cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
PELURUSAN SEJARAH MENGENAI INDONESIA DIJAJAH BELANDA 350 TAHUN SEBAGAI MATERI SEJARAH KRITIS KEPADA PESERTA DIDIK KELAS XI SMAN 1 RUPAT Hasudungan, Anju Nofarof
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i3.39395

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bukti-bukti ilmiah mengenai kebohongan sejarah bahwa Indonesia telah dijajah Kolonial Belanda selama 350 tahun kepada peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian terbaru, khususnya dari G.J. Resink, seorang professor hukum internasional telah berhasil mengungkapkan kebenaran yakni, tidak benar Indonesia dijajah Kolonial Belanda selama 350 tahun. Akan tetapi, pemahaman tersebut masih banyak diyakini oleh peserta didik bahkan oleh guru. Pemaham tersebut masih diyakini sebabnya, masih diajarkan baik dalam proses belajar mengajar yaitu, ketika guru menjelaskan atau dari bahan ajar sejarah yang belum up to date. Penelitian ini menggunakan penelitian jenis studi pustaka dan merujuk pada sejarah kritis. Data dikumpulkan melalui literatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, artikel jurnal, maupun laporan hasil penelitian terdahulu. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar alternatif oleh guru sejarah untuk pelurusan sejarah mengenai ketidakbenaran Indonesia dijajah Kolonial Belanda selama 350 tahun. Selain itu, dapat meningkatkan kemampuan critical thinking peserta didik di satuan pendidikan menengah atas.
MAKNA BELIS DALAM PERKAWINAN ADAT PADA MASYARAKAT GUMBANG DESA RIUNG KECAMATAN CIBAL, MANGGARAI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA Kardila, Maria Marisa; Arta, Ketut Sedana; Yasa, I Wayan Putra
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i3.34605

Abstract

         Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk belis, fungsi belis, makna belis, dan potensi belis di kampung Gumbang sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap (1) memilih lokasi penelitian di kampung Gumbang Desa riung, (2) teknik penetuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling dan juga Snow Ball, (3) teknik penjaminan keaslian data menggunakan Triagulasi Data dan Triagulasi Metode, (4) teknik pengumpulan dat dilakukan dengan observasi, wawancara, studi dokumentasi dan teknik analisis data. Hasil penelitian ini adala menunjukan bagaimana, (1) bentuk belis, terdiri dari 5 bentuk yaitu: kuda, kerbau, kambing, babi, dan uang. (2) fungsi belis, terdiri dari 4 fungsi yaitu: fungsi religious, fungsi sosial, fungsi ekonomi, dan fungsi pendidikan.  (3) makna belis. Makna belis di kampung Gumbang ini sebagai tanda kehormataan laki-laki terhadapa perempuan dan orang tua perempuan maupung dengan keluarga besarnya.  Adapun potensi dari tradisi belis berdasarkan hasil analisi kurikulum dan silabus ialah nilai religius, nilai peduli sosial, nilai tanggung jawab, nilai toleransi, nilai pesahabatan, nilai jujur, dan nilai kerja keras, yang selanjutnya akan disusun ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di SMA.
MONUMEN PERINGATAN IDA BHATARA MANTUK RING RANA” SEBAGAI MEDIA PEWARISAN NILAI –NILAI SEJARAH DI KALANGAN SISWA KELAS X DI SMA N 1 PAYANGAN, KECAMATAN PAYANGAN, GIANYAR, BALI I GEDE INDRA PRATAMA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1002

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  (1) mengetahui latar belakang didirikanya Monumen Peringatan     Ida Bhatara Mantuk Ring Rana di Banjar Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar,     (2) mengetahui proses pembangunan Monumen Peringatan Ida Bhatara Mantuk Ring Rana di     Banjar Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, (3) mengetahui fungsi serta nilai-     nilai sejarah yang terkandung pada Monumen Peringatan Ida Bhatara Mantuk Ring Rana. Dalam     penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif  dengan tahap-tahap ;     (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) teknik pengumpulan     data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) teknik penjamin keaslian data (triangulasi     data, triangulasi metode), dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1)     ada dua faktor yang melatar belakangi pembangunan Monumen Peringatan Ida Bhatara Mantuk     Ring Rana dilihat dari  faktor historis dan faktor sosio-kultur, (2) proses pembangunan Monumen     Peringatan Ida Bhatara Mantuk Ring Rana diinisiatori oleh masyarakat Banjar Melinggih yang     diarsiteki oleh anggota tutus paras Banjar Melinggih, (3)Fungsi dari pembangunan Monumen     Peringatan Ida Bhatara Mantuk Ring Rana adalah; (1) fungsi edukatif, (2) fungsi inspiratif, (3)     fungsi rekreatif, (4) fungsi politik,  dan (5) fungsi sosio-kultur. Nilai-nilai yang terkandung pada     Monumen Peringatan Ida Bhatara Mantuk Ring Rana di antaranya; (1) nilai pendidikan, (2) nilai     patriotisme, (3) nilai religius, dan (4) nilai budi pekerti luhur.   
IDENTIFIKASI KEUNIKAN PURA GUNUNG KAWI DI DESA PEKRAMAN KELIKI, GIANYAR, BALI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS I WAYAN SUDIANA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1003

