cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
“PURA ULUWATU DI DESA PECATU, KECAMATAN KUTA SELATAN, BADUNG, BALI” (Studi Tentang Perkembangan Pura Sebagai Destinasi Pariwisata serta Kontribusinya Bagi Pendidikan Sejarah) Ni Luh Putu Candra Yastari
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1030

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) sejarah berdirinya Pura Uluwatu di Desa Pecatu; (2) perkembangan Pura Uluwatu, sebagai destinasi pariwisata di Bali; dan (3) kontribusi Pura Uluwatu bagi pendidikan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) rancangan penelitian; (2) teknik penentuan lokasi penelitian; (3) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen); (4) validitas data (triangulasi data atau triangulasi sumber data dan triangulasi metode); dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, ada dua sumber mengenai Pura Uluwatu yaitu sumber tertulis dan sumber lisan. Perkembangan Pura Uluwatu sebagai objek wisata di Bali, Kontribusi keberadaan Pura Uluwatu bagi pendidikan sejarah antara lain : (a) Pura Uluwatu menyimpan amanat yang terkandung dalam kisah sejarah yaitu tentang keberadaan Pura Uluwatu itu sendiri, (b) Menumbuhkan kecintaan siswa atau peserta didik terhadap peninggalan sejarah / budaya yang menjadi warisan leluhur Bali, (c) Menumbuhkan kesadaran kesejarahan dan wawasan budaya pada diri siswa untuk ikut serta dalam menjaga dan melestarikan peninggalan purbakala / sejarah yang ada disekitar kita, (d) Kunjungan ke Pura Uluwatu dapat membantu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih gamblang tentang materi-materi pembelajaran di sekolah yang berkaitan materi sejarah lokal. Kata Kunci: sejarah, perkembangan sebagai destinasi pariwisata, kontribusi
Ritual Kematian Sebagai Media Pendidikan Nonformal Guna Memperkuat Tindakan Sosial Menghormati Leluhur (Studi Kasus Pada Etnis Cina Di Lingkungan Widyasari Kelurahan Kampung Baru, Singaraja , Buleleng Bali) Ni Pt. Lilis arysta Dewi
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1031

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) Sistem keyakinan yang melatar belakangi Etnis China melakukan ritual kematian; (2) penyelenggaraan ritual dari persiapan sampai pemujaan roh leluhur; dan (3) kaitan antara ritual kematian dengan pendidikan nonformal sebagai sarana memperkuat tindakan sosial menghormati leluhur pada etnis China di Lingkungan Widyasari, Singaraja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu : (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumen); (3) validitas data; (4) teknik analisis data; (5) teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan etnis china melakukan ritual kematian karena ada keyakinan hubungan timbal balik antara yang hidup dan yang mati dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka yang masih di dunia. Proses ritual terdiri dari tahap persiapan. Tahap pelaksanaan yang merupakan hari puncak dan jenazah dibawa ke pemakaman. Pasca pelaksanaan, melakukan penghormatan dengan pergi ke kuburan almarhum dan membawa sesaji. Ritual kematian dapat dijadikan media pendidikan yang mengandung nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan untuk menambah ilmu tentang kebudayaan yang nantinya bisa diteruskan ke generasi berikutnya secara berkesinambungan melalui pendidikan nonformal, seperti mempekuat tindakan sosial menghormati leluhur.
