari hulu wilayah Puncak Bogor sampai ke hilir wilayah DKI Jakarta. Hasil aplikasi menunjukkan bahwa indeks kualitas air di DAS Ciliwung menunjukkan tren yang semakin memburuk ke arah hilir dengan rata-rata nilai indeks di wilayah Jakarta sebesar 38 untuk skenario I dan 32 untuk skenario II. Pemanfaatan dua skenario tersebut memberikan selisih nilai IKA yang lebih rendah untuk skenario II IKA-INA kombinasi dibandingkan skenario I. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurva sub indeks IKA-INA masih mempunyai nilai kedekatan yang lebih tinggi dibandingkan IKA-INA kombinasi terhadap hasil IKA penilaian pakar di lapangan, namun kedua skenario tersebut masih berada pada nilai kedekatan yang sangat erat atau mendekati 1, sehingga selain skenario I, formulasi IKA-INA skenario II dengan kurva sub indeks kombinasi juga dapat dijadikan alternatif formulasi penilaian kualitas air sungai.
Characteristics of Particulate Emissions from Co-Firing in An Industrial Boiler Ines Saraswati Rudianto
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.23-29

Abstract

Characteristics of Particulate Emissions from Co-Firing in An Industrial Boiler. PT. X is a textile industry that consumes a massive amount of coal for its boiler operation. It requires substantial costs to obtain coal from Sumatra and Kalimantan. An alternative solid biofuel (briquette) was developed to combine bottom ash and biomass made from municipal solid waste called Biomass Coal Fuel (BCF) briquette. The purpose of this study is to measure the total concentration of particulate matter and emission factor (PM) emitted from two burning experiments: only coal (100%) and mixed coal fuel with 10% of BCF (co-firing). Mixed coal and BCF burning are carried out in the fire-tube boiler where the PM emission is released through the stack. The Center for Pulp and Paper measured particulate emission with methodology referring to SNI 7117.17-2009. Particulate matter concentration emitted from only coal-burning was 12,1 mg/Nm3,but when mixed BCF and coal were used, the higher concentration was emitted 70,9 mg/Nm3. The addition of BCF briquettes affects the particulate matter emission, even though the emission does not exceed the regulated quality standard. The increase of particulate concentration is due to the BCF briquette characteristics, which have a low heating value and high ash content. The boiler has already been equipped with cyclone and wet scrubber; therefore, PM emissions presented here are treated emissions. The controlled PM emission factor of BCF was 4,46 g/kg, which is higher than only coal which was 0,51 g/kg. BCF briquette can still be used as co-fuel for the boiler, but further effort is still required to reduce the ash content of the BCF and increase the calorific value of the BCF.
Pengaruh Pemberian Variasi Bahan Organik Terhadap Peningkatan Produksi Padi dan Penurunan Emisi Metana (CH4) di Lahan Sawah Tadah Hujan Ika Ferry Yunianti; Hesti Yulianingrum; Miranti Ariani
Jurnal Ecolab Vol 14, No 2 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.2.79-90

Abstract

Budidaya tanaman padi memegang peranan penting dalam peningkatkan produksi pangan di Indonesia dan pembentukan emisi CH4 dari lahan sawah. Pemberian bahan organik ke dalam tanah berfungsi untuk memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan produktivitas tanaman, disisi lain dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca. Besaran emisi CH4 akibat pemberian bahan organik tergantung pada kandungan C organik dan tingkat dekomposisinya. Pemilihan bahan organik yang tepat perlu dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi emisi CH4 tanpa mengabaikan produktivitas tanah dan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bahan organik yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan emisi CH4 dari budidaya tanaman padi di lahan sawah tadah hujan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2016-Januari 2017 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, yang merupakan salah satu daerah tadah hujan di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian disusun secara acak kelompok dengan 4 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Varietas padi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ciherang. Perlakuan terdiri dari : 1) kompos 5 ton/ha, 2) jerami padi 5 ton/ha, 3) biokompos 5 ton/ha, dan 4) tanpa bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi padi yang dihasilkan oleh empat perlakuan secara berturut-turut adalah 4,76; 5,13; 4,72 dan 4,61 ton/ha dengan total emisi CH4 153; 281; 197; 143 kg/ha/musim, sedangkan nilai produksi padi per kg CH4 yang dihasilkan secara berturut-turut adalah 31,1; 18,3; 24,0 dan 32,2. Pemberian bahan organik berupa kompos berpotensi lebih optimal dalam meningkatkan produksi padi dan menurunkan emisi CH4 di lahan sawah tadah hujan dibandingkan jerami padi dan biokompos. 
Tren Deposisi Amonium di Serpong dan Bandung Asri Indrawati; Retno Puji Lestari; Dyah Aries Tanti
Jurnal Ecolab Vol 14, No 2 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.2.147-156

