cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
PENENTUAN LIMIT DETEKSI PENGUJIAN GAS HIDROGEN KLORIDA (HCl) DARI EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI ION Retno Puji Lestari; Resi Gifrianto; Anwar Hadi
Jurnal Ecolab Vol 11, No 1 (2017): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.265 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2017.11.1.32-41

Abstract

Pengujian kadar gas hidrogen klorida (HCl) dari emisi sumber tidak bergerak yang dilakukan oleh laboratoriumlaboratorium lingkungan di Indonesia mengacu pada SNI 19-7117.8-2005. Di dalam metode spektrofotometri tersebut digunakan beberapa bahan berbahaya dan beracun (B3) antara lain merkuri tiosianat, metanol,dan asam perklorat. Laboratorium P3KLL menentukan limit deteksi terhadap metode uji yang diadopsi dari JIS K 0107-1995 menggunakan instrumen kromatografi ion DIONEX ICS5000. Instrumen IC5000 dilengkapi dengan detektor konduktivitas, penggunaan EGC (Eluent Generator Cartridge) yang ditambahkan dengan Carbonate Removal, dan mempunyai ukuran loop sampel 50μL. Kolom separator IonPac AS18 dengan kolom penjaga IonPAc AG18 dan suppressor ASRS-II digunakan pada suhu 350C. Larutan yang digunakan sebagai eluen adalah H O (DHL< 1μS/cm) 2 pada laju alir 1 L/menit. Tahapan kegiatan terdiri dari persiapan, pengambilan contoh uji dan validasi metoda. Pengambilan contoh uji dilakukan tiga kali di insenerator sebagai bagian dari tahapan validasi yaitu mengkonfirmasi rentang uji. Dari hasil kajian tersebut, diperoleh LoD = 0,6 mg/Nm3, LoQ = 2 mg/Nm3, danLoL= 129 mg/Nm3, dimana JIS K 0107-1995 “Methods for Determination of Hydrogen Chloride in Flue Gas”memiliki rentang kerja 0,6 – 130 mg/Nm3. Disimpulkan bahwa metode terverifikasi sesuai tujuan dan laboratorium P3KLL mampu menunjukkan kompetensinya dalam menerapkan metode pengujian Hcl tersebut.
PENGARUH PENAMBAHAN Mn2+ DAN Mg2+ PADA MEDIA STONE MINERAL SALT SOLUTION EXTRACT YEAST (SMSSe) TERHADAP KINERJA ISOLAT BAKTERI DM-5 Nida Sopiah; La Ode Sumarlin; S Hermanto; Zakki R Mubarok
Jurnal Ecolab Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2012.6.2.61-73

Abstract

Bioremediasi adalah salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran minyak bumi dengan memanfaatkan mikroorganisme. Mikroorganisme yang digunakan dalam penelitian ini adalah Isolat bakteri hidrokarbonoklastik DM-5. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh logam Mn2+ dan Mg2+ terhadap aktivitas bakteri yang dapat meningkatkan laju biodegradasi yang dilihat dari penurunan pH, kadar minyak bumi tersisa metode gravimetri, dan senyawa penyusun minyak bumi hasil biodegradasi (GCMS). Media yang digunakan adalah Stone Mineral Salt Solution Extract Yeast (SMSSe) dengan variasi konsentrasi ion logam Mn2+ (1, 5, 10 ppm) dan Mg2+ (100, 150, 200 ppm). Perlakuan terbaik untuk penambahan ion mangan adalah pada media Mn-2 dengan persentase degradasi sebesar 90,54% dengan pH akhir sebesar 5,63 sedangkan media Mn-1 dan Mn-3 sebesar 85,26 % dan 86,42% dengan pH akhir sebesar 5,98 dan 5,76. Perlakuan terbaik untuk penambahan ion magnesium adalah pada media Mg-1 dengan persentase degradasi sebesar 69,37% dengan pH akhir sebesar 6,08 sedangkan media Mg-2 dan Mg-3 sebesar 36,52% dan 28,73% dengan pH akhir sebesar 6,35 dan 6,52.
POTENTIAL TOXICITY OF HEAVY METALS IN RAWADANAU WATERSHED Dwindrata B Aviantara; Nida Sopiah
Jurnal Ecolab Vol 3, No 1 (2009): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.26 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2009.3.1.38-42