MASJID AL IMRON: LATAR BELAKANG PENDIRIAN DAN NILAI PENDIDIKAN SEJARAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI DESA TOYAPAKEH, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI Ni Ketut Eka Kresna Dewipayanti .; Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) faktor-faktor yang melatarbelakangi pendirian Masjid Al Imron; (2) fungsi Masjid Al Imron bagi komunitas muslim setempat; dan (3) nilai pendidikan sejarah yang dapat diambil dari Masjid Al Imron di Desa Toyapakeh sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) Metode penentuan lokasi penelitian; (2) Metode penentuan informan; (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi); (4) Metode analisis data; dan (5) Metode pelaporan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) faktor-faktor yang melatarbelakangi pendirian Masjid Al Imron yakni (a) faktor religi; (b) faktor sosial; dan (c) faktor budaya. 2) Fungsi Masjid Al Imron bagi komunitas muslim setempat, di antaranya (a) Fungsi religi; (b) fungsi sosial; (c) fungsi budaya; dan fungsi pendidikan. 3) Nilai pendidikan sejarah yang dapat diambil dari Masjid Al Imron sebagai sumber belajar sejarah yaitu, (a) Nilai religius; (b) nilai keagungan budaya; (c) nilai toleransi; dan (d) nilai kepahlawanan. Kata Kunci : Masjid, nilai sejarah, sumber belajar. This study attempted to investigate: (1) The factors underlying the establishment of Masjid Al Imron , (2) the function of Masjid Al Imron for the local Muslim community, and (3) educational value of history that can be taken from the mosque in the village of Al Imron Toyapakeh as a source of learning history. This study used qualitative approach, there are: (1) method of determining research location, (2) method of determining sources, (3) data collection methods (observation , interviews , and documentation), (4) methods of data analysis, and (5) methods of reporting research results. The results showed that: 1) The factors underlying the establishment of Masjid Al Imron namely (a) the religious factor, (b) social factors and (c) cultural factors. 2) Function Masjid Al Imron for the local Muslim community, including (a) the function of religion, (b) social function, (c) the function of culture, and educational functions. 3) The value of education that can be drawn from the history of Masjid Al Imron as a source of learning history that is, (a) religious value, (b) the value of cultural greatness ; (c) the value of tolerance, and (d) the value of heroism. keyword : Mosque, history value, sources.
MAKAM KERAMAT AGUNG PEMECUTAN DI KELURAHAN PEMECUTAN, KOTA DENPASAR (Studi Tentang Latar Belakang Sejarah, Struktur, Fungsi dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal) Ni Luh Putu Sri Adnyani .; Drs. I Ketut Margi, M.Si .; Drs. Wayan Sugiartha, M.Si. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui latar belakang didirikannya Makam Keramat Agung Pemecutan di Kelurahan Pemecutan Kota Denpasar. (2) Mengetahui struktur dan fungsi Makam Keramat Agung Pemecutan di Kelurahan Pemecutan Kota Denpasar. (3) Mengetahui aspek yang terdapat di Makam Keramat Agung Pemecutan yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah yaitu: (1) Heuristik (pengumpulan data), (2) Kritik sumber, (3) Interpretasi, (4) Historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat 2 (dua) faktor yang melatar belakangi didirikannya Makam Keramat Agung Pemecutan yaitu faktor sejarah (historis) dan faktor agama. (2) Struktur dan fungsi. Struktur makam terdiri dari 2 (dua) halaman. Halaman pertama terdiri dari candi bentar, tempat peristirahatan juru kunci, pohon kepuh kembar. Halaman kedua terdiri dari candi kurung, bale saka enam, Makam Raden Ayu Siti Khotijah. Fungsi makam yaitu: (a) fungsi religius, (b) fungsi magis, (c) fungsi sosial budaya. (3) Aspek yang terdapat di Makam Keramat Agung Pemecutan yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah lokal yaitu, (a) Aspek sejarah (historis), (b) Aspek bangunan, dan (c) Aspek nilai pendidikan karakter. Kata Kunci : Makam Keramat, Fungsi, Sumber Belajar Sejarah Lokal This study aims to: (1) Knowing the background of the establishment of the Supreme Sacred Tomb of acceleration in the Village Pemecutan