cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
Eksistensi Punden Berundak di Pura Candi Desa Pakraman Selulung, Kintamani, Bangli (Kajian Tentang Sejarah dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah) I Wayan Pardi
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i3.1020

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui sejarah keberadaan punden berundak di Pura Candi di Desa Pekraman Selulung, Kintamani, Bangli. (2) Mengetahui alasan punden berundak di Pura Candi di Desa Pekraman Selulung, Kintamani, Bangli masih tetap eksis di tengah perkembangan jaman. (3) Mengetahui aspek yang terdapat di punden berundak yang bisa dikembangkan menjadi sumber belajar sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah yaitu: (1) Heuristik (Pengumpulan Data), (2) Kritik Sumber, (3) Interpretasi, (4) Historiografi (Penulisan Sejarah). Penelitian ini menghasilkan temuan, antara lain: (1) Punden Berundak di Pura Candi merupakan bangunan yang bercorak megalitik dan memiliki bentuk yang bertingkat-tingkat, makin ke atas tingkatan bentuknya akan semakin mengecil dan pada bagian puncaknya terdapat batu tegak (menhir). Sejarah keberadaan punden berundak di Pura Candi Desa Pakraman Selulung adalah kemungkinan dibangun pada masa transisi antara masa prasejarah dengan masa Hindu, yaitu antara abad ke 1-4 masehi. (2) Alasan pemertahanan Punden Berundak di Pura Candi Desa Pakraman Selulung meliputi: (a) Alasan keyakinan, (b) Alasan melawan pengaruh modernisasi, (c) Alasan melawan pengaruh globalisasi, dan (d) Alasan Historis. (3) Aspek yang terdapat di punden berundak yang bisa dikembangkan menjadi sumber belajar sejarah antara lain, (a) Aspek bentuk fisik bangunan, (b) Aspek historis, (c) Aspek gotong royong dan kebersamaan, dan (d) Aspek religius.
IDENTIFIKASI MASJID KUNO GUNUNG PUJUT DI DESA SENGKOL, PUJUT, LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT, SEBAGAI BAHAN PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL ISROMI ALMAIDATA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i3.1021

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) sejarah Masjid Kuno Gunung Pujut, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, (2) struktur dan bentuk bangunan Masjid Kuno Gunung Pujut, (3) aspek-aspek yang terkandung dalam Masjid Kuno Gunung Pujut yang dapat dijadikan bahan pengembangan sumber belajar sejarah lokal. Sasaran penelitian ini adalah Masjid Kuno Gunung Pujut yang berada di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Data dikumpulkan dengan metode observasi, studi dokumen, wawancara, selanjutnya kritik sumber, interpretasi, historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Masjid Kuno Gunung Pujut diperkirakan berdiri sekitar tahun 1008 H = tahun caka 1509 = 1587 M, dipimpin para Wali di bawah pimpinan Baginda Raja secara bergotong royong, masjid ini di bangun di puncak gunung pujut karena kerjaan pujut ada di atas gunung pujut. Para Wali mengajarkan agama Islam sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dan terarah dengan lambang atau sImbol,tujuan didirikan masjid dikarenakan oleh faktor agama (2) struktur bangunan Masjid Kuno Gunung Pujut sama dengan struktur bangunan Masjid Demak di Jawa. Bangunan Masjid mempunyai luas 9 m2, maknanya mengingatkan kita kepada kesembilan Wali. Bangunannya tegak menjulang, atapnya hampir menyentuh tanah. Hal ini mengandung makna: setiap orang hendak melakukan shalat haruslah merendahkan diri menyembah tuhan yang tinggi, (3) Sejarah Masjid Kuno Gunung Pujut sebagai sumber belajar sejarah melalui masuknya Islam di pulau Lombok, yang terdapat pada pelajaran kelas XI Semestar I. Sejarah berdirinya masjid, struktur bentuk bangunan masjid. Kata Kunci : Sejarah Masjid, Wali, Islam, Sumber Belajar dan Sejarah Lokal
Pemanfaatan Film Dokumenter Dan Foto-Foto Kesejarahan Sebagai Media Dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar IPS Di Kelas X Tata Busana SMK Negeri 2 Singaraja. Kadek Ermanda Kurniawan
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1022