Abstract

The study of the potential toxicity of five heavy metals: Cd, Cr, Cu, Fe, and Zn on human health of people livingin the Rawadanau Nature Reserve and its vicinity has been accomplished. Among the five studied heavy metalsonly cadmium and zinc demonstrated significant correlation of water levels and sediment contents of the heavymetals. Statistical analysis demonstrated water and sediment concentrations of either cadmium or zinc could becorrelated by r2 = 0.8622 or r2 = 0.8545 respectively. However, based on the suggested threshold value by WHO onthe permissible heavy metals ingested by human body, the water levels of cadmium which was found in the rangeof 0.01 – 0.05 mg L-1 posed more deleterious effects to human health than of zinc which was found in the range of0.02 – 0.18 mg L-1. Considering that the cadmium is a very toxic metal to biota then the exposure levels of peopleto the heavy metal must be avoided. This will call for stake holders of Rawadanau Nature Reserve to implementgood environmental management practices in order for sustaining Rawadanau as a water provider for industriesand public of Cilegon and Serang.
KANDUNGAN BLACK CARBON PADA PARTIKULAT UDARA HALUS DAN KASAR DALAM UDARA AMBIEN DI DAERAH SERPONG - TANGERANG Rita Mukhtar; Esrom Hamonangan Panjaitan; Hari Wahyudi; Muhayatun Santoso; Diah Dwiana Lestiani
Jurnal Ecolab Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2012.6.1.1-11

Abstract

Black carbon (BC) merupakan bentuk impuritas dari karbon hasil pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil atau pembakaran biomassa. Black carbon memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan iklim melalui sifatnya yang mampu menyerap sinar matahari karena merupakan gas rumah kaca. Sumber utama BC yaitu sumber antropogenik, termasuk pembakaran biomas pembakaran tidak sempurna, kendaraan bermotor khususnya diesel serta sumber industri seperti pembakaran batu bara. Konsentrasi BC pada partikulat halus yang berukuran kurang dari 2,5 μm (PM2,5) lebih dari 10% partikulat udara halus sehingga sangat penting dilakukan penentuan secara tepat. Pada penelitian ini, metode penentuan BC pada partikulat udara halus (PM2,5) dan partikulat udara kasar (PM2.5-10) berdasarkan metode reflektansi menggunakan alat EEL Smoke Stain Reflectometer. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Gent Stacked Filter Unit sampler, lima kali seminggu di empat lokasi di daerah Serpong pada tahun 2008 yaitu di Batan Indah, BSD, Setu, dan Pusarpedal serta pada tahun 2009 di daerah Tangerang, yaitu di Curug, Jatiuwung, Islamic Village Lippo Karawaci, dan Cikupa. Hasil penentuan konsentrasi BC di daerah Serpong pada partikulat udara halus berkisar antara 2,31-3,76 μg/m3, sedangkan pada partikulat udara kasar berkisar antara 0,72-1,54 μg/m3. Rasio konsentrasi BC terhadap konsentrasi massa PM2.5 untuk daerah Serpong berkisar antara 13-20%, sedangkan rasio BC terhadap konsentrasi massa pada partikulat udara kasar sekitar 3-5%. Jika dibandingkan konsentrasi BC di partikulat udara halus dan kasar maka BC terkonsentrasi dominan pada partikulat udara halus, hal ini disebabkan karena BC umumnya berasal dari sumber antropogenik/aktivitas manusia yang partikel berukuran kurang dari 2,5 um. Konsentrasi BC di Serpong dan Tangerang masih dalam level yang sama dengan BC di Bandung dan Lembang. Perbandingan rasio BC di Serpong terhadap partikulat massa dengan beberapa negara lain di Asia yang menggunakan metoda dan formula yang sama, hal ini dilakukan untuk mengetahui distribusi tingkat pencemaran BC di Asia masih berada dibawah BC di negara-negara lain
KOMPOSISI KIMIA DEPOSISI KERING DI DUA WILAYAH KATEGORI PEDESAAN, SERPONG DAN BOGOR Retno Puji Lestari; Ricki Nelson
Jurnal Ecolab Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3613.98 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2017.11.2.92-102

