cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
lydiadesmaniarirwan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kelautan Nasional
ISSN : 1907767X     EISSN : 26154579     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Kelautan Nasional (JKN) ISSN 1907-767X, e-ISSN 2615-4579 adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) adalah nomenklatur baru, sejak tahun 2017, untuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir (P3SDLP). Jurnal Kelautan Nasional, sebelum dikelola oleh Pusriskel maupun P3SDLP, adalah dikelola oleh Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP). Pada tahun 2016, P3TKP kemudian merger ke P3SDLP.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2020): April" : 6 Documents clear
Evaluasi Kondisi Ekosistem Mangrove Angke Kapuk Teluk Jakarta dan Konsekuensinya Terhadap Jasa Ekosistem Achmad Sofian; Cecep Kusmana; Akhmad Fauzi; Omo Rusdiana
Jurnal Kelautan Nasional Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.418 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v15i1.7722

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki sejumlah manfaat dan jasa ekosistem, namun keberadaannya terus memperoleh tantangan dan tekanan akibat aktivitas di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi ekosistem mangrove dan konsekuensinya terhadap jasa ekosistem di kawasan ekosistem Mangrove Angke Kapuk Teluk Jakarta. Kondisi ekosistem dianalisis dengan mengkaji tutupan lahan dan tingkat kekritisan lahan mangrove menggunakan citra SPOT 6 dan Sistem Informasi Geografi, sedangkan konsekuensinya terhadap jasa ekosistem dikaji dengan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan luasan ekosistem Mangrove Angke Kapuk sebesar 291,17 ha dengan tingkat kerapatan 272,79 ha jarang, 16,83 ha sedang dan 1,54 ha lebat. Ekosistem mangrove yang masih terlihat terjaga sebagian besar berada pada kawasan Suaka Marga Satwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk, meskipun demikian posisinya sangat dekat dan berada diantara kawasan permukiman dan infrastruktur lainnya. Kondisi kawasan ekosistem Mangrove Angke Kapuk berdasarkan tingkat kekritisan lahan mangrove terkategori rusak 272,79 ha dan 18,38 ha terkategori tidak rusak. Kawasan ekosistem Mangrove Angke Kapuk berpotensi terus mengalami tekanan terutama disebabkan aktivitas dari area terbangun di sekitarnya. Kondisi tersebut juga akan berkonsekuensi terhadap menurunnya jasa ekosistem yang tersedia. Jasa ekosistem mangrove yang sediakala masih dirasakan menjadi semakin berkurang atau bahkan hilang sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kerugian ekonomi dan ancaman bencana. Keberadaan kawasan ekosistem Mangrove Angke Kapuk di pesisir utara Jakarta perlu mendapat perhatian karena masih berkontribusi memberikan jasa ekosistem dan menjaga kelestarian lingkungan.
Pengaruh Paramater Lingkungan Terhadap Kepadatan Makroalga di Pesisir Kei Kecil, Maluku Tenggara Rosita Silaban; E. M. Y. Kadmaer
Jurnal Kelautan Nasional Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.08 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v15i1.7619

Abstract

Kualitas perairan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan makroalga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang jenis makroalga, kepadatan makroalga dan pengaruh kualitas perairan terhadap kepadatan makroalga di perairan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Perairan Kei Kecil memiliki 53 spesies makroalga dengan nilai kepadatan tertinggi di Desa Tanimbar, selanjutnya Ur Pulau dan Uf yang masing-masing sebesar sebesar Kei 363 ind/m2, 308 ind/m2 dan 298 ind/m2. Hubungan antara parameter fisika-kimia dengan kepadatan makroalga dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Parameter fisika-kimia memberikan karakteristik yang berbeda antara kedua lokasi penelitian (kecamatan Kei Kecil Barat dan Kei Kecil Timur Selatan). Adapun kepadatan makroalga di kecamatan Kei Kecil Barat dapat diramalkan menggunakan persamaan (R = 98,6%) : Kepadatan = -17.185,5 + 402,5 suhu + 161,7 salinitas + 3.087,4 pH + 8,2 DO + 149,9 kecerahan + 5,4 kecepatan arus. Sedangkan kepadatan makroalga di kecamatan Kei Kecil Timur Selatan dapat diramalkan menggunakan persamaan (R = 76,7 %) : Kepadatan = 4.794,8 – 189,4 suhu + 22 salinitas – 71,5 pH + 331,3 DO -279,9 kecerahan = 112,4 kecepatan arus. Parameter lingkungan yang mempengaruhi kepadatan makroalga yaitu suhu, salinitas, pH dan kecerahan di Kecamatan Kei Kecil Barat sedangkan salinitas, DO dan kecepatan arus di Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan.
Identifikasi Awal Potensi Tinggalan Budaya Bawah Laut Kalimantan Barat, Berdasarkan Data Side Scan Sonar Wisnu Arya Gemilang; Nia Naelul Hasanah Ridwan; Ulung Jantama Wisha; Guntur Adhi Rahmawan; Z Tahir
Jurnal Kelautan Nasional Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1105.169 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v15i1.7363

