cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 557 Documents
Tumbuhnya Solidaritas Sosial Di Tengah Banjir Bandang Semarang Tahun 1990 Harini, Okti Ria; Wijayati, Putri Agus
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v13i2.98213

Abstract

This article aims to revisit the emergence of social awareness among the people of Semarang during the flood disaster of 1990. That year, the flood was caused by both natural and non-natural factors. One of the triggers was heavy rainfall, which caused the Kaligarang River to overflow and flood the areas of Sampangan, Simongan, and Bongsari. These three areas suffered significant losses, both material and non-material. In addition, the flood, categorized as a large-scale disaster, or as the community referred to it, a "flash flood," which occurred at 2:00 AM local time, not only shocked the people but also had an extraordinary impact on various aspects. One of the most felt impacts was the social aspect, as many residents lost their homes and belongings. This study uses historical research methods, starting with the collection of primary sources, both written and oral. Written primary sources were mainly found in the Suara Merdeka newspaper from the same year the flood occurred. Meanwhile, oral primary sources were gathered through interviews with three informants. The research findings revealed that the flood in Semarang on January 26, 1990, was able to foster social awareness among the city's residents. This was a condition rarely seen before, as the city's citizens were more individualistic. However, the 1990 flood helped cultivate a sense of solidarity among the city's residents. This solidarity was not only from the local community but also from various groups such as the Health Department, social organizations, corporations, religious organizations, and students. The active participation of many parties created social bonds that became key in forming survival patterns in the city. Keywords : Social Solidarity, Flash Flood, Semarang City
Dari Petani Ke Pengrajin: Industri Aksesoris Dalam Pakaian Adat Bali Tahun 1990-2024 Di Desa Undisan Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali, Dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Di SMA Ni Putu Satya Oka Dewi; I Made Pageh; Desak Made Oka Purnawati
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v13i3.100678

Abstract

Penelitian ini mengkaji sejarah dan perkembangan industri aksesoris busana tradisional Bali di Desa Undisan Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, dari tahun 1990 hingga 2024, dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah untuk pendidikan sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan asal usul industri, (2) menganalisis dinamika perkembangan produk, dan (3) mengidentifikasi aspek-aspek yang relevan untuk tujuan pendidikan. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah termasuk heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Temuan utama mengungkapkan bahwa: (1) Kemunculan industri dipengaruhi oleh empat faktor produksi: sumber daya manusia, bahan baku, modal, dan peralatan; (2) Perkembangannya terjadi dalam dua periode yang berbeda - fase tradisional (1990-2010) dan fase inovatif (2010-2024) - ditandai dengan diversifikasi produk, evolusi sistem pemasaran, dan adaptasi terhadap tren pasar termasuk penggabungan emas asli; (3) Selain manfaat ekonomi, industri ini berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya. Dimensi sejarah, budaya, dan ekonomi menunjukkan relevansi yang kuat sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal, khususnya untuk metodologi penelitian sejarah dalam kurikulum sekolah menengah. Studi ini berkontribusi pada kajian sejarah dan menyediakan kerangka kerja untuk mengembangkan bahan pembelajaran kontekstual dalam pendidikan sejarah. Kata Kunci : Industri Aksesoris, Pakaian Adat Bali, Sumber Belajar Sejarah, Undisan Kelod
KLENTENG SUMBER NAGA SEBAGAI TEMPAT IBADAH TRI DHARMA DI DESA MANGUNHARJO, MAYANGAN, PROBOLINGGO SEJARAH, DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA Wafi, Abdul; Maryati, Tuty; Martayana, Putu Hendra Mas
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v13i2.102505

Abstract

This study aims to: 1) Explain the history of the establishment of Sumber Naga Temple as a TriDharma place of worship in Probolinggo, and 2) Explore the function of Sumber Naga Temple as apotential source for history learning in senior high schools. The researcher employed historicalresearch methods in this study. Data were collected through observation, interviews, and documentanalysis. The findings of the study indicate that: 1) The history of Sumber Naga Temple inProbolinggo officially began in the 4th year of Tongzhi (1865), founded by Wen Baochang, the brotherof Wen Yuanchang, along with several members of the Han family and 172 registered donors. 2)Sumber Naga Temple holds potential as a source of historical learning for the community, teachers,and students. It also broadens understanding of architectural development, the temple’s charactereducation values, local history, and the influence of Tri Dharma temples on the Chinese ethniccommunity in East Java.
Ritual Wuat Wa`I Di Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai Sebagai Model Penguatan Profil Pelajar Pancasila Di SMA Both, Lusitiana; Purnawati, Desak Made Oka; Arta, Ketut Sedana
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v13i3.101719

