cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
SUITABILITY OF COASTAL ECOTOURISM IN PADANG CITY - WEST SUMATERA: CASE STUDY OF BEACH RECREATION AND MANGROVE Aprizon Putra; Try Al Tanto; Widodo S Pranowo; Ilham Ilham; Harfiandri Damanhuri; Yurni Suasti; Triyatno Triyatno
Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.916 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i2.6642

Abstract

The coastline length of Padang city is about 80 km with area 72,000 ha of coastal waters and 19 small islands. Overall, the beach of Padang City consists of the sloping beach (41.52 km), cliff (22.08 km), muddy beach (8.19 km), and also an artificial beach for coastal protection. The research aims to identify the beach that is suitable for coastal ecotourism, including those of beach recreation and mangrove areas. The methodology that was used was to estimate the Ecotourism Suitability Index (ESI) based on weighting and scoring of some physical parameters. The research results for suitability category of recreational beach in Padang City show 18 locations are suitable very (with average 82,28 %), 8 locations are suitable enough (with average 70 %), and only one beach location in front of Bung Hatta University is in conditional category (27 %). The beach suitable for mangrove ecotourism is identified in 6 locations are suitable very (with average 92 %), 9 locations are suitable enough (with average 73 %), 3 locations are suitable conditional (with average 49 %), while those which are not suitable in Carolina (Pasa Laban) beach (33 %).
Ekologi dan Struktur Komunitas Lamun di Teluk Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara Mariska A. Kusumaningtyas; Agustin Rustam; Terry L. Kepel; Restu Nur Afi Ati; August Daulat; Peter Mangindaan; Andreas A. Hutahaean
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1683.985 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i1.6451

Abstract

Penelitian mengenai ekologi dan struktur komunitas lamun ini dilakukan tanggal 10 – 15 Juni 2013 di perairan pesisir Teluk Ratatotok, Minahasa Tenggara. Metode penelitian dilakukan secara purposive sampling terkait dengan keberadaan lamun. Penelitian yang dilakukan meliputi pengukuran prosentase tutupan lamun, kerapatan, struktur komunitas, dan kondisi lingkungan di lokasi penelitian. Terdapat tujuh jenis lamun yang terdiri dari dua famili. Famili Hydrocharitaceae ditemukan tiga jenis lamun yaitu Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th) dan Halophila ovalis (Ho). Empat jenis lamun dari famili Cymodoceaceae yaitu Cymodocea serrulata (Cs), Cymodocea rotundata (Cr), Halodule pinifolia (Hp), dan Syringodium isoetifolium (Si). Kisaran prosentase penutupan rata-rata antara 22,5% - 89,5%. Kerapatan lamun perstasiun berkisar antara 17 – 473 ind/m2, dengan kerapatan tertinggi lamun jenis Ho sebesar 473 ind/m2 di stasiun 6. Nilai INP tertinggi pada lamun jenis Ea sebesar 128% diikuti berturut-turut oleh Si (41%), Th (36%), Ho (27%), Cs (26%), Cr (24%) dan Hp (17%). Berdasarkan kriteria status kondisi padang lamun (Kepmen LH no 200 tahun 2004), kondisi padang lamun di Teluk Ratatotok antara rusak/miskin sampai dengan baik/sehat. Stasiun 5 kondisi rusak/miskin, stasiun 3 dan 4 kondisi rusak/kurang sehat dan tiga stasiun kondisi baik/sehat yaitu stasiun 1, 2 dan 6. Secara keseluruhan kondisi lingkungaan Teluk Ratatotok masih mendukung pertumbuhan lamun.
Karakteristik Pasang Surut Dan Gelombang Di Perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat Yulius -; Aida Heriati; Eva Mustikasari; Ranela Intan Zahara
Jurnal Segara Vol 13, No 1 (2017): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5426.061 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i1.6423

