cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 604 Documents
GAGASAN PENGEMBANGAN PONDOK PESANTREN AL-FALAH MENURUT PEMIKIRAN MUHAMMAD TSANI Abdullah Husin
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v8i1.898

Abstract

This paper tries to map Muhammad Tsani Thought on Pondok Pesantren, with the case of Pondok Pesantren Al Falah, in facing the changing current. According to Muhammad Tsani, Pesantren must be able to play the role at least in two aspects: firstly, in closed or limited area at pondok pesantren its self, that pondok pesantren suggested to have a good quality of product. Secondly, pondok pesantren hoped to have the social role that related with the society need. Usually, both of the two aspects known with the term of ilmu and amal. Actually, this basic paradigm is the main capital of pondok pesantren to face the modernity challenges and to play its main role as the moral counter.
PSIKOLOGI SUFISTIK (Studi atas Pemikiran Sachiko Murata dalam Buku The Tao of Islam) Erni Susilawati
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v14i1.643

Abstract

Sachiko Murata has developed many discourses of spiritual psychology asmentioned in her book The Tao of Islam. The writer found that the higheststage of Sufi which is to be united with God exists vertically betweenthe spirit, soul, mind and heart. Spirit is described as the highest innerdimension, which is connected to soul, as a part of the physical or bodystructure. The relationship between the soul and spirit raises other innerdimension that is the mind and heart. For a Sufi who has reached perfectionor sanctity of life, it also means to have a harmonious relationship betweenman's inner dimension, namely the achievement of happiness and peace ofmind which is reflected in real behavior. This is what Murata stated about ahealthy soul, a soul which is strongly influenced by the spirit or goodness.
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM HADIS Hairul Hudaya
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 13, No 2 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v13i2.398

Abstract

The Prophet Muhammad Saw has a great influence among his best friends. The influence was also felt in the field of management education. In management, there are four principles: planning, organizing, actuating and controlling. These four elements are then adopted in managing educational institutions which so called educational management. These four principles are also found in the prophetic spirit. In the beginning of the reign of the Prophet Muhammad in Medina, he launched a literacy program for the companions which was followed by the instructions to the particular person to learn certain science. The Prophet also established teaching and learning for all his followers. During the study, he often asked questions to know how far the companions’ mastery of the material being taught. What the Prophet did can be categorized as a principle of prophetic management based education.
LEMBAGA PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH DI KALIMANTAN SELATAN Mahyuddin Barni
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 9, No 2 (2010)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v9i2.803

Abstract

Organisasi Muhammadiyah merupakan wadah sosial Islam tertua dan terbesar di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarkatan yang bercirikan Islam. Organisasi ini mencurahkan kegiatan pada usaha-usaha pendidikan dan kesejahteraan dan dalam program dakwah guna melawan agama Kristen dan ketakhayulan-ketakhayulan lokal. Dalam usahanya memurnikan pengamalan ajaran Islam (purifikasi) sekaligus mengangkat kehidupan umat, Muhammadiyah lebih berani menerapkan sistem modern.Di Kalimantan Selatan, Muhammadiyah berdiri secara resmi pada tahun 1925 di Alabio. Kehadiran Muhammadiyah di Alabio diikuti dengan pendirian Sekolah Muhammadiyah pada tahun 1926. Sejak itu, Sekolah Muhammadiyah bermunculan bersamaan dengan lahirnya Cabang Muhammadiyah di seluruh Kalimantan Selatan. Sampai saat ini, Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah telah berdiri di semua kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Organisasi ini di Kalimantan telah memiliki sejumlah sekolah, madrasah dan pendidikan tinggi.
ISLAM DAN REPRESENTASI IDENTITAS BANJAR PASCA ORDE BARU DI KALIMANTAN SELATAN Irfan Noor
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.423

Abstract

Gerakan formalisasi syari’at Islam yang marak di Indonesia pasca Orde Baru telah berhasil mengambil manfaat dari berkembangnya wacana peneguhan identiti lokal di era Otonomi Daerah. Salah satu dari keberhasilan gerakan ini adalah terbitnya berbagai Perda bernuansa syari'at Islam di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah yang menunjukan kecenderungan seperti itu adalah Kalimantan Selatan. Di daerah ini, titik tolak berkembangnya wacana peneguhan identitas lokal adalah dampak negatif budaya global yang bersinergi dengan totalitarianisme konstruk negara bangsa. Oleh karena itu, ketika karakter khas yang dikembangkan oleh gerakan Islamisme adalah suatu ideologi perlawanan (counter-ideology) terhadap berbagai faham modenisme dan sekularisme, maka gerakan ini mampu berkelindan dengan wacana peneguhan identitas lokal yang juga mengembangkan suatu upaya perlawanan terhadap konstruk negara-bangsa yang cenderung bersifat totalitarianisme ala Orde Baru. Kajian ini memberikan kerangka kerja alternatif dalam memahami identitas etnik Banjar dan politik identitasnya dari beberapa kajian sebelumnya yang cenderung menekankan unsur-unsur primordialisme. Kajian ini diharapkan dapat memberikan suatu pemahaman tambahan tentang politik identitas Islam di Indonesia pasca Orde Baru.
INTERVENSI ANAK DALAM PERCERAIAN Firman Wahyudi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v15i2.839

