cover
Contact Name
Dr. Asep Supianudin, M.Ag.
Contact Email
asepsupianudin@uinsgd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
altsaqafa@uinsgd.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
ISSN : 02165937     EISSN : 26544598     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
IDEOLOGI ORANG BIASA: NILAI-NILAI KULTURAL MASYARAKAT PANTURA JAWA BARAT DALAM SENI DAN LAGU TARLING Dian Nurrachman; Hasbi Assiddiqi; Rohanda Rohanda; Pepen Priyawan
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.5762

Abstract

Penelitian ini tentang tradisi dan narasi Seni Tarling yang berkembang di wilayah pesisir pantai utara (pantura) Jawa Barat, khususnya daerah Subang, Indramayu, dan Cirebon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Tarling dari awal sampai perkembangannya hari ini, bagaimana pertunjukan Tarling, narasi-narasi lagu Tarling dalam kaitannya dengan konteks sosiologis-antropologis masyarakat Pantura, serta nilai-nilai kultural yang diusung dalam Seni Tarling secara keseluruhan. Pada gilirannya, aspek yang disebut terakhir, yaitu nilai-nilai kultural, akan dikaitkan secara interdisiplin dengan menggunakan teori ilmiah Sosiologi Sastra untuk menemukan ideologi dan identitas masyarakat Pantura. Pengaitan ini adalah satu keniscayaan karena struktur-struktur yang dibangun dalam seni/kesenian—dalam hal ini Seni Tarling—berikut struktur kebahasaan-kesastraan (tuturan, nada, metafora, dan simbol) yang tercermin dalam narasi lagunya memiliki unsur homologis (kesamaan struktur) dengan struktur masyarakat yang membangunnya. Dalam konteks sosiologi seni/sastra, bangunan (struktur) karya seni adalah ‘fakta kemanusiaan’ sebagi wujud artefak budaya yang dihasilkan dari aktivitas manusia, baik dalam hubungannya dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Sedangkan masyarakat yang membangun karya seni itu adalah ‘subyek kolektif’, yaitu realitas trans-individual yang menjadi latar belakang hadirnya fakta kemanusiaan tersebut, karena fakta-fakta seperti itu juga tidak akan pernah merupakan hasil aktivitas subyek individual, melainkan subyek kolektif sebagai realitas hubungan antar manusia dalam segala aspek kehidupannya. Melalui proses teorisasi struktur di atas, sosiologi sastra kemudian menghadirkan sebuah pengkajian “homologis. Kata Kunci: Tarling, Pantura, identitas, sosiologi sastra, struktur homologis
BAING YUSUF (Ulama Central dalam Islamisasi di Purwakarta) Ricko Andhitiyara
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3592

Abstract

Di Indonesia, para ulama telah memainkan peranan yang sangat penting dan strategis. Mereka berperan bukan hanya dalam peningkatan spiritual umat saja, akan tetapi juga dalam mendobrak kekuasaan pemerintahan Kolonial. Sejarah menjadi saksi betapa ulama telah berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan. Bukan hanya itu, ulama juga memainkan peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat dikarenakan mereka memiliki posisi sebagai pemimpin informal, guru, pembina, dan pengajar agama khususnya. Dimana disini masyarakat menganggap ulama adalah pewaris Nabi Muhammad SAW dan perantara mereka dalam memahami ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam memandang para ulama merupakan penerus jejak risalah dan contoh panutan untuk masyarakat guna selamat.Begitu pun dengan Syekh Baing Yusuf, beliau merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Purwakarta. Beliau telah berkelana ke Madagaskar dan melanjutkan perjalanannya ke Tanah Suci guna menuntut ilmu. Dalam beberapa sumber sejarah Purwakarta, disebutkan bahwa Baing Yusuf merupakan tokoh sentral dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam yang terdapat di Purwakarta. Baing Yusuf merupakan guru dari pendiri Pondok Pesantren Sempur, K.H. Bakri (masyarakat Purwakarta dan khususnya masyarakat setempat lebih mengenal dengan panggilan Mama Sempur).
KONSEP PESAN PRA-NUBUWWAH YANG TERKANDUNG DALAM WAHYU PERTAMA KALI TURUN SURAH AL’ALAQ 1-5 Ihsan Humaedi
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.6678