Abstract

Pemahaman mengenai karakteristik wilayah perairan, khususnya yang terkait dengan pasang surut dan gelombang air laut merupakan salah satu kebutuhan utama dalam pengelolaan wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasang surut dan gelombang di perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat. Penentuan karakteristik pasang surut dan gelombang menggunakan software Tidal Model Driver (TMD) berbasis bahasa pemrograman MATLAB dan software SWAN versi 40.91ABC generasi ketiga untuk memodelkan kondisi pasang surut dan gelombang disuatu daerah. Data primer yang digunakan adalah data pasang surut pengambilan pada tanggal 17 Agustus 2016 – 14 September 2016 dengan menggunakan alat tide gauge dan data sekunder dalam studi ini adalah data batimetri yang didapat dari GEBCO serta data angin yang dibuat konstan untuk setiap musimnya. Hasil pemodelan pasang surut dapat disimpulkan bahwa perairan Teluk Saleh mempunyai tipe pasut campuran (dominan diurnal) dan hasil grafik elevasi pasang surut yang diamati memiliki tipe pasut campuran condong harian ganda ke semi diurnal (mixed mainly semidiurnal). Hasil dari pemodelan gelombang menunjukkan tinggi tinggi gelombang signifikan yang terjadi mencapai 1 meter pada musim barat, peralihan I dan musim timur. Sedangkan pada musim peralihan II hanya mencapai 0,5m. Perioda puncak gelombang maksimum terjadi pada musim timur selama 5 detik, pada musim barat dan musim peralihan I perioda puncak gelombang adalah sebesar 4,7 detik dan nilai perioda minimum 3 detik terjadi pada musim peralihan II dengan dengan gelombang yang bergerak dari arah tenggara (dalam teluk) menuju keluar teluk.
KARAKTERISTIK SEBARAN SEDIMEN DAN LAJU SEDIMENTASI PERAIRAN TELUK BANTEN Agustin Rustam; Novi Susetyo Adi; Eva Mustikasari; Terry Louise Kepel; Mariska A. Kusumaningtyas
Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.354 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i3.7351

Abstract

Teluk Banten di Utara Kota Serang, Banten, menampung berbagai muatan sedimen dari 7 (tujuh) sungai yang bermuara di teluk ini. Penelitian yang dilakukan pada Oktober 2008 di perairan teluk ini bertujuan untuk memahami karakteristik sebaran sedimen permukaan dan komposisi bahan organik serta laju sedimentasi sebagai bagian dari penelitian karbon laut di Indonesia. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif, dengan memeriksa sedimen yang diambil menggunakan grab sampler. Analisis sedimen meliputi pengukuran tekstur sedimen, bahan organik total atau Total Organic Matter (TOM) dan laju sedimentasi; analisis perairan meliputi bahan organik terlarut dan total padatan tersuspensi atau Total Suspended Solids (TSS). Dalam klasifikasi pasir, debu dan liat, sampel yang dikumpulkan dari Teluk Banten menunjukkan tekstur sedimen pasir rata-rata sebesar 54,86 %, sedangkan nilai TOM dan karbon organik berkisar 5,33 - 20,57 % dan 0,47 - 3,44 %. Laju sedimentasi tercatat berkisar antara 0,011 - 0,035 kg/m2/hari dengan komposisi tertinggi pada tekstur pasir.
KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI FISIKA PERAIRAN ESTUARIA BENGKALIS BERDASARKAN DATA PENGUKURAN IN-SITU Khairul Amri; Muchlizar Muchlizar
Jurnal Segara Vol 14, No 1 (2018): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1315.523 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i1.6800

Abstract

Perairan estuaria Bengkalis memiliki peranan yang sangat strategis di tepi alur pelayaran internasional yang paling sibukdi dunia, yaitu Selat Malaka. Perairan ini merupakan daerah pertemuan antara massa air laut dari Selat Malaka dan massaair tawar dari muara Sungai Siak yang sangat khas dan menarik untuk dikaji. Penelitian mengenai karakteristik oseanografifisika perairan ini dilakukan dalam periode 7 bulan selama tahun 2015. Metode yang digunakan adalah survei secara insitumenggunakan wahana kapal survei pada 16 stasiun pengukuran. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perairanestuaria Bengkalis merupakan perairan dangkal dengan kedalaman berkisar antara 6,1-37,3 m. Jenis-jenis substrat dasarperairan beragam, yaitu kombinasi komponen pasir (2,7-86,69%),  debu (10,64-89,82%) dan liat (2,66-13,30%). Pergerakanarus didominasi oleh arus pasut (arus pasang-surut) dengan kecepatan arus permukaan rata-rata berkisar 0,07-1,19 m/detik.Perairan ini tergolong keruh, dengan kisaran tingkat kecerahan rata-rata antara 0,42-0,95 m. Tingkat kecerahan cenderungmenurun pada akhir tahun seiring masuknya musim penghujan. Rata-rata suhu perairan pada lapisan permukaan berkisarantara 29,74-30,94 °C dan di lapisan dasar berkisar antara 29,36-30,63 °C, dengan pola lebih dingin ke arah laut terbuka (Selat Malaka) dan lebih hangat ke arah muara Sungai Siak.
Seleksi Parameter Pembentuk Indeks Kualitas Perairan untuk Pengembangan Budidaya Laut: Studi Kasus Perairan Teluk Sinabang, Aceh Erlania -; I Nyoman Radiarta; Joni Haryadi
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.938 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6546

