cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 604 Documents
PENDAPAT KH. SALIM MARUF TENTANG JUAL BELI DALAM RISALAH MUAMALAH Fathurrahman Azhari; Adi Hatim
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v15i2.849

Abstract

The study of KH. Salim Ma'ruf thought about buying and selling is important to do because sometimes his thought is in contrast to other scholars opinion. For example, KH. Salim Ma'ruf said that buying and selling done by a drunk person is valid/legal. However, if it is done by children under the permission of the guardians, according to KH.Salim Maruf, is not valid/legal. KH. Salim Ma'ruf also found that buying and selling to people whose treasure is doubtful is makruh. In addition, he also noted that buying and selling sacrificial meat is haram, bay 'al-'urbun, bay' munabadzah and bay 'mulamasah, bay'ataini fi bay'atin, bay 'malaqih. KH. Salim Maruf did not give the legal proposition on each of his thought published in the book of Risalah Mu'amalah while the law is said to be invalid or false is determined from the aspect of legal proposition, therefore, it is necessary to study and search of the arguments used in book.
KESULTANAN BANJAR DAN KEPENTINGAN DAKWAH ISLAM Kamrani Buseri
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.457

Abstract

Kajian ini membahas tentang penyebaran Islam sejak kerajaan Banjar pada abad ke- 16. Perkembangan Islam di Banjarmasin didukung oleh kerajaan Banjar, yang menganut agama Islam dan memberikan pengaruh kepada masyarakatnya untuk menganut agama Islam. Sultan Suriansyah sebagai Sultan Banjar yang pertama mengupayakan penyebaran Islam dengan pengkaderan ulama, yaitu dengan mengirim Syekh Arsyad Al-Banjary, yang kemudian dikenal sebagai ulama Banjar yang tersohor, bahkan di luar Nusantara. Dengan buku-buku beliau yang ada, ajaran beliau sampai sekarang masih berkembang, ajaran yang dinamis, yang memberikan adaptasi budaya Islam yang sesuai dengan kekhasan corak daerah Banjar yang sangat kaya dan bervariasi.
PEMBARUAN ISLAM DI KALIMANTAN SELATAN PADA AWAL ABAD KE-20 Rahmadi Rahmadi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 13, No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v13i1.390

Abstract

Islamic Reform in the early of 20th century in South Kalimantan was spread through a number of ways: through the alumni and scholars of the Middle East, inter-island Banjar trader, written media (magazines and books), Islamic organizations, and educational institutions. These reformations changes the map of religious thought in which there are two major camps:  kaum muda and kaum tuha. In some cases, those two camps engaged in a polemic thought in a number of religious issues
ADAT BADAMAI MENURUT UNDANG-UNDANG SULTAN ADAM DAN IMPLEMENTASINYA PADA MASYARAKAT BANJAR PADA MASA MENDATANG Ahmadi Hasan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.414

Abstract

Adat badamai adalah salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang lazim dilakukan oleh masyarakat Banjar. Adat badamai bermakna pula sebagai hasil proses perembukan atau musyawarah dalam pembahasan bersama dengan maksud mencapai suatu keputusan sebagai penyelesaian dari suatu masalah. Adat badamai merupakan nilai-nilai yang hidup pada masyarakat. Nilai-nilai adat badamai danggap penting sebagai bagian dari budaya yang dari waktu ke waktu mengalami proses pasang surut dan pasang naik. Terutama ketika berhadapan dengan perubahan dan modernisasi. Adat badamai menggambarkan budaya timur yang akrab dengan nilai-nilai atau pandangan masyarakat yang bercirikan solidaritas mekanis, dalam kondisi seperti ini adat badamai fungsional dan sangat tepat sebagai mekanisme solutif dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam msyarakat.
PERUBAHAN NILAI BUDAYA URANG BANJAR (DALAM PERSFEKTIF TEORI TROOMPENAAR) Imadduddin Parhani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v15i1.861

