cover
Contact Name
JURNAL PETERNAKAN NUSANTARA
Contact Email
jurnal.peternakan@unida.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.peternakan@unida.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Peternakan Nusantara
ISSN : 24422541     EISSN : 25500740     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Peternakan Nusantaraa adalah jurnal diterbitkan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda Bogor. Jurnal ilmiah yang membahas tentang hasil-hasil penelitian bidang ilmu dan teknologi peternakan yang belum pernah dipublikasikan pada media lain.Cakupan artikel meliputi hasil penelitian tentang genetika dan pemuliaan ternak, nutrisi dan teknologi pakan ternak, produksi dan reproduksi ternak, teknologi pasca panen ternak. Jurnal ini diterbitkan dua kali dalam satu tahun: April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN LARUTAN EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestica) DALAM AIR MINUM TERHADAP KUALITAS TELUR BURUNG PUYUH saeful amin, nandang; anggraeni, anggraeni; dihansih, elis
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.286 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v1i2.244

Abstract

Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian larutan ekstrak kuniyit (Curcuma domestica) dalam air minum terhadap kualitas telur burung puyuh (Coturnix coturnix japonica). Rancangan yang digunakan berupa rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuna dan 4 ulangan. Perlakuan RO (kontrol) tanpa penambahan larutan ekstrak larutan kunyit, R1= 1 ml ekstrak larutan kunyit, R2= 2 ml ekstrak larutan kunyit, R3= 3 ml ekstrak larutan kunyit dan R4= 4 ml ekstrak larutan kunyit. Peubah yang diamati adalah Tebal Kerabang (mm), Indeks Telur (%), Warna Kuning Telur dan Nilai Haugh Unit. Hasil uji statistik menunjukkan perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) tebal kerabang, indeks telur, haugh unit kecuali pada warna kuning telur. Hasil statistik menunjukkan pemberian 4 ml (R4) ekstrak kunyit menghasilkan rataan paling tinggi dibandingkan dengan 1 ml (R1). Indeks telur berkisar antara 74,41-79,06 %. Sedangkan haugh unit pada penelitian ini menghasilkan nilai rataan berkisar antara 78,95-86,60 %.
THE PERFORMANCE OF QUAIL STARTER-GROWER WHO WERE RATIONS ADDITIONAL CONTAINING GARLIC (Allium sativum) AND CARAWAY (Cuminum cyminum) Florana, Bella; Dihansih, Elis; Handarini, Ristika
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.888 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v3i2.927

Abstract

Plants herbs widely used as a supplement in fodder to improve endurance and its productivity, including garlic and caraway. This study attempts to test the influence of the combination level of flour garlic and caraway performance against quail period of a starter up to the period grower. Study was conducted on  11 February  – 16 March 2017 in Assalam Slamet Quail Farm, Sukabumi.  This research was used 180  DOQ’s layer. Feed used were:  commercial feed BR-1 for stater and SP-2 for grower – layer, garlic flour and caraway flour. A complete randomized  design with four  treatments and three  replicates was used. Treatments consisted of  P0 = feed commercial (FC), P1 = PK + 2 % garlic flour (GF), P2 = PK + 2 % caraway flour (CF), P3 = PK + 1 % GF + 1 % CF. Research conducted in quail from 2 – 35 day. The variables were consumption, body weight gain, feed convertion ratio and mortality. Data were analyzed by a Duncan test. The results showed that  non-significant differences  on average body weight gain of stater  in the first week. The grower period showed that that non-significant differences on consumption and significant differences increased on average body weight gain in P2 treatment and decreased on feed convertion ratio in P1, P2 and P3. The conclusion showed the best research on supplement 2 % caraway flour to  grower quails. This conclusion was recommended to add 2 % caraway flour in quails feed.Keywords: performance of quails, feed additive, garlic, cumin.
PENGARUH LARUTAN DAUN SIRIH DALAM AIR MINUM SEBAGAI PENGGANTI ANTIBIOTIK TERHADAP RETENSI NITROGEN DAN ENERGI METABOLIS RANSUM Sudrajat, Deden; Kardaya, Dede; malik, burhanudin; abas, abas
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.7 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v1i1.158

