cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
PRoMEDIA
ISSN : -     EISSN : 24609633     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL TENTANG PERMASALAHAN DAN ISU TERKINI DALAM PERKEMBANGAN KEHUMASAN SERTA MEDIA KOMUNIKASI. DITERBITKAN OLEH PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA" : 7 Documents clear
DEEPFAKE, TANTANGAN BARU UNTUK NETIZEN (DEEPFAKE, A NEW CHALLENGE FOR NETIZEN) Itsna Hidayatul Khusna, M.A; Sri Pangestuti
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.868 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2300

Abstract

AbstractDeepfake is a technique for human image synthesis based on artificial intelligence. It is used to combine and superimpose existing images and videos onto source images or videos using a machine learning technique known as generative adversarial network (GAN). This article explained why deepfake can become a new challenge for netizen. The purpose in this research is understanding the new challenge for netizen, and the transition of information and communication technology become everybody awareness, so that they can respond wisely. For answering the question in this article, researcher use literature study that use articles from several source. This research resulted some issues (1) deepfake can be a challenge for netizen because deepfake can spread hatred, (2) deepfake become propaganda tool, and (3) become political tool. Because of those issues, netizen should have good emotional quotient (EQ) when they became internet user.Key word: Deepfake, Netizen, Emotional Quotient AbstrakDeepfake merupakan teknik sintetis citra manusia yang berdasarkan pada kecerdasan buatan/AI. Ini digunakan untuk menggabungkan serta menempatkan gambar dan video yang ada ke sumber gambar atau video menggunakan teknik mesin belajar yang dikenal sebagai jaringan generatif adversarial (GAN). Dalam tulisan ini akan dijelaskan mengapa depfake bisa menjadi tantangan baru bagi netizen. Tujuannya adalah untuk mengetahui tantangan baru netizen, serta agar kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi menjadi perhatian khusus bagi semua kalangan, sehingga semua bisa menyikapinya dengan bijaksana. Untuk menjawab pertanyaan dalam penelitian, penulis menggunakan metode literatur yang bersumber dari beberapa sumber tulisan artikel. Dari studi literatur tersebut didapatkan hasil bahwa (1) deepfake bisa menjadi tantangan bagi netizen karena deepfake bisa menyebarluaskan kebencian, (2) menjadi alat propaganda, dan (3) alat politik. Karena itu netizen dituntut untuk mempunyai kecerdasan emosional (EQ) yang baik saat menjadi pengguna internet.Kata kunci: Deepfake, Netizen, Kecerdasan Emosional
Pengalaman YouTuber Kota Bandung Dalam Membentuk Identitas Diri Virtual Dalam Media YouTube Achwan Noorlistyo Adi; Jenny Ratna Suminar; Nuryah Asri Sjafirah
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.207 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2337

Abstract

In the realm of the virtual world, social media has become a place or means to try everything related to the process of forming self-identity. A person's self identity in this virtual world can be created differently from his real identity in the real world, or it can also be the same as one's self identity in the real world or real everyday life.The purpose of this study is to find out how the Bandung YouTuber experience shapes its virtual identity. This study uses constructivist paradigms, qualitative approaches and phenomenological methods. Data collection techniques used in-depth interviews with 4 Bandung YouTubers, namely Royan, Kery, Hisqie and Minyo.The results of this study revealed that the YouTubers had pride and felt themselves worthy after being actively involved in the YouTube world. The pride arises because they can be more productive, known to many people, and able to make people's views of themselves become positive. YouTuber Bandung City also has a unique virtual identity, some create a new identity that is not the same as the original identity, some are still the same as their daily lives. Keyword: Virtual Identity, Self Image, Self Esteem, YouTuberABSTRAKDalam ranah dunia virtual, media sosial telah menjadi tempat atau sarana untuk mencoba segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembentukan identitas diri.  Identitas diri seseorang dalam dunia virtual ini bisa diciptakan berbeda dengan identitas aslinya di dunia nyata, ataupun bisa juga sama dengan identitas diri seseorang tersebut di dunia nyata atau kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengalaman YouTuber Kota Bandung membentuk identitas virtualnya. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam kepada 4 orang YouTuber Kota Bandung, yaitu Royan, Kery, Hisqie dan Minyo.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa para YouTuber memiliki kebanggaan dan merasa dirinya berharga setelah berkecimpung aktif di dunia YouTube. Rasa bangga tersebut muncul karena mereka bisa lebih produktif, dikenal banyak orang, serta mampu membuat pandangan orang terhadap diri mereka menjadi positif. YouTuber Kota Bandung juga memiliki identitas virtual yang unik, ada yang membuat identitas baru yang tidak sama dnegan identitas aslinya, ada pula yang tetap sama dengan kesehariannya.Keyword: Identitas Virtual, Self Image, Self Esteem, YouTuber
DAMPAK KEJAHATAN CYBER DAN INFORMASI HOAX TERHADAP KECEMASAN REMAJA DIMEDIA ONLINE Mira Herlina; Safarudin Safarudin
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.677 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2336

