cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
TARI GANDRUNG DI DESA BATUKANDIK, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI (SEBAGAI MEDIA BELAJAR SEJARAH KEBUDAYAAN) I Gede Eka Boy Pramana
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1010

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Latar Belakang tari gandrung sebagai tarian sakral, 2) pola-pola pementasan tari gandrung, 3) aspek-aspek dalam tari gandrung sebagai sumber belajar sejarah kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial yaitu: (1) tehnik penentuan informan; 2) tehnik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen) dan; (3) analisis data. Berdasarkan temuan dilapangan menunjukkan bahwa latar belakang tari gandrung di dirikan oleh Ida Pedanda Bagus Pucuk yang bertujuan agar warga terhindar dari segala wabah penyakit. Dari inilah kemuadian tari gandrung di sakralkan. Pola-pola pementasan tari gadrung ada empat tahapan yaitu : (1) persiapan pementasan tari gandrung, (2) Pementasan tari gandrung pada upacara ngusabha di Pura Puseh Batukandik, (3) tata busana dalam pementasan tari gandrung, (4) gerak-gerak dalam pementasan tari gandrung. Aspek-aspek yang terkandung pada tari gandrung yaitu: (1) aspek sistem keseniannya yaitu tari gandrung yang ada di desa Batukandik yang tari gandrung tersebut merupakan warisan leluhur/nenek moyang yang di jalankan sampai saat ini oleh masyarakat desa Butukandik, (2) aspek sistem komunikasi yaitu tari gandrung merupakan wadah sebagai sistem komunikasi yang saling berinteraksi antara kelian tari gandrung, para penari, pemangku, serta warga masyarakat setempat, (3) aspek sistem organisasi sosial tari gandrung merupakan salah satu perkumpulan/organisasi yang ada di desa Batukadik yang menghasilkan suatu keterampilan di bidang kesenian, dan (4) aspek sistem kepercayaan di mana tari gandrung di percaya atau di yakini oleh masyarakat desa Batukandik bahwa tari gandrung tersebut merupakan tari yang sakral dan di percaya sebagai persembahan agar terhindar dari segala wabah penyakit.
Identifikasi Pura Wayah Dalem Majapahit di Desa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, Bali ( Kajian Tentang Sejarah, Struktur dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di SMA Wisata Dharma) I Made Yasa Dana
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1011

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: 1) sejarah Pura Wayah Dalem Majapahit di Desa Lembongan. 2) struktur dan fungsi dari pura tersebut bagi masyarakat Bali, khususnya Nusa Penida. 3). potensi Pura Wayah Dalem Majapahit sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA Wisata Darma. Penelitian ini dilakukan di Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali. Pencarian informan ditentukan dengan cara purposive sampling. Penentuan informan diawali dengan menentukan informan kunci, kemudian dikembangkan memakai teknik snow ball sampling. Teknik analisis data antara lain: (1) pengumpulan data; (2) penyajian data; (3) reduksi data; (4) menarik kesimpulan/verifikasi. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa (1) Pura Wayah Dalem Majapahit keberadaannya terkait dengan kedatangan Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan ke Nusa Lembongan untuk melakukan Meditasi, dalam meditasinya beliau mendapatkan wahyu dari Sang Hyang Pasupati untuk mendirikan kahyangan suci di Ceningan yang diperkirakan pembuatan kahyangan suci tersebut pada tahun 1273 caka (2) Struktur Pura Wayah Dalem Majapahit di Desa Lembongan terdiri dari tiga halaman, yakni nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Fungsi Pura Wayah Dalem Majapahit dapat dibagi tujuh yakni, (1) Fungsi Religius (2) Fungsi Sosial (3) Fungsi Pendidikan (4) Fungsi Budaya (5) Fungsi Politik (6) Fungsi Ekonomi (7) Fungsi Rekreasi Spiritual. (3) Potensi Pura Wayah Dalem Majapahit sebagai sumber pembelajaran sejarah yaitu Pura ini dibangun zaman kerajaan Hindu-Budha pada keemasan Kerajaan Majapahit. sebagai bukti pura ini peninggalan dari kerajaan Majapahit terdapat Pelinggih Siwa Budha dan juga Arca Gajah Mada.
PERKEMBANGAN SEKAA JANGER KOLOK DI DESA BENGKALA, KUBUTAMBAHAN, BULELENG PERIODE 1998-2011 Ni Nyoman Murni Ari Pertiwi
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1012