Abstract

Kalimantan Barat tidak terlepas dari sejarah perkembangan kesultanan-kesultanan Melayu dan terletak di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Masuknya VOC sebagai kongsi dagang Belanda, semakin memperkuat jaringan perdagangan global sepanjang Sungai Kapuas. Jaringan perdagangan di kawasan Asia Tenggara menggunakan jalur utama melalui laut dan sungai, oleh karena itu tinggalan budaya bersejarah baik di darat maupun di bawah air menjadi potensi di Kalimantan Barat. Sebaran titik tinggalan budaya bawah air Kalimantan belum banyak dibuktikan dan diidentifikasi. Metode identifikasi potensi tinggalan budaya bawah air menggunakan pemetaan side scan sonar serta dikombinasi dengan model profil bawah laut dan kondisi arus sekitar lokasi dilakukan pada November 2017. Hasil side scan sonar yang dilakukan scanning sepanjang 500m setiap lokasi hanya menunjukkan 1 anomali adanya indikasi BMKT (Barang Muatan Kapal  Tenggelam) di lokasi-2 dekat pulau Datu. Dimensi temuan BMKT tersebut dengan panjang kapal 15,9 meter dan lebar kapal mencapai 4,5 meter, dengan kedalaman 27-33 meter. Tingginya tingkat sedimentasi karena berada diantara muara sungai besar menjadi penyebab tertimbunnya tinggalan budaya bawah air di Kalimantan, sehingga sulit teridentifikasi. Kondisi arus yang cukup kuat menyebabkan BMKT dengan mudah bergeser atau berpindah tempat. Penelitian lebih lanjut dengan kemampuan alat berteknologi tinggi yang dapat menembus ketebalan sedimen sangat dibutukan untuk identifikasi tinggalan budaya bawah air di Kalimantan Barat.
Karakteristik Massa Air di Perairan Barat Daya Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur Try Al Tanto; Tri Hartanto; Mulia Purba; Widodo S. Pranowo
Jurnal Kelautan Nasional Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.084 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v15i1.7660

Abstract

Karakteristik massa air dan percampurannya dapat dipengaruhi oleh angin dan aliran air laut ke lokasi tersebut. Massa air laut terbentuk dari komposisi suhu, salinitas, dan densitas pada kedalaman tertentu. Kajian pada perairan barat daya Pulau Sumba menarik dilakukan, karena belum ada informasi sejenis, serta masih kurangnya pengelolaan. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui karakteristik massa air yang menyusun perairan barat daya P. Sumba pada kondisi musim yang berbeda. Selain itu, menentukan stratifikasi massa air, struktur massa air (TS diagram), dan lapisan termoklin. Kajian massa air pada perairan barat daya P. Sumba dilakukan menggunakan data hasil reanalysis   (karakteristik massa air) seluruh lautan dunia (World Ocean Atlas 2013).   Pengolahan   data dilakukan berupa sebaran menegak dan melintang suhu dan salinitas, serta menentukan karakteristik massa air. Kisaran suhu perairan P. Sumba musim timur tergolong rendah, SPL berkisar 26,4 - 26,49 oC dan secara umum dari permukaan hingga dasar dengan rentang suhu 26,49 - 3,4 oC. Lapisan termoklin terjadi pada kedalaman 59,67 - 259,38 m dengan kisaran suhu 25,13 - 12,2 oC. Kisaran salinitas permukaan laut dari pantai menuju laut lepas sebesar 34,05 - 34,11 psu, dan nilai salinitas secara menegak adalah 34,05 - 34,70 psu, salinitas maksimum terjadi pada perairan laut lepas, terjadi pada kedalaman dekat termoklin. Berbeda kondisi pada musim barat, SPL lebih hangat berkisar 27,89 - 29,04 oC dan lapisan tercampur lebih tipis (< 50 m), serta lapisan termoklin terjadi pada kedalaman 45,60 - 234,89 m. Kisaran salinitas perairan juga sedikit berbeda (lebih tinggi) dengan rataan bulanan sebesar 34,52 - 34,61 psu. Pergerakan massa air permukaan pada perairan P. Sumba diperkirakan akibat angin muson . Karakteristik massa air yang terdapat ada perairan P. Sumba diperkirakan dipengaruhi oleh jenis North Pacific Subtropical Water ya ng bertransformasi mejadi jenis ITW, terjadi dekat lapisan termoklin dengan salinitas 34,55 - 34,7 psu, suhu 12 - 15°C, dan densitas 25,5 - 26. Pada lapisan bagian bawah lapisan termoklin diduga terdapat massa air Indonesian Intermediate Water (IIW),   dengan salinitas 34,6 - 34,7 psu, suhu 3 - 7 oC, dan densitas 27 - 27,7.
Analisa Tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di Teluk Bayur Sumatera Barat, 28 September 2017 Herdiana Mutmainah; Ilham Ilham; Try Altanto; Hadi -; Rizki Anggoro Adi
Jurnal Kelautan Nasional Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.333 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v15i1.7853

