cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
putuayub.simpson@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
ISSN : 25487868     EISSN : 25487558     DOI : https://doi.org/10.46445/ejti
Core Subject : Religion,
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat menitikberatkan pada penyampaian informasi hasil penelitian, analisa konseptual dan kajian dalam bidang Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat oleh para sivitas akademika internal dan eksternal STT Simpson Ungaran dengan rasio 30:70. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari (Batas penerimaan naskah pada bulan Oktober) dan Juli (Batas penerimaan naskah pada bulan Mei). Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat telah terdaftar pada Google Schoolar, BASE (Bielefeld Academic Search Engine), One Search. ISSN 2548-7868 (cetak), 2548-7558 (online)
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2020): Juli" : 11 Documents clear
Perempuan: Sumber Dosa atau Sumber Hikmat? Tafsir Ulang Kejadian 3:1-24 dari Perspektif Feminis Asnath Niwa Natar
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.714 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.280

Abstract

There is an understanding that women and their bodies are the source of sin that must be shunned in our society. It is also evident in Christianity, where themes about women's bodies and their sexuality are also often associated with sin, transgression and punishment. This understanding is rooted in the story of Eve eating fruit in the Garden of Eden (Gen. 3:1-24) which is seen as a story of the "fall" of humans because of women's sin. In other words, women are seen as the cause of humans falling into sin. Of course, this understanding has a negative impact on women dignity. Women then experience discrimination almost in all fields. Their body and sexuality are also controlled by men. In this regard, a re-reading of the text of Genesis 3:1-24 is needed to free women from such kind of understanding. The author interprets the text of Genesis 3:1-24 from a feminist perspective using literature research methods. The result of this interpretation is that women are not the source of sin but rather the source of wisdom. Through the results of this interpretation is expected to change the way of thinking of society to respect women and their bodies better. Dalam kehidupan masyarakat terdapat pemahaman bahwa perempuan dan tubuhnya adalah sumber dosa yang harus dijauhi. Hal ini tampak dalam kekristenan di mana tema tentang tubuh perempuan dan seksualitasnya juga sering dihubungkan dengan dosa, pelanggaran dan hukuman. Pemahaman ini berakar dari kisah Hawa makan buah di taman Eden (Kej. 3:1-24) yang dipandang sebagai cerita “kejatuhan” manusia karena dosa perempuan. Dengan kata lain, perempuan dipandang sebagai penyebab manusia jatuh ke dalam dosa. Pemahaman ini menimbulkan dampak negatif terhadap perempuan secara keseluruhan. Perempuan mengalami diskriminasi hampir dalam segala bidang. Tubuh dan seksualitas mereka juga dikontrol oleh laki-laki. Sehubungan dengan hal itu, perlu dilakukan pembacaan ulang terhadap Kejadian 3:1-24 untuk membebaskan kaum perempuan. Penulis menafsirkan Kejadian 3:1-24 dari perspektif feminis dengan menggunakan metode penelitian literatur. Hasil dari penafsiran ini adalah bahwa perempuan bukan sumber dosa melainkan adalah sumber hikmat. Melalui hasil tafsiran ini diharapkan dapat mengubah cara berpikir masyarakat untuk lebih menghargai perempuan dan tubuhnya.
Spiritualitas Pandemik: Tinjauan Fenomenologi Ibadah Di Rumah Hasahatan Hutahaean; Bonnarty Steven Silalahi; Linda Zenita Simanjuntak
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.04 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.270