Abstract

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah apakah pemanfaatan film dokumenter peristiwa sejarah dan foto-foto tokoh pelaku sejarah sebagai media pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas, hasil belajar dan respon siswa pada mata pelajaran IPS materi sejarah di kelas X Tata Busana.Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek adalah siswa kelas X Tata Busana semester 2 di SMK Negeri 2 Singaraja dengan jumlah 38 siswa perempuan. Sedangkan objek penelitian adalah aktivitas, hasil belajar siswa dan respon siswa.Metode pengumpulan data adalah metode penelitian tindakan kelas, wawancara dan observasi yang dilakukan pada pelaksanaan PPL-Real di SMK Negeri 2 Singaraja pada semester 1.Permasahalan yang didapat berasal dari kurangnya motivasi siswa dan kurangnya guru IPS dalam penggunaan modul dan media pembelajaran IPS pada materi sejarah.Dari hasil penelitian tindakan kelas dan analisis dapat diperoleh hasil sebagai berikut dengan pelaksanaan penelitian sebanyak 3 siklus: (1) aktivitas belajar siswa mendapatkan skor rata-rata 48% pada siklus 1, 63,75% pada siklus 2 dan 73,75% pada siklus 3. (2) Hasil belajar siswa mendapatkan skor rata-rata 63,26%, ketuntasan belajar 57,89% dan hasil belajar kelompok mendapatkan skor rata-rata 64,8% pada siklus 1, pada siklus 2 hasil belajar siswa mengalami penurunan yaitu dengan nilai skor rata-rata 61,84%, ketuntasan belajar 44,73% dan nilai hasil belajar kelompok 61,8% dan pada siklus 3 hasil belajar siswa megalami peningkatan yaitu dengan nilai skor rata-rata 80,40%, ketuntasan belajar 73,68% dan nilai hasil belajar kelompok 80,6%. Hasil belajar lainnya juga di peroleh dari ulangan harian yang dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu pada ulangan harian 1 siswa mendapatkan nilai skor rata-rata 82,74% dan ketuntasan belajar 78,95% sedangkan pada ulangan harian 2 siswa mendapatkam skor rata-rata 81,16% dan ketuntasan belajar 84,21%. (3) Hasil respon siswa dilakukan dengan perbandingan antar siklus, yaitu pada siklus 1 dan siklus 2 respon siswa mengalami peningkatan 10,97% dan pada siklus 2 dan siklus 3 mengalami peningkatan 10%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS khususnya Standar Kompetensi sejarah di kelas X Tata Busana SMK Negeri 2 Singaraja. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif STAD, Aktifitas, Hasil Belajar dan Respon Siswa
“SEJARAH DAN SISTEM PENDIDIKAN DI UPTD SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) BULELENG, BALI” Ketut Pasek Agung Wihikan
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1023