Denpasar. (2) Knowing the structure and function of the Supreme Sacred Tomb of acceleration in the Village Pemecutan Denpasar. (3) Knowing the aspects contained in the Sacred Tomb of the Great acceleration that can be used as a source of learning local history. The method used in this study is the method of historical research with a qualitative descriptive approach steps, namely : (1) Heuristics (data collection), (2) a source of criticism, (3) Interpretation, (4) Historiography (history of writing). These results indicate that there are two (2) establishment of background factors, namely acceleration Supreme Sacred Tomb of historical factors (historical) and religious factors. (2) The structure and function. The structure of the tomb consists of two (2) pages. The first page consists of the temple briefly, caretaker resting place, billowing trees twins. The second page consists of the temple brackets, bale saka six, Tomb Raden Ayu Siti Khotijah. Function tomb is: (a) a religious function, (b) a magical function, (c) socio-cultural functions. (3) aspect contained in the Sacred Tomb of the Great acceleration that can be used as a source of learning local history, among others, (a) Aspects of history (historical), (b) aspects of the building, and (c) the value aspect of character education.keyword : Sacred Tomb , Function , Learning Resources Local History
Relief Bima Swarga Kuburan Desa Pakraman Buleleng, Bali dan Potensinya Sebagai Sumber Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Sejarah) Ni Wayan Astini .; Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2127

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah Penempatan Relief Bima Swarga Kuburan Desa Pakraman Buleleng, (2) Bentuk reliefBima Swarga pada kuburan Desa PakramanBuleleng (3) Nilai Potensi relief Bima Swarga, dari segi perspektif pendidikan karakter dalam pembelajaran sejarah. Penelitian pemanfaatan relief Bima Swarga kuburan Desa Pakraman Buleleng sebagai sumber pendidikan karakter dalam pembelajaran sejarah,menggunakan pendekatan sosial yaitu: (1) Teknik penentuan informan; (2) Teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen) dan; (3) analisis data. Berdasarkan temuan dilapangan menunjukkan bahwa pembangunan relief Bima Swarga kuburan Desa Pakraman Buleleng di bangun atau didirikan pada tahun 90-an pada masa jabatan Drs.I Ketut Ginantra sebagai Bupati Buleleng. Awalnya sebagai syarat membangun Taman kota yaitu lomba kebersihan Lomba Adi Pura. Bangunan relief Bima Swargakuburan Desa PakramanBuleleng memiliki ide cerita yang sangat lekat bagi kehidupan sekitarnya. Karena itu bilabangunan relief Bima SwargadesaPakraman Bulelengjuga memiliki nilai- nilai yang dapat dipelajari siswa karena mempunyai: (1) Nilai edukatif; (2) Nilai pengetahuan; (3) Nilai artistik; (4) Nilai budaya, dan; (5) Nilai rekreatif. Dalam memanfaatkan bentuk bangunan relief Bima Swargakuburan Desa PakramanBuleleng sebagai sumber belajar guru dapat menggunakan metoda karya wisata. Metoda karya wisata merupakan cara yang dapat dilakukan oleh guru dengan mengajak siswa ke objek tertentu untuk mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran sekolah. Pada kegiatan karya wisata di lokasi bangunan relief tersebut, siswa dapat melakukan observasi langsung terhadap panelrelief kuburan, kemudian saling berdiskusi dengan sesama teman dan guru.Siswa dapat menemukan nilai-nilai yang ada dengan melakukan pengamatan, bertanya, mengumpulkan data, mengasosiasi data yang didapat dengan kehidupan manusia di masa kini dan mengkomunikasikan hasil temuan temuan dengan teman sesama siswa atau dengan guru. Selain itu siswa dapat memperoleh pengalaman nyata dan akan tumbuh motivasi belajar sejarah lebih aktif karena ternyata belajar sejarah tidak hanya dapat dilakukan dalam kelas tetapi juga di luar kelas sehingga tidak yang dapat membosankan.Kata Kunci : Sejarah, Nilai bangunan, Pemanfaatan Relief Bima Swarga Kuburan Desa Pakraman Buleleng. This study aimed to determine (1) History of Bima Swarga Placement Relief Tombs Pakraman Buleleng, (2) Form of Bima Swarga reliefs on the grave Pakraman Buleleng (3) The potential value of Bima Swarga relief, in terms of the perspective of character education in