Abstract

Degradasi kualitas perairan dapat disebabkan oleh berbagai hal salah satunya tumpahan minyak. Walaupun merupakan minyak nabati, tumpahan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak mentah kelapa sawit pada beberapa kasus di Indonesia menimbulkan degradasi kualitas air laut yang cukup signifikan dan berdampak buruk terhadap biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan peristiwa terjadinya tumpahan CPO di Teluk Bayur pada 28 September 2017 pkl. 09.30 WIB dan langkah-langkah yang dilakukan oleh seluruh pihak baik masyarakat, perusahaan dan beberapa instansi terkait dalam menangani tumpahan CPO serta menganalisa dampak tumpahan CPO terhadap perairan dan pulau-pulau kecil sekitarnya disertai alternatif solusi. Metode yang digunakan wawancara, survey literatur, dan survey primer berupa pengamatan sebaran tumpahan CPO dengan GPS dan drone; serta pengukuran kualitas air laut baik menggunakan alat WQC TOAA maupun pengukuran di laboratorium. Hasil analisa menunjukkan tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di Teluk Bayur telah menyebabkan degradasi kualitas lingkungan perairan pada beberapa parameter seperti temperatur permukaan laut 30,5°C; pH: 5,7; DO: 0,55-3,89 mg/L; BOD: 0,39-0,48 mg/L; COD: 121-180 mg/L dan minyak lemak: 1,4-6,6 mg/L. Karakteristik CPO berwarna jingga seperti mentega, tekstur licin. CPO yang bercampur air laut dan pasir memiliki berat jenis 3,75 gr/cm3. Pada beberapa kasus, selain naiknya temperatur dan pH tetapi juga BOD, COD dan turbiditas serta menurunkan DO dan TDS. Tumpahan CPO berdampak negatif pada ekosistem dan biota laut seperti Mangrove, udang Windu, kepiting, coral dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena gumpalan dan lapisan CPO menutupi permukaan perairan sehingga mengganggu penetrasi sinar matahari dan proses respirasi dan fotosintesis tanaman laut. Diperlukan kewaspadaan dan mitigasi bencana tumpahan minyak untuk mengurangi resiko degradasi lingkungan. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar minyak atau tumpahan CPO seperti Oil Boom, Oil sponge, tanaman air Azolla folliculoid hingga bakteri tertentu jenis Bacillus dan Geobacillus.
Analisa Kinerja Sistem Refrigerasi Berdasarkan Beban Pendinginan Ruang Pembekuan Pada Kapal Penampung Ikan Andreas Pujianto; M. Zaki Latif A.; Wempi Septiandi
Jurnal Kelautan Nasional Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.183 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v15i1.7856

Abstract

Kapal penampung ikan adalah salah satu jenis kapal perikanan. Sistem refrigerasi kompresi uap banyak digunakan pada kapal perikanan. Besarnya kinerja mesin refrigerasi pada tempat penyimpanan ikan di kapal telah banyak diteliti. Namun, analisa terhadap pengaruh beban pendinginan ruang pembekuan pada kapal penampung belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa kinerja mesin refrigerasi dengan beberapa bentuk pola operasi ruang pembekuan ikan hasil tangkapan pada kapal penampung berukuran 150 GT. Studi kasus dilakukan pada KM. Mina Anugrah 8 dengan pengambilan data selama 29 hari proses pembekuan. Beban pendinginan dihitung berdasarkan beban pendinginan dari ikan yang dibekukan maupun non produk. Persamaan Coefficient of Perfomance (COP) digunakan untuk menghitung kinerja mesin refrigerasi yang merupakan pembagian antara kapasitas refrigerasi ruang pembekuan dengan kerja kompresi. Analisa data dilakukan untuk dua pola pengoperasian ruang pembekuan baik penggunaan satu ruang pembekuan ataupun dua ruang pembekuan. Nilai rata-rata COP penggunaan ruang pembekuan 1 dengan satu kompresor adalah 3,28 dengan beban pendinginan rata-rata 14,75 kW. Penggunaan ruang pembekuan 2 dengan satu kompresor memiliki beban pendinginan dan COP rata-rata yang lebih kecil dari ruang pembekuan 1 yaitu 14,23 kW dan 2,83 secara berturut-turut. Pola operasi menggunakan dua ruang pembekuan dengan dua kompresor memiliki COP yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pola operasi menggunakan satu ruang pembekuan dan satu kompresor. Nilai COP rata-ratanya adalah 2,81 dengan beban pendinginan rata-rata 54,04 kW.

Page 1 of 1 | Total Record : 6