Abstract

This research departs from the facts in the reality that we faced since the determination of the COVID-19 pandemi in Indonesia. The churches convert every activity from the church into homes. This phenomenon brings researchers to the spirituality of the congregation during a pandemi with devotions at home. A qualitative approach with a methodological method is used to obtain teaching from these experiences on the spiritual side. With a sample of one hundred respondents from four Churches Congregation who held every devotion activities at home, they realized that the opportunity to understand God's sovereignty upon the whole world, and increasingly surrendered to Him (arround 94%). The respondent composition is dominated by attending live streaming (96%) while doing devotion at home with church printed-out services is 3%. Several respondents found 2.6% sharing the Word by themself in the devotion session at home. By this research, there is hope for churches to take a serious look to the digital field by forming a digital commission/department or another designation with the task of serving the online services because advances in information technology become tools that cannot be ignored for the advancement of church services and developments. The pandemi did not pose a threat to the congregation to grow and rush on the spiritual side. Penelitian ini berangkat dari fakta di lapangan yang ada sejak penentuan pandemik korona jenis baru di Indonesia. Gereja-gereja mengalihkan ibadah di gereja menjadi di rumah-rumah. Fenomena ini membawa peneliti kepada sisi spiritualitas jemaat selama pandemik dengan ibadah di rumah. Pende-katan kualitatif dengan metode metodologi dipakai untuk mendapatkan pengajaran dari pengalaman ter-sebut bagi sisi spiritualitas. Dengan sample seratus responden dari empat jemaat yang mengadakan iba-dah di rumah, di temukan hasil diantaranya menyadari kesempatan untuk melihat kuasa Tuhan atas seisi dunia, dansemakin berserah pada-Nya (sekitar 94%). Komposisi responden didominasi mengikuti ibadah dengan live streaming (92%) sedangkan ibadah di rumah dengan tata ibadah dari gereja sebanyak 5%. Dari sejumlah responden didapati 2,6% berbagi Firman Tuhan (sharing) pada sesi khotbah dalam kebak-tian di rumah. Dengan penelitian ini ada harapan kepada gereja-gereja untuk menatap dengan serius bidang digital dengan (misalnya) membentuk komisi/sie khusus digital atau sebutan lain dengan tugas pa-da pelayanan dunia daring karena kemajuan teknologi informasi menjadi tools yang tidak dapat diabaikan demi kemajuan pelayanan dan perkembagan gereja. Masa pandemik tidak menjadi ancaman kepada warga jemaat untuk bertumbuh dan bergegas dalam sisi spiritualitas.
Transformasi Wawasan Dunia Marapu: Tantangan Pembinaan Warga Gereja Di Sumba Johanis Putratama Kamuri
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.766 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.257

Abstract

The spirituality of some Sumbanese Christians is characterized by Marapu, not Christianity. This was influenced by their religious commitment to Marapu.Through a mixed method approach, this study shows that Marapu's worldview is a major force, which shapes the culture and religious commitment of Sumbanese. The principles in the worldview of Marapu are the main protocols in understanding reality, including Christian principles. This is a challenge for the church in Sumba in fostering its members. Based on Romans 12:1-2 and Philippians 4:8-9 it will be shown that the direction of church service and the fostering of church members is the transformation of worldview.This transformation must be based on biblical principles.The impact is a biblical and moderate cultural transformation. Sebagian orang Kristen Sumba memiliki spiritualitas yang berciri Marapu, bukan Kristen. Ini dipengaruhi oleh komitmen religiusnya terhadap Marapu. Melalui mixed method approach, penelitian ini menunjukkan bahwa wawasan dunia Marapu adalah kekuatan utama, yang membentuk budaya dan komitmen religius orang Sumba. Prinsip-prinsip dalam wawasan dunia Marapu penjadi protokol utama dalam memahami realita, termasuk prinsip-prinsip Kristen. Akibatnya adalah sinkretisme dan lemahnya komitmen terhadap prinsip-prinsip Kristen. Ini adalah tantangan dalam pembinaan warga gereja di Sumba. Berdasarkan Roma 12:1-2 dan Filipi 4:8-9 akan ditunjukkan bahwa arah pelayanan gereja dan pembinaan warga gereja adalah transformasi wawasan dunia. Transformasi ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip biblikal. Dampaknya adalah transformasi budaya yang biblikal dan moderat.
Pembinaan Guru Sekolah Minggu Untuk Mengajarkan Konsep Keselamatan Pada Anak R Riniwati
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.085 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.247