Abstract

Indeks Kualitas Perairan (Water Quality Indices/WQI) telah dikembangkan dan digunakan untuk menganalisis dan menginterpreasikan kondisi perairan, namun implementasi secara spesifik pada budidaya laut masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter penting pembentuk WQI dalam penentuan kesesuaian perairan untuk pengembangan budidaya laut di perairan Teluk Sinabang, Aceh. Nilai pengukuran parameter kualitas perairan yang terkumpul sebanyak 63 titik pengamatan untuk data in situ, dalam proses analisis statistik direduksi menjadi 20 titik pengamatan berdasarkan jumlah data ek situ. Parameter yang diukur meliputi suhu, pH, DO, TDS, konduktivitas, BOD, N total, nitrat, nitrit, amonium, P total, dan ortofosfat. Penghitungan nilai WQI dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu: (1) berdasarkan seluruh parameter (WQIobj); (2) parameter hasil seleksi menggunakan principal component analysis/PCA (WQImin-x); dan (3) parameter kunci yang dipilih menurut kebutuhan aktivitas budidaya laut secara umum (WQImin-aq). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai WQImin yangpaling mendekati nilai WQIobj (72,67) adalah WQImin-2 (69,75) dan diikuti oleh WQImin-aq (60,19).Hal inimenunjukkan bahwa parameter yang membangun WQImin-2 dan WQImin-aq sudah cukup mewakili untuk menggambarkan kondisi perairan Teluk Sinabang. Kedua nilai WQImin yang diperoleh berdasarkan beberapa parameterterseleksi mengindikasikan bahwa nilai tersebut secara umum dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan suatu perairan untuk pengembangan budidaya laut. Kondisi perairan Teluk Sinabang tergolong baik (level II) berdasarkan nilai WQIobj dan sedang (level III) berdasarkan kedua WQImin, yang mengindikasikan bahwa aktivitas budidaya masih dapat dilakukan pada perairan tersebut dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan perairan.
Seagrass Ecosystem Carbon Stock In The Small Islands: Case Study In Spermonde Island, South Sulawesi, Indonesia Agustin Rustam; Nasir Sudirman; Restu Nur Afi Ati; Hadiwijaya Lesmana Salim; Yusmiana Puspitaningsih Rahayu
Jurnal Segara Vol 13, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.664 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i2.6445

Abstract

Small islands are particularly rich with coral reefs and seagrass ecosystems and coastal plants. Seagrass is one of the coastal ecosystems of blue carbon, which is capable of storing utilize and store CO2 in the form of organic carbon in biomass and sediment. The purpose of this study to get the carbon stock of seagrass and its role in climate change. The survey method with sampling purposive sampling representing all research sites and analyzed the amount of carbon contained in biomass and sediment. The result showed that there were eight species of seagrass found, and the highest carbon stock  on the type Enhalus acoroides at  Kapoposang island was 1.64 MgC / ha. The average value of the total biomass of carbon stock in the island's largest seagrass Bauluang island  was 1.89 ± 0.92 Mg C / ha with the largest at the ground below 77% of total carbon biomass. Carbon stock in sediments of seagrass ecosystems average of 531.87 ± 74.08 Mg C / ha up to a depth of 50 cm. The role of seagrass in Spermonde archipelago waters in climate change in both the biomass and sediment for MgC 533.25 MgC/ ha is equivalent to the use of CO2 for 1955.26 MgCO2e / ha.
Metabolisme Emergi Sumberdaya Kota Pesisir Dan Aplikasinya Untuk Evaluasi Perencanaan Kota Pesisir Yang Berkelanjutan, Studi Kasus Kota Makassar Syahrial Nur Amri; Luky Adrianto; Dietriech G Bengen; Rahmat Kurnia
Jurnal Segara Vol 13, No 1 (2017): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1323.997 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i1.6419