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih terhadap Retensi Nitrogen dan Energi Metabolis ransum pada ayam Broiler. Penelitian ini menggunakan 25 ayam Broiler jantan strain Cobb umur 30 hari, Penelitian ini terdiri atas 5 perlakuan dengan (KO) sebagai kontrol atau perlakuan tanpa daun sirih, (K1) pakan +anti biotik Zn-Bacitracin 50 ppm, (S1) 10 ml larutan perlakuan daun sirih per liter air minum, (S2) 20 ml larutan perlakuan daun sirih per liter air minum, dan (S3) 30 ml larutan perlakuan daun sirih per liter air minum. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian daun sirih dalam air minum berpengaruh nyata (P<0,05) meningkatkan energi metabolis dan retensi nitrogen. Konsentrasi larutan 10 ml/L (perlakuan S1) menunjukan nilai tertinggi untuk energi metabolis dan retensi nitrogen dibandingkan dan K1 perlakuan. Dengan
THE SENSORIC QUALITY OF MEAT OF MALE LOCAL DUCKS (Anas plathyrhinchos) GIVEN BETEL (Piper betle linn) LEAVE EXTRACT SOLUTION INCLUDED IN COMMERCIAL RATION Dihansih, Elis; Handarini, Ristika; Haerina, Nina
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.508 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v3i1.844

Abstract

The meat of local ducks generally has lower quality than chicken meat. Typical aroma, dark red color, and hard texture of duck meat affect consumers’ preference for it. This study was aimed at assessing the sensoric quality of meat of male local ducks(Anas plathyrhinchos) given betle (Piper betle Linn) leaf extract solution included in commercial ration. The study was conducted at the Poultry Farm of Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, Djuanda University, Bogor from June to August 2016. Twenty-four male local ducks aged 2 weeks with average body weight of 449.16±75.27 g were used. BR-21E commercial feed of PT Sinta Feedmill and betel leaf extract solution were used. A completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates was used. Treatments consisted of 100% commercial feed (R0), commercial feed + 2.5% piper betel solution (R1), commercial feed + 5.0% piper betel solution (R2), and commercial feed + 7.5% piper betel solution (R3). Data were subjected to a Kruskal Wallis test. Measurements were taken on aroma, tenderness, color, taste, and juiceness. Results showed that there were significant differences (P<0.05) in color and taste. The inclusion of 2.5% piper betle extract solution in commercial rations improved the preference of panelists for the color and taste of meat of local ducks. However, treatments did not affect panelists judgement on the hedonic quality (aroma, tenderness, color, taste, and juiceness) of meat of local ducks. Key words:meat sensoric quality, male local duck, betel leaf extract solution
PERBEDAAN WAKTU PENYUNTIKAN HORMON FSH TERHADAP RESPON SUPEROVULASI SAPI ANGUS Subchan, Fariz Azka; Handarini, Ristika
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.723 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v2i1.359

Abstract

Upaya peningkatan populasi sapi dapat dilakukan dengan menerapkan bioteknologi transfer embrio. Superovulasi merupakan kunci keberhasilan transfer embrio. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan waktu penyuntikan hormon FSH terhadap respon superovulasi sapi angus. Penelitian ini menggunakan sapi donor angus sebanyak 12 ekor sapi yang telah di palpasi rektal untuk mengetahui kondisi ovarium kemudian disinkronisasi dengan preparat progesteron. Rancanngan penelitian yang digunakan yaitu RAL, dengan 3 perlakuan yaitu penyuntikan FSH secara intramuscular pada P1: hari ke-7, P2: hari ke-8, P3: hari ke-9. Penyuntikan FSH dilakukan dengan dosis menurun  pada pagi dan sore hari masing-masing 4ml, 3ml, 2ml, 1ml. Hari ke-3 setelah penyuntikan FSH, pagi hari disuntik dengan PGF2α dan sore harinya dilakukan pencabutan preparat progesteron. Dua hari kemudian dilakukan IB dan tujuh hari setelah IB dilakukan koleksi embrio. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan waktu penyuntikan hormon FSH tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05), namun secara parameter penyuntikan hormon FSH pada hari ke-9 cenderung memberikan hasil respon superovulasi yang lebih baik terhadap jumlah CL, jumlah embrio, dan proporsi embrio layak transfer.
PENGARUH PENAMBAHAN LARUTAN EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestica) DALAM AIR MINUM TERHADAP PRODUKSI TELUR BURUNG PUYUH (Coturnix coturnix japonica) luthfi, muhammad; Nur, Hanafi; anggraeni, Anggraeni
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.072 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v1i2.230