Abstract

Cultural Values Urang Banjar research has not been done. This study refers to the dimension of cultural values being addressed Troompenaar. According Troompenaar cultural values have seven dimensions: individualism - Communitarism, specifik Relationship - Diffuse relationship, Universalism - Particularism, Neutral Relationship - Emotional Relationship, Achivemenent - ascription, Sequential time - Synchoronous time, and the Environment. Results of research conducted Troompenaar in Indonesia, indicating Indonesia is in the category Communitarism, Diffuse relationship, Particularism, Neutral Relationship, ascription, Synchoronous Time and Outter Direction. This study uses primary data collected through questionnaires which had been prepared previously by the indicators Troompenar dimensions of cultural values. The total sample was 192 people. The research focuses on is the Banjar, and its relation to the cultural values of Banjar. The conclusion of this research are (1) The value of Banjar culture included in the category of universalism with a percentage of 78.13 percent, Komunitariasme with the percentage of 79.17 percent, with the percentage Emotional 73, Specification with the percentage of 54.17 percent, with the percentage of 76.04 percent Achievement, synchronous with the percentage of 69, 79 percent, and Outter direction with the percentage of 83.33 percent; (2) There was a difference or shift in cultural values in society Banjar with Indonesian cultural values, from particularism into Universalism, from Neutral became Emotional, of Diffuse be Specific, and of ascription becomes Achievement; (3) The difference in the value of Indonesian culture and cultural values Urang Banjar indicate that changes people's lives, especially people Banjar ongoing and will never stop, because no one masyarakatpun that stops at a certain point all time. The difference or shift in cultural values that occurred in Banjar Urang an ongoing process of social change in society Banjar.
POTRET LAIN PERJALANAN HUKUM DI KERAJAAN BANJAR M. Faqih Ridha
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i1.452

Abstract

Hukum adalah nilai sekaligus pedoman praktis manusia dan masyarakat dalam mengatur dinamika kehidupan dan interaksi sosial. Walaupun demikian pentingnya arti sebuah hukum di masyarakat, bukan berarti hukum lalu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri dalam perkembangannya. Hukum pada dasarnya juga memerlukan perangkat kuat di luar dirinya untuk pelaksanaannya. Artinya, harus ada kekuatan yang mampu mengatur dan menjamin hukum untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karenanya, hukum menjadi sesuatu yang kental dengan perbenturan tanpa henti dengan kehendak-kehendak zaman dimana hukum tersebut ada. Refleksi seperti inilah yang ingin dibangun oleh penulis artikel ini dalam memotret perjalanan hukum Islam selama masa kerajaan Banjar di era Sultan Tahmidullah (1761-1801) dan Sultan Adam (1825-1857).
GAGASAN TASAWUF KONTEKSTUAL K. H. HAMDANI BAKRAN ADZ DZAKIEY AL BANJARI Muhammad Zainal Abidin
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 8, No 2 (2009)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v8i2.905

Abstract

The background of this paper is from the problem that happened on the relation between Islam and knowledge in the muslim contemporary discourse. The problem is the irrelevancy between Islamic knowledge and the challenges facing by muslim people today. To overcom the problem many inttelectual muslims suggest the solution. One of them in sufism field done by K. H. Hamdani Bakran Adz Dzakiey Al Banjary. The are some basic ideas from K. H. Hamdani to make a contextual sufism. Some of them, he named his idea with the prophetic intelligence as the name of his sufism; he also put the prophet Muhammad as the life model of his pschology. Actually, the idea of K. H. Hamdani is part of the current issue on Islamic contemporary discourse that to make Islam as the knowledge, and he did it in sufism field.
INTEGRASI PENGAJIAN SAINS-TEKNOLOGI DAN PENGAJIAN SYARIAH: SATU PENILAIAN SEMULA Alias Azhar
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 14, No 2 (2015)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v14i2.655