learning history. Research utilization Bima Swarga grave reliefs Pakraman Buleleng as a source of character education in learning history, social approach, namely: (1) determination technique informant, (2) the data collection techniques (observation, interviews, document study) and, (3) data analysis .Based on the findings in the field suggests that the development of Bima Swarga grave reliefs Pakraman Buleleng built or established in the 90's during the Drs office. I Ketut Ginantra as Regent of Buleleng. Initially as a condition of building a city park that is race hygiene Adi Competition temple. Building Bima Swarga grave reliefs Pakraman Buleleng has an idea for a story that very closely surrounding life. Because it was a relief when building the village of Bima Swarga Pakraman Buleleng also have values that can be learned because the student has: (1) educational value; (2) The value of knowledge, (3) artistic value, (4) cultural value, and (5 ) recreational value. In utilizing the building form of Bima Swarga grave reliefs Pakraman Buleleng as a learning resource teachers can use the method of the field trip. Method field trip is a way to do by teachers to invite students to a particular object to study something related to school subjects. On the field trip activities in such reliefs building site, students can perform direct observation of the relief panels graves, then were in discussions with their peers and teachers. Students can find the values that exist to make observations, ask questions, collect data, associating the data obtained with human life in the present and communicate the results of the findings with fellow students or the teacher. In addition students can gain real experience and will grow more active motivation to learn history because it was studying the history not only be done in the classroom but also outside the classroom so as not to dull. keyword : History, Building Value, Utilization Relief Bima Swarga Grave Village Pakraman Buleleng.
KEBERADAAN PURA TAMAN YEH SELEM DI DESA PANGKUNG PARUK, SERIRIT, BULELENG, BALI ( SEJARAH DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDIDIKAN KEARIFAN LOKAL ) Kadek Maharta Dharma .; Drs. Wayan Sugiartha, M.Si. .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2129

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah berdirinya Pura Taman Yeh Selem di Desa Pangkung Paruk, Seririt, Buleleng, Bali; (2) Aspek-aspek yang mengandung nilai-nilai Kearifan Lokal; dan (3) Kontribusinya terhadap Pendidikan Kearifan Lokal, khususnya yang berkaitan dengan konsep pelestarian Hutan Yeh Selem. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik studi dokumen); dan (4) teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pura Taman Yeh Selem merupakan pura Subak (ulun suwi) yang berada di dalam hutan Yeh Selem Desa Pangkung Paruk. Berdirinya Pura Taman Yeh Selem tidak dapat dilepaskan dari peristiwa bersejarah yakni revolusi fisik di Bali Utara, khususnya Buleleng Barat pada tahun 1945-1949 yang pada saat itu berpusat di Desa Ringdikit. selain itu erat pula kaitannya dengan kondisi hutan Yeh Selem, dimana pada masa revolusi fisik hutan Yeh Selem digunakan sebagai tempat persembunyian, dengan nama Markas Amerta. (2) Adapun aspek-aspek dari pura Taman Yeh Selem yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal antara lain bisa dilihat dari aspek; (a) sejarah; (b) lingkungan pura; (c) struktur pura; (d) benda-benda pura; dan (e) kepercayaan. (3) Pura Taman Yeh Selem memiliki kontribusi penting terhadap pendidikan kearifan lokal, khususnya yang berkaitan dengan konsep pelestarian Hutan Yeh Selem yakni; (a) kepercayaan hutan Yeh Selem sebagai milik dewa yang beristana di pura Taman Yeh Selem. Status kepemilikan hutan semacam ini merupakan kunci utama yang melatarbelakangi kelestarian hutan Yeh Selem. (b) adanya pengawasan desa pakraman Pangkung Paruk, mengingat hutan Yeh Selem adalah hutan desa; dan (c) adanya kesepakatan skala dan niskala.Kata Kunci : Pura Taman Yeh Selem, Sejarah dan Kontribusinya terhadap Pendidikan Kearifan Lokal. This study aimed to determine (1) history of the founding of Taman Yeh Selem temple in Pangkung Paruk, Seririt, Buleleng, Bali, (2) the