cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
PEMANTAUAN SENYAWA DICHLORODIPHENYLTRICHLOROETHANE (DDT) DAN TURUNANNYA DI DAERAH CIANJUR, JAWA BARAT Yunesfi Syofyan; Yuriska Andiri
Jurnal Ecolab Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2014.8.2.78-84

Abstract

Persistent Organic Pollutants (POPs) merupakan senyawa organik yang relatif bertahan lama di lingkungan, sulit terdegradasi melalui proses kimia, biologi, dan fotolisis serta sukar larut di dalam air tetapi cenderung larut dalam lemak. Oleh karena sifatnya ini, POPs cenderung bersifat akumulatif dan bertahan di lingkungan. Selain itu, sen­yawa ini juga bersifat semivolatil sehingga dapat berada dalam fase uap ataupun terserap di dalam partikel debu, sehingga POPs dapat menempuh jarak yang jauh di udara (long-range air transport) sebelum akhirnya terdepo­sisi di bumi.  Dari beberapa bentuk senyawa POPs, senyawa insektisida organoklorin yang paling bertahan lama dan mempunyai sifat bioakumulasi, diantaranya adalah Dichlorodiphenyltrichloroethane ( DDT ).  Pemantauan kualitas lingkungan akibat pencemaran kelompok senyawa POPs, termasuk senyawa DDT dan turunannya telah dilakukan didaerah holtikultura Cianjur.  Sampel diambil di beberapa lokasi yaitu PLTA Cijedil, Desa Cibeureum, Desa Sukatani, Agropolitan, dan Desa Sindang Jaya.  Matriks yang diambil adalah air, sedimen sungai, dan tanah pertanian/perkebunan.  Sampling air dan sedimen sungai dilakukan dengan metode sesaat sedangkan untuk tanah, menggunakan metode komposit tempat.  Pemantauan ini mempunyai tujuan untuk menginventarisir jenis dan kon­sentrasi residu senyawa POPs yang terdapat di lingkungan terutama DDT dan turunannya. Isomer DDT yang paling banyak terbentuk di lingkungan adalah p,p’-DDT ( 80 % ) dan o,p’-DDT ( 20 % ).  Senyawa POPs diekstrak dengan menggunakan pelarut organik, kemudian di clean-up dan dianalisis dengan GCMS menggunakan kolom kapiler non polar.  Pada pemantauan tahun 2011, senyawa p,p’-DDT tidak terdeteksi dalam  sampel sedimen, tetapi pada tahun 2012, ditemukan sekitar 3.7 ng/g dalam sedimen Sungai Cibeureum dekat PLTA Cijedil, Cugenang -Jawa Barat dan meningkat sebesar 6.95 ng/g pada tahun 2012 di lokasi yang sama.  Masih pada tahun 2011, p,p’-DDT dan p,p’-DDE ditemukan tertinggi di tanah perkebunan Desa Sindang Jaya, Cipanas – Jawa Barat sebesar 446 ng/g, dan 184 ng/g,  Tahun 2012 dan 2013 DDT dan turunannya masih terdeteksi namun konsentrasi cenderung menurun.  Sementara itu pada sampel air tidak ditemukan senyawa DDT dan turunannya
PEMBUATAN UNIT PENGOLAHAN AIR KOTOR MOBILE MENJADI AIR BERSIH DAN LAYAK MINUM DENGAN KAPASITAS 10 LITER/MENIT Anggito P. Tetuko; P Sebayang; Muljadi Muljadi; Nanik Indayaningsih
Jurnal Ecolab Vol 4, No 1 (2010): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.583 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2010.4.1.48-54