Abstract

This research aims to examine the history of the Wuat Wa’i tradition, understand the social processes of the community in Barang Village, Cibal District, Manggarai Regency in obtaining financial support through the Wuat Wa’i ritual, and identify models that can be developed to strengthen the Pancasila Student Profile at the Senior High School (SMA) level. The approach used in this research is descriptive qualitative, aiming to provide an in-depth description of the ongoing social phenomenon. The data sources used in this study are divided into two types: primary data and secondary data. The technique for determining informants applied is purposive sampling, which is the intentional selection of informants based on specific criteria relevant to the research focus. The research findings reveal several main discoveries: 1) The Wuat Wa’i tradition is essentially a cultural practice carried out as a form of prayer to God through the intercession of ancestors, which is manifested in the teing hang ise empo event (feeding the ancestors). This tradition initially involved only family members, where financial contributions were made voluntarily without coercion. Over time, this practice evolved into a fundraising event to support children's education and is known as the school party. 2) The implementation of the Wuat Wa’i ritual involves six sacred rites, including: calling the spirits of ancestors through prayers at the graves, rahi lonto leok (a greeting expression to guests), presenting tuak and cepa (arak and betel), the torok manuk Wuat Wa’i procession, toto urat, and helang (offerings for ancestors). 3) The model that can be developed in the context of strengthening the Pancasila Student Profile in high schools, based on the results of this research, includes values: faith and piety to God Almighty, mutual cooperation, critical reasoning, and noble character
Pura Tamba Waras di Desa Sangketan, Penebel, Tabanan, Bali ( Sejarah, Struktur, dan Fungsi Sebagai sumber Belajar Sejarah di SMA) Dewa Ayu Putu Kartika Sugiantari; I Wayan Putra Yasa; I Wayan Pardi
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v14i1.105721

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji sejarah dan latar belakang keberadaan Pura Tamba Waras di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, struktur dan fungsinya bagi masyarakat Hindu setempat, serta nilai-nilai yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian dilaksanakan di Desa Sangketan menggunakan metode historis yang meliputi tahapan heuristik melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pura Tamba Waras memiliki latar historis yang berkaitan erat dengan perkembangan tradisi Hindu-Buddha di Bali dan berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan masyarakat secara turun-temurun. Struktur pura disusun berdasarkan konsep Tri Mandala dengan berbagai pelinggih yang memiliki fungsi religius, spiritual, sosial, dan budaya. Selain itu, Pura Tamba Waras mengandung nilai spiritual, religius, sosial, budaya, dan pengetahuan yang selaras dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut relevan dengan capaian pembelajaran Fase E Kurikulum Merdeka, khususnya materi Penelitian Sejarah, sehingga Pura Tamba Waras berpotensi sebagai sumber belajar sejarah berbasis kearifan lokal. Kata Kunci: Pura Tamba Waras, Sejarah Lokal, Struktur dan Fungsi Pura, Sumber Belajar Sejarah, Kurikulum Merdeka.
Jejak Toleransi dari Bali Utara: Akulturasi dan Harmoni Al-Qur’an Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi (1820) serta Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA Na'ala Raudhoh; I Wayan Pardi; I Made Pageh
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v14i1.111435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Jejak toleransi dari Bali Utara melalui analisis akulturasi budaya dan Harmoni yang terkandung dalam Al-Qur’an Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi (1820), serta mengidentifikasi potensinya sebagai sumber belajar sejarah di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas 7 informan atau narasumber yang dipilih secara purposive, meliputi tokoh adat, tokoh agama, akademisi, dan pendidik yang memahami konteks sejarah dan nilai-nilai toleransi dalam naskah tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, sedangkan teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi (1820) merefleksikan akulturasi budaya Hindu–Islam yang kuat serta Harmoni yang menekankan nilai toleransi, harmoni, dan saling menghormati antarumat beragama. Selain itu, kajian ini menunjukkan bahwa naskah tersebut memiliki potensi yang signifikan untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA, khususnya dalam pembelajaran sejarah lokal dan penguatan pendidikan karakter berbasis nilai toleransi dan keberagaman.
Dari Situs Kawitan Ke Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo Dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Di SMA Winda Susiyani; I Made Pageh; Desak Made Oka Purnawati
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v14i1.111445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi ruang sakral, mengidentifikasi unsur-unsur akulturasi budaya dalam arsitektur, ritual, dan simbol, serta mengembangkan potensinya sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi Situs Kawitan menjadi Pura Luhur Giri Salaka mencerminkan pergeseran paradigma dari pemujaan lokal menuju ritual keagamaan Hindu yang terstruktur. Akulturasi budaya terlihat dari aspek arsitektur yang memadukan konsep Tri Mandala Bali dengan punden berundak Jawa. Keberadaan dua ruang sakral yang harmonis mencerminkan nilai multikulturalisme, toleransi beragama dan kebinekaan yang relevan dengan capaian pembelajaran Fase E Kurikulum Merdeka pada materi Kerajaan Hindu-Budha, sehingga kedua tempat sakral ini berpotensi sebagai sumber belajar sejarah berbasis kearifan lokal yang dapat mengembangkan pemahaman historis dan sikap toleransi siswa SMA.
Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Media Diorama Virtual Terhadap Minat Belajar Sejarah Siswa di SMA AlfiatulJanah; Ketut Sedana Arta; I Wayan Putra Yasa
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v14i1.111533