Abstract

The development of shari’ah is being questioned because it has deviated from the original purpose and tends to focus more on formal aspects than on its application and usefulness for life. Therefore, it is the time to re-evaluate the strategy and execution of all forms of shari’ah to fi t with the modern era and improve the business of ummah to cover the advancement of science and technology. There are two choices in establishing the patterns of shari’ah studies. First, follow the trends with tecnical, bureaucratic and legal also formal rule that will make Islamic shari’ah static. Secondly, formulate the paradigm of integrated shari’ah studies covering the development of science and technology whose purpose is to establish a dynamic and responsive Islamic law to the problems of society.
INTEGRASI SAINS DAN AGAMA DALAM PEMBELAJARAN KURIKULUM PAI (Perspektif Islam dan Barat serta Implementasinya) Rabiatul Adawiyah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v15i1.817

Abstract

The Islamic teachings contain various moral and ethical values which is very important in today's modern era because Islam always concerns with the balance between body and spirit, inward and outward, spiritual and the material, between world and hereafter. Islam can provide moral and ethical values in the development of science. With religion, it is expected that man does not forget himself after successfully developing science, and aware that the science he developed is an ongoing effort within the framework of worship. Therefore, through science, humans will find the ultimate truth that is God. Science is one of the strategic doors to bring people closer to God through intensive and serious effort to consider the universe to the perfection of human life, both physically and spiritually. Through the integration of science and religion developed in PAI (Islamic Education), it is expected to produce the learners who have a scientific attitude, scientific responsibility, capability of utilizing science and become ululalbab.
TARIKAT SUFIYAH ISLAM DALAM PEMIKIRAN TASAWUF H. ABDUL MUIN HIDAYATULLAH Murjani Sani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.447

Abstract

Karya ilmiah ini hanya mendeskripsikan keberadaan (asal-usul, perkembangan, mursyid, silsilah, pengikut, suluk, wirid dan praktiknya) Tarikat Sufiyah Islam (TSI) dalam pemikiran tasawuf H. Abdul Muin Hidayatullah. Hasilnya menunjukkan bahwa TSI ini dibangun oleh H. Abdul Muin sejak tahun 1955 setelah ia (menurut pengakuannya) dibawa ke alam rohani (liqa barzakhi) bertemu dengan Rasulullah, nabi Adam dan nabi Musa serta 40 orang pimpinan negara Islam. Ketika itu (menurutnya), ia dibaiat sebagai Mursyid Zahir tarikat ini, sementara Mursyid Batinnya adalah Rasulullah. Mulai saat itulah tarikat ini dikembangkannya hingga ia meninggal dunia (1995) dalam usia 87 tahun. Mursyid penggantinya adalah anaknya sendiri, K.H. Abdullah al-Mahdi dan mengembangkannya hingga sekarang.TSI ini merupakan tarikat baru dalam sejarah ketarikatan, karena tidak termasuk dalam deretan tarikat yang ada di dunia Islam. Unsur ketarikatan terpenuhi dalam tarikat ini, seperti adanya mursyid, anggota/murid, suluk/khalwat, amaliah (wirid) dan praktiknya. Kecuali itu sebagaimana dikemukakan di atas, silsilah mursyidnya yang tidak bersambung karena H. Abdul Muin selaku pimpinannya mengaku bertemu langsung dengan Rasulullah dan mendapatkan ajaran/amaliah (wirid) TSI daripadanya. Padahal dalam tataran teori sufistik disebutkan bahwa silsilah mursyid haruslah bersambung (muttasil), sehingga tidak diragukan lagi ke muktabarahannya. Konsekuensi logis dari ketidak-bersambungan silsilah mursyid ini menjadi lahan adanya pro-kontra terhadapnya, sebagaimana halnya tarikat al-Tijaniyah. Meski pun demikian, ternyata Tarikat Sufiyah Islam ini berkembang cukup pesat, sekarang anggotanya mencapai 7.000 orang, ada yang berstatus pendengar, pelajar, pengikut dan pendukung. Mereka tersebar di Kalimantan Selatan terutama di Banjarmasin, Tabunganen dan di Kabupaten Tabalong, dan aktif melaksanakan ajaran/amaliah (wirid) yang ditentukan. Karena itu keberadaannya cukup berarti (berdampak positif) bagi pembinaan keimanan dan ketakwaan anggotanya, meski pun hal ini masih perlu dilakukan penelitian.