Abstract

This article discusses the formation of Sunday school teachers to teach children safety. The author uses a qualitative approach to analyze teacher needs, then the authors construct a pattern of coaching Sunday school teachers by elaborating sources of literature in accordance with the needs of teachers obtained from the needs analysis. The results of the needs analysis show there are three main needs needed by the teacher, namely aspects of knowledge about sin and salvation, aspects of personality where there are teachers who are still unsure of safety, and aspects of skills related to the ability to teach safety. The proposed pattern of coaching is to provide teaching about sin and salvation, the use of media for evangelism, mentoring or teacher supervision and evaluation.Artikel ini membahas tentang pembinaan guru sekolah minggu untuk mengajarkan keselamatan pada anak. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis kebutuhan guru, kemudian penulis melakukan konstruksi pola pembinaan guru sekolah minggu dengan melakukan elaborasi sumber literatur sesuai dengan kebutuhan guru yang diperoleh dari hasil analisis kebutuhan. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan ada tiga kebutuhan utama yang diperlukan guru yaitu aspek pengetahuan tentang dosa dan keselamatan, aspek kepribadian di mana ada guru yang masih ragu dengan keselamatan, dan aspek keterampilan berkaitan dengan kemampuan mengajarkan keselamatan. Pola pembinaan yang diusulkan adalah dengan memberikan pengajaran tentang dosa dan keselamatan, pemanfaatan media penginjilan, pendampingan atau supervisi guru dan evaluasi.
Dewan Redaksi dan Daftar Isi Volume 4, Nomor 2, Juli 2020 I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.458 KB)

Abstract

Mengantisipasi dan Mengatasi Kecanduan Games Online Dalam Perspektif Teologi Injili Martin Elvis
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.038 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.235

Abstract

The development of technology is so rapid at present, the products produced greatly affect human life; either the ones that provide benefits or the ones that causes negative impacts. Parents, teachers and clergies finally see the importance of educating the adolescents to prevent and overcome the negative impact of online games addiction. Is the integrative and holistic Christian faith formation able to prevent and overcome the negative impact of the addiction? This paper is a result of a research that claims that the integrative and holistic Christian faith formation is able to lower the level of the addiction at the adolescents, especially at the younger children. While for those who don’t have any Christian faith formation, increase their level of addiction. In conclusion, it should be taken a precaution in order to avoid the teenagers from online games addiction by equipping them with training as early as possible. And for those who are in serious level of addiction, it is encouraged to take the integrative and holistic Christian faith formation.Perkembangan teknologi begitu pesat saat ini, produk-produk yang dihasilkan sangat memengaruhi kehidupan manusia, baik itu yang bermanfaat, maupun yang dapat menimbulkan dampak negatif. Orang tua, guru dan rohaniwan melihat pentingnya perhatian pada pembinaan anak remaja agar dapat mencegah dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games online ini. Apakah pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat mengantisipasi dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games online terhadap anak remaja? Tulisan ini adalah hasil penelitian yang menyatakan bahwa pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat menurunkan tingkat kecanduan terhadap games online pada anak remaja, khususnya pada anak-anak yang berusia lebih muda. Sedangkan anak-anak remaja yang tidak mendapatkan pembinaan iman Kristen, semakin meningkat tingkat kecanduan terhadap games online.  Jadi kesimpulannya, perlu diambil langkah antisipasi agar anak-anak remaja tidak semakin tinggi tingkat kecanduannya terhadap games online dengan mengadakan pembinaan sejak dini. Sedangkan untuk mereka yang telah tinggi tingkat kecanduannya, dapat diambil langkah mengatasinya dengan memberikan pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik.
Implikasi Pembinaan Pemuda Gereja Atas Faktor-Faktor Penyebab Kasus Hamil di Luar Nikah Theresia Tiodora Sitorus
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.365 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.248

Abstract

This article discusses the implications of fostering church youth on the factors that cause cases of pregnancy out of wedlock. The author uses qualitative methods with data collection techniques of observation, and interviews, then in compiling the implications of the author using relevant library sources. The results showed that the factors causing cases of pregnancy out of wedlock are the lack of attention and supervision of parents, then the free association of youth, lack of self-fortification, lack of sexual knowledge, and technological developments that facilitate access to negative sexual information. The implication for church youth coaching is that holistic coaching is needed for both youth and parents. Coaching can be done by organizing groups to grow together, Christian faith seminars, personal care and making catechism curriculum on sexuality. Artikel ini membahas tentang implikasi pembinaan pemuda gereja atas faktor-faktor penyebab kasus hamil di luar nikah. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, dan wawancara, kemudian dalam menyusun implikasi penulis menggunakan sumber-sumber pustaka relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kasus hamil di luar nikah adalah kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, kemudian pergaulan bebas pemuda, kurangnya pembentengan diri, minimnya pengetahuan seksual, dan perkembangan teknologi yang memudahkan akses informasi negatif seksual. Implikasi bagi pembinaan pemuda gereja adalah perlu dilaksanakan pembinaan yang holistik baik pada pemuda maupun orangtua. Pembinaan dapat dilaksanakan dengan menyelenggarakan kelompok tumbuh bersama, seminar iman Kristen, personal care dan pembuatan kurikulum katekisasi tentang seksualitas.
Penilaian Berbasis Test di Sekolah Minggu Yudha Nata Saputra
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.006 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.245