Abstract

Pemantauan deposisi kering di wilayah pedesaan merupakan bagian dari kegiatan pemantauan deposisi asam yang bertujuan untuk melihat adanya dampak deposisi asam terhadap lingkungan. Pengukuran deposisi kering dilakukan menggunakan metode filter pack dengan cara penentuan komponen partikel Na+, K+, Ca2+, Mg2+, NH4+, Cl-, NO3-, dan SO42- dalam aerosol dan gas – gas SO2, HNO3, NH3, dan HCl. Udara dihisap menggunakan pompa dengan laju alir 1 L/menit selama 14 hari secara kontinyu, dan dilewatkan pada four stage filter pack yang memiliki spesifikasi penyerapan tiap komponen kimia di setiap rangkaian filter. Setiap filter diekstrak secara terpisah dan hasil ekstraksi dianalisis menggunakan instrumen kromatografi ion, DIONEX IC5000. Hasil pemantauan deposisi kering menunjukkan bahwa NH3 merupakan komponen dominan dalam fase gas sementara ion SO42- dalam aerosol. Konsentrasi minimum dan maksimum gas NH3 di Serpongdengan data rerata per tahun adalah 11,0 – 19,1 ppb, sementara di Bogor beradapada kisaran 8,5 – 23,1 ppb. Konsentrasi minimum dan maksimum komponen partikulat SO42- di Serpong dan Bogor adalah 3,4 - 5,1 mg/m3 dan 2,7 - 5,1 mg/m3. 
COMPARISON BETWEEN ACUTE TOXICITY AND CHEMICAL ANALYSIS OF NATURAL GAS DRILLING EFFLUENT SAMPLES USING PENAEUS MONODON Yayah Rodiana; Daam Settachan; Thundorn Saneanukul; Jerry Diamond
Jurnal Ecolab Vol 5, No 2 (2011): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2011.5.2.45-54

Abstract

The regulation of point source discharges usually based on specific chemicals which describe thresholds below which no adverse impact on the receiving water. The limitation of this technique includes the fact that it does not take into account interactions among toxicants (e.g. additivity, synergism, antagonism). Therefore, toxicity testing is recommended as integrated approach for identifying toxic pollutants to complement chemical-specific analysis by assessing the sum toxicity of all components in the mixture. The objective of this research was the assessment of Penaeus monodon (PM) as an indicator species for toxicity testing through comparisons between results from 48-h LC50 and chemical analysis of the natural gas drilling effluent. Chemical analysis of effluent samples was performed in order to determine concentrations of BTEX (benzene, toluene, ethyl benzene, xylene) and heavy metals (Cr, Ni, Cu, As, Pb, Cd). Average 48-h LC50’s for PM was 2,94 % for effluent and 0.68 g/l for KCl. Comparison between acute toxicity and chemical analysis showed a significant correlation between toluene concentrations and 48-h LC50 in PM (p<0.05). No significant correlation was found between the detectable heavy metal concentrations and acute toxicity data in PM. Results suggest that the lack of correlation between toxicity and almost all chemical parameters indicates that toxicity testing is much more useful for monitoring toxicity of effluents than chemical analysis. Additional studies are needed to identify alternative toxicity endpoints as sensitive indicators of impacts on the environments
PENGUKURAN SENYAWA POLYBROMINATED DIPHENYL ETHERS (PBDEs) DI UDARA AMBIEN MENGGUNAKAN POLYURETHANE FOAM-DISK (PUF-DISK) Dewi Ratnaningsih; Retno Puji Lestari; Arum Prajanti
Jurnal Ecolab Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.099 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2017.11.2.72-81

Abstract

Polybrominated diphenyl ether (PBDE) merupakan unsur pembentuk material tahan api. PBDE berpotensi menimbulkan efek negatif terhadap mahluk hidup akibat memiliki sifat persisten, toksisitas, dan bioakumulatif. Pengukuran PBDEs dilakukan dengan pengambilan sampel menggunakan passive air sampler (PAS) dengan memasang Polyurethane foam-disk (PUF-disk) yang dipaparkan selama 58 hari dan 56 hari yang ditempatkan di dua lokasi yang mewakili  daerah perkotaan (Casablanca-Jakarta) dan daerah pedesaan (Citeko-Bogor). Analisis  hasil ekstraksi PUF menggunakan gas chromatography-mass spectrometry (GCMS) untuk menentukan sembilan kongener PBDEs yang terdiri dari BDE-17, -28, -47, -66, -99, -100, -153, -154, dan -183. Hasil menunjukkan semua jenis kongener PBDE terdeteksi di Jakarta, sedangkan di Bogor hanya terdeteksi tujuh jenis.  Konsentrasi PBDE terdeteksi pada kisaran nilai 0,13–4,12 pg/m3 di Jakarta, sedangkan di Bogor berada pada kisaran 0–2,59 pg/m3.  Kadar tertinggi ditemukan untuk BDE-47 di kedua wilayah. PBDE terendah ditemukan untuk BDE-153 di perkotaan sedangkan BDE-153 dan BDE-183 tidak terdeteksi di wilayah pedesaan. Total konsentrasi 9 PBDEs (∑PBDEs) yang terdeteksi di udara ambien di kawasan Casablanca Jakarta sebesar 9,77 pg/m3 dan di Citeko Bogor sebesar 5,71 pg/m3.  
PENGENDALIAN EMISI MERKURI DI CEROBONG INDUSTRI PADA PENGGUNAAN BATU BARA SEBAGAI BAHAN BAKAR Isa Ansyori
Jurnal Ecolab Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2011.5.1.15-19