Abstract

Penelitian     ini     dilakukan     di          Keliki,     Kecamatan    Tegalalang, Gianyar, Bali yang bertujuan untuk mengetahui : (1) Sejarah     keberadaan Pura Gunung Kawi di Desa Pakraman Keliki; (2) Struktur dan Fungsi     Pura Gunung Kawi; dan (3) Keunikan Pura Gunung Kawi yang bisa dimanfaatkan     sebagai sumber pembelajaran IPS. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif,     dengan langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut (1) tehnik penentuan     informan;(2) tehnik pengumpulan data;(3)     Berdasarkan temuan di lapangan Pura Gunung Kawi diperkirakan berdiri pada     abad ke VIII pada era Maha Rsi Markandhya yang mengembangkan konsep     ajaran Agama Siwa. Hal ini dapat dilihat dari letak Pura Gunung Kawi di kawasan     Munduk Gunung Lebah yang merupakan bagian dari rute perjalanan suci/     Darmayatra dan tirtayatra Rsi Markandhya dari India menuju ke Nusantara     tepatnya di Balidwipa dan Pura Gunung Kawi merupakan Perhyangan Dewa     Siwa. Struktur Pura Gunung Kawi terdiri dari tiga halaman, yakni nista mandala     atau jaba sisi, madya mandala atau jaba tengah, dan utama mandala atau jeroan.     Fungsi Pura Gunung Kawi secara umum dapat dibagi lima yakni, (1) Fungsi     Religius; (2) Fungsi Sosial; (3) Fungsi Pendidikan; (4) Fungsi Budaya; dan (5)     Fungsi Ekonomi. Keunikan Pura Gunung Kawi sebagai sumber pembelajaran IPS     karena terdapat artefak berupa sarkofagus, Siwakrana dan Pelinggih Ratu Arak     Api yang bias dijadikan sebagai suplemen pembelajaran     
Perkembangan dan Sistem Pewarisan Kerajinan Tenun Ikat Endek Di Desa Sulang, Klungkung, Bali (1985- 2012) LUH GEDE WIJAYANTI LAKHSMI DEWI
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1004

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui perkembangan usaha industri kerajinan tenun ikat endek di Desa Sulang dari tahun 1985-2012, (2) mengetahui sistem pewarisan usaha industri kerajinan tenun ikat endek di Desa Sulang dari tahun 1985-2012. Penelitian ini merupakan penelitian historis (sejarah), dengan tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian adalah 1) Pengumpulan Data (Heuristik), (2) Kritik Terhadap Data, (3) Interpretasi Data, (4) Penulisan Sejarah (Historiografi). Hasil penelitian menunjukkan upaya pemertahanan dan pewarisan kerajinan tenun ikat endek di Desa Sulang dijalankan dengan jalan sosialisasi. Sosialisasi yang dilakukan dapat melalui beberapa agen sosialisasi yaitu: 1. Keluarga, 2. Teman Pergaulan atau masyarakat, 3. Lembaga Pendidikan non formal.
Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja Melalui Model Talking Stick NI LUH ASRI MAILANI
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1005