Abstract

Indonesia is a country that is not separated from cybercrime because it is currently the growth of the Internet and its use is very fast in Indonesia. Besides cybercrime information that develops in online media is also a part of the impact of the development of communication technology. Cybercrime and social media hoaxes are certainly going to cause anxiety on society especially teenagers because based on APJII data year 2018 almost 49.52% of current Internet users are teenagers at the age of 16 to 35 years. Anxiety caused by cybercrimes and information hoax is certainly in the behavior of social communication in social media teenagers, especially social media Instagram, Facebook, tweeter, WHATSAPP, and other social media. Online crime and hoax information is a reduction in the quality of ethics due to irresponsible, damaging and worrying deeds and actions that harm others. So this research is important to do because to find and answer the impacts of cybercrimes and information on hoaxes against the anxiety and behavior of adolescent social communication online. This research uses theories and concepts about cybercrime and hoax information on the anxiety and behavior of adolescent social communication online with quantitative methodology with sample quota amounting to 108 respondents, namely and students of SMK Tunas Grafika Informatics south of Petukangan. The results of this study found that there was a significant influence of cybercrime on anxiety. The influence of hoax information against anxiety adolescent social behavior in online media. So, the advice of this research is that there are education, literacy and a young aunt to the youth in using online media to reduce the impact of cybercrimes in online media.  Keywords: Cybercrimes, Hoax, Anxiety, Behavior                             Abstraksi Indonesia merupakan negara yang tidak lepas dari kejahatan cyber karena  saat ini pertumbuhan internet dan penggunaannya sangat pesat di Indonesia. Selain kejahatan cyber informasi hoax yang berkembang dimedia online juga merupakan bagian dampak dari perkembangan teknologi komunikasi. Kejahatan cyber dan informasi hoax dimedia sosial tentu saja akan mengakibatkan kecemasan pada masyarakat terutama remaja, karena berdasarkan data APJII tahun 2018 hampir 49,52% pengguna aktif internet saat ini adalah remaja pada usia 16 sampai 35 tahun. Kecemasan yang diakibatkan oleh kejahatan cyber dan informasi hoax tentunya berkaiatan degan perilaku komunikasi sosial remaja dimedia sosial terutama media sosial instagram, facebook, tweeter, whataap dan sosial media lainnya. Kejahatan dimedia online dan informasi hoax merupakan penurunan mutu budi pekerti dikarenakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab, merusak dan mencemaskan serta perbuatan yang merugikan orang lain. Sehingga penelitian ini penting untuk dilakukan karena untuk menemukan dan menjawab dampak kejahatan cyber dan informasi hoax terhadap kecemasan dan perilaku komunikasi sosial remaja dimedia online. Penelitian ini menggunakan teori dan konsep yang erhubungan dengan kejahatan cyber dan informasi hoax terhadap kecemasan dan perilaku komunikasi sosial remaja dimedia online dengan metodologi kuantitatif dengan sample quota yang berjumlah 108 responden yaitu siswa dan siswi SMK Tunas Grafika Informatika Petukangan Selatan. hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kejahatan cyber terhadap informasi hoax. Pengaruh kejahatan cyber terhadap kecemasan dan pengaruh informasi hoax terhadap kecemasan remaja di media online. Sehingga saran dari hasil penelitian ini adalah adanya pendidikan, literasi dan bibingan kepada remaja dalam menggunakan media online sehingga dapat mengurangi dampak kejahatan cyber di media online. Kata Kunci: Kejahatan, Cyber, Kecemasan, Hoax, Perilaku
Destination Branding Kabupaten Majalengka Oleh Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka Nanda Mutiara Ulfah; Susie Perbawasari; FX Ari Agung Prastowo
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2335

