JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam)
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) publishes scientific articles in the fields of historical, social and humanities. JUSPI invites academics to publish their research articles, especially historical, social and humanities studies with Islamic themes, for example about Islamic groups or communities, Muslim minorities, culture and traditions, education, organization and politics, civilization, heritage and architecture, social change, intellectual and thought, biography, historiography, press and literacy, as well as science and technology. The editor also received a book review to be published in a special section of the publication. The articles can be written to be submitted in Indonesia and English. JUSPI is published by the Department of Sejarah Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. It is published twice a year in July and January.
Articles
188 Documents
Kearifan Lokal dalam Tradisi Mandi Balimau Kasai: Peran Pemangku Adat untuk Menjaga Nilai-nilai Islam di Desa Alam Panjang Kec. Rumbio Jaya Kab. Kampar Prov. Riau
Razali Pebrianto;
Heri Saputra;
Nurhasanah Bakhtiar
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1082.254 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.3172
Penelitian ini dilakukan di Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai Islam dan kearifan lokal masyarakat Melayu dari tradisi Mandi Balimau Kasai menurut adat Kampar. Penelitian ini adalah penelitian survey, yaitu peneliti turun ke lapangan dan melakukan wawancara. Cara pengambilan sampelnya dengan Purposive Sampling. Instrumen data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan keistimewaan Mandi Balimau Kasai merupakan acara adat yang mengandung nilai sakral yang khas. Mandi Balimau Kasai memiliki nilai-nilai Islam diantaranya sebagai wujud rasa syukur menyambut bulan Ramadhan karena telah diberikan nikmat oleh Allah, serta sebagai acara mensucikan diri secara zahiriyah. Mandi Balimau Kasai juga sebagai sarana silaturrahmi memperkuat rasa persaudaraan sesama muslim dengan saling mengunjungi dan meminta maaf kepada sesama. Tetapi, ajang yang semula dijadikan penyucian diri berubah makna menjadi ajang cari jodoh dan mandi bersama pasangan yang bukan mahram.Kata Kunci: Mandi Balimau Kasai, tradisi, kearifan lokal, nilai-nilai Islam.
Revolusi Islam terhadap Kondisi Sosial Masyarakat Arab
Muhammad Lukman;
Awaluddin Nasution;
Nurhasanah Bakhtiar
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1026.716 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.3801
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak revolusi Islam terhadap kondisi sosial masyarakat Arab. Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya adalah perkembangan puncak yang tampak dari kemurnian Islam itu sendiri. Penelitian ini memfokuskan pada pengembangan pendidikan Islam di masa Rasullulah SAW dengan menggunakan pendekatan kualitatif, menerapkan metode analisis isi. Revolusi Islam membawa pengaruh besar terhadap kondisi sosial masyarakat Arab yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial yang dijiwai oleh ajaran Islam dan merupakan cerminan dari sinar tauhid.Kata Kunci: Revolusi Islam, pendidikan Islam, kondisi sosial, masyarakat Arab.
Secular Humanism and Islamic Humanism – Is there a Common Ground?
Siti Hadija Mohd
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1054.515 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.4025
In the modern and post-modern world, we have loosely used the term humanism to describe many subjects and the use has been too broad for its specificity and objectivity to be precisely comprehended. In fact, at many points, it has lost positivity in light of discussion within the current century. The term humanism or humanist came from the 15th-century Italian academic world to describe the process of teaching and learning of art and literature between teachers and students. It is very interesting to find out that both the ancient Greeks-Romans and the early modern European use of the concept of humanism was very much in order to detach from the rising of scientific and empirical processes, as well as the rise of modern knowledge. Either way, the point attempted to be broken here is the fact that the early history and use of the concept of modernism had completely nothing to do with the detachment of religion or a divine influence from human life and choice. Humanism in both ancient Roman and middle-age European had little or no correlation with trying to steer clear neither from any religious influence nor from trying to be modernized with new knowledge from the scientific world. Humanity and humanism in Islam shall be limited to the recognition of human rights, effort, kindness, generosity, being productive and giving benefits to others in the society, instead of having the limitless and boundless definition, which has become meaningless.Keywords: Secular humanism, Islamic humanism, ideology.