Abstract

Air kotor dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat, karena bisa mencemari sumber air dengan penyakit ini danbakteri, seperti E. coli. Untuk mengatasi masalah ini, teknologi yang tepat diperlukan untuk mengubah air kotormenjadi air bersih dan air minum. Satu teknologi adalah membuat sistem penyaringan air dengan menggunakanair sungai dan output bisa langsung minum. Dirancang dan dibangun penyaringan air kemudian diuji yang terdiriatas kualitas air dan kapasitas produksi. Kualitas air Sungai Cisadane, air bersih dan air minum dianalisis; terdiriatas fisik, kimia, dan mikrobiologi. Teknologi yang digunakan dalam unit penyaringan air didasarkan pada penyaringanair secara fisis dengan menggunakan sistem penyaringan dengan media filter granular dan disertai denganproses penyaringan menggunakan reverse osmosis (RO) dan ultraviolet (UV). Hasil penelitian menunjukkanbahwa kapasitas aktual air bersih dan air minum adalah serupa dengan perhitungan desain. Kapasitas air bersihsebenarnya 26,7 l/menit dan kapasitas berdasarkan perhitungan adalah 25,12 l/min. Sementara air minum adalahkapasitas 10,3 l/menit dan kapasitas berdasarkan perhitungan adalah 16,60 l/min. Air bersih telah lulus air bersihstandar tetapi tidak dapat digunakan sebagai air minum, dan setelah melalui proses osmosis terbalik (RO), dapatdigunakan sebagai air minum.
KAJIAN BAKU MUTU LOGAM BERAT DI UDARA AMBIEN SEBAGAI BAHAN MASUKAN LAMPIRAN PP 41/1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA Rita Mukhtar; Susy Lahtiani; Esrom Hamonangan Panjaitan; Hari Wahyudi; Muhayatun Santoso; Diah Dwiana Lestiani
Jurnal Ecolab Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2014.8.1.32-42

Abstract

Logam berat yang terkandung di dalam udara ambien khususnya partikulat udara PM2.5 dapat membahayakan manusia karena ukuran PM2.5 memungkinkannya untuk berpenetrasi menembus bagian terdalam dari paru-paru dan sistem jantung dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernafasan akut, kanker paru-paru, penyakit kardiovascular bahkan kematian. Dalam PP No. 41/1999 tentang pengendalian pencemaran udara telah tercantum baku mutu logam berat di udara ambien namun baru terbatas pada logam timbal (Pb) sedangkan logam berbahaya lainnya seperti arsen (As), kadmium (Cd), merkuri (Hg), kromium (Cr), mangan (Mn), dan nikel (Ni) belum diatur dalam PP tersebut. Sehingga perlu dilakukan kajian logam berat dalam partikulat udara ambien PM2.5 sebagai bahan dasar ilmiah dalam rangka revisi Lampiran PP 41/199 tersebut. Selain itu, nilai baku mutu yang telah diatur dalam PP tersebut perlu ditinjau kembali untuk melihat kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan atau udara ambien saat ini. Adapun usulan yang disampaikan dalam rangka revisi Lampiran PP 41/1999 tentang pengendalian pencemaran udara adalah parameter logam berat yang berada pada partikulat udara ukuran TSP dan PM2.5 yaitu baku mutu Pb pada TSP diperketat menjadi 0.5 μg/m3 untuk tahunan dan 1 μg/m3 untuk waktu 24 jam, sedangkan baku mutu Pb pada PM2.5 adalah 0.25 μg/m3 untuk tahunan dan 0.5 μg/m3 untuk 24 jam; As pada TSP 0.006 μg/m3 untuk tahunan dan 0.3μg /m3 untuk 24 jam, As pada PM2.5 0.00006 μg/m3 untuk tahunan dan 0.0125 μg/m3 untuk 24 jam; Cd pada TSP tahunan 0.005 μg/m3 dan 2 μg/m3 pada 24 jam, Cd pada PM2.5 0.00005 μg/m3 pada tahunan dan 0.02 μg/m3 untuk 24 jam; Hg pada TSP tahunan 1 μg/m3 dan 0.5 μg/m3 untuk 24 jam, dan Hg pada PM2.5 tahunan 0.005 μg/m3 dan 0.01 μg/m3 untuk 24 jam. Cr pada TSP tahunan 0.01 μg/m3 dan 1.5 μg/m3 untuk 24 jam, dan Cr pada PM2.5 tahunan 0.0001 μg/m3 dan 0.005 μg/m3 untuk 24 jam; Mn pada TSP tahunan 0.15 μg/m3 dan 2.5 μg/m3 untuk 24 jam, dan Mn pada PM2.5 tahunan 0.00015 μg/m3 dan 0.0078 μg/m3 untuk 24 jam; Ni pada TSP tahunan 0.02 μg/m3 dan 2 μg/m3 untuk 24 jam dan Ni pada PM2.5 tahunan 0.0002 μg/m3 dan 0.015 μg/m3 untuk 24 jam.
PEMANFAATAN LIMBAH TIMBUNAN LEMAK ABDOMEN IKAN PATIN RTM Sutamihardja; Ratna Fatmasari; Vieriya Devi; Padmono Citroreksoko
Jurnal Ecolab Vol 2, No 2 (2008): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1422.783 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2008.2.2.76-84