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja semester genap tahun ajaran 2012/2013 melalui penerapan model pembelajaran talking stick, (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja semester genap tahun ajaran 2012/2013 melalui penerapan model pembelajaran talking stick, (3) mengetahui tanggapan siswa kelas VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja semester genap tahun ajaran 2012/2013 terhadap penerapan model pembelajaran talking stick dalam pelajaran IPS. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ialah (1) Penentuan Subjek Penelitian, (2) Membuat Rencana Tindakan, (3) Melaksanakan Tindakan, (4) Melakukan Observasi, (5) Evaluasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) motivasi belajar siswa kelas VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja pada siklus I adalah 58,19 dengan kategori tinggi ,meningkat dengan rata-rata pada siklus II menjadi 61,19 dengan kategori tinggi; (2) hasil belajar siswa kelas VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja pada siklus I mencapai rata-rata 65% dengan kategori sedang, serta ketuntasan belajar siswa mencapai 53,84% meningkat pada siklus II yaitu rata-rata hasil belajar IPS siswa mencapai 80,38% dengan kategori tinggi, serta ketuntasan belajar mencapai 84,61%; (3) Tanggapan siswa kelas VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja terhadap penerapan model pembelajaran talking stick mencapai rata-rata 39,34 dengan kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dengan penerapan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas VII-5 SMP Lab Undiksha Singaraja.
Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Singaraja Periode 1989-2011 (Sejarah dan Sistem Pendidikannya) PUTU RONY NOVA HERMAWAN
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1006

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) sejarah berdirinya Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Singaraja dan (2) sistem pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Singaraja Periode 1989-2011. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan tahap-tahap penelitian yang harus dilakukan yaitu (1) Heuristik, (2) Kritik Sumber (Pengolahan Data), (3) Interpretasi dan (4) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Sejarah berdirinya SMA Negeri 4 Singaraja dilatarbelakangi oleh faktor politik, faktor politik yang dimaksud disini adalah adanya Kep. Mendikbud RI No.0342/U/1989 dan adanya Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali Nomor 44/I/19/Kep/I/1991 tanggal 30 April. (2) Sistem pendidikan di SMA Negeri 4 Singaraja Periode 1989-2011 terdiri atas (1) Unsur masukan (input) berupa jumlah siswa masuk ke SMA Negeri 4 Singaraja fluktuasi, hal ini di dasari oleh SMA Negeri 4 Singaraja yang memiliki kendala pada fasilitas ruangan belajar untuk siswa yang jumlahnya masih terbatas, sehingga mempengaruhi dalam jumlah penerimaan siswa baru. (2) Unsur proses berupa kurikulum yang dilaksanakan oleh SMA Negeri 4 Singaraja dari periode 1989-2011 adalah kurikulum 1984, kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (3) Unsur keluaran (output) berupa pencapain kelulusan siswa-siswa SMA Negeri 4 Singaraja dari periode 1989-2011 dengan persentase rerata sebesar 99,75%.
PERKEMBANGAN MOTIF KERAJINAN TENUN SONGKET DI DESA SIDEMEN, KARANGASEM, BALI (Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Kebudayaan Di SMA) Agustiana Wikrama Tungga Wika Atmaja
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1007

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) faktor yang melatarbelakangi pengerajin tenun songket di Desa Sidemen memproduksi motif tradisional dan motif modern; (2) motif tradisional dan motif modern yang dibuat oleh pengerajin tenun songket di Desa Sidemen; dan (3) aspek-aspek yang terdapat pada motif tradisional dan motif modern yang bisa dikembangkan sebagai sumber belajar sejarah kebudayaan di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara dan studi dokumen); (3) teknik pengolahan data/analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) ada tiga faktor yang melatarbelakangi pengerajin tenun songket memproduksi motif tradisional dan motif modern dilihat dari faktor budaya, faktor ekonomi dan faktor lingkungan, (2) motif tradisional yang dibuat oleh pengerajin tenun songket di Desa Sidemen berbentuk geometris yang dipadukan dengan motif ornament tradisional bali yang sifatnya natural, motif modernnya berupa kombinasi beraneka ragam corak dari hasil barang teknologi, (3) aspek-aspek pada motif tradisional dan modern yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar yaitu, aspek pengetahuan tentang sumber daya alam, aspek ketekunan dan aspek kewirausahaan.
Pura Negara Gambur Anglayang di Desa Pakraman Kubutambahan, Buleleng, Bali (Sejarah, Struktur, dan Potensinya Sebagai Media Pendidikan Multikultural bagi Masyarakat Sekitarnya) GEDE WIDIARYA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1008