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang didirikanya UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Buleleng, Bali, (2) mengetahui sistem pendidikan di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Buleleng, Bali, (3) mengetahui dinamika dari UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Buleleng, Bali. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahap-tahap ; (1) heuristik (observasi, wawancara, studi dokumentasi), (2) kritik sumber, (3) interpretasi (analisi data), (4) historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) ada tiga faktor yang melatar belakangi pembangunan UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Buleleng, dilihat dari faktor politik, faktor sosial, dan faktor ekonomi, (2) sistem pendidikan di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Buleleng terdiri dari (1) unsur masukan (raw input), (2) input instrumen, (3) input lingkungan (environmental input), (4) output, (3) dinamika di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Buleleng dilihat dari input, dari tahun 2009 sampai sekarang mengalami penurunan, dan dinamika output di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Buleleng terus stabil.
ANALISIS ISI DHARMA WACANA AGAMA HINDU MELALUI BALI TV DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN KARAKTER (Studi Kasus Pedharma Wacana Ida Pandita Mpu Jaya Acaryananda) NI PUTU RIKHA WAHYUNI
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Mengapa Bali TV mengembangkan program siaran Dharma Wacana sebagai media Pendidikan Karakter, (2) Komponen – komponen Pendidikan Karakter apa saja yang terdapat dalam Dharma Wacana yang disampaikan oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acaryananda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskritif Kualitatif dengan langkah – langkah yaitu, (1)Teknik Penentuan Informan, (2) Teknik Pengumpulan Data (Teknik Studi Dokumentasi, Observasi, Teknik Wawancara), (3) Teknik Analisi Isi, (4)Teknik Analisis Data, (5)Teknik Pengolahan Data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, ada dua alasan Bali TV mengembangkan program siaran Dharma Wacana dilihat dari : (a) Dilihat dari bidang budaya, Bali TV mampu memberikan penerangan atau pencerahan pada masyarakat Bali dan tetap mengajegkan budaya Bali, (b) Dilihat dari bidang pendidikan, Bali TV mampu menjadi media pembelajaran yang mencerahkan dan menanamkan pendidikan karakter pada pemirsanya. Komponen pendidikan karakter yang terdapat dalam setiap siaran Dharma Wacana yang disampaikan oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acaryananda yaitu : (a) Tanggung jawab, (b) Ketulusan, (c) Tekun, (d) Integritas. Komponen – komponen yang terkandung dalam Dharma Wacana inilah yang akan membentuk karakter moral seseorang individu.
CANDI BUDHA KALIBUBUK DI DESA KALIBUKBUK, BULELENG-BALI (SEJARAH PENEMUAN, BENTUK , UKURAN, PROSES PEMUGARAN DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS TERPADU SERTA PENGGUNAANYA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL) Putu Penti Sarjana
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1025

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui proses penemuan, bentuk dan proses pemugaran Situs Budha Kalibubuk (2) Untuk mengetahui strategi belajar dalam pemanfaatan Candi Budha Kalibukbuk sebagai sumber Pembelajaran di SMP Negeri 3 Banjar. (3) Untuk mengetahui aspek-aspek yang berguna dari Candi Budha Kalibukbuk sebagai sumber pembelajaran IPS Terpadu dan kontribusinya dalam perkembangan sejarah Lokal di Bali Utara. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan pengkajian ke situs Candi Budha Kalibukbuk dan mencari solusi dalam pemecahan yang dihadapi oleh pembelajaran IPS terpadu terkait kurangnya minat siswa disekolah dalam mempelajarinya dengan mengembangkan sumber pembelajaran diluar kelas dengan Candi Budha Kalibukbuk sebagai sasaranya. Dalam pengembangan pembelajaran ini peneliti menggunakan kelas VII-1 pada SMP Negeri 3 Banjar. Selain itu peneliti mencoba mengkaji potensi yang dimiliki oleh Candi Budha Kalibukbuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif. Adapun langkah-langkahnya yaitu penentuan tempat penelitian, metode penentuan informan, metode pengumpulan data yang terdiri dari teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi, teknik validitas data, dan metode Analisis data. Penentuan tempat dan informan dipergunakan sebagai acuan obyek penelitian dan sumber informasi yang mendukung penelitian. Data-data di dapatkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian divaliditas dan dianalisis dengan langkah-langkah kualitatif. Hasil penelitian ini ialah (1) Candi Budha Kalibukbuk ditemukan pada tahun 1994, candi ini berbentuk stupa yang terdiri dari 2 Candi Perwara dan 1 Candi Induk. Ukuran Candi Induk dengan tinggi 12 meter dan lebar 7 meter dan Candi Perwara berukuran tinggi 5 meter dan lebar 2,7 meter; (2) Strategi yang bisa dipergunakan dalam pemanfaatan Candi Budha Kalibukbuk sebagai sumber pembelajaran diantaranya model kontekstual, pembelajaran diluar kelas, metode karyawisata, inquiri dan diskusi kelompok dan hasilnya metode ini mampu meningkatkan kreatifitas dan pemahaman siswa; (3) Aspek-aspek dari Candi Budha Kalibukbuk yang dapat dikembangkan dari sumber pembelajaran diantaranya aspek bentuk, aspek pewarisan nilai toleransi dan candi ini memiliki nilai yang strategis bagi perkembangan sejarah bagi Bali pada umunya dan Bali utara pada khususnya.
PURA BEJI SEBAGAI CAGAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI DESA SANGSIT, SAWAN, BULELENG, BALI I Gede Yogi Adi Prawira
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1026

