cover
Contact Name
Dr. Asep Supianudin, M.Ag.
Contact Email
asepsupianudin@uinsgd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
altsaqafa@uinsgd.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
ISSN : 02165937     EISSN : 26544598     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
PUPUJIAN (SHALAWATAN) SEBELUM SHALAT BERJAMA’AH (Suatu Pendekatan Semiotik) Wildan Taufiq
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2263

Abstract

Pupujian merupakan tradisi keagamaan Islam yang tumbuh kembang di tatar Sunda, bahkanNusantara. Pupujian merupakan “basa ugeran” yang berupa puja-puji, do’a, nasihat, tafsir Al-Qur’an,keterangan tentang hadits, riwayat Rasulullah, uraian tentang fikih atau bab agama lainnya, yangbiasanya dinyanyikan di mesjid-mesjid atau pesantren-pesantren pada saat menunggu salatberjama’ah, antara adzan dan qomat. Terdapat pro-kontra tentang pupujian ini, apakah termasukibadah yang ada dasarnya (Al-Qur’an dan Sunnah) atau tidak ada? Dengan demikian pada tulisan inipenulis mencoba mencari teks-teks rujukan baik dari Al-Qur’an, Sunnah, maupun teks kesusastraanArab yang menjadi latar atas teks-teks pupujian. Untuk mencari teks-teks rujukan tersebut, penulismenggunakan pendekatan semiotik, dalam hal ini teori semiotika intertekstual Julia Kristeva. Tujuantulisan ini bertujuan untuk mengetahui jenis pupujian sebelum shalat berjama’ah yang ada di wilayahdi Kec. Parungponteng Kab. Tasikmalaya dan Kec. Sukawening Kab. Garut; dan mengetahuihubungan antara teks-teks pupujian sebelum shalat berjama’ah dengan teks-teks dasar-dasar agamaIslam. Dari hasil analisis diketahui bahwa jenis pupujian yang ditemukan di wilayah di Kec.Parungponteng Kab. Tasikmalaya dan Kec. Sukawening Kab. Garut, adalah pupujian yangmenggunakan satu bahasa (Sunda atau Arab), dan campuran (Arab-Sunda). Adapun teks-teks yangmenjadi referensi teks-teks pupujian tersebut adalah teks Al-Qur’an, Hadits, fiqih, kesusastraan Arab,dan sejarah. Sedangkan hubungan antara teks-teks pupujian dengan teks-teks referensinyabertransposisi “mengubah”.
AL-PALIMBANI DAN KONSEP JIHAD Asep Saefullah; Agus Permana
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.5827

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian atas pemikiran Syekh Abd Al-Samad Al-Palimbani Tentang Jihad sebagimana tertuang dalam Naskah Nasīhah Al-Muslimīn Wa Tazkirah Al-Mu’Minīn. Ada tiga naskah yang ditemukan berkaitan dengan naskan ini, yaitu di Perpustakaan Nasional dua naskah (A 209 dan W 51) dan di Perpustakaan Umariyah, Palembang satu naskah. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsep jihad menurut Al-Palimbani tentang keutamaan dan kemuliaan mujahidin dan memosisikan naskah karya Al-Palimbani dalam konteks sosial politik di Nusantara pada abad ke-18, baik pada wacana keagamaan Nusantara masa itu maupun dalam konteks kolonialisme Barat, dan relevansinya dengan masa kini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan pendekatan interdisipliner terutama pendekatan filologis dan kajian teks. Penelitian ini menemukan bahwa Naskah Nasīhah Al-Muslimīn Wa Tazkirah Al-Mu’Minī relatif masih dapat dibaca, dan dari tiga naskah tersebut tidak ada perbedaan, baik dari segi isi maupun sistematika pembahasannya. Naskah ini terdiri atas tujuh pasal dan bagian penutup. Mengenai konsep jihad, al-Palimbani tidak memberikan definisi yang jelas sebab beliau hanya mengutipkan ayat-ayat, hadis dan pendapat ulama seputar, misalnya, perintah jihad, keutamaannya, keutamaan mujahidin, dan apa saja yang harus dipersiapkan dalam jihad. Naskah ini tampaknya sengaja ditulis dalam bahasa Arab, berbeda dengan karya-karyanya yang lain seperti Sair al-Salikin yang ditulis dalam bahasa Melayu. Pemilihan bahasa Arab menjadikan naskah ini tidak saja dapat diakses oleh masyarakat Nusantara tetapi juga oleh wilayah Dunia Islam yang lain, khususnya Timur Tengah. Dalam konteks kolonialisme, naskah ini sangat menggugah semangat jihad atau perjuangan melawan penjajah, khususnya Belanda.Kata Kunci: Jihad, pemikiran, naskah, sejarah
IDEOLOGI (DAN) ESTETIKA SENO GUMIRA AJIDARMA: SAKSI MATA DALAM RUANG PERJUMPAAN IDEOLOGIS Moch Zainul Arifin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3825