Islam di Afrika Utara
Vita Ery Oktaviyani
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1039.309 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.1733
Artikel ini membahas mengenai sejarah Islam di Afrika Utara dan bagaimana keberadaan umat muslim di Afrika Utara. Saat era kejayaan Islam di Spanyol berakhir, masyarakat muslim di Afrika Utara justru memasuki tahap perkembangan baru. Perkembangan Islam di Afrika Utara mempengaruhi perkembangan politik dan pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan arsitektur, serta perkembangan peradaban Islam di Afrika Utara dan hubungannya dengan Andalusia.Kata Kunci: Islam, Afrika Utara, Peradaban Islam
Interaksi antara Gerakan Sosial modernisme Muhammadiyah dengan Kegiatan Tradisional Yaqowiyyu di Jatinom
Hanafi Husni Mubaroq
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1047.42 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.4076
Penelitian ini bertujuan untuk memahami interaksi antara gerakan sosial modernisme yang dibawa oleh organisasi Muhammadiyah dengan kegiatan ritual kebudayaan Yaqowiyyu di Jatinom. Yaqowiyyu merupakan salah satu bentuk tradisi yang masih dilestarikan di Klaten. Tradisi Yaqowiyyu diwariskan dari Kyai Ageng Gribig, ulama besar di tanah Jawa. Tradisi ini dilaksanakan pada tiap pertengahan bulan Safar tahun Hijriyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi dengan cara pengumpulan data secara kualitatif, mewawancarai pelaku sejarah yang masih hidup dan menganalisis dokumen-dokumen yang sudah ada. Beberapa warga Muhammadiyah ingin terus melestarikan salah satu kebudayaan yang lama ada di Jatinom dengan tidak memasukkan ideologi yang dikhawatirkan dapat merusak akidah orang Islam. Muhammadiyah menanamkan dan meluruskan arti sebenarnya dalam Tradisi Yaqowiyyu dan dengan tidak menyimpang dari syariat Islam.Kata Kunci: Yaqowiyyu, interaksi budaya, upacara tradisional, Muhammadiyah.
Cadar: Antara Ajaran Agama dan Budaya
Mujahidin Mujahidin
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1031.06 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.3142
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mulai dari asal usul cadar wanita, pengertian cadar, hingga cadar menurut persepsi agama dan budaya. Selanjutnya penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan penelitian kepustakaan terhadap sumber tertulis seperti artikel dan buku-buku, yang di dalamnya terdapat data-data tanpa melewatkan proses verifikasi dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umat Islam menganggap cadar berasal dari budaya masyarakat Arab yang akhirnya menjadi pembahasan dalam Islam. Asal-usul cadar semakin ditujukan ke bangsa Arab sebagai budaya mereka. Padahal bisa terjadi tradisi bercadar tidak berasal dari mereka. Banyak sekali tuduhan-tuduhan tidak penting terhadap Islam yang datang dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti halnya mereka menuduh hijab dan cadar berasal dari budaya perempuan-perempuan Arab jauh sebelum Islam masuk, tepatnya di masa Jahiliyah, kemudian berlanjut warisan jahiliyah ini ke orang-orang Muslim di abad-abad berikutnya, khususnya setelah masa Nabi. Mereka sangat pandai berusaha menghantam beberapa ajaran Islam, seperti mencari sejarah lahirnya cadar atau beberapa tradisi masyarakat tertentu yang dikaitkan ke masalah syari’ah, agar menggoncang pembahasan yang telah ditetapkan oleh ulama sebagai ahlinya.Kata Kunci: Cadar, agama, budaya.
Pemikiran Karen Armstrong tentang Tuhan Menurut Perspektif Islam
Nurmiah Nasution
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1213.536 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.4370
Artikel ini bertujuan untuk memahami pemikiran Karen Armstrong tentang Ketuhanan dan pandangannya tentang Islam. Kajian ini merupakan pustaka. Pemikiran Karen Armstrong dalam buku Sejarah Tuhan dan Masa Depan Tuhan merupakan rujukan primer, sementara itu rujukan sekunder diambil dari buku-buku dan berbagai media lain. Menurutnya, agama berisikan dogma yang harus ditaati dari apa yang diperintahkan di dalamnya dan menjauhi dari apa yang dilarang adalah kebaikan untuk semua umat manusia dari agama apapun, baik Yahudi, Nasrani, maupun Islam. Adapun tindakan-tindakan keji yang bersifat mengganggu, menyakiti dan merugikan umat lain itu bukanlah ajaran yang patut untuk dilakukan dari sebuah agama. Karen Armstrong mampu mengejutkan pembacanya, bahkan terang-terangan mengatakan bahwa Tuhan itu personal. Dia menggambaran bahwa Tuhan seperti manusia, dalam artian memiliki pribadi dan masa depan Tuhan adalah tergantung pada persepsi manusia.Kata Kunci: Karen Armstrong, Tuhan, Islam.