Abstract

In dealing with tourism issues such as the development of destinations that are not yet optimal, management of the tourism industry that is not yet optimal, as well as tourism resources that have not been integrated, it is necessary to do destination branding in Majalengka Regency. In addition, Majalengka Regency still does not have strong branding that can attract many foreign tourists to visit Majalengka Regency. The purpose of this study was to determine the stages of destination branding carried out by the Department of Tourism and Culture of Majalengka Regency in the development of tourism in Majalengka Regency. The method used is a descriptive qualitative research method with a post-positivistic paradigm. Data collection techniques used were interviews, observation, literature study, and documentation study. The results of this study indicate that the Department of Tourism and Culture of Majalengka Regency carried out the stages of market investigation, analysis, and strategic recommendations by conducting research mapping market potential analysis through three sources, namely experts from academia as facilitators; potential attraction of natural tourist attractions that are already running and already have decent natural visitors, and scoring techniques. At the Brand identity development stage, Majalengka Regency does not yet have a tourism destination identity because it is still in the process. For the stage of brand launch and introduction using three ways, namely special events, media, and involving the community. At the stage of brand implementation by making programs and tourism activities that involve pentahelix. And for the stages of monitoring, evaluation, and review related to the development of tourism destinations and statistical data of tourists visiting Majalengka Regency. Keywords: Destination Branding; Development; Tourism; Traveler; Majalengka Regency  Abstrak Dalam menghadapi permasalahan kepariwisataan seperti pengembangan destinasi yang belum optimal, pengelolaan industri pariwisata yang belum optimal, serta SDM Pariwisata yang belum terintegrasi perlu dilakukan destination branding di Kabupaten Majalengka. Selain itu Kabupaten Majalengka pun masih belum memiliki branding kuat yang dapat menarik banyak minat wisatawan luar untuk berkunjung ke Kabupaten Majalengka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tahapan destination branding yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Majalengka. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan paradigma post-positivistik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, studi pustaka, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka melakukan tahapan market investigation, analysis, and strategic recommendations dengan melakukan riset pemetaan analisis potensi pasar melalui tiga sumber yaitu tenaga ahli dari akademisi sebagai fasilitator; potensi daya tarik objek wisata yang secara alami sudah berjalan dan sudah memiliki pengunjung alami yang lumayan, dan teknik skoring. Pada tahap Brand identity development, Kabupaten Majalengka belum memiliki identitas destinasi pariwisata dikarenakan masih dalam proses. Untuk tahapan brand launch and introduction menggunakan tiga cara yaitu special event, media, dan melibatkan komunitas. Pada tahapan brand implementation dengan membuat program serta kegiatan pariwisata yang melibatkan pentahelix. Dan untuk tahapan monitoring, evaluation, and review terkait dengan perkembangan destinasi pariwisata dan data statistik wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Majalengka. Kata Kunci: Destination  Branding; Pengembangan; Pariwisata; Wisatawan; Kabupaten Majalengka
HUBUNGAN ANTARA MOTIF KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN KEPUASAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI GENERASI MILENIAL sri wahyuning astuti; Atwar Bajari; Atie Rachmiatie; Anter Venus
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2358