Abstract

Tujuan penelitian ini (1) Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pura Beji dijadikan Cagar Budaya, (2) Untuk mengetahui aspek-aspek yang terdapat di pura Beji yang memiliki nilai-nilai pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan langkah-langkah yaitu (1) Teknik penentuan informan menggunakan teknik snow ball; (2) Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen, observasi, dan wawancara; (3) Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) faktor-faktor yang melatarbelakangi pura Beji dijadikan Cagar Budaya adalah faktor politik yaitu adanya usulan dari tetua desa Sangsit untuk melestarikan pura Beji sebagi Cagar Budaya hal ini dilakukan untuk menghindari klaim masyarakat Sangsit terhadap benda-benda peninggalan sejarah tersebut yang diperkirakan berdiri pada abad XV pada masa pemerintahan Pasek Sakti Batu Lepang, dan faktor budaya yaitu pura Beji memiliki keunikan khas Buleleng yaitu motif ukiran bunga yang bercukilan lebar, dangkal tapi runcing (2) aspek-aspek di pura Beji yang memiliki nilai-nilai pendidikan terdapat pada jajaran palinggih-palinggih yang semuanya itu mengandung fungsi religius, fungsi sosial, fungsi pelestarian budaya, dan dan fungsi pendidikan. Pura Beji juga mengandung nilai-nilai pendidikan seperti pendidikan tatwa, pendidikan ritual, pendidikan etika dan pendidikan estetika. Kata Kunci : Pura Beji, Cagar Budaya, Pendidikan.
PEWARISAN NILAI – NILAI KEPAHLAWANAN MELALUI PEMENTASAN BARIS JANGKANG DI DESA PAKRAMAN PELILIT, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI Ayu Wantiasih
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1027