Abstract

Artikel ini membahas konsep pesan nubuwah Muhammad shallahu’alaihi wasallam yang dilihat dari lima ayat yang pertama kali turun dalam surat al-alaq. Dengan menggunakan survei pustaka artikel ini menemukan bahwa paling tidak terdapat tiga konsep yang terkandung dalam lima ayat yang pertama kali turun tersebut, yaitu: penciptaan, rububiyah dan ta’lim, ketiga konsep ini dapat dimaknai sebagai persiapan individu nabi untuk menghadapi tugas berikutnya sebagai rasul yang dipandang lebih berat jika dibandingkan hanya sebagai nabi. Dengan ketiga konsep kesadaran tersebut digunakan dan dikembangkan oleh para pengikutnya dalam menghadapi kontinuitas masalah yang dihadapi sehari-hari agar tetap berada dalam koridor ajaran muhammad saw, untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia.
PERAN ORMAS ISLAM DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL (SEJARAH DAN PERAN FUUI DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL BANDUNG 2000-2003) Samsudin Samsudin; Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.9034

Abstract

Ulil Abshar Abdalla sebagai tokoh Islam Liberal pernah mengungkapkan Pemahaman ”hukum tuhan” yang oleh kebanyakan orang orang islam sebetulnya tidak ada. Aspek yang dibahas meliputi hukum pernikahan, jual beli, pencurian dan lain sebagainya yang tergolong prinsip umum lebih dikenal maqashidusy syari’an dalam tradisi pengkajian hukum klasik. Pernyataan ini mendapat kritikan tajam dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) terhadap pernyataan tidak ada namanya “hukum Tuhan” adalah sebuah prilaku penghinaan. Dengan kritik tajam terhadap Islam liberal itu, maka penulis tertarik untuk meneliti FUUI tersebut dengan tujuan diperoleh gambaran sejarah berdirinya FUUI, bagaimana peran FUUI dalam menolak pemikiran Islam Liberal, dan bagaimana pengaruh FUUI dalam menolak Islam Liberal. Penulis menggunakan dengan metode sejarah, terdiri dari heuristik, kritik (Intern dan Ekstern), interpretasi, juga historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, FUUI didirikan pada hari Selasa tanggal 1 November 2000 di mesjid Al-Furqan UPI Bandung, dengan sekretariat di Mesjid Al-Fajr Jl.Situsari VI No 2 Cijagra Bandung. Keanggotaan FUUI terdiri dari seluruh wilayah Indonesia dengan penasehat H. Prof. Dr. M. Djawad Dahlan, ketua umum pertama K.H. Atiyan Ali. M. Da’I, MA, dan sekretris jendral Ustadz. Hedi Muhammad Suwandi. Peranannya dalam menolak Islam Liberal Semua Ulama dan umat Islam yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur sepakat mengeluarkan pernyataan, dari penolakan ini. Kemudian dampaknya memengaruhi ormas lain yang menolak Islam liberal, seperti Forum Bandung Circle, Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), Institut for the Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Indonesia Tanpa JIL (ITJ), dan Pimpin Bandung serta puncaknya dikeluarkan fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme.Kata Kunci: Islam liberal, sejarah, dampak penolakan FUUI
Ideologi Perlawanan dalam Puisi Acep Zamzam Noor: Kritik Poskolonial - Marxis Deni Sapta Nugraha; Zuriyati Zuriyati; Siti Gomo Attas
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 2 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i2.10074

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkap ideologi perlawanan dalam puisi “Penyataan Cinta” karya Asep Zamzam Noor yang ditulis pada tahun 1998. Puisi ini menyiratkan respon yang begitu khas bernuansa protes, kritik, dan menunjukan aspek perlawanan yang dibungkus dengan satu frasa “pernyataan cinta”. Pengungkapan ideologi perlawanan dalam puisi tersebut dianalisis dengan pendekatan kritik sastra marxis dan poskolonial dengan metode baca-catat. Pembacaan dilakukan berulang-ulang untuk menemukan maksud dan gagasan ideologi perlawanan. Dari sudut pandang marxis, puisi tersebut menyiratkan hubungan realistik antara struktur teks dengan struktur konteks. Penyair juga terlibat dalam proses sejarah yang tidak hanya melibatkan individu namun juga secara sosial.  Pada larik-larik puisi Penyataan Cinta terpotret nuansa poskolonial yang memunculkan keberpihakan terhadap kaum marjinal. Marjinalitas akhirnya menjadi realitas dan cinta menjadi ideologi perlawanan yang ironis, pedih, dan menyedihkan.
GAYA BUSANA IDENTITAS ULAMA SUNDA 1800-1998 Suparman Jassin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.8917