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kubutambahan, Desa Bengkala bertujuan untuk mengetahui (1) faktor-faktor melatarbelakangi Sejarah munculnya Seka Janger Kolok , (2) Nilai-nilai yang terkan dung dalam Seka Janger Kolok, (3) Dinamika dan Eksistensi Seka Janger Kolok di Desa Bengkala. Langkah-langkah yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu: (1) Lokasi Penelitian, (2) Penentuan Informan, (3) Teknik Pengumpulan Data (observasi, wawancara, Teknik Studi Dokumen), (4) Kritik Sumber, (5) Interprestasi, (6) Penulisan Sejarah. Hasil penelitian menggambarkan bahwa 1) Bagaimana Sejarah munculnya Seka Janger Kolok di Desa Bengkalameliputi; Seka, Keunikan, Nyanyian, dan Tradisi, 2) Nilai-nilai apa yang terkandung dalam Seka Janger Kolok di Desa Bengkala meliputi; Nilai Pertunjukan, NilaiHiburan, NilaiReligius, Nilai Mempertebal Rasa Solidaritas, Nilai Komunikasi, Nilai Berkesenian, Nilai Estetika, Nilai Sosial, 3) bagaimana Dinamika dan Eksistensi Seka Janger Kolok meliputi; Budaya, Kesenian, dan Bahasa. Tarian Janger Kolok menggunakan pakaian dari tahun 1970 sampai 1980 sampai sekarang sudah berubah dengan perubahanjaman, sekarang janger kolok pakaiannya lebih komplit jangernya menggunakan gelungan, kamen, kepet, selendang, dan lain-lain, kemudian kecaknya memakai udeng, rompi, saput, dankamen. Lagu yang digunakan pada saat pementasan yaitu lagu don dadap, dan jangi janger dan tahun 1970 sampai sekarang.
GEREJA KATOLIK PAROKI ROH KUDUS BABAKAN, CANGGU (PERSPEKTIF SEJARAH, ARSITEKTUR DAN FUNGSINYA SEBAGAI MEDIA PENUMBUHKEMBANGAN KERUKUNAN HUBUNGAN ANTARAGAMA) Ni Made Ari Yuliantari
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1013

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Sejarah berdirinya Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan, (2) Arsitektur Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan, dan (3) Fungsi Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan Canggu sebagai media penumbuhkembangan kerukunan hubungan antaragama. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jalan memahami situasi sosial, peristiwa, dan interaksi. Serta dengan menggunakan teknik snow ball dengan langkah-langkah yaitu: 1) Heuristik (observasi, wawancara, dan studi pustaka atau dokumentasi), 2) kritik sumber, 3) Interpretasi , 4) Historiografi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa (1) Sejarah berdirinya Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan dikarenakan gereja yang lama tidak mampu lagi menampung jumlah umat yang semakin banyak; (2) Arsitektur Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan mengadaptasi pola pelataran seperti yang ada di pura-pura Bali. (3) Fungsi Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan sebagai media penumbuhkembangan kerukunan hubungan antaragama ialah melibatkan umat Katolik dan umat Hindu dalam ritual-ritual yang ada digereja.
Persepsi Siswa Terhadap Guru Sejarah yang Ideal (Studi Kasus Pada Kelas XI Ilmu Pengetahuan Sosial Tahun Pelajaran 2012/2013 di SMA Negeri 1 Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali). Ni Putu Wahyu Harianti
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1014