Abstract

Kestabilan dan keberlanjutan suatu sistem sosial ekologi di Kota Pesisir tergantung dari optimal dan efisiennya pemanfaatan energi sumber daya yang tersedia. Siklus autokatalitik dalam metabolisme kota pesisir memberikan gambaran nyata bagaimana energi sumber daya mengalir antara manusia dan sumberdaya alam dan bagaimana manusia mengatur dan memanfaatkan energi sumberdaya alam yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan siklus energi dan meterial dalam batas sistem kota pesisir yang mengakomodir semua sumberdaya alam yang menghasilkan energi yang dimiliki Kota Makassar dalam rentang waktu tertentu, sehingga mampu menunjukkan trend pemanfaatan dan keberlanjutan sistem dalam upaya menstabilkan diri terhadap dinamika penggunaan lahan dan pertumbuhan penduduk. Metode penelitian yang digunakan didasarkan pada konsep perhitungan aliran emergy dan indeks penilaian keberlanjutan metabolisme kota pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total emergy yang mengalir di tahun 2001 sebesar 1,68E+21 Sej, meningkat menjadi 2,02E+21 Sej pada tahun 2015. Hasil analisis indeks keberlanjutan menunjukkan bahwa energi sumberdaya lokal sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan energy masyarakat Kota Makassar, dan untuk memenuhi ketercukupan energi dalam sistem, input energi berupa impor sumberdaya mendominasi aliran energi dalam sistem. Tentunya diperlukan efisiensi dalam pemanfaatan energi sumberdaya, agar keberlanjutan metabolisme kota pesisir dapat terus berlangsung.
HEAVY METAL CONDITION IN KRAMAT KEBO ESTUARY, WEST JAVA, INDONESIA as HABITAT of Oryzias Javanicus Rachma Puspitasari; Lestari Lestari
Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.103 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i2.6643

Abstract

Nowadays, contamination monitoring in Indonesia still focused on traditional method like only depend on measurement of chemical and physical parameter.  In addition, the use of organism, known as bioindicator brings some advantages such as knowing about habitat alteration and relationship between organism and environment. Fish from genus Oryzias had been known in Malaysia and Japan as a sensitive bioindicator. One of species, O. javanicus, was found in Kramat Kebo estuary, West Java, Indonesia. This preliminary study aims to determine metal distribution in water and sediment in Kramat kebo estuary, as a habitat of O. javanicus. It is also a preliminary study to assess possibility of O. javanicus as a bioindicator of heavy metal contamination in coastal area.  Sampling was conducted on March and September, 2014 and analysis of total metal was done by Atomic Absorbance Spectrophotometry. Result showed that metal in water still below the threshold value by Ministry of Environment. Metal in sediment analyzed by Sediment Quality Guidelines Quetiont (SQG-Q) index, showed that all stations has SQG-Q value < 0.1, which is means that Kramat Kebo estuary is unimpacted area. We conclude for this preliminary study that existence of O. javanicus were related to less polluted of heavy metal in estuary and it suitable for bioindicator of uncontaminated heavy metal area.
Fluktuasi Nitrat, Fosfat dan Silikat di Perairan Pulau Bintan Hanny Meirinawati; Muswerry Muchtar
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.068 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6493

Abstract

Pulau Bintan di Provinsi Kepulauan Riau merupakan wilayah perairan yang diandalkan sebagai penghasil bahan tambang bauksit, penghasil komoditas perikanan dan sebagai daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh wisata baik lokal ataupun mancanegara. Wilayah pesisir dan sumber daya yang dimiliki Pulau Bintan merupakan kontributor penting untuk pembangunan ekonomi dan kualitas hidup sehingga perlu dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan Bintan ditinjau dari kandungan nitrat, fosfat, dan silikat pada dua musim yang berbeda yang nantinya dapat digunakan oleh pemerintahan setempat dan instansi terkait dalam mengembangkan dan mengelola perairan kawasan perairan Pulau Bintan. Pengambilan sampel untuk penelitian nutrien (nitrat, fosfat, dan silikat) di perairan timur Kepulauan Bintan telah dilakukan di 27 titik lokasi pada April dan Agustus 2014. Konsentrasi nutrien berfluktuasi pada April dan Agustus. Nilai rata-rata kosentrasi nitrat, fosfat, dan silikat pada April berturut-turut yaitu 0,0510 ± 0,0014 mg/L, 0,0050 ± 0,0026 mg/L dan 0,2660 ± 0,1655 mg/L. Konsentrasi rata-rata nitrat, fosfat, dan silikat pada Agustus berturut-turut yaitu 0,0260 ± 0,0104 mg/L, 0,0160 ± 0,0091 mg/L dan 0,057 ± 0,035 mg/L. Konsentrasi nitrat, fosfat, dan silikat di perairan Bintan termasuk dalam kategori rendah.

Page 3 of 20 | Total Record : 191