Abstract

Assessment as a component of learning in Sunday schools plays an important role as a measure of success in achieving Sunday school goals. Without an assessment, parents, the church, Sunday school teachers, children cannot know the extent of their success in learning in the Sunday school. This paper tries to highlight aspects of assessment in Sunday school, specifically to the factors related to the use of test-based assessment techniques that can be used in the learning process in Sunday school. It is expected that by examining the factors related to the use of test-based assessment techniques, Sunday school teachers can use them in Sunday school services that are conducted. The results of the study show that test-based assessment techniques used in Sunday schools need to pay attention to the competencies that are intended to be mastered by Sunday school children and the types of learning material delivered to Sunday school children. In addition to paying attention to aspects of competency and types of learning material, the selection of test-based assessment techniques in Sunday schools also needs to pay attention to aspects of the feasibility and economics. Penilaian sebagai salah satu komponen pembelajaran di Sekolah Minggu, memegang peranan yang penting sebagai alat ukur keberhasilan pencapaian tujuan Sekolah Minggu. Tanpa adanya penilaian maka orang tua, gereja, guru Sekolah Minggu, anak-anak tidak bisa mengetahui sejauhmana keberhasilan mereka menjalani proses pembelajaran di Sekolah Minggu. Tulisan ini mencoba menyoroti aspek penilaian di Sekolah Minggu, secara khusus kepada faktor-faktor yang terkait dengan penggunaan teknik penilaian berbasis test yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran di Sekolah Minggu. Diharapkan dengan dikajinya faktor-faktor terkait pengunaan teknik penilaian berbasis test maka guru-guru Sekolah Minggu dapat menggunakannya dalam pelayanan Sekolah Minggu yang dilakukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknik penilaian berbasis test yang digunakan di Sekolah Minggu perlu memerhatikan kompetensi yang hendak dikuasai oleh anak Sekolah Minggu dan jenis materi  pembelajaran yang disampaikan kepada anak Sekolah Minggu. Di samping perhatian terhadap aspek kompetensi dan jenis materi pembelajaran, pemilihan teknik penilaian berbasis test di Sekolah Minggu juga perlu memerhatikan aspek praktibilitas dan ekonomis.
Hukuman Mati Di Indonesia Menurut Perspektif Alkitab dan Implikasi Bagi Penegak Hukum Kristen Morris Phillips Takaliuang
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.022 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.180