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: 1) latar belakang sejarah berdirinya Pura Negara Gambur Anglayang di Desa Kubutambahan, Buleleng, Bali, 2) struktur Pura Negara Gambur Anglayang, 3) potensi-potensi atau aspek-aspek dari Pura Negara Gambur Anglayang yang dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan multikultural. Penelitian ini dilakukan di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali. Pencarian informan ditentukan dengan cara purposive sampling. Penentuan informan diawali dengan menentukan informan kunci, kemudian dikembangkan secara berantai dengan memakai teknik snow ball sampling.Teknik analisis data antara lain: (1) penentuan informan, (2) pengumpulan data, (3) validitas data, (4) analisis data, (5) menarik kesimpulan/verifikasi. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa (1) Pura Negara Gambur Anglayang didirikan pada tahun 1260 atau abad ke-13 oleh penduduk sekitar pantai Kuta Baning pada masa pemerintahan Raja Bhatara Parameswara (2) Struktur, Pura Negara Gambur Anglayang terdiri dari tiga halaman atau mandala yaitu Nista Mandala (jaba sisi), madya mandala (jaba tengah), dan utama mandala (jeroan).Secara vertikal pelinggih di Pura Negara Gambur Anglayang mengacu pada konsep Triangga yang terdiri (kaki, badan, dan kepala) itu berlaku di Pura Negara Gambur Anglayang. fungsi Pura Negara Gambur Anglayang itu dapat diambil kesimpulan memiliki tiga fungsi utama yaitu: (a) pusat kegiatan keagamaan yang terkait dengan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi, (b) alat pemersatu masyarakat yang tertanam pada rasa solidaritas dan persatuan yang terjalin, (c) pusat kegiatan budaya yang ditunjukkan dengan gong, gamelan, kidung dan kekawin (d) pura sebagai pusat edukasi, steril dari perjudian, (3) Potensi-potensi atau aspek-aspek pendidikan di Pura Negara Gambur Anglayang yang dapat dikembangkan sebagai media pendidikan multikultural yaitu : (a) segi fisik yang meliputi bangunan ataupun artefak yang terdapat di Pura Negara Gambur Anglayang (b)segi non fisik yang meliputi nilai-nilai multikultural yang terwujud dari Pura Negara Gambur Anglayang. Adapun nilai-nilai tersebut adalah nilai religius, nilai kebersamaan, nilai toleransi dan nilai kebudayaan. //
Monumen Tanah Aron Sebagai Sumber Belajar Sejarah Bagi Generasi Muda di Desa Bhuana Giri, Bebandem, Karangasem, Bali I Gede Ardana
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1009

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Bhuana Giri, kecamatan Bebandem, Karangasem yang bertujuan untuk mengetahui: (1) latar belakang dibangunnya monumen Tanah Aron di Desa Bhuana Giri (2) Simbol-simbol yang terdapat pada monumen Tanah Aron di Desa Bhuana Giri (3) kesadaran sejarah apakah yang terdapat di Monumen Tanah Aron sehingga dapat dijadikan bahan pengembangan materi belajar sejarah di SMPN 3 Bebandem, Karangasem. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut (1) tehnik penentuan informan;(2) tehnik pengumpulan data;(3) Validitas data;(4) analisis data. Berdasarkan temuan dilapangan bagaimana latar belakang perjuangan pertempuran Tanah Aron sehingga didirikan sebuah Monumen, makna simbol yang terdapat dalam monumen Tanah Aron, relief-relief dan patung yang terdapat pada monumen Tanah Aron. Nilai-nilai kesadaran sejarah yang terdapat di Monumen Tanah Aron (1) nilai edukatif, yaitu nilai yang berhubungan dengan pendidikan terutama pada diri siswa agar belajar dari peristiwa pertempuran di Tanah Aron ; (2) Nilai Pengetahuan, unsur pengetahuan siswa menjadi lebih berkembang ketika mengadakan pengamatan langsung pada bentuk, gambar dan simbol dari Monumen Perjuangan Tanah Aron; (3) Nilai Artistik, yaitu nilai yang berhubungan dengan keindahan khususnya dari koleksi Monumen; (4) Nilai kepahlawanan, nilai kepahlawanan itu akan dapat mendorong para siswa untuk selalu menghargai terhadap perjuangan para pahlawan yang memepertahankan Repulik Indonesia dengan jiwa dan raga; dan (5) Nilai rekreatif, yaitu nilai yang dimiliki oleh Monumen Perjuangan Tanah Aron, sehingga membuat para siswa merasa senang dan tertarik mengamati gambar dan simbol Monumen Perjuangan Tanah Aron