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis pada kesederhanaan gaya hidup kaum ulama/ kyai di Tatar Sunda yang terkesan monoton aktivitasnya antara masjid, pondok, santri dan masyarakat. Kalau kita tengok kekayaan dan isi rumahnya niscaya tak ada barang mewah yang menghiasi, hanya deretan kitab-kitab kuning klasik yang menjadi kajian kebanggaannya. Tak terkecuali dalam hal gaya berbusananya. Sekalipun ulama-ulama di Tatar Sunda memiliki kekhasan gaya busana masing-masing, tetapi sangat jauh dari tampilan kemewahan. Seiring dengan perkembangan zaman terutama di era reformasi justeru banyak tampil ulama atau kyai gaya baru yang menghias media layar kaca yang sangat berbeda jauh dengan apa yang ditampilkan oleh ulama/kyai tempo lalu terutama di era kolonial. Terkadang sulit membedakan mereka, apakah sebagai sosok seorang ulama/ kyai atau selebritas? Pertanyaannya, apa yang menjadi latar penyebab terjadinya pergeseran sosok ulama bersahaja dan berwibawa kepada kyai/ustadz yang popular dengan gaya hidupnya yang mewah? Bagaimana model-model gaya busana para ulama dari zaman ke zaman di Tatar Sunda? Penelitian ini menggunakan metode historis yang meliputi empat tahapan, yaitu: 1) heuristik, 2) kritik sumber, 3) interpretasi, dan 4) historiografi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menjelaskan bahwa keterkaitan fashion atau busana pada ulama/ kyai tidak lagi sebatas simbol budaya yang mencerminkan identitas dan kepribadian seorang ulama, melainkan juga nilai agama tercakup di dalamnya. Pakaian ulama dianggap sebagai standar berpakaian yang dianjurkan dalam Islam. Oleh karenanya, meniru gaya berpakaian ulama akan dianggap sebagai bagian dari tuntunan ajaran Islam. Gaya busana para ulama disesuaikan dengan kondisi sosial dan kultur di daerahnya masing-masing sekalipun sebagiannya mengadopsi model-model dari luar, baik model Arab Timur Tengah, Eropa, India, Cina bahkan Turki.
Kampung Naga Tasikmalaya; Tinggalan Budaya Eksotik dan Edukatif Ismanto Ismanto
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 2 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i2.10454

Abstract

Tulisan ini ingin menjelaskan tentang keberadaan Kampung Naga yang menarik untuk diteliti dari berbagai aspeknya baik arsitektur, etnografi, mitologi, ritual, perilaku, filsafat hidup, nilai kearifan lokal, seni budaya dan pariwisata. Metode penelitian dilakukan dengan cara studi literatur dan sumber-sumber tulisan yang dapat dilacak melalui browsing di internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek Kampung Naga memiliki daya magnetitude bagi para peneliti maupun masyarakat untuk mengetahui dan memahami seluk beluk Kampung Naga dalam berbagai aspeknya. Sehingga nilai eksotik, etik dan estetiknya menjadi modal eksistensi dan kebertahanan Kampung Naga sebagai objek wisata yang tetap dikunjungi banyak orang, dari mulai masyarakat umum sebagai wisatawan domestik, wisatawan mancanegara, akademisi dan para peneliti.
Kehidupan Keberagamaan Masyarakat Kampung Adat Dukuh Cikelet - Garut Jawa Barat Fahmi Mohamad Ansori; Dadan Rusmana; Ajid Hakim
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 2 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i2.10455