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh produksi telur burung puyuh yang diberi larutan ekstrak kunyit. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 17 mei 2015 sampai dengan 13 juni 2015. Penelitian ini dilaksanakan di kandang ternak unggas jurusan peternakan, Universitas Djuanda Bogor. Penelitian ini menggunakan burung puyuh petelur sebanyak 80 ekor. Rancangan yang digunakkan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 kelompok, dimana perlakuan R0 tanpa penambahan larutan ekstrak kunyit (kontrol), R1 penambahan 1 ml ekstrak kunyit dalam 500 ml air minum, R2 penambahan 2 ml ekstrak kunyit dalam 500 ml air minum, R3 penambahan 3 ml ekstrak kunyit dalam 500 ml air minum dan R4 penambahan 4 ml ekstrak kunyit dalam 500 ml air minum. Peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, konsumsi air minum, produksi telur, konversi pakan dan bobot telur. Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka pemberian kunyit dengan taraf 4 ml dalam air minum dapat berpengaruh nyata P(<0,05) terhadap peningkatan konsumsi pakan dan tidak berpengaruh nyata P(>0,05) terhadap peningkatan konsumsi air, produksi telur, bobot telur dan dapat menekan angka konversi pakan pada burung puyuh. Pemberian larutan ekstrak kunyit 4 ml dalam air minum 500 ml terhadap burung puyuh (Cortunix cortunix japonica) dapat meningkatkan konsumsi pakan. Tetapi tidak berpengaruh terhadap konsumsi air minum, produksi telur, bobot telur dan konversi pakan.
THE PERCENTAGE OF CARCASS PARTS OF MEAL LOCAL DUCKS GIVEN BETEL LEAF SOLUTION INCLUDED IN RATIO Sale, Maria; Handarini, Ristika; Dihansih, Elis
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.777 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v3i1.852

Abstract

This study was aimed at assessing the effects of inclusion of betel leaf extract solution in ration on the percentage of carcass parts of male local ducks. The study was conducted at the Poulty Farm of department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, Djuanda University, Bogor from June to August 2016. Twenty-four male local ducks aged 2 weeks with average body weight of 450 g were used. The ducks were alocated into battery pens (150 cm x 40 cm) and fed BR-21E ration and betel leaf extract solution. Drinking water was given ad libitum. A completly randomized design with 4 treatments and 3 replicates was used. Treatments consisted of 100% comercial feed (R1) , comercial feed +2.5% piper betel solution (R2), commercial feed+5.0% piper betel solution (R3), and commercial feed + 7,5% piper betel solution (R4). Treatments were given at the second week following the adaption period. Data were subjected to an analysis of variance and a Duncan test. Result showed that the inclusion of betel leaf extract of 2.5, 5, 7.5% in the ration gave significant effects (P<0.05) on the percentage of carcass, wing, and tigh meat but not (P>0,05) on the percentage of back, breast and its parts, thigh, skin and femur. It was recommended that the inclusion of betel leaf extract in the ration be done by 5% in order to obtain high percentage of and more economical carcass, wing and thigh.Keywords : percentage of carcass part, male local duck, piper betle linn leaf solution
PERFORMA AYAM PEDAGING YANG DIBERI RANSUM KOMERSIAL MENGANDUNG TEPUNG AMPAS KURMA SEBAGAI PENGGANTI JAGUNG Fitro, Reky; sudrajat, Deden; Dihansih, Elis
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.233 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v1i1.131