Abstract

The high divorce rate in Indonesia sometimes result with positive and negative trends. Positive trend meant the rise of women to defend their rights as a wife that is often abused by her husband so divorce is the best solutions and alternatives. Trend downside besides destroying a family structure also carries a psychological impact, especially children in addition to great effect in socio-civic life. Legal divorce just look at issues from both parties (husband and wife) only, while the other family members in this case the child is not involved. Though the realm of the family consisting of a husband and wife and children. Child has a fundamental right within the family and also have the right to intervene to prevent his parents' divorce because he was the main victim of the divorce itself. Required a special advocate to defend the interests and rights of the child in his parents' divorce given the level of skill in the legal act has not been adequate. In this case the role and functions of the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) is necessary in order to fulfill these rights.
SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI BANJARMASIN DAN PERAN KESULTANAN BANJAR (ABAD XV-XIX) Yusliani Noor
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i2.458

Abstract

Islamisasi Banjarmasin menghasilkan identitas baru pada etnis Dayak Islam sebagai Melayu sekaligus menjadi Banjar,[1] dan demikian pula etnis lainnya seperti; Jawa, Melayu, Bugis-Makassar serta Wajo, khususnya mereka yang berafiliasi, bercampur dan berada dalam suzerinitas Kesultanan Banjar. Suku-suku bangsa ini menghasilkan generasi campuran (mixing generation) karena perkawinan, yang juga menjadi Banjar. Berbagai etnis ini disatukan oleh transformasi dan transkulturasi religiusitas secara genius dari kepercayaan dan budaya Kaharingan-Balian, Hindu-Budha kepada agama Islam dan menjadi berbudaya Islam. Mereka memiliki bahasa Melayu Banjar sebagai Lingua-Franca, sekaligus sebagai bahasa pemersatu.[1]Kenyataan ini ditandai dengan alur cerita dan kemiripan Naskah-Naskah Hikayat yang dianggap bercorak Melayu, sehingga Hikayat Banjar dan Tutur Candi, memiliki genre yang senada dengan Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja Pasai, Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu), Hikayat Aceh, Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, Salasilah Kutai, yang semuanya menampilkan aspek bahasa Melayu; bahasa sastra, politik dan hukum serta bahasa komunikasi. Lihat Henri Chambert-Loir, 2011, Sultan, Pahlawan dan Hakim, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Ecole francaise dExtreme-Orient Masyarakat Pernaskahan Nusantara Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat-UIN Jakarta: Jakarta, hlm. 7. Hasil Penelitian antropologis Y. C. Thambun Anyang, menunjukkan bahwa komunitas Dayak Taman di Kalimantan Barat ketika telah Islam menyebut dirinya turun Melayu atau menjadi Melayu. Lihat Y. C. Thambun Anyang, 1998, Kebudayaan dan Perubahan Daya Taman Kalimantan Dalam Arus Modernisasi, Studi Etnografis Organisasi sosial dan Kekerabatan dengan Pendekatan Antropologi Hukum, Jakarta: Grasendo, hlm. 103. Bandingkan dengan proses diakronis sejak abad ke-15 dalam perspektif Dayak Islam di Banjarmasin yang menjadi Melayu dan juga menyebut dirinya Banjar, sering disebut pula Melayu Banjar.
DESKRIPSI KITAB SENJATA MUKMIN DAN RISALAH DOA Muhammad Adriani Yulizar; Hamidi Ilhami
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 13, No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v13i1.393

Abstract

This article describes the work of K.H. Husin Qadri and K.H. Ja'far Sabran; twoproductive scholarswho wrote manyreligious literatures related to monotheism, sharia, morals, deedsand prayers.  K.H. Husin Kadri,a famous writer in his time, had  a brilliant idea to write  a book contained of  collection of prayers al-Ma'sturat  from Al-Quran and Hadith.  Althoughhe did not include the references of  prayers and quotation used in his book,  the Book ofSenjata Mukmin was devotedto students community and Martapura residents  who have understood, and memorizedthe verses or hadith  in that book.  K.H. Husin Kadri  also included  a material of monotheism  which described the explanation of  twentycharacteristics.  The Book of Risalah Doawas composedwithmodel and format designed by the editors to make it different from other people's work, accompanied by interesting information quoted from credible sources. This book was completed withnumber of verses and chapters, the source of hadith’squotations and sayings  of scholarsfrom other books.
FIQH READING SKILLS OF SANTRI BASED OF COMMUNITY EDUCATION AT THE AL-FALAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL, BANJARBARU, SOUTH KALIMANTAN Ruslan Ruslan; Nor Ipansyah; Hamdan Mahmud; Anwar Hafidzi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v20i2.7025