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui persepsi siswa terhadap penampilan fisikal guru sejarah yang ideal pada kelas XI IPS Tahun Pelajaran 2012/2013, (2) mengetahui persepsi siswa tentang sistem pengajaran guru sejarah yang ideal pada kelas XI IPS Tahun Pelajaran 2012/2013, (3) mengetahui hubungan sosial yang ideal antara guru dengan siswa di luar proses pembelajaran pada kelas XI IPS Tahun Pelajaran 2012/2013. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian deskriptif kualitatif. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian deskriptif kualitatif ialah (1) Penentuan Lokasi Penelitian, (2) Teknik Penentuan Informan, (3) Teknik Pengumpulan Data, (4) Teknik Penjaminan Keabsahan Data. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Penampilan fisikal guru sejarah yang ideal adalah rapi, sopan, menarik, tidak berlebihan dan sesuai dengan aturan yang ada; (2) Sistem pengajaran guru sejarah yang ideal adalah mengucapkan salam, melakukan absensi, mengusai materi, memiliki wawasan yang luas, tidak terlalu cepat dalam menjelaskan materi, adanya diskusi kelompok, tanya jawab, menggunakan media pembelajaran, tegas, disiplin, humoris, sabar, penuh kasih sayang, berwibawa, dan adil dalam memberikan penilaian; (3) Hubungan sosial yang ideal antara guru sejarah dengan siswa adalah adanya keakraban yang wajar, ramah, terbuka menerima siswa yang mengalami masalah dalam belajar, bisa menempatkan diri sebagai teman dan orang tua.
PURA TAMAN NARMADA BALI RAJA DI DESA PAKRAMAN TAMANBALI, BANGLI, BALI (Sejarah, Struktur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal) NI WAYAN EKA KRISNA YANTI
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i3.1015

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Pakraman Tamanbali, Bangli, Bali yang bertujuan untuk mengetahui : (1) Sejarah keberadaan Pura Taman Narmada Bali Raja di Desa Pakraman Tamanbali; (2) Struktur dan Fungsi Pura Taman Narmada Bali Raja; dan (3) Potensi Pura Taman Narmada Bali Raja sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) Heuristik; (2) Kritik Sumber; (3) Interpretasi; dan (4) Historiografi. Berdasarkan temuan di lapangan Pura Taman Narmada Bali Raja dibangun untuk mengenang sekaligus sebagai sarana melaksanakan bhakti sentana kepada leluhur Maha Gotra Tirta Harum Tamanbali. Struktur Pura Taman Narmada Bali Raja terdiri dari dua halaman, yakni madya mandala atau jaba tengah, dan utama mandala atau jeroan. Fungsi Pura Taman Narmada Bali Raja secara umum dapat dibagi empat yakni, (1) Fungsi Religius; (2) Fungsi Pendidikan; (3) Fungsi Sosial; (4) Fungsi Budaya. Pada utama mandala dan madya mandala Pura Taman Narmada Bali Raja didirikan pelinggih-pelinggih untuk mengenang jasa-jasa leluhur Maha Gotra Tirta Harum Tamanbali.
Pura Kehen di Desa Pakraman Cempaga, Bangli, Bali (Sejarah Struktur dan Fungsinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah). NI LUH SRI KARMI ASRI
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i3.1016

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Pakraman Cempaga, Bangli, Bali yang bertujuan untuk mengetahui : (1) Sejarah Pura Kehen di Desa Pakraman Cempaga; (2) Struktur Pura Kehen; dan (3) Fungsi Pura sebagai sumber pembelajaran sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan adalah (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) Heuristik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (4) Kritik Sumber, (5) Interpretasi, dan (6) Penulisan Sejarah Historiografi. Berdasarkan temuan di lapangan Pura kehen sudah ada pada akhir abad IX Masehi. Ketiga prasasti tembaga dari prasasti I, II, dan III, dapat diambil suatu petunjuk bahwa Hyang Api dalam prasasti I berubah nama menjadi Hyang Kehen. Prasasti III dimana Kehen=keren= anglo=tempat api. Dengan demikian dapat dikatakan pada abad IX pura tersebut didirikan, pada abad XIII masih tetap mendapat perhatian raja. Struktur Pura Kehen terdiri dari tiga halaman, yakni nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Fungsi Pura Kehen dapat dibagi tujuh yakni, (1) Fungsi Religius; (2) Fungsi Sosial; (3) Fungsi Pendidikan; (4) Fungsi Budaya; (5) Fungsi Politik; (6) Fungsi Ekonomi; dan (7) Fungsi Rekreasi. Pura Kehen, dibangun pada masa megalitikum di Bali, dibuktikan dengan adanya batu sacral, arca batu, dan punden berundak.
“BIOGRAFI MAYOR NENGAH METRA” DAN SUMBANGANNYA BAGI PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA PUTU HARLEONY SUWERDY
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i3.1017