aspects containing the values of local wisdom, and (3) Local Wisdom contribution to education, especially with regard to the concept of Yeh Selem forest conservation. This research used descriptive qualitative research methods, namely : (1) determining the research location, (2) determination techniques of choosing informer, (3) data collection techniques (observation, interview techniques, and document study), and (4) data analysis techniques. Results of this study indicate that (1) Taman Yeh Selem Temple is Subak temple (Ulun Suwi) situated in the forest of Yeh Selem, Pangkung Paruk Village. Establishment of Pura Taman Yeh Selem can not be separated from the historical events of physical revolution in North Bali, Buleleng especially the West in 1945-1949 which at the time centered on the village of Ringdikit. But it is also closely related to Yeh Selem forest condition, where on the physical revolution Yeh Selem forest used as a hiding place, the name of Amerta Headquarters. (2) As for the aspects of the garden temple, Yeh Selem containing the values of local wisdom, among others, can be seen from the aspectof : (a) history; (b) the temple compound, (c) structur of the temple; (d) temple objects, and (e) believe. (3) Taman Yeh Selem temple had an important contribution to the education of local knowledge, especially with regard to the concept of forest conservation Yeh Selem, namely : (a) the believe that Yeh Selem forest as belonging to the God which stayed at the Taman Yeh Selem temple. Ownership status of such forests is a key underlying sustainability Yeh Selem. (b) the supervision Pakraman Pangkung Paruk, considering Yeh Selem forest is a forest village, and (c) a Sekala and Niskala agreement.keyword : Taman Yeh Selem Temple, History and Contribution to Education Local Wisdom.
Sejarah Wisata Bahari dan Pendidikan Sadar Wisata pada Komunitas Desa (Studi Kasus di Desa Tulamben, Kubu, Karangasem, Bali) Ni Kadek Ari .; Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2130

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) faktor-faktor yang menyebabkan pantai Tulamben bisa berkembang sebagai objek wisata bahari di Desa Tulamben, (2) perkembangan destinasi pantai Tulamben sebagai objek wisata bahari dilihat dari kunjungan wisman maupun wisdom periode 2000-2010, dan (3) penyelenggaraan sistem pendidikan sadar wisata guna menjaga kelestarian objek wisata bahari di Desa Tulamben. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi); (4) teknik penjaminan keabsahan data; (5) teknik analisis data; dan (6) teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) faktor-faktor yang menyebabkan Pantai Tulamben bisa berkembang sebagai objek wisata bahari di Desa Tulamben adalah 1) daya tarik pemandangan alamnya yang indah, 2) daya jangkau yang mudah, 3) akomodasi yang lengkap seperti hotel, villa dan bungalows, restaurant, toko cendramata, penyewaan alat selam, Torism Information Center, dan parkir, 4) respon masyarakat lokal yang sangat positif. (2) Perkembangan destinasi Pantai Tulamben sebagai objek wisata bahari dilihat dari kunjungan wisman maupun wisdom periode 2000-2010 diawali dengan penemuan awal kemudian direspons oleh masyarakat lokal dan ditindaklanjuti dengan tahap pengembangan baik dari sarana maupun prasarana sehingga terus mengalami perkembangan sampai sekarang. (3) penyelenggaraan sistem pendidikan sadar wisata guna menjaga kelestarian objek wisata bahari di Desa Tulamben melibatkan berbagai pihak diantaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem, para nelayan dan sekaa truna-truni Desa Tulamben. Penyelenggaraan sistem pendidikan sadar wisata di Desa Tulamben sudah berjalan dengan baik dan masyarakat pun merespon baik terhadap penyelenggaraan pendidikan sadar wisata. Kata Kunci : wisata bahari, pendidikan sadar wisata, Pantai Tulamben This study aimed to (1) the factors that led to the beach of Tulamben can develop as a maritime tourist attraction in the village of Tulamben, (2) development of Tulamben beach destination as attraction of foreign tourists visiting marine views and wisdom from the period 2000-2010, and (3) organization of the education system in order to maintain the sustainability of tourism