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian tepung ampas kurma sebagai subtitusi jagung pada pakan komersial dan untuk mengetahui seberapa besar tepung ampas kurma bisa menggantikan jagung. Perlakuan yang diberikan yaitu P0 100 % pakan komersial (kontrol), P1 97,5 % pakan komersial + 2,5% jagung, P2 97,5 % pakan komersial + 2,5% tepung ampas kurma, P3 95 % pakan komersial + 5% jagung, P4 95 % pakan komersial + 5% tepung ampas kurma, P5 92,5 % pakan komersial + 7,5% jagung, P6 92,5 % pakan komersial + 7,5 % tepung ampas kurma. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Pemberian pakan komersial mengandung tepung ampas kurma sampai dengan level 7,5 % tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan. Indeks performa ayam pedaging yang diberi 95 % pakan komersial + 5 % tepung jagung mendapatkan prestasi yang paling baik (istimewa) dari perlakuan lainya. Nilai IOFC ayam pedaging pada penelitian ini, perlakuan yang diberi 95 % pakan komersial + 5 % tepung jagung mendapatkan nilai IOFC yang paling tinggi dari perlakuan lainya. Tepung ampas kurma dapat menggantikan pakan komersial dan jagung sampai level 7,5 %.
PENGARUH SUBTITUSI TEPUNG BUNGKIL INTI SAWIT DALAM PAKAN KOMERSIL TERHADAP KARKAS AYAM KAMPUNG lukmana, candra; Nur, Hanafi; anggraeni, Anggraeni
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jpnu.v2i2.622

Abstract

Ayam kampung merupakan ayam lokal di Indonesia yang sudah terkenal di masyarkat. Bungkil inti sawit (BIS) merupakan hasil olahan dari proses pengolahan inti sawit menjadi Palm Kernel Oil (PKO). Zat makanan yang terdapat pada bungkil inti sawit yaitu kandungan protein kasar sebesar 18-19%. Penelitian dilaksanakan pada bulan mei sampai bulan juli 2015 di kandang ternak unggas Program Diploma Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi tepung bungkil inti sawit dalam ransum komersil terhadap karkas ayam kampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Masing-masing terdiri dari 4 perlakuan dan 4ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan yaitu : R0 = 100% Ransum Komersil, R1 = 90% Ransum Komersil + BIS 10%, R2 = 85% Ransum Komersil + BIS 15% dan R3 = 80% Ransum Komersil + BIS 20% . Data yang diperoleh dianalisa menggunakan Analisys Of Variance (ANOVA), bila data menunjukan hasil yang berbeda nyata (p<0,05) dilanjutkan dengan uji Duncan. Subtitusi Tepung Bungkil Inti Sawit dalam ransum komersil terhadap karkas ayam kampung tidak berpengaruh nyata terhadap Bobot potong, persentase karkas, persentase jeroan rempela dan jantung dan persentase potongan komersil. (p>0,05), akan tetapi berpengaruh nyata terhadap persentase bobot hati (p<0,05) pada perlakuan R0 dan R3
PENGARUH NERACA KATION ANION RANSUM YANG BERBEDA TERHADAP BOBOT KARKAS DAN BOBOT GIBLET AYAM BROILER Suryanah, Suryanah; Nur, Hanafi; Anggraeni, Anggraeni
Jurnal Peternakan Nusantara Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.388 KB) | DOI: 10.30997/jpnu.v2i1.298

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui pengaruh NKAR terhadap bobot potong, bobot karkas mutlak (BKM), bobot karkas relatif (BKR), bobot daging dada tanpa tulang dan kulit mutlak (Skinless Boneless Breast/SBBM), bobot daging dada tanpa tulang dan kulit relatif (Skinless Boneless Breast/SBBR) dan bobot jeroan (Giblet) yang terdiri dari bobot jantung mutlak (BJM), bobot jantung relatif (BJR), bobot rempela mutlak (BRM), bobot rempela relatif (BRR), bobot hati dan limpa  mutlak (BHLM), bobot hati dan limpa  relatif (BHLR), bobot usus  mutlak (BUM)  dan  bobot usus  relatif (BUR).  Penelitian dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2012 sampai 17 Januari 2013. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Jurusan Peternakan, Fakultas Ilmu dan Bisnis Pertanian, Universitas Djuanda Bogor. Pemberian Neraca Kation Anion Ransum (NKAR)  yang berbeda pada  ransum perlakuan R1 (10 mEq), R2 (15 mEq), R3 (21 mEq  atau kontrol), R4 (25  mEq) dan R5 (30 mEq)  secara statisitik  tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua peubah penelitian. Ransum R1 memberikan hasil cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain kecuali pada bobot karkas relatif (BKR), bobot jantung mutlak (BJM) dan bobot jantung relatif (BJR).

Page 2 of 21 | Total Record : 205