Abstract

Fishery industries of ikan patin (Pangasius hypothalamus) has increasing steadily through the prospect of highprice. The portion of the fish is used just only the meat part, but the head and abdomen of the fish portion werethrown away regarded as a waste. The purpose of the study was tried to seek the content and composition of thewaste part of the fish abdomen containing accumulation of fat, especially for the polyunsaturated fatty acids(PUFA) so the potency of PUFA as an essential nutrient.The abdomen fish fat was analyzed for its water content, fat content, iod value, separation of the fat by thin layerchromatography, and the content and composition of fatty acid by gas chromatography. The content and compositionsof the fish fat were as followed: oleic fatty acid as mono unsaturated fatty acid (MUFA) was 44,13%, linoic acidas PUFA was 19,01%, and palmitic acid was 22,14%. For further uses each fatty acid can be separated throughfractionation according to its various temperature and its melting point.
KARAKTERISTIK KUALITAS AIR SUNGAI CIHIDEUNG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT Hefni Effendi; Aloysius Adimas Kristianiarso; Enan M Adiwilaga
Jurnal Ecolab Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2013.7.2.81-92

Abstract

Pada bagian hulu Sungai Cihideung terdapat aktivitas pertanian, ladang, budidaya perikanan, dan jarang ditemukan pemukiman penduduk. Limpasan aktivitas pertanian dan budidaya perikanan, limpasan dari bengkel, dan limpasan dari pemukiman penduduk, akan berpengaruh terhadap karakteristik kualitas air sungai. Penelitian dilakukan di Sungai Cihideung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengambilan contoh dilakukan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 2 minggu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui status kualitas air Sungai Cihideung, mulai dari Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, yang merupakan bagian hulu, hingga hilir yakni di belakang gedung Unit Satwa Harapan, Fakultas Peternakan, IPB di Desa Babakan. Karakteristik kualitas air sungai dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pengelolaan kualitas air sungai yang berkaitan dengan masukan dari lingkungan sekitarnya. Perairan Sungai Cihideung memiliki suhu 24-280C. Kekeruhan berkisar 11-32,3 NTU. TSS 0,67-32,67 mg/l. TDS 40,93-65,53 mg/l. Debit air 0,24-2,07 m3/detik. Perairan Sungai Cihideung memiliki kisaran pH 5,83-7,36. DO 8,34-10,58 mg/l. BOD5 0,20-4,12 mg/l. NH3-N 0,005-0,23 mg/l. NO3-N 0,06-0,70 mg/l. NO2-N 0,01-0,03 mg/l, dan total fosfat 0,48-1,07 mg/l. Indeks Storet memperlihatkan bahwa stasiun 1,3,4,5, Sungai Cihideung termasuk dalam kategori tercemar ringan (skor -8 sampai -10). Stasiun 2 tercemar sedang (skor -12). Hal ini karena telah terlampauinya baku mutu pH, NH3-N, dan total fosfat
KAJIAN ASPEK KEBIJAKAN DAN REGULASI DALAM MASALAH PENGELOLAAN LIMBAH CAIR INDUSTRI RUMAH TANGGA Petrus Nugro Rahardjo
Jurnal Ecolab Vol 3, No 2 (2009): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1934.811 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2009.3.2.74-83