awareness maritime tourist attraction in the village of Tulamben. This study used a qualitative approach, namely : (1) determining the location of the research, (2) determination techniques informant, (3) data collection techniques (observation, interviews, and documentary studies), (4) techniques guarantee the validity of the data, (5) analysis techniques the data, and (6 ) writing techniques and research results. The results showed that (1) the factors that led to Tulamben Beach can grow as marine attractions in the village of Tulamben is 1) the attractiveness of the beautiful natural scenery, 2) a range of convenient, 3) complete accommodation such as hotels, villas and bungalows, restaurant, souvenirs shop, diving equipment rental, Torism Information Center, and parking ,4) response of the local community is very positive. (2) The development of destination Tulamben Beach as seen from marine attraction of foreign tourists visit the period 2000-2010 and wisdom begins with the initial discovery then responded to by local people and followed up with both the development phase of the facilities and infrastructure that had been developed up to now. (3) the implementation of tourism awareness education system in order to preserve the maritime tourist attraction in the village of Tulamben involve various stakeholders including the Department of Culture and Tourism of Karangasem regency, fishermen and sekaa truna - truni Tulamben village. Implementation of the education system in the village of Tulamben tourism awareness has been going well and the community is responding well to the implementation of tourism awareness education.keyword : nautical tourism, educational tourism awareness, Tulamben Beach
PURI AGUNG KARANGASEM : PERSPEKTIF SEJARAH, STRUKTUR DAN FUNGSI SERTA POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL I Gusti Ayu Yuika Megawangi .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .; Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2131

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah berdirinya Puri Agung Karangasem, (2) struktur dan fungsi serta potensinya sebagai sumber belajar sejarah lokal, dan (3) aspek-aspek yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah lokal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan tahapan penelitiannya yaitu (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puri Agung Karangasem dibangun oleh I Gusti Gde Jelantik (Stedehouder I). I Gusti Gde Jelantik kemudian digantikan oleh kemenakannya I Gusti Bagus Jelantik (Stedehouder II). I Gusti Bagus Jelantik bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pembangunan Puri Agung Karangasem tidak menggunakan konsep Sanga Mandala tetapi menggunakan konsep Tri Mandala. Ciri khas dari Tri Mandala antara lain, nista (jaba sisi), madya (jaba tengah) dan utama (pusat). Bangunan-Bangunan di puri ini mempunyai corak hiasan dari kebudayaan Cina dan Belanda. Kemudian sesuai dengan SK KD dan indikator dari silabus SMA N 1 Amlapura maka aspek-aspek dari puri yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah lokal, yaitu (1) aspek bangunan Puri Agung Karangasem sebagai peninggalan sejarah, (2) aspek sejarah berdirinya Puri Agung Karangasem dan (3) aspek puri sebagai pusat agama Hindu. Kata Kunci : Puri Agung Karangasem, sejarah, struktur, fungsi, sumber belajar sejarah lokal This study was aimed at finding out (1) the history of the erection of Puri Agung Karangasem, (2) its structure and function as well as potential as learning resource for local history, and (3) the aspects that can be used as learning resource for local history. This study was a qualitative research with the steps: (1) data collection, (2) data reduction, (3) data display, (4) drawing conclusions and data verification. The results showed that Puri Agung Karangasem was built by I Gusti Gde Jelantik ( Stedehouder I). I Gusti Gde Jelantik was then succeeded by his nephew (Stedehoulder II). I Gusti Bagus Jelantik had the nobility title Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem. The construction of Puri Agung Karangasem did not use the concept of Sanga Mandala but the concept of Tri Mandala. The characteristics of Tri Mandala , among others, are