Abstract

Provisions and implementation of the death penalty, is a serious and very severe law for perpetrators who are considered to have committed serious and serious violations before the law. The Indonesian state still holds and carries out such a death sentence, as regulated in the Criminal Code. There are three stages in the Bible regarding the provisions and execution of the death penalty: (1) The death penalty applies to people who sin directly to God, such as worshiping idols, turning to the spirits of the dead, chanting the name of God carelessly and not keeping the Sabbath day holy, (2 ) The death penalty applies to people who commit sins against others such as killing and all the acts of adultery, and (3) The provisions and execution of the death penalty are null and void for anyone who is in faith and obedience to Christ. The task as a Christian and church law enforcer is to bring sinners to believe and be in fellowship with Christ. For "criminals" who deserve to be sentenced to death, according to the Criminal Code, it is recommended that they be sentenced to life in retribution for violations. In this way, "criminals" are given the opportunity to be rehabilitated and reconstructed by Christ and His church, through Faith in Christ and His atonement work. So the point is that, the provisions and implementation of the death penalty must be canceled and replaced with life sentences. In such a sentence, "prisoners" only need to trust and obey Christ for the rest of their lives. This is called the Law of God's Grace. Ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati, merupakan hukum yang serius dan sangat berat bagi para pelaku yang dianggap melakukan pelanggaran-pelanggaran serius dan berat di mata hukum. Negara Indonesia masih memegang dan melaksanakan hukuman mati seperti itu, sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Di dalam Alkitab terdapat tiga tahapan tentang ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati: (1) Hukuman mati diberlakukan kepada orang yang berdosa langsung kepada Allah, seperti menyembah berhala, berpaling kepada arwah orang mati, menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dan tidak menguduskan hari sabat, (2) Hukuman mati diberlakukan bagi orang yang melakukan dosa terhadap sesama seperti membunuh dan semua perbuatan zinah, dan (3) Ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati batal dan tidak berlaku lagi bagi siapapun yang berada di dalam iman dan ketaatan kepada Kristus. Tugas sebagai penegak hukum Kristen dan gereja adalah membawa orang-orang berdosa supaya percaya dan berada di dalam persekutuan dengan Kristus. Bagi “para penjahat” yang patut dihukum mati, sesuai dengan KUHP, disarankan supaya dihukum seumur hidup saja sebagai retribusi atas pelanggaran yang dilakukan. Dengan cara demikian, “para pelaku kriminal” diberi kesempatan untuk direhabilitasi dan direkonstruksi oleh Kristus dan gereja-Nya, melalui Iman kepada Kristus dan karya pendamaian-Nya. Jadi intinya adalah bahwa, ketentuan dan pelaksanaan hukuman mati harus batal dan diganti dengan hukuman seumur hidup. Dalam status hukuman seperti itu, “para narapidana” hanya perlu percaya dan taat kepada Kristus selama sisa hidup yang masih ada. Inilah namanya Hukum Kasih Karunia Allah.
Tugas Pedagogis Gembala Dalam Menyiapkan Warga Gereja Menghadapi Perubahan Sosial Lenda Dabora J.F. Sagala
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.788 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.253

Abstract

Social change is an inevitable conversation. Everyone needs to be prepared for social change. Likewise for church members, they need to be prepared for social change and there must be a pastoral pedagogical task in preparing church people for social change. The author conducts research by analyzing literature analysis to examine the issue. To prepare church members for social change, a pastor needs to conduct coaching that emphasizes Christian beliefs, so that these beliefs can be demonstrated in daily life. Then the second pedagogical task is the value of trust in church members. Human needs in the era of society 5.0 are strengthening the value of consideration and understanding in this context based on Christian principles. Gospel communication can fade because of the challenges of the times, but opposes social change in the era of the 5.0 shepherd community in support of providing guidance that leads to gospel communication. Church members need to be equipped to be able to communicate the gospel in the midst of a Christian perspective. Perubahan sosial adalah sebuah situasi yang tidak bisa dihindari. Setiap orang perlu dipersiapkan dalam menghadapi perubahan sosial. Demikian pula bagi warga gereja, mereka perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan sosial dan tentunya ada tugas pedagogis gembala dalam menyiapkan warga gereja untuk meghadapi perubahan sosial. Penulis melakukan penelitian dengan pendekatan analisis literatur untuk mengkaji isu tersebut. Untuk mempersiapkan warga gereja menghadapi perubahan sosial seorang gembala perlu melakukan pembinaan yang menekankan pada penguatan keyakinan iman Kristen, sehingga keyakinan tersebut dapat didemonstrasikan dalam kehidupan sehari-hari.  Kemudian tugas pedagogis kedua adalah memperkuat nilai kemanusiaan pada warga gereja. Kebutuhan manusia di era masyarakat 5.0 adalah penguatan nilai kemanusiaan dan tentunya dalam konteks ini berdasarkan prinsip-prinsip kekristenan. Komunikasi injil dapat memudar karena tantangan zaman, tetapi menghadapi perubahan sosial di era masyarakat 5.0 gembala berperan untuk memberikan pembinaan yang mengarah pada komunikasi Injil. Warga gereja perlu diperlengkapi untuk dapat mengomunikasikan Injil di tengah perubahan cara pandang tentang kekristenan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11