Abstract

Pengendalian emisi merkuri pada pemanfaatan batu bara sebagai bahan bakar bergantung beberapa faktor yaitujenis batubara, alat pengontrol emisi, pencampuran 2 jenis batubara, dan penggunaan teknologi injeksi karbon aktif(Activated Carbon Injection)
STUDI AWAL SENYAWA BENZO (A) PYRENE DALAM CONTOH UJI UDARA AMBIEN AKIBAT PEMBAKARAN BRIKET BATUBARA Rita Mukhtar; Esrom Hamonangan Panjaitan; Erini Yuwatini; Bambang Hindratmo; Rina Aprishanty
Jurnal Ecolab Vol 4, No 2 (2010): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2010.4.2.63-69

Abstract

Penggunaan briket batubara sebagai alternatif bahan bakar dapat menimbulkan akibat negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, karena dapat meningkatkan konsentrasi pencemaran udara misalnya senyawa organik seperti Benzo (a) pyrene. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas udara ambien akibat pembakaran briket batubara. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Pembakaran briket batubara dilakukan dengan cara simulasi, contoh uji udara ambien diambil sebelum dan sesudah pembakaran dengan metode standar menggunakan alat High Volume Air Sampler (HVAS). Analisis contoh uji udara di laboratorium menggunakan metode EPA-TO-13 dengan menggunakan alat HPLC. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Benzo(a)pyrene sebelum dan sesudah pembakaran briket batu bara berturut-turut adalah 0.0022 μg/m3 dan 0.01741 μg/m3. Berdasarkan uji-t dengan a = 0,05 terdapat perbedaan nyata konsentrasi sebelum dan sesudah percobaan dilakukan.
PENYERAPAN LOGAM TIMBAL (Pb) PADA TANAMAN BUNGA MATAHARI (Helianthus Annuus L.)DENGAN VARIASI PENAMBAHAN KOMPOS DAN LIMBAH BATUBARA PADA MEDIA TANAH Noviardi, Rhazista; Damanhuri, Tri Padmi
Jurnal Ecolab Vol 9, No 2 (2015): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2015.9.2.60-71

Abstract

Kenaikan harga bahan bakar minyak menyebabkan banyaknya industri yang semula menggunakan bahan bakar minyak beralih ke batubara sebagai sumber energi untuk produksinya. Hal ini menimbulkan masalah lingkungan berupa peningkatan jumlah limbah padat sisa pembakaran batubara yang banyak mengandung unsur-unsur beracun termasuk timbal (Pb). Bunga matahari merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk remediasi logam timbal (Pb) pada limbah batubara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kompos pada limbah batubara terhadap konsentrasi Pb total pada tanaman bunga matahari (Helianthus Annuus L.). Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua factor. Faktor pertama adalah rasio limbah batubara (% berat) yang terdiri dar 6 (enam) taraf yaitu 0, 10, 20, 30, 40 dan 50 %. Faktor kedua adalah dosis kompos yang terdiri dari 3 (tiga) taraf yaitu 0, 400 dan 800 gram. Kedua faktor tersebut dikombinasikan sehingga diperoleh 18 perlakuan dengan dua kali ulangan. Pengaruh perbedaan perlakuan pada percobaan diuji dengan uji ANOVA pada taraf 5 %. Sementara itu, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan pada masing-masing faktor dilakukan uji jarak berganda Duncan, pada taraf ketelitian 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara rasio limbah batubara dengan dosis kompos terhadap penyerapan Pb oleh tanaman bunga matahari (Helianthus Annuus L.) Peningkatan rasio limbah batubara dan dosis kompos secara mandiri berpengaruh terhadap konsentrasi timbal (Pb) total pada tanaman bunga matahari (Helianthus Annuus L.). Semakin besar rasio limbah batubara dan dosis kompos, maka semakin besar pula konsentrasi Pb total pada tanaman bunga matahari.

Page 2 of 18 | Total Record : 178