Abstract

Tulisan ini mencoba menguraikan struktur ideologi Seno Gumira Adjidarma dalam Saksi Mata pada masa otoriter Orde Baru. Pisau analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kritik sastra materialisme Terry Eagleton yang mengasumsikan bahwa teks sastra tidak bertindak pasif, tetapi bertindak aktif menentukan proses produksi dan struktur ideologi yang melingkupinya. Dengan demikian, kritik sastra Eagleton melihat karya sastra dari aspek eksternal dan juga aspek internalnya. Berangkat dari hal itu, bagaimana Saksi Mata menawarkan bentuk kritik yang, tentu ideologis, dihadirkan guna mengguncang kekuasaan absolut Orde Baru? Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, struktur ideologi dalam cerpen Saksi Mata meliputi prkatik material eksternal dan internal teks. Aspek eksternal teks merupakan hasil artikulasi dominasi Orde Baru. Untuk itu, Saksi Mata juga tidak luput dari pengaruh mobilisasi Soeharto, akan tetapi Seno dengan Saksi Mata mampu melawan kebijakan tersebut. Kedua, konstruksi internal teks yang sebetulnya ruang perjumpaan dan negosiasi ideologi-ideologi yang ada,  Saksi Mata berupaya menunjukkan kengerian totaliter Orde Baru. Akan tetapi, tentu dalam ruang politik yang represif, kritik dalam semangat kemanusiaan, keadilan dan kebebasan berpendapat ditransfor-masi dan dibungkus dalam cerpen Saksi Mata dengan bangunan satire dan khas komedi, sekaligus mengungkapkan kengeriannya.
Donald Trump’s Muslim Banning in Two Mic’s Articles: A Transitivity Analysis Ika Yatmikasari; Rifah Rifah
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2442

Abstract

Muslim banning issued by Donald Trump in his early presidency has become a controversial policy in US. It triggers various reaction both on the street and in the media. Mic of US is one of them that provide citizen’s opinion on the issue. This study aims at revealing the writers of two Mic articles’ view on Donald Trump and on the issue related to Muslim banning itself by means of transitivity analysis, one metafunction in Systemic Functional Grammar. It also observes the different view (if any) between the two articles on the person and the issue they discuss. The analysis on process types and circumstances of the clauses in both articles results in: the writer’s disagreement and dislike on Donald Trump and the policy in the article entitled Can Donald Trump ban all Muslims? Here’s what to know about his awful proposition; and the writer’s support on Donald Trump and the issue in the second article entitled Donald Trump Calls for “A Total and Complete Shutdown” of Muslims Entering the US
STRATEGI INTERNALISASI NILAI SPIRITUAL DALAM PERSPEKTIF GURU DAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Syihabuddin Syihabuddin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.6565

Abstract

Kualitas pendidikan di antaranya ditentukan oleh faktor instrinsik berupa kehendak yang kuat untuk mengembangkan daya anak. Kehendak itu muncul karena adanya nilai dalam dirinya yang mendorong dan memberi semangat untuk berpikir dan berperilaku. Nilai itu diperoleh dari lingkungan dan pengalaman melalui kegiatan bernalar. Alur pikir ini menunjukkan bahwa kedudukan nilai sangat penting bagi terjadinya kegiatan pemberdayaan potensi pada diri anak. Walaupun penting, upaya ilmiah dan sistematis dalam menanamkan nilai spiritual pada anak masih minim. Karena itu, sangatlah beralasan untuk meneliti jenis nilai yang perlu ditanamkan kepada anak, cara menanamkannya, dan orang yang tepat untuk menanamkannya. Dari telaah tersebut dapat dirumuskan jenis nilai yang perlu diinternalisasikan, cara internalisasi nilai yang bersifat hipotetik, dan orang yang menanamkannya. Tujuan tersebut dicapai dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dari para guru dan siswa melalui angket. Selanjutnya data dianalisis dengan melihat kecenderungan pandangan responden pada konsep tertentu berkenaan dengan jenis nilai, cara internalisasi nilai, dan hambatan pelaksanaannya. Hasil analisis data menyimpulkan bahwa nilai kejujuran, persaudaraan, kesabaran, dan kepedulian perlu ditanamkan melalui keteladanan, penjelasan, perenungan, peniruan, dan interaksi yang intensif. Kendala yang dihadapi ialah minimnya kendali dalam mengakses informasi, perbedaan standar nilai, mimnimnya keteladanan, dan perbedaan pola asuh.Kata Kunci: Model internalisasi nilai, nilai spiritual, kualitas pendidikan 
TEKNIK MENERJEMAHAN AL-QUR’AN KE DALAM BAHASA SUNDA Yani Heryani
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.5018