nista (jaba sisi), madya (jaba tengah) and utama (center). The buildings in this puri (castle) have special characteristic ornaments from Chinese and Dutch cultures. Then in line with the standard competencies, basic competencies and indicators in the syllabus of SMA N 1 Amplapura, the aspects of the puri that can be used as learning resource for learning local history are (1) the aspect of the building of Puri Agung Karangasem as historical legacy, (2) the aspect of the history of the erection of Puri Agung Karangasem and (3) the aspect of puri as Hindu religious center.keyword : Puri Agung Karangasem, history, structure, function, learning local history
REPRESENTASI IDENTITAS TIONGHOA MELALUI KULINER DI KELURAHAN KAMPUNG BUGIS, SINGARAJA, BALI SEBAGAI SUMBER MATERI AJAR SEJARAH SMA KELAS XII JURUSAN BAHASA Ni Komang Trisna Suparwati .; Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2132

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latar belakang representasi etnis Tionghoa di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali melalui kuliner; (2) jenis-jenis kuliner yang merepresentasikan identitas etnis Tionghoa di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali; dan (3) representasi identitas Tionghoa melalui kuliner di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali yang dijabarkan dalam silabus Sejarah SMA kelas XII jurusan Bahasa sebagai sumber materi ajar Sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui langkah-langkah yaitu: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen dan studi pustaka); (4) validasi data; (5) teknik analisis data; dan (6) teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang representasi identitas etnis Tionghoa di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali dikaji dari aspek kuliner ada dua faktor yang sangat berpengaruh yaitu faktor sistem kepercayaan etnis Tionghoa dan faktor sosial budaya di wilayah tersebut. Jenis-jenis kuliner Tionghoa yang merepresentasikan identitas mereka dapat dilihat pada sajian persembahan dalam upacara-upacara besarnya serta dalam makanan-makanan sehari-hari yang dijual secara umum. Nama-nama makanan khas Tionghoa biasanya mengandung makna tersirat berdasarkan bentuk, rasa maupun tektur makanannya. Kajian kuliner Tionghoa sebagai representasi identitas etnis tersebut dapat disisipkan serta dijabarkan dalam silabus Sejarah SMA kelas XII jurusan Bahasa untuk melengkapi materi ajar yang mengalami missing link pada masa Orde Baru (Soeharto) hingga Reformasi. Kajian ini dapat disisipkan dalam materi Sejarah dalam Standar Kompetensi “Merekonstruksi Perjuangan Bangsa Sejak Orde Baru Sampai Dengan Masa Reformasi”, dengan Kompetensi Dasar “Merekonstruksi Perkembangan Masyarakat Indonesia Sejak Orde Baru Sampai Dengan Masa Reformasi”.Kata Kunci : Representasi identitas etnis, Kuliner Tionghoa, Silabus sejarah This study aimed to determine (1) the representation background of Chinese ethnic at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali through culinary, (2) the various of cuisine that represents the Chinese ethnic identity at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali, and (3) representation Chinese identity through culinary at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali outlined in the History syllabus of XII class Language department of Senior High School as sources of history teaching materials. This study used a qualitative approach, through this measures namely: (1) determining the location of the study, (2) determination informant techniques, (3) data collection techniques (observation, interviews, documents and literature studies), (4) data validation, (5) data analysis techniques, and (6) research writing techniques. The results showed that the background representation of Chinese ethnic identity at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali assessed by the culinary aspect there are two factors very influence the factor of Chinese ethnic belief systems and socio-cultural factors in the region. The various of Chinese culinary who represent their identity can be seen in the grain offerings in ceremonies as well as the foods that are sold daily in general. The names