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkonstruksi keberlangsungan dan perubahan (continuity and change) kehidupan sosio-religius-kultural masyarakat Kampung Adat Dukuh Cikelet Garut, Jawa Barat.  Teori yang digunakan dalam artikel ini adalah teori[1] [2] [3] [4] [5]  Perilaku Sosial Robert Byrne, dia  membagi ke dalam lima faktor penyebab prilaku sosial pada diri individu masyarakat ataupun masyarakat secara komunal, yaitu (1) prilaku orang lain (2) proses kognitif (3) variable-variable lingkungan (4) konteks budaya, dan (5) faktor biologis. Tulisan ini dapat menyajikan kesimpulan sebagai berikut. Pertama, sebagai bagian dari kampung adat, masyarakat Kampung Dukuh tetap memegang teguh kepercayaan dan tradisi yang mengakulturasikan Islam dan tradisi setempat, yang mengandung nilai kearifan lokal yang bercirikan budaya Sunda. Mereka melaksanakan ritual keagamaan, meski dengan tingkat intensitas yang beragam sesuai dengan kapasitas masing-masing. Secara komunal, mode kelembagaannya lebih menjunjung norma adat. Kedua, tradisinya dilakukan secara turun temurun, meskipun terdapat beberapa pergeseran tradisi keagamaan, baik  disebabkan faktor internal maupun eksternal
KEBUDAYAAN KAMPUNG ADAT BANCEUY DESA SANCA KECAMATAN CIATER KABUPATEN SUBANG Shaleh Afif
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.9004

Abstract

Penelitian ini terkait Kebudayaan Kampung Adat Banceuy  Desa Sanca Kecamatan Ciater di Kabupaten Subang. Adapun mayoritas Penduduk yang berada di Kampung Adat Banceuy adalah Asli Keturunan Banceuy, sementara itu penelitian ini lebih khusus hanya membahas Kebudayaan Kampung Adat Banceuy.Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui Sejarah Kampung adat Banceuy juga Kebudayaan yang ada di Kampung adat Banceuy     Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: Pertama Sejarah Kampung adat Banceuy dahulunya bernama Kampung Negla penggunaan Nama banceuy yaitu adalah kesepakatan para sesepuh kampung adat banceuy setelah terjadi badai yeng merusak kampung  Negla sekitar tahun 1800. kedua, kebudayaan yang penulis temukan di Kampung Banceuy seperti Tradisi dan Upacara Adat, Kesenian Kampung adat banceuy, Atraksi Masyarakat Kampung Adat Banceuy, dan Permainan Tradisional Kampung adat Banceuy.Kata kunci : Kebudayaan, Kampung Adat, Banceuy
Wacana Interaksional Dalam Percakapan “Qatar Debate” mohammad dzulkifli
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 2 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i2.9903

Abstract

يتم موضوع هذا البحث في فيديو إعادة البث لبطولة الدولية لمناظرات الجامعات باللغة العربية في قطر سنة 2017م. و يتم تركيز هذا البحث في شيئين رئيسيين، هما 1) تقنية التقسيم و تحديد أدوار المحدثين في كلامي مناظرات قطر, 2) عملية المداخلة في كلامي المناظرين لمناظرات قطر. أما بنسبة إلى منهجية البحث التى استخدمها الباحث في هذا البحث هي منهجية الوصفية النوعية عن طريق السماع في جمع البيانات. و تقام تقنية أخذ النموذج عن طريق أخذ العينات الهادفة بوسيلة تحليل مضمون المحاورات .باتت نتيجة هذا البحث في إشارة الخصوصيا ضمن تقسيم و تحديد أدوار المتحدثين في بطولة مناظرات قطر، وهو نظام التعاقب على التوالى بدأً من المتحدث الأول من فريق الموالاة واستمرارا إلى امتحدثين من فريق المعارضة على التوالى. بالإضافة إلى ذلك توجد الخصائص الأخرى نحو جملة الأمر (الترهيب)، و جملة الإستفهامية، و جملة التصريخية. بناء على تحليل البحث الذى قد قام به الباحث، يستنتج البحث أن تقسيم أدوار المتحدثين في كلامى مناظرات قطر قد يطابق بعضها إلى نطام أدوار تعاقب الحوار أو الحديث لـ Lavinson و بعضها لم يطابق. أما بنسبة إلى عملية المداخلة في النطام على منهج مناظرات قطر توجد ثلاثة أنواع للمداخلة اعتمادا على أهدافها وهي المداخلة الإستفهامية، و المداخلة التقتيقية، و المداخلة السياسية. و الجانب الآخر أنها قد تطابق تطابقا تماما بنظام الذى قدمه Lavinson.     الكلمات المفتاحية: الخطاب التفاعلي، مناظرات قطر