Abstract

Al-Qur’an adalah kitab suci dan pedoman hidup bagi umat muslim di seluruh dunia. Oleh karena itu, memahami isi Al-Qur’an adalah kewajiban bagi setiap muslim. Namun, tidak semua orang mengerti makna dan tujuan setiap ayat Al-Qur’an, terutama orang-orang yang tidak berasal dari wilayah Arab, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, para ulama berusaha mengubah bahasa atau menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa yang dipahami pembaca. Misalnya bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Bahasa dll. Bahkan, di Indonesia sendiri, Al-Qur’an juga diterjemahkan ke dalam bahasa daerah seperti Sunda, Jawa, Batak, dll. Terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa asing yang telah dilakukan oleh ulama menggunakan teknik yang berbeda, misalnya KH Siradjuddin Abbas menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Sunda dengan menggunakan teknik dinamis, yaitu terjemahan dari isi pesan dalam bahasa rahasia dengan ekspresi yang sama dengan bahasa terjemahan. Sebagian terjemahan yang dilakukan oleh K.H Siradjuddin Abbas terbentuk dari rima dan ritme. Dengan hasil itu, terjemahannya tidak hanya mudah untuk dipecahkan tetapi juga mudah untuk dihafal.Kata Kunci: Al-Qur’an, Teknik Menerjemahkan, Bahasa Sunda
PERANAN KH. ABDULLAH ZAWAWI IZHOM DALAM PENYEBARAN ISLAM DI PALEMBANG padila -
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2354

Abstract

AbstractIn this paper examines how the role of KH. Abdullah Zawawi Izhom in the distribution of Islam in Palembang. The study in this paper discussed  the  history of KH Abdullah Zawawi Izhom’s role in the distribution of Islam in Palembang, from 1930 until 2013. Many others are studying about the great scholars and well known in the public, on the other hand if in further study the role of KH. Abdullah Zawawi Izhom in accessing Islam is also quite significant, and so far there has been no research that discussed about his role in the spread of Islam in Palembang.Researchers are very important to examine how the role of KH. Abdullah Zawawi Izhom in the spread of Islam in Palembang, because there are several reasons that make this research is interesting. The first is about KH figure. Abdullah Zawawi Izhom as a local cleric who is very active in spreading Islam in Palembang and so far there is no significant discussion about him. Second, is how the history of his struggle in introducing an era in various islam. Based on the argument, the big question in this research is how the role of KH. Abdullah Zawawi Izhom in the distributing of Islam in Palembang. In order to process the data obtained from the optimal results, in this study using role theory. In this study the authors use the historical method that aims to collect, evaluate and reveal facts to enforce facts and strong evidence. The findings of this study is K. H Abdullah Zawawi Izhom, one of the important figures in the spread of Islam in the city of Palembang with various evidence, such as relics of mosques and majlis ta'lim who is still active nowadays. Then in the form of dakwah that he did, he was directed to the informal targets, such as inter-mosque da'wah, musholla, or ta'lim assembly. He also bought more Muslims to the impelementation in daily life. Then to further disseminate the science he had, he printed some students to spread around Palembang to keep in distributing Islam.  
JARINGAN HABAIB DI JAWA ABAD 20 Agus Permana
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3583