Moderat Antar Umat, Organisasi dan Pendidikan
Malia Fransisca
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1252.406 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.4375
Artikel ini membahas mengenai sikap moderat antar umat Islam, dalam organisasi dan pendidikan. Kajian ini menggunakan literature review. Moderat memiliki makna tersurat dan tersirat. Makna tersurat dari kata moderat adalah pertengahan. Sementara makna tersirat adalah seseorang yang disetujui moderat bila dia menuntut selalu mencari jalan tengah untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Mencari jalan tengah berarti juga memiliki sikap terhadap yang tinggi dengan tidak mengedepankan ego masing-masing. Yang diinginkan para moderan ini hanyalah perdamaian, kerukunan, tidak ada kekerasan, pertikaian berlebihan kematian. Sikap moderat dibutuhkan dalam setiap elemen seperti organisasi dan pendidikan.Kata Kunci: Moderat, organisasi, pendidikan.
Peran Sungai Musi dalam Perkembangan Peradaban Islam di Palembang: Dari Masa Kesultanan sampai Hindia-Belanda
Ida Farida;
Endang Rochmiatun;
Nyimas Umi Kalsum
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1043.327 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.4079
Artikel ini mengkaji tentang peran Sungai Musi dalam perkembangan peradaban Islam di Palembang yang dipengaruhi oleh Sungai Musi dan anak-anak sungainya. Kajian historis mengambil rentang waktu pada masa Kesultanan Palembang Darussalam sampai Hindia-Belanda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Morfologi perkotaan Palembang mengikuti alur Sungai Musi mulai dari muara Sungai Ogan sampai ke muara Sungai Komering dengan bentuk seperti pita. Karena sangat ditentukan oleh sungai, maka ketika Islam berkembang di daerah ini membentuk peradaban sesuai dengan kondisi geografisnya. Pada masa Hindia-Belanda, beberapa warisan peradaban ini mengalami penyesuaian dengan kepentingan politik pembangunan. Morfologi Palembang berubah menjadi “kota daratan”. Meski belum sepenuhnya, ada upaya adaptasi dari masyarakat atas perubahan-perubahan itu. Morfologi kota berubah, dari waterfront menjadi waterback. Simbol-simbol Islam lokal mulai tergantikan dengan simbol-simbol kolonialis. Bahkan, arsitektur masjid dan keraton tidak luput dari unsur-unsur kolonialis.Kata Kunci: Sungai Musi, peradaban Islam, Palembang.
Sakralitas Sains Islam: Studi Historis Sains Islam Abad Pertengahan dan Sains Modern
Fadhlu Rahman;
Anas Amarulloh
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1083.945 KB)
|
DOI: 10.30829/juspi.v3i1.4337
Paradigma sains positivis berasumsi bahwa pengetahuan yang tak dapat diverifikasi secara empiris tidak bermakna, sehingga secara tidak langsung sains positivis mereduksi sistem pengetahuan dan membatasinya pada sesuatu yang bersifat fisik. Dampaknya adalah pengetahuan haus akan pencarian kebenaran sejati, karena pada sejarahnya secara alami manusia sebagai pencari ilmu tak dapat terlepas dari kesakralan yang berstatus metafisik. Sains Islam menjadi antitesis dari keadaan sains modern. Para ilmuan Islam mendasari proses pencarian ilmunya pada diri yang absolut (Tuhan), sehingga sains dianggap sebagai sebuah sistem penyingkap tabir penghalang pengetahuan Tuhan sekaligus mampu menjadi kiblat pengetahuan sedunia. Tulisan ini berusaha menunjukan kemungkinan-kemungkinan sains secara potensial untuk kembali kepada realitas abadi dengan cara menunjukan fakta-fakta sejarah sains Islam berbasiskan metode historis pada abad pertengahan, serta menjadikannya pijakan kritik pada sains modern. Ini sehingga dapat disimpulkan bahwa sains secara potensial dapat berkembang sekaligus kembali pada realitas yang abadi.Kata Kunci: Sains Islam, sakralitas, sejarah.