Abstract

Water pollution due to the domestic wastewater produced by the local community and their home industries in a bigcity, such as Jakarta, has already been inviting many environmental problems since the last ten years. Based on theresearch done by Directorat General Cipta Karya, Public Works Department RI, domestic wastewater in Jakartadelivers 75% of all pollutants in surface water pollution. Therefore many things should be done to solve those waterpollution problems. A lot of environmentally related rules have established in Indonesia, but they are not able to beoptimally implemented because of some weaknesses of the environmental rule contents. One of the solving optionsis to create a perfect regulation system for wastewater management. The laws for home industry wastewater management,especially in big cities, have to be perfectly completed, mainly in the field of standard, operation and procedure,the wastewater quality standard, the adequate and qualified technology, the landscape and building planningand the institutional coordination. If the all environmental regulations are well synchronized, the law enforcementwill be simply implemented. By applying them consistently, the water pollution control can be handled well.
EFEKTIVITAS ARANG AKTIF DIPERKAYA MIKROBA KONSORSIA TERHADAP RESIDU INSEKTISIDA LINDAN DAN ALDRIN DI LAHAN SAYURAN E Srihayu Harsanti; Indratin Indratin; Sri Wahyuni; Eman Sulaeman; A N Ardiwinata
Jurnal Ecolab Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2013.7.1.27-36

Abstract

Lindan dan aldrin merupakan insektisida organoklorin yang residunya masih ditemukan di lahan sayuran. Lindan dan aldrin merupakan senyawa cemaran organic persisten (Persistent Organic Pollutants atau POPs) yang memiliki toksisitas dan persistensi yang tinggi di dalam tanah. Salah satu mitigasi residu insektisida POPs dalam tanah adalah remediasi dengan menggunakan arang aktif dengan memanfaatkan mikroba konsorsia. Percobaan lapang dilaksanakan di lahan sayuran di Magelang selama musim penghujan 2010. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas arang aktif diperkaya mikroba konsorsia terhadap degradasi residu lindan dan aldrin di lahan sayuran. Percobaan lapang disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan dan tujuh perlakuan. Parameter yang diamati yaitu karakteristik tanah, residu insektisida lindan dan aldrin dalam tanah dan air, tinggi dan hasil biomassa sawi. Arang aktif efektif menurunkan residu lindan dan aldrin dalam tanah hingga lebih dari 50 % saat 7 hari setelah aplikasi insektisida pada tanaman sawi. Arang aktif yang diperkaya mikroba konsorsia cennderung menurunkan residu lindan dan aldrin lebih tinggi daripada arang aktif tanpa diperkaya mikroba konsorsia. Kadar pestisida lindan dan aldrin dalam tanaman pada perlakuan arang aktif dari tempurung kelapa lebih tinggi daripada arang aktif tongkol jagung dengan inokulasi mikroba. Pemberian arang aktif cenderung memberikan hasil biomassa tanaman sawi lebih tinggi daripada tanpa arang aktif.
STUDI METODE PEMUPUKAN IDEAL MENGGUNAKAN PERUNUT P-32 UNTUK MENGENDALIKAN PENCEMARAN LINGKUNGAN M Hadi Kusuma; Agus Budhie Wijatna
Jurnal Ecolab Vol 2, No 1 (2008): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1491.723 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2008.2.1.34-41