Abstract

A stable person is described as a person who is able to establish positive interpersonal relationships. Interpersonal relationships are built through interpersonal communication. The way a person chooses motives in interpersonal communication is believed to be able to influence their satisfaction in communicating. Interpersonal communication motives are a reason for someone to be involved in communication and how someone communicates. 6 motives are the reasons for a person to communicate, namely pleasure, affection, inclusion, escape, relaxation and control (A. M. Rubin, Martin, & Rubin, 1998). Millennial as a generation that stands out in terms of numbers has several uniqueness and weaknesses. One of the salient weaknesses of this generation, which is almost half of Indonesia's population, is the inability to establish interpersonal communication. This inability, of course, affects the satisfaction of their communication and interpersonal relationships.This research will try to find a relationship between interpersonal communication motives with relationship satisfaction and millennial interpersonal communication in Indonesia. The subjects in this study are the millennial generation in high school in the south Jakarta area, aged 15-19 years. (Howe, 2014). Data was collected using a Motive Interpersonal Communication Scale consisting of 27 items (R. B. Rubin, Perse, & Barbato, 1988) and Communication Satisfaction Scale consisting of 18 items. (Hecht, 1978)  To calculate data from this study using SEM analysis. In addition to seeing the relationship between the two variables, also to find out the dimensions of each research relationship. The results revealed a positive relationship between the selection of interpersonal communication motives with interpersonal communication satisfaction with a CR value of 8.942 and an etimate value of 0.401Keywords: interpersonal communication satisfaction, millennial generation, communication motives. Relationship satisfactionAbstrak            Pribadi yang stabil digambarkan sebagai pribadi yang mampu menjalin hubungan interpersonal secara positif. Hubungan interpersonal diantaranya dibangun melalui komunikasi interpersonal. Cara seseorang memilih motif dalam melakukan komunikasi interpersonal, dipercaya mampu mempengaruhi kepuasaan mereka dalam berkomunikasi. Motif komunikasi interpersonal adalah alasan seseorang untuk terlibat dalam komunikasi dan bagaimana seseorang melakukan komunikasi. 6 motif menjadi alasan seseorang melakukan komunikasi, yakni kesenangan, kasih sayang, inklusi, pelarian, relaksasi dan kontrol.(A. M. Rubin, Martin, & Rubin, 1998). Milenial sebagai generasi yang menonjol dari segi jumlah memiliki beberapa keunikan maupun kelemahan. Salah satu kelemahan yang menonjol yang dimiliki oleh generasi yang jumlahnya hanpir separuh dari jumlah penduduk Indonesai ini adalah ketidakmampuan menjalin komunikasi interpersonal. Ketidakmampuan ini,tentu saja mempengaruhi kepuasaan komunikasi dan hubungan interpersonal mereka.            Riset ini akan mencoba mencari hubungan antara motif komunikasi interpersonal dengan kepuasan hubungan dan komunikasi interpersonal milenial di Indonesia. Subyek dalam penelitian ini adalah generasi milenial yang ada Sekolah Menengah Atas di wilayah jakarta selatan yang berumur 15-19 tahun. (Howe, 2014).             Data diambil dengan menggunakan Skala Motif komunikasi antar pribadi yang terdiri dari 27 item(R. B. Rubin, Perse, & Barbato, 1988)  dan Skala Kepuasan Komunikasi yang terdiri dari 18 item. (Hecht, 1978)  Untuk menghitung data dari penelitian ini menggunakan analisis SEM. Selain untuk melihat hubungan antara kedua variabel, juga untuk mengetahui hubungan perdimensi dari masing-masing skala penelitian.  Hasil penelitian mengungkap ada hubungan positif antara pemilihan motif komunikasi antarpribadi dengan kepuasaan komunikasi interpersonal dengan nilai CR= 8,942 dan nilai etimate 0,401 Kata Kunci: kepuasan komunikasi antar pribadi, generasi milenial, motif komunikasi. Kepuasaan hubungan
Studi Kasus Implementasi Kebijakan Reposisi Sumber Daya TVRI Pada Target Audience Generasi Milenial christina christina; Sandy Alifiansyah; Rustono Farady Marta
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2332