Abstract

Penelitian ini mempunyai dua tujuan yaitu pertama untuk mengetahui islamisasi di Jawa  dan kedua untuk mengetahui peran habaib di Betawi dalam proses islamisasi pada abad ke 70. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan tahapan kerja pengumpulan data (heuristik), verifikasi (kritik), penafsiran (interpretasi) dan penulisan (historiografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi di Betawi selalu dikaitkan dengan awal penaklukan Betawi oleh Fatahilah sekitar tahun 1527 M. Akan Tetapi beberapa pengamat belakangan mengkritisi teori tersebut dan menyatakan bahwa Islamisasi di Betawi lebih tepat bila dikaitkan dengan ulama seperti Syekh Quro (Karawang), Datuk Ibrahim (Condet), Datu Biru (Jatinegara), Dato Tonggara (Cililitan), Mak Datu Tanjung Kait (Tangerang), Kumpi Datu (Depok). Dari penelitian ini juga diketahui bahwa pada abad ke 20 penyebaran dakwah Islam  di Jawa  semakin pesat dengan kedatangan para habaib dari Hadramaut. Eksistensi habaib di Jawa ini pada khirnya melahirkan jaringan habaib yang dibentuk baik secara geneologi, tradisi, organisasi, maupun peran dati tarekat alawiyah termasuk di dalamnya jaringan Rabithah alawiyah yang berdiri pada awal abad ke 20..
SEJARAH KONFLIK UMMAT ISLAM DI INDONESIA Zainurofiq Zainurofiq
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2098

Abstract

In the course of history, there are at least three problems that have induced conflicts among Muslim ummat in Indonesia. First, an ideological conflict that divides Muslims into those who aspires Islam as a basis of the state and those who promote nationalism as a principal basis of the state. Such a conflict has occurred in the 20th century and remains take place presently. Pancasila that has been issued as an ideology of the state is not more that just a compromised, middle-road solution to this conflict. Second, a conflict of religious thought that has embodied in the Islamic organizations. Formerly, this can take forms of ‘traditionalist’ and ‘reformist’ conflict that is represented respectively by Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, or even a conflict of intra-reformist organizations such as Muhammadiyah-Serikat Islam, or a conflict of intra-single organization as happens to NU. The emergence of new Islamic mass-organizations in the Reform era seems to be a valve of this conflict of religious thought. Third is a conflict of the nature and orientation of Indonesian culture. In the early 1930s, a sharp conflict revolving around whether Indonesian culture should emulate the Western culture or Eastern culture took place. The debate over Pornography Act currently is not other than a sort of this conflict.
KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA KEKHALIFAHAN BANI UMAYYAH (STUDI KASUS KEBERHASILAN KEBIJAKAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN KEGAGALAN GUBERNUR NASAR BIN SAYYAR PADA MASA KHALIFAH MARWAN II 744–750 MASEHI) Azidni Rofiqo; Fitra Rizal
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.5832

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keberhasilan dan kegagalan dari kebijakan pada era bani Umayyah. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif, sedangkan metode analisis dalam penelitian ini menggunakan anlisis kualitatif deskriptif yaitu dengan menelaah sumber terkait kebijakan-kebijakan di era bani Umayyah. Hasil dari berbagai telaah literatur ini digunakan untuk mengidentifikasi penyebab keberhasilan dan kegagalan dari kebijakan pada era bani Umayyah. Hasil atau temuan dalam penelitian ini adalah bahwa keberhasilan kebijakan di era bani Ummayyah pada masa kepemimpinan Umar II, diantaranya adalah kebijakan untuk fokus pada internal (tidak memperluas daerah kekuasaan), egaliter, penjagaan harta umat, efisiensi waktu dan tenaga, kecepatan penanganan urusan, penyederhanaan birokrasi, penyeleksian hakim, kepala daerah, dan pejabat, dan dialog persuasif dengan para pemberontak secara bijaksana. Sedangkan kegagalan kebijakan yang dikeluarkan oleh gubernur Nasar bin Sayyar diantarnya adalah reformasi pajak untuk mengurangi ketegangan sosial dan mengembalikan kontrol Umayyah yang stabil di Transoxiana, mengembalikan ibu kota provinsi dari Balkh ke Merv. masa keemasan bani Umayyah berlangsung pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan kebijakan yang pro-rakyat. Sedangkan runtuhnya Bani Umayyah berlangsung pada masa Marwan II yang mana Gubernur Khurasannya yaitu Nasr bin Sayyar. Dia mengeluarkan kebijakan perpajakan yang dikenakan kepada non Muslim sehingga menimbulkan beberapa pemberontakan dan runtuhnya dinasti Bani Umayyah.Kata Kunci: Kebijakan ekonomi, Umayyah, Umar bin Abdul Aziz, Nasar bin Sayyar

Page 11 of 21 | Total Record : 210