Abstract

Studi metode pemupukan yang ideal dengan menggunakan perunut p-32. Telah dilakukan penelitian mengenai metode pemupukan yang ideal dengan menggunakan perunut p-32. Penelitian ini menggunakan tanaman teh-tehan untuk mempelajari konsentrasi phospor pada daun sebagai fungsi posisi/letak penanaman dengan menggunakan teknik perunut radioaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan istop terbesar adalah pada koordinat p(20,5) setelah 30 hari penanaman isotop. Jadi pemupukan sebaiknya dilakukan maksimal 1 kali dalam kurun waktu 30 hari. Ini berarti bahwa perakaran tanaman terbanyak adalah pada koordinat p(20,5) dari tanaman, dan apabila pemupukan dilakukan pada koordinat ini maka residu yang dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian pupuk pada koordinat lainnya.
STUDI KANDUNGAN MERKURI DAN ARSEN DALAM AIR LAUT DAN SEDIMEN DI PERAIRAN TELUK BUYAT DAN RATATOTOK Arum Prajanti; Dyah Aprianti; RTM Sutamiharja
Jurnal Ecolab Vol 3, No 1 (2009): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.107 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2009.3.1.20-30

Abstract

Gold mining activities has been widely recognized using mercury in traditional way and using cyanide in the modernway for fixing (setting) the gold. Usually the gold is fixed with other metals such as arsenic and mercury which arethrown away as a waste. The waste from the gold mining process was thrown away through tailing pipe to the bottomof Buyat Bay and from the gold mining traditional activities are dumped to the river which ended at the RatatotokBay. The aim of this study was eager to know the mercury and arsenic content in the sea water and sediments ofthe Buyat and Ratatotok Bay, and to know the impact of these wastes to the biotic life of Buyat and Ratatotok Bay.This study was done in the period of January to March 2005, during west monsoon. The results indicated that themercury and arsenic content of the sea water quality still below the requirement of Ministry Decree of sea waterquality standard No. 51/MENLH/2004. On the contrary, the mercury content in the sediment of tailing zone andsome areas in Buyat and Ratatotok Bay are indicated as polluted sediment refer to the Guidelines Asean Marine2004. Moreover, the content of arsenic in the tailing zone, and some areas in the Buyat bay are already categorizedas polluted sediment. The arsenic and mercury content in the sea sediment deteriorating the life of sea biota, and itcan be seen from the decreasing of the benthic index diversity.
HUBUNGAN FLUKS METANA DAN DINITROGEN OKSIDA DENGAN KARAKTERISTIK TANAH SAWAH TADAH HUJAN DI JAWA TENGAH A Wihardjaka; S D Tandjung; B H Sunarminto; E Sugiharto
Jurnal Ecolab Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2012.6.2.90-98

Abstract

Kondisi basah – kering tanah sawah tadah hujan yang silih berganti mempengaruhi dinamika gas rumah kaca metana dan dinitrogen oksida dalam tanah. Besarnya produksi CH4 dan N2O terkait dengan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sawah tadah hujan. Penelitian dilaksanakan di laboratorium untuk mengetahui hubungan antara fluk metana dan dinitrogen oksida dan karakteristik tanah sawah tadah hujan Inceptisol. Contoh tanah diinkubasi selama satu bulan dan dianalisis produksi CH4 dan N2O, dan karakteristik fisik, kimia, dan biologi tanah. Laju produksi metana dari tanah sawah tadah hujan Inceptisol berkorelasi positif secara nyata dengan kandungan C organik dan berkorelasi negatif dengan ketersediaan sulfat dan mangan dalam tanah. Produksi dinitrogen oksida dari tanah sawah tadah hujan Inceptisol berkorelasi positif secara nyata dengan kandungan nitrat dan berkorelasi negatif dengan ketersediaan mangan (Mn) dalam tanah dan kandungan lempung

Page 8 of 18 | Total Record : 178