Abstract

Televisi Republik Indonesia or TVRI is the first and only public television in Indonesia. The main problem of TVRI lies in the problem of corruption, human resources that are old, so that it influences the program, it seems old-fashioned. Researchers conducted this research because TVRI became one of the main highlights of significant changes both internally and also the resulting outcomes. This research will analyze TVRI's policies related to the repositioning of their brands to attract viewers and creators from millennial generation who have been indifferent to TVRI shows. This analysis is based on the case study strategy method used by a public broadcasting institution called TVRI which is trying to regain its existence in the midst of competition with private televisions. The purpose of this study is to find out the repositioning policy strategy adopted by TVRI in accordance with millennial generation audiences as its target market. The results of this study indicate that TVRI has changed the logo, changed the work culture and organizational culture into APIK, namely Adaptive, Positive, Informative and Creative. TVRI is ready to move from analog to digital, then the recruitment of expert staff from non-CPNS, program changes that reach a wide audience such as the Premier League, Badminton Houses, and also educational and entertainment programs that build communities by elevating their local wisdom. regions that are more modern, contemporary, and can compete with private TV. Keywords: Millennial Generation, Policy, Repositioning, TVRI      Abstraksi Televisi Republik Indonesia atau TVRI merupakan televisi publik pertama dan satu-satunya di Indonesia. Permasalahan utama dari TVRI terletak pada permasalahan korupsi, sumber daya manusia yang sudah berumur, sehingga mempengaruhi programnya terkesan kuno. Peneliti melakukan penelitian ini karena TVRI menjadi salah satu sorotan utama perubahan yang cukup besar baik secara internal dan juga luaran yang dihasilkan. Penelitian ini akan menganalisis kebijakan TVRI terkait dengan reposisi merek mereka untuk menggaet penonton dan kreator dari generasi milenial yang selama ini acuh terhadap tayangan TVRI. Analisis ini berdasar pada metode studi kasus strategi yang digunakan sebuah institusi lembaga penyiaran publik bernama TVRI yang mencoba untuk memperoleh kembali eksistensinya di tengah persaingan dengan televisi-televisi swasta. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi kebijakan reposisi yang diterapkan oleh TVRI disesuaikan dengan khalayak generasi milenial sebagai target marketnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TVRI telah melakukan perubahan logo, mengubah budaya kerja dan budaya organisasi menjadi APIK, yaitu Adaptif, Positif, Informatif dan Kreatif. TVRI telah siap untuk berpindah dari analog menjadi digital, kemudian perekrutan staff ahli dari non-CPNS, perubahan program yang menjangkau luas khalayak seperti Premier League, Rumah Bulutangkis, dan juga program-program edukasi serta hiburan yang membangun masyarakat dengan mengangkat kearifan lokal masing-masing daerah yang dikemas lebih moderen, kekinian, dan dapat bersaing dengan TV swasta. Kata Kunci: Generasi Milenial, Kebijakan, Reposisi, TVRI
Strategi Komunikasi Kehumasan Industri BP Batam Di Kepulauan Riau Riastri Novianita
PRoMEDIA Vol 5, No 2 (2019): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.138 KB) | DOI: 10.52447/promedia.v5i2.2338

Abstract

Terdapat kesenjangan antara teori pertumbuhan investasi asing langsung di Kawasan Industri Batam yang melambat antara tahun 2008-2010 dan kehumasan BP Batam yang seharusnya memiliki banyak progam untuk menarik minat investasi asing langsung. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif yang menghasilkan data deskriptif atau data primer yang berasal dari BP Batam sebanyak empat orang pejabat struktural, yaitu dua orang direktur, dan dua orang kepala subdirektorat serta dua orang manajer masing-masing dari dua perusahaan asing di Kawasan Industri Batam.Di samping itu digunakan data sekunder yang berasal dari studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan cara menelaah seluruh data hasil penelitian ini baik data primer berupa hasil wawancara mendalam dengan pemberi informasi kunci yang dipilih maupun data sekunder hasil studi kepustakaan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strategi komunikasi. Kata Kunci: Strategi Komunikasi, Kehumasan This  research between 2008-2010 and public relations BP Batam is supposed to have a lot of programmes to attract foreign direct investment. The studi uses descriptive qualitative approach, which products descriptive data primary obtained through in-depth interviews with key informations providers (key informan) from BP Batam’s four structural  officials. They are namely two directors, and two heads of subdirectorat as well as two managers of each of the two is that there is a gap. In addition, the use of secondary data derived from study of literatures. Data analisys was done by reviewing all research data wich is the primary data in the form of in depth interviews with chosen key informations providers (key informan) as well as secondary between the trend growth of foreign direct investment in Batam foreign companies in data from the study of literature. The teory use in the research is communications strategy theory. Keywords: Communications Strategy, Public Relation

Page 1 of 1 | Total Record : 7