of typical Chinese food usually contains the meaning implied by the shape, taste and texture of the food. Chinese culinary studies as a representation of the ethnic identity can be inserted and explained in History syllabus of XII class Language department of Senior High School to complement teaching materials that had a missing link in Orde Baru (Soeharto) until Reformasi (Reformation). This study can be inserted in the history material in the Standar Kompetensi (standard of competence) "Reconstructing the Nation Struggle since the Orde Baru until the Reformation", with Kompetensi Dasar (basic competence) "Reconstructing the development of Indonesian society since the Orde Baru until the Reformation"keyword : Representation of ethnic identity, Chinese culinary, History syllabus
POTENSI MASJID NUR SINGARAJA, BALI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH KEBUDAYAAN DI SMA Susanti .; Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i3.2248

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang berdirinya Masjid Nur Singaraja, Bali; (2) Struktur Masjid Nur Singaraja, Bali; dan (3) Potensi yang dapat dijadikan sumber belajar Sejarah Kebudayaan di SMA dari Masjid Nur, Singaraja, Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah: (1) Penentuan lokasi penelitian; (2) Metode penentuan informan; (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi); (4) Metode penjaminan keabsahan data; (5) Metode analisis data; dan (6) Metode penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Masjid Nur Singaraja didirikan sekitar tahun 1820 oleh Ma’ruf Salma. Ada tiga faktor yang melatar belakangi pendiriannya yakni, faktor religus, faktor budaya, dan faktor sosial, (2) Pendapat yang dapat menerangkan bentuk bangunan Masjid Nur Singaraja adalah, pertama dari kalangan orang-orang Arab menyatakan Masjid Nur Singaraja memiliki kemiripan dengan masjid yang dibangun pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah, kedua dari kalangan luar etnis Arab menyatakan bangunan Masjid Nur Singaraja memiliki kemiripan dengan bangunan kastil yang ada di Eropa, dan yang ketiga berdasarkan perbandingan penelitan Van den Berg diketahui bentuk bangunan Masjid Nur Singaraja tanpa Kubah memiliki kemiripan dengan bentuk bangunan yang ada di negeri Hadramaut. (3) Potensi Masjid Nur Singaraja yang dapat dijadikan sumber belajar Sejarah Kebudayaan di SMA, yakni Sejarah, tata kelakuan (pengetahuan), sistem sosial (kebiasaan) dan artefak ( Arsitektur Masjid Nur Singaraja).Kata Kunci : Masjid, Potensi, Sumber Belajar Sejarah This study aimed to determine (1) the establishment of Masjid Nur Background Singaraja, Bali, (2) Structure of Masjid Nur Singaraja, Bali, and (3) the potential that can be used as a source of learning in high school Cultural History of Masjid Nur, Singaraja, Bali. This study used a qualitative approach with step by step: (1) Determining the location of the research, (2) Method of determining the informant, (3) the data collection methods (observation, interviews, and documentary studies), (4) method guaranteeing the validity of the data; (5) method of data analysis, and (6) The method of research results. The results showed that (1) Singaraja Nur mosque founded around 1820 by Salma Ma'Ruf. There are three factors namely the establishment background, religus factors, cultural factors, and social factors, (2) Opinions that could explain the shape of the building is Singaraja Nur Mosque, among the first of the Arab states Nur Mosque Singaraja has a resemblance to the mosque being built first time by the Prophet Muhammad in Medina, both of the ethnic Arab states outside the building Nur Mosque Singaraja has similarities with the existing building castles in Europe, and the third is based on comparison of research known Van den Berg Singaraja Nur mosque building form without the dome has similarities with form of existing buildings in the country Hadramaut. (3) Potential Singaraja Nur mosque that can be used as a source of learning Cultural History in high school, the history, behavior patterns (knowledge), social system (custom) and artifacts (Nur Mosque Architecture Singaraja).keyword : Mosque , Potential , Learning Resources History