Abstract

Konsentrasi amonium yang ada dalam air hujan dapat membentuk ion amonium yang berasal dari reaksi amonia dengan air hujan. Ion amonium memiliki faktor netralisasi terhadap nilai keasaman air hujan. Jika konsentrasinya cukup besar, deposisi amonium akan memberikan fenomena lingkungan yang beragam, seperti eutrofikasi dan pengasaman tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat tren deposisi amonium secara temporal, baik bulanan, musiman maupun tahunan di Serpong dan Bandung. Data yang digunakan yaitu data rata-rata tertimbang konsentrasi ion amonium dalam air hujan tahun 2000–2018. Sampel air hujan dianalisis dengan menggunakan kromatografi ion  untuk mengetahui besarnya konsentrasi ion amonium, dilanjutkan dengan perhitungan fluks deposisi amonium dan menjalankan model Hybrid Single Particle Lagrangian Integrated Trajectory Model (HYSPLIT) untuk mengetahui trayektori polutan amonia untuk Serpong dan Bandung. Hasil penelitian menunjukkan kenaikan konsentrasi ion amonium dari tahun 2000 – 2018 untuk Serpong sebesar 2,64%, dengan konsentrasi tertinggi pada tahun 2013 sebesar 83 µmol/L. Sedangkan untuk Bandung mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 87,87% dengan konsentrasi terendah pada tahun 2010 sebesar 32 µmol/L. Karakteristik tren deposisi amonium bulanan menunjukkan kenaikan konsentrasi pada bulan Juli – Oktober. Pada musim penghujan, konsentrasi ion amonium lebih rendah bila dibandingkan dengan musim kemarau. Fluks deposisi amonium berfluktuasi setiap tahunnya dengan mengikuti pola curah hujan, dan mengalami kenaikan dari tahun 2000 – 2018 sebesar 35% untuk Serpong dan mencapai 272% untuk Bandung. HYSPLIT model menunjukkan trayektori polutan yang berasal dari wilayah Bali dan Nusa Tenggara untuk Serpong pada musim kemarau, sedangkan sumber polutan di Bandung, dapat berasal dari Australia. Pada musim penghujan, sumber polutan baik di Serpong maupun Bandung, berasal dari lautan.
Distribusi Temporal Konsentrasi PM10 Menggunakan Alat Particle Plus EM-10000 Yoga Wahyu Utama
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.45-52

Abstract

Distribusi Temporal Konsentrasi PM10 Menggunakan Alat Particle Plus EM-10000. Tingkat polusi partikulat di Kota Bandung umumnya melebihi kualitas udara ambien nasional. Sektor transportasi menjadi sumber utama dalam pencemaran konsentrasi PM10 di Kota Bandung, dimana kendaraan bermotor menyumbang 70% pencemar partikulat (PM10). Faktor lain yang berpengaruh terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10 selain sumber emisi lokal adalah faktor meteorologi dan sumber regional yang berasal dari luar daerah Kota Bandung. Meteorologi dapat memengaruhi proses dispersi maupun difusi partikulat yang dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan konsentrasi PM10. Sumber regional juga memiliki peran terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10 karena secara substansial PM10 dapat terbawa dari tempat yang jauh melalui mekanisme long range transport. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa distribusi temporal konsentrasi PM10 di Itenas Bandung agar data yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk meminimalisir terjadinya paparan jangka pendek yang dapat menyebabkan risiko kesehatan. Konsentrasi PM10 bersumber dari pencemar lokal (transportasi) dan pencemar regional (luar daerah Kota Bandung) yang diidentifikasi dengan model HYSPLIT, serta pengaruh faktor meteorologi terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10. Pengukuran konsentrasi PM10 dilakukan selama 1 bulan (Juli 2020) di musim kemarau. Distribusi temporal konsentrasi PM10 menunjukkan pola bimodial di mana terdapat dua jam puncak yaitu pukul 8 pagi dan pukul 10 malam, variabilitas temporal yang terjadi disebabkan oleh transportasi, temperatur dan kecepatan angin. Sementara, kelembaban tidak memiliki pengaruh terhadap variabilitas temporal konsentrasi PM10 saat musim kemarau. Daerah yang dapat berpotensi menjadi sumber pencemar konsentrasi PM10 di Kota Bandung berasal dari daerah Kabupaten Cilacap, Kabupaten Ciamis, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Bandung.