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan guna menganalisis pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Diorsms Virtual terhadap minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Tegaldlimo. Permasalahan rendahnya minat belajar sejarah siswa menjadi permasalahan utama yang dilatarbelakangi oleh dominasi pembelajaran konvensional berbasis ceramah yang kurang interaktif. Dalam penelitian ini mempergunakan metode penelitian quasi experimental design dengan desain non equivalent control group, penelitian ini melibatkan 72 siswa dibagi jadi kelas eksperimen (X7) dan kelas kontrol (X6).  Data dikumpulkan lewat angket minat belajar dan observasi, selanjutnya diolah mempergunakan uji t sampel berpasangan dan sampel independen. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Diorama Virtual terhadap minat belajar sejarah siswa bernilai t-hitung 6,768 > t-tabel 2,030 dan signifikansi < 0,001. Terlihat adanya perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditunjukkan oleh nilai N-Gain pada kelas eksperimen 0,3812 “kategori sedang” dan kelas kontrol 0,0828 “kategori rendah”. Studi ini membuktikan bahwasanya kombinasi pembelajaran menggunakan model Problem-Based Learning berbantuan Diorama Virtual efektif meningkatkan indikator minat belajar meliputi perasaan tertarik, perhatian, kesenangan, dan partisipasi siswa dalam pembelajaran sejarah, serta perubahan pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa yang lebih bermakna dan kontekstual.
Bendungan Karangdoro Banyuwangi (Sejarah, Dampak dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Yunita Dewi Fitriani; Desak Made Oka Purnawati; I Wayan Putra Yasa
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v14i1.111663

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Sejarah Bendungan Karangdoro di Kabupaten Banyuwangi, dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, serta potensinya sebagai sumber belajar Sejarah di SMA. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangdoro menggunakan metode penelitian historis melalui pendekatan heuristik meliputi observasi, penelusuran sumber tertulis, dokumentasi, wawancara langsung dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, pengelola bendungan dan warga sekitar. Hasil penelitian pada bidang ekonomi menunjukkan bahwa Bendungan Karangdoro berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas pertanian. Pada tahun 1934 luas lahan irigasi meningkat dari 60.000 hektar menjadi 100.000 hektar dengan hasil panen mencapai 80–90 kuintal per hektar. Dalam lima tahun terakhir (2020–2025), produksi pertanian kembali meningkat pasca pandemi Covid-19 dan relatif stabil pada angka sekitar 2.800 ton. Dalam aspek sosial budaya, sejak tahun 1963 berkembang tradisi Bubak Bumi sebagai ungkapan syukur masyarakat atas melimpahnya sumber air dan hasil pertanian. Bendungan juga berfungsi sebagai ruang sosial dan simbol sejarah lokal. Kesimpulannya, bendungan Karangdoro memiliki nilai historis, sosial, dan budaya yang kuat sehingga sangat berpotensial dijadikan sebagai sumber belajar Sejarah di SMA. Keberadaan bendungan ini dapat membantu peserta didik memahami Sejarah lokal secara kontekstual, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, serta memperkuat identitas budaya terhadap daerahnya sendiri.
Dari Gapura ke Mimbar: Transformasi Arsitektur Islam, Ritual Agama dan Identitas Lokal di Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose, Serta Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA Nourma Ayu Zahra; Desak Made Oka Purnawati; I Putu Hendra Mas Martayana
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v14i1.111790

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui transformasi arsitektur Islam, ritual agama, dan identitas lokal di Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose serta potensinya sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui wawancara dengan keturunan Syekh Abdul Mannan, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar masjid, serta didukung oleh observasi dan studi literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya masyarakat. Transformasi arsitektur masjid memperlihatkan adanya perpaduan antara nilai-nilai Islam dan unsur budaya lokal yang membentuk identitas masyarakat Salabose. Selain itu, keberlanjutan ritual keagamaan seperti perayaan Maulid Nabi dan tradisi Macco’bo mencerminkan proses Islamisasi yang berlangsung secara damai dan adaptif terhadap tradisi setempat. Kesimpulannya, Masjid Syekh Abdul Mannan memiliki nilai historis, religius, dan kultural yang kuat serta berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA, khususnya dalam penguatan sejarah lokal dan identitas budaya peserta didik.