Abstract

Abstrak:Tulisan ini akan mengungkap bahwa kemampuan membaca kitab kuning santri di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru menggunakan pendekatan yang berbeda dengan Teknik lainnya. Kemampuan membaca ini dilatih secara kontiniu dan berbasis pada konteks masyarakat menarik untuk diteliti sebagai ciri khas pondok pesantren. Meskipun banyak yang sudah membahas kemampuan membaca, tapi ciri khas membaca kitabkuning berbahasa tanpa baris/harakat menjadi penting dan layak untuk diteliti. Teori yang digunakan adalah teori behaviorisme sebagai dasar dalam mengungkap kemampuan yang didapat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analytic kualitatif berupa studi kasus di Pondok Pesantren Al-Falah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi partisipan terhadap system Pendidikan dan pembelajaran di kelas. Temuan dari penelitian ini adalah system pengulangan dalam pembelajaran kitab kuning menjadi bagian termudah dalam mempercepat pemahaman santri dalam membaca kitabkuning secara konseptual.Kata kunci: Konsep, literasi, kitab kuning, Pesantren Abstract:The Al-Falah Islamic Boarding School in Banjarbaru employs a unique method for teaching its pupils how to read the Kitab Kuning (arabic book) that will be demonstrated in this essay. It's fascinating to research how Islamic boarding schools have this reading proficiency that is regularly practiced and dependent on the community environment. Though reading comprehension has been covered extensively, study should also focus on the peculiarities of reading kitab kunings in harakat, a language without lines. The theory used is the theory of behaviorism as the basis for revealing the abilities that students get in reading Kitab. The Al-Falah Islamic Boarding School in Banjarbaru, South Kalimantan, Indonesia served as the site for this qualitative descriptive analytic case study that served as the research methodology. The data collection technique in this study is participant observation of the education and learning system in the classroom. The repetition approach for learning the kitab kuning is the portion that makes it simplest for pupils to comprehend how to read it conceptually, according to the study's findings.Key words: Concept, literacy, kitab kuning, Islamic boarding school
Egaliterianisme Dalam Pandangan Islam: Potret Pemenuhan Hak Sipil Penghayat Kaharingan Syarifah Salmah; Shapiah Shapiah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v21i1.7260

Abstract

 Islam with its monotheistic teachings is very tolerant of differences in religious beliefs. We must show the equality to all people of all religions and beliefs. This article describes how Islam views egalitarianism by referring to the portrait of the fulfillment of rights for Kaharingan adherents in Palangka Raya City. This study used descriptive qualitative method. Kaharingan integration into Hindu Kaharingan provides convenience for its adherents. This convenience can be enjoyed by Kaharingan adherents because Hinduism is one of the religions recognized by the state, so that it has an impact on the ease of state administration. The fulfillment of the civil rights of adherents of the Kaharingan adherents cannot be separated from the role of the Kaharingan Hindu Religious Council (MBAHK) which is a bridge between its adherents and the government. With the integration process of Kaharingan into Hinduism, all basic rights of Kaharingan adherents can also be fulfilled by the state properly.   Islam dengan ajaran tauhidnya sangat toleran terhadap perbedaan keyakinan beragama. Kita harus menunjukkan kesetaraan kepada semua orang dari semua agama dan kepercayaan. Artikel ini memaparkan bagaimana Islam memandang egalitarianisme dengan merujuk pada potret pemenuhan hak bagi penganut Kaharingan di Kota Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Integrasi Kaharingan ke dalam Hindu Kaharingan memberikan kemudahan bagi penganutnya. Kemudahan tersebut dapat dinikmati oleh penganut Kaharingan karena agama Hindu merupakan salah satu agama yang diakui oleh negara, sehingga berdampak pada kemudahan penyelenggaraan negara. Pemenuhan hak-hak sipil penganut Kaharingan tidak lepas dari peran Majelis Agama Hindu (MBAHK) Kaharingan yang menjadi jembatan penghubung antara penganutnya dengan pemerintah. Dengan proses integrasi Kaharingan ke dalam agama Hindu, semua hak dasar penganut Kaharingan juga dapat dipenuhi oleh negara dengan baik.