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) Biografi Mayor Nengah Metra dan (2) Nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diambil dari sosok Mayor Nengah Metra dalam rangka pembelajaran sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah yaitu: (1) pengumpulan sumber/heuristic (studi dokumen, teknik wawancara, teknik observasi; (2) kritik sumber (kritik intern dan kritik ekstern); (3) interpretasi; dan (4) penulisan sejarah/historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mayor Nengah Metra adalah putra kedua dari pasangan Wayan Sukiana dengan Ni Ketut Sudiarti dari Sibang, Abiansemal, Badung. Mayor Nengah Metra menempuh pendidikan dari HIS sampai dengan HKS/Sekolah Guru sehingga tumbuh besar menjadi seorang guru, sastrawan hingga pemimpin pada Pertempuran di Gintungan/Selat, Buleleng pada tahun 1946. Nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung pada sosok Mayor Nengah Metra antara lain: (1) nilai keberanian; (2) nilai kewibawaan; (3) nilai rela berkorban; (4) nilai patriotisme; (5) nilai kemandirian; (6) nilai etika dan moral; (7) nilai kejujuran; (8) nilai menghargai dan menghormati orang lain; (9) nilai solidaritas. Nilai kepahlawanan Mayor Nengah Metra dapat dijabarkan pada materi sejarah (1) Kompetensi Dasar “Merekonstruksi Perkembangan Masyarakat Indonesia Sejak Proklamasi Hingga Demokrasi Terpimpin”; (2) Kompetensi Dasar “Menganalisis Perjuangan Bangsa Indonesia Sejak Proklamasi Hingga Lahirnya Orde Baru” (3) serta pada Standar Kompetensi “Menganalisis Perkembangan bangsa Indonesia sejak masuknya pengaruh Barat sampai dengan Pendudukan Jepang”; (4) Standar Kompetensi “Menganalisis Perjuangan Bangsa Indonesia sejak Proklamasi hingga Lahirnya Orde Baru”. Kata Kunci: biografi, nilai kepahlawanan, pembelajaran sejarah. //
Identifikasi Objek Wisata Yang Terdapat Di Pantai Sanur GD SUGIHARTA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i3.1018

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengetahui objek-objek wisata yang terdapat di Pantai Sanur, Bali, 2) Dampak keberadaan Pantai Sanur sebagai objek wisata terhadap masyarakat sekitar. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, melalui langkah: (1) Lokasi Penelitian , (2) Teknik Penentuan Informan, (3) Teknik Pengumpulan Data, (4) Validitas data, dan (5) Teknik Pengolahan Data. Hasil penelitian menunjukan objek wisata yang terkenal di Pantai Sanur di antaranya adalah Pantai Sanur itu sendiri dan Museum Le Majeur. Pantai Sanur sudah terkenal di mancanegara, pantai ini memiliki pasir putih dan jika di pagi hari dapat dilihat pemandangan matahari terbit yang sangat indah. Museum Le Majeur juga sudah terkenal ke seluruh mancanegara. Museum Le Majeur adalah museum yang menyimpan berbagai karya lukisan indah yang dilukis sendiri oleh Le Majeur berkebangsaan Belgia. Keberadaan dan perkembangan pariwisata di kawasan wisata pantai Sanur berdampak bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan ini baik dampak yang bersifat positif maupun negatif. Dampak positif yang ditimbulkan adalah adanya mata pencaharian dan peluang kerja baru bagi masyarakat, terutama yang bergerak dalam bidang pariwisata. Dampak negative yang ditimbulkan adalah munculnya kegiatan prostitusi, beredarnya berbagai minuman keras dan terjadinya kepadatan penduduk.
“IDENTIFIKASI POTENSI MONUMEN PUPUTAN KLUNGKUNG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL” I Kadek Dwipayana
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i3.1019

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang didirikanya Monumen Puputan Klungkung, dan (2) mengetahui potensi yang dimiliki Monumen Puputan Klungkung sebagai media pembelajaran sejarah lokal. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) metode penentuan informan, (3) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) teknik penjamin keaslian data (triangulasi data, triangulasi metode), (5) metode analisis data, dan (6) metode penulisan. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) ada dua faktor yang melatar belakangi pembangunan Monumen Puputan Klungkung dilihat dari faktor historis dan faktor pariwisata, (2) potensi yang dimiliki Monumen Puputan Klungkung sebagai media pembelajaran sejarah lokal yaitu makna struktur bangunan, patung Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe beserta pengikutnya yang gugur dalam perang puputan Klungkung, dan diorama yang ada dalam ruangan monumen.