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah keberadaan Baris Jangkang di Desa Pakraman Pelilit, Nusa Penida, Klungkung, Bali; (2) prosesi pementasan Baris Jangkang dalam kaitannya dengan ritual di Pura Desa di Desa Pakraman tersebut; dan (3) nilai-nilai kepahlawanan yang bisa diwariskan kepada masyarakat di Desa Pakraman setempat lewat pementasan Baris Jangkang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) metode penentuan informan; (2) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi); (3) metode penjaminan keabsahan data; (4) metode analisis data; dan (5) metode penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Baris Jangkang terlahir dari kemenangan yang diperoleh oleh Desa Pelilit melawan Desa Watas dan Desa Tanglad dalam sebuah perang perebutan wilayah kekuasaan yang terjadi di Desa Pelilit. Nama Baris Jangkang sendiri berasal dari kalahnya musuh melawan Desa Pelilit dengan berlari terjengkang-jengkang, sehingga oleh I Jero Kulit diciptakanlah sebuah tarian yang disebut dengan Baris Jangkang karena melibatkan barisan pasukan. Prosesi pementasan Baris Jangkang diawali dengan tabuh oleh sekaa gong. Jro mangku nyakap banten, sedangkan penari merias diri. Sebelum pementasan dimulai, semua penari, penabuh, dan alat musik diberikan tirtha penglukatan untuk menyucikan agar tidak terjadi hal yang tidak diharapkan dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan untuk memohon agar Ida Sang Hyang Widhi Wasa merestui dan menghidupkan tarian sehingga memiliki taksu. Pementasan Baris Jangkang berlangsung sekitar 15 menit diiringi dengan pesantian sebagai penetralisir kekuatan jahat yang mengganggu para penari. Nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diwariskan kepada masyarakat di Desa Pakraman setempat lewat Baris Jangkang antara lain: (1) nilai keberanian; (2) nilai persatuan; (3) nilai rela berkorban; (4) nilai patriotisme; dan (5) nilai religius. Kata Kunci: sejarah, prosesi, pewarisan nilai kepahlawanan, Baris Jangkang.
“PURA GOA GIRI PUTRI” SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN MULTIKULTUR BAGI WARGA DESA PAKRAMAN SUANA, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI Ayu Jaya Wardani
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah berdirinya Pura Goa Giri Putri; (2) Struktur dan fungsi jajaran pelinggih di Pura Goa Giri Putri; dan (3) Unsur-unsur yang bisa dimaknai sebagai media pendidikan multikultur bagi warga Desa Pakraman Suana dan pengunjung yang datang ke pura ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) Penentuan lokasi penelitian; (2) Metode penentuan informan; (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka); (4) Metode penjaminan keabsahan data; (5) Metode analisis data; dan (6) Metode penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pura Goa Giri Putri adalah pura yang berada di Desa Pakraman Suana berdiri pada masa pemerintahan Dalem Bungkut pada tahun Saka 200 yang menganut sistem kepercayaan Majapahit yang sebelumnya sudah turun Dewa Siwa dan Dewi Kwam In di satu goa di Nusa Penida pada tahun Saka 50. Struktur dan fungsi jajaran pelinggih Pura Goa Giri Putri antara lain (1) Strukturnya menggunakan Struktur Areal; (Areal Pertama); (Areal kedua); (areal ke tiga); (Areal keempat); (areal kelima); dan (Areal keenam/terakhir); (2) Fungsi Pelinggih-pelinggih Pura Goa Giri Putri yakni: (1) Pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu dalam wujud manefestasinya sebagai bhatara-bhatari; (2) Pemujaan terhadap dewa-dewi non Hindu; (1) Dewi Kwam In; (2) Altar Dewa Langit. Pada Pura Goa Giri Putri terdapat beberapa unsur-unsur yang bisa dimaknai sebagai media pendidikan multikultur antara lain: (1) Pelinggih Dewi Kwam In; (2) Pangayongan Altar Dewa Langit ; (3) Pelinggih Dewi Gangga; (4) Pelinggih Dewa Ganesha; (5) Para pemedek (pengunjung) yang tangkil dari berbagai kalangan dan berbagai kepercayaan; (6) Tata cara persembahyangan/sujud bhakti para pemedek pada areal keenam.
Pura Puru Sada Sebagai Cagar Budaya Dilihat dari Persepetif Sejarah, Struktur dan Fungsinya Sebagai Media Pendidikan Pewarisan Nilai Budaya. I Pt Agus Eka Sanjaya
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1029

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah berdirinya Pura Purushada di Desa Kapal, Badung, Bali; (2) struktur Pura Purushada tersebut; dan (3) fungsi dari Pura Purushada sebagai media pendidikan pewarisan nilai budaya. Penelitian ini menggunakan metode kerja sejarah yaitu: (1)Heuristik (pengumpulan bukti/jejak melalui teknik observasi, studi dokumen dan wawancara); (2) Kritik Sumber; (3) Interprestasi; dan (4) Historiagrafi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pura Purusadha berdasarkan sumber-sumber yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukan bahwa pura ini dibangun pada abad ke-12 M dimasa pemerintahan Sri Maharaja Jaya Sakti dan nantinya dilanjutkan oleh Raja Mengwi pertama yang bernama I Gusti Agung Ngurah Made Agung Bima Sakti atau Cokorde Sakti Blambangan, yang berhasil menguasai Buleleng, Blambangan, Jembrana dan Mengwi. Hal ini didukung pula oleh adanya pelinggih yang bernama pelinggih Ratu Made. Sedangkan pemangkunya adalah keturunan dari Ki Gusti Celuk yang bernama Ki Demang Copong. Mengenai struktur pura ini menggunakan Tri Mandala dan pada mandala utama terdapat Prasada yang menjadi cirri khas dari pura ini dan terdapat patung Sri Jaya Nengrat dan Ratu Manik Galih sebagai benda cagar budaya. Fungsi Pura Purusadha sebagai pewarisan nilai budaya dapat disoroti dari fungsi nilai religius magis,nilai dibidang politik dan nilai yang bersifat laten yang cenderung bersifat sosial ekonomis.